kenaikan harga BBM membuat daya beli ibu rumah tangga anjlok lebih dari 30%

kenaikan harga BBM membuat daya beli ibu rumah tangga anjlok lebih dari 30%

oleh S3ra Sutan Rajo Ali
Jakarta, 21 Agustus 2013 00:19:23

kenaikan harga bbm di bulan juni 2013 lalu sangat menohok daya beli kaum ibu rumah tangga.

amplifikasi, multiplikasi kenaikan harga bbm semakin menjadi-jadi ketika berhadapan dengan 3 aktivitas rutin dalam siklus ekonomi di kehidupan masyarakat dan bangsa indonesia, yakni:

1. setiap pertengahan tahun, para ibu harus disibukkan dengan kebutuhan anak sekolah. terlebih lagi pada masa transisi anak sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. seragam, buku tulis, buku cetak, biaya transportasi, biaya mengikuti program ekstrakurikuler, dan lainnya.

2. awal juli 2013 merupakan awal bulan puasa.

3. awal agustus 2013 merupakan hari raya idul fitri.

momen SBY dan para menterinya sangat tepat dan semakin hebat benar kemampuan Presiden SBY dan para menterinya untuk menambah penderitaan dan membenamkan kehidupan rakyat jelata.


http://www.bisnis.com/pertumbuhan-saham-consumer-goods-diprediksi-melambat

Pertumbuhan Saham Consumer Goods Diprediksi Melambat
Nenden Sekar Arum – Selasa, 20 Agustus 2013, 14:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan saham emiten perusahaan barang-barang konsumsi (consumer goods) pada semester II/2013 diprediksi melambat.

Hal tersebut dipengaruhi dengan penetapan suku bunga Bank Indonesia dan kebijakan perbankan lainnya.

Kepala Riset PT Buana Capital Alfred Nainggolan menilai kebijakan perbankan berpengaruh pada tingkat konsumsi masyarakat yang selama ini ikut mengendalikan pergerakan kinerja emiten consumer goods.

Hal itu juga berpengaruh pada perusahaan yang mengandalkan pembiayaan melalui perbankan.

“Kondisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing juga perlu dicermati, apalagi untuk emiten-emiten yang memiliki utang dalam kurs dolar AS misalnya INDF,” jelasnya kepada Bisnis, Senin (19/8/2013).

Perlambatan pertumbuhan saham emiten consumer goods juga didukung dengan kenaikan harga BBM pada Juni lalu. Sebelumnya perlambatan juga tercermin dari laporan keuangan semester I/2013. Rata-rata terjadi penurunan margin dan laba kotor yang disebabkan kenaikan beban produk akibat kenaikan harga bahan baku dan UMR.

Selama semester I/2013, pertumbuhan saham emiten consumer goods hanya mengalami kenaikan sebesar 2%-3%, hal serupa juga diprediksi akan terjadi di semester kali ini. Apalagi dengan kondisi ekonomi saat ini, semester II dinilai akan lebih berat bagi perseroan.

“Saham-saham emiten consumer goods akan tetap tumbuh, tapi tidak sebagus tahun lalu,” imbuhnya.

Meski demikian, saham-saham consumer goods tetap bisa dilirik untuk dijadikan pilihan di semester II. Analis PT Sinarmas Sekuritas Christandi Rheza menilai sektor barang konsumsi masih memiliki prospek yang lebih baik dibandingkan dengan sektor lain.

Rheza menilai di semester II margin laba bersih emiten consumer goods diprediksi akan meningkat, apalagi untuk perseroan yang menggunakan komoditas dunia sebagai bahan baku. Pasalnya saat ini harga komoditasdunia melemah.

Menurutnya saham yang patut dilirik adalah perseroan yang berkonsentrasi pada produksi makanan pokok seperti AISA, sedangkan ICBP dan ULTJ terdorong dengan prediksi kenaikan konsumsi susu hingga 20% pada tahun ini.

“Dalam beberapa pekan harga saham emiten consumer goods memang cenderung melemah tapi hal tersebut lebih terpengaruh pergerakan IHSG. Meskipun terkoreksi tetapi tidak terlalu dalam seperti sektor lainnya,” ujarnya.

Pada perdagangan Selasa (20/8/2013) siang, pergerakan saham consumer goods berada pada zona merah. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) turun 5,51% atau 350 poin ke level Rp9.350, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) turun 5,22% atau 350 poin ke level Rp6.000, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) turun 250 poin atau 3,21% ke level Rp7.550.

