Estimasi Persamaan Regresi pada Industri Perbankan di Indonesia: Suatu Analisa Kuantitatif Tingkat Lanjutan Penggunaan Metode Teknik Analisis Data Panel
Jakarta, 15 Juli 2011 10.45
Estimasi Persamaan Regresi pada Industri Perbankan di Indonesia:
Suatu Analisa Kuantitatif Tingkat Lanjutan Penggunaan Metode Teknik Analisis Data Panel
oleh: Sando Sasako
Lead Consultant
Advanced Advocacy Plus
This module is a template, role-model, and/or to make hypothetical analysis to the application of panel data research method on the banking industry in Indonesia. This document is made public internationally so anyone can access, retain, and learn how easily we can to analyse the panel data, i.e. both the cross-section data dan the time-series data. Should you have any queries, inquiries, objection, or whatsoever, kindly submit yours to the author. I thank you in advance.
I would like to acknowledge to any one wholeheartedly and/or partially helping, disguised or not, in assisting this module available to the public. Copyrights infringements should be reported to the author or to file complaints to the initial writers so we can request the courtesy from theirs.
I would also like to address anyone who made their documents available to the public, but protected, you are doing worthlessly. Any painstaking protection efforts to the digital documents would be knocked down, cracked easily in less than a second. Please be aware of it.
Keywords: research methods, analysis methods, quantitative analysis, market research, market study, business study, business research, panel data, banking industry, bursa efek indonesia, bursa efek jakarta, bursa efek surabaya, stock price, financial performance.
Tulisan ini dibuat sebagai template, role-model, analisis hipotetis terhadap aplikasi metode penelitian dan analisis kuantitatif terhadap data panel di industri perbankan di Indonesia.
Step-by-step approach using EViews 7.1. is provided as is, ultimately as requested by many of mostly my desires and curiousity. Enjoy, please reseed. Emang torrent.
Per Januari 2011, sebanyak 121 bank umum dengan 13.970 kantornya beroperasi di Indonesia. Jumlah bank tersebut tidak termasuk jumlah bank yang mengoperasikan unit syariah, bank syariahnya, dan BPR. Jumlah bank umum tersebut terdiri dari 4 bank pemerintah, 36 bank swasta devisa, 31 bank swasta non-devisa, 26 BPD, 14 bank campuran, dan 10 bank asing.
Demi memverifikasi ceklis nama-nama bank yang dimaksud, yang masih aktif, belum ditutup, belum digabung ke bank lain atau lainnya, kami mengalami kesulitan yang cukup menjengkelkan. Pada saat ini, detik-detik ini, server Bank Indonesia sedang down, tidak bisa diakses. Beberapa jam yang lalu, kami bisa mengetahui bahwa laporan keuangan bank-bank umum per Mei 2011 sudah bisa diakses. Berikut ceklis nama-nama bank umum yang (pernah) ada di Indonesia.
Bank Asing
- ABN Amro Bank
- American Express Bank Ltd
- Bank of America, NA
- Bank of China Limited
- Citibank NA
- Deutsche Bank AG
- JP Morgan Chase Bank, NA
- Standard Chartered Bank
- The Bangkok Bank Comp Ltd
- The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Ltd
- The Hongkong & Shanghai BC
Bank Campuran
- ANZ Panin Bank
- Bank Agris
- Bank BNP Paribas Indonesia
- Bank Capital Indonesia, Tbk
- Bank China Trust Indonesia
- Bank Commonwealth
- Bank Credit Agricole Indosuez
- Bank Dai-Ichi Kangyo Indonesia
- Bank DBS Indonesia
- Bank IBJ Indonesia
- Bank KEB Indonesia
- Bank Maybank Syariah Indonesia
- Bank Merincorp
- Bank Mizuho Indonesia
- Bank OCBC Indonesia
- Bank Paribas – BBD Indonesia
- Bank Rabobank Duta
- Bank Rabobank International Indonesia
- Bank Resona Perdania
- Bank Sakura Swadharma
- Bank Societe General Indonesia
- Bank Sumitomo Mitsui Indonesia
- Bank UFJ Indonesia
- Bank UOB Indonesia
- Bank Windu Kentjana International, Tbk
- Bank Woori Indonesia
- Ing Indonesia Bank
- Keppel Tat Lee Buana Bank
- Tokai Lippo Bank
Bank Pemerintah
- Bank Ekspor Indonesia (Persero)
- Bank Mandiri (Persero), Tbk
- Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
- Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk
- Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk
Bank Pembangunan Daerah
- Bank Aceh
- Bank DKI
- Bank Kalteng
- Bank Lampung
- Bank Nagari
- BPD Bali
- BPD Bengkulu
- BPD Jambi
- BPD Jawa Barat dan Banten
- BPD Jawa Tengah
- BPD Jawa Timur
- BPD Kalimantan Barat
- BPD Kalimantan Selatan
- BPD Kalimantan Timur
- BPD Maluku
- BPD Nusa Tenggara Barat
- BPD Nusa Tenggara Timur
- BPD Papua (d/h BPD Irian Jaya)
- BPD Riau Kepri
- BPD Sulawesi Selatan
- BPD Sulawesi Tengah
- BPD Sulawesi Tenggara
- BPD Sulawesi Utara
- BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung
- BPD Sumatera Utara
- BPD Yogyakarta
Bank Swasta Devisa
- Artamedia Bank
- Bank Agroniaga, Tbk
- Bank Antardaerah
- Bank Arta Niaga Kencana
- Bank Artha Graha
- Bank Artha Graha Internasional, Tbk
- Bank BNI Syariah
- Bank Bukopin
- Bank Bumi Arta
- Bank Central Asia Tbk
- Bank CIMB Niaga, Tbk
- Bank Dagang Bali
- Bank Danamon Indonesia Tbk
- Bank Danpac
- Bank Ekonomi Raharja, Tbk
- Bank Ganesha
- Bank Hagakita
- Bank Hana
- Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk
- Bank ICB Bumiputera Tbk
- Bank ICBC Indonesia
- Bank IFI
- Bank Index Selindo
- Bank Internasional Indonesia Tbk
- Bank Kesawan Tbk
- Bank Lippo Tbk
- Bank Maspion Indonesia
- Bank Mayapada International Tbk
- Bank Mega, Tbk
- Bank Mestika Dharma
- Bank Metro Express
- Bank Muamalat Indonesia
- Bank Mutiara, Tbk
- Bank Nusantara Parahyangan,Tbk
- Bank OCBC NISP, Tbk
- Bank Permata Tbk
- Bank Pikko Tbk
- Bank Prasidha Utama
- Bank Sbi Indonesia
- Bank Sinarmas
- Bank Swadesi Tbk
- Bank Syariah Mandiri
- Bank Syariah Mega Indonesia
- Bank Unibank Tbk
- Bank Universal Tbk
- Bank Uob Buana, Tbk
- Bank Windu Kentjana
- Pan Indonesia Bank, Tbk
- Prima Express Bank
Bank Swasta Non-Devisa
- Anglomas Internasional Bank
- Bank Andara
- Bank Artos Indonesia
- Bank Asiatic
- Bank Barclays Indonesia
- Bank BCA Syariah
- Bank Bisnis Internasional
- Bank BRI Syariah
- Bank Dipo International
- Bank Fama Internasional
- Bank Harda Internasional
- Bank Harmoni International
- Bank Ina Perdana
- Bank Jabar Banten Syariah
- Bank Jasa Jakarta
- Bank Kesejahteraan Ekonomi
- Bank Mayora
- Bank Mitraniaga
- Bank Multi Arta Sentosa
- Bank Panin Syariah
- Bank Patriot
- Bank Pundi Indonesia Tbk
- Bank Ratu
- Bank Royal Indonesia
- Bank Sahabat Purba Danarta
- Bank Sinar Harapan Bali
- Bank Syariah Bukopin
- Bank Tabungan Pensiunan Nasional
- Bank Victoria International, Tbk
- Bank Victoria Syariah
- Bank Yudha Bhakti
- Centratama Nasional Bank
- Global International Bank
- Liman International Bank
- Nationalnobu
- Prima Master Bank
Analisis Keunggulan Daya Saing Industri Perbankan
Arsitektur Perbankan Indonesia (API) diharapkan menjadi blue print sekaligus acuan bagi struktur industri perbankan Indonesia yang dianggap ideal bagi BI. Tujuan utama yang digembar-gemborkan adalah konsolidasi industri perbankan di Indonesia melalui mekanisme merger dan akuisisi atau lainnya. Ketentuan prinsipil yang ditegakkan adalah single presence policy. Ketentuan normatif yang harus dijalankan adalah Basel Core Principles (BCP).
