Korupsi di UPI (Universitas Plagiat Indonesia) (d/h IKIP Bandung)

Korupsi di UPI (Universitas Plagiat Indonesia) (d/h IKIP Bandung)

something very stinks smellt in and from IKIP Bandung.
sule tea Posted March 23, 2012 at 12:07 AM
I have no comment about an opinion above. Most of people know that UPI is abbreviation of “Universitas Plagiat Indonesia”. What’s something new???


Dugaan Korupsi
Kampus UI Diperiksa
Kompas, 20 Juli 2013, p.23

Bandung, Kompas, Untuk menindaklanjuti dugaan kasus korupsi yang menerpa Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Jawa Barat, auditor Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jumat (19/7), melakukan pemeriksaan.

Fokus pemeriksaan dilakukan di Gedung University Center, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), di kota Bandung, Jawa Barat. Pemeriksaan tidak hanya soal rencana pembangunan gedung Isola Resor, tetapi juga perjalanan dinas pejabat UPI ke luar negeri.

Dugaan penyimpangan sebelumnya dilaporkan Gerakan Selamatkan UPI pada April lalu. Gerakan tersebut terdiri dari dosen, guru besar, karyawan, dan mahasiswa yang jumlahnya sekitar 40 orang. Mereka prihatin atas sejumlah dugaan penyimpangan di lingkungan UPI.

Dari informasi yang ditelusuri, pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan direncanakan berlangsung seminggu. Pemeriksaan sebenarnya dimulai sejak Selasa lalu.

Dugaan korupsi tersebut terkesan ditutup-tutupi. Misalnya, saat ingin meliput pemeriksaan oleh auditor Itjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pers sempat terkecoh. Sebab, informasi kedatangan auditor Itjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dikaburkan.

Kepala Humas UPI Suwatno enggan memberikan keterangan terkait agenda tim Itjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Suwatno mengemukakan, pemeriksaan Itjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hanya berlangsung dua hari dan sudah selesai. “Ini hanya pemeriksaan rutin terhadap instansi pemerintah yang dilakukan setiap tahun,” katanya.

Koordinator Gerakan Selamatkan UPI Didin Saripudin berharap, auditor memeriksa secara profesional dan independen kasus tersebut. “Uang yang diterima UPI sekitar Rp 260 milyar per tahun harus dijaga karena uang masyarakat,” kata dosen sejarah di UPI itu. (SEM)


http://regional.kompas.com/read/2013/07/19/2152282/Diduga.Korupsi.Rektor.UPI.Dilaporkan.ke.Inspektorat.Kemdikbud

Diduga Korupsi, Rektor UPI Dilaporkan ke Inspektorat Kemdikbud
Putra Prima Perdana, Jumat, 19 Juli 2013 | 21:52 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com – Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Sunaryo Kartadinata dilaporkan oleh Gerakan Penyelamatan UPI ke Inspektorat Jenderal dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Laporan ini adalah bentuk keprihatinanan karena ada dugaan penyimpangan di UPI,” kata koordinator Penyelamatan UPI Didin Sripudin, Jumat (19/7/2013).

Lebih lanjut Didin menjelaskan, Sunaryo dilaporkan dengan beberapa tuduhan. Salah satunya adalah pengalihan fungsi gedung training centre dan dormitory yang dibangun pada tahun 2009 lalu, menjadi hotel bernama ‘Isola Resort’. “Padahal site plan-nya adalah training center dan asrama mahasiswa,” ucapnya.

Selain itu, dari hasil investigasi yang dilakukan oleh tim khusus gerakan Penyelamatan UPI, ada bentuk korupsi melalui penyimpangan dalam pembangunan Gedung Training Centre di Kota Serang, Provinsi Banten. Pembangunannya, kata Didin, dimulai pada tahun 2010 lalu. Namun, pada tahun 2011, proyek pembangunan justru mandek dengan alasan terkendala Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

“Karena tidak memiliki IMB, oleh pihak Pemda Kota Serang terpaksa disegel. Ini jadi pertanyaan, kami curiga ada korupsi,” tuturnya.

Kemudian, pria yang saat ini masih menjabat sebagai dosen di universitas pencetak guru ini menambahkan, ada praktik penghamburan dan penyimpangan dana yang bersumber dari masyarakat.

