Tagged: bursa efek jakarta Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Virtual Chitchatting 12:16 PM on 2011/07/17 Permalink
    Tags: analysis methods, , , bursa efek jakarta, bursa efek surabaya, business research, business study, financial performance, , market study, panel data, , research methods, stock price   

    Estimasi Persamaan Regresi pada Industri Perbankan di Indonesia: Suatu Analisa Kuantitatif Tingkat Lanjutan Penggunaan Metode Teknik Analisis Data Panel 

    Jakarta, 15 Juli 2011 10.45

    Estimasi Persamaan Regresi pada Industri Perbankan di Indonesia:

    Suatu Analisa Kuantitatif Tingkat Lanjutan Penggunaan Metode Teknik Analisis Data Panel

    oleh: Sando Sasako
    Lead Consultant
    Advanced Advocacy Plus


    This module is a template, role-model, and/or to make hypothetical analysis to the application of panel data research method on the banking industry in Indonesia. This document is made public internationally so anyone can access, retain, and learn how easily we can to analyse the panel data, i.e. both the cross-section data dan the time-series data. Should you have any queries, inquiries, objection, or whatsoever, kindly submit yours to the author. I thank you in advance.

    I would like to acknowledge to any one wholeheartedly and/or partially helping, disguised or not, in assisting this module available to the public. Copyrights infringements should be reported to the author or to file complaints to the initial writers so we can request the courtesy from theirs.

    I would also like to address anyone who made their documents available to the public, but protected, you are doing worthlessly. Any painstaking protection efforts to the digital documents would be knocked down, cracked easily in less than a second. Please be aware of it.

    Keywords: research methods, analysis methods, quantitative analysis, market research, market study, business study, business research, panel data, banking industry, bursa efek indonesia, bursa efek jakarta, bursa efek surabaya, stock price, financial performance.


    Tulisan ini dibuat sebagai template, role-model, analisis hipotetis terhadap aplikasi metode penelitian dan analisis kuantitatif terhadap data panel di industri perbankan di Indonesia.

    Step-by-step approach using EViews 7.1. is provided as is, ultimately as requested by many of mostly my desires and curiousity. Enjoy, please reseed. Emang torrent.


    Per Januari 2011, sebanyak 121 bank umum dengan 13.970 kantornya beroperasi di Indonesia. Jumlah bank tersebut tidak termasuk jumlah bank yang mengoperasikan unit syariah, bank syariahnya, dan BPR. Jumlah bank umum tersebut terdiri dari 4 bank pemerintah, 36 bank swasta devisa, 31 bank swasta non-devisa, 26 BPD, 14 bank campuran, dan 10 bank asing.

    Demi memverifikasi ceklis nama-nama bank yang dimaksud, yang masih aktif, belum ditutup, belum digabung ke bank lain atau lainnya, kami mengalami kesulitan yang cukup menjengkelkan. Pada saat ini, detik-detik ini, server Bank Indonesia sedang down, tidak bisa diakses. Beberapa jam yang lalu, kami bisa mengetahui bahwa laporan keuangan bank-bank umum per Mei 2011 sudah bisa diakses. Berikut ceklis nama-nama bank umum yang (pernah) ada di Indonesia.

    Bank Asing

    1. ABN Amro Bank
    2. American Express Bank Ltd
    3. Bank of America, NA
    4. Bank of China Limited
    5. Citibank NA
    6. Deutsche Bank AG
    7. JP Morgan Chase Bank, NA
    8. Standard Chartered Bank
    9. The Bangkok Bank Comp Ltd
    10. The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Ltd
    11. The Hongkong & Shanghai BC

    Bank Campuran

    1. ANZ Panin Bank
    2. Bank Agris
    3. Bank BNP Paribas Indonesia
    4. Bank Capital Indonesia, Tbk
    5. Bank China Trust Indonesia
    6. Bank Commonwealth
    7. Bank Credit Agricole Indosuez
    8. Bank Dai-Ichi Kangyo Indonesia
    9. Bank DBS Indonesia
    10. Bank IBJ Indonesia
    11. Bank KEB Indonesia
    12. Bank Maybank Syariah Indonesia
    13. Bank Merincorp
    14. Bank Mizuho Indonesia
    15. Bank OCBC Indonesia
    16. Bank Paribas – BBD Indonesia
    17. Bank Rabobank Duta
    18. Bank Rabobank International Indonesia
    19. Bank Resona Perdania
    20. Bank Sakura Swadharma
    21. Bank Societe General Indonesia
    22. Bank Sumitomo Mitsui Indonesia
    23. Bank UFJ Indonesia
    24. Bank UOB Indonesia
    25. Bank Windu Kentjana International, Tbk
    26. Bank Woori Indonesia
    27. Ing Indonesia Bank
    28. Keppel Tat Lee Buana Bank
    29. Tokai Lippo Bank

    Bank Pemerintah

    1. Bank Ekspor Indonesia (Persero)
    2. Bank Mandiri (Persero), Tbk
    3. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
    4. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk
    5. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk

    Bank Pembangunan Daerah

    1. Bank Aceh
    2. Bank DKI
    3. Bank Kalteng
    4. Bank Lampung
    5. Bank Nagari
    6. BPD Bali
    7. BPD Bengkulu
    8. BPD Jambi
    9. BPD Jawa Barat dan Banten
    10. BPD Jawa Tengah
    11. BPD Jawa Timur
    12. BPD Kalimantan Barat
    13. BPD Kalimantan Selatan
    14. BPD Kalimantan Timur
    15. BPD Maluku
    16. BPD Nusa Tenggara Barat
    17. BPD Nusa Tenggara Timur
    18. BPD Papua (d/h BPD Irian Jaya)
    19. BPD Riau Kepri
    20. BPD Sulawesi Selatan
    21. BPD Sulawesi Tengah
    22. BPD Sulawesi Tenggara
    23. BPD Sulawesi Utara
    24. BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung
    25. BPD Sumatera Utara
    26. BPD Yogyakarta

    Bank Swasta Devisa

    1. Artamedia Bank
    2. Bank Agroniaga, Tbk
    3. Bank Antardaerah
    4. Bank Arta Niaga Kencana
    5. Bank Artha Graha
    6. Bank Artha Graha Internasional, Tbk
    7. Bank BNI Syariah
    8. Bank Bukopin
    9. Bank Bumi Arta
    10. Bank Central Asia Tbk
    11. Bank CIMB Niaga, Tbk
    12. Bank Dagang Bali
    13. Bank Danamon Indonesia Tbk
    14. Bank Danpac
    15. Bank Ekonomi Raharja, Tbk
    16. Bank Ganesha
    17. Bank Hagakita
    18. Bank Hana
    19. Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk
    20. Bank ICB Bumiputera Tbk
    21. Bank ICBC Indonesia
    22. Bank IFI
    23. Bank Index Selindo
    24. Bank Internasional Indonesia Tbk
    25. Bank Kesawan Tbk
    26. Bank Lippo Tbk
    27. Bank Maspion Indonesia
    28. Bank Mayapada International Tbk
    29. Bank Mega, Tbk
    30. Bank Mestika Dharma
    31. Bank Metro Express
    32. Bank Muamalat Indonesia
    33. Bank Mutiara, Tbk
    34. Bank Nusantara Parahyangan,Tbk
    35. Bank OCBC NISP, Tbk
    36. Bank Permata Tbk
    37. Bank Pikko Tbk
    38. Bank Prasidha Utama
    39. Bank Sbi Indonesia
    40. Bank Sinarmas
    41. Bank Swadesi Tbk
    42. Bank Syariah Mandiri
    43. Bank Syariah Mega Indonesia
    44. Bank Unibank Tbk
    45. Bank Universal Tbk
    46. Bank Uob Buana, Tbk
    47. Bank Windu Kentjana
    48. Pan Indonesia Bank, Tbk
    49. Prima Express Bank

    Bank Swasta Non-Devisa

    1. Anglomas Internasional Bank
    2. Bank Andara
    3. Bank Artos Indonesia
    4. Bank Asiatic
    5. Bank Barclays Indonesia
    6. Bank BCA Syariah
    7. Bank Bisnis Internasional
    8. Bank BRI Syariah
    9. Bank Dipo International
    10. Bank Fama Internasional
    11. Bank Harda Internasional
    12. Bank Harmoni International
    13. Bank Ina Perdana
    14. Bank Jabar Banten Syariah
    15. Bank Jasa Jakarta
    16. Bank Kesejahteraan Ekonomi
    17. Bank Mayora
    18. Bank Mitraniaga
    19. Bank Multi Arta Sentosa
    20. Bank Panin Syariah
    21. Bank Patriot
    22. Bank Pundi Indonesia Tbk
    23. Bank Ratu
    24. Bank Royal Indonesia
    25. Bank Sahabat Purba Danarta
    26. Bank Sinar Harapan Bali
    27. Bank Syariah Bukopin
    28. Bank Tabungan Pensiunan Nasional
    29. Bank Victoria International, Tbk
    30. Bank Victoria Syariah
    31. Bank Yudha Bhakti
    32. Centratama Nasional Bank
    33. Global International Bank
    34. Liman International Bank
    35. Nationalnobu
    36. Prima Master Bank

    Analisis Keunggulan Daya Saing Industri Perbankan

    Arsitektur Perbankan Indonesia (API) diharapkan menjadi blue print sekaligus acuan bagi struktur industri perbankan Indonesia yang dianggap ideal bagi BI. Tujuan utama yang digembar-gemborkan adalah konsolidasi industri perbankan di Indonesia melalui mekanisme merger dan akuisisi atau lainnya. Ketentuan prinsipil yang ditegakkan adalah single presence policy. Ketentuan normatif yang harus dijalankan adalah Basel Core Principles (BCP).

    Struktur pasar persaingan dalam industri perbankan bisa dilihat berdasarkan besaran nominalnya yang terdapat dalam laporan keuangan seperti modal, aset, kredit, deposito, dan lainnya. Besaran relatifnya dapat dilihat pada indikator kinerja pasar, operasional, fisik, keuntungan, dan lainnya. Ukuran tingkat persaingan dapat dilihat pada tingkat konsentrasi menurut aset finansil, tingkat persaingan antar-bank dalam kredit dan simpanan, persaingan dalam bunga kredit dan bunga tabungan, serta keahlian dalam manajemen risiko finansil dan operasional.

    Kebijakan BI, yang bertujuan menciptakan kestabilan pada ketiga sistem sekaligus yakni, sistem perbankan, sistem keuangan, dan sistem pembayaran, berpotensi berdampak buruk pada persaingan dan efisiensi. Ketentuan modal minimum yang tinggi bagi bank merupakan salah satu bentuk barriers to entry dan menisbikan aspek efisiensi. Prinsip umum yang universal adalah agar suatu usaha (bank) bisa efisien, usaha (bank) tersebut tidak harus bermodal tinggi.

    Kebijakan BI di bulan Januari 2005 (Pakjan 2005) yang melonggarkan batasan BMPK (L3), dinilai sebagai insentif untuk mendorong (mempercepat) proses konsolidasi perbankan di Indonesia. Konsolidasi cenderung membuat suatu struktur pasar semakin terkonsentrasi, yang pada gilirannya membuat semakin tinggi prilaku (tidak sehat) dalam persaingan usaha yang memaksimalkan keuntungan.

    Salah satu dampak persaingan yang potensil adalah excessive risk taking guna memenangkan persaingan dan/atau supaya bisa bertahan hidup. Bentuk persaingan yang umum adalah pada harga (bunga) dan pada produk. Persaingan minimalisasi bunga kredit menurunkan peluang gagal bayar. Di sisi lain, interest spread yang rendah memaksa bank untuk bisa efisien. Bila tidak efisien, biaya overhead akan semakin menggerus keuntungan bank dan akhirnya pada modal bank.

    Persaingan harga (bunga) cenderung mengarah pada satu tingkat harga (kesepakatan). Kolusi harga biasa terjadi di pasar persaingan tidak sempurna (oligopolistik). Produk yang homogen memungkinkan terjadinya kartel harga secara terselubung.

    Pada persaingan produk, diferensiasi produk bertujuan membuat permintaan menjadi kurang elastis. Permintaan yang tidak elastis berpotensi meningkatkan biaya bagi konsumen bila mengalihkan permintaannya ke bank lain. Secara keseluruhan, prinsip yang dipakai adalah bersaing sehat atau potensi ketidakstabilan industri perbankan (trade-off).

    Bank dengan modal terbatas dapat diduga memiliki tingkat diferensiasi yang lebih rendah dibanding bank dengan modal yang lebih besar. Permintaan yang tidak elastis biasanya terdapat di pasar persaingan tidak sempurna dan cenderung monopolistik. Kekuatan monopolistik membuat konsumen tidak berdaya menentukan pilihan dan tidak bisa mengganti (mensubstitusi) produk monopoli tersebut, kecuali dengan opportunity cost yang tinggi.

    Diversifikasi produk (bank) cenderung merugikan konsumennya ketika bersifat mengikat (binding, tying in) dengan produk bank generik. Produk bank non-generik meliputi asuransi, kredit pembiayaan, sekuritas, L/C, B/G, dan lainnya.

    Tinjauan Filosofis tentang Harga Saham Bank

    Harga saham merupakan salah satu indikator kinerja suatu bank. Dinamika harga saham diyakini sebagai akibat faktor-faktor eksternal diluar kontrol manajemen, dan sebagian lainnya akibat keputusan internal yang spesifik ditetapkan manajemen dan biasanya sangat strategis bagi kesinambungan hidup usaha bank.

    Oleh karena itu, harga pasar yang tercipta biasanya tidak murni ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Invisible hands yang nyata bisa berbentuk beredarnya secara luas insider information yang sumir dan menciptakan insider trading yang penuh dengan riak kecil di pasar, gelombang tsunami, atau yang terburuk, market cornering, saham satu bank atau beberapa bank digoreng oleh beberapa market makers.

    Informasi merupakan dasar utama bagi pembeli dan/atau penjual saham. Informasi sekecil apapun bisa menimbulkan sentimen negatif atau positif terhadap harga saham secara individu, secara industri, ataupun secara keseluruhan pasar. Informasi yang didapat oleh investor biasanya langsung dikapitalisasi (price in, cash in).

    Jenis informasi yang bisa mempengaruhi prilaku permintaan investor terhadap harga saham bisa berupa kinerja dan potensi perusahaan dan industri terkait, kondisi politik dan pemerintahan (kebijakan, aturan, ketentuan), kondisi ekonomi makro, dan lainnya. Kondisi ekonomi makro yang menjadi faktor eksternal bisa mencakup harga minyak, PDB, inflasi, bunga, jumlah uang beredar, dan lainnya.

    Penetapan perlakuan terhadap harga saham di pasar yang bebas dan efisien tergantung preferensi manajemen yang menginginkan saham semakin likuid (baca: volatile) atau tidak. Semakin rendah harga saham, semakin rendah biaya transaksi dan biaya lainnya di pasar, semakin banyak peran retail investor. Potensi realised profit atau cut loss menjadi pilihan keniscayaan bagi investor.