Struktur pasar persaingan dalam industri perbankan bisa dilihat berdasarkan besaran nominalnya yang terdapat dalam laporan keuangan seperti modal, aset, kredit, deposito, dan lainnya. Besaran relatifnya dapat dilihat pada indikator kinerja pasar, operasional, fisik, keuntungan, dan lainnya. Ukuran tingkat persaingan dapat dilihat pada tingkat konsentrasi menurut aset finansil, tingkat persaingan antar-bank dalam kredit dan simpanan, persaingan dalam bunga kredit dan bunga tabungan, serta keahlian dalam manajemen risiko finansil dan operasional.
Kebijakan BI, yang bertujuan menciptakan kestabilan pada ketiga sistem sekaligus yakni, sistem perbankan, sistem keuangan, dan sistem pembayaran, berpotensi berdampak buruk pada persaingan dan efisiensi. Ketentuan modal minimum yang tinggi bagi bank merupakan salah satu bentuk barriers to entry dan menisbikan aspek efisiensi. Prinsip umum yang universal adalah agar suatu usaha (bank) bisa efisien, usaha (bank) tersebut tidak harus bermodal tinggi.
Kebijakan BI di bulan Januari 2005 (Pakjan 2005) yang melonggarkan batasan BMPK (L3), dinilai sebagai insentif untuk mendorong (mempercepat) proses konsolidasi perbankan di Indonesia. Konsolidasi cenderung membuat suatu struktur pasar semakin terkonsentrasi, yang pada gilirannya membuat semakin tinggi prilaku (tidak sehat) dalam persaingan usaha yang memaksimalkan keuntungan.
Salah satu dampak persaingan yang potensil adalah excessive risk taking guna memenangkan persaingan dan/atau supaya bisa bertahan hidup. Bentuk persaingan yang umum adalah pada harga (bunga) dan pada produk. Persaingan minimalisasi bunga kredit menurunkan peluang gagal bayar. Di sisi lain, interest spread yang rendah memaksa bank untuk bisa efisien. Bila tidak efisien, biaya overhead akan semakin menggerus keuntungan bank dan akhirnya pada modal bank.
Persaingan harga (bunga) cenderung mengarah pada satu tingkat harga (kesepakatan). Kolusi harga biasa terjadi di pasar persaingan tidak sempurna (oligopolistik). Produk yang homogen memungkinkan terjadinya kartel harga secara terselubung.
Pada persaingan produk, diferensiasi produk bertujuan membuat permintaan menjadi kurang elastis. Permintaan yang tidak elastis berpotensi meningkatkan biaya bagi konsumen bila mengalihkan permintaannya ke bank lain. Secara keseluruhan, prinsip yang dipakai adalah bersaing sehat atau potensi ketidakstabilan industri perbankan (trade-off).
Bank dengan modal terbatas dapat diduga memiliki tingkat diferensiasi yang lebih rendah dibanding bank dengan modal yang lebih besar. Permintaan yang tidak elastis biasanya terdapat di pasar persaingan tidak sempurna dan cenderung monopolistik. Kekuatan monopolistik membuat konsumen tidak berdaya menentukan pilihan dan tidak bisa mengganti (mensubstitusi) produk monopoli tersebut, kecuali dengan opportunity cost yang tinggi.
Diversifikasi produk (bank) cenderung merugikan konsumennya ketika bersifat mengikat (binding, tying in) dengan produk bank generik. Produk bank non-generik meliputi asuransi, kredit pembiayaan, sekuritas, L/C, B/G, dan lainnya.
Tinjauan Filosofis tentang Harga Saham Bank
Harga saham merupakan salah satu indikator kinerja suatu bank. Dinamika harga saham diyakini sebagai akibat faktor-faktor eksternal diluar kontrol manajemen, dan sebagian lainnya akibat keputusan internal yang spesifik ditetapkan manajemen dan biasanya sangat strategis bagi kesinambungan hidup usaha bank.
Oleh karena itu, harga pasar yang tercipta biasanya tidak murni ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Invisible hands yang nyata bisa berbentuk beredarnya secara luas insider information yang sumir dan menciptakan insider trading yang penuh dengan riak kecil di pasar, gelombang tsunami, atau yang terburuk, market cornering, saham satu bank atau beberapa bank digoreng oleh beberapa market makers.
Informasi merupakan dasar utama bagi pembeli dan/atau penjual saham. Informasi sekecil apapun bisa menimbulkan sentimen negatif atau positif terhadap harga saham secara individu, secara industri, ataupun secara keseluruhan pasar. Informasi yang didapat oleh investor biasanya langsung dikapitalisasi (price in, cash in).
Jenis informasi yang bisa mempengaruhi prilaku permintaan investor terhadap harga saham bisa berupa kinerja dan potensi perusahaan dan industri terkait, kondisi politik dan pemerintahan (kebijakan, aturan, ketentuan), kondisi ekonomi makro, dan lainnya. Kondisi ekonomi makro yang menjadi faktor eksternal bisa mencakup harga minyak, PDB, inflasi, bunga, jumlah uang beredar, dan lainnya.
Penetapan perlakuan terhadap harga saham di pasar yang bebas dan efisien tergantung preferensi manajemen yang menginginkan saham semakin likuid (baca: volatile) atau tidak. Semakin rendah harga saham, semakin rendah biaya transaksi dan biaya lainnya di pasar, semakin banyak peran retail investor. Potensi realised profit atau cut loss menjadi pilihan keniscayaan bagi investor.
Sebaliknya, semakin tinggi harga saham, semakin besar biaya transaksi yang harus ditanggung retail investor. Hal ini tidak menjadi masalah bagi insitutional investors. Harga saham yang tinggi biasanya merefleksikan kecenderungan manajemen dan/atau pemegang kendali bank yang kurang menyukai tingginya frekuensi pergantian pemilik saham minoritas.
Ketika harga saham diakui sebagai preferensi manajemen bank, menjadi suatu keniscayaan adanya variabel pengelolaan harga dan jumlah saham yang beredar, frekuensi dan volume saham yang diperdagangkan. Termasuk didalamnya berbagai indikator perusahaan pedagang efek dan/atau investor institusi yang terafiliasi dengan bank sebagai pemilik saham mereka, holding company, atau lainnya.
Manajemen jumlah saham yang beredar bisa dilakukan dengan berbagai mekanisme rights issue, stock split, buy back, pengeluaran convertible securities seperti warrant, ESOP (employee stock option program), saham bonus, atau lainnya.
Konsep Data Panel
Beberapa nama lain dari data panel:
- Pooled data (pengumpulan data time-series dan cross-section).
- Kombinasi time-series dan cross-section.
- Data micropanel.
- Data longitudinal (studi satu variabel atau kelompok subjek menurut waktu).
- Analisis sejarah kejadian (event history analysis).
- Analisis kohort.
Beberapa contoh data panel:
- Data perusahaan dalam satu industri.
- Statistik ekonomi makro.
- Pola prilaku suatu subjek dan/atau objek.
Beberapa jenis data panel:
- Balanced panel, setiap unit observasi (cross-section) memiliki jumlah observasi (time series) yang sama,
- Unbalanced panel, setiap unit observasi (cross-section) memiliki jumlah observasi (time series) yang tidak sama.
Beberapa keuntungan umum menggunakan data panel adalah bersifat lebih informatif, dan lebih banyak variasi variabel. Beberapa keuntungan teknis analisis estimasi menggunakan data panel:
- naiknya jumlah ukuran sampel dan/atau tingkat kepercayaan (df),
- mempelajari dinamika perubahan menurut waktu dan variabel,
- model prilaku yang lebih kompleks (heterogen),
- hasil estimasi regresi yang lebih baik dan lebih efisien, terutama kalau mengukur hanya satu sisi saja seperti murni cross-section atau murni timer-series.
- meminimkan bias penyamarataan (pengagregasian) variabel di seluruh periode.
- kolinieritas antar-variabel yang lebih rendah,
- lebih mengetahui efek tetap pada variabel individu,
- lebih mengetahui efek temporal.
Beberapa kekurangan data panel terlihat pada masalah estimasi dan inferensi, yakni:
- variabel atau responden tidak bersifat acak (non-stokastik).
- pada masa observasi atau survey, satu atau beberapa variabel/responden enggan atau tidak mau melanjutkan sampai waktu atau batas yang telah ditentukan (attrition).