Adapun PT Mayora Indah Tbk (MYOR) turun 11,93%% atau 3.950 poin ke level Rp29.000, PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Co Tbk (ULTJ) turun 11,93% atau 525 poin ke level Rp3.875, dan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) turun 8% atau 100 poin ke level Rp1.150.

Editor : Ismail Fahmi


http://www.berdikarionline.com/editorial/20130626/setelah-kenaikan-harga-bbm.html

Editorial
Setelah Kenaikan Harga BBM
Rabu, 26 Juni 2013 | 1:45 WIB

Jumat, 21 Juni lalu, pemerintahan SBY sudah mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi. Beberapa bulan kedepan, bahkan mungkin tahunan, rakyat akan menanggung dampak kebijakan kenaikan harga BBM tersebut.

Segera setelah kenaikan harga BBM, rakyat langsung diperhadapkan dengan kenaikan tarif angkutan. Di sini dituntut peranan pemerintah, terutama pemerintah daerah, untuk mengontrol kenaikan tarif agar tidak menyusahkan rakyat. Sebab, kenaikan tarif yang cukup tinggi akan menggerus daya beli rakyat. Terutama mereka yang rutin menggunakan angkutan umum: pekerja, pelajar, mahasiswa, PNS, dan lain-lain.

Menteri Perhubungan EE Mangindaan sudah menyatakan bahwa kenaikan tarif angkutan darat dan laut sebesar 15 persen. Namun, biasanya, jika Pemda kurang aktif melakukan intervensi, kenaikan tarif bisa berlangsung tanpa kendali. Bahkan, di banyak daerah, kenaikan tarif angkutan mendahului keputusan pemerintah. Di sini, keputusan Pemda DKI Jakarta patut diapresiasi. Gubernur DKI Jakarta menyatakan tidak akan menaikkan tarif Transjakarta untuk mendorong rakyat naik alat transportasi massal.

Dampak lain yang tak kalah mengancam kehidupan rakyat adalah kenaikan harga barang dan jasa. Terutama kenaikan harga sembako. Ini harus menjadi perhatian utama karena dua hal. Satu, ke depan kita akan berhadapan dengan momentum kenaikan harga, seperti bulan puasa, lebaran, dan tahun ajaran baru. Dua, sejak beberapa tahun terakhir harga pangan terus meroket naik akibat gejolak harga pangan dunia dan ancaman krisis pangan. Situasi ini kian diperburuk oleh kenyataan bahwa sebagian besar kebutuhan pangan kita didapatkan melalui impor.

Di sini, menurut kami, program BLSM dan Raskin tidak akan efektif untuk menalangi dampak kenaikan harga sembako tersebut. Sebab, kenaikan harga menyangkut hampir semua jenis sembako. Dan efek kenaikannya bisa terasa hingga tahun depan. Belum lagi, kenaikan sembako ini akan dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia. Sementara BLSM hanya dibagikan untuk empat bulan dan nilainya terlalu kecil. Penerima program BLSM dan Raskin ini juga sangat terbatas.

Dampak lain dari kenaikan harga BBM adalah terseok-seoknya industri dalam negeri dan hancurnya usaha kecil (UMKM). Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi sudah menyatakan bahwa kenaikan harga BBM membuat pengusaha terjepit. Bagi kami, ini adalah sinyalemen bahwa pengusaha akan melakukan efisiensi. Dengan demikian, kaum pekerja akan berhadapan dengan ancaman PHK atau pemangkasan tingkat kesejahteraan mereka.

Yang paling tergencet kenaikan harga BBM tentunya adalah pengusaha kecil dan menengah. Mereka akan menanggung kenaikan biaya produksi yang cukup signifikan. Pilihan mereka cuma dua, yakni menyesuaikan harga jual produk mereka dengan biaya produksi atau menutup usaha mereka. Sudah begitu, pemerintah berencana akan memberlakukan pajak UKM sebesar 1% dari omzet mereka per 1 Juli 2013 mendatang.

Selain dampak-dampak yang dipicu oleh kenaikan harga BBM di atas, kita juga punya Pekerjaan Rumah (PR) besar terkait politik energi nasional untuk menciptakan kedaulatan energi. Maksudnya, persoalan BBM saat ini harus menjadi pintu masuk untuk membenahi politik energi kita yang hingga saat ini masih amburadul dan merugikan bangsa.

Pertama, kita harus memperjuangkan kembali politik energi kita sesuai dengan amanat konstitusi, yakni pasal 33 UUD 1945, untuk mewujudkan kedaulatan energi. Untuk itu, kita harus memperjuangkan penghapusan semua regulasi yang menyebabkan tata kelola energi kita amburadul, seperti UU nomor 22 tahun 2011 tentang migas dan UU nomor 4 Tahun 2009 tentang mineral dan batubara (Minerba).