    Sebaliknya, semakin tinggi harga saham, semakin besar biaya transaksi yang harus ditanggung retail investor. Hal ini tidak menjadi masalah bagi insitutional investors. Harga saham yang tinggi biasanya merefleksikan kecenderungan manajemen dan/atau pemegang kendali bank yang kurang menyukai tingginya frekuensi pergantian pemilik saham minoritas.

    Ketika harga saham diakui sebagai preferensi manajemen bank, menjadi suatu keniscayaan adanya variabel pengelolaan harga dan jumlah saham yang beredar, frekuensi dan volume saham yang diperdagangkan. Termasuk didalamnya berbagai indikator perusahaan pedagang efek dan/atau investor institusi yang terafiliasi dengan bank sebagai pemilik saham mereka, holding company, atau lainnya.

    Manajemen jumlah saham yang beredar bisa dilakukan dengan berbagai mekanisme rights issue, stock split, buy back, pengeluaran convertible securities seperti warrant, ESOP (employee stock option program), saham bonus, atau lainnya.

    Konsep Data Panel

    Beberapa nama lain dari data panel:

    1. Pooled data (pengumpulan data time-series dan cross-section).
    2. Kombinasi time-series dan cross-section.
    3. Data micropanel.
    4. Data longitudinal (studi satu variabel atau kelompok subjek menurut waktu).
    5. Analisis sejarah kejadian (event history analysis).
    6. Analisis kohort.

    Beberapa contoh data panel:

    1. Data perusahaan dalam satu industri.
    2. Statistik ekonomi makro.
    3. Pola prilaku suatu subjek dan/atau objek.

    Beberapa jenis data panel:

    1. Balanced panel, setiap unit observasi (cross-section) memiliki jumlah observasi (time series) yang sama,
    2. Unbalanced panel, setiap unit observasi (cross-section) memiliki jumlah observasi (time series) yang tidak sama.

    Beberapa keuntungan umum menggunakan data panel adalah bersifat lebih informatif, dan lebih banyak variasi variabel. Beberapa keuntungan teknis analisis estimasi menggunakan data panel:

    1. naiknya jumlah ukuran sampel dan/atau tingkat kepercayaan (df),
    2. mempelajari dinamika perubahan menurut waktu dan variabel,
    3. model prilaku yang lebih kompleks (heterogen),
    4. hasil estimasi regresi yang lebih baik dan lebih efisien, terutama kalau mengukur hanya satu sisi saja seperti murni cross-section atau murni timer-series.
    5. meminimkan bias penyamarataan (pengagregasian) variabel di seluruh periode.
    6. kolinieritas antar-variabel yang lebih rendah,
    7. lebih mengetahui efek tetap pada variabel individu,
    8. lebih mengetahui efek temporal.

    Beberapa kekurangan data panel terlihat pada masalah estimasi dan inferensi, yakni:

    1. variabel atau responden tidak bersifat acak (non-stokastik).
    2. pada masa observasi atau survey, satu atau beberapa variabel/responden enggan atau tidak mau melanjutkan sampai waktu atau batas yang telah ditentukan (attrition).
    3. tidak bisa digunakan pada variabel yang tidak berubah sepanjang waktu observasi seperti status jenis kelamin, ras, dan lainnya.
    4. masalah klasik pada data cross-section (heteroscedasticity),
    5. analisis cross-section berpotensi ketidakkonsistenan parameter regresi,
    6. analisis time-series berpotensi adanya otokorelasi antar observasi (masalah klasik time-series).
    7. korelasi-silang di unit-unit individu pada waktu yang sama (nilai error dianggap nol, yang berdampak pada standar error yang bias dan tidak konsisten, serta estimator menjadi tidak efisien).

    Kerangka Pemikiran

    Semua indikator kinerja keuangan bank bisa dijadikan variabel dependent (variabel Y), tergantung cara kita menentukan sudut pandang atau perspektif, variabel apa yang menjadi determinant-nya. Sudut pandang yang baik adalah yang bertumpu pada batu pijakan analisis yang kokoh. Penguasaan teori, terutama filosofi kausalitas, menjadi suatu hal yang mutlak.

    Tiga indikator umum yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja perbankan adalah rentabilitas (π), likuiditas (λ), dan solvabilitas (ς). Indikator umum lainnya adalah yang mengukur tingkat kesulitan finansil (financial distress) suatu bank (δ), termasuk didalamnya indikator prediksi kebangkrutan. CAMEL atau EAGLES merupakan dua sistem atau pendekatan yang biasa dipakai untuk menilai kesehatan suatu bank.

    1. CAMEL merupakan singkatan dari Capital, Asset, Management, Earning, Liquidity.
    2. EAGLES merupakan singkatan dari Earning ability, Asset Quality, Growth, Liquidity, Equity, Strategic management.

    Pembentukan Model

    Berdasarkan tinjauan filosofis dan kerangka pemikiran diatas, secara matematis, hubungan diantara variabel kinerja bank tersebut dapat dirumuskan kedalam model hubungan sebagai berikut:

    ρ = f ( π, λ, ς, δ )

    Data dan Variabel

    Dari 121 bank umum yang ada di Indonesia per Januari 2011, hanya 31 bank yang bisa dijadikan objek penelitian. Ke-31 bank yang dimaksud terdiri dari:

    Kode

    Nama Bank

    Keterangan

    AGRO

    Bank Agroniaga Tbk.

    Company listing per 3 Desember 2007, 4 tahun setelah IPO per 8 Agustus 2003

    INPC

    Bank Artha Graha Internasional Tbk

    d/h Inter-Pacific Bank Tbk

    BBKP

    Bank Bukopin Tbk

    BNBA

    Bank Bumi Arta Tbk

    BACA

    Bank Capital Indonesia Tbk

    d/h Bank Credit Lyonnais Indo., IPO per 4 Okt. 2007

    BBCA

    Bank Central Asia Tbk

    BNGA

    Bank CIMB Niaga Tbk

    d/h Bank Niaga Tbk

    BDMN

    Bank Danamon Tbk

    BAEK

    Bank Ekonomi Raharja Tbk.

    SDRA

    Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk

    BABP

    Bank ICB Bumiputera Tbk

    d/h Bank Bumiputera Indonesia Tbk

    BNII

    Bank International Indonesia Tbk

    BKSW

    Bank Kesawan Tbk

    BMRI

    Bank Mandiri (Persero) Tbk

    MAYA

    Bank Mayapada Tbk

    MEGA

    Bank Mega Tbk

    BCIC

    Bank Mutiara Tbk

    d/h Bank Century Tbk, Bank CIC International Tbk

    BBNI

    Bank Negara Indonesia Tbk

    BBNP

    Bank Nusantara Parahyangan Tbk

    NISP

    Bank OCBC NISP Tbk

    d/h Bank NISP Tbk

    PNBN

    Bank Pan Indonesia Tbk

    BNLI

    Bank Permata Tbk

    d/h Bank Bali Tbk

    BEKS

    Bank Pundi Indonesia Tbk

    d/h Bank Eksekutif International Tbk

    BBRI

    Bank Rakyat Indonesia Tbk

    BSIM

    Bank Sinarmas Tbk, PT

    BSWD

    Bank Swadesi Tbk

    BBTN

    Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk

    BTPN

    Bank Tabungan Pensiunan N. Tbk

    BVIC

    Bank Victoria Int l. Tbk

    MCOR

    Bank Windu Kentjana Int l Tbk

    d/h Bank Multicor Tbk, IPO per 3 Juli 2007

    BJBR

    BPD Jawa Barat dan Banten Tbk

    Beberapa catatan tentang bank publik yang tidak bisa menjadi objek penelitian:

    1. Karena melakukan go private, menyusul terjadinya pergantian kepemilikan usaha.
      1. Bank Arta Niaga Kencana Tbk (ANKB).

    Sebanyak 83% saham Arta Niaga diakuisisi oleh Bank Commonwealth guna memperkuat posisi pasar di wilayah Jawa Timur. Per 31 Agustus 2007, saham Arta Niaga dihapus dari Bursa Efek Indonesia.

    Bank Commonwealth telah hadir di Indonesia sejak tahun 1990 dengan izin usaha sebagai Kantor Perwakilan dari Commonwealth Bank of Australia (CBA). Di tahun 1997, Bank Commonwealth membuat bank patungan dengan BII dengan nama BII Commonwealth. Nama bank patungan berubah menjadi Bank Commonwealth pada tahun 2000 seiring semakin besarnya porsi kepemilikan CBA di bank patungan tersebut.

    1. Bank UOB Buana Tbk (BBIA).

    Bank UOB Buana Tbk menjadi go private setelah Overseas Bank Limited (UOB) melalui UOBII (UOB Internasional Investment Private Ltd.) menjadi pemegang saham utama. Melalui penawaran tender, UOBII meningkatkan kepemilikan sahamnya menjadi sebesar 98,997%. Per 20 November 2008, saham UOB Buana dihapus dari Bursa Efek Indonesia.

    Bank UOB Buana berdiri pada tahun 1955 dengan nama Bank Buana Indonesia dan menjadi bank publik di tahun 2000. Anak perusahaan Bank Dunia, IFC, merupakan pemegang saham asing pertama setelah rights issue kedua di tahun 2003. UOBII menjadi pemegang saham terbesar kedua setelah Dasa Karsa di tahun 2004.

    Di tahun 2005, IFC melepaskan seluruh kepemilikan sahamnya, sementara di sisi lain, UOBII meningkatkan kepemilikan sahamnya menjadi 61,11%. Di tahun 2007, Bank Buana Indonesia Tbk berganti nama menjadi Bank UOB Buana Tbk. Setelah go private di tahun 2008, status Tbk efektif dihilangkan pada tahun 2009. Kebijakan single presence policy dari Bank Indonesia membuat UOB meleburkan usaha banknya yang lain, yakni Bank UOB Indonesia, ke dalam Bank UOB Buana di tahun 2010.

    1. Karena ditutup atau sejenisnya oleh pemerintah atas nama otoritas moneter atau otoritas fiskal.
    Tabel – Duapuluh tiga bank publik (dan 7 bank non-publik) yang tidak bisa menjadi objek penelitian karena ditutup dan/atau digabung ke bank lain.
    No. Kode Nama Bank Tanggal Efektif Ket. Sumber BEJ-1 b) Sumber BEJ-2 c)
    1. BDNI Bank Dagang Nas. Ind. 12.03.1999 1) p1 [historical/PENG-074_BEJ-2-4_c_0399.pdf] url 01.03.1999
    2. MDBN Bank Modern Tbk 12.03.1999 1) p2 [historical/PENG–074_BEJ-2-4_d_0399.pdf] url
    3. BNSY Bank Surya 12.03.1999 1) p1 [historical/PENG-074_BEJ-2-4_0399.pdf] url 01.03.1999
    4. BNUM Bank Umum Nasional 12.03.1999 1) p1 [historical/PENG-074_BEJ-2-4_b_0399.pdf] url 01.03.1999
    5. ARYA Bank Arya Panduarta 01.04.1999 1) p1 [historical/PENG-092_BEJ-2-4_e_0499.pdf] url 15.03.1999
    6. BARI Bank Bahari Tbk 01.04.1999 1) p1 [historical/PENG-092_BEJ-2-4_f_0499.pdf] url 15.03.1999
    7. BIRA Bank Indonesia Raya Tbk 01.04.1999 1) p1 [historical/PENG-092_BEJ-2-4_b_0499.pdf] url
    8. BNBM Bank Mashil Tbk 01.04.1999 1) p1 [historical/PENG-092_BEJ-2-4_d_0499.pdf] url 15.03.1999
    9. BNPS Bank Papan Sejahtera 01.04.1999 1) p1 [historical/PENG-092_BEJ-2-4_a_0499.pdf] url 15.03.1999
    10. BUSV Bank Umum Servitia 01.04.1999 1) p1 [historical/PENG-092_BEJ-2-4_c_0499.pdf] url 15.03.1999
    11. FCOR Ficorinvest Bank 01.04.1999 1) p2 [historical/PENG-092_BEJ_2-4_g_0499.pdf] url 01.09.1998
    12. IDVS Bank Indovest Tbk 26.04.1999 BBKU p2 [historical/PENG-241_BEJ-CAT_0799.pdf] url 26.04.1999
    13. PDFC Bank PDFCI 27.06.2000 d) p3 [historical/PENG-0003_BEJ-CAT_012000.PDF] url 04.01.2000
    14. BNTA Bank Tiara Asia 27.06.2000 d) p1 [historical/PENG-1075_BEJ-PEM_KI_07-2000.PDF] url 06.07.2000
    15. BDTA Bank Palapa Tbk 27.06.2000 d) e) p1 [historical/PENG-1039_BEJ-PEM_06-2000.PDF] url 06.07.2000
    16. TMBN Bank Tamara Tbk 27.06.2000 d) p3 [historical/PENG-01075_BEJ-PEM_KI_07-2000.PDF] url 06.07.2000
    17. RAMA Bank Rama Tbk 27.06.2000 d) p3 [historical/PENG-01039_BEJ-PEM_06-2000.PDF] url 06.07.2000
    18. Bank Nusa Nasional 27.06.2000 d)
    19. Bank Risjad Salim Int’l 27.06.2000 d)
    20. Bank Pos Nusantara 27.06.2000 d)
    21. Bank Jaya International 27.06.2000 d)
    22. UNBN United City Bank Tbk 29.10.2001 1) a) p3 [historical/PENG-532_BEJ-PEM_KI_01-2002.PDF] url
    23. BUNI Bank Universal Tbk 01.10.2002 e) p1 [historical/PENG-506_BEJ-EEM_09-2002.PDF] url 01.10.2002
    24. Bank Artamedia 01.10.2002 e)
    25. Bank Prima Express 01.10.2002 e)
    26. Bank Patriot 01.10.2002 e)
    27. BDPC Bank Danpac Tbk 15.12.2004 g) p1 [PENG-000647_BEJ-PSR_P_12-2004.PDF] url
    28. BNPK Bank Pikko Tbk 15.12.2004 g) p1 [PENG-00647_BEJ-PSJ_P_12-2004.PDF] url 15.12.2004
    29. BGIN Bank Global Intl Tbk 18.01.2005 i) p1 [PENG-001_BEJ-PSJ_DEL_01-2005.PDF] url
    30. LPBN Bank Lippo Tbk 01.11.2008 h) p2 [PENG-001_BEJ-PEM_DEL_03-2000.pdf] url
    Catatan:
    1)     Ditutup.a)     Dikuasai BPPN, Oktober 2000, karena memberikan kredit berlebihan ke perusahaan terkait RGM, APRIL, dan lainnya.b)     http://202.155.2.90/issuers.asp?cmd=delistedc)     http://202.155.2.84/listed/delist.asp?x=0&o=Delisting_Date&code=d)     Menjadi bagian Bank Danamon Tbk. e)     d/h Bank Duta Tbk.f)      Menjadi bagian Bank Permata Tbk.g)     Menjadi bagian Bank Century Tbk.h)     Menjadi bagian Bank CIMB Niaga Tbk.i)      Dicabut izin usahanya.