- tidak bisa digunakan pada variabel yang tidak berubah sepanjang waktu observasi seperti status jenis kelamin, ras, dan lainnya.
- masalah klasik pada data cross-section (heteroscedasticity),
- analisis cross-section berpotensi ketidakkonsistenan parameter regresi,
- analisis time-series berpotensi adanya otokorelasi antar observasi (masalah klasik time-series).
- korelasi-silang di unit-unit individu pada waktu yang sama (nilai error dianggap nol, yang berdampak pada standar error yang bias dan tidak konsisten, serta estimator menjadi tidak efisien).
Kerangka Pemikiran
Semua indikator kinerja keuangan bank bisa dijadikan variabel dependent (variabel Y), tergantung cara kita menentukan sudut pandang atau perspektif, variabel apa yang menjadi determinant-nya. Sudut pandang yang baik adalah yang bertumpu pada batu pijakan analisis yang kokoh. Penguasaan teori, terutama filosofi kausalitas, menjadi suatu hal yang mutlak.
Tiga indikator umum yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja perbankan adalah rentabilitas (π), likuiditas (λ), dan solvabilitas (ς). Indikator umum lainnya adalah yang mengukur tingkat kesulitan finansil (financial distress) suatu bank (δ), termasuk didalamnya indikator prediksi kebangkrutan. CAMEL atau EAGLES merupakan dua sistem atau pendekatan yang biasa dipakai untuk menilai kesehatan suatu bank.
- CAMEL merupakan singkatan dari Capital, Asset, Management, Earning, Liquidity.
- EAGLES merupakan singkatan dari Earning ability, Asset Quality, Growth, Liquidity, Equity, Strategic management.
Pembentukan Model
Berdasarkan tinjauan filosofis dan kerangka pemikiran diatas, secara matematis, hubungan diantara variabel kinerja bank tersebut dapat dirumuskan kedalam model hubungan sebagai berikut:
ρ = f ( π, λ, ς, δ )
Data dan Variabel
Dari 121 bank umum yang ada di Indonesia per Januari 2011, hanya 31 bank yang bisa dijadikan objek penelitian. Ke-31 bank yang dimaksud terdiri dari:
|
Kode |
Nama Bank |
Keterangan |
|
AGRO |
Bank Agroniaga Tbk. |
Company listing per 3 Desember 2007, 4 tahun setelah IPO per 8 Agustus 2003 |
|
INPC |
Bank Artha Graha Internasional Tbk |
d/h Inter-Pacific Bank Tbk |
|
BBKP |
Bank Bukopin Tbk |
|
|
BNBA |
Bank Bumi Arta Tbk |
|
|
BACA |
Bank Capital Indonesia Tbk |
d/h Bank Credit Lyonnais Indo., IPO per 4 Okt. 2007 |
|
BBCA |
Bank Central Asia Tbk |
|
|
BNGA |
Bank CIMB Niaga Tbk |
d/h Bank Niaga Tbk |
|
BDMN |
Bank Danamon Tbk |
|
|
BAEK |
Bank Ekonomi Raharja Tbk. |
|
|
SDRA |
Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk |
|
|
BABP |
Bank ICB Bumiputera Tbk |
d/h Bank Bumiputera Indonesia Tbk |
|
BNII |
Bank International Indonesia Tbk |
|
|
BKSW |
Bank Kesawan Tbk |
|
|
BMRI |
Bank Mandiri (Persero) Tbk |
|
|
MAYA |
Bank Mayapada Tbk |
|
|
MEGA |
Bank Mega Tbk |
|
|
BCIC |
Bank Mutiara Tbk |
d/h Bank Century Tbk, Bank CIC International Tbk |
|
BBNI |
Bank Negara Indonesia Tbk |
|
|
BBNP |
Bank Nusantara Parahyangan Tbk |
|
|
NISP |
Bank OCBC NISP Tbk |
d/h Bank NISP Tbk |
|
PNBN |
Bank Pan Indonesia Tbk |
|
|
BNLI |
Bank Permata Tbk |
d/h Bank Bali Tbk |
|
BEKS |
Bank Pundi Indonesia Tbk |
d/h Bank Eksekutif International Tbk |
|
BBRI |
Bank Rakyat Indonesia Tbk |
|
|
BSIM |
Bank Sinarmas Tbk, PT |
|
|
BSWD |
Bank Swadesi Tbk |
|
|
BBTN |
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk |
|
|
BTPN |
Bank Tabungan Pensiunan N. Tbk |
|
|
BVIC |
Bank Victoria Int l. Tbk |
|
|
MCOR |
Bank Windu Kentjana Int l Tbk |
d/h Bank Multicor Tbk, IPO per 3 Juli 2007 |
|
BJBR |
BPD Jawa Barat dan Banten Tbk |
Beberapa catatan tentang bank publik yang tidak bisa menjadi objek penelitian:
- Karena melakukan go private, menyusul terjadinya pergantian kepemilikan usaha.
- Bank Arta Niaga Kencana Tbk (ANKB).
Sebanyak 83% saham Arta Niaga diakuisisi oleh Bank Commonwealth guna memperkuat posisi pasar di wilayah Jawa Timur. Per 31 Agustus 2007, saham Arta Niaga dihapus dari Bursa Efek Indonesia.
Bank Commonwealth telah hadir di Indonesia sejak tahun 1990 dengan izin usaha sebagai Kantor Perwakilan dari Commonwealth Bank of Australia (CBA). Di tahun 1997, Bank Commonwealth membuat bank patungan dengan BII dengan nama BII Commonwealth. Nama bank patungan berubah menjadi Bank Commonwealth pada tahun 2000 seiring semakin besarnya porsi kepemilikan CBA di bank patungan tersebut.
- Bank UOB Buana Tbk (BBIA).
Bank UOB Buana Tbk menjadi go private setelah Overseas Bank Limited (UOB) melalui UOBII (UOB Internasional Investment Private Ltd.) menjadi pemegang saham utama. Melalui penawaran tender, UOBII meningkatkan kepemilikan sahamnya menjadi sebesar 98,997%. Per 20 November 2008, saham UOB Buana dihapus dari Bursa Efek Indonesia.
Bank UOB Buana berdiri pada tahun 1955 dengan nama Bank Buana Indonesia dan menjadi bank publik di tahun 2000. Anak perusahaan Bank Dunia, IFC, merupakan pemegang saham asing pertama setelah rights issue kedua di tahun 2003. UOBII menjadi pemegang saham terbesar kedua setelah Dasa Karsa di tahun 2004.
Di tahun 2005, IFC melepaskan seluruh kepemilikan sahamnya, sementara di sisi lain, UOBII meningkatkan kepemilikan sahamnya menjadi 61,11%. Di tahun 2007, Bank Buana Indonesia Tbk berganti nama menjadi Bank UOB Buana Tbk. Setelah go private di tahun 2008, status Tbk efektif dihilangkan pada tahun 2009. Kebijakan single presence policy dari Bank Indonesia membuat UOB meleburkan usaha banknya yang lain, yakni Bank UOB Indonesia, ke dalam Bank UOB Buana di tahun 2010.
- Karena ditutup atau sejenisnya oleh pemerintah atas nama otoritas moneter atau otoritas fiskal.