Kedua, mengakhiri dominasi asing dalam penguasaan kekayaan energi nasional, seperti minyak, gas, dan batubara, baik melalui nasionalisasi maupun renegosiasi. Jalan nasionalisasi tidak berarti pengambil-alihan paksa, tetapi bisa meniru cara Chavez di Venezuela, yakni negara membeli kembali saham-sahamnya dengan “harga pasar”.

Ketiga, mendorong prioritas penggunaan kekayaan energi nasional untuk kebutuhan nasional. Sebagai contoh, untuk mengakhiri ketergantungan terhadap BBM, pemerintah seharusnya sudah memikirkan konversi BBM ke BBG (gas). Hanya saja, supaya hal itu bisa dilakukan, kebiasaan mengekspor gas dengan harga murah harus diakhiri.

Keempat, merevitalisasi perusahaan minyak dan gas negara, dalam hal ini Pertamina, supaya bisa memaksimalkan pengelolaan SDA yang sejalan dengan kepentingan nasional dan berkorelasi dengan kemakmuran rakyat. Tentu saja, ini dilakukan dengan memperbaiki manajemen Pertamina, memberantas korupsi dan praktek broker/insider trading, dan penguatan kapasitas produktif pertamina.

Kelima, mendorong pembangunan kilang-kilang minyak yang baru untuk menghasilkan BBM bagi kebutuhan dalam negeri. Dengan adanya kilang-kilang baru itu, ada dua manfaat yang bisa didapat: Pertama, kita tidak lagi mengekspor minyak mentah kita keluar dan kemudian dibeli kembali dengan harga yang lebih tinggi. Minyak mentah itu bisa diolah di kilang-kilang tersebut. Kedua, kita tidak perlu mengimpor BBM lagi, tetapi cukup membeli minyak mentah. Tentu langkah ini lebih hemat ketimbang mengimpor BBM.

Keenam, mendorong pengembangan energi terbarukan, seperti energi matahari, biomassa, hydropower, energi angin, geothermal, hidrogen, biodiesel, bioetanol, dan lain-lain.


http://ekbis.sindonews.com/read/2013/06/27/34/754681/bbm-naik-daya-beli-masyarakat-turun-drastis

BBM naik, daya beli masyarakat turun drastis
Arif Budianto, Kamis, 27 Juni 2013 − 14:27 WIB

Sindonews.com – Pedagang di beberapa pasar tradisional terlihat mulai frustasi sejak daya beli masyarakat untuk sejumlah kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) turun drastis.

Penurunan daya beli, mulai terasa sejak pertengahan Juni, sebelum pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Penurunan daya beli semakin parah, setelah kenaikan harga BBM yang memicu kenaikan harga kepokmas. Sementara keuangan masyarakat sangat rendah setelah momen kenaikan kelas.

“Penjualan kami turun sekitar 50 persen dari kondisi normal,” kata pedagang ayam di Pasar Ciahaurgeulis, Wagiah, Rabu (27/6/2013).

Menurut dia, biasanya dalam sehari bisa menjual ayam sampai 50 kilogram (kg). Namun saat ini dikurangi menjadi 20 ekor. Dari 20 ekor tersebut, tingkat lakunya tidak lebih dari setengahnya atau sekitar 10 ekor.

Wagiah mengatakan, konsumen yang biasanya membeli ayam setengah kg, saat ini hanya sekitar seperempat kg atau tidak jadi membeli. Dalam satu hari, untuk menjual delapan ekor ayam potong cukup susah.

Kini, pedagang mengaku pasrah atas kondisi tersebut. Rendahnya daya beli masyarakat, kata dia, memaksa pedagang menjual barang dagangannya lebih lama.

Selain itu, pedagang juga mesti mengeluarkan biaya operasional lebih banyak, karena harus membeli es, agar ayam yang tidak laku bisa dibekukan dan di jual keesokan harinya.

Dia bersama pedagang ayam lainnya mengaku tidak bisa berbuat banyak dan tidak mungkin berhenti berjualan ayam potong yang saat ini harganya mencapai Rp33 ribu/kg.

“Kalau berhenti jualan tidak ada penghasilan. Paling dikurangi saja stok ayamnya,” kata Wagiah.