Timnya mencatat setiap tahun UPI mampu mengumpulkan Rp 260 milyar. Nilai tersebut, kata Didin, diperoleh dari uang pendaftaran mahasiswa, iuran semester dan lain-lain.

Selain itu, mulai tahun 2011 lalu UPI juga meminta sumbangan kepada mahasiswa baru untuk membantu mahasiswa tidak mampu. Pengelolaannya dilakukan oleh Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Al Furqon hingga terkumpul dana sebesar 3,49 milyar. Sedangkan pada tahun 2012 terkumpul sebesar 3,67 milyar.

Di tahun 2013 ini, calon mahasiswa baru dari jalur undangan sudah diminta kesediaaan untuk menyumbang juga. Padahal, sudah ada kebijakan dari Ditjen Dikti tentang uang kuliah tunggal.

“Namun akuntabilitas pengelolaannnya ditengarai tidak jelas dan tidak transparan,” paparnya.

Gerakan Penyelamatan UPI juga mencatat ada pembiaran dalam hal pelanggaran akademik dan administrasi. Menurutnya, praktik kecurangan seperti jual beli nilai yang dilakukan oleh para dosen akademik, dosen administrasi dan mahasiswa di lingkungan UPI sudah diketahui oleh sang rektor sejak tahun 2008 silam.

“Tapi ternyata tuntutan dari rektor tentang masalah ini tidak tegas. Jelas ada upaya pembiaran,” tuturnya.

Didin berharap, Inspektorat Jenderal bersama Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bisa mengungkap seluruh penyimpangan yang terjadi di UPI hingga tuntas. “Bentuk penyimpangan dan korupsi harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Editor : Kistyarini


http://regional.kompas.com/read/2013/07/20/0533070/Itjen.Kemendikbud.Periksa.Rektor.UPI

Itjen Kemendikbud Periksa Rektor UPI
Putra Prima Perdana, Sabtu, 20 Juli 2013 | 05:33 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Menyusul laporan dugaan korupsi, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Sunaryo Kartadinata diperiksa oleh jajaran Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeriksaan dilakukan di kampus universitas itu, di Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/7/2013).

Koordinator Penyelamatan UPI Didin Saripudin mengatakan, Sunaryo diduga melakukan korupsi dan menyalahgunakan bangunan kampus. “Sudah ada pemeriksaan selama seminggu,” kata dia, ketika dihubungi melalui telepon. Menurut Didin, pemeriksaan ini merupakan buntut dari laporan yang disampaikan tim investigasi Gerakan Penyelamatan UPI baru sebatas audit.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas UPI Suwatno Fakhrudin membenarkan adanya pemeriksaan itu. Namun, dirinya menampik pemeriksaan dilakukan terkait dugaan penyimpangan oleh rektor. “Dari Inspektorat sudah pulang. Kunjungannya sudah dua hari kemarin,” ucapnya kepada wartawan di Gedung Universty Center UPI.

Wartawan yang berupaya mencegat kepulangan Sunaryo tidak mendapatkan hasil meski sudah menunggu di depan mobilnya di depan gedung rektorat. Sunaryo sudah mengambil jalan yang berbeda, tidak melewati tempat wartawan menunggu.

Diberitakan sebelumnya, Rektor UPI dilaporkan ke Inspektorat Jenderal dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Laporan ini adalah bentuk keprihatinanan karena ada dugaan penyimpangan di UPI,” kata Didin.

Sunaryo dilaporkan dengan beberapa dugaan penyimpangan, antara lain pengalihan fungsi Gedung Training Centre dan Dormitori yang dibangun pada 2009. Gedung ini diubah fungsinya menjadi hotel bernama “Isola Resort”, tak sesuai dengan rencana sebagai pusat pelatihan dan asrama mahasiswa.

Investigasi, imbuh Didin, juga mendapatkan temuan dugaan penyimpangan dalam pembangunan gedung Training Centre UPI di Kota Serang, Banten. Dimulai pada 2010, pembangunan gedung itu mandek pada 2011 karena belum mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). “Karena tak ada IMB, disegel Pemda Kota Serang,” kata dia sembari mengatakan penyegelan ini memunculkan dugaan korupsi dalam proyek pembangunan tersebut.

Selain itu, lanjut Didin, ada dugaan terjadi pula penghambur-hamburan dan penyimpangan penggunaan dana yang bersumber dari masyarakat. “Akuntabilitas pengelolaannya ditengarai tidak jelas dan tidak transparan,” ujar Didin.