| Tabel – Duapuluh tiga bank publik (dan 7 bank non-publik) yang tidak bisa menjadi objek penelitian karena ditutup dan/atau digabung ke bank lain. | ||||||||
| No. | Kode | Nama Bank | Tanggal Efektif | Ket. | Sumber BEJ-1 b) | Sumber BEJ-2 c) | ||
| 1. | BDNI | Bank Dagang Nas. Ind. | 12.03.1999 | 1) | p1 | [historical/PENG-074_BEJ-2-4_c_0399.pdf] | url | 01.03.1999 |
| 2. | MDBN | Bank Modern Tbk | 12.03.1999 | 1) | p2 | [historical/PENG--074_BEJ-2-4_d_0399.pdf] | url | |
| 3. | BNSY | Bank Surya | 12.03.1999 | 1) | p1 | [historical/PENG-074_BEJ-2-4_0399.pdf] | url | 01.03.1999 |
| 4. | BNUM | Bank Umum Nasional | 12.03.1999 | 1) | p1 | [historical/PENG-074_BEJ-2-4_b_0399.pdf] | url | 01.03.1999 |
| 5. | ARYA | Bank Arya Panduarta | 01.04.1999 | 1) | p1 | [historical/PENG-092_BEJ-2-4_e_0499.pdf] | url | 15.03.1999 |
| 6. | BARI | Bank Bahari Tbk | 01.04.1999 | 1) | p1 | [historical/PENG-092_BEJ-2-4_f_0499.pdf] | url | 15.03.1999 |
| 7. | BIRA | Bank Indonesia Raya Tbk | 01.04.1999 | 1) | p1 | [historical/PENG-092_BEJ-2-4_b_0499.pdf] | url | |
| 8. | BNBM | Bank Mashil Tbk | 01.04.1999 | 1) | p1 | [historical/PENG-092_BEJ-2-4_d_0499.pdf] | url | 15.03.1999 |
| 9. | BNPS | Bank Papan Sejahtera | 01.04.1999 | 1) | p1 | [historical/PENG-092_BEJ-2-4_a_0499.pdf] | url | 15.03.1999 |
| 10. | BUSV | Bank Umum Servitia | 01.04.1999 | 1) | p1 | [historical/PENG-092_BEJ-2-4_c_0499.pdf] | url | 15.03.1999 |
| 11. | FCOR | Ficorinvest Bank | 01.04.1999 | 1) | p2 | [historical/PENG-092_BEJ_2-4_g_0499.pdf] | url | 01.09.1998 |
| 12. | IDVS | Bank Indovest Tbk | 26.04.1999 | BBKU | p2 | [historical/PENG-241_BEJ-CAT_0799.pdf] | url | 26.04.1999 |
| 13. | PDFC | Bank PDFCI | 27.06.2000 | d) | p3 | [historical/PENG-0003_BEJ-CAT_012000.PDF] | url | 04.01.2000 |
| 14. | BNTA | Bank Tiara Asia | 27.06.2000 | d) | p1 | [historical/PENG-1075_BEJ-PEM_KI_07-2000.PDF] | url | 06.07.2000 |
| 15. | BDTA | Bank Palapa Tbk | 27.06.2000 | d) e) | p1 | [historical/PENG-1039_BEJ-PEM_06-2000.PDF] | url | 06.07.2000 |
| 16. | TMBN | Bank Tamara Tbk | 27.06.2000 | d) | p3 | [historical/PENG-01075_BEJ-PEM_KI_07-2000.PDF] | url | 06.07.2000 |
| 17. | RAMA | Bank Rama Tbk | 27.06.2000 | d) | p3 | [historical/PENG-01039_BEJ-PEM_06-2000.PDF] | url | 06.07.2000 |
| 18. | Bank Nusa Nasional | 27.06.2000 | d) | |||||
| 19. | Bank Risjad Salim Int’l | 27.06.2000 | d) | |||||
| 20. | Bank Pos Nusantara | 27.06.2000 | d) | |||||
| 21. | Bank Jaya International | 27.06.2000 | d) | |||||
| 22. | UNBN | United City Bank Tbk | 29.10.2001 | 1) a) | p3 | [historical/PENG-532_BEJ-PEM_KI_01-2002.PDF] | url | |
| 23. | BUNI | Bank Universal Tbk | 01.10.2002 | e) | p1 | [historical/PENG-506_BEJ-EEM_09-2002.PDF] | url | 01.10.2002 |
| 24. | Bank Artamedia | 01.10.2002 | e) | |||||
| 25. | Bank Prima Express | 01.10.2002 | e) | |||||
| 26. | Bank Patriot | 01.10.2002 | e) | |||||
| 27. | BDPC | Bank Danpac Tbk | 15.12.2004 | g) | p1 | [PENG-000647_BEJ-PSR_P_12-2004.PDF] | url | |
| 28. | BNPK | Bank Pikko Tbk | 15.12.2004 | g) | p1 | [PENG-00647_BEJ-PSJ_P_12-2004.PDF] | url | 15.12.2004 |
| 29. | BGIN | Bank Global Intl Tbk | 18.01.2005 | i) | p1 | [PENG-001_BEJ-PSJ_DEL_01-2005.PDF] | url | |
| 30. | LPBN | Bank Lippo Tbk | 01.11.2008 | h) | p2 | [PENG-001_BEJ-PEM_DEL_03-2000.pdf] | url | |
| Catatan: | ||||||||
| 1) Ditutup.a) Dikuasai BPPN, Oktober 2000, karena memberikan kredit berlebihan ke perusahaan terkait RGM, APRIL, dan lainnya.b) http://202.155.2.90/issuers.asp?cmd=delistedc) http://202.155.2.84/listed/delist.asp?x=0&o=Delisting_Date&code=d) Menjadi bagian Bank Danamon Tbk. | e) d/h Bank Duta Tbk.f) Menjadi bagian Bank Permata Tbk.g) Menjadi bagian Bank Century Tbk.h) Menjadi bagian Bank CIMB Niaga Tbk.i) Dicabut izin usahanya. | |||||||
Operasionalisasi Variabel
Beberapa indikator rentabilitas yang mungkin:
- Net Interest Margin (NIM).
- Net Profit Margin (NPM).
- Operating Cost Ratio (OCR).
- Return on Asset (ROA).
- Return on Equity (ROE).
Beberapa indikator likuiditas yang mungkin:
- Cash Ratio (CR).
- Loan to Asset Ratio (LAR).
- Loan to Deposit Ratio (LDR).
- Rasio kewajiban bersih call money (RCM).
- Reserved Requirement (RR).
Beberapa indikator solvabilitas yang mungkin:
- Capital Adequacy Ratio (CAR).
- Debt to Equity Ratio (DER).
- Long-term Debt to Asset Ratio (LDAR).
Beberapa indikator harga saham yang mungkin:
- Book/market equity (≈ book/price).
- DCF (Discounted Cash Flow).
- DDM (Dividend Discount Model).
- Deviden per saham (dividends per share).
- Dividend/price.
- Earnings to price ratio.
- EPS (earnings per share).
- Harga saham nominal.
- Kapitalisasi pasar.
- Nilai buku (book value).
- PBV (price/book value).
- PCF (price/cash flow).
- PDR (price/dividends).
- PER (price to earning ratio).
Beberapa indikator kesulitan finansil yang mungkin:
- capital turnover,
- cash position,
- financial leverage,
- inventory turnover,
- rasio aktiva lancar terhadap kewajiban lancar (current assets / current liabilities).
- rasio arus kas terhadap total utang (cash flow / total debt).
- rasio arus kas terhadap utang jangka panjang (cash flow / long-term debt).
- rasio EBIT terhadap total aset (EBIT / total assets).*
- rasio kas terhadap kewajiban lancar (cash / current liabilities).
- rasio keuntungan bersih terhadap total aktiva (net income / total assets).
- rasio laba ditahan terhadap total aset (retained earnings / total assets).*
- rasio modal kerja terhadap penjualan (working capital / sales).
- rasio modal kerja terhadap total aset (working capital / total assets).*
- rasio nilai pasar dari saham terhadap nilai buku dari utang (market value of stock / book value of debt).*
- rasio penjualan terhadap total aset (sales / total assets).*
- rasio total utang terhadap total aset (total debt / total assets).
- receivables turnover.
- return on investment,
- short-term liquidity,
Asumsi Klasik dalam Penaksiran (Estimasi) Model (Persamaan Regresi)
Dalam menaksir model di atas, beberapa asumsi utama dalam menerapkan aplikasi metode OLS (ordinary least square), antara lain (Ghozali, 2001:43):
- Model bersifat linier, yakni dalam parameter.
- Variabel X diasumsikan bersifat non-stokastik, yakni dianggap tetap dalam sampel yang berulang.
- Nilai rata-rata kesalahan adalah nol, atau E (ui/Xi) = 0.
- Homoskedastisitas, yakni varians kesalahan sama untuk setiap periode (homo = sama, skedastisitas = sebaran), atau Var (ui/Xi) = s².
- Tidak ada otokorelasi di antara nilai kesalahan, yakni antara ui dan uj tidak ada korelasinya, atau Cov (ui, uj) = 0.
- Antara u dan X bersifat saling bebas, atau Cov (ui, Xi) = 0.
- Tidak ada multikolinieritas yang sempurna antar variabel bebas.
- Jumlah observasi (n atau N) harus lebih besar dari jumlah parameter yang diestimasi (jumlah variabel bebas).
- Adanya variabilitas dalam nilai X, yakni nilai X harus berbeda (tidak boleh sama semua).
- Model regresi telah dispesifikasi secara benar, yakni tidak ada bias (kesalahan) dalam spesifikasi model yang digunakan dalam melakukan analisa empiris.