    Operasionalisasi Variabel

    Beberapa indikator rentabilitas yang mungkin:

    1. Net Interest Margin (NIM).
    2. Net Profit Margin (NPM).
    3. Operating Cost Ratio (OCR).
    4. Return on Asset (ROA).
    5. Return on Equity (ROE).

    Beberapa indikator likuiditas yang mungkin:

    1. Cash Ratio (CR).
    2. Loan to Asset Ratio (LAR).
    3. Loan to Deposit Ratio (LDR).
    4. Rasio kewajiban bersih call money (RCM).
    5. Reserved Requirement (RR).

    Beberapa indikator solvabilitas yang mungkin:

    1. Capital Adequacy Ratio (CAR).
    2. Debt to Equity Ratio (DER).
    3. Long-term Debt to Asset Ratio (LDAR).

    Beberapa indikator harga saham yang mungkin:

    1. Book/market equity (≈ book/price).
    2. DCF (Discounted Cash Flow).
    3. DDM (Dividend Discount Model).
    4. Deviden per saham (dividends per share).
    5. Dividend/price.
    6. Earnings to price ratio.
    7. EPS (earnings per share).
    8. Harga saham nominal.
    9. Kapitalisasi pasar.
    10. Nilai buku (book value).
    11. PBV (price/book value).
    12. PCF (price/cash flow).
    13. PDR (price/dividends).
    14. PER (price to earning ratio).

    Beberapa indikator kesulitan finansil yang mungkin:

    1. capital turnover,
    2. cash position,
    3. financial leverage,
    4. inventory turnover,
    5. rasio aktiva lancar terhadap kewajiban lancar (current assets / current liabilities).
    6. rasio arus kas terhadap total utang (cash flow / total debt).
    7. rasio arus kas terhadap utang jangka panjang (cash flow / long-term debt).
    8. rasio EBIT terhadap total aset (EBIT / total assets).*
    9. rasio kas terhadap kewajiban lancar (cash / current liabilities).
    10. rasio keuntungan bersih terhadap total aktiva (net income / total assets).
    11. rasio laba ditahan terhadap total aset (retained earnings / total assets).*
    12. rasio modal kerja terhadap penjualan (working capital / sales).
    13. rasio modal kerja terhadap total aset (working capital / total assets).*
    14. rasio nilai pasar dari saham terhadap nilai buku dari utang (market value of stock / book value of debt).*
    15. rasio penjualan terhadap total aset (sales / total assets).*
    16. rasio total utang terhadap total aset (total debt / total assets).
    17. receivables turnover.
    18. return on investment,
    19. short-term liquidity,

    Asumsi Klasik dalam Penaksiran (Estimasi) Model (Persamaan Regresi)

    Dalam menaksir model di atas, beberapa asumsi utama dalam menerapkan aplikasi metode OLS (ordinary least square), antara lain (Ghozali, 2001:43):

    1. Model bersifat linier, yakni dalam parameter.
    2. Variabel X diasumsikan bersifat non-stokastik, yakni dianggap tetap dalam sampel yang berulang.
    3. Nilai rata-rata kesalahan adalah nol, atau E (ui/Xi) = 0.
    4. Homoskedastisitas, yakni varians kesalahan sama untuk setiap periode (homo = sama, skedastisitas = sebaran), atau Var (ui/Xi) = s².
    5. Tidak ada otokorelasi di antara nilai kesalahan, yakni antara ui dan uj tidak ada korelasinya, atau Cov (ui, uj) = 0.
    6. Antara u dan X bersifat saling bebas, atau Cov (ui, Xi) = 0.
    7. Tidak ada multikolinieritas yang sempurna antar variabel bebas.
    8. Jumlah observasi (n atau N) harus lebih besar dari jumlah parameter yang diestimasi (jumlah variabel bebas).
    9. Adanya variabilitas dalam nilai X, yakni nilai X harus berbeda (tidak boleh sama semua).
    10. Model regresi telah dispesifikasi secara benar, yakni tidak ada bias (kesalahan) dalam spesifikasi model yang digunakan dalam melakukan analisa empiris.

    Teknik Analisis Data Panel

    Proses pengolahan dan penghitungan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan program eviews. Objek penelitian yang bersifat time-series dan cross-section sekaligus, membuatnya disebut data panel. Ciri utama data panel adalah jumlah variabel yang lebih banyak daripada jumlah waktu observasi.

    Setidaknya ada 3 pendekatan yang bisa dilakukan dalam mengestimasi model data panel, yakni:

    1. pooled least square (PLS), dimana konstanta mengasumsikan kesamaan error di semua variabel individu (cross-section) dan periode (time-series).
    2. model efek tetap (FEM), dimana konstanta berisi error yang sama di semua variabel individu (cross-section) atau periode (time-series).
    3. model efek acak (REM), dimana variabel error berbeda di semua variabel individu (cross-section) dan/atau periode (time-series).
    Tabel – Perbandingan koefisien variabel menurut model uji dan analisis covarians
    Metode Uji Cov[miXit]=0 Cov[miXit]¹0
    Pooled OLS Konsisten Tidak Konsisten
    Random Effects Konsisten, efisien Tidak Konsisten
    Fixed Effects Konsisten Konsisten
    Sumber: Sri Yani Kusumastuti, Model Regresi Data Panel.

    Teknik Pemilihan Model Terbaik antara PLS dan FEM

    Penilaian model yang terbaik antara PLS dan FEM dibuat berdasarkan hasil uji Chow. Uji Chow mengasumsikan adanya heterogenitas karakteristik di setiap bank, yakni dengan hipotesa nol bahwa tidak ada heterogenitas individu dan hipotesa alternatifnya adalah bahwa terdapat heterogenitas pada cross section.

    H0   :  α1 = α2 = α3 = …. = αi, Common Effect

    Ha   :  α1 ≠ α2 ≠ α3 ≠ …. ≠ αi, Individual Effect

    Secara matematis, uji Chow bisa dilakukan dengan membandingkan antara nilai F-hitung dengan F-tabel. Bila F-hitung lebih kecil dari F-tabel, maka PLS merupakan model yang lebih baik dari model FEM. Sebaliknya, bila F-hitung lebih besar dari F-tabel, maka FEM merupakan model yang lebih baik dari model PLS.

    Ho = Model PLS lebih baik.

    Ha = Model FEM lebih baik.

    Ketika peluang F tidak signifikan, berarti cov(x,u)=0. Implikasinya adalah data panel akan menjadi lebih baik diestimasi dengan menggunakan model REM. Tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai estimator yang tidak bias, konsisten, dan efisien.

    Teknik Pemilihan Model Terbaik antara FEM dan REM

    Pemilihan model terbaik antara FEM dan REM dapat dilakukan dengan membandingkan jumlah variabel (n) dengan banyaknya observasi (t). Cara kedua adalah dengan membandingkan korelasi antara nilai error dengan nilai variabel yang diobservasi cov(xit, ui).

    Ho: cov(xit, ui) = 0

    Model REM lebih baik;

    Pada estimasi model REM, koefisien setiap variabel diasumsikan bersifat acak dari populasi yang lebih besar dengan nilai rata-rata konstan. Estimasi dengan menggunakan model REM akan menghasilkan estimator yang efisien, konsisten, dan tidak bias; Estimator REM bersifat konsisten di hipotesis Ho dan tidak konsisten di hipotesis Ha.

    Ha:  cov(xit, ui) ≠ 0

    Model FEM lebih baik.

    FEM umumnya digunakan ketika ada korelasi antara koefisien estimasi setiap variabel (individual intercept) dan variabel bebasnya. Estimator hasil FEM bersifat konsisten kedua hipotesis (Ho dan Ha). Hasil FEM bisa membuat nilai estimator unbiased, consistent, tetapi relatif tidak efisien bila dibandingkan dengan hasil estimasi dengan REM.

    Cara ketiga adalah dengan menggunakan statistik hasil uji Hausman. Nilai χ² (Chi-Square) terdistribusi secara asimptot. Inferensinya adalah bila peluang χ² lebih dari 0,05, maka model REM adalah lebih baik dari model FEM. Sebaliknya, bila peluang χ² (Chi-Square) kurang dari (α) 0,05, maka model FEM adalah lebih baik dari model REM.

    Tabel – Beberapa kondisi dalam penetapan pemilihan model FEM atau REM
    Kondisi 1 Kondisi 2 Pemilihan model
    t > n FEM
    t < n tidak-acak, non-stokastik FEM
    acak, stokastik REM
    ei ≈ Xi (berkorelasi) FEM
    ei ≠ Xi (tidak berkorelasi) REM
    t < n asumsi REM terpenuhi estimator REM lebih baik dari FEM

    Pengujian Pelanggaran Asumsi Klasik dan Lainnya

    1. Uji Normalitas.
    2. Adanya heteroscedastisitas.
      1. Dengan mengaktifkan pilihan cross-section weights, EViews mengestimasi keberadaan cross-section heteroscedasticity dengan spesifikasi GLS.

    GLS (Generalized Least Squares) digunakan untuk berbagai pola korelasi diantara residu. Empat struktur varians dasar yang bisa diestimasi dengan metode GLS adalah:

    1)        cross-section specific heteroscedasticity,

    2)        period specific heteroscedasticity,

    3)        contemporaneous covariances, dan

    4)        between period covariances.

    1. Dengan mengaktifkan pilihan cross-section SUR, EViews mengestimasi dengan spesifikasi GLS sekaligus melakukan koreksi atas:

    1)      cross-section heteroscedasticity,

    2)      korelasi kontemporer.

    1. Dengan mengaktifkan pilihan period weights, EViews mengestimasi keberadaan period heteroscedasticity dengan spesifikasi GLS.
    1. Dengan mengaktifkan pilihan period SUR, EViews mengestimasi dengan spesifikasi GLS sekaligus melakukan koreksi atas:

    1)      period heteroscedasticity,

    2)      korelasi umum dari objek yang diobservasi pada data cross-section.

    1. Adanya otokorelasi.
      1. Keberadaan otokorelasi bisa diuji dengan metode Autocorrelation LM Test atau Portmanteau Autocorrelation Test.
      2. Korelogram mengilustrasikan otokorelasi dan otokorelasi parsial dari seri pertama di kelompok.
      3. Korelasi silang. Untuk melihat korelasi silang antar variabel, matriks korelasinya perlu dibuatkan.

    Matriks korelasi memperlihat nilai koefisien korelasi antar variabel. Bila nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0,7, maka ada indikasi terjadinya multikolinieritas. Jika multikolinieritasnya menggangu, maka perlu dilakukan kalkulasi ulang terhadap variabel (tinkering). Indikasi multikolinieritas yang mengganggu adalah nilai R² tinggi sedangkan uji t tidak ada satupun variabel bebas yang signifikan atau banyak nilai uji t dari variabel bebas yang tidak signifikan.

    1. Adanya multikolinieritas (atau uji antar-variabel), dengan VIFs sebagai indikator, perimeter.

    VIFs (Variance Inflation Factors) merupakan metode pengukuran derajat kolinieritas antara berbagai regressor dalam satu persamaan. VIFs dihitung dari matriks varians-kovarians dari koefisien, pilihan standard error yang kuat wujud dalam VIFs.

    1. Uji spesifikasi model, ditandai dengan terciptanya blue, best linear unbiased estimator. Tiga metode yang biasa dipakai adalah:
      1. Nilai F-statistik.
      2. Uji (heteroscedastisitas) White dimana Ho menggarisbawahi pengujian asumsi bahwa (standard) error bersifat homoscedastis dan tidak tergantung pada regressors. Indikator (statistik) uji White adalah jumlah obervasi dikali R².
      3. Nilai LM-statistik, merupakan jumlah akar regresi tambahan dibagi 24. Nilai ini didistribusikan sebagai distribusi chi-squared dengan df sama dengan jumlah koefisien regresi (slope coefficients) tanpa konstanta dalam regresi tambahan.

    Nilai statistik yang tidak signifikan mengimplikasikan tidak adanya pelanggaran pada 3 kondisi tersebut.

    Pengujian Spesifik pada Metode Analisis Data Panel

    1. Uji unit root.

    Uji akar unit dilakukan untuk mengetahui apakah data stasioner atau tidak (stasioner = memiliki rata-rata dan varians yang konstan). Pengujian ini dilakukan per variabel. Analisis data time series memerlukan data yang stasioner agar terjadi kointegrasi.

    1. Uji kointegrasi.

    Uji kointegrasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan jangka panjang atau tidak antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas.

      1. Jika ada hubungan jangka panjang, maka harus digunakan model dinamis.
      2. Jika tidak ada hubungan jangka panjang, maka digunakan model OLS, GLS tepatnya, yakni model panel non-dinamis.

    Tahapan Estimasi Persamaan Regresi dengan EViews versi 7.1.

    A.  Metode Pooled Least Square

    1. Data panel biasanya dicirikan dengan jumlah kolom (atau variabel) yang lebih banyak dari jumlah baris (atau lama observasi). Akibatnya, mekanisme copy-paste pada Microsoft Excel 2007 atau 2010 tidak bisa dilakukan pada EViews. Atau karena sistem operasi yang dipakai penulis adalah (Windows XP) 32-bit? Oleh karena itu, data dari Microsoft Excel 2007 harus diekspor kedalam bentuk teks atau csv. Setelah data tersedia dalam bentuk teks atau csv, EViews bisa mengimpor data tersebut ke dalam sistem mereka.

    1. Organisasi data panel di Excel

    1)        Keterbatasan utama Excel 97-2003 adalah matriks data 256 x 65.536 (kolom x baris).

    Jumlah kolom yang tersedia adalah 256 (kolom IV), dan jumlah baris adalah 65.536.

    Angka 256 merupakan hasil dari 2 pangkat 8 (ditulis 2^8) atau 4^4 atau 16^2.

    Angka 65.536 merupakan hasil 2^10 atau 4^5 atau 32^2.

    2)        Matriks data pada Excel 2007 dan 2010 adalah 16.384 x 1.048.576 (kolom x baris).

    Jumlah kolom yang tersedia adalah 16.384 (kolom XFD), dan jumlah baris adalah 1.048.576.

    Angka 16.384 merupakan hasil dari 2^14 atau 4^7.

    Angka 1.048.576 merupakan hasil dari 2^20 atau 4^10 atau 16^5 atau 32^4.

    3)        Matriks data pada OpenOffice 3.1.0 adalah 1.024 x 65.536 (kolom x baris).

    Jumlah kolom yang tersedia adalah 1.024 (kolom AMJ), dan jumlah baris adalah 65.536.

    Angka 1.024 merupakan hasil 2^10 atau 4^5 atau 32^2.