Setiap tahun UPI mengumpulkan dana Rp 260 miliar, antara lain berasal dari uang pendaftaran dan iuran semester. Setiap tahun, sebut Didin, UPI juga meminta sumbangan mahasiswa untuk membantu mahasiswa tak mampu, yang dikelola Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) Al Furqon, yang pada 2012 telah terkumpul Rp 3,67 miliar. Pada 2013, tarikan serupa sudah dimintakan kesediaannya dari para calon mahasiswa baru, sekalipun sudah ada kebijakan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang uang kuliah tunggal.

Gerakan Penyelamatan UPI pun mencatat ada pembiaran dalam hal pelanggaran akademik dan administrasi. Menurutnya, praktik kecurangan seperti jual beli nilai yang dilakukan para dosen akademik, dosen administrasi, dan mahasiswa di lingkungan UPI disebut sudah diketahui oleh rektor sejak 2008. “Tapi, ternyata tuntutan dari rektor tentang masalah ini tidak tegas. Jelas ada upaya pembiaran,” tutur Didin.
Editor : Palupi Annisa Auliani


http://www.theglobejournal.com/Hukum/rektor-upi-diperiksa-itjen-kemendikbud/index.php

Rektor UPI Diperiksa Itjen Kemendikbud
Sabtu, 20 Juli 2013 06:58 WIB

Bandung – Menyusul laporan dugaan korupsi, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Sunaryo Kartadinata diperiksa oleh jajaran Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeriksaan dilakukan di kampus universitas itu, di Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/7/2013).

Koordinator Penyelamatan UPI Didin Saripudin mengatakan, Sunaryo diduga melakukan korupsi dan menyalahgunakan bangunan kampus. “Sudah ada pemeriksaan selama seminggu,” kata dia, ketika dihubungi melalui telepon. Menurut Didin, pemeriksaan ini merupakan buntut dari laporan yang disampaikan tim investigasi Gerakan Penyelamatan UPI baru sebatas audit.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas UPI Suwatno Fakhrudin membenarkan adanya pemeriksaan itu. Namun, dirinya menampik pemeriksaan dilakukan terkait dugaan penyimpangan oleh rektor. “Dari Inspektorat sudah pulang. Kunjungannya sudah dua hari kemarin,” ucapnya kepada wartawan di Gedung Universty Center UPI.

Wartawan yang berupaya mencegat kepulangan Sunaryo tidak mendapatkan hasil meski sudah menunggu di depan mobilnya di depan gedung rektorat. Sunaryo sudah mengambil jalan yang berbeda, tidak melewati tempat wartawan menunggu.

Diberitakan sebelumnya, Rektor UPI dilaporkan ke Inspektorat Jenderal dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Laporan ini adalah bentuk keprihatinanan karena ada dugaan penyimpangan di UPI,” kata Didin.

Sunaryo dilaporkan dengan beberapa dugaan penyimpangan, antara lain pengalihan fungsi Gedung Training Centre dan Dormitori yang dibangun pada 2009. Gedung ini diubah fungsinya menjadi hotel bernama “Isola Resort”, tak sesuai dengan rencana sebagai pusat pelatihan dan asrama mahasiswa.

Investigasi, imbuh Didin, juga mendapatkan temuan dugaan penyimpangan dalam pembangunan gedung Training Centre UPI di Kota Serang, Banten. Dimulai pada 2010, pembangunan gedung itu mandek pada 2011 karena belum mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). “Karena tak ada IMB, disegel Pemda Kota Serang,” kata dia sembari mengatakan penyegelan ini memunculkan dugaan korupsi dalam proyek pembangunan tersebut.

Selain itu, lanjut Didin, ada dugaan terjadi pula penghambur-hamburan dan penyimpangan penggunaan dana yang bersumber dari masyarakat. “Akuntabilitas pengelolaannya ditengarai tidak jelas dan tidak transparan,” ujar Didin.

Setiap tahun UPI mengumpulkan dana Rp 260 miliar, antara lain berasal dari uang pendaftaran dan iuran semester. Setiap tahun, sebut Didin, UPI juga meminta sumbangan mahasiswa untuk membantu mahasiswa tak mampu, yang dikelola Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) Al Furqon, yang pada 2012 telah terkumpul Rp 3,67 miliar. Pada 2013, tarikan serupa sudah dimintakan kesediaannya dari para calon mahasiswa baru, sekalipun sudah ada kebijakan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang uang kuliah tunggal.