Teknik Analisis Data Panel
Proses pengolahan dan penghitungan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan program eviews. Objek penelitian yang bersifat time-series dan cross-section sekaligus, membuatnya disebut data panel. Ciri utama data panel adalah jumlah variabel yang lebih banyak daripada jumlah waktu observasi.
Setidaknya ada 3 pendekatan yang bisa dilakukan dalam mengestimasi model data panel, yakni:
- pooled least square (PLS), dimana konstanta mengasumsikan kesamaan error di semua variabel individu (cross-section) dan periode (time-series).
- model efek tetap (FEM), dimana konstanta berisi error yang sama di semua variabel individu (cross-section) atau periode (time-series).
- model efek acak (REM), dimana variabel error berbeda di semua variabel individu (cross-section) dan/atau periode (time-series).
| Tabel – Perbandingan koefisien variabel menurut model uji dan analisis covarians | ||
| Metode Uji | Cov[miXit]=0 | Cov[miXit]¹0 |
| Pooled OLS | Konsisten | Tidak Konsisten |
| Random Effects | Konsisten, efisien | Tidak Konsisten |
| Fixed Effects | Konsisten | Konsisten |
| Sumber: Sri Yani Kusumastuti, Model Regresi Data Panel. | ||
Teknik Pemilihan Model Terbaik antara PLS dan FEM
Penilaian model yang terbaik antara PLS dan FEM dibuat berdasarkan hasil uji Chow. Uji Chow mengasumsikan adanya heterogenitas karakteristik di setiap bank, yakni dengan hipotesa nol bahwa tidak ada heterogenitas individu dan hipotesa alternatifnya adalah bahwa terdapat heterogenitas pada cross section.
H0 : α1 = α2 = α3 = …. = αi, Common Effect
Ha : α1 ≠ α2 ≠ α3 ≠ …. ≠ αi, Individual Effect
Secara matematis, uji Chow bisa dilakukan dengan membandingkan antara nilai F-hitung dengan F-tabel. Bila F-hitung lebih kecil dari F-tabel, maka PLS merupakan model yang lebih baik dari model FEM. Sebaliknya, bila F-hitung lebih besar dari F-tabel, maka FEM merupakan model yang lebih baik dari model PLS.
Ho = Model PLS lebih baik.
Ha = Model FEM lebih baik.
Ketika peluang F tidak signifikan, berarti cov(x,u)=0. Implikasinya adalah data panel akan menjadi lebih baik diestimasi dengan menggunakan model REM. Tujuannya adalah untuk mendapatkan nilai estimator yang tidak bias, konsisten, dan efisien.
Teknik Pemilihan Model Terbaik antara FEM dan REM
Pemilihan model terbaik antara FEM dan REM dapat dilakukan dengan membandingkan jumlah variabel (n) dengan banyaknya observasi (t). Cara kedua adalah dengan membandingkan korelasi antara nilai error dengan nilai variabel yang diobservasi cov(xit, ui).
Ho: cov(xit, ui) = 0
Model REM lebih baik;
Pada estimasi model REM, koefisien setiap variabel diasumsikan bersifat acak dari populasi yang lebih besar dengan nilai rata-rata konstan. Estimasi dengan menggunakan model REM akan menghasilkan estimator yang efisien, konsisten, dan tidak bias; Estimator REM bersifat konsisten di hipotesis Ho dan tidak konsisten di hipotesis Ha.
Ha: cov(xit, ui) ≠ 0
Model FEM lebih baik.
FEM umumnya digunakan ketika ada korelasi antara koefisien estimasi setiap variabel (individual intercept) dan variabel bebasnya. Estimator hasil FEM bersifat konsisten kedua hipotesis (Ho dan Ha). Hasil FEM bisa membuat nilai estimator unbiased, consistent, tetapi relatif tidak efisien bila dibandingkan dengan hasil estimasi dengan REM.
Cara ketiga adalah dengan menggunakan statistik hasil uji Hausman. Nilai χ² (Chi-Square) terdistribusi secara asimptot. Inferensinya adalah bila peluang χ² lebih dari 0,05, maka model REM adalah lebih baik dari model FEM. Sebaliknya, bila peluang χ² (Chi-Square) kurang dari (α) 0,05, maka model FEM adalah lebih baik dari model REM.
| Tabel – Beberapa kondisi dalam penetapan pemilihan model FEM atau REM | ||
| Kondisi 1 | Kondisi 2 | Pemilihan model |
| t > n | FEM | |
| t < n | tidak-acak, non-stokastik | FEM |
| acak, stokastik | REM | |
| ei ≈ Xi | (berkorelasi) | FEM |
| ei ≠ Xi | (tidak berkorelasi) | REM |
| t < n | asumsi REM terpenuhi | estimator REM lebih baik dari FEM |
Pengujian Pelanggaran Asumsi Klasik dan Lainnya
- Uji Normalitas.
- Adanya heteroscedastisitas.
- Dengan mengaktifkan pilihan cross-section weights, EViews mengestimasi keberadaan cross-section heteroscedasticity dengan spesifikasi GLS.
GLS (Generalized Least Squares) digunakan untuk berbagai pola korelasi diantara residu. Empat struktur varians dasar yang bisa diestimasi dengan metode GLS adalah:
1) cross-section specific heteroscedasticity,
2) period specific heteroscedasticity,
3) contemporaneous covariances, dan
4) between period covariances.
- Dengan mengaktifkan pilihan cross-section SUR, EViews mengestimasi dengan spesifikasi GLS sekaligus melakukan koreksi atas:
1) cross-section heteroscedasticity,
2) korelasi kontemporer.
- Dengan mengaktifkan pilihan period weights, EViews mengestimasi keberadaan period heteroscedasticity dengan spesifikasi GLS.
- Dengan mengaktifkan pilihan period SUR, EViews mengestimasi dengan spesifikasi GLS sekaligus melakukan koreksi atas:
1) period heteroscedasticity,
2) korelasi umum dari objek yang diobservasi pada data cross-section.
- Adanya otokorelasi.
- Keberadaan otokorelasi bisa diuji dengan metode Autocorrelation LM Test atau Portmanteau Autocorrelation Test.
- Korelogram mengilustrasikan otokorelasi dan otokorelasi parsial dari seri pertama di kelompok.
- Korelasi silang. Untuk melihat korelasi silang antar variabel, matriks korelasinya perlu dibuatkan.
Matriks korelasi memperlihat nilai koefisien korelasi antar variabel. Bila nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0,7, maka ada indikasi terjadinya multikolinieritas. Jika multikolinieritasnya menggangu, maka perlu dilakukan kalkulasi ulang terhadap variabel (tinkering). Indikasi multikolinieritas yang mengganggu adalah nilai R² tinggi sedangkan uji t tidak ada satupun variabel bebas yang signifikan atau banyak nilai uji t dari variabel bebas yang tidak signifikan.
- Adanya multikolinieritas (atau uji antar-variabel), dengan VIFs sebagai indikator, perimeter.
VIFs (Variance Inflation Factors) merupakan metode pengukuran derajat kolinieritas antara berbagai regressor dalam satu persamaan. VIFs dihitung dari matriks varians-kovarians dari koefisien, pilihan standard error yang kuat wujud dalam VIFs.
- Uji spesifikasi model, ditandai dengan terciptanya blue, best linear unbiased estimator. Tiga metode yang biasa dipakai adalah:
- Nilai F-statistik.
- Uji (heteroscedastisitas) White dimana Ho menggarisbawahi pengujian asumsi bahwa (standard) error bersifat homoscedastis dan tidak tergantung pada regressors. Indikator (statistik) uji White adalah jumlah obervasi dikali R².
- Nilai LM-statistik, merupakan jumlah akar regresi tambahan dibagi 24. Nilai ini didistribusikan sebagai distribusi chi-squared dengan df sama dengan jumlah koefisien regresi (slope coefficients) tanpa konstanta dalam regresi tambahan.
Nilai statistik yang tidak signifikan mengimplikasikan tidak adanya pelanggaran pada 3 kondisi tersebut.
Pengujian Spesifik pada Metode Analisis Data Panel
- Uji unit root.
Uji akar unit dilakukan untuk mengetahui apakah data stasioner atau tidak (stasioner = memiliki rata-rata dan varians yang konstan). Pengujian ini dilakukan per variabel. Analisis data time series memerlukan data yang stasioner agar terjadi kointegrasi.
- Uji kointegrasi.
Uji kointegrasi dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan jangka panjang atau tidak antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas.
- Jika ada hubungan jangka panjang, maka harus digunakan model dinamis.