    Angka 65.536 merupakan hasil 2^16 atau 4^8 atau 16^4.

    1. Data ditumpuk dan diurut menurut nama bank dan waktu (data stacked by cross-section).

    Kolom 1 adalah nama bank. EViews menyebutnya sebagai cross identifiers, dengan pengkodean “_bank01”. Tigapuluh satu dari 121 bank adalah bank publik yang harga sahamnya bisa terpantau secara periodik, dari waktu ke waktu.

    Kolom 2 adalah bulan laporan keuangan, dibuat dengan format YYYY-MM. Tujuhbelas bulan laporan keuangan bank tersedia selama periode observasi, yakni sejak Januari 2010 sampai Mei 2011.

    Kolom 3 dst adalah variabel yang diobservasi (misalnya X1 sampai X44).

    Duapuluh dua variabel bebas yang potensil diatas bisa divariasikan menjadi 44 variabel.

    1. Data ditumpuk dan diurut menurut waktu (data stacked by time-series).

    Kolom 1 adalah bulan laporan keuangan, dibuat dengan format YYYY-MM.

    Kolom 2 adalah nama bank, dibuat dengan kode “_bank01”.

    Kolom 3 dst adalah variabel yang diobservasi (misalnya X1 sampai X44).

    1. Data tidak ditumpuk tapi diurut menurut waktu (unstacked data).

    Kolom 1 adalah bulan laporan keuangan, dibuat dengan format YYYY-MM.

    Kolom 2 dst adalah variabel yang diobservasi (misalnya X1 sampai X44) dimana nama variabel diketik-sambung dengan kode _bank01 sehingga tertulis menjadi X1_bank01 sampai X44_bank31.

    Bila menggunakan cara data yang tidak ditumpuk, kolom yang tercipta adalah sebanyak 1.364, sebagai hasil kali dari 44 variabel bebas dan 31 bank publik.

    2. Setelah data berhasil diimpor kedalam EViews, blok semua variabel dengan menekan tombol Ctrl-A. kemudian pilih tab Object dan New Object.

    3. Pilih Pool dan tombol OK.

    4. EViews kemudian akan meminta masukan kode nama bank, disebut Cross Section Identifiers, yakni _bank01 sampai _bank31.

    5. Memulai langkah estimasi dengan memilih tab Proc dan Estimate.

    6. Pada menu Pool Estimation, tab Specification,

    1. Pada kolom isian di bawah frase “Dependent variable”, ketik inisial variabel dependent seperti yang telah dibuat di Excel diiringi dengan tanda “?”. Harga saham diindikasikan dengan variabel p.
    2. Dalam kotak “Regressors and AR () terms”, pada kolom isian di bawah frase “Common coefficients:”, ketik inisial variabel bebasnya, dimulai dari konstanta c yang tanpa tanda ?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian variabel bebas pertama x1?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian x2?, dan seterusnya sampai x44?.
    3. Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Fixed dan Random Effects”, pada kolom “Cross-section” dipilih “None”, pada kolom “Period” dipilih “None”.
    4. Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Weights”, pada kolom “Weights” dipilih “No weights”.
    5. Dalam kotak “Estimation settings”, pastikan metode yang dipakai adalah “LS – Least Squares (and AR)”, dan samplenya ada pada kurun waktu Januari 2010 sampai Mei 2011 (tertulis “2010m01 2011m05”).

    7. Pada menu Pool Estimation, tab Options,

    1. Pastikan “Coef covariance method” yang dipakai adalah “Ordinary”, dan
    2. “Coefficient name” yang tertulis adalah “C”.

    8. Hasil estimasi PLS berupa tabel berikut.

    Dependent Variable: P?

    Method: Pooled Least Squares

    Date: 07/16/11   Time: 04:56

    Sample: 2010M01 2011M05

    Included observations: 17

    banyak bulan obsevasi

    Cross-sections included: 30

    banyak bank minus 1

    Total pool (balanced) observations: 510

    = 17 x 30

    Variable

    Coefficient

    Std. Error

    t-Statistic

    Prob.  

    C

    X1?

    :

    :

    X44?

    R-squared

    Mean dependent var

    Adjusted R-squared

    S.D. dependent var

    S.E. of regression

    Akaike info criterion

    Sum squared resid

    Schwarz criterion

    Log likelihood

    Hannan-Quinn criter.

    F-statistic

    Durbin-Watson stat

    Prob(F-statistic)

    B.  Metode Fixed Effect Model

    Sebagai langkah kedua dalam estimasi persamaan regresi dengan metode Fixed Effects Model, tahapan yang harus diulang adalah dimulai dari tahapan nomor 5 pada Metode Pooled Least Square.

    5. Memulai langkah estimasi dengan memilih tab Proc dan Estimate.

    6. Pada menu Pool Estimation, tab Specification,

    1. Pada kolom isian di bawah frase “Dependent variable”, ketik inisial variabel dependent seperti yang telah dibuat di Excel diiringi dengan tanda “?”. Harga saham diindikasikan dengan variabel p.
    2. Dalam kotak “Regressors and AR () terms”, pada kolom isian di bawah frase “Common coefficients:”, ketik inisial variabel bebasnya, dimulai dari konstanta c yang tanpa tanda ?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian variabel bebas pertama x1?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian x2?, dan seterusnya sampai x44?.
    3. Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Fixed dan Random Effects”, pada kolom “Cross-section” dipilih “Fixed”, pada kolom “Period” dipilih “Fixed”.
    4. Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Weights”, pada kolom “Weights” dipilih “No weights”.
    5. Dalam kotak “Estimation settings”, pastikan metode yang dipakai adalah “LS – Least Squares (and AR)”, dan samplenya ada pada kurun waktu Januari 2010 sampai Mei 2011 (tertulis “2010m01 2011m05”).

    7. Hasil estimasi metode FEM berupa tabel berikut.

    Dependent Variable: P?

    Method: Pooled Least Squares

    Date: 07/16/11   Time: 04:56

    Sample: 2010M01 2011M05

    Included observations: 17

    banyak bulan obsevasi

    Cross-sections included: 30

    banyak bank minus 1

    Total pool (balanced) observations: 510

    = 17 x 30

    Variable

    Coefficient

    Std. Error

    t-Statistic

    Prob.  

    C

    X1?

    :

    :

    X44?

    Fixed Effects (Cross)

     

     

     

     

    _BANK01–C

    :

    :

    _BANK31–C

    Fixed Effects (Period)

     

    2010M01–C

    :

    :

    2011M05–C

    Effects Specification

    Cross-section fixed (dummy variables)

     

    Period fixed (dummy variables)

    R-squared

    Mean dependent var

    Adjusted R-squared

    S.D. dependent var

    S.E. of regression

    Akaike info criterion

    Sum squared resid

    Schwarz criterion

    Log likelihood

    Hannan-Quinn criter.

    F-statistic

    Durbin-Watson stat

    Prob(F-statistic)

    C.  Metode Random Effect Model

    Sebagai langkah ketiga dalam estimasi persamaan regresi dengan metode Random Effects Model, tahapan yang harus diulang adalah dimulai dari tahapan nomor 5 pada Metode Pooled Least Square.

    5. Memulai langkah estimasi dengan memilih tab Proc dan Estimate.

    6. Pada menu Pool Estimation, tab Specification,

    1. Pada kolom isian di bawah frase “Dependent variable”, ketik inisial variabel dependent seperti yang telah dibuat di Excel diiringi dengan tanda “?”. Harga saham diindikasikan dengan variabel p.
    2. Dalam kotak “Regressors and AR () terms”, pada kolom isian di bawah frase “Common coefficients:”, ketik inisial variabel bebasnya, dimulai dari konstanta c yang tanpa tanda ?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian variabel bebas pertama x1?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian x2?, dan seterusnya sampai x44?.
    3. Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Fixed dan Random Effects”, pada kolom “Cross-section” dipilih “Fixed”, pada kolom “Period” dipilih “Random”.
    4. Dalam kotak “Estimation settings”, pastikan metode yang dipakai adalah “LS – Least Squares (and AR)”, dan samplenya ada pada kurun waktu Januari 2010 sampai Mei 2011 (tertulis “2010m01 2011m05”).

    7. Hasil estimasi metode REM berupa tabel berikut.

    Dependent Variable: P?

    Method: Pooled EGLS (Period random effects)

    Date: 07/16/11   Time: 04:56

    Sample: 2010M01 2011M05

    Included observations: 17

    banyak bulan obsevasi

    Cross-sections included: 30

    banyak bank minus 1

    Total pool (balanced) observations: 510

    = 17 x 30

    Swamy and Arora estimator of component variances

    Variable

    Coefficient

    Std. Error

    t-Statistic

    Prob.  

    C

    X1?

    :

    :

    X44?

    Fixed Effects (Cross)

     

     

     

     

    _BANK01–C

    :

    :

    _BANK31–C

    Random Effects (Period)

     

    2010M01–C

    :

    :

    2011M05–C

    Effects Specification

     

    S.D.

    Rho

    Cross-section fixed (dummy variables)
    Period random
    Idiosyncratic random

    Weighted Statistics

    R-squared

    Mean dependent var

    Adjusted R-squared

    S.D. dependent var

    S.E. of regression

    Sum squared resid

    F-statistic

    Durbin-Watson stat

    Prob(F-statistic)

     

    Unweighted Statistics

    R-squared

     

    Mean dependent var

     

    Sum squared resid

     

    Durbin-Watson stat

     

    Analisis Hasil Regresi

    Interpretasi Hasil Estimasi – Pooled Least Square

    Empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi –yakni … variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, dan … variabel kesulitan finansil– secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio …. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fstat (…) yang lebih besar dari nilai Ftabel (df=n-k,k) (5%=…) (); atau nilai signifikansi Fstat (0,000) yang lebih kecil dari nilai kepercayaan (α=0,05).

    Adjusted R2 yang bernilai … diartikan bahwa keempatpuluh-empat variabel bebas tersebut hanya mampu menjelaskan prilaku harga saham dari spesifikasi atau rasio … sebesar …%. Dengan kata lain, model pada persamaan bukanlah model yang bersifat goodness of fit. Indikasi awal terlihat pada grafik setiap variabel yang tidak berjalan searah, khususnya sesuai pergerakan waktu. Selain itu, periode observasi yang jelas bersifat siklikal, yakni berdasarkan periode waktu bulanan.

    Dari empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi, variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, … variabel kesulitan finansil, dan konstanta masing-masingnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio … pada α=5%.

    Sebanyak … variabel yang dimaksud adalah …. Per definitif, variabel yang dimaksud adalah ….

    Tabel – Bentuk hubungan dan pengali signifikan terhadap harga saham pada metode PLS

    Variabel

    Koefisien atau pengali terhadap harga saham

    Hubungan

    x1…

    – / +

    – / +

    x44…

    – / +

    Interpretasi Hasil Estimasi – Fixed Effect Model (FEM)

    Empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi –yakni … variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, dan … variabel kesulitan finansil– secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio …. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fstat (…) yang lebih besar dari nilai Ftabel (df=n-k,k) (5%=…) (); atau nilai signifikansi Fstat (0,000) yang lebih kecil dari nilai kepercayaan (α=0,05).

    Adjusted R2 yang bernilai … diartikan bahwa keempatpuluh-empat variabel bebas tersebut mampu menjelaskan prilaku harga saham dari spesifikasi atau rasio … sebesar …%. Dengan kata lain, model pada persamaan adalah model yang bersifat goodness of fit.

    Dari empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi, variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, … variabel kesulitan finansil, dan konstanta masing-masingnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio … pada α=5%.

    Sebanyak … variabel yang dimaksud adalah …. Per definitif, variabel yang dimaksud adalah ….

    Tabel – Bentuk hubungan dan pengali signifikan terhadap harga saham pada metode FEM

    Variabel

    Koefisien atau pengali terhadap harga saham

    Hubungan

    x1…

    – / +

    – / +

    x44…

    – / +

    Interpretasi Hasil Estimasi – Random Effect Model (REM)

    Empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi –yakni … variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, dan … variabel kesulitan finansil– secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio …. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fstat (…) yang lebih besar dari nilai Ftabel (df=n-k,k) (5%=…) (); atau nilai signifikansi Fstat (0,000) yang lebih kecil dari nilai kepercayaan (α=0,05).

    Adjusted R2 yang bernilai … diartikan bahwa keempatpuluh-empat variabel bebas tersebut mampu menjelaskan prilaku harga saham dari spesifikasi atau rasio … sebesar …%. Dengan kata lain, model pada persamaan adalah model yang bersifat goodness of fit.

    Dari empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi, variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, … variabel kesulitan finansil, dan konstanta masing-masingnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio … pada α=5%.

    Sebanyak … variabel yang dimaksud adalah …. Per definitif, variabel yang dimaksud adalah ….

    Tabel – Bentuk hubungan dan pengali signifikan terhadap harga saham pada metode REM

    Variabel

    Koefisien atau pengali terhadap harga saham

    Hubungan

    x1…

    – / +

    – / +

    x44…

    – / +

    Pada α=10%, … variabel lainnya yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio … adalah …. Per definitif, … variabel yang dimaksud adalah ….

    Pemilihan Model PLS dan FEM

    Pemilihan model yang lebih baik antara PLS dan FEM dapat ditentukan dengan uji Chow. Bila F-hitung lebih besar dari F-tabel, maka Ho (yang menyatakan model PLS adalah lebih baik dari FEM) ditolak dan Ha (yang menyatakan model FEM adalah lebih baik dari PLS)  diterima.

    Mengacu pada nilai F-tabel (0,05: …) = …, yang lebih kecil dari F-hitung, maka Ho ditolak, dan Ha diterima. Hal ini berarti model FEM adalah lebih baik dari PLS.

    Pemilihan Model FEM dan REM – Uji Hausman

    Pemilihan model yang lebih baik antara FEM dan REM dapat ditentukan dengan uji Hausman. Inferensinya adalah bila peluang χ² (Chi-Square) lebih dari 0,05, maka model REM adalah lebih baik dari model FEM. Sebaliknya, bila peluang χ² (Chi-Square) kurang dari (α) 0,05, maka model FEM adalah lebih baik dari model REM.

    Ho = Model REM lebih baik.

    Ha = Model FEM lebih baik.

    Memulai langkah Uji Hausman dilakukan dengan memilih tab View, Fixed/Random Effect Testing, dan Correlated Random Effects – Hausman Test.

    Hasil Uji Hausman berupa tabel berikut.

    Correlated Random Effects – Hausman Test Period random effects test equation:
    Pool: POOL01 Dependent Variable: P?
    Test period random effects Method: Panel Least Squares
    Test Summary Chi-Sq. Stat.

    Chi-Sq. d.f.

    Prob. 

    Sample: 2010M01 2011M05
    Period random

    44

    Included observations: 17
    Cross-sections included: 30
    Period random effects test comparisons: Total pool (balanced) observations: 510

    Variable

    Fixed  

    Random 

    Var(Diff.) 