(izz)


http://ferisugiyanto.blogspot.com/2013/06/kenaikan-harga-bbm-dan-daya-beli.html

Kenaikan Harga BBM dan Daya Beli Masyarakat
27.06.2013

Pedagang di beberapa pasar tradisional terlihat mulai frustasi sejak daya beli masyarakat untuk sejumlah kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) turun drastis.

Penurunan daya beli, mulai terasa sejak pertengahan Juni, sebelum pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Penurunan daya beli semakin parah, setelah kenaikan harga BBM yang memicu kenaikan harga kepokmas. Sementara keuangan masyarakat sangat rendah setelah momen kenaikan kelas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa menjelaskan, sejalan dengan disahkan dan diundangkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2013 menjadi UU Nomor 15 Tahun 2013 tentang APBN-P 2013, maka pemerintah mengambil langkah menaikkan harga BBM.

Hatta mengatakan, pemerintah menyadari langkah ini akan berdampak pada inflasi serta terganggunya daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. “Ini adalah pilihan yang amat sulit dan merupakan alternatif terakhir,” kata Hatta dalam konferensi pers di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (21/6) malam.

Karenanya, kata Hatta, penyesuaian harga BBM haruslah disertai program percepatan dan perluasan perlindungan sosial (P4S) dan program-program khusus lainnya.

“Agar kita dapat melindungi masyarakat kita yang tentu terkena dampak itu. Diharapkan program-program itu akan menjaga daya beli masyarakat yang terkena dampak,” tutur Hatta yang juga menjabat sebagai Ketua Umum DPP PAN ini.

Secara khusus, program bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) akan segera dimulai secara bertahap melalui PT Pos Indonesia. Lebih lanjut, Hatta memastikan stok BBM mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sebelumnya pemerintah secara resmi mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi. Pengumuman itu disampaikan Menteri ESDM, Jero Wacik. Menteri dari Partai Demokrat ini mengatakan, harga jual bensin menjadi Rp 6.500 per liter, sedangkan harga jual solar menjadi Rp 5.500 per liter.

“Harga tersebut berlaku serentak di seluruh wilayah Republik Indonesia terhitung sejak tanggal 22 Juni 2013 pukul 00.00 WIB. Demikian pengumuman ini untuk diketahui dan dilaksanakan,” ujar Jero.

Thank’s to :

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/06/22/mor4c7-hatta-kenaikan-harga-bbm-ganggu-daya-beli-masyarakat

http://ekbis.sindonews.com/read/2013/06/27/34/754681/bbm-naik-daya-beli-masyarakat-turun-drastis


http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/07/06/1559551/Harga.BBM.Naik.Daya.Beli.Buruh.Turun.30.Persen

Harga BBM Naik, Daya Beli Buruh Turun 30 Persen
Didik Purwanto, Sabtu, 6 Juli 2013 | 15:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Daya beli barang pekerja pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mengalami penurunan sekitar 30 persen. Hal ini tentu saja akan menurunkan pertumbuhan ekonomi di akhir tahun.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan masyarakat sangat terbebani dengan kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut. “Dampaknya sangat signifikan terhadap daya beli pekerja yang turun sebesar 30 persen,” kata Said saat konferensi pers di Jakarta, Sabtu (6/7/2013).

Said menambahkan perhitungan penurunan daya beli masyarakat sebesar 30 persen diperoleh dari perbandingan antara besaran pengeluaran dan besaran kenaikan upah buruh. Seperti diketahui, tahun lalu buruh mengalami kenaikan upah sekitar Rp 500.000 hingga Rp 800.000 per bulan.

Rata-rata kenaikan upah buruh tersebut mencapai Rp 600.000 per bulan. Sementara itu, pengeluaran upah yang meningkat antara lain sewa rumah, ongkos transportasi, hingga belanja.

“Jika dibandingkan pengeluaran per bulan dengan besaran kenaikan upah rata-rata menjadi sekitar 30 persen, malah lebih,” tambahnya.

Dengan kondisi itu, Said meminta upah buruh bisa dinaikkan sebesar 50 persen untuk bisa mengembalikan daya beli masyarakat yang menurun tadi.

Besaran kenaikan upah sebesar 50 persen ini diperoleh dari pengembalian daya beli masyarakat (30 persen), inflasi 10 persen, pertumbuhan ekonomi (6,2 persen) dan kinerja (4 persen), sehingga totalnya sekitar 50 persen.

“Kami sejak awal menolak kenaikan harga BBM bersubsidi. Tapi karena ini sudah terjadi, maka kami meminta kenaikan upah 50 persen untuk bisa mengembalikan daya beli barang masyarakat yang turun 30 persen,” tambahnya.

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

About these ads