- Jika tidak ada hubungan jangka panjang, maka digunakan model OLS, GLS tepatnya, yakni model panel non-dinamis.
Tahapan Estimasi Persamaan Regresi dengan EViews versi 7.1.
A. Metode Pooled Least Square
1. Data panel biasanya dicirikan dengan jumlah kolom (atau variabel) yang lebih banyak dari jumlah baris (atau lama observasi). Akibatnya, mekanisme copy-paste pada Microsoft Excel 2007 atau 2010 tidak bisa dilakukan pada EViews. Atau karena sistem operasi yang dipakai penulis adalah (Windows XP) 32-bit? Oleh karena itu, data dari Microsoft Excel 2007 harus diekspor kedalam bentuk teks atau csv. Setelah data tersedia dalam bentuk teks atau csv, EViews bisa mengimpor data tersebut ke dalam sistem mereka.
- Organisasi data panel di Excel
1) Keterbatasan utama Excel 97-2003 adalah matriks data 256 x 65.536 (kolom x baris).
Jumlah kolom yang tersedia adalah 256 (kolom IV), dan jumlah baris adalah 65.536.
Angka 256 merupakan hasil dari 2 pangkat 8 (ditulis 2^8) atau 4^4 atau 16^2.
Angka 65.536 merupakan hasil 2^10 atau 4^5 atau 32^2.
2) Matriks data pada Excel 2007 dan 2010 adalah 16.384 x 1.048.576 (kolom x baris).
Jumlah kolom yang tersedia adalah 16.384 (kolom XFD), dan jumlah baris adalah 1.048.576.
Angka 16.384 merupakan hasil dari 2^14 atau 4^7.
Angka 1.048.576 merupakan hasil dari 2^20 atau 4^10 atau 16^5 atau 32^4.
3) Matriks data pada OpenOffice 3.1.0 adalah 1.024 x 65.536 (kolom x baris).
Jumlah kolom yang tersedia adalah 1.024 (kolom AMJ), dan jumlah baris adalah 65.536.
Angka 1.024 merupakan hasil 2^10 atau 4^5 atau 32^2.
Angka 65.536 merupakan hasil 2^16 atau 4^8 atau 16^4.
- Data ditumpuk dan diurut menurut nama bank dan waktu (data stacked by cross-section).
Kolom 1 adalah nama bank. EViews menyebutnya sebagai cross identifiers, dengan pengkodean “_bank01”. Tigapuluh satu dari 121 bank adalah bank publik yang harga sahamnya bisa terpantau secara periodik, dari waktu ke waktu.
Kolom 2 adalah bulan laporan keuangan, dibuat dengan format YYYY-MM. Tujuhbelas bulan laporan keuangan bank tersedia selama periode observasi, yakni sejak Januari 2010 sampai Mei 2011.
Kolom 3 dst adalah variabel yang diobservasi (misalnya X1 sampai X44).
Duapuluh dua variabel bebas yang potensil diatas bisa divariasikan menjadi 44 variabel.
- Data ditumpuk dan diurut menurut waktu (data stacked by time-series).
Kolom 1 adalah bulan laporan keuangan, dibuat dengan format YYYY-MM.
Kolom 2 adalah nama bank, dibuat dengan kode “_bank01”.
Kolom 3 dst adalah variabel yang diobservasi (misalnya X1 sampai X44).
- Data tidak ditumpuk tapi diurut menurut waktu (unstacked data).
Kolom 1 adalah bulan laporan keuangan, dibuat dengan format YYYY-MM.
Kolom 2 dst adalah variabel yang diobservasi (misalnya X1 sampai X44) dimana nama variabel diketik-sambung dengan kode _bank01 sehingga tertulis menjadi X1_bank01 sampai X44_bank31.
Bila menggunakan cara data yang tidak ditumpuk, kolom yang tercipta adalah sebanyak 1.364, sebagai hasil kali dari 44 variabel bebas dan 31 bank publik.
2. Setelah data berhasil diimpor kedalam EViews, blok semua variabel dengan menekan tombol Ctrl-A. kemudian pilih tab Object dan New Object.
3. Pilih Pool dan tombol OK.
4. EViews kemudian akan meminta masukan kode nama bank, disebut Cross Section Identifiers, yakni _bank01 sampai _bank31.
5. Memulai langkah estimasi dengan memilih tab Proc dan Estimate.
6. Pada menu Pool Estimation, tab Specification,
- Pada kolom isian di bawah frase “Dependent variable”, ketik inisial variabel dependent seperti yang telah dibuat di Excel diiringi dengan tanda “?”. Harga saham diindikasikan dengan variabel p.
- Dalam kotak “Regressors and AR () terms”, pada kolom isian di bawah frase “Common coefficients:”, ketik inisial variabel bebasnya, dimulai dari konstanta c yang tanpa tanda ?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian variabel bebas pertama x1?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian x2?, dan seterusnya sampai x44?.
- Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Fixed dan Random Effects”, pada kolom “Cross-section” dipilih “None”, pada kolom “Period” dipilih “None”.
- Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Weights”, pada kolom “Weights” dipilih “No weights”.
- Dalam kotak “Estimation settings”, pastikan metode yang dipakai adalah “LS – Least Squares (and AR)”, dan samplenya ada pada kurun waktu Januari 2010 sampai Mei 2011 (tertulis “2010m01 2011m05”).
7. Pada menu Pool Estimation, tab Options,
- Pastikan “Coef covariance method” yang dipakai adalah “Ordinary”, dan
- “Coefficient name” yang tertulis adalah “C”.
8. Hasil estimasi PLS berupa tabel berikut.
|
Dependent Variable: P? |
||||
|
Method: Pooled Least Squares |
||||
|
Date: 07/16/11 Time: 04:56 |
||||
|
Sample: 2010M01 2011M05 |
||||
|
Included observations: 17 |
banyak bulan obsevasi |
|||
|
Cross-sections included: 30 |
banyak bank minus 1 |
|||
|
Total pool (balanced) observations: 510 |
= 17 x 30 |
|||
|
Variable |
Coefficient |
Std. Error |
t-Statistic |
Prob. |
|
C |
||||
|
X1? |
||||
:
:
|
X44? |
||||
|
R-squared |
Mean dependent var |
|||
|
Adjusted R-squared |
S.D. dependent var |
|||
|
S.E. of regression |
Akaike info criterion |
|||
|
Sum squared resid |
Schwarz criterion |
|||
|
Log likelihood |
Hannan-Quinn criter. |
|||
|
F-statistic |
Durbin-Watson stat |
|||
|
Prob(F-statistic) |
||||
B. Metode Fixed Effect Model
Sebagai langkah kedua dalam estimasi persamaan regresi dengan metode Fixed Effects Model, tahapan yang harus diulang adalah dimulai dari tahapan nomor 5 pada Metode Pooled Least Square.
5. Memulai langkah estimasi dengan memilih tab Proc dan Estimate.
6. Pada menu Pool Estimation, tab Specification,
- Pada kolom isian di bawah frase “Dependent variable”, ketik inisial variabel dependent seperti yang telah dibuat di Excel diiringi dengan tanda “?”. Harga saham diindikasikan dengan variabel p.
- Dalam kotak “Regressors and AR () terms”, pada kolom isian di bawah frase “Common coefficients:”, ketik inisial variabel bebasnya, dimulai dari konstanta c yang tanpa tanda ?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian variabel bebas pertama x1?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian x2?, dan seterusnya sampai x44?.
- Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Fixed dan Random Effects”, pada kolom “Cross-section” dipilih “Fixed”, pada kolom “Period” dipilih “Fixed”.
- Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Weights”, pada kolom “Weights” dipilih “No weights”.
- Dalam kotak “Estimation settings”, pastikan metode yang dipakai adalah “LS – Least Squares (and AR)”, dan samplenya ada pada kurun waktu Januari 2010 sampai Mei 2011 (tertulis “2010m01 2011m05”).
7. Hasil estimasi metode FEM berupa tabel berikut.
|
Dependent Variable: P? |
||||
|
Method: Pooled Least Squares |
||||
|
Date: 07/16/11 Time: 04:56 |
||||
|
Sample: 2010M01 2011M05 |
||||
|
Included observations: 17 |
banyak bulan obsevasi |
|||
|
Cross-sections included: 30 |
banyak bank minus 1 |
|||
|
Total pool (balanced) observations: 510 |
= 17 x 30 |
|||
|
Variable |
Coefficient |
Std. Error |
t-Statistic |
Prob. |
|
C |
||||
|
X1? |
||||
:
:
|
X44? |
||||
|
Fixed Effects (Cross) |
|
|
|
|
|
_BANK01–C |
:
:
|
_BANK31–C |
|
|
Fixed Effects (Period) |
|
|
2010M01–C |
:
:
|
2011M05–C |
||||
|
Effects Specification |
||||
|
Cross-section fixed (dummy variables) |
|
|||
| Period fixed (dummy variables) | ||||
|
R-squared |
Mean dependent var |
|||
|
Adjusted R-squared |
S.D. dependent var |
|||
|
S.E. of regression |
Akaike info criterion |
|||
|
Sum squared resid |
Schwarz criterion |
|||
|
Log likelihood |
Hannan-Quinn criter. |
|||
|
F-statistic |
Durbin-Watson stat |
|||
|
Prob(F-statistic) |
||||
C. Metode Random Effect Model
Sebagai langkah ketiga dalam estimasi persamaan regresi dengan metode Random Effects Model, tahapan yang harus diulang adalah dimulai dari tahapan nomor 5 pada Metode Pooled Least Square.
5. Memulai langkah estimasi dengan memilih tab Proc dan Estimate.
6. Pada menu Pool Estimation, tab Specification,
- Pada kolom isian di bawah frase “Dependent variable”, ketik inisial variabel dependent seperti yang telah dibuat di Excel diiringi dengan tanda “?”. Harga saham diindikasikan dengan variabel p.
- Dalam kotak “Regressors and AR () terms”, pada kolom isian di bawah frase “Common coefficients:”, ketik inisial variabel bebasnya, dimulai dari konstanta c yang tanpa tanda ?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian variabel bebas pertama x1?, ketik spasi sebagai pemisah, kemudian x2?, dan seterusnya sampai x44?.
- Dalam kotak “Estimation method”, di bawah frase “Fixed dan Random Effects”, pada kolom “Cross-section” dipilih “Fixed”, pada kolom “Period” dipilih “Random”.
- Dalam kotak “Estimation settings”, pastikan metode yang dipakai adalah “LS – Least Squares (and AR)”, dan samplenya ada pada kurun waktu Januari 2010 sampai Mei 2011 (tertulis “2010m01 2011m05”).
7. Hasil estimasi metode REM berupa tabel berikut.
|
Dependent Variable: P? |
||||
| Method: Pooled EGLS (Period random effects) | ||||
|
Date: 07/16/11 Time: 04:56 |
||||
|
Sample: 2010M01 2011M05 |
||||
|
Included observations: 17 |
banyak bulan obsevasi |
|||
|
Cross-sections included: 30 |
banyak bank minus 1 |
|||
|
Total pool (balanced) observations: 510 |
= 17 x 30 |
|||
| Swamy and Arora estimator of component variances | ||||
|
Variable |
Coefficient |
Std. Error |
t-Statistic |
Prob. |
|
C |
||||
|
X1? |
||||
:
:
|
X44? |
||||
|
Fixed Effects (Cross) |
|
|
|
|
|
_BANK01–C |
:
:
|
_BANK31–C |
|
|
Random Effects (Period) |
|
|
2010M01–C |
:
:
|
2011M05–C |
||||
|
Effects Specification |
||||
|
S.D. |
Rho |
|||
| Cross-section fixed (dummy variables) | ||||
| Period random | ||||
| Idiosyncratic random | ||||
|
Weighted Statistics |
||||
|
R-squared |
Mean dependent var |
|||
|
Adjusted R-squared |
S.D. dependent var |
|||
|
S.E. of regression |
Sum squared resid |
|||
|
F-statistic |
Durbin-Watson stat |
|||
|
Prob(F-statistic) |
|
|||
|
Unweighted Statistics |
||||
| R-squared |
|
Mean dependent var |
|
|
| Sum squared resid |
|
Durbin-Watson stat |
|
|
Analisis Hasil Regresi
Interpretasi Hasil Estimasi – Pooled Least Square
Empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi –yakni … variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, dan … variabel kesulitan finansil– secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio …. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fstat (…) yang lebih besar dari nilai Ftabel (df=n-k,k) (5%=…) (…); atau nilai signifikansi Fstat (0,000) yang lebih kecil dari nilai kepercayaan (α=0,05).
Adjusted R2 yang bernilai … diartikan bahwa keempatpuluh-empat variabel bebas tersebut hanya mampu menjelaskan prilaku harga saham dari spesifikasi atau rasio … sebesar …%. Dengan kata lain, model pada persamaan bukanlah model yang bersifat goodness of fit. Indikasi awal terlihat pada grafik setiap variabel yang tidak berjalan searah, khususnya sesuai pergerakan waktu. Selain itu, periode observasi yang jelas bersifat siklikal, yakni berdasarkan periode waktu bulanan.
Dari empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi, … variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, … variabel kesulitan finansil, dan konstanta masing-masingnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio … pada α=5%.
Sebanyak … variabel yang dimaksud adalah …. Per definitif, variabel yang dimaksud adalah ….
| Tabel – Bentuk hubungan dan pengali signifikan terhadap harga saham pada metode PLS | ||
|
Variabel |
Koefisien atau pengali terhadap harga saham |
Hubungan |
|
x1… |
… |
– / + |
|
… |
… |
– / + |
|
x44… |
… |
– / + |
Interpretasi Hasil Estimasi – Fixed Effect Model (FEM)
Empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi –yakni … variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, dan … variabel kesulitan finansil– secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio …. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fstat (…) yang lebih besar dari nilai Ftabel (df=n-k,k) (5%=…) (…); atau nilai signifikansi Fstat (0,000) yang lebih kecil dari nilai kepercayaan (α=0,05).
Adjusted R2 yang bernilai … diartikan bahwa keempatpuluh-empat variabel bebas tersebut mampu menjelaskan prilaku harga saham dari spesifikasi atau rasio … sebesar …%. Dengan kata lain, model pada persamaan adalah model yang bersifat goodness of fit.
Dari empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi, … variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, … variabel kesulitan finansil, dan konstanta masing-masingnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio … pada α=5%.
Sebanyak … variabel yang dimaksud adalah …. Per definitif, variabel yang dimaksud adalah ….
| Tabel – Bentuk hubungan dan pengali signifikan terhadap harga saham pada metode FEM | ||
|
Variabel |
Koefisien atau pengali terhadap harga saham |
Hubungan |
|
x1… |
… |
– / + |
|
… |
… |
– / + |
|
x44… |
… |
– / + |
Interpretasi Hasil Estimasi – Random Effect Model (REM)
Empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi –yakni … variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, dan … variabel kesulitan finansil– secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio …. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fstat (…) yang lebih besar dari nilai Ftabel (df=n-k,k) (5%=…) (…); atau nilai signifikansi Fstat (0,000) yang lebih kecil dari nilai kepercayaan (α=0,05).
Adjusted R2 yang bernilai … diartikan bahwa keempatpuluh-empat variabel bebas tersebut mampu menjelaskan prilaku harga saham dari spesifikasi atau rasio … sebesar …%. Dengan kata lain, model pada persamaan adalah model yang bersifat goodness of fit.
Dari empatpuluh empat variabel bebas dalam persamaan yang ingin diestimasi, … variabel likuiditas, … variabel rentabilitas, … variabel solvabilitas, … variabel kesulitan finansil, dan konstanta masing-masingnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio … pada α=5%.
Sebanyak … variabel yang dimaksud adalah …. Per definitif, variabel yang dimaksud adalah ….
| Tabel – Bentuk hubungan dan pengali signifikan terhadap harga saham pada metode REM | ||
|
Variabel |
Koefisien atau pengali terhadap harga saham |
Hubungan |
|
x1… |
… |
– / + |
|
… |
… |
– / + |
|
x44… |
… |
– / + |
Pada α=10%, … variabel lainnya yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan variabel terikat harga saham dari spesifikasi atau rasio … adalah …. Per definitif, … variabel yang dimaksud adalah ….
Pemilihan Model PLS dan FEM
Pemilihan model yang lebih baik antara PLS dan FEM dapat ditentukan dengan uji Chow. Bila F-hitung lebih besar dari F-tabel, maka Ho (yang menyatakan model PLS adalah lebih baik dari FEM) ditolak dan Ha (yang menyatakan model FEM adalah lebih baik dari PLS) diterima.
Mengacu pada nilai F-tabel (0,05: …) = …, yang lebih kecil dari F-hitung, maka Ho ditolak, dan Ha diterima. Hal ini berarti model FEM adalah lebih baik dari PLS.