    Prob. 

    Variable

    Coefficient

    Std. Error

    t-Statistic

    Prob.  

    C

    X1?

    X1?

    :

    :

    :

    :

    X44?

    X44?

    Effects Specification

    Cross-section fixed (dummy variables)
    Period fixed (dummy variables)
    R-squared

        Mean dependent var

    Adjusted R-squared

        S.D. dependent var

    S.E. of regression

        Akaike info criterion

    Sum squared resid

        Schwarz criterion

    Log likelihood

        Hannan-Quinn criter.

    F-statistic

        Durbin-Watson stat

    Prob(F-statistic)

    Mengacu pada nilai peluang χ² (Chi-Square), yang lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak, dan Ha diterima. Hal ini berarti model FEM adalah lebih baik dari REM.

    Kesimpulan

    Berdasarkan uji Hausman, model FEM adalah lebih baik dari model REM. Berdasarkan uji Chow, model FEM juga lebih baik dari model PLS. Demikian pula pada nilai statistik F dan adjusted R2. Pembandingan nilai statistik F dan adjusted R2 pada ketiga model estimasi (PLS, FEM, REM), memperliharkan nilai adjusted R2 tertinggi terjadi pada model FEM.

    Tabel – Pembandingan nilai F dan adjusted R2  pada α=5% pada 3 model estimasi

    Model

    F

    sig

    Adj R2

    GOF

    Efek Variabel, sig Å

    Efek Variabel, sig –

    FEM

    ü

    ü

    REM

    ü

    ü

    PLS

    ü

    x

    Memasukkan hasil estimasti pada model FEM kepada model persamaan yang ingin diestimasi, maka hasil persamaan yang diestimasi dapat dibuat ke dalam persamaan berikut:

    p =…              ….x1          + ….x2       ….              + …x44

    t    …                …               …                …               …

    ρ  …                …               …                …               …

    R²                    =  …

    Adjusted R²    =  …

    F-stat               =  …

    ρ (F-stat)         =  …

    D-W                =  …

    Pada model FEM, hanya … variabel yang signifikan memberikan efek negatif, yakni …. Pada dua model lainnya, jumlah variabel yang signifikan memberikan pengaruh negatif adalah lebih banyak, yakni … pada REM dan … pada PLS.

    Pada tabel hasil regresi dengan menggunakan metode FEM, variabel dan koefisien FE pada cross, nilai … hanya terpaut lebih rendah … dari harga rata-rata saham Bank … setiap akhir bulannya, atau lebih rendah …% dari nilai aktualnya (…).

    Hal ini diartikan, ketika semua variabel bebas bernilai nol, maka harga rata-rata saham tertinggi alami ada pada saham Bank … (_BANK#–C) dengan nilai sebesar … (jumlah antara konstanta dengan koefisien BANK#—C, yakni … dan …).

    Tabel – Hasil regresi dengan menggunakan metode Fixed Effect, variabel dan koefisien FE pada cross

    Variable

    Coefficient

    C + cross

    p_2010001

    p_201105

    p_rerata akhir_bl

    C

     

    _BANKRUJUK–C

    _BANK01–C

    :

    :

    _BANK31–C

    Sebaliknya, ketika semua variabel bebas bernilai nol, maka harga rata-rata saham terendah alami ada pada saham Bank … (_BANK##–C) dengan nilai sebesar … (jumlah antara konstanta dengan koefisien _BANK##—C, yakni … dan …). Nilai … terpaut jauh lebih rendah … dari harga rata-rata saham Bank … setiap akhir bulannya, atau lebih rendah …% dari nilai aktualnya (…).

    Pada tabel hasil regresi dengan menggunakan metode FEM, variabel dan koefisien FE pada period, nilai … terpaut lebih rendah … dari harga rata-rata saham rata-rata pada akhir bulan …, atau lebih rendah …% dari nilai aktualnya (…).

    Hal ini diartikan, ketika semua variabel bebas bernilai nol, maka harga rata-rata saham tertinggi alami terjadi pada bulan … dengan nilai sebesar … (jumlah antara konstanta dengan koefisien 20..M..–C, yakni … dan …).

    Sebaliknya, ketika semua variabel bebas bernilai nol, maka harga rata-rata saham terendah alami terjadi pada akhir bulan … dengan nilai sebesar … (jumlah antara konstanta dengan koefisien 20…M..–C, yakni … dan …). Nilai … terpaut jauh lebih rendah … dari harga rata-rata saham pada akhir bulan …, atau lebih rendah …% dari nilai aktualnya (…).

    Tabel – Hasil regresi dengan menggunakan metode Fixed Effect, variabel dan koefisien FE pada period

    Variabel

    koefisien

    C + period

    p_min

    p_max

    p_rerata

    C

    20…M…–C
    :
    :
    20…M…–C

    References:

    panel data EViews 7 Users Guide II, Quantitative Micro Software, EViews 7 User’s Guide II, Irvine CA, April 2010.

    Yenny Sugiarti dan Suyanto, Pengaruh Informasi Keuangan (Book Value, Earnings Per Share) terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan, Akuntansi dan Teknologi Informasi, Vol.6, No.2, Nov.2007, hal.79-92. The original link. Download the file: 62077992.

    I Gusti Ngurah Agung, Time Series Data Analysis Using EViews, Wiley, Singapore, 2009.

    Nicholas R. Noble, EViews User’s Guide, Quantitative Micro Software, Irvine CA, Feb. 2011.

    Quantitative Micro Software, EViews 7 Command and Programming Reference, Irvine CA, April 2010.

    Quantitative Micro Software, EViews 7 Getting Started, Irvine CA, April 2010.

    Quantitative Micro Software, EViews 7 Object Reference, Irvine CA, April 2010.

    Quantitative Micro Software, EViews 7 User’s Guide I, Irvine CA, April 2010.

    Quantitative Micro Software, EViews 7 User’s Guide II, Irvine CA, April 2010.

    Quantitative Micro Software, EViews 7.1 Supplement, Irvine CA, April 2010.

    Richard Startz, EViews Illustrated for Version 7, ed.2, Quantitative Micro Software, Irvine CA, 2009.

    Roy Batchelor, EViews Tutorial: Cointegration and error correction, City University Business School, London & ESCP, Paris, 2000.

     
  • Virtual Chitchatting 3:41 AM on 2011/02/21 Permalink
    Tags: , , banking profile, , bursa efek jakarta, indonesian stock exchange, indonesian stocks, industrial report, industry analysis, industry profile, industry report, , jakarta stock exchange, , publicly held companies, quantitative analyst   

    Market Research Reports on Banking Industry in Indonesia 

    Banking Industry in Indonesia

    If you would like to have:

    1. the industrial report of banking industry in Indonesia, analysed by their respective performances in liquidity, profitability, rentability, solvability, and
    2. their respective sound and health management of the bank,
    3. their management profile and their respective status/credit report,

    please contact +62-852-1035.6516

    Market Research Reports on Banking Industry in Indonesia

    The publicly held bank companies that we have updated the analyses so far are (and so were the liquidated ones as well):

    1. Bank Agroniaga Tbk, PT                                                                   AGRO
    2. Bank Artha Graha Internasional Tbk, PT                                          INPC
    3. Bank Bukopin Tbk, PT                                                                      BBKP
    4. Bank Bumi Artha Tbk, PT                                                                BNBA
    5. Bank Capital Indonesia Tbk, PT                                                       BACA
    6. Bank Central Asia Tbk, PT                                                               BBCA
    7. Bank CIMB Niaga Tbk, PT                                                              BNGA
    8. Bank Danamon Indonesia Tbk, PT                                                   BDMN
    9. Bank Ekonomi Raharja Tbk, PT                                                        BAEK
    10. Bank Eksekutif Internasional Tbk, PT                                              BEKS
    11. Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk, PT                                            SDRA
    12. Bank ICB Bumiputera Tbk, PT                                                         BABP
    13. Bank Internasional Indonesia Tbk, PT                                              BNII
    14. Bank Kesawan Tbk, PT                                                                     BKSW
    15. Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT                                                       BMRI
    16. Bank Mayapada Tbk, PT                                                                   MAYA
    17. Bank Mega Tbk, PT                                                                          MEGA
    18. Bank Mutiara Tbk, PT                                                                       BCIC
    19. Bank Negara Indonesia Tbk, PT                                                       BBNI
    20. Bank Nusantara Parahyangan Tbk, PT                                              BBNP
    21. Bank OCBC NISP Tbk, PT                                                              NISP
    22. Bank Pan Indonesia Tbk, PT                                                             PNBN
    23. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk, PT          BJBR
    24. Bank Permata Tbk, PT                                                                      BNLI
    25. Bank Pundi Indonesia Tbk, PT                                                         BEKS
    26. Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT                                                       BBRI
    27. Bank Sinarmas Tbk, PT                                                                     BSIM
    28. Bank Swadesi Tbk, PT                                                                      BSWD
    29. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT                                        BBTN
    30. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, PT                                   BTPN
    31. Bank Victoria International Tbk, PT                                                 BVIC
    32. Bank Windu Kentjana International Tbk, PT                                   MCOR

    BANKING INDUSTRY IN INDONESIA
    AFTER TOPNOTCH INDONESIAN BANKS RECAPITALISED

    Jakarta, September 2000

    FOREWORD
    EXECUTIVE SUMMARY

    CHAPTER
    1. INDONESIAN MACROECONOMIC        1
    1.1. Plenty of tasks waiting to be fulfilled following the recapitalisation of banking industry in Indonesia        1
    1.2. The bolstering up optimistic viewpoints        4
    1.3. Reform and full economic recovery remain in the backseat and are at risk        5
    1.4. Some real sector indicators revealing positive consumer sentiment        7
    1.5. Indonesian international trade: exports on non-primary products are proof of Indonesian economic recovery        11
    1.6. A declining role of Japan in trading partnership and foreign direct investments        13
    1.7. Structural reforms implementation requires mostly reasonable transparency        16
    1.8. The danger of repeated recapitalisations of banks lurks        20
    1.9. The recapitalisation program dwarfing other fund raising activities        22
    1.10. Macroeconomic indicators recapitulated        23

    2. BANKING INDUSTRY AFTER TOPNOTCH INDONESIAN BANKS RECAPITALISED        29
    2.1. Banking industry post-recapitalisation        29
    2.2. Recapitulating the bank restructuring actions in Indonesia        31
    2.3. The recapitalised banks controlling the market structure by 80.41%        34
    2.4. Government bonds to finance the restructuring of Indonesian banks        41
    2.5. The backdrop of bank recapitalisation        50
    2.6. Bank recapitalisation as part of blanket guarantee program policy        51
    2.7. Blanket guarantee program is not free after all        54

    3. PROFILE OF NATIONAL PRIVATE BANKS JOINING THE RECAPITALISATION PROGRAM        56
    3.1. The banking recapitalisation program fails to improve the asset quality        56
    3.2. Non-publicly held banks were more liquid than publicly held banks        60
    3.2.1. Bank Artamedia        61
    3.2.1.1. Bank Artamedia in brief        61
    3.2.1.2. Bank Artamedia received government bonds worth Rp 130 bn        61
    3.2.1.3. Assets transferred to BPPN        64
    3.2.2. Bank Bukopin        64
    3.2.2.1. Bukopin in brief        64
    3.2.2.2. Bukopin received government bonds worth Rp 380.80 bn        68
    3.2.2.3. Participation in loan syndications        69
    3.2.2.4. The legal case with Bank International Indonesia        70
    3.2.2.5. A proposal of Rp 60 bn in fresh money        70
    3.2.3. Bank Patriot        71
    3.2.3.1. Bank Patriot in brief        71
    3.2.3.2. Bank Patriot received government bonds worth Rp 52 bn        72
    3.2.4. Bank Prima Ekspress        74
    3.2.4.1. Bank Prima Ekspres in brief        74
    3.2.4.2. Bank Prima Ekspress received government bonds worth Rp 533.4 bn        75
    3.3. Publicly held banks have put their doubtful (category 4) loans greater than the non-publicly held banks        77
    3.3.1. Bank International Indonesia        80
    3.3.1.1. BII in brief        80
    3.3.1.2. BII received government bonds worth Rp 6.6 tn        83
    3.3.1.3. Assets restructured        85
    3.3.1.4. Asset swap following non-eligible interbank claims        87
    3.3.1.5. Participation in its subsidiaries        88
    3.3.1.6. The legal cases        90
    3.3.2. Bank Lippo        91
    3.3.2.1. Bank Lippo in brief        91
    3.3.2.2. Bank Lippo received government bonds worth Rp 7.3 tn        93
    3.3.2.3. Participation in loan syndications        95
    3.3.2.4. Assets transferred        96
    3.3.2.5. Participation in its subsidiaries        97
    3.3.3. Bank Universal        98
    3.3.3.1. Bank Universal in brief        98
    3.3.3.2. Bank Universal received government bonds worth Rp 4.6 tn        99
    3.3.3.3. Bank’s placements        102
    3.3.3.4. Assets transferred        103
    3.3.3.5. Participation in loan syndications        103
    3.3.3.6. The legal case        104