Gerakan Penyelamatan UPI pun mencatat ada pembiaran dalam hal pelanggaran akademik dan administrasi. Menurutnya, praktik kecurangan seperti jual beli nilai yang dilakukan para dosen akademik, dosen administrasi, dan mahasiswa di lingkungan UPI disebut sudah diketahui oleh rektor sejak 2008. “Tapi, ternyata tuntutan dari rektor tentang masalah ini tidak tegas. Jelas ada upaya pembiaran,” tutur Didin.[006-kompas].


http://www.ngomel.com/rektor-upi-diperiksa-terkait-dugaan-korupsi-12810

Rektor UPI diperiksa terkait dugaan Korupsi
Sabtu, 20 Juli 2013 / 12 Ramadhan 1434 – 25 Kunjungan

NGOMEL.COM – Menyusul laporan dugaan korupsi, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Sunaryo Kartadinata diperiksa oleh jajaran Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeriksaan dilakukan di kampus universitas itu, di Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/7/2013).

Koordinator Penyelamatan UPI Didin Saripudin mengatakan, Sunaryo diduga melakukan korupsi dan menyalahgunakan bangunan kampus. “Sudah ada pemeriksaan selama seminggu,” kata dia, ketika dihubungi melalui telepon. Menurut Didin, pemeriksaan ini merupakan buntut dari laporan yang disampaikan tim investigasi Gerakan Penyelamatan UPI baru sebatas audit.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas UPI Suwatno Fakhrudin membenarkan adanya pemeriksaan itu. Namun, dirinya menampik pemeriksaan dilakukan terkait dugaan penyimpangan oleh rektor. “Dari Inspektorat sudah pulang. Kunjungannya sudah dua hari kemarin,” ucapnya kepada wartawan di Gedung Universty Center UPI.

Wartawan yang berupaya mencegat kepulangan Sunaryo tidak mendapatkan hasil meski sudah menunggu di depan mobilnya di depan gedung rektorat. Sunaryo sudah mengambil jalan yang berbeda, tidak melewati tempat wartawan menunggu.

Diberitakan sebelumnya, Rektor UPI dilaporkan ke Inspektorat Jenderal dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Laporan ini adalah bentuk keprihatinanan karena ada dugaan penyimpangan di UPI,” kata Didin.

Sunaryo dilaporkan dengan beberapa dugaan penyimpangan, antara lain pengalihan fungsi Gedung Training Centre dan Dormitori yang dibangun pada 2009. Gedung ini diubah fungsinya menjadi hotel bernama “Isola Resort”, tak sesuai dengan rencana sebagai pusat pelatihan dan asrama mahasiswa.


http://aspensi.com/views/2012/03/22/2353/849000-menyembunyikan-plagiator

Menyembunyikan Plagiator
Oleh: Rudini Sirat – March 22, 2012

Salah satu tujuan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) mengeluarkan kebijakan publikasi ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa S1, S2 dan S3 adalah untuk mengurangi tindakan plagiarisme. Untuk mengetahui seseorang melakukan plagiarisme saat ini cukup mudah. Dengan menggunakan perangkat lunak tertentu, karya ilmiah bisa dideteksi keotentikannya.

Baru saja Dikti mengeluarkan surat edaran itu, kini Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tercoreng namanya terkait plagiarisme. Pasalnya, terdapat tiga dosen di UPI yang diduga melakukan plagiarisme dalam karya ilmiah yang diajukan ke Dikti sebagai syarat menjadi guru besar. Tiga dosen tersebut yaitu Cecep Darmawan (Direktur Kemahasiswaan UPI dan Rektor Universitas Subang), Lena Nuryanti (Dosen Manajemen Bisnis UPI), dan Ayi Suherman (Dosen UPI Kampus Sumedang).

Sebenarnya persoalan tersebut sudah terungkap sejak 2010. Karena pimpinan UPI tidak bertindak tegas terhadap dosen itu, akhirnya persoalan terus bergulir. Padahal Dikti sudah memintanya untuk memberikan sanksi terhadap ketiga dosen tersebut. Kini, banyak media umum memuat berita terkait plagiarisme di UPI. Entah siapa yang membocorkannya, yang jelas ini sebagai upaya untuk memerangi plagiarisme di perguruan tinggi. Lain ceritanya jika kala itu pimpinan UPI memberikan sanksi setelah Dikti memintanya. Tapi pimpinan UPI malah mengklarifikasi perbuatan plagiarisme yang dilakukan tiga dosen itu.

Salah satu dosen yang melakukan plagiarisme, yaitu Cecep Darmawan mengaku tidak berniat melakukan plagiarisme. Dia mengungkapkan bahwa terdapat kesalahan dalam mengutip karya seseorang sebagai referensi. Tapi suatu hal yang tidak galib jika mereka tak mengetahui hal tersebut. Dalam artian, mereka tidak serius dalam pembuatan karya ilmiahnya, terlalu menggampangkan dan menganggap sepele.

Akibat sekarang tak hanya diterima secara institusi saja, tapi semua dosen UPI menanggung atas perbuatan tercela tiga dosen itu. UPI terancam menerima moratorium dari Dikti, yaitu selama satu tahun ini UPI tidak boleh mengajukan guru besar dan semua dosen UPI tidak bisa naik pangkat. Ini sebagai pelajaran bagi UPI dan perguruan tinggi lain.

Tindakan plagiarisme ternyata membudaya bagi civitas akademika di perguruan tinggi Indonesia karena sebelum UPI, beberapa perguruan tinggi juga pernah mengalami hal yang sama. Kita tentu tidak ingin ini menjadi budaya, plagiarisme yang dilakukan dosen merupakan sebuah penyakit. Sungguh suatu kejahatan jika ide seseorang harus dijiplak demi kepentingan pribadinya untuk memperoleh tunjangan lebih. Padahal mereka adalah tokoh intelektual dan seorang akademisi yang menjunjung tinggi nilai-nilai akademik.

Bagaimana mau menerapkan Tri Dharma perguruan tinggi jika dosen melakukan kejahatan intelektual. Bagaimana pula mereka mau membimbing mahasiswanya yang ingin membuat makalah ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal jika dosennya justru melakukan tindakan yang berada di luar norma akademik. Sungguh suatu ironi. Di saat mereka harus memberikan contoh dan mendidik mahasiswanya untuk tidak menyontek saat ujian, malah dikotori oleh perbuatannya sendiri. Apalagi plagiat yang dilakukan terjadi di institusi perguruan tinggi yang memiliki jargon pendidikan dan penghasil pendidik. Sebuah jargon yang memiliki arti dan menyeluruh dalam memaknai pendidikan.

Di kala UPI sedang rajin-rajinnya mengajukan guru besar dan banyak guru besar yang sudah disahkan, UPI sekarang memiliki hambatan untuk mengajukannya kembali. Bahkan, UPI harus menanggung malu. Jika Dikti meminta untuk menegur atau memberikan sanksi, seharusnya UPI mengambil tindakan supaya persoalan tidak berkepanjangan.

Ketiga dosen tersebut tidak bisa diampuni, apalagi sanksi yang diberikan Senat Akademik UPI dari sidang plenonya pada 2 Maret 2012 hanya sanksi administrasi berupa penurunan jabatan dan golongan. Orang yang berada di luar UPI saja berpandangan bahwa ketiga dosen itu semestinya dikeluarkan dari UPI. Kenapa pimpinan UPI yang mengetahui banyak persoalan internal justru bertindak apa adanya. Berikan sanksi sesuai tindakannya. Bila tindakannya mencoreng nama institusi dan identitas pendidikan, maka ketiga dosen tersebut mesti dikeluarkan dari UPI.

Sungguh telah mencederai nilai-nilai pendidikan jika pihak UPI hanya memberikan sanksi yang sangat ringan. Hal ini menjadi tanda tanya juga bagi para alumni, termasuk Teten Masduki (Sekretaris Jenderal Transparency Internasional Indonesia) sebagai alumnus UPI merasa prihatin dengan keputusan Senat Akademik.

Telisik punya telisik, ternyata Pembantu Rektor Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Usaha (PR KSDU) UPI yang mengurusi kepegawaian di UPI adalah senior dan pembimbing karya ilmiahnya Cecep Darmawan. Tengok saja pembelaan yang dilakukan oleh PR KSDU UPI ketika sejumlah wartawan menanyakan hal tersebut. UPI tidak terbuka dalam memberikan penjelasan kepada publik, padahal UPI sendiri yang mengundang wartawan untuk bertanya.

Senat Akademik sebagai badan normatif dalam perguruan tinggi, seolah menuruti apa yang diinginkan PR KSDU UPI. Ada hubungan apa antara Senat Akademik UPI dengan PR KSDU UPI? Suatu keprihatinan pada sebuah institusi pendidikan jika harus disamakan dengan dunia perpolitikan, dimana unsur politis nampak kental. Jika sudah tampak hal tersebut, bukan hanya Cecep Darmawan dan dua dosen itu yang terkena sanksi, PR KSDU UPI juga bisa disalahkan dalam penglolosan dosen tersebut dalam pengajuan guru besarnya.

Tulisan ini sebagai upaya agar kultur seperti itu bisa dimusnahkan dalam institusi pendidikan. Dikti juga harus memperhatikan hal tersebut, bagaimana kultur feodal di UPI bisa dihilangkan.

===

Keterangan: Artikel opini ini dipajang dalam media online pribadi milik Rudini Sirat pada hari Sabtu, 3 Maret 2012. Ianya juga dapat dilayari di: http://www.rudinisirat.blogspot.com [diakses di Bandung: 22 Maret 2012].

Rudini Sirat adalah Mahasiswa UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung; Koordinator KPSD (Kajian Pembangunan dan Sumber Daya); aktif bergiat di pers mahasiswa UPI, Isola Pos; dan penulis buku Dari Isola ke Bumi Siliwangi (2011).

sule tea Posted March 23, 2012 at 12:07 AM
I have no comment about an opinion above. Most of people know that UPI is abbreviation of “Universitas Plagiat Indonesia”. What’s something new???

GOLKAR (Golongan Keturunan Arab) Posted March 23, 2012 at 12:52 AM
Menurut buku “Dari Isola ke Bumi Siliwangi” (2011), yang ditulis oleh Rudini Sirat, bahwa pendiri UPI yang juga Menteri Pelajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan RI pada tahun 1954, yaitu Prof. Mr. Muhammad Yamin, menyatakan bahwa tujuan didirikannya PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru), sekarang menjadi UPI, adalah untuk mendidik para mahasiswa agar menjadi guru dan sarjana pendidikan yang bermoral dan bersusila.
Apakah tindakan plagiat yang dilakukan oleh dosen2 itu termasuk bermoral dan bersusila? Pastilah civitas akademika UPI akan dicap oleh masyarakat luas sebagai orang-orang yang a moral dan a susila.
Saya jadi teringat dengan pernyataan Prof. Dr. Soedijarto ketika menjadi pembahas buku “Dari Isola ke Bumi Siliwangi” (2011). Beliau bilang, “Ngenes saya membaca sikap pimpinan UPI yang seperti ini”. Beliau “ngenes” alias sedih pada waktu itu karena melihat pimpinan UPI kurang menghargai kreativitas mahasiswa di satu sisi, serta di sisi lain memandang remeh masalah2 akademik yang menjadi jatidiri dan kebanggaan sebuah PT (Perguruan Tinggi).

ada2 sajah Posted March 23, 2012 at 6:59 AM
Bung Rudini, anda kurang lengkap membuat judul tulisan. Harusnya ”Menyembunyikan Plagiator dan Menyalahkan Provokator”. Hal ini didasarkan oleh kenyataan bahwa Pimpinan UPI bukannya introspeksi diri dan mengambil tindakan yang berani terhadap plagiator, tapi malah mencari-cari kambing hitam, siapa yang disinyalir menjadi provokator.
Disinyalir juga bahwa yang menjadi provokator, untuk menyerang pribadi plagiator dan menjelekkan lembaga UPI, adalah orang yang berinisial AS. Padahal banyak sekali orang yang berinisial AS di UPI ini.
Berikut adalah nama-nama orang yang berinisial AS di UPI: Ahmad Sunaryo, Alfurqon Syukron, Adrus Safandi, Aminuddin Sazis, Adang Sunendar, Ahman Surahman, Arim Suryadi, Ayu Sinden, Asep Sadarohman, Artos Sumarto, Adi Suryadi, Andang Sumantri, Abin Syamsuddin, Ahmad Syihabuddin, Asmawi Sainul, Abdul Samied, dan AS-AS lainnya.
Lieur dan mabok sugan mah!!!

ASPENSI Posted March 23, 2012 at 7:19 AM
Dear, ASPENSI in News & Views readers.
Comments displayed by “ASPENSI in News & Views” do not necessarily represent the views as well as the policy of Editorial Committee of ASPENSI. The Editor is responsible for the final selection of comment content and reserve the right to reject any material deemed inappropriate for publication. Responsibility for comments expressed and for the accuracy of facts displayed in the comments rests solely with the individual commentator.
Warmest regards.

Plagiator Kotor Posted March 23, 2012 at 8:24 PM
Para pengunjung “ASPENSI in News & Views”, nih ada komentar bagus dari Barakatak, sebagaimana dimuat dalam portal http://www.jabartoday.com [15 Maret 2012]:
CD tidak terima dituduh “plagiator”. Dia malah menyalahkan “translator”. “Translator” juga tidak mau jadi kambing hitam, dia lalu menyalahkan “editor”.
Editor yang orang Sunda itu jadi kesal dan minta CD untuk menterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris kalimat seperti ini, “Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”.
Alhasil, CD menterjemahkannya seperti ini: “Water-racak falling the stones, slowly-slowly to be the cock”.
Akhirnya, CD memang ketahuan belangnya karena hasil tes TOEFL nya yang 500 itu juga ternyata hasil kegiatan plagiat.
Dasar plagiator, bermain politik dan ngurus akademik pun dengan cara-cara yang “kotor”.

Guru Sufi Posted March 23, 2012 at 6:07 PM
Saudara Rudini, izinkan saya untuk menjadi “plagiat”, yakni menasihati kamu dengan mengutip dan memodifikasi komentarnya Prof. Dr. Bunyamin Maftuh dari FPIPS UPI, ketika memberi nasihat kepada Andi Suwirta. Nasihat-nasihat sufistiknya amat menyentuh dan sarat makna. Karena itu kamu harus membaca komentar “plagiat” saya ini, sebagai berikut:
“Ketika saya membaca tulisan Rudini Sirat tentang “Menyembunyikan Plagiator”, saya terkagum dengan gaya tulisannya. Memang beliau sangat piawai dalam menulis, termasuk dalam menulis karya ilmiah, sehingga tidak heran pers mahasiswa UPI, Isola Pos, yang pernah diasuhnya menjadi media massa yang dikenal secara nasional.
Saya mengenal Rudini Sirat sudah lama, bekas mahasiswa saya di UPI dan mengambil matakuliah MKDU, yang rumahnya entah dimana, saya tidak tahu.
Ketika membaca tulisannya tersebut, tergerak hati saya untuk menyampaikan sesuatu kepada bekas mahasiswaku, Rudini Sirat, ini.
Semoga bekas mahasiswaku, Rudini Sirat ini, senantiasa diberikan hidayah oleh Allah SWT agar: (1) Menyalurkan energi kecerdasannya untuk hal-hal yang positif, yang berguna bagi kemajuan UPI, di mana Rudini Sirat dulu begitu bersemangat untuk memperjuangkan dan membela nama baiknya; (2) Senantiasa memiliki hati yang ikhlas dan sejuk, yang bersih dari segala rasa dendam, dengki, hasud, dan buruk sangka pada orang lain; (3) Mampu mengintrosepsi diri, tanpa menghabiskan energi untuk mencari-cari kesalahan orang, dan tidak menyebarluaskan aib orang dan menggiring opini orang untuk bersama-sama menebar rasa kebencian pada orang lain; (4) Memiliki jiwa pemaaf yang agung dan menerima takdir dengan ikhlas; (5) Memiliki semangat untuk tetap memajukan UPI bersama-sama dengan teman-teman lainnya; (6) Semoga surga yang sudah di depan mata Rudini Sirat tidak semakin menjauh hanya karena kurang mampu menghapus dendam politik lama; dan (7) Semoga kehidupan Rudini Sirat ke depan penuh dengan keberkahan dan limpahan hidayah dari Allah SWT.
Sayang, kalau orang sepandai Rudini Sirat dan teman-teman seperjuangan Rudini Sirat harus menghabiskan energi untuk hal-hal ang kurang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat”.
Nah, begitulah Rudini Sirat, nasihat plagiat saya, dengan merujuk komentar Guru Besar FPIPS UPI yang jadi “ulama” tapi belum tamat ngajinya itu. Semoga kamu dan kita semua selamat dunya dan akhirat!!!

Geboy Asoy Posted March 23, 2012 at 6:22 PM
@ Guru Sufi: Aku setuju banget dengan komentarmu. Maklum saja, Guru Besar MKDU UPI itu tidak bisa membedakan mana karya ilmiah yang dianalisis secara logis dan rasional dengan tulisan untuk khutbah Jum’at yang sarat dengan norma-norma dan nilai-nilai ilahiyah. Ha ha ha ha!!!

Bibi Yamin Posted March 23, 2012 at 7:25 PM
Dear, sir/madam. Tell me please. Is mr Bunyamin Maftuh similar with mr Benyamin Franklin as well as mr Benyamin Su’eb? Ups, the answer is may be yes or may be not. Cheers.

Buya Mien Posted March 25, 2012 at 6:09 AM
I’m not sure about my answer, but it is based on my private knowledge. Mr Benyamin Franklin is one of the founding father of USA (United States of Amrica). Mr Benyamin Su’eb is one of the notorious comedian in Indonesia. While Mr Bunyamin Maftuh is one of the supporter for plagiarism matters in UPI.

Kadarkum Posted March 23, 2012 at 7:37 PM
Tulisan Rudini Sirat memang tepat dan kena sasaran. Pimpinan UPI malah mencari-cari kambing hitam: siapa yang membocorkan isu plagiarisme di UPI ini ke media massa? Bahkan ada seorang Guru Besar UPI yang menyalahkan Dikti, dengan kata-kata yang kasar, “Anu goblog mah Dikti”, artinya yang bodoh itu Dikti.
Semoga pihak Dikti mendengar ucapan Guru Besar ini, sehingga menghukum tidak hanya kepada para plagiator, tapi juga kepada Guru Besar yang melindungi dan menyembunyikan plagiator di UPI.

Birokrat Sehat Posted March 25, 2012 at 6:36 AM
Pejabat itu figur publik. Segala perbuatan, sikap, dan ucapannya diperhatikan oleh masyarakat. Ucapan yang baik akan dikesankan sebagai pejabat yang santun. Sikap yang kasar akan dicap sebagai pejabat preman. Dan perbuatan yang tidak jujur akan dihukum sebagai pejabat yang koruptor, atau plagiator kalau dia seorang akademisi yang jadi pejabat.

Pihak Dikti Posted March 23, 2012 at 7:55 PM
Nampaknya pihak Dikti akan terus melacak plagiator2 berikutnya di UPI. Ini peristiwa berseri dan cerbung (cerita bersambung) kawan. So, mari kita lihat dan tunggu saja episode berikutnya. Salam anti plagiat dan anti nyontek!!!

Dosen Biasa Posted March 25, 2012 at 11:49 PM
Walah, siapa lagi yang bakal kena pak? Untung saya mah belum menjadi Guru Besar atau Calon Guru Besar. Iya memang pak, sebaiknya Guru Besar di UPI itu jangan mengejar target, misalnya harus sekian persen. Apalagi tergoda oleh tunjangan jabatan Guru Besar yang menggiurkan. Akibatnya banyak Guru Besar dan Calon Guru Besar yang mateng tapi seperti dikarbit, sehingga ada yang terjerumus menjadi plagiator. Semoga ini menjadi bahan renungan dan introspeksi bagi kita semua.

Dedi Darmawan Posted March 27, 2012 at 5:37 AM
Bosan deh dengerin isu plagiat di UPI. Mbok ya cari isu lain gituh loh?

Ali Posted March 27, 2012 at 8:51 AM
Isu korupsi di UPI yah?

rudini sirat Posted May 28, 2012 at 6:20 PM
isu mah banyak mas, ini kan salah satunya aja. lagian tulisan ini diposting saat lagi rame-ramenya plagiat.

rudini sirat Posted May 28, 2012 at 6:21 PM
saya malah tak tahu blog saya muncul di sini.


http://forum.upi.edu/index.php?topic=5997.0

Author Topic: ada yg tau kelanjutan kabarnya? (Read 3345 times)
Offline serasa_di_serang

ada yg tau kelanjutan kabarnya?
« on: December 21, 2008, 02:43:02 pm »
salam buat temen2 upm.
sengaja mampir ke sini buat nanya apa ada yg tau kelanjutan indikasi korupsi di upi yang menurut koran BOM lagi disidik sama kajati n polda jabar.
pliz kasih tau ya kalau ada yang baru ;D ;D

About these ads