Pemilihan Model FEM dan REM – Uji Hausman
Pemilihan model yang lebih baik antara FEM dan REM dapat ditentukan dengan uji Hausman. Inferensinya adalah bila peluang χ² (Chi-Square) lebih dari 0,05, maka model REM adalah lebih baik dari model FEM. Sebaliknya, bila peluang χ² (Chi-Square) kurang dari (α) 0,05, maka model FEM adalah lebih baik dari model REM.
Ho = Model REM lebih baik.
Ha = Model FEM lebih baik.
Memulai langkah Uji Hausman dilakukan dengan memilih tab View, Fixed/Random Effect Testing, dan Correlated Random Effects – Hausman Test.
Hasil Uji Hausman berupa tabel berikut.
| Correlated Random Effects – Hausman Test | Period random effects test equation: | ||||||||||
| Pool: POOL01 | Dependent Variable: P? | ||||||||||
| Test period random effects | Method: Panel Least Squares | ||||||||||
| Test Summary | Chi-Sq. Stat. |
Chi-Sq. d.f. |
Prob. |
Sample: 2010M01 2011M05 | |||||||
| Period random | … |
44 |
… |
Included observations: 17 | |||||||
| Cross-sections included: 30 | |||||||||||
| Period random effects test comparisons: | Total pool (balanced) observations: 510 | ||||||||||
|
Variable |
Fixed |
Random |
Var(Diff.) |
Prob. |
Variable |
Coefficient |
Std. Error |
t-Statistic |
Prob. |
||
|
C |
… |
… |
… |
… |
|||||||
|
X1? |
… |
… |
… |
… |
X1? |
… |
… |
… |
… |
||
|
: |
… |
… |
… |
… |
: |
||||||
|
: |
… |
… |
… |
… |
: |
||||||
|
X44? |
… |
… |
… |
… |
X44? |
… |
… |
… |
… |
||
|
Effects Specification |
|||||||||
| Cross-section fixed (dummy variables) | |||||||||
| Period fixed (dummy variables) | |||||||||
| R-squared |
Mean dependent var |
||||||||
| Adjusted R-squared |
S.D. dependent var |
||||||||
| S.E. of regression |
Akaike info criterion |
||||||||
| Sum squared resid |
Schwarz criterion |
||||||||
| Log likelihood |
Hannan-Quinn criter. |
||||||||
| F-statistic |
Durbin-Watson stat |
||||||||
| Prob(F-statistic) | |||||||||
Mengacu pada nilai peluang χ² (Chi-Square), yang lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak, dan Ha diterima. Hal ini berarti model FEM adalah lebih baik dari REM.
Kesimpulan
Berdasarkan uji Hausman, model FEM adalah lebih baik dari model REM. Berdasarkan uji Chow, model FEM juga lebih baik dari model PLS. Demikian pula pada nilai statistik F dan adjusted R2. Pembandingan nilai statistik F dan adjusted R2 pada ketiga model estimasi (PLS, FEM, REM), memperliharkan nilai adjusted R2 tertinggi terjadi pada model FEM.
| Tabel – Pembandingan nilai F dan adjusted R2 pada α=5% pada 3 model estimasi | ||||||
|
Model |
F |
sig |
Adj R2 |
GOF |
Efek Variabel, sig Å |
Efek Variabel, sig – |
| FEM |
… |
ü |
… |
ü |
… |
… |
| REM |
… |
ü |
… |
ü |
… |
… |
| PLS |
… |
ü |
… |
x |
… |
… |
Memasukkan hasil estimasti pada model FEM kepada model persamaan yang ingin diestimasi, maka hasil persamaan yang diestimasi dapat dibuat ke dalam persamaan berikut:
p =… ….x1 + ….x2 …. + …x44
t … … … … …
ρ … … … … …
R² = …
Adjusted R² = …
F-stat = …
ρ (F-stat) = …
D-W = …
Pada model FEM, hanya … variabel yang signifikan memberikan efek negatif, yakni …. Pada dua model lainnya, jumlah variabel yang signifikan memberikan pengaruh negatif adalah lebih banyak, yakni … pada REM dan … pada PLS.
Pada tabel hasil regresi dengan menggunakan metode FEM, variabel dan koefisien FE pada cross, nilai … hanya terpaut lebih rendah … dari harga rata-rata saham Bank … setiap akhir bulannya, atau lebih rendah …% dari nilai aktualnya (…).
Hal ini diartikan, ketika semua variabel bebas bernilai nol, maka harga rata-rata saham tertinggi alami ada pada saham Bank … (_BANK#–C) dengan nilai sebesar … (jumlah antara konstanta dengan koefisien BANK#—C, yakni … dan …).
| Tabel – Hasil regresi dengan menggunakan metode Fixed Effect, variabel dan koefisien FE pada cross | |||||
|
Variable |
Coefficient |
C + cross |
p_2010001 |
p_201105 |
p_rerata akhir_bl |
|
C |
… |
|
|||
|
_BANKRUJUK–C |
… | … | … | ||
|
_BANK01–C |
… | … | … | … | … |
|
: |
… | … | … | … | … |
|
: |
… | … | … | … | … |
|
_BANK31–C |
… | … | … | … | … |
Sebaliknya, ketika semua variabel bebas bernilai nol, maka harga rata-rata saham terendah alami ada pada saham Bank … (_BANK##–C) dengan nilai sebesar … (jumlah antara konstanta dengan koefisien _BANK##—C, yakni … dan …). Nilai … terpaut jauh lebih rendah … dari harga rata-rata saham Bank … setiap akhir bulannya, atau lebih rendah …% dari nilai aktualnya (…).
Pada tabel hasil regresi dengan menggunakan metode FEM, variabel dan koefisien FE pada period, nilai … terpaut lebih rendah … dari harga rata-rata saham rata-rata pada akhir bulan …, atau lebih rendah …% dari nilai aktualnya (…).
Hal ini diartikan, ketika semua variabel bebas bernilai nol, maka harga rata-rata saham tertinggi alami terjadi pada bulan … dengan nilai sebesar … (jumlah antara konstanta dengan koefisien 20..M..–C, yakni … dan …).
Sebaliknya, ketika semua variabel bebas bernilai nol, maka harga rata-rata saham terendah alami terjadi pada akhir bulan … dengan nilai sebesar … (jumlah antara konstanta dengan koefisien 20…M..–C, yakni … dan …). Nilai … terpaut jauh lebih rendah … dari harga rata-rata saham pada akhir bulan …, atau lebih rendah …% dari nilai aktualnya (…).
| Tabel – Hasil regresi dengan menggunakan metode Fixed Effect, variabel dan koefisien FE pada period | |||||
|
Variabel |
koefisien |
C + period |
p_min |
p_max |
p_rerata |
|
C |
… | ||||
| 20…M…–C | … | … | … | … | … |
| : | … | … | … | … | … |
| : | … | … | … | … | … |
| 20…M…–C | … | … | … | … | … |
References:
panel data EViews 7 Users Guide II, Quantitative Micro Software, EViews 7 User’s Guide II, Irvine CA, April 2010.
Yenny Sugiarti dan Suyanto, Pengaruh Informasi Keuangan (Book Value, Earnings Per Share) terhadap Harga Saham Perusahaan Perbankan, Akuntansi dan Teknologi Informasi, Vol.6, No.2, Nov.2007, hal.79-92. The original link. Download the file: 62077992.
I Gusti Ngurah Agung, Time Series Data Analysis Using EViews, Wiley, Singapore, 2009.
Nicholas R. Noble, EViews User’s Guide, Quantitative Micro Software, Irvine CA, Feb. 2011.
Quantitative Micro Software, EViews 7 Command and Programming Reference, Irvine CA, April 2010.
Quantitative Micro Software, EViews 7 Getting Started, Irvine CA, April 2010.
Quantitative Micro Software, EViews 7 Object Reference, Irvine CA, April 2010.
Quantitative Micro Software, EViews 7 User’s Guide I, Irvine CA, April 2010.
Quantitative Micro Software, EViews 7 User’s Guide II, Irvine CA, April 2010.
Quantitative Micro Software, EViews 7.1 Supplement, Irvine CA, April 2010.
Richard Startz, EViews Illustrated for Version 7, ed.2, Quantitative Micro Software, Irvine CA, 2009.
Roy Batchelor, EViews Tutorial: Cointegration and error correction, City University Business School, London & ESCP, Paris, 2000.













sshr06 8:04 AM on 2011/07/25 Permalink | Log in to Reply
Like it