    4. PROFILE OF NATIONAL PRIVATE BANKS TAKENOVER JOINING THE RECAPITALISATION PROGRAM        107
    4.1. More liquid and efficient the financial condition of takenover banks prior to their mergers with Bank Danamon Indonesia        107
    4.2. True, late recapitalisation increasing the amount of capital bleeding and government bonds to issue        111
    4.3. Asset disposal of BCA was the largest within the category of takenover banks        115
    4.4. Bank Central Asia        119
    4.4.1. BCA in brief        119
    4.4.2. BCA received government bonds worth Rp 60.88 tn        121
    4.4.3. The placements of BCA        122
    4.4.4. Participation in loan syndications        123
    4.4.5. Assets transferred        124
    4.4.6. Participation in its subsidiaries        125
    4.4.7. Its listing story        127
    4.4.8. The challenge of BCA: credit management under a very brand new environment        129
    4.5. Bank Bali        130
    4.5.1. Bank Bali in brief        130
    4.5.2. The recapitalisation plan of Bank Bali        131
    4.5.3. The ever-changing management during the crisis        134
    4.5.4. Bank Bali: The latest bank to be recapitalised by the government        135
    4.5.5. Finally, Bank Bali will receive government bonds worth Rp 5.36 tn        136
    4.5.6. Participation in loan syndications        138
    4.5.7. Participation in its subsidiaries: Establishing a network of rural banking        138
    4.5.8. The legal cases        141
    4.6. Bank Niaga        145
    4.6.1. Bank Niaga in brief        145
    4.6.2. The recapitalisation of Bank Niaga did not go smoothly        148
    4.6.3. From custodian bank to subregistrar of government bonds        150
    4.6.4. Participation in loan syndications        150
    4.6.5. Participation in its subsidiaries        151
    4.6.6. The legal cases        152
    4.7. National private banks takenover on 4 April 1998        153
    4.7.1. Bank Danamon Indonesia        153
    4.7.1.1. Bank Danamon in brief        153
    4.7.1.2. The merger with 8 other banks takenover        156
    4.7.1.3. Bank Danamon received government bonds worth Rp 61 tn        158
    4.7.1.4. Bank Danamon Selected as Servicing Agent For Tranche 1 of The Commercial Loan Portfolio Outsourcing Program        159
    4.7.2. Bank PDFCI        161
    4.7.2.1. Bank PDFCI in brief        161
    4.7.2.2. Ambition to be one of the big five investment banks in Indonesia        162
    4.7.2.3. Controversies and the legal case with the supreme court        163
    4.7.2.4. Controversies over the plan of internal recapitalisation        164
    4.7.2.5. Controversies over the merger of Bank PDFCI into Bank Danamon        165
    4.7.3. Bank Tiara Asia        165
    4.7.3.1. Bank Tiara Asia in brief        165
    4.7.3.2. Participation in loan syndications        167
    4.7.3.3. Participation in its subsidiaries        172
    4.8. National private banks takenover on 13 March 1999        173
    4.8.1. Bank Duta        173
    4.8.1.1. Bank Duta in brief        173
    4.8.2. Bank Jaya International        177
    4.8.2.1. Bank Jaya International in brief        177
    4.8.3. Bank Nusa Nasional        180
    4.8.3.1. Bank Nusa Nasional in brief        180
    4.8.4. Bank Pos Nusantara        183
    4.8.4.1. Bank Pos Nusantara in brief        183
    4.8.5. Bank Rama        185
    4.8.5.1. Bank Rama in brief        185
    4.8.6. Bank Risjad Salim International        188
    4.8.6.1. Bank Risjad Salim International in brief        188
    4.8.7. Bank Tamara        191
    4.8.7.1. Bank Tamara in brief        191

    5. PROFILE OF STATE BANKS JOINING THE RECAPITALISATION PROGRAM        195
    5.1. A better management of BTN in its relative productive assets        195
    5.2. Highly liquid and efficient but desperate of capital differentiate BTN with the other 3 state banks        197
    5.3. Bank Mandiri disposing quality productive assets the largest        199
    5.3.1. Bank Mandiri        202
    5.3.1.1. Bank Mandiri in brief        202
    5.3.1.2. The recapitalisation of Bank Mandiri        204
    5.3.1.3. Bank Mandiri received more than two thirds of government bonds to recapitalise state banks        207
    5.3.1.4. The delaid government bonds issuance increasing its recapitalisation cost        207
    5.3.1.5. Government bonds received by Bank Mandiri        209
    5.3.1.6. Participation in loan syndications        211
    5.3.1.7. Participation in its subsidiaries        211
    5.3.1.8. Its subordinated loans        214
    5.4. Bank Negara Indonesia        215
    5.4.1. BNI in brief        215
    5.4.2. The recapitalisation of BNI realised in 2 tranches        217
    5.4.3. Participation in loan syndications        220
    5.4.4. Assets transferred        220
    5.4.5. Participation in its subsidiaries        221
    5.5. Bank Rakyat Indonesia        225
    5.5.1. BRI in brief        225
    5.5.2. The recapitalisation program of BRI        225
    5.5.3. Assets restructured        229
    5.5.4. Polemics and controversies for the last two years        229
    5.5.5. Polemics on the new management of BRI        229
    5.5.6. Previous management of BRI        231
    5.5.7. Polemics on credits to conglomerates        232
    5.5.8. Polemics on the realisation of kredit program        234
    5.6. Bank Tabungan Negara        236
    5.6.1. BTN in brief        236
    5.6.2. The recapitalisation of BTN completed in October 2000        238
    5.6.3. BTN responsible for the disbursement of 75% funds for the purpose of housing loans in 2000        238

    6. BANK CREDITS        241
    6.1. An overview: The crisis brings banks in Indonesia to refocus its business to retail sector        241
    6.1.1. New places for bank’s money to put: consumptive goods        242
    6.1.2. Program-based credits (kredit program)        245
    6.1.3. Housing loans        250
    6.2. Pakto 1988 raising the existence of private sector        253
    6.3. Competition in bank credit disbursement        254
    6.3.1. Outstanding total credit        255
    6.3.2. Outstanding working capital credit        257
    6.3.3. Working capital dominates 70 percent of the bank credits        258
    6.3.4. Outstanding investment credit        259
    6.4. Credit contraction in the service industry dragging down the total bank credits        260
    6.5. Significant increase of the role of foreign and joint venture banks in bank credits        265
    6.5.1. The portfolio of foreign and joint venture banks in working capital credits        268
    6.5.2. The portfolio of BPD banks in working capital credits        270
    6.5.3. The portfolio of national private banks in working capital credits        271
    6.5.4. The portfolio of state banks in working capital credits        273
    6.6. Manufacturing industry granted the highest priority for bank credits        275
    6.6.1. About 72 percent of the bank credits for manufacturing industry was allocated for working capital        280
    6.6.2. Contraction of the working capital credit for service industry was the highest        282
    6.6.3. Also in trade industry, foreign and joint venture banks expanded their monthly credits for working capital        284
    6.6.4. In agroindustry, monthly credits for working capital provided by BPDs expanded        286
    6.6.5. Monthly credits for working capital in the mining industry has been constant        288
    6.6.6. Monthly credits for working capital in other industries also contracted        289
    6.7. Bank credits in foreign currencies expanded by Rp 43.79 tn        290
    6.8. By province, it’s been DKI Jakarta and by island, it’s been Java receiving bank credits mostly        294
    6.8.1. Bank credits in foreign exchange ranging around 38.35 percent        299
    6.8.2. The realisation of bank credits in KUK (small scale) ranging around 14.16 percent        302
    6.8.3. Idle capacity of the banks reaching 41.81 percent in 1999        305
    6.8.4. Rupiah savings contributed 76.80 percent of the total savings        311

    7. DEPOSITS IN BANKS
    7.1. Competition in enticing the funds of bank’s clients
    7.2. Total deposits
    7.3. Time deposits
    7.4. Demand deposits
    7.5. Savings deposits

    8. BANKS’ INVESTMENT
    8.1. Top-10 banks in credit investment
    8.2. Top-10 banks in banks’ placement
    8.3. Top-10 banks in banks’ securities
    8.4. Top-10 banks in banks’ private placement

    9. CONCLUDING SUMMARY
    9.1. Remaining weaknesses could lead to downturn
    9.2. The bank restructuring agenda needs to be taken to a decisive stage
    9.3. BPPN’s 9 programs of economic restructuring
    9.4. The outlook is filled with the same liquidity problem but with different magnitude, manner, and background

    ATTACHMENT
    I. DIRECTORY OF BANKS IN INDONESIA

    II. BANKS’ FINANCIAL REPORTS
    II.A. Total assets
    II.A.1. Current assets
    II.A.2. Credit investments
    II.A.3. Banks’ placements
    II.A.4. Investments in the securities of the banks
    II.A.5. Private placements of the banks
    II.B. Total equity
    II.B.1. Paid up capital
    II.B.2. Retained earnings
    II.B.3. Other forms of capitals
    II.C. Liabilities
    II.C.1. Current liabilities
    II.C.2. Public funds
    II.C.3. Securities issued
    II.C.4. Loans granted
    II.D. Profitability
    II.D.1. Operational income
    II.D.2. Operational expense

    III. A NEW BANK INDONESIA BUILT ON THE ROTTEN BLBI SCANDAL
    III.A. The word of audit becomes buzzword
    III.B. Bank Indonesia facing  two results of audit
    III.C. Bank Indonesia and the government refuse to take responsibility
    III.D. For the sake of saving payment system and the banking industry
    III.E. BLBI leaks had been detected ?
    III.F. Moral Hazard of bankers receiving BLBI questioned?
    III.G. Excessive disbursement of BLBI result of poor administration of BI?
    III.H. Absence of reporting became the base of disclaimer opinion for the opening balance of a new Bank Indonesia

    IV. BALIGATE: THE WORLD-SHAKING CASE
    IV.A. The Bank Bali scandal: A case fully of controversies and polemics
    IV.B. The pulling back of Stanchart from the management and investment agrements, would that be the anticlimax of the case?
    IV.C. The faults of Stanchart: Ignoring corporate culture and the prevailing system
    IV.D. Counter measures of Rudy Ramli
    IV.E. BPPN’s role in Baligate case
    IV.F. Stanchart’s role in the Bank Bali scandal
    IV.G. To transfer Rp 905 bn, Bank Indonesia only took 3 hours for approval

    TABLE
    1.1. The peaks and troughs of the rupiah and the JSX-CI, 29 April 1997 – 15 Nov. 1999        24
    1.2. Inflation rates, money supply, and bank credits, 1988 – Aug. 2000        25
    1.3. Average quarter growth of Indonesian imports by type of economic goods, 1997 – 1999        26
    1.4. Average quarter growth of Indonesian exports by primary commodity, 1997 – 1999        27
    1.5. Indonesian GDP by sector at current market price, 1989 – 2000A        28

    2.1. Results of due diligence examinations in Indonesian banking industry, 20 March 1999        32
    2.2. Actions in bank restructuring in Indonesia, 1 Nov. 1997 – October 2000        33
    2.3. Banks grouped, August 2000        35
    2.4. The market structure of Indonesian banking industry, March 2000        38
    2.5. Government bonds issued under the name of blanket guarantee program, December 1999        41
    2.6. Government bonds to recapitalise banks in Indonesia, up to Oct. 2000        43
    2.7. Government bonds to recapitalise banks in Indonesia by maturity, 12 June 2000        45
    2.8. Legal bases for the implementation of banking recapitalisation program in Indonesia, 1998-2000        52

    3.1. The 7 national private banks joining the recapitalisation program: some financial indicators as of March 2000        58
    3.2. The 7 national private banks joining the recapitalisation program: the equities and the assets as of March 2000        59
    3.3. Bank Artamedia’s capital that has been paid up, paid in, and authorised, 1999        62
    3.4. Financial profile of Bank Artamedia, June 1998 – December 1999        63
    3.5. Shareholders of Bukopin, 31 December 1999        66
    3.6. Financial profile of Bukopin, June 1998 – March 2000        67
    3.7. Financial profile of Bank Patriot, June 1998 – March 2000        73
    3.8. Financial profile of Bank Prima Ekspres, June 1998 – March 2000        76
    3.9. Allowance for loan losses of 7 national private banks recapitalised, March 2000        78
    3.10. The classified loans of 7 national private banks that recapitalised, March 2000        79
    3.11. BII’s capital that has been paid up, paid in, and authorised, 1999        82
    3.12. Financial profile of BII, June 1998 – June 2000        84
    3.13. Participation of BII in its subsdiaries, 1999        89
    3.14. Bank Lippo’s capital that has been paid up, paid in, and authorised, 1999        92
    3.15. Financial profile of Bank Lippo, Dec. 1997 – March 2000        94
    3.16. Classified credit risk , 31 December 1999        96
    3.17. Bank Universal’s capital that has been paid up, paid in, and authorised, 1999        100
    3.18. Financial profile of Bank Universal, June 1998 – March 2000        101

    4.1. Efficiency ratio of national private banks takenover in terms of relative operational income to expenses, June 1998 – March 2000        108
    4.2. Liquidity ratio of national private banks takenover in terms of current ratio, June 1998 – March 2000        109
    4.3. The 13 national private banks takenover joining the recapitalisation program: some financial indicators as of March 2000        113
    4.4. The 13 national private banks takenover joining the recapitalisation program : the equities and the assets as of March 2000        114
    4.5. The classified loans of 13 national private banks takenover, March 2000        116
    4.6. Allowance for loan losses of 7 national private banks recapitalised, March 2000        117
    4.7. BCA’s capital that has been paid up and authorised, 1999        120
    4.8. Financial profile of BCA, September – December 1999        122
    4.9. Bonds held by BCA, 1997 – 1999        123
    4.10. The subsidiaries of BCA, 1999        126
    4.11. Financial profile of Bank Bali, September 1998 and December 1999        133
    4.12. Participation of Bank Bali in its subsdiaries, 1999        140
    4.13. Unsettled legal cases of Bank Bali, December 1999        142
    4.14. Bank Niaga’s capital that has been paid up, paid in, and authorised, 1999        146
    4.15. Financial profile of Bank Niaga, June 1998 – June 2000        149
    4.16. Financial profile of Bank Danamon, September 1999 – June 2000        154
    4.17. Bank Danamon’s capital that has been paid up, paid in, and authorised, 1999        155
    4.18. Estimated share ownership structure, 1 May 2000        155
    4.19. Balance of negative equity of the 7 banks takenover, 31 December 1999        157
    4.20. Financial profile of Bank PDFCI, June 1998 – September 1999        162
    4.21. Bank Tiara Asia’s capital that has been paid up, paid in, and authorised, March 2000        167
    4.22. Financial profile of Bank Tiara Asia, June 1998 – March 2000        169
    4.23. Borrowings of Bank Tiara Asia, 1997-1998        170
    4.24. Derivative transactions of Bank Tiara Asia, 1998        172
    4.25. Participation of Bank Tiara Asia in its subsdiaries, 1998        173
    4.26. The shareholders of Bank Duta, 17 April 2000        174
    4.27. Participation of Bank Duta in its subsdiaries, 1997        175
    4.28. Financial profile of Bank Duta, June 1998 – March 2000        176
    4.29. The shareholders of Bank Jaya International, 17 April 2000        178
    4.30. Financial profile of Bank Jaya International, June 1998 – March 2000        179
    4.31. The shareholders of Bank Nusa Nasional, 17 April 2000        181
    4.32. Financial profile of Bank Nusa Nasional, June 1998 – March 2000        182
    4.33. The shareholders of Bank Pos Nusantara, 17 April 2000        183
    4.34. Financial profile of Bank Pos Nusantara, June 1998 – March 2000        184
    4.35. The shareholders of Bank Rama, 31 December 1999        185
    4.36. Participation of Bank Rama in its subsdiaries, 1997        186
    4.37. Financial profile of Bank Rama, June 1998 – March 2000        187
    4.38. The shareholders of Bank Risjad Salim International, 30 September 1997        189
    4.39. Financial profile of Bank Risjad Salim International, June 1998 – December 1999        190
    4.40. The shareholders of Bank Tamara, 30 September 1997        191
    4.41. Participation of Bank Tamara in its subsidiaries, 1996-1997        193
    4.42. Financial profile of Bank Tamara, June 1998 – March 2000        194

    5.1. Relative productive assets of state banks, June 1998 – March 2000        196
    5.2. The state banks joining the recapitalisation program: some financial indicators as of March 2000        198
    5.3. The state banks joining the recapitalisation program : the equities and the assets as of March 2000        198
    5.4. The classified loans of state banks, March 2000        200
    5.5. Allowance for loans losses of state banks, March 2000        201
    5.6. Financial profile of Bank Mandiri, August 1999 – June 2000        206
    5.7. Participation of Bank Mandiri in its subsdiaries, 1999        213
    5.8. BNI’s capital that has been paid up, paid in, and authorised, 1999        216
    5.9. Financial profile of BNI, September 1999 – June 2000        219
    5.10. Participation of BNI in its subsdiaries, 1999        223
    5.11. Financial profile of BRI, December 1998 – June 2000        228
    5.12. The value of program-based credits transferred from BI to BRI, BTN, and PNM, Nov. 1999        235
    5.13. Financial profile of Bank Tabungan Negara, June 1998 – March 2000        237

    6.1. Publicly held banks that have recapitalised themselves in 1999        244
    6.2. SMEs credit, 1989 – Oct. 1999        249
    6.3. Property credit, Dec. 1998 – Feb. 2000        250
    6.4. Housing loans provided by some banks, 2000        251
    6.5. Outstanding KUK (credits for SMEs) by type of use and KPR, 1991 – May 2000        252
    6.6. Monthly average of additional credits in a year, 1990 – 1999        261
    6.7. Average additional credits by month, 1990 – 1999        261
    6.8. Average monthly credits by type of bank credits and of industry, July 1997 – Nov. 1999        263
    6.9. Credits by type of bank credits and of industry, Jan – Nov. 1999        263
    6.10. Working capital credits by type of industry and of creditor banks, Jan – Nov. 1999        264
    6.11. Average monthly credits for working capital by type of creditor banks, February 1990 – November 1999        266
    6.12. Annual credits for working capital by type of creditor banks, 1990 – 1999        267
    6.13. The portfolio of foreign and joint venture banks in working capital credits by type of industry, 1990-1999        268
    6.14. The portfolio of BPD banks in working capital credits by type of industry, 1990-1999        270
    6.15. The portfolio of national private banks in working capital credits by type of industry, 1990-1999        272
    6.16. The portfolio of state banks in working capital credits by type of industry, 1990-1999        274
    6.17. Average monthly credits by type of industry, Feb. 1990 – Nov. 1999        277
    6.18. Annual credits by type of industry, 1990 – 1999        277
    6.19. Average monthly credits for working capital by type of industry, Feb. 1990 – Nov. 1999        278
    6.20. Annual credits for working capital by type of industry, 1990 – 1999        278
    6.21. Average monthly credits for investment by type of industry, Feb. 1990 – Nov. 1999        279
    6.22. Annual credits for investment by type of industry, 1990 – 1999        279
    6.23. Average monthly credits for working capital in manufacturing industry by type of creditor banks, Feb. 1990 – Nov. 1999        281
    6.24. Annual credits for working capital in manufacturing industry by type of creditor banks, 1990 – 1999        281
    6.25. Average monthly credits for working capital in service industry, Feb. 1990 – Nov. 1999        283
    6.26. Annual credits for working capital in service industry by type of creditor banks, 1990 – 1999        283
    6.27. Average monthly credits for working capital in trading industry, Feb. 1990 – Nov. 1999        285
    6.28. Annual credits for working capital in trading industry by type of creditor banks, 1990 – 1999        285
    6.29. Average monthly credits for working capital in agroindustry, Feb. 1990 – Nov. 1999        287
    6.30. Annual credits for working capital in agroindustry by type of creditor banks, 1990 – 1999        287
    6.31. Average monthly credits for working capital in mining industry, Feb. 1990 – Nov. 1999        288
    6.32. Annual credits for working capital in mining industry by type of creditor banks, 1990 – 1999        289
    6.33. Average monthly credits for working capital in other industries, Feb. 1990 – Nov. 1999        290
    6.34. Annual credits for working capital in other industries by type of creditor banks, 1990 – 1999        290
    6.35. Average monthly bank credits by type of currencies, Feb. 1990 – Nov. 1999        292
    6.36. Bank credits by type of currencies, 1990 – 1999        293
    6.37. Bank credits by island and province, 1990 – 1999        295
    6.38. Bank credits by island and province, 1990 – 1999        297
    6.39. The portion of foreign exchange credits by island and province, 1990 – 1999        300
    6.40. The portion of KUK (small scale) credits by island and province, 1990 – 1999        303
    6.41. The portion of bank credits to the savings by island and province, 1990 – 1999        307
    6.42. The portion of bank credits in rupiah to the savings in rupiah by island and province, 1990 – 1999        309
    6.43. The portion of savings in rupiah to the total savings by island and province, 1990 – 1999        312

    7.1.

    CHART
    1.1. Food and beverages imported to be consumed, Jan. 1996 – Feb. 2000        7
    1.2. Food and beverages imported to be utilised, Jan. 1996 – Feb. 2000        8
    1.3. Lubricants and private transportation equipment imported to be consumed, Jan. 1996 – Feb. 2000        8
    1.4. Fuels and lubricants imported to be utilised, Jan. 1996 – Feb. 2000        9
    1.5. Raw materials imported to be utilised, Jan. 1996 – Feb. 2000        9
    1.6. Consumption goods imported by durability, Jan. 1996 – Feb. 2000        10
    1.7. Indonesian GDP by current price and per capita, 1979 – 2000A        10
    1.8. Monthly Indonesian exports by primary category, Jan. 1996 – Feb. 2000        11
    1.9. Indonesian exports by primary category, 1983 – Feb. 2000        12
    1.10. Indonesian trade accounts, 1972 – 1999        12
    1.11. Total exports and the imports on raw materials and capital goods, 1981– 2000A        13
    1.12. Indonesian exports by country of destination, cumulative for the year 1981 – Feb. 2000        13
    1.13. Indonesian exports to major trading partners, 1981 – Feb. 2000        14
    1.14. Indonesian imports by country of origin, cumulative for the year 1981 – Feb. 2000        14
    1.15. Indonesian imports from major trading partners, 1981 – Feb. 2000        15
    1.16. The foreign direct investments of Japan, Hong Kong, and Singapore in Indonesia, 1981 – 2000A        15
    1.17. Foreign direct investments in Indonesia, 1967 – Feb. 2000        16
    1.18. The flows of US$ in Indonesia, 1972 – 1999        17
    1.19. Bank credits, 1981 – Feb. 2000        19
    1.20. Value of rights issues, 1989 – Oct. 1999        22
    1.21. Value of IPOs, 1997 – Oct. 1999        22
    1.22. Value of bond issues, 1983 – Oct. 1999        23
    1.23. Mutual funds in Indonesia, Jan 1994 – Sept. 1999        23
    1.24. Monthly inflation rates, bank credits, money supply, Jan. 1993–May 2000        25

    6.1. Bank credits: The outstanding and monthly incrementals, July 1997–June 2000        243
    6.2. Development of number of banks in Indonesia, 1987 – 1999        253
    6.3. Development of number of banks’ offices in Indonesia, 1987 – 1999        254
    6.4. Annual development of outstanding credit disbursement, 1987–June 2000        254
    6.5. Monthly development of outstanding credit disbursement, 1987–June 2000        255
    6.6. Annual development of outstanding total credits by type of banks, 1987 – June 2000        256
    6.7. Monthly development of outstanding total credits by type of banks, 1987 – June 2000        256
    6.8. Annual development of outstanding working capital credits by type of banks, 1987 – June 2000        257
    6.9. Monthly development of outstanding working capital credits by type of banks, 1987 – June 2000        257
    6.10. Monthly bank credits by total and working capital, Feb. 1990 – June 2000        258
    6.11. Annual bank credits by type, 1990 – June 2000        259
    6.12. Annual development of outstanding investment credits by type of banks, 1987 – June 2000        259
    6.13. Monthly development of outstanding investment credits by type of banks, 1987 – June 2000        260
    6.14. Bank credits by type of creditor banks, Feb. 1990 – June 2000        265
    6.15. Credits for working capital by type of creditor banks, Feb. 1990 – June 2000        266
    6.16. The portfolio of foreign and joint venture banks in working capital credits, Feb. 1990 – Nov. 1999        269
    6.17. The portfolio of foreign and joint venture banks in working capital credits, Feb. 1990 – June 1997        269
    6.18. The portfolio of foreign and joint venture banks in working capital credits, July 1997 – Nov. 1999        269
    6.19. The portfolio of BPD banks in working capital credits, Feb. 1990 – Nov. 1999        271
    6.20. The portfolio of BPD banks in working capital credits, Feb. 1990 – June 1997        271
    6.21. The portfolio of BPD banks in working capital credits, July 1997 – Nov. 1999        271
    6.22. The portfolio of national private banks in working capital credits, Feb. 1990 – Nov. 1999        272
    6.23. The portfolio of national private banks in working capital credits, Feb. 1990 – June 1997        273
    6.24. The portfolio of national private banks in working capital credits, July 1997 – Nov. 1999        273
    6.25. The portfolio of state banks in working capital credits, Feb. 1990 – Nov. 1999        274
    6.26. The portfolio of state banks in working capital credits, Feb. 1990 – June 1997        274
    6.27. The portfolio of state banks in working capital credits, July 1997 – Nov. 1999        275

    7.1.

    CHART
    1.1. Dirty Games Or Just Creative Book-Keeping        20


    Analisa kuantitatif terhadap harga saham-saham yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia

    (Quantitative analysis on stocks listed and traded in Indonesia stock exchange, Jakarta.)

    Hubungi kami di +62-852-1035.6516.

    Daftar kuotasi harga saham Indonesia per 3 Maret 2011:

    idx 20110303

    AALI Astra Agro Lestari Tbk
    ABBA Mahaka Media Tbk.
    ABDA Asuransi Bina Dana Arta Tbk
    ACES Ace Hardware Indonesia Tbk
    ADES Akasha Wira International Tbk
    ADHI Adhi Karya (Persero) Tbk
    ADMF Adira Dinamika Multi Finance
    ADMG Polychem Indonesia Tbk
    ADRO Adaro Energy Tbk.
    AGRO Bank Agroniaga Tbk.
    AHAP Asuransi Harta Aman P Tbk
    AIMS Akbar Indo Makmur Stimec Tbk
    AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
    AKKU Aneka Kemasindo Utama Tbk
    AKPI Argha Karya Prima Inds. Tbk
    AKRA AKR Corporindo Tbk
    AKSI Majapahit Securities Tbk
    ALFA Alfa Retailindo Tbk
    ALKA Alakasa Industrindo Tbk
    ALMI Alumindo Light Metal Inds.Tbk
    AMAG Asuransi Multi Artha Guna Tbk
    AMFG Asahimas Flat Glass Tbk
    AMRT Sumber Alfaria Trijaya Tbk
    ANTA Anta Express Tour & Travel Se
    ANTM Aneka Tambang (Persero) Tbk
    APIC Pan Pacific International Tbk
    APLI Asiaplast Industries Tbk
    APLN Agung Podomoro Land Tbk.
    APOL Arpeni Pratama Ocean Line Tbk
    AQUA Aqua Golden Mississippi Tbk.
    ARGO Argo Pantes Tbk
    ARNA Arwana Citramulia Tbk
    ARTA Arthavest Tbk
    ARTI Ratu Prabu Energi Tbk
    ASBI Asuransi Bintang Tbk
    ASDM Asuransi Dayin MitraTbk
    ASGR Astra Graphia Tbk
    ASIA Asia Natural Resources Tbk
    ASII Astra International Tbk
    ASJT Asuransi Jasa Tania Tbk
    ASRI Alam Sutera Realty Tbk.
    ASRM Asuransi Ramayana Tbk
    ATPK ATPK Resources Tbk
    AUTO Astra Otoparts Tbk
    BABP Bank ICB Bumiputera Tbk
    BACA Bank Capital Indonesia Tbk
    BAEK Bank Ekonomi Raharja Tbk.
    BAPA Bekasi Asri Pemula Tbk
    BATA Sepatu Bata Tbk
    BAYU Bayu Buana Tbk
    BBCA Bank Central Asia Tbk
    BBKP Bank Bukopin Tbk
    BBLD Buana Finance Tbk
    BBNI Bank Negara Indonesia Tbk
    BBNP Bank Nusantara Parahyangan Tb
    BBRI Bank Rakyat Indonesia Tbk
    BBTN Bank Tabungan Negara (Persero
    BCAP Bhakti Capital Indonesia Tbk
    BCIC Bank Mutiara Tbk
    BCIP Bumi Citra Permai Tbk.
    BDMN Bank Danamon Tbk
    BEKS Bank Pundi Indonesia Tbk.
    BFIN BFI Finance Indonesia Tbk
    BHIT Bhakti Investama Tbk
    BIMA Primarindo Asia Infrastr. Tbk
    BIPI Benakat Petroleum Energy Tbk.
    BIPP Bhuwanatala Indah Permai Tbk
    BISI BISI International Tbk
    BJBR Bank Pembangunan Daerah Jawa
    BKDP Bukit Darmo Property Tbk
    BKSL Sentul City Tbk
    BKSW Bank Kesawan Tbk
    BLTA Berlian Laju Tanker Tbk
    BMRI Bank Mandiri (Persero) Tbk
    BMSR Bintang Mitra Semestaraya Tbk
    BMTR Global Mediacom Tbk
    BNBA Bank Bumi Arta Tbk
    BNBR Bakrie & Brothers Tbk
    BNGA Bank CIMB Niaga Tbk
    BNII Bank International Ind. Tbk
    BNLI Bank Permata Tbk
    BORN Borneo Lumbung Energi & Metal
    BPFI Batavia Prosperindo Finance T
    BRAM Indo Kordsa Tbk
    BRAU Berau Coal Energy Tbk.
    BRMS Bumi Resources Minerals Tbk.
    BRNA Berlina Tbk
    BRPT Barito Pacific Tbk
    BSDE Bumi Serpong Damai Tbk
    BSIM Bank Sinarmas Tbk.
    BSWD Bank Swadesi Tbk
    BTEK Bumi Teknokultura Unggul Tbk
    BTEL Bakrie Telecom Tbk
    BTON Betonjaya Manunggal Tbk
    BTPN Bank Tabungan Pensiunan Nasio
    BUDI Budi Acid Jaya Tbk
    BUMI Bumi Resources Tbk
    BUVA Bukit Uluwatu Villa Tbk.
    BVIC Bank Victoria Int l. Tbk
    BWPT BW Plantation Tbk
    BYAN Bayan Resources Tbk
    CEKA Cahaya Kalbar Tbk
    CENT Centrin Online Tbk.
    CFIN Clipan Finance Indonesia Tbk
    CITA Cita Mineral Investindo Tbk
    CKRA Citra Kebun Raya Agri Tbk
    CLPI Colorpak Indonesia Tbk
    CMNP Citra Marga Nushapala Persada
    CMPP Centris Multi Persada P. Tbk
    CNKO Exploitasi Energi Indonesia T
    CNTB Saham Seri B ( Centex Tbk )
    CNTX Centex (Saham Preferen) Tbk
    COWL Cowell Development Tbk
    CPDW Cipendawa Tbk
    CPIN Charoen Pokphand Indonesia Tb
    CPRO Central Proteinaprima Tbk
    CSAP Catur Sentosa Adiprana Tbk.
    CTBN Citra Tubindo Tbk
    CTRA Ciputra Development Tbk
    CTRP Ciputra Property Tbk
    CTRS Ciputra Surya Tbk
    CTTH Citatah Tbk.
    DART Duta Anggada Realty Tbk
    DAVO Davomas Abadi Tbk
    DEFI Danasupra Erapacific Tbk
    DEWA Darma Henwa Tbk
    DGIK Duta Graha Indah Tbk
    DILD Intiland Development Tbk
    DKFT Central Omega Resources Tbk.
    DLTA Delta Djakarta Tbk
    DNET Dyviacom Intrabumi Tbk
    DOID Delta Dunia Makmur Tbk
    DPNS Duta Pertiwi Nusantara Tbk
    DSFI Dharma Samudera Fishing In Tb
    DSSA Dian Swastatika Sentosa Tbk
    DUTI Duta Pertiwi Tbk
    DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk
    DYNA Dynaplast Tbk
    EKAD Ekadharma International Tbk
    ELSA Elnusa Tbk
    ELTY Bakrieland Development Tbk
    EMDE Megapolitan Developments Tbk.
    EMTK Elang Mahkota Teknologi Tbk
    ENRG Energi Mega Persada Tbk
    EPMT Enseval Putra Megatrading Tbk
    ERTX Eratex Djaja Tbk
    ESTI Ever Shine Tex Tbk.
    ETWA Eterindo Wahanatama Tbk
    EXCL XL Axiata Tbk.
    FAST Fast Food Indonesia Tbk
    FASW Fajar Surya Wisesa Tbk
    FISH FKS Multi Agro Tbk
    FMII Fortune Mate Indonesia Tbk
    FORU Fortune Indonesia Tbk
    FPNI Titan Kimia Nusantara Tbk
    FREN Mobile-8 Telecom Tbk
    GDST Gunawan Dianjaya Steel Tbk.
    GDYR Goodyear Indonesia Tbk
    GEMA Gema Grahasarana Tbk
    GGRM Gudang Garam Tbk
    GIAA Garuda Indonesia (Persero) Tb
    GJTL Gajah Tunggal Tbk
    GMCW Grahamas Citrawisata Tbk.
    GMTD Gowa Makassar Tourism Dev. Tb
    GOLD Golden Retailindo Tbk.
    GPRA Perdana Gapuraprima Tbk
    GREN Evergreen Invesco Tbk.
    GSMF Equity Development Investment
    GTBO Garda Tujuh Buana Tbk
    GZCO Gozco Plantations Tbk
    HADE HD Capital Tbk
    HDTX Panasia Indosyntec Tbk
    HERO Hero Supermarket Tbk
    HEXA Hexindo Adiperkasa Tbk
    HITS Humpuss Intermoda Trans. Tbk
    HMSP H M Sampoerna Tbk
    HOME Hotel Mandarine Regency Tbk
    HRUM Harum Energy Tbk.
    IATA Indonesia Air Transport Tbk
    ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tb
    ICON Island Concepts Indonesia Tbk
    IDKM Indosiar Karya Media Tbk
    IGAR Champion Pacific Indonesia Tb
    IIKP Inti Agri Resources Tbk
    IKAI Intikeramik Alamasri Inds. Tb
    IKBI Sumi Indo Kabel Tbk
    IMAS Indomobil Sukses Int l. Tbk
    INAF Indofarma Tbk
    INAI Indal Aluminium Industry Tbk
    INCF Indo Citra Finance Tbk
    INCI Intanwijaya Internasional Tbk
    INCO International Nickel Indonesi
    INDF Indofood Sukses Makmur Tbk
    INDR Indo-Rama Synthetics Tbk.
    INDS Indospring Tbk
    INDX Indoexchange Tbk
    INDY Indika Energy Tbk
    INKP Indah Kiat Pulp and Paper Tbk
    INPC Bank Artha Graha Internasiona
    INPP Indonesian Paradise Property
    INRU Toba Pulp Lestari Tbk.
    INTA Intraco Penta Tbk
    INTD Inter Delta Tbk
    INTP Indocement Tunggal Prakasa Tb
    INVS Inovisi Infracom Tbk
    IPOL Indopoly Swakarsa Industry Tb
    ISAT Indosat Tbk
    ITMA Itamaraya Tbk
    ITMG Indo Tambangraya Megah Tbk
    ITTG Leo Investments Tbk
    JECC Jembo Cable Company Tbk
    JIHD Jakarta Int l Hotel & Dev. Tb
    JKON Jaya Konstruksi Manggala Prat
    JKSW Jakarta Kyoei Steel Works Tbk
    JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk
    JPRS Jaya Pari Steel Tbk
    JRPT Jaya Real Property Tbk
    JSMR Jasa Marga (Persero) Tbk
    JSPT Jakarta Setiabudi Internasion
    JTPE Jasuindo Tiga Perkasa Tbk
    KAEF Kimia Farma Tbk
    KARK Dayaindo Resources Internatio
    KARW Karwell Indonesia Tbk
    KBLI KMI Wire & Cable Tbk.
    KBLM Kabelindo Murni Tbk
    KBLV First Media Tbk.
    KBRI Kertas Basuki Rachmat Indones
    KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk
    KIAS Keramika Indonesia Assosiasi
    KICI Kedaung Indah Can Tbk
    KIJA Kawasan Industri Jababeka Tbk
    KKGI Resource Alam Indonesia Tbk
    KLBF Kalbe Farma Tbk
    KOIN Kokoh Inti Arebama Tbk
    KONI Perdana Bangun Pusaka Tbk
    KPIG Global Land Development Tbk
    KRAS Krakatau Steel (Persero) Tbk.
    KREN Kresna Graha Sekurindo Tbk
    LAMI Lamicitra Nusantara Tbk
    LAPD Leyand International Tbk
    LCGP Laguna Cipta Griya Tbk
    LION Lion Metal Works Tbk
    LMAS Limas Centric Indonesia Tbk
    LMPI Langgeng Makmur Industri Tbk.
    LMSH Lionmesh Prima Tbk.
    LPCK Lippo Cikarang Tbk
    LPGI Lippo General Insurance Tbk
    LPIN Multi Prima Sejahtera Tbk
    LPKR Lippo Karawaci Tbk
    LPLI Star Pacific Tbk
    LPPF Matahari Department Store Tbk
    LPPS Lippo Securities Tbk
    LSIP PP London Sumatra Indonesia T
    LTLS Lautan Luas Tbk
    MAIN Malindo Feedmill Tbk
    MAMI Mas Murni Indonesia Tbk
    MAMIP Mas Murni Tbk (Saham Preferen
    MAPI Mitra Adiperkasa Tbk
    MASA Multistrada Arah Sarana Tbk
    MAYA Bank Mayapada Tbk
    MBAI Multibreeder Adirama Ind. Tbk
    MBTO Martina Berto Tbk.
    MCOR Bank Windu Kentjana Internati
    MDLN Modernland Realty Ltd. Tbk
    MDRN Modern Internasional Tbk
    MEDC Medco Energi International Tb
    MEGA Bank Mega Tbk
    MERK Merck Tbk
    META Nusantara Infrastructure Tbk
    MFIN Mandala Multifinance Tbk
    MFMI Multifiling Mitra Indonesia T
    MICE Multi Indocitra Tbk
    MIDI Midi Utama Indonesia Tbk.
    MIRA Mitra International Resources
    MITI Mitra Investindo Tbk
    MKPI Metropolitan Kentjana Tbk
    MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk
    MLIA Mulia Industrindo Tbk
    MLPL Multipolar Tbk
    MNCN Media Nusantara Citra Tbk
    MPPA Matahari Putra Prima Tbk
    MRAT Mustika Ratu Tbk
    MREI Maskapai Reasuransi Ind. Tbk
    MTDL Metrodata Electronics Tbk
    MTFN Capitalinc Investment Tbk
    MTSM Metro Realty Tbk
    MYOH Myoh Technology Tbk.
    MYOR Mayora Indah Tbk
    MYRX Hanson International Tbk
    MYRXP Saham Seri B Hanson Internati
    MYTX Apac Citra Centertex Tbk
    NIKL Pelat Timah Nusantara Tbk.
    NIPS Nipress Tbk
    NISP Bank OCBC NISP Tbk
    OCAP Onix Capital Tbk.
    OKAS Ancora Indonesia Resources Tb
    OMRE Indonesia Prima Property Tbk
    PAFI Panasia Filament Inti Tbk
    PANR Panorama Sentrawisata Tbk
    PANS Panin Sekuritas Tbk
    PBRX Pan Brothers Tbk.
    PDES Destinasi Tirta Nusantara Tbk
    PEGE Panca Global Securities Tbk
    PGAS Perusahaan Gas Negara Tbk
    PGLI Pembangunan Graha Lestari Ind
    PICO Pelangi Indah Canindo Tbk
    PJAA Pembangunan Jaya Ancol Tbk
    PKPK Perdana Karya Perkasa Tbk
    PLAS Polaris Investama Tbk
    PLIN Plaza Indonesia Realty Tbk
    PNBN Bank Pan Indonesia Tbk
    PNIN Panin Insurance Tbk
    PNLF Panin Financial Tbk
    PNSE Pudjiadi & Sons Estate Tbk
    POLY Asia Pacific Fibers Tbk
    POOL Pool Advista Indonesia Tbk
    PRAS Prima Alloy Steel Tbk
    PSAB Pelita Sejahtera Abadi Tbk.
    PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk
    PSKT Pusako Tarinka Tbk.
    PTBA Tambang Batubara Bukit AsamTb
    PTPP PP (Persero) Tbk.
    PTRO Petrosea Tbk
    PTSN Sat Nusapersada Tbk
    PTSP Pioneerindo Gourmet Int l Tbk
    PUDP Pudjiadi Prestige Limited Tbk
    PWON Pakuwon Jati Tbk
    PWSI Panca Wiratama Sakti Tbk
    PYFA Pyridam Farma Tbk
    RAJA Rukun Raharja Tbk
    RALS Ramayana Lestari Sentosa Tbk
    RBMS Ristia Bintang Mahkotasejati
    RDTX Roda Vivatex Tbk
    RELI Reliance Securities Tbk
    RICY Ricky Putra Globalindo Tbk
    RIGS Rig Tenders Tbk
    RIMO Rimo Catur Lestari Tbk
    RINA Katarina Utama Tbk
    RMBA Bentoel International Inv. Tb
    RODA Royal Oak Development Asia Tb
    ROTI Nippon Indosari Corpindo Tbk.
    RUIS Radiant Utama Interinsco Tbk
    SAFE Steady Safe Tbk
    SAIP Surabaya Agung Industry P. Tb
    SCBD Danayasa Arthatama Tbk.
    SCCO Supreme Cable Manufacturing
    SCMA Surya Citra Media Tbk
    SCPI Schering Plough Indonesia Tbk
    SDPC Millennium Pharmacon Int. Tbk
    SDRA Bank Himpunan Saudara 1906 Tb
    SGRO Sampoerna Agro Tbk
    SHID Hotel Sahid Jaya Tbk
    SIAP Sekawan Intipratama Tbk
    SIIP Suryainti Permata Tbk
    SIMA Siwani Makmur Tbk
    SIMM Surya Intrindo Makmur Tbk
    SIPD Sierad Produce Tbk
    SKLT Sekar Laut Tbk
    SKYB Skybee Tbk.
    SMAR SMART Tbk
    SMCB Holcim Indonesia Tbk
    SMDM Suryamas Dutamakmur Tbk
    SMDR Samudera Indonesia Tbk
    SMGR Semen Gresik (Persero) Tbk
    SMMA Sinar Mas Multiartha Tbk
    SMMT Eatertainment International
    SMRA Summarecon Agung Tbk
    SMSM Selamat Sempurna Tbk
    SOBI Sorini Agro Asia Corporindo
    SONA Sona Topas Tourism Inds.Tbk
    SPMA Suparma Tbk
    SQBB Taisho Pharmaceutical Indones
    SQBI Taisho Pharmaceutical Indones
    SQMI Renuka Coalindo Tbk.
    SRSN Indo Acidatama Tbk
    SSIA Surya Semesta Internusa Tbk
    SSTM Sunson Textile Manufacture Tb
    STTP Siantar TOP Tbk
    SUGI Sugih Energy Tbk.
    SULI Sumalindo Lestari Jaya Tbk
    TBIG Tower Bersama Infrastructure
    TBLA Tunas Baru Lampung Tbk
    TBMS Tembaga Mulia Semanan Tbk
    TCID Mandom Indonesia Tbk
    TFCO Tifico Fiber Indonesia Tbk.
    TGKA Tigaraksa Satria Tbk
    TINS Timah (Persero) Tbk.
    TIRA Tira Austenite Tbk
    TIRT Tirta Mahakam Resources Tbk
    TKGA Toko Gunung Agung Tbk
    TKIM Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
    TLKM Telekomunikasi Indonesia Tbk
    TMAS Pelayaran Tempuran Emas Tbk
    TMPI AGIS Tbk
    TMPO Tempo Inti Media Tbk
    TOTL Total Bangun Persada Tbk
    TOTO Surya Toto Indonesia Tbk
    TOWR Sarana Menara Nusantara Tbk.
    TPIA Chandra Asri Petrochemical Tb
    TRAM Trada Maritime Tbk
    TRIL Triwira Insanlestari Tbk.
    TRIM Trimegah Securities Tbk
    TRIO Trikomsel Oke Tbk
    TRST Trias Sentosa Tbk
    TRUB Truba Alam Manunggal E. Tbk
    TRUS Trust Finance Indonesia Tbk
    TSPC Tempo Scan Pacific Tbk
    TURI Tunas Ridean Tbk
    ULTJ Ultra Jaya Milk Tbk
    UNIC Unggul Indah Cahaya Tbk
    UNIT Nusantara Inti Corpora Tbk
    UNSP Bakrie Sumatra Plantations Tb
    UNTR United Tractors Tbk
    UNTX Unitex Tbk.
    UNVR Unilever Indonesia Tbk
    VOKS Voksel Electric Tbk
    VRNA Verena Multi Finance Tbk.
    WAPO Wahana Phonix Mandiri Tbk
    WEHA Panorama Transportasi Tbk
    WICO Wicaksana Overseas Int l Tbk
    WIKA Wijaya Karya (Persero) Tbk
    WINS Wintermar Offshore Marine Tbk
    WOMF Wahana Ottomitra Multiartha Tbk
    YPAS Yanaprima Hastapersada Tbk
    YULE Yulie Sekurindo Tbk
    ZBRA Zebra Nusantara Tbk

    Market Research Reports on Banking Industry in Indonesia

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: