Updates from Virtual Chitchatting Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Virtual Chitchatting 10:55 AM on 2014/05/01 Permalink  

    Menguak Kebusukan dan Kejahatan Para Dajjal di Jajaran Direktorat Pajak dan Kantor Pelayanan Pajak


    http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/30/13/859005/kpk-periksa-pns-ditjen-pajak-terkait-hadi

    KPK periksa PNS Ditjen Pajak terkait Hadi
    Slamet Riadi, Rabu, 30 April 2014 – 10:25 WIB

    Sindonews.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil PNS Direktorat Jendral Pajak Ihya Ulumdin sebagai saksi dalam penyidikan kasus dugaan korupsi pajak yang melibatkan mantan Direktur Jenderal Pajak Hadi Purnomo yang diajukan oleh wajib pajak Bank Central Asia (BCA).

    “Benar, yang bersangkutan hari ini memang diperiksa sebagai saksi,” kata Kepala Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha ketika dikonfirmasi, Rabu (30/4/2014).

    Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk Hadi Purnomo tersangka dalam kasus tersebut kala menjabat sebagai Dirjen Pajak pada tahun 2002-2004.

    KPK juga memanggil saksi lain yakni Andi Dwinanto, Azis Nur Adji PS dan Sahapon Hutasoit. Mereka semua tercatat sebagai PNS di Ditjen Pajak. “Mereka juga diperiksa sebagai saksi,” kata Priharsa.

    Seperti diketahui, Hadi sebagai mantan Dirjen Pajak ditetapkan sebagai tersangka pada hari Senin 21 April 2014 kasus pajak yang diajukan oleh wajib pajak Bank Central Asia (BCA).

    Hadi yang juga mantan Ketua BPK itu disangka melanggar Pasal 2 Ayat 1 dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHPidana.
    (kri)


    http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/23/13/856985/dirjen-pajak-irit-bicara-soal-kasus-hadi

    Dirjen Pajak irit bicara soal kasus Hadi
    Slamet Riadi, Rabu, 23 April 2014 – 17:54 WIB

    Sindonews.com – Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Fuad Rahmany tidak mau berkomentar banyak, mengenai kasus mantan Direktur Pajak tahun 2002-2004 Hadi Purnomo.

    Fuad menganggap, kasus Hadi terkait dugaan korupsi pengajuan keberatan pajak PT Bank Central Asia (BCA), merupakan kejadian masa lalu. “Itu kan masa lalu,” kata Fuad di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (23/4/2014).

    Fuad menampik, datang ke KPK terkait kasus yang menjerat mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu. Dia mengklaim, untuk mengikuti paparan hasil kajian KPK di sektor mineral dan batu bara. “Soal pertambangan, bukan yang kemarin (kasus Hadi), enggak ada hubungannya dengan yang kemarin,” tegasnya.

    Diketahui, KPK sudah menetapkan Hadi Purnomo sebagai tersangka terkait kasus dugaan korupsi dalam permohonan keberatan wajib pajak yang diajukan BCA. BCA mengajukan permohonan keberatan selaku wajib pajak pada 1999.

    Hadi disangka melanggar pasal 2 ayat 1 dan atau pasal 3 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.
    (maf)


    http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/29/13/858652/kpk-panggil-3-pns-ditjen-pajak-terkait-hadi

    KPK panggil 3 PNS Ditjen Pajak terkait Hadi
    Slamet Riadi, Selasa, 29 April 2014 – 10:44 WIB

    Sindonews.com – KPK memanggil tiga Pegawai Negeri Sipil (PNS) Direktorat Jendral Pajak untuk kepentingan penyidikan kasus dugaan korupsi pajak yang diduga melibatkan mantan Direktur Jenderal Pajak Hadi Purnomo yang diajukan oleh wajib pajak Bank Central Asia (BCA),

    “Hari ini ada beberapa orang yang akan diperiksa sebagai saksi,” kata Kepala Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha ketika dikonfirmasi, Selasa (29/4/2014).

    Tiga saksi yang akan diperiksa yakni PNS Direktorat Pajak Ridwan, Dwi Sugeng Riyatna dan Peter Umar. Mereka bertiga akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Hadi Purnomo. “Akan diperiksa untuk HP,” kata Priharsa.

    Seperti diketahui, Hadi sebagai mantan Direktur Jenderal Pajak pada tahun 2002-2004 ditetapkan sebagai tersangka pada hari Senin 21 April 2014, karena kasus pajak yang diajukan oleh wajib pajak Bank Central Asia (BCA).

    Hadi yang juga mantan Ketua BPK itu disangka melanggar Pasal 2 Ayat 1 dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHPidana.
    (kri)


    http://www.pajakonline.com/engine/learning/att/Alamat%20KPP%20se%20Indonesia.htm

    http://the.karimuddin.com/wp-content/uploads/2009/03/daftar-kpp.pdf

    Alamat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Se Indonesia

    Alamat KPP,,,,,,
    KODE,UNIT KERJA,ALAMAT,Wilayah,Kode Pos,NOMOR TELEPON,NOMOR FAKSIMILI
    KANTOR ,,,,,,
    310,Kanwil DJP Wajib Pajak Besar,Jl. Medan Merdeka Timur 16,,,”3518513, 3524015  “,3520680
    91,KPP WP Besar Satu,Jl. Medan Merdeka Timur 16,,,”3524005(sekre), 3524050  “,”3524006, 3524008(sekre)”
    92,KPP WP Besar Dua,Jl. Medan Merdeka Timur 16,,,” 3524010, 3524140  “,3521123
    51,KPP  BUMN,Jl. TMP Kalibata,,,”7980021, 7980013, 7975361″,7980025
    ,,,,,,
    130,Kanwil DJP Jakarta Khusus,Graha Sucofindo Lt.10-11  Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34,,,”79188293(sekre), 79188294″,79188290
    52,KPP Penanaman Modal Asing Satu,Jl. TMP Kalibata,,,”7980023, 7941890, 7941891, 7946779″,7975359
    55,KPP Penanaman Modal Asing Dua,Jl. TMP Kalibata,,,7948536,7948191
    56,KPP Penanaman Modal Asing Tiga,Jl. TMP Kalibata,,,7948462,7902445
    57,KPP Penanaman Modal Asing Empat,Jl. TMP Kalibata,,,”79192323, 79192444, 7980012, 7991116″,79192255
    58,KPP Penanaman Modal Asing Lima,Jl. TMP Kalibata,,,”7982870, 7982388″,7980024
    59,KPP Penanaman Modal Asing Enam,Jl. TMP Kalibata,,,”79196742, 7974514, 79196748, 794437″,7974516
    54,KPP Perusahaan Masuk Bursa,Jl. Jend. Sudirman No.56,,,”(fax) 5731205, 5731687, 5703403″,”5703404, 5731205″
    53,KPP Badan dan Orang Asing Satu,Jl. TMP Kalibata,,,”79181006/9(sekre), 7975357, 7988568-69, 7988571″,7980022
    81,KPP Badan dan Orang Asing Dua,Jl. TMP Kalibata,,,”79194783, 79194831, 79194776″,79194852
    ,,,,,,
    80,Kanwil DJP Jakarta Pusat,Jl. Gatot Subroto No.40-42,,,52904840,5736066
    73,KPP Madya Jakarta Pusat,Jl Tebet Raya no 9,,,”8306505 , 8303534″,8306248
    25,KPP Pratama Jakarta Gambir Satu,Gedung Probes Jl. Gunung Sahari Raya No.25 ,,,6281311,6281522
    28,KPP Pratama Jakarta Gambir Dua,Jl. K.H. Hasyim Ashari No.6-12 Lt.1&2,,,”6338622, 6343438, 3643438,6343440 “,6334255
    29,KPP Pratama Jakarta Gambir Tiga,Jl. K.H. Hasyim Ashari No.6-12 Lt.3&4,,, 6340906,” 6340908,6347802,6343228″
    74,KPP Pratama Jakarta Gambir Empat,Jl. Batu Tulis  Raya No.53-55,,,”3519980, 3813613, 3840886″,3849381
    26,KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Satu,Jl. Kartini VIII No.2,,,”6495194, 6492523,6492380,6492341″,6492446
    75,KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Dua,Jl. Gunung Sahari Raya No.25 ABC,,,6244155,6281119
    27,KPP Pratama Jakarta Kemayoran,Jl. Merpati I Blok B No.12,,,”6541870, 6541871,6541868,65418733″,6541869
    24,KPP Pratama Jakarta Cempaka Putih,Jl. Kwini No.7,,,”3502624, 3502627, 3452357″,3454434
    21,KPP Pratama Jakarta Menteng Satu,”JL. Cut Mutia No. 7, Menteng”,,,”3924225, 3923378″,3924219
    71,KPP Pratama Jakarta Menteng Dua,Wisma Bakrie Lt.1 Jl.H. Rasuna Said Kav B-1,,,”5200426 (hunting), 5250132, 5257890″,5200968
    76,KPP Pratama Jakarta Menteng Tiga,Jl. Kwini No.7,,,”3845211, 3442745″,3840718
    23,KPP Pratama Jakarta Senen,Jl. Kramat Raya No.136,,,”327111, 3909025″,3909944
    22,KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Satu,Jl. Penjernihan I No.36,,,”5734726-27, 5708369″,5734738
    72,KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Dua,”Jl. K.H. Mas Mansyur No.71 Tanah Abang, Jakarta Pusat”,,,”31925825, 31926285″,31925855
    77,KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Tiga,”Jl. K.H. Mas Mansyur No.71 Tanah Abang, Jakarta Pusat”,,,31925571,31925527
    ,,,,,,
    90,Kanwil DJP Jakarta Barat ,Jl. Gatot Subroto No.40-42,,,”5734791, 5736091″,5736195
    38,KPP Madya Jakarta Barat,JL. K.S. Tubun No. 10 ,,,”5638637, 5655448, 5655449″,5643412
    31,KPP Pratama Jakarta Palmerah,”Jalan Letjen S. Parman No.99, Tomang”,,,5665681-83,5634550
    36,KPP Pratama Jakarta Grogol Petamburan,Graha Sucoffindo Jl. Letjen S. Parman Kav.102,,,”5630066, 5606755″,5650139
    32,KPP Pratama Jakarta Tamansari Satu,Jl. Mangga Besar No.52,,,”6267636, 6267604″,6294548
    37,KPP Pratama Jakarta Tamansari Dua,Jl Gajah Mada 149 ABC,,,”6260373, 6260777″,6292525
    33,KPP Pratama Jakarta Tambora,Jl. Kali Besar Barat No.14-15,,,”6928912, 6912121″,6928564
    34,KPP Pratama Jakarta Cengkareng,Jl. Lingkar Luar Barat No. 10 A Cengkareng Timur,,,”5401737, 5402764″,5402604
    85,KPP Pratama Jakarta Kalideres,”Jl. Raya Duri Kosambi No.36-37 Kel.Duri Kosambi, Cengkareng”,,,”5406029, 5405998, 5406043 ext 201 “,5410315
    35,KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Satu,Jl. Arjuna Selatan Kebon Jeruk,,,”5355761, 5355762-68″,5355760
    39,KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua ,Jl. KS. Tubun No. 10,,,”5638638, 5643625″,5655220
    86,KPP Pratama Jakarta Kembangan,Jl. Arjuna Utara No. 87 ex. Gedung Guna Group,,,56964391,56964434
    ,,,,,,
    100,Kanwil DJP Jakarta Selatan,Jl. Gatot Subroto 40-42,,,”5250783, 5262919″,5256042
    62,KPP Madya Jakarta Selatan,Jl Tebet Raya no 9,,,”8319347, 8319348″,”8319388, 8319405″
    11,KPP Pratama Jakarta Setiabudi Satu,Jl. Rasuna Said Blok B Kav.8,,,”5254270, 5254253″,5207557
    18,KPP Pratama Jakarta Setiabudi Dua,Jl. Rasuna Said Blok B Kav.8,,,”5254237, 5253622″,5252825
    63,KPP Pratama Jakarta Setiabudi Tiga,Jl. Pasar Minggu No.11,,,”7992961, 7993846, 7993028″,7994253
    12,KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Satu,Jalan Jend. Sudirman Kav.56,,,”52920983, 52921276″,52921274
    19,KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Dua,Jalan Ciputat Raya No.2 Pondok Pinang,,,”75818842, 75908704″,75818874
    64,KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru Tiga,Jalan K.H. Ahmad Dahlan No.14 A,,,”7245785, 7245735″,”7246627, 7245735″
    13,KPP Pratama Jakarta Kebayoran Lama,Jl. Ciledug Raya No.65,,,”5843105, 5843108″,5860786
    17,KPP Pratama Jakarta Pasar Minggu,Jl. TB Simatupang Kav. 39,,,”7816131-4, 78842674″,78842440
    14,KPP Pratama Jakarta Mampang Prapatan,Jl. Raya Pasar Minggu No.1,,,”79191232, 7949574, 7949575, 7990020″,”7991035, 7949575″
    61,KPP Pratama Jakarta Pancoran,Jalan T.B. Simatupang Kav.5 Kebagusan,,,”7804667, 7804451″,7804862
    16,KPP Pratama Jakarta Cilandak,Jl. TB Simatupang Kav. 32,,,78843521-23,78836258
    15,KPP Pratama Jakarta Tebet,Jl. Tebet Raya No. 9,,,”8296869, 8296937″,8296901
    ,,,,,,
    110,Kanwil DJP Jakarta Timur,Menara Selatan Gd Menara Jamsostek Lantai 3-4 Jl. Gatot Subroto No 38,,,”2525613(sekre), 2525614″,”2526075, 2524992″
    7,KPP Madya Jakarta Timur,Wisma Aldiron Pancoran Suite 004-009 Lt dasar Jl.Gatot Subroto Kav.72,,,”79188111, 79188105, 79188115″,79188114
    1,KPP Pratama Jakarta Matraman,Jl. Matraman Raya No.43,,,”8566928, 8566929″,8566927
    2,KPP Pratama Jakarta Jatinegara,Jl. Slamet Riyadi No.1,,,”8575683, 8575689″,8575682
    3,KPP Pratama Jakarta Pulogadung,Jl. Pramuka Kav.31,,,”8580021, 8583309″,8581881
    4,KPP Pratama Jakarta Cakung Satu,”Jl. Pulo Buaran VI, Blok JJ/11 Kawasan Industri Pulogadung”,,,”46826683, 46826686, 46826687″,46826685
    6,KPP Pratama Jakarta Cakung Dua,Jl. Pemuda No. 66 Rawamangun,,,”4722519, 4722520″,4722161
    5,KPP Pratama Jakarta Kramat Jati,Jl. Dewi Sartika  Nomor 189A,,,”8093046, 8090435″,8091753
    8,KPP Pratama Jakarta Duren Sawit,Jl. Matraman Raya No.43,,,”8581002, 8506215″,8581450
    9,KPP Pratama Jakarta Pasar Rebo,Jl. Raya Bogor No. 46 Kel. Rambutan,,,87799512,8400486
    ,,,,,,
    120,Kanwil DJP Jakarta Utara,Menara Jamsostek Tower B Lt. 5-6 Jl. Gatot Subroto No. 38,,,”2526791, 2526792″,2526793
    46,KPP Madya Jakarta Utara,”Gedung Merpati Lt. M2 dan 5, Kemayoran, Jl. Angkasa Blok B 15 Kav. 2 No. 3″,,,”6544873, 6544713, 6544841, 6570116″,”6544330, 65701146″
    41,KPP Pratama Jakarta Penjaringan,Jl. Lada No.3,,,”6911783, 6911784, 6922534″,6904408
    44,KPP Pratama Jakarta Pademangan,Jl. Cempaka No.2 Tanjung Priok,,,”43932824, 4371505″,43932812
    42,KPP Pratama Jakarta Tanjung Priok,Jl. Enggano No.2,,,” 43930640, 43930646-49″,4357437
    45,KPP Pratama Jakarta Koja,Jl. Raya Plumpang Semper No. 10A,,,”43922081, 43922083-84″,43922085
    43,KPP Pratama Jakarta Kelapa Gading,Jl. Walang Baru No.10 Semper,,,”4373834-5, 4371549, 4373837″,4373836
    47,KPP Pratama Jakarta Pluit,”Jl. Lodan No. 3, Ancol”,,,6900771,6908454
    48,KPP Pratama Jakarta Sunter,Jl. Walang Baru No.10 Plumpang Semper,,,4373839-40,4373842
    ,KP2KP Pulau Pramuka,Jl. Cempaka No.2 Tanjung Priok,,,6542529,6542523
    ,,,,,,
    140,Kanwil DJP Banten,Jl. Jend. Sudirman No. 34 Kotak Pos 146,,, 200603,200744
    415,KPP Madya Tangerang,Jl. Satria Sudirman Komplek Perkantoran Kota Tangerang,,,55791487,55791502
    401,KPP Pratama Serang,Jl. Jend A Yani No.141,,,200555,223891
    402,KPP Pratama Tangerang Barat,Jl. Imam Bonjol No.47,,,”5525785, 5524787″,5525789
    416,KPP Pratama Tangerang Timur,Jl. Satria Sudirman Komplek Perkantoran Kota Tangerang,,,”55737558, 55737559, 55737560″,55791479
    411,KPP Pratama Serpong,Jl. Raya Serpong Blok.405 No.4 Sektor VIII/BSD,,,” 5373811-13(Sekr)19, 53153644, 5387164″,5373817
    417,KPP Pratama Cilegon,Gd. Graha Sucofindo Lt. II-IV Jl. Achmad Yani No.106,,,374234,374741
    419,KPP Pratama Pandeglang,Jl. Mayor Widagdo No.6,,, 206006,202144
    418,KPP Pratama Kosambi,”Jl. Perintis Kemerdekaan II, Cikokol “,,,”5523080, 5534574 (Sekr), 55767303″,5532026
    451,KPP Pratama Tigaraksa,”Jl. Permata Raya C1 No. 100, Lippo Karawaci, Binong”,,,”59494634, 59494636, 59494637, 59494638″,59494635
    ,KP2KP Rangkas Bitung,”Jl. M.A. Salmun No.3, Rangkas Bitung”,,,201682,207760
    ,,,,,,
    150,Kanwil DJP Jawa Barat I,Jl. Asia Afrika No.114 ,,,”4232195, 4230146, 4230391″,”4235042, 4232198″
    441,KPP Madya Bandung ,Jl. Soekarno Hatta No. 781,,,”7332154, 7335215, 7335216, 7335217″,7335218
    428,KPP Pratama Bandung Bojonagara,Jl. Asia Afrika No.114 ,,,4224537,4230417
    423,KPP Pratama Bandung Cibeunying,Jl. Purnawarman No.21,,,”4207897, 4232765, 4232523″,4239107
    429,KPP Pratama Bandung Cicadas,Jl. Soekarno Hatta No. 781,,,7304525,7304961
    424,KPP Pratama Bandung Karees,Jl. Ibrahim Adjie (d/h Jl. Kiara Condong) No.372,,,”7333355, 7333180″,7337015
    422,KPP Pratama Bandung Tegallega,Jl. Soekarno-Hatta No.216,,,”6030566, 6005671″,6012575
    442,KPP Pratama Ciamis,Jl. Jend. A Yani No.75,,,”331466, 335727″,341750
    406,KPP Pratama Cianjur,Jl. Raya Cianjur-Bandung KM. 3,,,”280073, 267194, 281030″,284315
    421,KPP Pratama Cimahi ,Jl. Raya Barat No.574 Kotak Pos 112,,,”6654646, 6650642, 6651911, 6650463″,6654569
    409,KPP Pratama Purwakarta,”Jl. Ir. H. Juanda No. 1, Ciganea Bunder”,,,”206654, 206655, 206656″,206656
    445,KPP Pratama Soreang,”Jl. Raya Cimareme No. 205 Ngamprah, kab. Bandung Barat”,,,”6868787, 6868426″,6868427
    444,KPP Pratama Majalaya,Jl. Peta No.7 Lingkar Selatan,,,”6078535, 6078536, 6078538″,6072125
    405,KPP Pratama Sukabumi,”Jl. RE. Martadinata No.1, Kotak Pos 47″,,,”221540, 221545″,221540
    446,KPP Pratama Sumedang,Jl. Ibrahim Adjie (d/h Jl. Kiara Condong) No.372,,,”7333526, 7337086″,7337015
    425,KPP Pratama Tasikmalaya,Jl. Sutisna Senjaya No.154,,,331851,331852
    443,KPP Pratama Garut,Jl. Pembangunan No. 224,,,”540242, 540449″,234608
    ,KP2KP Banjar,Jl. Kaum No. 1,,,741630,741963
    ,KP2KP Pelabuhan Ratu,Jl. Bhayangkara KM. 1,,,531336,537565
    ,,,,,,
    160,Kanwil DJP Jawa Barat II,Jl. A Yani No 5 ,,,88963315,”88958778(sekre), 88960843(P4)”
    431,KPP Madya Bekasi,Gd. Menara Pasifik Lt. 5-6 Jl. MH. Thamrin Kav. 107,,,8973350,8973355
    407,KPP Pratama Bekasi Utara,”Jl. Sersan Aswan No. 407, Margahayu”,,,”8808059, 8800253, 8800367″,”8802525, 8822563″
    432,KPP Pratama Bekasi Selatan,Jl. Cut Mutia No. 125,,,”88346418, 88346441″,8893550
    413,KPP Pratama Cikarang Selatan,”Jl. Cikarang Baru Raya Office Park No. 10, Mekar Mukti”,,,”89112105, 89112106, 89112107″,89112108
    414,KPP Pratama Cikarang Utara,”Jababeka Education Park Jl. Ki Hajar Dewantara Kav. 7, Cikarang Baru”,,,”89113584, 89113603″,89113604
    435,KPP Pratama Cibitung,” Gd. Graha Sucofindo, Jl. Arteri Tol Cibitung No. 1 “,,,88339637,88339638
    404,KPP Pratama Bogor,Jl. Ir. H. Juanda No.64,,,”323424 (Sekr), 324452, 324574″,324331
    403,KPP Pratama Cibinong,Jl. Raya Pemda No.39 ,,,”8762985, 8753884, 81901532″,8753883
    434,KPP Pratama Ciawi,”Jl. Dadali No.14, kec. Sereal”,,,”336195, 380753, 328119″,336120
    436,KPP Pratama Cileungsi,Jl. Raya Pemda No.39 ,,,8760600,”87915615, 8756362″
    408,KPP Pratama Karawang Utara,Jl. Jend. A Yani No.17,,,”402847, 401948″,402145
    433,KPP Pratama Karawang Selatan,”Jl. Interchange Karawang Barat kel. Sukaluyu, Teluk Jambe”,,,”8604105, 8604106, 8604108″,8604104
    412,KPP Pratama Depok,Jl. Pemuda No. 40,,,”7765604, 7763896″,”77203175, 7753482″
    426,KPP Pratama Cirebon,Jl. Evakuasi No.9,,,”485927, 487169, 485375″,487168
    437,KPP Pratama Indramayu,Jl. Jend. Gatot Subroto     ,,,275668,275669
    438,KPP Pratama Kuningan,Jl. Aruji Kartawinata No.29,,,”871526, 875120″,871184
    439,KPP Pratama Subang,”Jl. Arief Rahman Hakim No. 08, Cigadong “,,,”417042, 417002 (Ka), 417003 (sekre), 417004″,417041
    ,KP2KP Majalengka,Jl. Kiyai Abdul Halim No. 63,,,,
    ,KP2KP Sumber,”Jl. Pramuka No. 40, Jatiseeng, Ciledug”,,,862530,862630
    ,,,,,,
    170,Kanwil DJP Jawa Tengah I,Jl. Imam Bonjol No. 1D,,,”3544065, 3544055 “,3540416
    511,KPP Madya Semarang,Puri Anjasmoro Blok H-5 No. 39,,,7622692,7622693
    501,KPP Pratama Tegal,Jl. Kol. Sugiono No.5,,,”351562, 353738, 356006, 353003 “,356897
    502,KPP Pratama Pekalongan,Jl. Merdeka No.9,,,”422491, 422392″,423053
    513,KPP Pratama Batang,Jl. Sriwijaya No.1,,,”424664, 424665″,432220
    503,KPP Pratama Semarang Barat,Jl. Pemuda No. 1,,,”3545421, 3545422, 3545423″,3545423
    504,KPP Pratama Semarang Timur,Jl. Ki Mangun Sarkoro No.34,,,”8414787, 8316302, 8413851″,8414439
    518,KPP Pratama Semarang Gayamsari,”GKN Semarang  I Lantai 1 dan 4, Jl. Pemuda No.2 “,,,”3548909, 3561971″,3510796
    517,KPP Pratama Semarang Candisari,Jl. Setiabudi No.3,,,”7472797, 7475106, 7474345″,7471983
    508,KPP Pratama Semarang Selatan,Puri Anjasmoro Blok F1 No. 12,,,7613601-07,7013102
    509,KPP Pratama Semarang Tengah Satu,Jl. Pemuda No.2 Lantai 1 dan 2 (GKN Semarang I) ,,,”3520211, 3584535, 3584536″,3520211
    512,KPP Pratama Semarang Tengah Dua,Jl. Pemuda No.1B,,,”3555065, 3545464″,3544194
    505,KPP Pratama Salatiga,Jl. Diponegoro 163,,,312802,312802
    515,KPP Pratama Demak,Jl. Sultan Fatah 9 ,,,685518 pes. 102,685518
    506,KPP Pratama Kudus,Jl. Niti Semito,,,”432046, 432047″,432048
    516,KPP Pratama Jepara,”Jl. Ngabul KM. 5, Tahunan”,,,”596423, 596403″,591097
    507,KPP Pratama Pati,Jl. P. Sudirman No.64,,,”381419, 381483″,381621
    514,KPP Pratama Blora,Jl. Sudirman No. 2 Mlangsen,,,531155,531155
    ,KP2KP Bumiayu,Jl. Yos Sudarso No. 8,,,671635,672871
    ,KP2KP Purwodadi ,Jl. R. Suprapto No.127,,,421123,421123
    ,KP2KP Rembang,Jl. Raya Blora KM. 2,,,690002,691112
    ,KP2KP Ungaran,Jl. Alun-Alun No. 2,,,6921168,6921168
    ,,,,,,
    180,Kanwil DJP Jawa Tengah II,JL. MT Haryono No.5,,,”723834 (Ka), 713552, 730460, 739705″,733429
    521,KPP Pratama Purwokerto,Jl. Gerilya No. 567,,,”634238 (Ka), 634219″,634236
    522,KPP Pratama Cilacap,Jl. Mayjend D.I.  Panjaitan No.32 ,,,”532712 (Ka), 533090, 532713, 536446″,532714
    523,KPP Pratama Kebumen,Jl. Arungbinang No.10,,,”382361 (Ka), 381847, 381848″,381846
    524,KPP Pratama Magelang,Jl. Veteran No.20,,,”362430 (Ka), 362420, 362280, 364516, 363925,362481″,364417
    525,KPP Pratama Klaten,Jl. Veteran No.82 Bareng Lor,,,321977,321728
    526,KPP Pratama Surakarta,Jl. K.H. Agus Salim No.1,,,”717522 (Ka), 720821, 728436, 714061, 724770, 724769″,728436
    527,KPP Pratama Boyolali,Jl. Perintis Kemerdekaan ,,,321401,321401
    528,KPP Pratama Karanganyar,Jl. Palur Raya No. 2 RT. 3 RW. 2 Ngringo,,,”825944 (Ka), 827344, 825664, 827277, 825672″,825685
    529,KP Pratama Purbalingga,Jl. Letjen S. Parman No. 43,,,891419,891626
    531,KP Pratama Purworejo,Jl. Jend. Sudirman No.25,,,321350,322031
    532,KPP Pratama Sukoharjo,Jl. Kopral Sayom (Ring Road),,,”332889 (Ka), 322946, 322939, 322487, 326064, 322716″,322889
    533,KP Pratama Temanggung,Jl. Dewi Sartika No.7,,,”491336 (Ka), 491979″,493646
    ,KP2KP Banjarnegara,Jl. Stadion No.2 Rt1/1 Parakancanggah,,,”591097 (Ka), 891155″,591097
    ,KP2KP Wonosobo,Jl. Bhayangkara No.8,,,321121,321121
    ,KP2KP Sragen,Jl. Raya Sukowati No.84,,,”891087 (Ka), 893344″,891087
    ,KP2KP Wonogiri,Jl. Mayjen Sutoyo No. 6,,,321505,
    ,,,,,,
    190,Kanwil DJP Daerah Istimewa Yogyakarta,”JL. Ring Road Utara Nomor 10 Maguwoharjo, Depok, Sleman”,,,”4333951, 4333952, 4333953″,4333954
    541,KPP Pratama Yogyakarta,Jl. Panembahan Senopati No.20,,,”380415, 373403, 380414, 380413″,380417
    542,KPP Pratama Sleman,”JL. Ring Road Utara Nomor 10 Maguwoharjo, Depok, Sleman”,,,4333940,4333957
    543,KPP Pratama Bantul,Jl. Urip Sumohardjo No. 15,,,”368504, 368510, 368514″,368582
    544,KPP Pratama Wates,”JL. Ring Road Utara Nomor 10 Maguwoharjo, Depok, Sleman”,,,4333943,4333944
    545,KPP Pratama Wonosari,”JL. Ring Road Utara Nomor 10 Maguwoharjo, Depok, Sleman”,,,4333941,4333942
    ,,,,,,
    200,Kanwil DJP Jawa Timur I,”Jl. Jagir Wonokromo No. 100-104 Lt. VI dan VIII, Kotak Pos 1012 SBY”,,,” 8481128, 8482480″,8481127
    631,KPP Madya Surabaya,Jl. Jagir Wonokromo No. 104,,,”8482651, 8482557″,8482557
    604,KPP Pratama Surabaya Sukomanunggal,Jl. Bukit Darmo Golf No. 1,,, 7347233,7347232
    605,KPP Pratama Surabaya Krembangan,Jl. Indrapura No.5,,,3556879,3556880
    606,KPP Pratama Surabaya Gubeng,Jl. Sumatera No.22-24,,,5031905,5031566
    607,KPP Pratama Surabaya Tegalsari,Jl. Dinoyo No.111 ,,,5615369,5615367
    609,KPP Pratama Surabaya Wonocolo,Jl. Jagir Wonokromo No. 104,,,8417629,8411692
    611,KPP Pratama Surabaya Genteng,Jl. Kayoon No.28,,,5473293,5473302
    613,KPP Pratama Surabaya Pabean Cantikan,Gedung GKN I Jl. Indrapura No. 5,,,3575452,3571156
    614,KPP Pratama Surabaya Sawahan,Jl. Dinoyo No. 111,,,5665232,”5666668, 5665230, 5665630″
    615,KPP Pratama Surabaya Rungkut,Jl. Jagir Wonokromo No.104,,,8481120,”8412739, 8188197″
    616,KPP Pratama Surabaya Simokerto,Jl. Dinoyo No. 111,,,5615558,5464366
    618,KPP Pratama Surabaya Karangpilang,Jl. Jagir Wonokromo No. 100,,,8483915,8483914
    619,KPP Pratama Surabaya Mulyorejo,Jl. Jagir Wonokromo No. 100,,,8483906,8483905
    ,,,,,,
    210,Kanwil DJP Jawa Timur II,Jl. Raya Rungkut Industri No.10 ,,,”8419763 ext. 118, 8478794 (sekre)”,”8478797, 8478794(sekre)”
    641,KPP Madya Sidoarjo,”Jl. Raya Juanda, Semambung”,,,”8686123, 8686125 (call center)”,8686124
    601,KPP Pratama Bojonegoro,Jl. Teuku Umar No.17,,,”883711, 881900″,881380
    602,KPP Pratama Mojokerto,Jl. Gajah Mada No.145,,,322050,322864
    603,KPP Pratama Sidoarjo Barat,JL. Lingkar Barat Gelora Delta PO BOX 133,,,”8959700, 8959992, 8959993, 8959996 “,8959800
    608,KPP Pratama Pamekasan,Jl. Abdul Aziz No.111,,,”322924, 322170″,322983
    612,KPP Pratama Gresik Utara,Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 700,,,”3956586, 3956640-42, 3975548-49″,3956585
    642,KP Pratama Gresik Selatan ,Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 700,,,”3952693-94, 3951229″,3950254
    617,KPP Pratama Sidoarjo Selatan,Jl. Raya Jati No. 6 ,,,”8941013, 8962890, 8968332″,8941035
    643,KPP Pratama Sidoarjo Utara,Jl. Pahlawan  No. 55,,,”8962890, 8941714″,8941035
    621,KPP Pratama Madiun,Jl. D.I Panjaitan No.4,,,”464131, 464914, 59187″,462623
    644,KPP Pratama Bangkalan,Jl. Jokotole No. 1,,,”322944, 322875″,326709
    645,KPP Pratama Lamongan,Jl. Simpang Kusumabangsa No. 2,,,317548,317546
    646,KPP Pratama Ngawi,Jl. Salak  No.42,,,”494980, 459185, 459186″,464418
    647,KPP Pratama Ponorogo,Jl. Soekarno Hatta No. 194,,,”462856, 462855, 488483, 481621″,462856
    648,KPP Pratama Tuban,Jl. Basuki Rachmad No. 151,,,”328334, 328350, 328356, 328309″,333116
    ,KP2KP Caruban,Jl. Panglima Sudirman No. 73,,,388357,388358
    ,KP2KP Magetan,Jl. Karya Darma No.8 Desa Ringin Agung,,,895093,895093
    ,KP2KP Pacitan,Jl. Cut Mutia No. 2,,,881209,881209
    ,KP2KP Sumenep,Jl. Trunojoyo No.135,,,662031,662031
    ,KP2KP Sampang,Jl. Jamaludin No.2,,,321615,321615
    ,,,,,,
    220,Kanwil DJP Jawa Timur III,Jl. S.Parman No. 100,,,”403464 (Sekre), 403333, 403461(p2humas)”,403463
    651,KPP Madya Malang,Malang Trade Center Kav.1-6 Jl. Panji Suroso,,,”402021-3, 402225, 402226″,402027
    622,KPP Pratama Kediri,Jl. Brawijaya No.6,,,”682042, 681464, 682063″,682052
    623,KPP Pratama Malang Selatan,Jl. Merdeka Utara No.3,,,”361121, 361971, 365167″,364407
    652,KPP Pratama Malang Utara,Jl. Jaksa Agung Suprapto 29-31,,,”364270,364370, 340670 (Ka)”,356769
    624,KPP Pratama Pasuruan,JL. P. Sudirman No.29,,,”410777, 424125, 425906″,426930
    625,KPP Pratama Probolinggo,Jl. Mastrip No.169-171,,,”420472, 420473″,420470
    626,KPP Pratama Jember,Jl.Karimata 54 A ,,,”324907, 324908″,324906
    627,KPP Pratama Banyuwangi,Jl. Adi Sucipto No. 27A,,,”428451, 416897, 428455″,428452
    628,KPP Pratama Batu,Jl. S. Parman No.100,,,”403411, 403541, 403547″,403540
    629,KPP Pratama Tulungagung,”Jl. Ki Mangun Sarkoro No. 17 Beji, Boyolangu”,,,”336668, 336692″,336687
    653,KPP Pratama Blitar,Jl. Kenari Kav. 7,,,816316,816315
    654,KPP Pratama Kepanjen,Jl. P. Sudirman No.1 ,,,398393,398350
    655,KPP Pratama Pare,Jl. Hasanudin No.16,,,”682572, 680623″,684369
    656,KPP Pratama Situbondo,Jl. Basuki Rahmat No. 235,,,”671969, 672167″,673701
    657,KPP Pratama Singosari,Jl. Raden Intan No.10,,,”481595, 481596, 479532″,491082
    ,KP2KP Wlingi,Jl. Imam Bonjol No.9,,,801446,802266
    ,KP2KP Nganjuk,Jl. Dermojoyo No.18,,,322103,322103
    ,KP2KP Bangil,Jl. Sultan Agung 20,,,”413777, 432222″,432223
    ,KP2KP Lumajang,Jl. Achmad Yani No.6,,,880827,881827
    ,KP2KP Kraksaan,Jl. P. Sudirman,,,” 841661, 843371″,
    ,KP2KP Bondowoso,Jl. Veteran No.6-8,,,421455,422360
    ,KP2KP Trenggalek,Jl. Abdul Rahman Saleh No.8,,, 791446,791446
    ,,,,,,
    280,Kanwil DJP Bali,Jl. Kapten Tantular No.4 GKN II,,,”263894, 221373 (operator), 221455 (keuangan), 263896 (sekre), 241555 (call center)”,263895
    904,KPP Madya Denpasar,Jl.Raya Puputan No.29 Renon,,,”262222, 249313, 262238, 247690, 262278″,”226999, 239699″
    901,KPP Pratama Denpasar Barat,”Jl. Raya Puputan No.13, Renon”,,,”239985 (sekre), 239638 (operator), 240281″,239351
    903,KPP Pratama Denpasar Timur,”Jl. Kapten Tantular No.4, Renon”,,,”221304(sekre), 221303, 233765, 263891, 263892″,221285
    902,KPP Pratama Singaraja,Jl. Udayana No. 10 GKN Singaraja,,,”2188 (sekre), 21949, 27380, 32474″,22241
    905,KPP Pratama Badung Selatan,”Jl. Kapten Tantular No.4, Renon”,,,”246775 (sekre), 221237 (kasubbag umum), 263891, 263892″,234803
    906,KPP Pratama Badung Utara,JL. A Yani No. 100 ,,,”7804483 (sekre), 226749, 7804482 (sekre)”,226749
    907,KPP Pratama Gianyar,”Jl. Dharma Giri, Buruan Blahbatuh”,,,943586,943586
    908,KPP Pratama Tabanan,JL.P. Batam No. 33,,,”811205, 814795, 814794, 814796″,811104
    ,KP2KP Kerobokan,JL. Raya Uluwatu No. 4 Br. Kelan Tuban,,,”705768 (Ka), 702797″,702797
    ,KP2KP Ubud,Jl. Sahadewa (sementara),,,943175,943175
    ,KP2KP Amlapura,Jl. Sultan Agung No.3  ,,,21339,21339
    ,KP2KP Negara,Jl. Mayor Sugianyar No.11,,,41121,41121
    ,,,,,,
    10,Kanwil DJP Nanggroe Aceh Darussalam,”Jl. Tgk. Chik Ditiro, GKN Banda Aceh”,,,33254,33255
    101,KPP Pratama Banda Aceh,Jl. Tgk. H. M. Daud Beureueh No.20,,,”28246, 22520 (Ka)”,22145
    102,KPP Pratama Lhokseumawe,Jl. Merdeka No. 146,,,”46565, 41375 (Ka)”,43191
    103,KPP Pratama Meulaboh,Jl. Imam Bonjol No. 56,,,” 7006047(sekre), 7006049(ka), 7006051(umum)”,7551026
    104,KPP Pratama Bireuen,Jl. T. Hamzah Bendahara,,,”43139, 47054″,42749
    105,KPP Pratama Langsa,JL. Achmad Yani No. 109,,,”21022, 22765 (Ka)”,23691
    106,KPP Pratama Tapaktuan,Jl. T. Ben Mahmud No.26,,,21049,21049
    107,KPP Pratama Subulussalam,Jl. T. Umar No. 63,,,31757,31757
    ,KP2KP Sigli,”JL. Prof A. Majid Ibrahim Tijue Sigli, Kab. Pidie”,,,7000336,25362
    ,KP2KP Sabang,Jl. Tinjau Alam kel. Aneuk Laut,,,21378,21378
    ,KP2KP Jantho,”Jl. T. Bachtiar P. Polem, Jantho”,,,,
    ,KP2KP Takengon,Jl. KL. Yos Sudarso,,,,
    ,KP2KP Karang Baru,Jl. Iskandar Muda No. 4,,,,
    ,KP2KP Blangkejeran,,,,,
    ,KP2KP Lhoksukon,”Jl. Medan-Banda Aceh, Lhoksukon”,,,,
    ,KP2KP Calang,,,,,
    ,KP2KP Suka Makmur,,,,,
    ,KP2KP Sinabang,”Jl. Tgk. Diujung Desa, Air Dingin “,,,,
    ,KP2KP Blang Pidie,”Jl. Raya Meulaboh-Tapaktuan, Desa Kedai Paya”,,,,
    ,KP2KP Singkil,”Jl. Cut Meutia, Losmen Abdi Rimo”,,,,
    ,KP2KP Kutacane,Jl. Iskandar Muda No.10,,,21028,21164
    ,,,,,,
    20,Kanwil DJP Sumatera Utara I,Jl. Diponegoro No.30A  GKN Lt. IV,,,”4538833(sekre), 4536977, 4553044″,4538340
    123,KPP Madya Medan,”Gedung Graha Niaga II Lt.3-6, Jl. Putri Hijau No. 20″,,,”4560134, 4559763, 4561282″,4561040
    111,KPP Pratama Medan Barat,Jl. Asrama No.7-A,,,8467967,8467439
    112,KPP Pratama Medan Belawan,”Jl. KL. Yos Sudarso KM. 8,2 Tanjung Mulia”,,,”6642764, 6642763″,”6643695, 6642764″
    113,KPP Pratama Medan Timur,Jl. P. Diponegoro No. 30A GKN I Lt. II,,,4536897,4512635
    121,KPP Pratama Medan Polonia,Jl. P. Diponegoro No. 30A GKN II,,,4529353,4529343
    122,KPP Pratama Medan Kota,Jl. P. Diponegoro No. 30A GKN I Lt. IV,,,4529379,4529403
    124,KPP Pratama Medan Petisah,Jl. Asrama No.7 A,,,”8467568, 8467616″,8467744
    119,KPP Pratama Binjai,”Jl. Jambi No.1 Rambung Barat, Binjai Selatan”,,,”8820407, 8820406″,8829724
    125,KPP Pratama Lubuk Pakam,Jl. P. Diponegoro No. 42-44,,,”7951148, 7956901(Ka), 7956158 (umum), 7955509″,7956226
    ,,,,,,
    40,Kanwil DJP Riau dan Kep. Riau,Jl. Sudirman No.247 ,,,”28201(sekre), 28104, 28103″,28202
    217,KPP Madya Batam,Jl. Kuda Laut No. 1 Batu Ampar,,,”421616, 421919″,422928
    218,KPP Madya Pekanbaru,”Jl.MR.SM Amin, Ring Road Arengka II “,,,”588414, 29525″,29401
    211,KPP Pratama Pekanbaru Senapelan,Jl. Jend. Sudirman No.247,,,”28112, 22325″,28205
    216,KPP Pratama Pekanbaru Tampan,”Jl.MR.SM Amin, Ring Road Arengka II “,,,”40846, 40836, 855288″,859955
    212,KPP Pratama Dumai,Jl. Sultan Syarif Qasim No. 18,,,”34229, 34582″,34230
    213,KPP Pratama Rengat,Jl. Bupati Tulus No.9,,,”22271, 22273, 21379″,22272
    214,KPP Pratama Tanjung Pinang,Jl. Diponegoro No.14,,,”21505, 21867″,21868
    215,KPP Pratama Batam,Jl. Kuda Laut No. 1 Batu Ampar,,,”452009, 450231″,427708
    219,KPP Pratama Bengkalis,Jl. Putri Tujuh No. 7,,,439459,439470
    221,KPP Pratama Bangkinang,Jl. Cut Nyak Dien II No.4 ,,,”44825, 44827″,44826
    222,KPP Pratama Pangkalan Kerinci,Jl. Pamong Praja Komp. Perkantoran Bakti Praja ,,,494601,494600
    223,KPP Pratama Tanjung Balai Karimun,Jl. Pramuka No. 42,,,21240,21240
    224,KPP Pratama Bintan,Jl. Jend. A. Yani No.22,,,”21864, 312916″,20116
    ,KP2KP Bagan Siapiapi,Jl. Pelabuhan Baru No. 9,,,,
    ,KP2KP Daik,Jl. Pahlawan No. 8,,,,
    ,KP2KP Duri,Jl. Lintas Dumai Duri Km.3,,,94531,
    ,KP2KP Pasir Pangarayan,Jl. Panglima Awang No. 72 ,,,91697,91919
    ,KP2KP Ranai,Jl. Datuk Kaya Wan Muhammad Benteng,,,,
    ,KP2KP Selat Panjang,Jl. Yos Sudarso No.1,,,32066,
    ,KP2KP Siak Sri Indrapura,Jl. Dr. Sutomo No. 2 Kampung Dalam ,,,20466,20466
    ,KP2KP Teluk Kuantan,Jl. Perintis Kemerdekaan No.62,,,20063,20063
    ,KP2KP Tanjung Batu,Jl. RA Kartini No. 25,,,,
    ,KP2KP Tembilahan,Jl. Veteran No.5,,,”21075, 21857″,
    ,KP4 Tanjung Pinang,Jl. Diponegoro No.3 A,,,(0722) 21240,
    ,,,,,,
    250,Kanwil DJP Kalimantan Timur,GKN Lt. 3 Jl. Jend. A. Yani No.68-69 ,,,”424720(sekre), 733835″,421900
    725,KPP Madya Balikpapan,Jl. Kapten Piere Tendean No.30,,,”441260, 441483″,”424420, 441403″
    721,KPP Pratama Balikpapan,”Jl. MT. Haryono No. 1, RT. 67, Batu Ampar”,,,7212630,7212660
    722,KPP Pratama Samarinda,Jl. MT. Haryono No.17 ,,,760402,754313
    723,KPP Pratama Tarakan,Jl. Jend. Sudirman No.104,,,”23827(Sekr), 23830 (Ka), 238700, 30743″,51130
    724,KPP Pratama Bontang,Jl. Jend. Sudirman No.54,,,”27716, 20139 (Sekr ext.201), 517423, 20305″,27716
    726,KPP Pratama Penajam,Jl. Jend. A.Yani No. 01,,,”418137(Ka ext 23), 421800 (Sekr ext 26)”,730144
    727,KPP Pratama Tanjung Redeb,Jl. Jend. Sudirman No.104 ,,,”23826 (Sentral), 22166 (Ka), 5508925″,23825
    728,KPP Pratama Tenggarong,Jl. Basuki Rahmat No.42,,,”743101, 741191 (Ka), 732054″,741431
    ,KP2KP Sangatta,JL. Yos Sudarso II No.01 ,,,22002,25540
    ,KP2KP Tanah Grogot,Jl. Jend. Sudirman No.26 ,,,21202,21202
    ,KP2KP Sendawar,”Jl. Jend. Sudirman, Proyok”,,,”41563, 42017″,41563
    ,KP2KP Tanjung Selor,Jl. Langsat No. 38,,,21262,21262
    ,KP2KP Malinau,Jl. Jend. Sudirman No.104,,,23830,51130
    ,KP2KP Nunukan,Jl. RE. Martadinata RT. 06,,,21020,
    ,,,,,,
    260,”Kanwil DJP Sulawesi Selatan, Barat dan Tenggara”,Jl. Urip Sumohardjo GKN,,,”456131-32(sekre), 436242, 456855-57″,” 456976(sekre), 456857″
    812,KPP Madya Makassar,Jl. Sudirman No.54 B,,,8111885,833078
    801,KPP Pratama Makassar Utara,Jl. Urip Sumohardjo km 4  GKN I,,,”456135, 456954″,456954
    804,KPP Pratama Makassar Barat,Jl. Balaikota no.15,,,334315-16,336066
    805,KPP Pratama Makassar Selatan,Jl. Urip Sumohardjo km 4  GKN I,,,”441680, 441681″,441259
    802,KPP Pratama Parepare,Jl. Jend. Sudirman No.49,,,”22183, 22866″,22243
    803,KPP Pratama Palopo,Jl. Merdeka No.55,,,”23519, 21060, 22584″,22582
    806,KPP Pratama Bulukumba,Jl. Sultan Hasanuddin,,,”81985, 84046″,82161
    807,KPP Pratama Bantaeng,Jl. Andi Mannappiang ,,,”21188, 21189, 21190″,22049
    808,KPP Pratama Watampone,Jl. Sangir No.3,,,”21167, 21047″,21167
    809,KPP Pratama Maros,Jl. Jend. Sudirman KM. 28,,,373069,372536
    811,KPP Pratama Kendari,Jl. Saranani kel. Wua-Wua No. 188,,,”325550, 26131, 25551″,326230
    813,KPP Pratama Majene,Jl. Jend. Sudriman No. 81,,,22608,21097
    814,KPP Pratama Mamuju,”Komp. Pasar Regional Mamuju, Jl. Pangeran Diponegoro Blok C/8″,,,21332,21332
    815,KPP Pratama Kolaka,Jl. Diponegoro No.35,,,321014,322090
    816,KPP Pratama Bau-Bau,Jl. Betoambari No.35,,,”2821204, 2821639″,2821204
    ,KP2KP Sungguminasa,Jl. Mesjid Raya No.24,,,861143,883710
    ,KP2KP Benteng,Jl. Ki Hajar Dewantara No. 51,,,21318,
    ,KP2KP Masamba,Jl. Ahmad Yani No. 24A,,,21577,
    ,KP2KP Makale,Jl. Pongtiku No.26 ,,,21400,21400
    ,KP2KP Raha,Jl. Kelinci No.2,,,21180,21180
    ,KP2KP Sidrap,Jl. Ganggawa No. 4,,,,
    ,KP2KP Bontosunggu,Jl. Pahlawan kel. Empoang kec. Binamu,,,,
    ,KP2KP Watansoppeng,Jl. Pemuda No.9,,,21131,
    ,KP2KP Sengkang,Jl. Nusa Indah No. 2,,,21169,
    ,KP2KP Sinjai,Jl. Bulo Bulo Barat No. 1 Komp. Dispenda,,,,
    ,KP2KP Andoolo/KP2KP Unaaha,Jl. Poros Andolo-Kendari Desa Aepodu kec. Laineya,,,,
    ,KP2KP Lasusua,”Desa Patowanua, kec. Lasusua”,,,,
    ,KP2KP Rumbia,”Jl. Beruang No. 2 Desa Lingkungan I Lauru, kec. Rumbia”,,,,
    ,KP2KP Polewali,”Jl. DR. Ratulangi (Poros Polewali-Mamasa) kel. Darma, kec. Polewali”,,,,
    ,KP2KP Mamasa,Jl. Poros Mamasa kel. Osango kec. Mamasa,,,,
    ,KP2KP Pasangkayu,Jl. Poros Mamuju-Pasangkayu,,,,
    ,KP2KP Malili,”Jl. DR. Ratulangi, Malili”,,,,
    ,KP2KP Barru/KP2KP Pinrang,Jl. Sultan Hasanuddin No. 19 Sumpa Binanga,,,,
    ,KP2KP Enrekang,”Dusun Pudatte No. 85, desa Juppandang kec. Enrekang”,,,,
    ,KP2KP Takalar,”Kantor Dispenda, Jl. Jend. Sudirman”,,,,
    ,KP2KP Pangkajene,Jl. Ketimun kel. Mappasaile kec. Pangkajene,,,,
    ,,,,,,
    30,Kanwil DJP Sumatera Utara II,Jl. Gunung Simanuk-manuk No.11 (sementara),Pematang Siantar,21115,(0622) 430800,(0622) 25355
    ,,Jl. Sagnawaluh Komplek Ruko Griya Siantar Blok A No.1,Pematang Siantar,,(0622) 7552828,
    114,KPP Tebing Tinggi,Jl. Mayjen Sutoyo No.32,Tebing Tinggi,20633,”22498, 22788, 22334″,(0621) 24951
    115,KPP Kisaran ,Jl. Prof. H.M.Yamin S H No.79,Kisaran,21224,”41355, 43920, 43869″,(0623) 41714
    116,KPP Rantau Prapat,Jl. Ahmad Yani No. 56,Rantau Prapat,21415,”21105, 23547″,(0624) 21776
    117,KPP Pematang Siantar,Jl. Sisingamangaraja No.79,Pematang Siantar,21147,”21430, 24005, 24011″,(0622) 24013
    118,KPP Padang Sidempuan,Jl. Jend. Sudirman No. 6,Padang Sidempuan,22721,”26137-9, 26141″,(0634) 22626
    ,KP PBB Pematang Siantar,Jl. Dahlia No.12 Kotak Pos 52,Pematang Siantar,21113,”23042, 22856, 23702, 24474″,(0622) 24465
    ,KP PBB Tebing Tinggi,Jl. Mayjen Sutoyo No.32,Tebing Tinggi,20633,”24952, 21245, 21008″,(0621) 21342
    ,KP PBB Kisaran,Jl. Prof. M. Yamin No.47,Kisaran,21224,”41427, 41435″,(0623) 41435
    ,KP PBB Rantau Prapat,Jl. Sisingamangaraja No. 47 Rantau Prapat,Labuhan Batu,,21174,(0624) 21535
    ,KP PBB Padang Sidempuan,Jl. Kenanga No.99,Padang Sidempuan,22725,”21897, 21605″,(0634) 23478
    ,KP PBB Sibolga,Jl. Ade Irma Suryani No.17,Sibolga,,”23110, 23125, 23124, 23123″,(0631) 23120
    ,KP PBB Gunung Sitoli,Jl. Sudirman No.71,Gunung Sitoli,22813,”081362348155(Ka.), 21867(sekre.ka.), 21227(TU), 22555 “,(0639) 21867
    ,KP PBB Kabanjahe,Jl. Sudirman No.03 Gedung Kabanjahe Plaza Lt. IV,Kabanjahe,,,
    ,KP PBB Deli Serdang,Jl. P. Diponegoro No. 42-44,Lubuk Pakam,,(061)7956901(belum aktif),
    ,Karikpa Pematang Siantar,Jl. Gunung Simanuk-manuk No.11,Pematang Siantar,21115,430800,(0622) 25355
    ,KP4 Tebing Tinggi,Jl. Diponegoro No.70 Lubuk Pakam,Deli Serdang,20511,7952146,(061) 7952146
    ,KP4 Kisaran,Jl. Cokroaminoto No.49,Tanjung Balai,,(0623) 92070,(0623)94293
    ,KP4 Rantau Prapat,Jl. A.Yani No.56,Rantau Prapat,,,
    ,KP4 Pematang Siantar,Jl. Sisingamangaraja No.58,Pematang Siantar,,”(0622) 21430, 24005, 24011 ext. 120″,
    ,KP4 Penyabungan,Jl. Willem Iskandar No.175B Penyabungan,Padang Sidempuan,,8126433918,
    ,KP4 Sibolga,”Jl. Padang Sidempuan Km. 3,8 Sarudi”,Sibolga,22533,21274,(0631) 21274
    ,KP4 Tarutung,Jl. Guru Mangaloksa,Tarutung,,(0633) 21654,
    ,KP4 Gunung Sitoli,Jl. Pancasila No. 17,Gunung Sitoli – Nias,22533,(0639) 21886,(0639) 21886
    ,,,,,,
    50,Kanwil DJP Sumatera Barat dan Jambi,Jl. M. Husni Tamrin ,Jambi,,”7050168, 22342, 213561″,(0741) 22534
    331,KPP Jambi,Jl. Mayjen.Yusuf Singadekane No.46,Jambi,36122,”63219, 60855, 63236″,(0741) 63280
    332,KPP Muara Bungo,Jl. Teuku Umar No. 3 Pasir Putih ,Muara Bungo,37212,”322896, 322895, 322897″,(0747) 21568
    202,KPP Bukit Tinggi,Jl. Prof. M. Yamin No.60 Aur Kuning,Bukit Tinggi,26181,”624470, 624472″,(0752) 624471
    201,KPP Padang,Jl. Bagindo Aziz Chan No.26,Padang,25001,”22467, 22134, 27014″,(0751) 22256
    ,KP PBB Solok,Jl. Solok Laing – Tembok Raya,Solok,27326,”324207, 324208″,(0755) 324206
    ,KP PBB Bukittinggi,Jl. Havid Jalil No.7 D/ tarok bungo,Bukittinggi,26136,”22853(Ka), 31825(Sekr)”,(0752) 23824
    ,KP PBB Jambi,Jl. Arif Rachman Hakim No.9 ,Jambi,36124,”60368, 62598, 25660, 62620″,(0741) 668732
    ,KP PBB Muara Bungo,Jl. Teuku Umar No. 3 Rimba Tengah,Muara Bungo,37211,21031,(0747) 21028
    ,KP PBB Kuala Tungkal,Jl. Prof. Sri Sudewi MS,Kuala Tungkal,,,
    ,Karikpa Padang,Jl. Pemuda No.49 PO BOX 212,Padang,25117,”33093, 34394, 24057″,(0751) 24580
    ,Karikpa Jambi,Jl. Mayjen.Yusuf Singadekane No.46a,Jambi,36122,”63346, 63320″,(0741) 63346
    ,KP4 Jambi,Jl. Jend. Soedirman,Muara Bulian,36613,,
    ,KP4 Kuala Tungkal,Jl. Ki Hajar Dewantara No.257,Kuala Tungkal,36512,,
    ,KP4 Muara Bungo,Jl. Jend. Soedirman Km.2,Bangko,36512,,
    ,KP4 Sungai Penuh,Jl. Pemuda No.14 ,Sungai Penuh,37112,,
    ,KP4 Bukit Tinggi,Jl. Dr. Moh. Hatta No.767 ,Lubuk Basung,26415,(0752) 76018,
    ,KP4 Lubuk Sikaping,Jl. Prof. Dr. Hamka No.271,Lubuk Sikaping,26351,(0753) 20054,(0753) 20054
    ,KP4 Padangpanjang,Jl. Anas Karim No.30,Padang Panjang,27111,(0752) 82131,
    ,KP4 Payakumbuh,Jl. Wiliem Iskandar No.175B Payakumbuh,Mandailing Nalor,,(0752) 92281,
    ,KP4 Padang,Jl. Jend. Sudirman No.165,Pariaman,25519,(0751) 91705,
    ,KP4 Solok,Jl. Lubuk Sikaran No.20,Solok,,(0755) 20670,
    ,KP4 Painan,”Jl. Prof. Moh. Yamin,SH No.8 “,Painan,25611,(0756) 21103,
    ,KP4 Sawah Lunto,Jl. Prof. Moh. Yamin No.69,Sijunjung,24711,(0754) 20052,
    ,,,,,,
    60,Kanwil DJP Sumatera Selatan ,Jl. Kapten A. Rivai No.4 ,Palembang,30129,”312395 (sekre), 354246, 356752 ext 409″,(0711) 313119
    ,& Kep. Bangka Belitung,,,,,
    308,KPP Madya Palembang,Jl. Jend. A. Yani No. 59,Palembang,30128,”(0711) 513898, 513882, 513894″,(0711) 519703
    307,KPP Palembang Ilir Barat,Jl. Kapten A. Rivai No.10,Palembang,30136,”357888, 350529, 373805, 376472″,(0711) 313376
    301,KPP Palembang Ilir Timur,Jl. Kapten A. Rivai No.4,Palembang,30129,”313870, 354246 ext 301, 352075, 352087″,(0711) 354389
    306,KPP Palembang Seberang Ulu,Jl. A. Yani No.59-14 Ulu,Palembang,30128,”513391, 513393-5″,(0711) 513392
    303,KPP Lubuk Linggau,Jl. Yos Sudarso No.97,Lubuk Linggau,31621,”323045-50, 322211″,(0733) 321900
    302,KPP Baturaja,Jl. DR. Moch. Hatta No.649,Baturaja,32116,”324644-6, 320192″,(0735) 324644
    304,KPP Pangkal Pinang,Jl. Taman Ican Saleh No.4,Pangkal Pinang,33121,”432171, 422844, 422979, 421291-2″,(0717) 421935
    305,KPP Tanjung Pandan,Jl. Sriwijaya No.5,Tanjung Pandan,33411,”21527, 21340″,(0719) 21602
    ,KP PBB Palembang,”Jl. Jend. A. Yani No. 59, 14 Ulu”,Palembang,30128,”7080164, 519702, 519700 ext 11,12″,(0711) 519701
    ,KP PBB Baturaja,Jl. DR. Moch. Hatta No.649 ,Baturaja,32116, 324642-3,(0735) 324641
    ,KP PBB Lahat,Jl. Akasia Kapling Bandar Jaya ,Lahat,31414,322260,(0731) 321672
    ,KP PBB Sekayu,JL. Perjuangan No. 321,Sekayu,,”(0714) 321746, 322109″,(0711)519701
    ,KP PBB Pangkal Pinang,”Jl.Raya Selindung Baru, PO Box 111″,Pangkal Pinang,33117,”421396, 424090″,(0717) 422285
    ,Karikpa Palembang,”Jl. Jend. Sudirman No.593 KM 3,5″,Palembang,30268,”(0711) 358467, 358531, 352513(Ka)”,(0711) 358467
    ,KP4 Palembang Ilir Timur,Jl. Kapten Rivai No.4 GKN Palembang,Palembang,30129,”354246 ext 305, 352087″,(0711) 354389
    ,KP4 Palembang Ilir Barat,Jl. Kapten Rivai No.10,Palembang,30136,350529 ext 124,(0711) 313376
    ,KP4 Kayu Agung,Jl. Rumah Sakit No.33,Kayu Agung,30614,321192,(0712)321192
    ,KP4 Sekayu,Jl. Kol. Wahid Udin No.229,Sekayu,30711,321068,(0714)321068
    ,KP4 Lubuk Linggau,Jl. Sub Koss Garuda No.5,Lubuk Linggau,31611,(0733) 321186,
    ,KP4 Lahat,Jl. Sersan Mayor Jamis No.165,Lahat,31411,321321,(0731)321321
    ,KP4 Baturaja,JL. DR. Moch. Hatta No.649,Baturaja,32111,324645,(0735) 324644
    ,KP4 Muara Enim,Jl. Pramuka III No.8,Muara Enim,31315,421275,(0734) 421275
    ,KP4 Pangkalpinang,Jl. Jend. Soedirman No.170,Sungailiat,33215,92151,(0717)92151
    ,KP4 Tanjung Pandan,Jl. Jend Soedirman No. 12 Air Pancur,Tanjung Pandan,33412,421340,(0719)421935
    ,,,,,,
    70,Kanwil DJP Bengkulu & Lampung,Jl. Wolter Monginsidi No. 223,Bandar Lampung,35401,”260535(sekr), 262573(Ka)”,(0721) 260536
    311,KPP Bengkulu,Jl. Pembangunan No.6 PO BOX-59,Bengkulu ,38225,”345116, 345117, 21961, 20127″,
    321,KPP Metro,Jl. AR Prawiranegara No.66 Kauman Bawah ,Metro Lampung Tengah,34111,”41539(Ka), 41762(TU)”,
    322,KPP Bandar Lampung,Jl. Dr. Susilo No.19 BDL,Bandar Lampung,35241,”262743(Ka), 252361(TU), 261977(sekr)”,(0721) 253004
    ,KP PBB Bengkulu,Jl. Soekarno Hatta,Bengkulu ,38222,”21638(TU), 25882(Ka)”,(0736) 346290
    ,KP PBB Bandar Lampung,”Jl. Dr. Susilo No.41 BDL, Kotak Pos 45/Tk”,Bandar Lampung,35401,”262574(sekr), 269401(TU), 269060(PST)”,(0721) 253204
    ,KP PBB Metro,Jl. Unyi kauman Bawah No.66,Metro-Lampung Tengah,34111,”41539, 41562, 47979, 47977, 41545, 41762″,(0725) 41762
    ,KP PBB Curup,JL. Sukowati No.39,Curup,39114,”24450(oprtr), 324857(Ka.)”,(0732)24450
    ,KP PBB Kota Bumi,Jl. A Akuan No. 337,Kota Bumi,34514,21957(TU),(0724) 22472
    ,Karikpa Bengkulu,Jl. S. Parman No.17 ,Bengkulu ,38227,”20856, 21962″,(0736)22506
    ,Karikpa Bandar Lampung,Jl. Cut Mutia No.68 BDL,Bandar Lampung,35223,”488150(Ka), 481011(TU)”,(0721) 481234
    ,KP4 Bengkulu,Jl. Beringin No.23,Bengkulu ,,(0736)22972,
    ,KP4 Curup,Jl. Merdeka No.53,Curup,39117,(0732)21255,
    ,KP4 Manna,Jl. Pangeran Duayu No.31,Manna,38516,(0739)21053,
    ,KP4 Metro,”Jl. Proklamator No.169, Bandar Jaya”,Lampung Tengah,,`,
    ,KP4 Kotabumi,”Jl. Ahmad Akuan No.144, Kotabumi”,Lampung Utara,34515,(0724)21372,
    ,KP4 Bandar Lampung,Jl. Sultan Hasanuddin No.28,Bandar Lampung,,(0721)484622,
    ,KP4 Kalianda,Jl. Indra Bangsawan,Kalianda,35513,(0727)322114,
    ,,,,,,
    230,Kanwil DJP Kalimantan Barat ,Jl. Jend. A. Yani No.1,Pontianak,78124,”712635-6, 712692 (sekre)”,”(0561) 711144, 712785 (sekre),”
    701,KPP Pontianak,Jl. Sultan Abdurachman No.1,Pontianak,78116,”734580, 734026, 734075-76, 734078″,(0561) 734026
    702,KPP Singkawang,Jl. G.S Lelanang ,Singkawang,79123,”635511, 636958″,(0562) 635511
    ,KP PBB Pontianak,Jl. Sultan Abdurachman No.76,Pontianak,78121,”736374, 736735, 736734, 764557″,(0561) 732321
    ,KP PBB Singkawang,Jl. Alianyang No.2,Singkawang,79122,”632647, 631858″,(0562) 632027
    ,KP PBB Sanggau,Jl. Jenderal Sudirman,Sanggau,78500,”23699, 23499″,(0564) 23299
    ,KP PBB Sintang,Jl. Apang Semangai No.61,Sintang,78611,”21206, 22800, 24493″,(0565) 22800
    ,Karikpa Pontianak,Jl. Jend. A. Yani Tromol Pos 1121,Pontianak,78124,”712677, 712693, 712792″,(0561) 712669
    ,KP4 Pontianak,Jl. G.M. Taufik No.3,Mempawah,78912,(0561) 691065,
    ,KP4 Ketapang,Jl. Letjen. M. Tohir No.14,Ketapang,78812,32404,(0534) 31512
    ,KP4 Singkawang,Jl. Pangsuma No. 35 ,Pemangkat,79153,(0562) 241662,
    ,KP4 Sintang,Jl. Mujahidin No.1,Sintang,78611,(0565) 21205,
    ,KP4 Putussibau,”Jl. Komodor Yos Sudarso No,141″,Putussibau,,21137,(0567) 21137
    ,KP4 Sanggau ,Jl. Dewi Sartika No.3,Sanggau,78513,21207,(0564) 21207
    ,,,,,,
    240,Kanwil DJP Kalimantan Selatan & Tengah,”Jl. Ahmad Yani Km. 6,7″,Banjarmasin,70111,”3258989, 3272878″,(0511) 3272768
    731,KPP Banjarmasin,Jl. Lambung Mangkurat No.46,Banjarmasin,70111,”3354963,  3354208, 3354318, 3354731″,(0511) 3354632
    732,KPP Banjarbaru,”Jl. Jend. A Yani Km. 33,5 Komplek Citra Megah”,Banjarbaru,,4782833,(0511) 4780963
    711,KPP Palangkaraya,Jl. Yos Sudarso No.5,Palangkaraya,73111,”3235711, 3235712″,(0536) 21028
    712,KPP Sampit,Jl. Jend. A. Yani No.7,Sampit,74322,”21341(sekre), 21172, 22056″,(0531) 21308
    ,KP PBB Banjarmasin,Jl. H. Djok Mentaya No. 23,Banjarmasin,70112,”53528, 54303, 52416″,(0511) 53403
    ,KP PBB Barabai,Jl. Ir. HM Noor No.10,Barabai,71314,”41132, 41026″,(0517) 41752
    ,KP PBB Pelaihari,Sementara gabung ke KPPBB Barjarmasin,,,,
    ,KP PBB Palangkaraya,Jl. Yos Sudarso No. 5,Palangkaraya,73112,”3235540, 3235541″,(0536) 3235539
    ,KP PBB Buntok,Jl. Panglima Batur No.23,Buntok,73711,”21027, 21323″,(0515) 21325
    ,KP PBB Sampit,Jl. Sampit Kota Besi No. 10,Sampit,,”22865, 21341″,(0531) 21791
    ,KP PBB Pangkalan Bun,Jl. Pangeran Antasari No. 10B,Pangkalan Bun,,25939,(0532) 25938
    ,Karikpa Banjarmasin,Jl. R.E Martadinata 126A,Banjarmasin,,”3354594, 3355737, 3352533″,(0511) 3354594
    ,Karikpa Palangkaraya,Jl. Yos Sudarso No. 5,Palangkaraya,73112,”22223, 26077, 25678, 26059″,(0536) 26590
    ,KP4 Pelaihari,Jl. Bagas/Pemda ,Pelaihari,70814,(0512) 21125,
    ,KP4 Marabahan,Jl. Putri Junjung Buih No.34,Marabahan,70513,(0511) 79062,
    ,KP4 Batulicin,Jl. H. Hasan Basri No.5,Kotabaru,,(0518) 21215,(0518) 21215
    ,KP4 Tanjung,Jl. Jaksa Agung Suprapto No.79,Tanjung,,(0526) 21250,
    ,KP4 Kandangan,Jl. Pahlawan No.33,Kandangan,71211,(0517) 21314,
    ,KP4 Barabai,Jl. Telaga Sei Tabuk No.41 Rt 01,Barabai,,(0517) 41112,
    ,KP4 Amuntai,”Jl. Nurman Umar No.5 Amuntai, Hulu Sungai Utara”,Amuntai,,(0527) 52971,
    ,KP4 Martapura,Jl. Jend. A. Yani No.23,Martapura,70614,,
    ,KP4 Palangkaraya,Jl. Mangku Kambang No. 104 ,Tangkiling,,(0536) 29692,
    ,KP4 Kuala Kapuas,Jl. Tambun Bungai No.31,Kuala Kapuas,73516,,
    ,KP4 Buntok,Jl. Pelita Raya No.342,Buntok,73712,(0525) 21214,
    ,KP4 Muara Teweh,Jl. Jend. Ahmad Yani No.167,Muara Teweh,73811,21216,(0519) 21216
    ,KP4 Sampit,Jl. Pelita No.3 Kota Waringin Timur,,74212,(0538) 21224,
    ,KP4 Pangkalan Bun,Jl. Sultan Syahril No.41,Pangkalan Bun,74111,(0532) 21309,
    ,,,,,,
    270,”Kanwil DJP Sulawesi Utara, Tengah,”,Jl. 17 Agustus No.17 KP 1319,Manado,95119,”851803(sekre), 851473, 851785, 851411″,(0431) 851803
    ,”Gorontalo, dan Maluku Utara”,,,,,
    821,KPP Manado,Jl. Gunung Klabat,Manado,95117,”863597, 5162″,(0431) 852622
    822,KPP Gorontalo,Jl. Arif Rahman Hakim ,Gorontalo,96128,830010,(0435) 830009
    831,KPP Palu,Jl. Prof. Moh. Yamin No.94,Palu,94112,421625,(0451) 422730
    832,KPP Luwuk,Jl. Yos Sudarso No.14,Luwuk,94715,21052,(0461) 22098
    942,KPP Ternate,”Jl. Raya Mangga Dua, Kel. Jati Kecil “,Ternate,97112,” 21352, 21070, 23421  “,(0921) 22358
    ,KP PBB Manado,Jl. 17 Agustus No.17,Manado,95119,(0431) 854763,
    ,KP PBB Sangihe Talaud,Jl. Tatehe No. 62 Kel. Apengsembeka Tahuna,Tahuna,,”24472, 24473″,(0432) 24472
    ,KP PBB Gorontalo,Jl. Arif Rahman Hakim ,Gorontalo,96128,”24079, 21612, 8302445 – 6 “,(0435) 24079
    ,KP PBB Amurang,,,,,
    ,KP PBB Palu,Jl. Prof. Moh. Yamin  No.35,Palu,94112,482320,(0451) 481220
    ,KP PBB Buol Toli-toli,Jl. Magamu No.102,”Toli-Toli, Sulteng”,94515,”23764, 23765″,(0453) 24296
    ,KP PBB Luwuk,Jl. A.Yani No. 140,Luwuk,94711,21125,(0461) 22078
    ,KP PBB Poso,Jl. Pulau Kalimantan No.23 ,Poso,94619,”21385, 21387″,(0452) 21224
    ,KP PBB Ternate,Jl. Yos Sudarso No.287,Ternate,97712,22345,(0921) 21721
    ,Karikpa Manado,Jl. Bethesda No.24,Manado,,863580,(0431) 855191
    ,Karikpa Palu,Jl. Pangeran Diponegoro No.40,Palu,94221,”462707, 460745″,(0451) 460682
    ,KP4 Manado ,”Jl. Raya Walian-Tomohon No.14, Kec. Tomohon Selatan”,Tomohon,95362,(0431) 353171,
    ,KP4 Bitung,Jl. Raya Sam Ratulangi ,Bitung,95500,(0436) 21223,
    ,KP4 Tahuna,Jl. Malahasa No.79,Tahuna,95813,(0432) 21068,
    ,KP4 Kotamobagu,Jl. Yusuf Hasiru No.268,Kotamobagu,95712,,
    ,KP4 Gorontalo,Jl. Ade Irma Suryani No.102,Limboto,96211,(0435) 881038,
    ,KP4 Palu,Jl. S. Parman No.7,Palu,,(0451) 421925,(0451) 456191
    ,KP4 Toli-Toli,Jl. H. Mallu No.19,Toli-Toli,,(0453) 21243,(0453) 21243
    ,KP4 Luwuk,Jl. Katamso Nomor 4,Luwuk,,(0461) 22214,
    ,KP4 Poso,Jl. Pulau Kalimantan No.23,Poso,94619,(0452) 21629,(0452) 324829
    ,KP4 Ternate,Jl. Anggrek No.17 ,Ternate,97112,327039,(0921) 327039
    ,KP4 Soa Sio,Jl. Jend. A. Yani,Soa Sio,97013,61045,(0920) 61045
    ,KPP Pratama Bitung,”Jl. Raya Sam Ratulangi, Bitung”,”Bitung, Sulut”,,21223,(0438)21223
    ,KPP Pratama Gorontalo,Jl. Arif Rahma Hakim,Gorontalo,,830010,(0435)830003
    ,KPP Pratama Marisa,-,-,-,-,-
    ,KPP Pratama Kotamobagu,-,-,-,-,-
    ,KPP Pratama Manado,JL. 17 Agustus  No.17 ,”Manado, Sulut”,,”851685, 854763″,(0431)864497
    ,KPP Pratama Tahuna,Jl. Tatehe No. 62 Kel. Apengsembeka Tahuna,”Tahuna, Sulut”,,”24472, 24473″,(0432) 24472
    ,KPP Pratama Luwuk,JL. Yos Sudarso No.14,”Luwuk, Sulteng”,,”21052, 22207″,(0461) 22098
    ,KPP Pratama Palu,JL. Prof Moh. Yamin NO.44,”Palu, Sulteng”,,”421725, 421625″,(0451) 422730
    ,KPP Pratama Poso,Jl. P. Kalimantan No. 23,”Poso, Sulteng”,,”21385, 21387″,(0452) 21224
    ,KPP Pratama Toli-toli,JL. Magamu No.10 ,”Toli-toli, Sulteng”,,”23764, 23765″,(0453) 23764
    ,KPP Pratama Tobelo,-,-,-,-,-
    ,KPP Pratama Ternate,Jl. Yos Sudarso No. 287,Ternate,,”21352, 21070″,(0921) 22358
    ,KP2KP Tondano,Jl. Manguni Wewelan,Tondano,,-,-
    ,KP2KP Limboto,Jl. Ade Irma Suryani No.102,Limboto,,881038,(0435) 881038
    ,KP2KP Tilamuta,-,-,-,-,-
    ,KP2KP Amurang,Jl. Trans Sulawesi,Amurang,,-,-
    ,K2KP Talaud,-,-,-,-,-
    ,KP2KP Banggai,Desa Lampio,Banggai,,-,-
    ,KP2KP Banawa,-,-,-,-,-
    ,KP2KP Parigi,Desa bantaya,”Parigi, Sulteng”,,-,-
    ,KP2KP Bungku,-,-,-,-,-
    ,KP2KP Buol,-,-,-,-,-
    ,KP2KP Maba,-,-,-,-,-
    ,KP2KP Sanama,-,-,-,-,-
    ,KP2KP Tidore,Jl. Jend. Ahmad yani,Soa-sio,,61045,-
    ,KP2KP Labuha,-,-,-,-,-
    ,,,,,,
    290,Kanwil DJP Nusa Tenggara,Jl. Sriwijaya No. 182-B,Mataram,83126,”647862, 640901″,”(0370) 647883, 640901″
    911,KPP Mataram,Jl. Raya Langko No. 74,Mataram,83125,”633075, 633006, 38374, 26748″,(0370) 633724
    912,KPP Raba Bima,Jl. Soekarno Hatta No.117,Raba Bima,84115,”44262, 647124″,(0374) 43227
    921,KPP Maumere,Jl. Eltari,Maumere,86113,”21336, 21857  “,(0382) 21373
    922,KPP Kupang,Jl. Palapa No. 8,Kupang,85111,”833165, 833568  “,(0380) 833211
    913,KPP Sumbawa Besar,Jl. Garuda No.109 ,Sumbawa Besar,,”21230, 626393  “,(0371) 21230
    ,KP PBB Mataram,Jl. Pejanggik No. 60,Mataram,83121,”631431, 632652  “,(0370) 625848
    ,KP PBB Raba Bima per Juni 2004,Jl. Soekarno-Hatta No.17,Raba Bima ,,”43651, 43233  “,(0374) 43126
    ,KP PBB Sumbawa Besar,Jl. Kebayan No. 1 ,Sumbawa Besar,,”22444, 21230  “,(0371) 24002
    ,KP PBB Kupang,Jl. Eltari II Kotak Pos 18,Kupang,85111,”823506, 823501, 823503  “,(0380) 825110
    ,KP PBB Waingapu,Jl. Soeharto,Waingapu,87111,62893,(0387) 62892
    ,KP PBB Maumere,Jl. Eltari  ,Maumere,86113,”21209, 21066  “,(0382) 21476
    ,Karikpa Mataram,Jl. Arief Rachman Hakim No. 49,Mataram,83126,”22948, 23797, 23718  “,(0370) 622948
    ,Karikpa Kupang,Jl. R.Suprapto No.13,Kupang,85111,”833412, 25157  “,(0380) 833396
    ,KP4 Mataram,Jl. Raya Langko No. 74,Mataram,83114,(0370) 54147  ,
    ,KP4 Praya,Jl. W.R. Supratman No.38,Praya,83511,(0370) 33006  ,
    ,KP4 Selong,Jl. Prof. M. Yamin,Selong,83612,(0367) 21398  ,
    ,KP4 Raba Bima,Jl. Pintu Gerbang Timur Istana,Raba Bima,84111,(0374) 42368  ,
    ,KP4 Dompu,Jl. Beringin No.45,Dompu,84211,(0373) 21161  ,
    ,KP4 Maumere,Jl. Eltari,Maumere,86113,(0382) 21061  ,
    ,KP4 Ende,Jl. El Tari No.8 ,Ende,86316,(0381) 21050  ,
    ,KP4 Larantuka,Jl. Basuki Rahmat No.45A,Larantuka,86218,(0383) 21129  ,
    ,KP4 Ruteng,Jl. Ahmad Yani No.2A,Ruteng,86511,(0385) 21077  ,
    ,KP4 Bajawa,Jl. S. Parman,Bajawa,86414,(0384) 21216  ,
    ,KP4 Kupang,Jl. Eltari II ,Kupang,85111,,
    ,KP4 Kalabahi,Jl. Diponegoro No.19,Kalabahi ,85812,(0386) 21048  ,
    ,KP4 Soe,Jl. Gajah Mada No.51,Soe,85512,(0392) 21345  ,
    ,KP4 Atambua,Jl. R. Soeprapto No.10,Atambua,85711,(0389) 21372  ,
    ,KP4 Waingapu,Jl. Ahmad Yani No.34 A,Waingapu,87111,61188,(0386) 61439
    ,KP4 Waikabubak,Jl. Bhayangkara No.83A,Waikabukak,87111,21019,(0387) 21167
    ,,,,,,
    300,Kanwil DJP Papua dan Maluku ,”Jl. A. Yani No.8, GKN Lantai 2, KP 1818″,Jayapura,99111,”523894(sekre), 534435, 535737, 521609  “,(0967) 535814
    941,KPP Ambon,Jl. Raya Patimura 18 GKN,Ambon,97124,”344345, 341078  “,(0911) 344362
    951,KPP Sorong,Jl. Jend. Sudirman No.26,Sorong,98415,”321417, 323130, 321492, 321050  “,(0951) 322424
    952,KPP Jayapura,”Jl. Jend. A. Yani No.8, GKN”,Jayapura,99111,”535720, 535719, 531981, 535712  “,(0967) 534145
    953,KPP Timika,Jl. Cendrawasih SP. II,Timika ,99910,”323453, 323603  “,”(0901) 323083, 323369″
    ,KP PBB Ambon,Jl. Jend. Sudirman No.10,Ambon,97128,”354742, 355401, 53082, 42296  “,(0911) 352272
    ,KP PBB Jayapura,Jl. A Yani No.8 KP 1523,Jayapura,99111,”533145, 534045, 534053  “,(0967) 523506
    ,KP PBB Biak,Jl. Adibai Sumberker,Biak,98117,”25121-2, 25120  “,(0981) 23681
    ,KP PBB Sorong,Jl. Jend. Sudirman No.24,Sorong,98416,”328994, 328993  “,(0951) 328995
    ,KP PBB Timika,Jl. Cendrawasih SP. II,Timika ,99911,”323847, 323851, 322851  “,(0901) 323851
    ,KP PBB Merauke,Jl. TMP Polder No.86,Merauke,99616,”321952, 325345    “,(0971) 326608
    ,Karikpa Ambon,Jl. Benteng Kapaha No.3,Ambon,97124,”342447, 53416, 42831  “,(0911) 342447
    ,Karikpa Jayapura,Jl. Santarosa No.42 ,Jayapura,99223,”534390, 535788, 531144  “,(0967) 532471
    ,KP4 Ambon,Jl. Jend. Sudirman No.10,Ambon,87124,”344352-55, ext.517  “,(0911) 344362
    ,KP4 Tual,Jl. Pahlawan Revolusi,Tual,97611,”21910, 21189  “,(0916) 21910 
    ,KP4 Masohi,Jl. Geser No.3,Masohi,97511,”21160, 21190  “,(0914) 21190
    ,KP4 Fak-Fak,Jl. Jend. A. Yani,Fak-Fak,98611,22050,(0956) 24440
    ,KP4 Manokwari,Jl. Yos Sudarso No.12,Manokwari,98312,”211549, 212144  “,(0986) 211549
    ,KP4 Jayapura,”Jl. Raya Abepura, Kali Acai “,Jayapura,99111,581597,(0967) 521296
    ,KP4 Biak,Jl. Majapahit No.2 ,Biak,98117,”21760, 21154  “,(0981) 21760
    ,KP4 Merauke,Jl. TMP Polder No.86,Merauke,99616,321952,(0971) 326608
    ,KP4 Wamena,Jl. Yos Sudarso No.60,Wamena,99511,31228,(0969) 31228
    ,KP4 Nabire,Jl. Bd. Danomiura No.1,Nabire,98815,21513,(0984) 21513
    ,KP4 Serui,Jl. Maluku No.28,Serui,98211,31737,(0983) 31737

     
  • Virtual Chitchatting 10:53 AM on 2014/05/01 Permalink  

    Ketika PKS (Penjahat Kelamin Sejahtera) bicara soal moral dan keadilan


    http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/30/15/859038/pks-tuding-pemerintah-berselingkuh-dengan-kapitalis

    Peringatan May Day
    PKS tuding pemerintah berselingkuh dengan kapitalis
    Eidi Krina Jason Sembiring, Rabu, 30 April 2014 – 12:12 WIB

    Sindonews.com – Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PKS Indra mendukung unjuk rasa buruh melakukan unjuk rasa besar-besaran yang akan dilaksanakan 1 Mei besok atau dikenal yang dikenal May Day (Hari Buruh). Ia menyalahkan pemerintah yang selama ini gagal memenuhi hak-hak buruh.

    “Berbagai tuntutan yang sudah diwacanakan dalam beberapa hari ini oleh berbagai organisasi buruh, merupakan sebuah realitas atas keprihatinan kondisi perburuhan Indonesia & sekaligus merupakan refleksi kegagalan pemerintah dalam menjamin hak-hak buruh seperti yang diatur dalam peraturan perundang-undanganan yang berlaku,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Sindonews, Rabu (30/4/2014).

    Menurutnya, tuntutan buruh Indonesia pada May Day besok diantaranya, peningkatan kesejahteraan, kerja layak, upah layak, penghapusan perbudakan modern dalam bentuk praktik outsourcing & kerja kontrak yang menyimpang, jaminan kebebasan berserikat, tolak PHK sepihak, dan social security, bukanlah tuntutan yang baru diwacanakan.

    “Hal ini merupakan tuntutan lama dan sudah sangat sering mereka tuntut dalam banyak momen. Kesemua poin-poin tuntutan tersebut memang menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhi menjamin hak dasar buruh seperti yang diatur dalam UUD 1945, UU Nomor 13/2003, UU Nomor 21/2000, dan berbagai peraturan pelaksana lainnya,” jelasnya.

    Ketua Departemen Advokasi Buruh DPP PKS ini menilai, persoalan mendasar kenapa akhirnya setiap May Day dan berbagai momen lainnya buruh terus berdemonstrasi dan turun ke jalan, karena memang selama ini pemerintah telah gagal dan lalai memenuhi amanah konstitusi, UU, dan peraturan perundang-undangan lainnya.

    “Penegakan hukum atas pemenuhan hak dasar buruh selama ini sangat lemah. Dengan embel-embel ramah investasi, pemerintah sering berselingkuh dengan para pengusaha & kapitalis yang pada akhirnya kerap kali mengabaikan pemenuhan hak-hak buruh seperti yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegasnya.

    Karena itu, lanjutnya, dengan momen May Day 2014 yang cukup istimewa ini di tahun transisi pemerintahan, dirinya mengimbau Presiden SBY agar memberikan kado akhir masa jabatan dengan bentuk memenuhi berbagai tuntutan buruh tersebut.

    “Sedangkan untuk para capres yang akan bertarung dalam Pilpres 2014 ini, mereka harus meyakinkan dan berkomitmen kepada kaum buruh atau pekerja bahwa kalau terpilih nanti akan memenuhi tuntutan kaum buruh dan menjamin terpenuhinya hak-hak buruh,” tutupnya.
    (kri)


     
  • Virtual Chitchatting 10:33 AM on 2014/05/01 Permalink  

    Tangan besi Hitler dibutuhkan untuk mencegah Indonesia masuk ke dalam perang antara saudara berebut kekuasaan, di tingkat pemda sampai kepresidenan

    by S3ra Sutan Rajo Ali
    Jakarta, May Day 2014

    Kelebayan SBY sebagai Presiden dan orang nomor satu di Indonesia semakin terkuak ketika SBY meninggalkan istrinya yang pertama untuk menikahi Kristiani Herrawati. Kelahiran Yogyakarta, 6 Juli 1952, merupakan anak dari pasangan Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dan Hj. Sunarti Sri Hadiyah. SBY menikahinya pada tanggal 30 Juli 1976, ketika SBY baru saja dilantik menjadi Perwira TNI dan menjadi lulusan terbaik. Napak tilas SBY tidak jauh berbeda dengan kelakuan Taufiq Kiemas, yang menikahi Megawati Soekarnoputri.


    top brass mspe-msopm


    http://koran-sindo.com/node/385657

    Perang Faksi Hambat Peta Koalisi
    Rahmat Sahid, Sucipto, Ayu R., Koran Sindo, 20140430, hal.3

    JAKARTA- Peta koalisi partai politik (parpol) dukungan calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) semakin cair dan membingungkan. Kondisi ini muncul akibat adanya pertarungan antarfaksi internal parpol.

    Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengatakan komunikasi politik harus dilakukan dengan semua faksi di tiap partai. Jika tidak begitu, dukungan terancam hilang atau tidak sah berdasarkan ketentuan undang-undang. “Ibaratnya mereka tidak hanya nego ke luar, tetapi juga harus nego ke dalam karena di dalam justru faksinya sangat kencang tarik-menariknya,” kata Qodari kepada KORAN SINDOkemarin.

    Lebih lanjut dia menjelaskan kondisi tersebut tidak saja dialami partai yang belum memiliki calon presiden, tetapi bahkan partai yang sudah jelas calonnya pun sulit membangun koalisi. Menurut dia, secara umum ada tiga variabel kenapa peta koalisi sekarang masih cair. Pertama faksionalisme internal partai menengah. Kedua belum jelasnya sikap politik partai yang sudah punya capres, khususnya capres PDIP Jokowi, akan menggandeng siapa. Terakhir sikap diam SBY mau ke mana dalam pilpres ini.

    Kesulitan para capres untuk membangun koalisi memang tak terelakkan. Hingga kini baru Jokowi yang sudah resmi memiliki tiket maju sebagai capres. Sementara Prabowo Subianto, ARB, dan kemungkinan adanya poros baru belum menemukan formasi yang tepat. Capres dari Partai Gerindra Prabowo terus berkeliling melakukan silaturahmi dan penjajakan koalisi. Prabowo mendatangi kediaman Ketua Umum yang juga capres Partai Golkar ARB di Jalan Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta Pusat kemarin.

    Pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut dihadiri sejumlah pimpinan dari kedua partai seperti Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon, Sekjen Gerindra Ahmad Mujani. Kemudian Sekjen Golkar Idrus Marham, Bendahara Umum Setya Novanto. “Saya kedatangan tamu istimewa. Dia adik saya. Tadi cuma makan dan bercanda-canda,” kata ARB seusai pertemuan.

    Menurut dia, dalam pertemuan tersebut kedua pihak tidak membahas soal capres dan cawapres. Kedua partai tetap mengusung capres masingmasing. Namun kedua partai memiliki kesamaan dalam membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera. “Kami sepakat bicara lagi pada kesempatan berikutnya mengenai koalisi partai. Kita mencoba Golkar-Gerindra bisa berkoalisi, tapi tidak bisa kita putuskan sekarang. Semoga koalisi bisa terbentuk sebelum pilpres,” ujar ARB.

    Sementara itu Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto mengatakan, kedatangannya kali ini sebagai sahabat yunior. Menurut mantan danjen Kopassus ini, ARB merupakan tokoh nasional yang berhasil. “Suasana persahabatan sangat kental sehingga pembicaraan sangat terbuka dari hati ke hati. Kita sepakat untuk membicarakan lebih intensif dan terperinci. Kita serius memikirkan penggabungan dua kekuatan untuk kepentingan bangsa dan negara,” ucapnya.

    Gulirkan Penyelamatan

    Sementara itu suasana di tubuh Partai Golkar semakin panas. Setelah sebelumnya sejumlah pimpinan ormas Golkar melakukan pertemuan di sebuah hotel di Jakarta, kini giliran pendiri SOKSI Suhardiman menggulirkan wacana untuk melakukan Gerakan Penyelamatan Partai Golkar. Suhardiman mengatakan penyelamatan Partai Golkar perlu dilakukan karena partai yang dibentuk oleh ormas Trikarya ini (SOKSI, MKGR, dan Kosgoro) tidak akan memenangi Pemilu 2014 jika tetap mengajukan ketua umumnya sebagai capres.

    Menurut dia, mayoritas pemilih adalah orang Jawa dan ada kecenderungan mereka memilih capres yang berasal dari Jawa juga. Terlebih elektabilitas ARB juga kalah dengan capres dari Jawa. “Dia sebaiknya jadi king maker saja,” katadia. Mengenai siapa saja yang masuk dalam kelompok penyelamat Partai Golkar ini, Suhardiman mengatakan siapa pun kader Golkar boleh bergabung.

    Sumber internal Golkar menyebutkan Suhardiman akan menggalang ormas pendiri Golkar, yaitu MKGR, SOKSI, dan Kosgoro 1957, dalam gerakan penyelamatan Golkar ini. Adapun politikus senior Partai Golkar Zainal Bintang mengatakan Rapimnas Partai Golkar yang akan membicarakan persoalan cawapres bakal berlangsung panas. Zainal menyebut gejolak ini terlihat dari adanya pertemuan ormas Partai Golkar (Hasta Karya).

    Sejumlah tokoh Golkar hadir seperti Agung Laksono, Yorrys Raweyai, Ali Yahya, Tantowi Yahya, dan Yuslin Nasution. Pertemuan tersebut dipastikan untuk menjalin kesepakatan ormas Hasta Karya (ormas pendiri dan yang didirikan Golkar) untuk mengawal Rapimnas Golkar yang direncanakan awal Mei 2014.

    Diperoleh informasi bahwa kubu ARB ditengarai mengulur-ulur waktu penyelenggaraan Rapimnas Golkar. Hal itu terindikasi dengan adanya pemanggilan 18 ketua DPD Golkar I dan5 sekretaris ke rumah pribadi pada Senin (29/4) malam. ?rahmat sahid/ sucipto/ayu r


    http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/30/14/859123/pangkostrad-ingatkan-karakteristik-perang-telah-bergeser

    Pangkostrad ingatkan karakteristik perang telah bergeser
    Kurnia Illahi, Rabu, 30 April 2014 – 14:51 WIB

    Letnan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat memberikan kuliah umum di Universitas Teknologi Bandung. (Dok. Penkostrad).

    Sindonews.com – Sifat dan karakteristik perang saat ini telah bergeser seiring perkembangan teknologi serta dampaknya terhadap bangsa Indonesia.

    Tahun 2043 sasaran konflik akan mengarah pada lokasi sumber pangan yang sekaligus merupakan sumber energi ketika energi fosil diperkirakan akan habis pada tahun itu.

    “NKRI sebagai salah satu negara ekuator yang memiliki potensi vegetasi sepanjang tahun akan menjadi arena persaingan kepentingan nasional berbagai negara dunia,” ujar Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letnan Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat memberikan kuliah umum di Universitas Teknologi Bandung bertajuk Peran Pemuda dalam Menghadapi Proxy War, Rabu (30/4/2014).

    Dia menjelaskan, pesatnya pertumbuhan populasi penduduk dunia yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan, air bersih dan energi akan menjadi pemicu munculnya konflik-konflik baru.

    Dengan adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-perang jenis baru diantaranya perang asimetris, perang hibrida dan perang proxy sehingga dewasa ini kemungkinan terjadinya perang konvensional antar dua negara semakin kecil.

    Lanjutnya, perang proxy atau proxy war merupakan perang antara dua pihak yang tidak saling berhadap-hadapan namun menggunakan pihak ketiga untuk mengalahkan musuh.

    “Perang proxy tidak dapat dikenali secara jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh menggunakan dan mengendalikan aktor bukan negara (non state actor). Indikasi adanya perang proxy diantaranya adalah gerakan separatis, demonstrasi massa dan bentrok antar kelompok,” jelasnya.

    (kur)


    http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/25/18/857503/pemilu-sebagai-alat-rekrutmen-pemimpin

    Pemilu sebagai alat rekrutmen pemimpin
    Koran SINDO, Jum’at, 25 April 2014 – 07:25 WIB

    SEBUAH organisasi termasuk di dalamnya organisasi negara, memerlukan suatu cara untuk menyaring sumber daya manusia yang menjadi anggotanya untuk menduduki posisi kepemimpinan. Sebagaimana layaknya organisasi pemimpin diseleksi dari stok sumber daya manusia terbaik dari suatu stok yang dimiliki.

    Apabila suatu sistem rekrutmen dalam hal ini pemilu, gagal menyaring dan memperoleh sumber daya terbaik, maka absah untuk mengevaluasi sistem yang sedang dilaksanakan. Politik uang yang makin marak akhir-akhir ini menjadi sandungan bagi SDM yang baik, tetapi tidak memiliki sumber keuangan dan atau tidak tega melakukannya.

    Suatu pertanyaan yang diajukan kepada pemilih tidak malu lagi mereka menyatakan suaranya minta ditukar dengan uang. Ideologi, program, janji perubahan, dan perjuangan mereka tidak yakin ada.

    Walaupun sebenarnya para wakil rakyat sudah bekerja menghasilkan berbagai undang-undang bahkan yang paling dirasakan seperti BPJS, rakyat sulit mengidentifikasi partai apa yang sudah berkontribusi dan partai apa yang menolak.

    Demikian juga undangundang yang mungkin merugikan mereka sebagai bangsa, yang tentu saja debatable tergantung dari perspektif yang dianut. Misalnya mengenai undang-undang sumber daya energi dan sumber daya lainnya, masyarakat juga tidak tahu siapa yang harus dihukum.

    Diduga karena tergiring oleh media massa, di mana kesalahan wakil rakyat dan perilakunya yang mungkin menyimpang sebagai news. Masyarakat cenderung menghukum semua wakil rakyat. Mereka akhirnya lebih baik menukar suaranya dengan uang, bahkan bersedia menerima dua tawaran dan hanya memilih salah satu di antaranya yang dianggapnya sebagai hukuman atau perlakuan yang setimpal.

    Masa depan partai politik
    Dengan monetisasi, yang dimulai dari efek penghasilan tinggi dari para wakil rakyat dan pejabat eksekutif, efek ideologis partai politik menjadi banyak berkurang. Peran partai dalam pendidikan politik tentang negara yang baik menjadi berkurang.

    Akibatnya ketika negara menjadi kurang baik, misalnya pemerintah mengalokasikan uang negara pada proyek-proyek yang salah, elitis, karikatif, rakyat hanya apatis. Rakyat memersepsi bahwa janji politik adalah palsu dan mereka menyembunyikan kepentingannya sendiri. Akibatnya partai menjadi mandul.

    Politik transaksional membagi kue menjadi dominan, misalnya sebuah proyek yang merusak lingkungan atau merugikan negara dalam jangka panjang bisa diterima asalkan sedikit mendapat bagian.

    Pada saat partai politik mandul, naluri atau kebutuhan untuk berkumpul akan tersalur umumnya pada gerakan keagamaan dan sosial. Menariksalahsatuwacana satu gerakan keagamaan anak-anak muda bahwa demokrasi tidak berhasil merekrut kepemimpinanyangbaik. Negara menjadi sekuler, anakanak muda menjadi hedonis, fashionist, konsumtif.

    Hasil rekrutmen dari pemilu ke pemilu
    Komposisi kepemimpinan nasional yang meliputi para pendiri bangsa sangat concern pada kemajuan negara, pendidikan anak bangsa, keadilan, keagamaan, perlindungan hak asasi, dan sebagainya.

    Untuk Indonesia, kita bisa mendefinisikan purposive sampling atau hasil yang diperoleh dari suatu proses rekrutmen yang menghasilkan komposisi kepemimpinan nasional, yang terdiri atas para cendekiawan, militer, para ideolog, serta ulama dan pemimpin agama. Mereka bukan berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling memiliki.

    Misalnya tidak berarti bahwa cendekiawannya seorang sekularis yang melakukan konsensus dengan ulama, tetapi cendekiawan tersebut memiliki kadar ulama dan sebaliknya. Pertanyaan mendasar dari percobaan demokrasi liberal akhir-akhir ini, dan juga sistem lain misalnya sistem otoriter, apakah purposive sampling seperti di atas tetap terjadi?

    Pada masa Orde Baru, purposive sampling di atas tidak terjadi di mana hanya militer dan angkatan darat yang direkrut, akibatnya nilai kebangsaan menjadi pincang. Korban pertama pada era Reformasi dan Demokrasi Liberal yang dicoba selama dekade ini adalah tersisihnya ulama dari panggung parlemen.

    Ulama-ulama murni masih berada dalam organisasi kemasyarakatan di mana harkat dan martabatnya tidak memungkinkan bertarung dalam pemilu yang syarat dengan politik uang. Mereka terlahir untuk ilmu dan keluhuran serta tidak berada pada derajat uang.

    Korban kedua adalah para cendekiawan yang memikirkan negara, jumlahnya sekarang makin banyak. Tetapi sama seperti ulama, mereka tidak sampai hati mengikuti pusaran politik uang yang ada. Korban ketiga, pada Pemilu 2014 ini giliran para politisi sejati, the spokesman.

    Nama-nama besar yang malang-melintang memikirkan negara tidak bisa masuk parlemen, di antaranya orang-orang yang memiliki integritas untuk tidak bermain kotor dengan politik uang. Di antara mereka yakni Ketua DPR RI Marzuki Alie, Ketua dan Wakil Ketua MPR RI Sidarto Danusubroto dan Hajriyanto Y Tohari, dan banyak nama besar lain dari berbagai partai yang tidak diragukan kompetensi dan pengabdiannya dalam mengarahkan negara.

    Senjata makan tuan, para politisi tersebut kini menyadari bahwa liberalisasi sistem pemilu yang sangat bebas di tengah kualitas masyarakat yang ada, yang mereka rancang ternyata menghasilkan komposisi kepemimpinan negara yang pincang juga.

    Walaupun tidak separah Orde Baru tetapi mengarah pada monolitisme. Siapakah yang tersisa? Mereka adalah para pedagang kaya dan artis terkenal. Tentu saja debatable apakah para saudagar tidak kapabel untuk memikirkan negara. Demikian juga para artis.

    Masalahnya para pedagang ini banyak tidak memiliki visi kenegaraan, hanya melihat kemungkinan popularitas serta power untuk memperoleh akses bisnis itu sendiri karena negara merupakan pembeli terbesar.

    Banyak artis idealis yang mencurahkan pemikiran tentang negara yang baik. Di antara mereka WS Rendra, Taufiq Ismail, MH Ainun Najib, Iwan Fals, yang kualitas pemikiran kenegaraannya sudah kita nikmati bersama.

    Sistem yang ada tidak memungkinkan merekrut mereka, dan memberi keuntungan yang besar kepada para artis pop yang murni menghibur yang sering kali dengan kualitas hiburan yang dalam tanda kutip kurang berkualitas.

    PROF BAMBANG SETIAJI
    Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta
    (nfl)


    http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/24/18/857110/ketika-sengkuni-menjadi-brutus

    Ketika Sengkuni menjadi Brutus
    Koran SINDO, Kamis, 24 April 2014 – 06:49 WIB

    PARA sengkuni di lingkar dalam pusat kekuasaan sedang bergerilya. Langsung berevolusi jadi brutus, para sengkuni di sekitar Istana dan Presiden mulai meninggalkan sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mereka aktif blusukan ke kelompok-kelompok politik yang diprediksi bakal ikut gerbong pemerintah baru.

    Kebiasaan buruk muncul lagi menjelang peralihan kekuasaan di negara ini. Kebiasaan atau perilaku menjelek-jelekkan presiden dan keluarganya. Presiden SBY dan keluarga pun tak luput dari situasi seperti itu. Akhir-akhir ini, SBY dan keluarga plus para pembantu terdekatnya mulai dihujani ragam isu tak sedap dan mengganggu kenyamanan mereka. Ada serangan yang dilakukan terbuka, ada juga yang kasak-kusuk menebar cerita tak sedap tentang SBY dan keluarganya.

    Sekitar 10 tahun lalu, ketika popularitas SBY memuncak menuju pemilihan presiden tahun 2004, Presiden (saat itu) Megawati Soekarnoputri juga diperlakukan seperti itu. Ragam isu atau cerita tak sedap berseliweran di ruang publik. Para penebar gosip itu mencoba peruntungan dengan menghancurkan karakter presiden dan keluarganya, termasuk para menteri. Akhir-akhir ini, SBY dan keluarga pasti merasakan serangan itu datang bertubi-tubi, terutama untuk serangan yang bersifat terbuka sebagaimana bisa disimak dari pemberitaan media massa.

    Namun, yang tak kalah jahatnya adalah serangan berupa kasak-kusuk sejumlah orang yang menebar gosip tentang karakter SBY dan keluarganya. Tentu saja gosip itu menggambarkan hal-hal yang serba buruk. Mengapa dikatakan sangat jahat? Sebab para penebar gosip itu adalah orang-orang yang selama ini justru sangat dekat dengan SBY dan keluarganya. Bahkan, mereka yang selama ini mungkin mendapat kepercayaan ekstra dari SBY sebagai menteri atau kepala lembaga tertentu. Mereka sebenarnya sangat mudah dikenali.

    Lihat saja dari sekian banyak menteri dan orang dekat presiden, siapa yang paling kencang menjilat dan menyanjung-nyanjung, bahkan seolah rela berkorban dan pasang badan untuk SBY. Mereka itulah yang selama ini digambarkan sebagai para sengkuni di sekitar presiden.

    Hari-hari ini, SBY dan keluarga mungkin hanya bisa menghitung-hitung siapa sahabat sejati, dan siapa saja yang benarbenar berperilaku sengkuni. Mereka yang selama ini kerjanya menjilat, mencari muka mencari peruntungan dengan dan hanya memanfaatkan kedekatan. Hari- hari ini, mereka bermuka dua aliasbertopeng.

    Tetapmanisdan memberi kesan loyal saat berhadapan dengan SBY dan keluarga. Namun, perangai mereka berubah total, ketika para sengkuni itu mulai mencari dan membangun akses ke pusat-pusat kekuasaan baru.

    Pada saat itulah mereka benar-benar berperangai layaknya Brutus, si pembunuh diktator Republik Romawi Julius Caesar. Kalau Brutus tega berkonspirasi membunuh Caesar yang telah mengangkatnya menjadi Gubernur Gaul, para sengkuni pun tanpa ampun bisa menghancurkan karakter SBY dan keluarganya.

    Untuk berevolusi menjadi brutus, para sengkuni itu berpatokan pada hasil pemilihan anggota legislatif (Pileg) 2014. Hasil perhitungan sementara Pileg 2014 sudah cukup jelas. Perubahan atau pergeseran peta kekuatan politik mulai terbaca.

    Pemerintahan pun dipastikan berubah menjelang akhir tahun ini. Dalam hitungan bulan, Kabinet Indonesia Bersatu II akan demisioner. Produktivitas atau kinerja pemerintah pun diperkirakan tidak signifikan. Para menteri mungkin saja kurang bergairah lagi merealisasikan program.

    Itu sebabnya, sudah terlihat gejala lambannya penyerapan anggaran pada sejumlah instansi atau pemda. Kecenderungan inilah yang semakin mendorong para sengkuni di seputar Istana mulai menjauhi SBY.

    Para sengkuni juga melihat bahwa pendaftaran figur capres-cawapres untuk pilpres akan ditutup selepas pertengahan Mei 2014, sementara pelantikan presiden terpilih dijadwalkan Oktober 2014. Artinya, bagi para sengkuni, masih tersedia cukup waktu untuk membangun akses ke poros-poros kekuatan politik yang akan dipercaya rakyat memegang tampuk pemerintahan baru di negara ini.

    Kalau kabinet baru mulai bekerja sekitar Oktober, setidaknya ada periode waktu enam-tujuh bulan bagi para sengkuni untuk membuka akses dan membangun jaringan ke pusat pemerintahan baru. Dengan caranya yang licik, para sengkuni akan melebur dalam proses politik itu. Mulai dari ikut-ikutan mendorong koalisi antarparpol, sosialisasi sosok capres, terlibat dalam kompromi dan tarik menarik kepentingan, hingga rancangan formasi anggota kabinet.

    Bocorkan rahasia
    Tak dapat dipungkiri bahwa anjloknya perolehan suara Partai Demokrat (PD) pada Pileg 2014 akan mengubah peta perpolitikan nasional. Perubahan itu adalah sebuah konsekuensi logis. Tak hanya itu, hasil Pileg 2014 ternyatajugamengubahperilaku para sengkuni menjadi brutus.

    Menjelang berakhirnya kekuasaan Presiden SBY pada Oktober 2014 mendatang, perilaku “all the president’s man” atau orang-orang dekat presiden yang dikenal sebagai sengkuni telah menjelma menjadi brutus. Perilaku licik mereka tak berubah, tapi mereka tidak lagi berniat cari muka di hadapan SBY dan keluarganya. Para sengkuni itu akurat dalam berhitung.

    Mereka tahu bahwa kekuasaan SBY akan berakhir. Madu di Cikeas akan segera habis. Alih-alih berterima kasih pada SBY, pada waktunya nanti para sengkuni itu hanya mengibaratkan Cikeas tanah yang tandus. Karena licik, di kemudian hari para sengkuni itu bahkan berani menyangkal kedekatannya dengan Cikeas.

    Hari-hari ini, fokus atau orientasi para sengkuni itu hanya satu; menghalalkan segala cara agar bisa memperoleh jabatan di pemerintahan baru, atau minimal tetap berada di ring satu Istana. Untuk target itu, para sengkuni tak segan sedikit pun untuk menyerahkan kepala tuannya kepada penguasa baru.

    Dari kebiasaan menyanjung, para sengkuni itu tak segan untuk menista SBY demi potensi bisnis dan kekuasaan yang bisa didapat dari pemerintah baru. Sebenarnya, gejala evolusi sosok sengkuni menjadi brutus sudah dirasakan hari-hari ini, di tengah ingar-bingar tahun politik 2014.

    Pada Oktober 2013, tercatat tiga kali percakapan rahasia Presiden SBY melalui pesan singkat seluler bocor ke media. Begitu pula ketika belum lama ini ada seorang kepala lembaga yang dulu begitu setia dan memuji-muji SBY, sehingga dia diberi jabatan.

    Kini berbalik menyerang dan mengkritik kebijakan mantan majikannya itu. Bahkan sekarang, dia tak malu-malu memuji-muji ketua umum partai yang capresnya selalu menempati peringkat teratas dalam berbagai survei tersebut.

    Yang lebih celaka, cerita buruk yang masuk klasifikasi rahasia justru dibuka dan dijadikan “barang dagangan” oleh para sengkuni untuk mendapatkan simpati dari calon penguasa baru. Jadi, hati-hatilah para capres/cawapres dan timsesnya. Karena bukan tidak mungkin, mereka akan berkhianat kembali. Pasalnya, seusai pelaksanaan Pileg 2014, beredar informasi tentangaktivitas blusukansejumlah orang kepercayaan SBY.

    Bukan karena diutus menjajaki koalisi, mereka blusukan untuk mewujudkan kepentingannya sendiri. Para sengkuni itu menemui sejumlah tokoh dari parpol yang diprediksi akan mengajukan calon presiden.

    Mereka blusukan dengan membawa ragam cerita buruk tentang SBY dan keluarganya. Untuk mendapatkan simpati dari calon penguasa baru. Atau, minimalbisaditerimadilingkungan calon pemimpin baru. Mudah-mudahan, sepak terjang para pengkhianat SBY itu disimak oleh para tokoh yang akan maju dalam pemilihan presiden tahun ini.

    Para pengkhianat seperti itu sebaiknya tidak diberi kesempatan atau ruang. Karena itu, sangat penting bagi para tokoh untuk selektif manakala didekati figurfigur yang sebelumnya begitu dekat dengan SBY.

    Para sengkuni itulah yang diduga selama ini merusak reputasi pemerintahan SBY. Memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan, mereka antara lain membangun kartel pangan, melakukan mark up atas sejumlah proyek pemerintah hingga mengambil keuntungan dari jabatannya melalui kebijakan yang dikeluarkan, meski itu merugikan rakyat.

    Kalau mereka bisa berkhianat pada SBY sebagai majikan yang selama ini memberikan kekuasaan dan kenikmatan sebagai orang dekat Istana, para sengkuni itu pun bisa menjadi brutus-brutus baru yang akan menikam dan mengkhianati majikan baru mereka untuk mendapat tempat kembali ke majikan atau penguasa berikutnya. Waspada, waspadalah!

    BAMBANG SOESATYO
    Anggota Komisi III DPR RI/ Presidium Nasional KAHMI 2012-2017
    (nfl)


    http://koran-sindo.com/node/385340

    Kualitas Rekap KPU Provinsi Buruk
    Sindo, 20140429
    bakti m munir/ murey widya/ dian ramdhani/ rahmat sahid/ denny irawan/kiswondari

    JAKARTA – Kualitas hasil rekapitulasi penghitungan suara pemilu legislatif (pileg) yang disampaikan sejumlah Komisi Pemilihan Umum (KPU) provinsi buruk. Hal itu bisa dilihat dari ditundanya penetapan hasil pemilu di sebagian provinsi yang sudah melakukan rekapitulasi.

    Wakil Sekretaris Jenderal Komite Independen Pengawas Pemilu (KIPP) Girindra Sandino menduga permainan manipulasi suara sudah sampai ke KPU provinsi. “Kebanyakan pembacaan rekapitulasi di-pending, itu rekomendasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga. Saya menduga, jangan-jangan permainan politik uang sudah sampai ke KPU provinsi, lalu menyampah ke pusat,” ujar Girindra di Kantor KPU Jakarta kemarin.

    Dia mengaku mendapat banyak informasi dari pemantau KIPP di daerah atas adanya penggelembungan atau mark up suara dan pencurian suara dari caleg atau partai politik tertentu. Menurut dia, terungkapnya keanehankeanehan data rekapitulasi suara di tingkat pusat ini merupakan akumulasi dari tingkat bawah. Penggelembungan suara di TPS salah satunya akibat saksi parpol yang lemah sehingga petugas dapat memanipulasi absensi pemilih, kemudian digunakan untuk memanipulasi suara kandidat tertentu.

    “Itu yang kita prediksi sejak H-1. Itu nyata karena kita temui caleg yang ditawari oknum KPUD untuk mendulang suara,” cetusnya. Dari pantauan KORAN SINDO, hingga hari ketiga rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara tingkat nasional kemarin, baru empat provinsi yang hasil pemilunya ditetapkan, yakni Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Gorontalo, dan Jambi. Sementara dari tiga provinsi yang penghitungan suaranya direkap, dua provinsi gagal ditetapkan, yakni Bengkulu dan DKI Jakarta.

    Adapun hasil rekap Sumatera Barat masih diplenokan hingga pukul 21.00 WIB tadi malam. Sebelumnya, daerah yang juga ditunda penetapannya adalah Riau, Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Dengan fakta di atas, rekapitulasi tingkat nasional yang dijadwalkan 26 April hingga 9 Mei dikhawatirkan akan molor. Selain itu, sejumlah KPU provinsi belum siap mengikuti rekap tingkat nasional, di antaranya Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Misalnya, KPU Sumatera Utara terkendala pemilu ulang di Nias Selatan yang belum selesai di lima tempat pemungutan suara (TPS).

    KPU Jawa Timur terkendala penghitungan suara ulang di 1.794 TPS di Pasuruan yang jadwalnya belum ditetapkan. Adapun KPU Sulsel terkendala penghitungan suara ulang di sejumlah TPS di Kabupaten Gowa yang hingga kemarin belum selesai. Pada rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara tingkat nasional di Kantor KPU Jakarta kemarin, saksi PDIP Sudiyatmiko Aribowo mengatakan, kejanggalanyangmengindikasikanadanya kecurangan bisa dilihat dari adanya kelebihan surat suara.

    “Data pemilih itu kan sesuai dengan SK yang dikeluarkan KPU, tapikokadayanglebihsurat suaranya. Kasus Provinsi Banten, kelebihannya mencapai 37.000. Harganya itu bisa setengahkursi,” ujardiakemarin. Dugaan kecurangan lain yang terlihat saat proses rekap adalah melonjaknya jumlah surat suara sah dan naiknya bilangan pembagi pemilih (BPP). Menurut Sudiyatmiko, pada pemilu sebelumnya surat suara sah itu hanya di bawah 60%.

    “Tapi sekarang surat suara sah itu sekitar 72% hingga 82%. Suara sah tiba-tiba meledak, BPP juga tiba-tiba naik, ini kan mencurigakan,” ujar dia. Ada beberapa masalah yang menjadi bahan protes para saksi partai politik pada rekap nasional ini. Di antaranya ada ketidaksesuaian antara jumlah pemilih yang memilih untuk pemilu DPR dengan pemilu DPD. Padahal seharusnya jumlah pemilihnya sama.

    “Jumlah pemilih DPKTb (daftar pemilih khusus tambahan) atau yang memakai KTP ini tidak sama jumlahnya dengan surat suara yang dicoblos. Jumlah surat suara dari DPKTb yang tercoblos jauh lebih besar dibandingkan pemilihnya. Ini yang menimbulkan pertanyaan kita,” ujarnya. Selain itu, ditemukan provinsi yang jumlah pemilihnya melebihi yang diatur di SK 354 KPU tentang Penetapan Jumlah DPT. Anggota KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah mengatakan, KPU provinsi yang pembacaan rekapitulasinya ditunda tidak bisa digeneralisasi pasti terjadi manipulasi suara.

    Menurut dia, harus ada pembuktian yang didasarkan pada fakta. ” Misalnya kalau ada dugaan penggelembungan ya diinvestigasi dulu. Saya husnudzon (berprasangka baik) dari setiap tingkatan orang, lebih konsentrasi sama raihan suara. Hal-hal lain kayak jumlah pemilih, surat suara tidak teperhatikan. Nah, pas di pusat baru ketahuan masalahnya,” tegas dia.

    Prihatin

    Ketua Majelis Syura Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengaku prihatin melihat banyaknya temuan kecurangan pada Pemilu 2014. “Terus terang saya kecewa melihat banyaknya kecurangan terjadi di mana-mana, jual beli suara, kemudian kanibalisme dari satu partai ke partai lain. Inilah demokrasi kalau dijalankan oleh suatu bangsa yang kualitasnya masih seperti ini,” ujar Yusril di Jakarta kemarin.

    Menurut dia, Indonesia terbukti baru sukses menyelenggarakan pemilu yang baik pada 1955 dan 1999. Di sana rakyat diajari untuk memilih partai politik berdasarkan ideologi yang dibawanya dan tidak dirusak oleh permainan kotor seperti halnya politik uang yang menjamur di pemilu sekarang. “Sekarang ini ditentukan oleh para tuan tanah. Dalam situasi rakyat yang masih susah, politik uanglah yang bermain. Kalau seperti itu ya demokrasi ini semakin memprihatinkan,” katanya.

    Namun, Yusril enggan membawa temuan kecurangan itu ke Mahkamah Konstitusi (MK). Menurut dia, dengan banyaknya temuan kecurangan di hampir seluruh daerah, akan sangat sulit bagi MK untuk menyelesaikannya dalam waktu cepat dan memuaskan. “Digugat juga percuma, ada lebih dari 700.000 TPS yang bermasalah. Kalau 14.000 saja ada kecurangan, maka saya tidak bisa membayangkan bagaimana MK bersidang,” ucapnya.

    Adapun Ketua DPD Partai Hanura Sumatera Barat M Tauhid mengungkapkan temuannya mengenai kecurangan pemilu di wilayah Sumatera Barat yang terdiri atas Mentawai, Solok Selatan, dan Pasaman Barat. “Temuan adanya kecurangan sudah disampaikan ke panwaslu setempat, tetapi tidak direspons dengan cepat,” ujarnya. Padahal sudah ada bukti rekaman video bagaimana kecurangan itu dilakukan secara sistematis.

    Kejanggalan lain adalah dibatalkannya proses pemilu ulang di Solok Selatan oleh panwaslu setempat dengan alasan keamanan. Padahal sebelumnya panwaslu setempat telah mengeluarkan surat perintah untuk dilakukannya proses pemilu ulang di wilayah yang terindikasi kecurangan. “Mereka menarik ucapan sendiri,” ucap Tauhid. Karena itu, caleg DPR asal Hanura dari dapil Sumbar II itu akan menyerahkan bukti-bukti rekaman video kecurangan ke Bawaslu dan KPU agar para pelakunya ditindak.

    “Kecurangan ini kita minta ditindak. Kedua dilakukan pemilu ulang di beberapa daerah yang terbukti ada kecurangan di Sumbar,” paparnya. Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham mengatakan, suara Partai Golkar tiba-tiba hilang di beberapa daerah dan di saat yang sama suara partai lain justru ada yang naik. “Misalnya di Bengkulu, tiba-tiba perolehan suara Partai Golkar berbeda dengan catatan yang kami punya. Makanya kami datang memantau. Semua dugaan pelanggaran ini sudah kami laporkan ke Bawaslu,” ujar Idrus di Kantor KPU Jakarta kemarin.

    Idrus mengatakan, permainan curang banyak terjadi di tingkat bawah dengan melibatkan oknum penyelenggara. Dugaan penggelembungan suara ini juga bisa dilihat dari adanya lonjakan partisipasi pemilih di beberapa tempat. “Misalkan di beberapa daerah partisipasi pemilih sampai 90%, bahkan ada yang 93%, itu angka yangluarbiasa. Apakahmemang betul begitu? ” ujarnya. Caleg Partai Golkar dari dapil Jawa Barat (Jabar) VII Nurul Arifin mengatakan pertarungan antarcaleg satu partai dirasakan lebih dahsyat dibandingkan pertarungan dengan caleg partai lain. Dengan konstituen yang sama, mereka berebut suara dengan berbagai cara.

    “Saya analogikan ini seperti perang saudara di Surya, ganas dan tidak ada etika. Sebab saudara dengan saudara saling bunuh,” kata Nurul yang tak lolos ke Senayan karena kalah bersaing dengan caleg sesama Golkar Ade Komaruddin. Nurul dalam kesempatan tersebut didampingi sesama caleg Golkar dari dapil Jatim VII Bini Bukhori yang juga tidak lolos karena politik uang dan konspirasi oknum penyelenggara pemilu dengan tim caleg. “Mereka menggunakan pedang uang menghabisi saudara sendiri,” ujar Wakil Sekjen Partai Golkar ini.

    Siap Menggugat

    Sementara itu, sekitar 50 caleg dari berbagai partai politik di Tangerang Raya, yakni Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dan Kabupaten Tangerang, akan menggugat penyelenggara pemilu. Mereka sedang mengumpulkan bukti berupa dugaan money politic dan penggelembungan suara dilengkapi dengan data dari puluhan organisasi massa (ormas), budayawan, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Salah seorang penggagas pertemuan tersebut adalah Yandra Doni, caleg dari Partai Hanura untuk DPR.

    “Yang ada di sini, caleg yang menang maupun yang kalah. Kita sepakat bahwa pemilu tahun ini paling buruk penyelenggaraannya,” ujar Yandra Doni di Serpong, Kota Tangsel, kemarin. Penyelenggara pemilu dituding telah membuka ruang terjadinya kecurangan secara masif, terstruktur, dan sistematis. “Apa data yang kami punya? Saya jawab, pasti ada. Kalau dibuka saat ini, maling suara akan mempersiapkan langkahlangkahnya,” ujar Yandra Doni. Koalisi caleg lintas partai akan membawa data kecurangan itu ke lima lembaga.

    “Pertama kita akan bawa ke Bawaslu, kedua ke DKPP, ketiga kita PTUN-kan, keempat ke Mahkamah Konstitusi, kelima akan kita ajukan juga ke DPP setiap partai,” tuturnya. Yandra Doni juga mengatakan, adanya penggelembungan suara sudah terdeteksi oleh sejumlah lembaga survei.

    Dan, menurutnya, Provinsi Banten khususnya Tangerang Raya mendapat peringkat pertama se-Indonesia dalam penyelenggaraan pemilu terkotor. “Kami optimistis akan menang dan akan membuat KPU menggelar pemilu ini diulang atau pemilihan suara ulang,” ujarnya. ? bakti m munir/ murey widya/ dian ramdhani/ rahmat sahid/ denny irawan/kiswondari


    http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/30/16/858960/pungli-pantura

    Pungli Pantura
    Koran SINDO, Rabu, 30 April 2014 – 06:49 WIB

    TEMUAN Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo tentang adanya pungutan liar (pungli) di jembatan timbang, sebenarnya bukan hal yang baru.

    Adanya pungli di setiap jembatan timbang di beberapa jalan di Indonesia seolah sudah menjadi rahasia umum atau sudah menjadi pembicaraan masyarakat secara luas. Bahkan konon, pungli tersebut sudah terjadi selama bertahuntahun dan sudah menjadi kebiasaan bagi petugas. Temuan Ganjar tersebut seolah mempertegas bahwa pungli di jembatan timbang memang benar-benar ada.

    Karena bukan rahasia umum dan dibenarkan karena temuan Ganjar, masyarakat seolah semakin keras berteriak bahwa apa yang menjadi kebiasaan di jembatan timbang tersebut adalah penyakit yang sangat memalukan. Penyakit yang sulit disembuhkan karena memang sengaja dipelihara dari level bawah hingga atas.

    Karena seolah sudah menjadi kebiasaan, pungli di jembatan timbang adalah sebuah tindakan yang biasa. Namun, akibat dari pungli tersebut dampak negatifnya sungguh luar biasa. Denda terhadap kendaraan yang bertonase melebih batas yang telah ditentukan tidak masuk ke kas pemerintah daerah. Karena banyak kendaraan melebih tonase, kerusakan jalan seolah hanya menghitung hari. Karena jalanan rusak maka distribusi ekonomi melambat dan biaya distribusi bisa membengkak beberapa kali lipat.

    Temuan Ganjar seolah menunjukkan bahwa jalan pantai utara (pantura) Pulau Jawa akan terus mengalami kerusakan karena terbebani dengan kendaraan dengan tonase yang melebihi standar yang telah ditentukan. Masyarakat tentu sudah sangat akrab dengan kerusakan jalan yang setiap tahun terjadi di jalur pantura sepanjang Pulau Jawa, terutama Jawa Barat dan Jawa Tengah.

    Bahkan setiap tahun dan biasanya menjelang arus mudik, masyarakat akan dihadapkan pada persoalan kerusakan jalur pantura. Setiap tahun cerita jalan rusak di wilayah pantura selalu ada, sehingga menjadi wajar jika proyek perbaikan jalur pantura disebut sebagai proyek abadi atau selamanya selalu akan ada. Dan, kondisi ini tidak lepas karena pembiaran dari aparat kita terhadap kondisi kendaraan yang melintas di jalur pantura.

    Jika aparat tegas menegakkan aturan dan bersih dari sogokan, tentu proyek pantura bukan proyek abadi. Pungli yang ditemukan Ganjar memang hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000. Namun jika puluhan, atau ratusan atau bahkan ribuan setiap bulannya, jumlah pungli menjadi angka yang fantastis. Pada 2012, Hipmi Center menyebut pungli yang terjadi di jalur pantura sebesar Rp25 triliun, jumlah yang sangat cukup untuk membuat jalur pantura lebih layak untuk dilalui.

    Meski kerusakan pantura disebabkan oleh konstruksi jalan yang tidak pas atau drainase yang buruk, tampaknya penyebab utama rusaknya jalur pantura adalah kendaraan yang melebihi tonase diperbolehkan melintas di jalur tersebut. Lalu, apakah kesalahan hanya ditumpukan kepada kendaraankendaraan yang melebih tonase? Tidak juga. Pemerintah juga gagal dalam memberikan alternatif dalam menyediakan jalur distribusi.

    Jika ingin menjadikan jalan antar provinsi lebih layak dilalui, para pengusaha yang ingin mendistribusikan barang-barangnya juga harus diberikan alternatif jalur lain seperti rel ataupun laut.

    Namun, pemerintah seolah terlambat sehingga memaksa kendaraan-kendaraan tersebut hanya bisa mendistribusikan hanya melalui jalan raya. Kasus temuan Ganjar di jembatan timbang Subah, Kabupaten Batang, Jateng pada Minggu (27/4) malam ini semakin menunjukkan bahwa tindakan-tindakan korupsi bukan hanya permainan golongan atas, melainkan juga terjadi hingga bawah.

    Selain itu, tindakan-tindakan korupsi yang dilakukan aparat mengakibatkan bahwa pembangunan di negeri ini menjadi terhambat. Sekali lagi, pemerintah tentu sangat sadar tentang hal ini, sayang tidak mempunyai keberanian untuk memberantas ini.

    Atau pemerintah yang gagal memberantas pungli di wilayahnya, justru ikut terlibat sehingga jika memberantas pungli tersebut berarti juga memberantas dirinya sendiri? Jika ini benar-benar terjadi, yang dibutuhkan adalah pemimpin yang jujur dan berani bukan pemimpin yang sekadar pintar.
    (nfl)


    grass roots.psd.msopm2


    http://koran-sindo.com/node/385340

    Kualitas Rekap KPU Provinsi Buruk
    Sindo, 20140429
    bakti m munir/ murey widya/ dian ramdhani/ rahmat sahid/ denny irawan/kiswondari

    JAKARTA – Kualitas hasil rekapitulasi penghitungan suara pemilu legislatif (pileg) yang disampaikan sejumlah Komisi Pemilihan Umum (KPU) provinsi buruk. Hal itu bisa dilihat dari ditundanya penetapan hasil pemilu di sebagian provinsi yang sudah melakukan rekapitulasi.

    Wakil Sekretaris Jenderal Komite Independen Pengawas Pemilu (KIPP) Girindra Sandino menduga permainan manipulasi suara sudah sampai ke KPU provinsi. “Kebanyakan pembacaan rekapitulasi di-pending, itu rekomendasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga. Saya menduga, jangan-jangan permainan politik uang sudah sampai ke KPU provinsi, lalu menyampah ke pusat,” ujar Girindra di Kantor KPU Jakarta kemarin.

    Dia mengaku mendapat banyak informasi dari pemantau KIPP di daerah atas adanya penggelembungan atau mark up suara dan pencurian suara dari caleg atau partai politik tertentu. Menurut dia, terungkapnya keanehankeanehan data rekapitulasi suara di tingkat pusat ini merupakan akumulasi dari tingkat bawah. Penggelembungan suara di TPS salah satunya akibat saksi parpol yang lemah sehingga petugas dapat memanipulasi absensi pemilih, kemudian digunakan untuk memanipulasi suara kandidat tertentu.

    “Itu yang kita prediksi sejak H-1. Itu nyata karena kita temui caleg yang ditawari oknum KPUD untuk mendulang suara,” cetusnya. Dari pantauan KORAN SINDO, hingga hari ketiga rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara tingkat nasional kemarin, baru empat provinsi yang hasil pemilunya ditetapkan, yakni Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Gorontalo, dan Jambi. Sementara dari tiga provinsi yang penghitungan suaranya direkap, dua provinsi gagal ditetapkan, yakni Bengkulu dan DKI Jakarta.

    Adapun hasil rekap Sumatera Barat masih diplenokan hingga pukul 21.00 WIB tadi malam. Sebelumnya, daerah yang juga ditunda penetapannya adalah Riau, Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Dengan fakta di atas, rekapitulasi tingkat nasional yang dijadwalkan 26 April hingga 9 Mei dikhawatirkan akan molor. Selain itu, sejumlah KPU provinsi belum siap mengikuti rekap tingkat nasional, di antaranya Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Misalnya, KPU Sumatera Utara terkendala pemilu ulang di Nias Selatan yang belum selesai di lima tempat pemungutan suara (TPS).

    KPU Jawa Timur terkendala penghitungan suara ulang di 1.794 TPS di Pasuruan yang jadwalnya belum ditetapkan. Adapun KPU Sulsel terkendala penghitungan suara ulang di sejumlah TPS di Kabupaten Gowa yang hingga kemarin belum selesai. Pada rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara tingkat nasional di Kantor KPU Jakarta kemarin, saksi PDIP Sudiyatmiko Aribowo mengatakan, kejanggalanyangmengindikasikanadanya kecurangan bisa dilihat dari adanya kelebihan surat suara.

    “Data pemilih itu kan sesuai dengan SK yang dikeluarkan KPU, tapikokadayanglebihsurat suaranya. Kasus Provinsi Banten, kelebihannya mencapai 37.000. Harganya itu bisa setengahkursi,” ujardiakemarin. Dugaan kecurangan lain yang terlihat saat proses rekap adalah melonjaknya jumlah surat suara sah dan naiknya bilangan pembagi pemilih (BPP). Menurut Sudiyatmiko, pada pemilu sebelumnya surat suara sah itu hanya di bawah 60%.

    “Tapi sekarang surat suara sah itu sekitar 72% hingga 82%. Suara sah tiba-tiba meledak, BPP juga tiba-tiba naik, ini kan mencurigakan,” ujar dia. Ada beberapa masalah yang menjadi bahan protes para saksi partai politik pada rekap nasional ini. Di antaranya ada ketidaksesuaian antara jumlah pemilih yang memilih untuk pemilu DPR dengan pemilu DPD. Padahal seharusnya jumlah pemilihnya sama.

    “Jumlah pemilih DPKTb (daftar pemilih khusus tambahan) atau yang memakai KTP ini tidak sama jumlahnya dengan surat suara yang dicoblos. Jumlah surat suara dari DPKTb yang tercoblos jauh lebih besar dibandingkan pemilihnya. Ini yang menimbulkan pertanyaan kita,” ujarnya. Selain itu, ditemukan provinsi yang jumlah pemilihnya melebihi yang diatur di SK 354 KPU tentang Penetapan Jumlah DPT. Anggota KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah mengatakan, KPU provinsi yang pembacaan rekapitulasinya ditunda tidak bisa digeneralisasi pasti terjadi manipulasi suara.

    Menurut dia, harus ada pembuktian yang didasarkan pada fakta. ” Misalnya kalau ada dugaan penggelembungan ya diinvestigasi dulu. Saya husnudzon (berprasangka baik) dari setiap tingkatan orang, lebih konsentrasi sama raihan suara. Hal-hal lain kayak jumlah pemilih, surat suara tidak teperhatikan. Nah, pas di pusat baru ketahuan masalahnya,” tegas dia.

    Prihatin

    Ketua Majelis Syura Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra mengaku prihatin melihat banyaknya temuan kecurangan pada Pemilu 2014. “Terus terang saya kecewa melihat banyaknya kecurangan terjadi di mana-mana, jual beli suara, kemudian kanibalisme dari satu partai ke partai lain. Inilah demokrasi kalau dijalankan oleh suatu bangsa yang kualitasnya masih seperti ini,” ujar Yusril di Jakarta kemarin.

    Menurut dia, Indonesia terbukti baru sukses menyelenggarakan pemilu yang baik pada 1955 dan 1999. Di sana rakyat diajari untuk memilih partai politik berdasarkan ideologi yang dibawanya dan tidak dirusak oleh permainan kotor seperti halnya politik uang yang menjamur di pemilu sekarang. “Sekarang ini ditentukan oleh para tuan tanah. Dalam situasi rakyat yang masih susah, politik uanglah yang bermain. Kalau seperti itu ya demokrasi ini semakin memprihatinkan,” katanya.

    Namun, Yusril enggan membawa temuan kecurangan itu ke Mahkamah Konstitusi (MK). Menurut dia, dengan banyaknya temuan kecurangan di hampir seluruh daerah, akan sangat sulit bagi MK untuk menyelesaikannya dalam waktu cepat dan memuaskan. “Digugat juga percuma, ada lebih dari 700.000 TPS yang bermasalah. Kalau 14.000 saja ada kecurangan, maka saya tidak bisa membayangkan bagaimana MK bersidang,” ucapnya.

    Adapun Ketua DPD Partai Hanura Sumatera Barat M Tauhid mengungkapkan temuannya mengenai kecurangan pemilu di wilayah Sumatera Barat yang terdiri atas Mentawai, Solok Selatan, dan Pasaman Barat. “Temuan adanya kecurangan sudah disampaikan ke panwaslu setempat, tetapi tidak direspons dengan cepat,” ujarnya. Padahal sudah ada bukti rekaman video bagaimana kecurangan itu dilakukan secara sistematis.

    Kejanggalan lain adalah dibatalkannya proses pemilu ulang di Solok Selatan oleh panwaslu setempat dengan alasan keamanan. Padahal sebelumnya panwaslu setempat telah mengeluarkan surat perintah untuk dilakukannya proses pemilu ulang di wilayah yang terindikasi kecurangan. “Mereka menarik ucapan sendiri,” ucap Tauhid. Karena itu, caleg DPR asal Hanura dari dapil Sumbar II itu akan menyerahkan bukti-bukti rekaman video kecurangan ke Bawaslu dan KPU agar para pelakunya ditindak.

    “Kecurangan ini kita minta ditindak. Kedua dilakukan pemilu ulang di beberapa daerah yang terbukti ada kecurangan di Sumbar,” paparnya. Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham mengatakan, suara Partai Golkar tiba-tiba hilang di beberapa daerah dan di saat yang sama suara partai lain justru ada yang naik. “Misalnya di Bengkulu, tiba-tiba perolehan suara Partai Golkar berbeda dengan catatan yang kami punya. Makanya kami datang memantau. Semua dugaan pelanggaran ini sudah kami laporkan ke Bawaslu,” ujar Idrus di Kantor KPU Jakarta kemarin.

    Idrus mengatakan, permainan curang banyak terjadi di tingkat bawah dengan melibatkan oknum penyelenggara. Dugaan penggelembungan suara ini juga bisa dilihat dari adanya lonjakan partisipasi pemilih di beberapa tempat. “Misalkan di beberapa daerah partisipasi pemilih sampai 90%, bahkan ada yang 93%, itu angka yangluarbiasa. Apakahmemang betul begitu? ” ujarnya. Caleg Partai Golkar dari dapil Jawa Barat (Jabar) VII Nurul Arifin mengatakan pertarungan antarcaleg satu partai dirasakan lebih dahsyat dibandingkan pertarungan dengan caleg partai lain. Dengan konstituen yang sama, mereka berebut suara dengan berbagai cara.

    “Saya analogikan ini seperti perang saudara di Surya, ganas dan tidak ada etika. Sebab saudara dengan saudara saling bunuh,” kata Nurul yang tak lolos ke Senayan karena kalah bersaing dengan caleg sesama Golkar Ade Komaruddin. Nurul dalam kesempatan tersebut didampingi sesama caleg Golkar dari dapil Jatim VII Bini Bukhori yang juga tidak lolos karena politik uang dan konspirasi oknum penyelenggara pemilu dengan tim caleg. “Mereka menggunakan pedang uang menghabisi saudara sendiri,” ujar Wakil Sekjen Partai Golkar ini.

    Siap Menggugat

    Sementara itu, sekitar 50 caleg dari berbagai partai politik di Tangerang Raya, yakni Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dan Kabupaten Tangerang, akan menggugat penyelenggara pemilu. Mereka sedang mengumpulkan bukti berupa dugaan money politic dan penggelembungan suara dilengkapi dengan data dari puluhan organisasi massa (ormas), budayawan, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Salah seorang penggagas pertemuan tersebut adalah Yandra Doni, caleg dari Partai Hanura untuk DPR.

    “Yang ada di sini, caleg yang menang maupun yang kalah. Kita sepakat bahwa pemilu tahun ini paling buruk penyelenggaraannya,” ujar Yandra Doni di Serpong, Kota Tangsel, kemarin. Penyelenggara pemilu dituding telah membuka ruang terjadinya kecurangan secara masif, terstruktur, dan sistematis. “Apa data yang kami punya? Saya jawab, pasti ada. Kalau dibuka saat ini, maling suara akan mempersiapkan langkahlangkahnya,” ujar Yandra Doni. Koalisi caleg lintas partai akan membawa data kecurangan itu ke lima lembaga.

    “Pertama kita akan bawa ke Bawaslu, kedua ke DKPP, ketiga kita PTUN-kan, keempat ke Mahkamah Konstitusi, kelima akan kita ajukan juga ke DPP setiap partai,” tuturnya. Yandra Doni juga mengatakan, adanya penggelembungan suara sudah terdeteksi oleh sejumlah lembaga survei.

    Dan, menurutnya, Provinsi Banten khususnya Tangerang Raya mendapat peringkat pertama se-Indonesia dalam penyelenggaraan pemilu terkotor. “Kami optimistis akan menang dan akan membuat KPU menggelar pemilu ini diulang atau pemilihan suara ulang,” ujarnya. ? bakti m munir/ murey widya/ dian ramdhani/ rahmat sahid/ denny irawan/kiswondari


    http://nasional.sindonews.com/read/2014/04/30/16/858960/pungli-pantura

    Pungli Pantura
    Koran SINDO, Rabu, 30 April 2014 – 06:49 WIB

    TEMUAN Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo tentang adanya pungutan liar (pungli) di jembatan timbang, sebenarnya bukan hal yang baru.

    Adanya pungli di setiap jembatan timbang di beberapa jalan di Indonesia seolah sudah menjadi rahasia umum atau sudah menjadi pembicaraan masyarakat secara luas. Bahkan konon, pungli tersebut sudah terjadi selama bertahuntahun dan sudah menjadi kebiasaan bagi petugas. Temuan Ganjar tersebut seolah mempertegas bahwa pungli di jembatan timbang memang benar-benar ada.

    Karena bukan rahasia umum dan dibenarkan karena temuan Ganjar, masyarakat seolah semakin keras berteriak bahwa apa yang menjadi kebiasaan di jembatan timbang tersebut adalah penyakit yang sangat memalukan. Penyakit yang sulit disembuhkan karena memang sengaja dipelihara dari level bawah hingga atas.

    Karena seolah sudah menjadi kebiasaan, pungli di jembatan timbang adalah sebuah tindakan yang biasa. Namun, akibat dari pungli tersebut dampak negatifnya sungguh luar biasa. Denda terhadap kendaraan yang bertonase melebih batas yang telah ditentukan tidak masuk ke kas pemerintah daerah. Karena banyak kendaraan melebih tonase, kerusakan jalan seolah hanya menghitung hari. Karena jalanan rusak maka distribusi ekonomi melambat dan biaya distribusi bisa membengkak beberapa kali lipat.

    Temuan Ganjar seolah menunjukkan bahwa jalan pantai utara (pantura) Pulau Jawa akan terus mengalami kerusakan karena terbebani dengan kendaraan dengan tonase yang melebihi standar yang telah ditentukan. Masyarakat tentu sudah sangat akrab dengan kerusakan jalan yang setiap tahun terjadi di jalur pantura sepanjang Pulau Jawa, terutama Jawa Barat dan Jawa Tengah.

    Bahkan setiap tahun dan biasanya menjelang arus mudik, masyarakat akan dihadapkan pada persoalan kerusakan jalur pantura. Setiap tahun cerita jalan rusak di wilayah pantura selalu ada, sehingga menjadi wajar jika proyek perbaikan jalur pantura disebut sebagai proyek abadi atau selamanya selalu akan ada. Dan, kondisi ini tidak lepas karena pembiaran dari aparat kita terhadap kondisi kendaraan yang melintas di jalur pantura.

    Jika aparat tegas menegakkan aturan dan bersih dari sogokan, tentu proyek pantura bukan proyek abadi. Pungli yang ditemukan Ganjar memang hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000. Namun jika puluhan, atau ratusan atau bahkan ribuan setiap bulannya, jumlah pungli menjadi angka yang fantastis. Pada 2012, Hipmi Center menyebut pungli yang terjadi di jalur pantura sebesar Rp25 triliun, jumlah yang sangat cukup untuk membuat jalur pantura lebih layak untuk dilalui.

    Meski kerusakan pantura disebabkan oleh konstruksi jalan yang tidak pas atau drainase yang buruk, tampaknya penyebab utama rusaknya jalur pantura adalah kendaraan yang melebihi tonase diperbolehkan melintas di jalur tersebut. Lalu, apakah kesalahan hanya ditumpukan kepada kendaraankendaraan yang melebih tonase? Tidak juga. Pemerintah juga gagal dalam memberikan alternatif dalam menyediakan jalur distribusi.

    Jika ingin menjadikan jalan antar provinsi lebih layak dilalui, para pengusaha yang ingin mendistribusikan barang-barangnya juga harus diberikan alternatif jalur lain seperti rel ataupun laut.

    Namun, pemerintah seolah terlambat sehingga memaksa kendaraan-kendaraan tersebut hanya bisa mendistribusikan hanya melalui jalan raya. Kasus temuan Ganjar di jembatan timbang Subah, Kabupaten Batang, Jateng pada Minggu (27/4) malam ini semakin menunjukkan bahwa tindakan-tindakan korupsi bukan hanya permainan golongan atas, melainkan juga terjadi hingga bawah.

    Selain itu, tindakan-tindakan korupsi yang dilakukan aparat mengakibatkan bahwa pembangunan di negeri ini menjadi terhambat. Sekali lagi, pemerintah tentu sangat sadar tentang hal ini, sayang tidak mempunyai keberanian untuk memberantas ini.

    Atau pemerintah yang gagal memberantas pungli di wilayahnya, justru ikut terlibat sehingga jika memberantas pungli tersebut berarti juga memberantas dirinya sendiri? Jika ini benar-benar terjadi, yang dibutuhkan adalah pemimpin yang jujur dan berani bukan pemimpin yang sekadar pintar.
    (nfl)


     
  • Virtual Chitchatting 4:06 PM on 2014/04/29 Permalink  

    the look of love 

    Jakarta, 16:22 2014-04-29

    some time ago,
    I made some texting with someone having pleasant personality,
    mentioning the abrupt change of George Clooney, in his latest movie, at that time
    “Up In The Air” http://kickass.to/up-in-the-air-i1193138/
    her answer was obvious

    yet, she still has, at that time, been waiting for her prince of charming to come by.

    she asked me to have a dinner.
    i did not reply with yes or no.

    some years later, i found out that the she has been in such circumstances.
    she has been keeping her mind, her heart, her soul, her role acting as the snow white.
    you’re frozen

    some years passed, i got the look.
    i got her look.
    it’s the look of love.

    she was acting like a virgin…..
    if only the time, place, and some coincidents in the past were not happening.

    you have monkey on your back.
    something i have learnt my lessons in the past.

    the agitating monkey.

    i wish the time, place, and some circumstances were different.

    shall there be other episodes in our path life that come across again?

    i am assuring to avoid the one and others that has links with our past.

    till we meet again…..


    The Look Of Love
    Madonna

    Should have left you standing right where you stood
    Should have let you go, should have had the sense to know
    Like a train you’d come, and I’d lose my place
    Now I’m on this trip, I took a fall from grace

    [Chorus:]

    Nowhere to run, nowhere to hide
    From the look of love, from the eyes of pride
    Nowhere to go, no place to run
    From the look of love, now I’ve come undone

    I’ve had a map laid out from the day I was born
    But the roads are blocked, and the paper is worn
    And all the books I’ve read, and the things I know
    Never taught me to laugh, never taught to let go

    [chorus]

    My conscience is clear I know right from wrong
    That’s a lie I know nothing except that you’re gone
    But there’s more to learn from the look in your eyes
    That trip round this world, the stars in the sky

    Now all the books I’ve read, and the things I know
    Never taught me to live, never taught me to let go

    [chorus]

    Nowhere to run, nowhere to hide
    From the look of love, Lord knows I’ve tried
    Nowhere to go, no place to run
    From the look of love, now I’ve come undone

    (Nowhere to hide)
    (No place to run)
    (Nowhere to hide)
    (No place to run)

    Writer(s): Madonna Ciccone, Patrick Leonard, Madonna, Roxie Lea Dean
    Copyright: Webo Girl Publishing Inc., Johnny Yuma Music, Orangejello Music, WB Music Corp.

    http://www.azlyrics.com/lyrics/madonna/thelookoflove.html


    The Look Of Love – Madonna – YouTube

    16 Apr 2007 – 5 min – Uploaded by futureproofoo
    ► 4:50


    Madonna 03 The Look Of Love – YouTube

    6 Feb 2011 – 4 min – Uploaded by MadonnaGreatestMusik
    ► 4:05


    Madonna – The Look of Love (Video) – YouTube

    8 Mar 2012 – 4 min – Uploaded by MadonnaVideosTVMexic
    ► 3:33


    george clooney

    http://www.biography.com/news/george-clooney-girlfriends-list-photos#amal-alamuddin&awesm=~oCOCMaqWQs3DO6

    01 Kelly Preston
    Mom jeans jinx: In the late 80s George Clooney dated Kelly Preston for 14 months and was supposedly devastated when she left him for Charlie Sheen. (At least he was able to keep their pot-belly pig Max after the breakup.) (Photo: Ron Galella/WireImage)

    02 Talia Balsam
    After dating off and on for a few years, George got hitched to actress Talia Balsam in 1989 but divorced three years later. Rumor has it money issues destroyed their coupledom and apparently turned him off to walking down the aisle for decades to come. ‘I probably – definitely – wasn’t someone who should have been married at that point,’ Clooney told Vanity Fair. ‘I just don’t feel like I gave Talia a fair shot.’ (Photo: Ron Galella, Ltd./WireImage)

    03 Kimberly Russell
    George Clooney and actress Kimberly Russell’s 10-month courtship fizzled out after Clooney’s stardom catapulted with ‘ER.’ He allegedly dumped her via a letter…an equivalent to being dumped by text by today’s standards. Oh, George, for shame. (Photo: Jim Smeal/WireImage)

    Karren Duffy

    04 Celine Balitran
    How romantic is this? George met law student Celine Balitran while she was waitressing at a Parisian cafe in 1996. Within a few months they were living together in his L.A. house, but their relationship went kaput three years later. ‘I’m actually a much better ex-boyfriend that I am a boyfriend,’ George admitted, a year after his split from Balitran, whom he helped out financially. (Photo: Ron Galella, Ltd./WireImage)

    05 Lisa Snowden
    George dated British model and TV presenter Lisa Snowden on and off between 2000 and 2005. In the end, she allegedly dumped him for being too much of a party animal. (Photo: Lester Cohen/WireImage)

    06 Renee Zellweger
    George has been tied to Renee Zellweger throughout the early 2000s. While George admitted they had indeed been seeing each other ‘a little bit,’ Zellweger insists they’re just ‘old friends.’ (Photo: ROBYN BECK/AFP/Getty Images)

    07 Krista Allen
    We couldn’t find an image of racy actress Krista Allen and George together, but the two dated off and on between 2002-2004 and then some in 2006 and 2008. Apparently, the two had fun with no strings attached. (Photo: Vince Bucci/Getty Images For NHL)

    08 Sarah Lawson
    George dated Las Vegas waitress Sarah Lawson for 11 months before he dumped her. There was chatter she was set on getting a ring on it, which made George say ‘Check, please!’ (Photo: Kevin Mazur/WireImage)

    09 Elisabetta Canalis
    Another unfortunate believer who thought she could change George’s bachelor status, Italian actress Elisabetta Canalis melted George’s heart in 2009 but got the breakup slip in 2011. ‘I have always seen the end of my relationships as a personal failure. There is nothing ever pretty in saying goodbye.’ (Photo: Pascal Le Segretain/Getty Images)

    10 Stacy Keibler
    Looking for a rebound after his breakup with Canalis, George bounced into WWE star Stacy Keibler’s arms in 2011, but their courtship lasted just a little over a year and change. Thankfully, they broke up amicably, and Keibler got married to CEO Jared Pobre in March 2014. The newlyweds are expecting their first child soon. (Photo: Jason Merritt/Getty Images)

    11 Amal Alamuddin
    Trumpets, please: And here she is! After four months of dating, George became so smitten with British humanitarian lawyer Amal Alamuddin that he took the plunge and asked for her hand in marriage. Could this be a Hollywood happy ending? For George’s sake, we sure hope so. (Photo: Mark Robert Milan/FilmMagic)

     
  • Virtual Chitchatting 3:20 PM on 2014/04/29 Permalink  

    a broken heart 

    A broken heart
    Jennifer Rush

    A broken heart´s a bird without wings to fly
    With all your might it can´t be denied
    A broken heart´s the darkest hour before the dawn
    Why is it you´re left lonely to the core

    If I had to try my best to remember when
    A time with no memory of you
    I´d close my eyes and try hard to pretend
    This heart´s been broken once before

    So torn apart so many words unspoken
    It must learn this hurt will end
    So if a tear should fall don´t wonder why
    Form now on it´s forever you

    A broken heart can feel no desire
    It leaves you weak – all that remains
    Is a broken heart like a river that won´t flow
    You´d never do that to me – I know

    A broken heart can heal if given time
    A broken heart
    Needs all the strength you´ve got inside
    A broken heart
    Has no safe place to hide
    A broken heart
    So sure the world won´t be the same

    A broken heart can feel no desire
    It leaves you weak – all that remains
    Is a broken heart like a river that won´t flow
    You´d never do that to me – I know

    A broken heart can feel no desire
    It leaves you weak – all that remeins
    Is a broken heart like a river that won´t flow
    You´d never do that to me – I know

    A broken heart (this broken this broken heart)
    A broken heart (this broken this broken heart)
    This broken heart (you rescued me from)
    A broken heart


    Jennifer Rush – A Broken Heart – YouTube

    9 May 2013 – 4 min – Uploaded by Ro Anbu
    ► 4:08


    JENNIFER RUSH – A Broken Heart – YouTube

    14 Jan 2011 – 5 min – Uploaded by Anthony Atkinson
    ► 4:41


    Jennifer Rush – A broken Heart – YouTube

    20 Jan 2009 – 4 min – Uploaded by sauerla
    ► 3:43


    Jennifer Rush – A Broken Heart – Mojvideo.com

    http://www.mojvideo.com/video-jennifer-rush-a-broken-heart/2e10a49025099a3709d6

    13 Jun 2009 – 5 min
    ► 4:40


    MP3: 192kbs, 44Hz, Length: 4 min 6 sec, Title: A Broken Heart, Artist: Jennifer Rush

    MP3: 320kbs, 44Hz, Length: 3 min 26 sec, Title: A Broken Heart, Artist: Jennifer Rush

    MP3: 320kbs, 44Hz, Length: 4 min 7 sec

     
  • Virtual Chitchatting 1:50 AM on 2014/04/26 Permalink  

    The Bank Bali Files
    by Sando Sasako
    Jakarta, 26 April 2014 01.50

    Skandal Bank Bali dimulai dari macetnya kewajiban beberapa bank terhadap Bank Bali akibat krismon di tahun 1997. Kewajiban bank lain tersebut merupakan keuntungan Bank Bali dari hasil transaksi di pasar uang, SWAP, dan pembelian promissory notes. Tagihan di BDNI (belum dihitung bunga) senilai Rp 428,25 miliar dan US$ 45 juta; dan di BUN senilai Rp 200 miliar. Utang (6 transaksi) BDNI sudah jatuh tempo selama periode 2-16 Maret 1998.

    Para pejabat teras Bank Indonesia dan BPPN merasa bisa mengail ikan paus di saluran got berisi air keruh. Berbagai alasan dibuat supaya klaim Bank Bali tidak bisa dicairkan segera. Beberapa alasan tersebut mencakup:
    1. belum didaftar;
    2. terlambat mengajukan klaim;
    3. satu klaim tidak terdaftar;
    4. satu klaim ditolak karena tidak termasuk dalam jenis kewajiban yang dijamin (transaksi forward-sell) senilai Rp 1,131 miliar.
    5. Bank Indonesia tidak berhak secara administratif untuk meneliti kembali klaim Bank Bali (menolak usulan Pande Lubis).
    6. BPPN menolak klaim Bank Bali terhadap BUN, kecuali setelah disetujui Bank Indonesia dan Menteri Keuangan.

    Seretnya mendapatkan uang hasil kemenangan bermain di pasar uang membuat Rudy Ramli selaku pemilik Bank Bali meminta tolong ke Setya Novanto, bendahara Golkar, untuk bisa membantu mencairkan tagihan antarbanknya di 3 bank, yakni BDNI, BUN, dan Bank Bira, senilai Rp 3 triliun. Bank Bali menjual tagihan antarbanknya tersebut ke EGP, kendaraan Setya Novanto. Tagihan piutang BDNI dan BUN bernilai Rp 798,09 miliar digadaikan ke EGP selama 3 bulan.

    Kim Johannes Mulia merupakan ‘penghubung’ atau makelar kasus antara Rudy Ramli dengan Djoko Tjandra dan Setya Novanto di bulan Agustus 1998. Kim sudah terkenal sebagai pelaku ekspor fiktif dan sangat terlibat dalam mega-skandal Golden Key Group – Bappindo dan kasus Bank Arta Prima. Kepandaian Kim bermanuver dalam industri keuangan sangat dibantu oleh kepiawaian kakaknya sebagai corporate raider, Johannes Kotjo

    Setelah didesak Pande Lubis, verifikasi Bank Indonesia terhadap klaim Bank Bali di BDNI memberikan konfirmasi kebenaran dan kewajaran transaksi SWAP, forward dan L/C. Di sisi lain, verifikasi Bank Indonesia terhadap klaim Bank Bali di BUN atas transaksi pembelian promes yang di-endorse BUN dinyatakan belum sesuai dengan prinsip praktek perbankan yang berhati-hati.

    Per akhir Maret 1999, klaim Bank Bali di BUN dalam bentuk piutang dan bunga bernilai Rp 342,919 milyar; dan di BDNI senilai Rp 1,277 trilyun. Piutang sebesar Rp 1,6 trilyun ini digadaikan ke EGP untuk ditagih.
    Per 1 Juni 1999, Bank Indonesia membayar klaim pinjaman dan bunga antarbank Bank Bali di escrow account Bank Bali di Bank Indonesia senilai Rp 904 milyar.
    Per 3 Juni 1999, BPPN memindahkan dana dari rekening Bank Bali di Bank Indonesia ke sejumlah rekening berjumlah Rp 798 miliar secara bersamaan (Rp 404 miliar ke rekening PT EGP di Bank Bali Tower, Rp 274 miliar ke rekening Djoko S. Tjandra di BNI Kuningan, 120 miliar ke rekening PT EGP di BNI Kuningan)

    Tidak ada penjelasan dari BPPN dan Bank Indonesia tentang selisih nilai sebesar Rp 106 milyar yang tidak dibayarkan. Di sisi lain, Djoko S. Tjandra dan EGP masih merasa kekurangan Rp 141 milyar dari nilai Rp 904 milyar yang seharusnya mereka terima. Mereka kemudian meminta Bank Bali untuk menalanginya.
    Djoko S. Tjandra dan EGP sangat pintar memutarbaliikan fakta dan logika. Kenapa Bank Bali justru yang harus menalangi selisih tersebut? Seharusnya seluruh dana tersebut masuk ke rekening Bank Bali. Kenapa justru Bank Bali yang harus membayar tagihan yang seharusnya dia terima?

    Melihat ada peluang untuk bisa mendapatkan ikan paus secara gratis di saluran got yang airnya keruh, selaku calon pembeli Bank Bali, Standard Chartered Bank menaikkan dana yang dikeluarkan Bank Bali lebih dari tiga kali lipat menjadi Rp 546 milyar. Hal ini dilaporkan oleh Stanchart beserta kroni-kroninya dalam bentuk hasil due diligence.
    Uang sebanyak Rp 546,4 milyar di escrow account Bank Bali di Bank Indonesia merupakan salah satu klaim EGP terhadap wanprestasi Bank Bali. Bentuk klaim lainnya adalah pengajuan sita terhadap tanah dan bangunan, yakni Bank Bali Tower dan Bintaro serta ganti kerugian sebesar Rp 2,5 triliun.

    Atas dasar itu, memburuknya ‘kinerja’ Bank Bali (dan tidak adanya kesepakatan dengan Stanchart), Bank Indonesia kemudian menyerahkan Bank Bali ke BPPN. BPPN kemudian bersikap dan bertingkahlaku selayaknya badan yang independent. BPPN pura-pura sibuk menginvestigasi, melakukan verifikasi, dan terutama mencari cara dan peluang untuk mendapatkan justifikasi transaksi cessie oleh Bank Bali ke Setya Novanto (Dirut EGP).


    Di akhir tahun 2002, Dewan Komisaris Bank Permata diisi oleh Aditiawan Chandra selaku Presiden Komisaris. Komisaris lainnya terdiri dari Dradjat Bagus Prasetyo, Tirta Hidayat, Ichsanuddin Noorsy, Lukita Dinarsyah Tuwo, dan Deswandhy Agusman.

    Dewan Direksi dipimpin oleh Agus D.W. Martowardojo. Direksi lainnya terdiri dari Chandra Purnama, Irman Alvian Zahiruddin, Ongki W. Dana, Elvyn G. Masassya, Andrew H. Hanubrata, Mahdi Syahbuddin, dan J. Georgino Godong.

    Sebelumnya, di bulan Juni-Juli 2002, Chandra Purnama merupakan Project Director untuk project merger 5 bank, yakni PT Bank Bali Tbk, PT Bank Universal Tbk, PT Bank Artamedia, PT Bank Prima Express, PT Bank Patriot.


    Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diketuai Soedarto membebaskan Joko dari tuntutan hukum. Majelis berpendapat, kasus Joko bukan termasuk pidana, melainkan perdata. Sebelumnya, jaksa Antasari Azhar menuntutnya 18 bulan penjara. Mahkamah Agung memenangkan Joko S. Tjandra. Majelis Hakim Agung memperkuat argumentasi majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, satu anggota majelis kasasi, Artidjo Alkostar, mengajukan dissenting opinion dengan menyatakan Joko bersalah melakukan korupsi.

    http://antikorupsi.org/indo/content/view/14840/2/1/1/

    Djoko Tjandra Ajukan PK, Jaksa Eksekusi Uang Rp 546 M

    http://korupsi.vivanews.com/news/read/68753-tak_muncul_hari_ini__joko_masuk_daftar_buron

    Tak Muncul Hari Ini, Joko Masuk Daftar Buron

    http://korupsi.vivanews.com/news/read/68724-kejaksaan__joko_tjandra_tidak_kooperatif

    Kejaksaan: Joko Tjandra Tidak Kooperatif

    http://korupsi.vivanews.com/news/read/68714-joko_tjandra_lebih_sigap

    Joko Tjandra Lebih Sigap

    http://korupsi.vivanews.com/news/read/68635-_kalau_bisnis_tak_selesai__rusak_indonesia_

    Joko Tak ke Moresby, Rusak Nama Indonesia

    http://korupsi.vivanews.com/news/read/68622-joko_tjandra_minta_eksekusi_mundur_18_juli

    Joko Tjandra Minta Eksekusi Mundur 18 Juli


    Bank Permata (d/h Bank Bali): Annual Reports

    Laporan Tahunan 2013 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/PT%20Bank%20Permata%20Tbk%20Annual%20Report%202013.pdf
    Laporan Tahunan 2012 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/AR_PB_2012%20%28Final%29.pdf
    Laporan Tahunan 2011 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202011_Bilingual.pdf
    Laporan Tahunan 2010 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202010_Bilingual.pdf
    Laporan Tahunan 2009 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202009_Bilingual.pdf
    Laporan Tahunan 2008 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202008_Bilingual.pdf
    Laporan Tahunan 2007 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202007_Bilingual.pdf
    Laporan Tahunan 2006 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202006_Bilingual.pdf
    Laporan Tahunan 2005 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202005_Bilingual.pdf
    Laporan Tahunan 2004 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202004_Bilingual.pdf
    Laporan Tahunan 2003 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202003_Bilingual.pdf
    Laporan Tahunan 2002 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Annual/_PermataBank%20AnnualReport%202002_Ina.pdf


    Bank Permata (d/h Bank Bali): Financial Reports

    2014
    Q1 Maret 2014 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Financial/Permata%20Mar2014%20ok.pdf

    2013
    Publikasi Laporan Konsolidasi 2013 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Financial/Softcopy%20Publikasi%20FS%2031%20Des%202013.pdf
    Laporan Konsolidasi Des 2013 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Financial/Bank%20Permata%20FS%202013.pdf
    Q3 – September 2013 Konsolidasi https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Financial/Long%20Form%20Laporan%20Keuangan%20Konsolidasian%20PT%20Bank%20Permata%20Tbk%20-%2030%20September%202013.pdf
    Q3 – September 2013 Publikasi https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Content_Corporate/Reports/Financial/Laporan%20Keuangan%20Publikasi%20PT%20Bank%20Permata%20Tbk%20-%2030%20September%202013.pdf
    Q2 – June 2013 (consolidated) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2013_2Jun_Consolidated.pdf
    Q1 – March 2013 (consolidated) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/2013Q1Mar_Consolidated.pdf

    2012
    2012 (publikasi per Desember 2012 – konsolidasi – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2012_4Dec_Consolidated_audited.pdf
    Q4 – Desember 2012 (konsolidasi – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2012_4Dec_Consolidated_audited.pdf
    Q3 – September 2012 (konsolidasi) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2012_3Sep_Consolidated.pdf
    Q2 – Juni 2012 (konsolidasi) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2012_2Jun_Consolidated.pdf
    Q1 – Maret 2012 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2012_1Mar.pdf

    2011
    2011 (konsolidasi) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2011_FY_Consolidated.pdf
    Q4 – Desember 2011 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2011_4Dec_Audited.pdf
    Q3 – September 2011 (konsolidasi) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2011_3Sep_Consolidated.pdf
    Q2 – Juni 2011 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2011_2Jun.pdf
    Q1 – Maret 2011 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_110331.pdf

    2010
    2010 (publikasi per Desember 2010 – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2010_4Dec_Audited.pdf
    Q4 – Desember 2010 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2010_4Dec_Audited.pdf
    Q3 – September 2010 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2011_3Sep.pdf
    Q2 – Juni 2010 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2010_2Jun_Audited.pdf
    Q1 – Maret 2010 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2010_1Mar.pdf

    2009
    2009 (publikasi per Desember 2009 – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2009_4Dec_Audited.pdf
    Q4 – Desember 2009 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2009_4Dec_Audited.pdf
    Q3 – September 2009 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2009_3Sep.pdf
    Q2 – Juni 2009 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2009_2Jun.pdf
    Q1 – Maret 2009 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2009_1Mar.pdf

    2008
    2008 (publikasi per Desember 2008 – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2008_4Dec_Audited.pdf
    Q4 – Desember 2008 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2008_4Dec_Audited.pdf
    Q3 – September 2008 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2008_3Sep.pdf
    Q2 – Juni 2008 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2008_2Jun.pdf
    Q1 – Maret 2008 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2008_1Mar_Audited.pdf

    2007
    2007 (publikasi per Desember 2007 – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2007_4Dec_Audited.pdf
    Q4 – Desember 2007 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2007_4Dec_Audited.pdf
    Q3 – September 2007 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2007_3Sep.pdf
    Q2 – Juni 2007 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2007_2Jun.pdf
    Q1 – Maret 2007 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2007_1Mar.pdf

    2006
    2006 (publikasi per Desember 2006 – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2006_4Des_Audited.pdf
    Q4 – Desember 2006 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2006_4Des_Audited.pdf
    Q3 – September 2006 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2006_3Sep.pdf
    Q2 – Juni 2006 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2006_2Jun.pdf
    Q1 – Maret 2006 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2006_1Mar.pdf

    2005
    2005 (publikasi per Desember 2005 – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2005_4Dec_Audited.pdf
    Q4 – Desember 2005 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2005_4Dec_Audited.pdf
    Q3 – September 2005 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2005_3Sep.pdf
    Q2 – Juni 2005 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2005_2Jun.pdf
    Q1 – Maret 2005 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2005_1Mar.pdf

    2004
    2004 (publikasi per Desember 2004 – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2004_4Dec_Audited.pdf
    Q4 – Desember 2004 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2004_4Dec_Audited.pdf
    Q3 – September 2004 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2004_3Sep.pdf
    Q2 – Juni 2004 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2004_2Jun_Audited.pdf
    Q1 – Maret 2004 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2004_1Mar.pdf

    2003
    2003 (publikasi per Desember 2003 – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2003_4Dec_Audited.pdf
    Q4 – Desember 2003 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2003_4Dec_Audited.pdf
    Q3 – September 2003 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2003_3Sep.pdf
    Q2 – Juni 2003 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2003_2Jun.pdf
    Q1 – Maret 2003 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2003_1Mar.pdf

    2002
    2002 (publikasi per Desember 2002 – diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2002_4Dec_Audited.pdf
    Q4 – Desember 2002 (diaudit) https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2002_4Dec_Audited.pdf
    Q3 – September 2002 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2002_3Sep.pdf
    Q2 – Juni 2002 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2002_2Jun.pdf
    Q1 – Maret 2002 https://www.permatabank.com/uploadedFiles/PermataBank/Reports/Financial_Reports/LapKeu_2002_1Mar.pdf


    http://www.transparansi.or.id/1999/09/transparansi-penyelesaian-skandal-bank-bali-faktor-kunci-untuk-mengembalikan-kredibilitas-indonesia/

    Transparansi Penyelesaian Skandal Bank Bali: Faktor Kunci Untuk Mengembalikan Kredibilitas Indonesia
    Siaran Pers : Masyarakat Transparansi Indonesia
    Jakarta, 14 September 1999

    Berkenaan dengan perkembangan skandal Bank Bali, Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) dalam siaran persnya hari ini, menyatakan hal-hal sebagai berikut:

    1. Memperhatikan proses pengungkapan skandal Bank Bali, semakin terbuka fakta-fakta yang mengarah pada kesimpulan bahwa masalah Bank Bali bukanlah masalah bisnis dan teknis perbankan semata, melainkan masalah yang sangat bernuansa politis. Semakin jelas indikasi bahwa di balik transaksi yang tidak wajar itu, terdapat unsur penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) untuk kepentingan politik tertentu.
    2. Proses pemulihan ekonomi Indonesia sangat erat kaitannya dengan proses pemulihan kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia. Memperhatikan reaksi dunia internasional termasuk dari lembaga-lembaga keuangan internasional terhadap skandal Bank Bali, baik dari aspek komersial maupun aspek politik, transparansi proses penyelesaian skandal Bank Bali ini merupakan salah satu faktor kunci dalam proses pemulihan kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia.
    3. Dalam siaran pers, tanggal 5 Agustus 1999, MTI telah mengusulkan beberapa tindakan yang harus dilakukan berbagai pihak, guna mengungkap kasus Bank Bali secara transparan. Untuk itu MTI menyambut baik upaya-upaya berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi sehingga mampu mengungkapkan kasus ini secara transparan sehingga penyelesaiaannya mengarah pada titik terang.
    4. Sehubungan dengan meluasnya pemberitaan mengenai dua versi laporan auditor independen, pemerintah perlu secepatnya menjelaskan situasi yang sebenarnya. Mengingat kasus Bank Bali menyangkut kepentingan masyarakat luas, maka masyarakat berhak untuk mengetahui dengan sejelas-jelasnya hasil kerja auditor independen. Dalam hubungan ini, menjadi kewajiban Bepeka dan pemerintah untuk menjelaskan hasil audit tersebut secara transparan.
    5. Melalui berbagai sesi dengar pendapat antara Dewan Perwakilan Rakyat dan berbagai pihak yang terkait dengan kasus Bank Bali, masyarakat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kejadian-kejadian dan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini. Karena itu, langkah ini perlu diteruskan dan dipertajam, serta hasilnya diumumkan kepada masyarakat luas, sebelum Sidang Umum MPR 1999.
    6. Diperkirakan, pada hari-hari mendatang proses pengungkapan kasus Bank Bali akan memasuki tahap-tahap yang semakin menentukan. Karena itu, kepada berbagai pihak yang memiliki informasi dan keterkaitan dengan kasus ini, MTI menyerukan agar dengan suka rela dan sungguh-sunguh memberikan keterangan sejujur-jujurnya, sehingga diperoleh kesimpulan yang tepat dan tidak menyesatkan. MTI berkeyakinan bahwa kejujuran para pihak dalam memberikan keterangan, merupakan sikap yang ditunggu dan dihargai masyarakat luas.
    7. Terhadap berbagai pihak yang berindikasi kuat terlibat dan memperoleh manfaat untuk pribadi/kelompok dari keterlibatannya, MTI mendesak untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya, proses hukum ini harus terbuka bagi masyarakat.

    Demikian pernyataan pers MTI yang ditandatangani oleh Koesnadi Hardjasoemantri dan Erry Riyana Hardjapamekas selaku Wakil Ketua dan Sekretaris Jenderal.

    Masyarakat Transparansi Indonesia

    Koesnadi Hardjasoemantri
    Wakil Ketua

    Erry Riyana Hardjapamekas
    Sekretaris Jenderal


    Kasus Bank Bali Harus Ditransparankan

    http://www.transparansi.or.id/1999/08/kasus-bank-bali-harus-ditransparankan/


    http://www.tempo.co/read/news/2004/03/04/05540304/Kronologi-Skandal-Bank-Bali

    Kronologi Skandal Bank Bali
    Kamis, 04 Maret 2004 | 09:31 WIB

    26 Januari 1998
    Terbit Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang jaminan atas kewajiban pembayaran bank umum. Keputusan ini untuk mengatasi krisis kepercayaan terhadap perbankan akibat likuidasi bank pada 1997.

    8 Maret 1998
    Pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama BPPN dan BI, Nomor 1/BPPN/1998 dan Nomor 30 /270/KEP/DIR berisi petunjuk pelaksanaan penjaminan.

    18 Maret 1998
    Bank Bali mengirim surat ke BDNI untuk minta konfirmasi soal utang-utangnya yang jatuh tempo pada 2 Maret 1998 sampai 16 Maret 1998 (6 transaksi).

    9 Juli 1998
    Tim manajemen BDNI melalui suratnya menyatakan, klaim atas kewajiban BDNI ke Bank Bali sudah diajukan ke BPPN.

    21 Oktober 1998
    Bank Bali kirim surat ke BPPN perihal tidak terbayarnya tagihan piutang di BDNI dan BUN yang timbul dari transaksi money market, SWAP, dan pembelian promissory notes. Tagihan pada BDNI (belum dihitung bunga) Rp 428,25 miliar dan US$ 45 juta. Sedangkan tagihan ke BUN senilai Rp 200 miliar.

    27 Oktober 1998
    BI menyampaikan secara tertulis ke tim pemberesan BDNI tentang penolakan untuk memproses lebih lanjut klaim Bank Bali dengan alasan klaim belum didaftar dan terlambat mengajukan klaim, satu klaim tidak terdaftar, dan satu klaim ditolak karena tidak termasuk dalam jenis kewajiban yang dijamin (transaksi forward-sell) senilai Rp 1,131 miliar.

    23 Desember 1998
    Bank Bali kembali mengirim surat ke BPPN perihal tagihan piutang ke BDNI dan BUN tidak kunjung berhasil. Bank Bali juga meminta BPPN membantu memecahkan masalah ini.

    11 Januari 1999
    Bank Bali dan PT Era Giat Prima (EGP) meneken perjanjian pengalihan (cessie) tagihan piutang ke BDNI dan BUN. Jumlah seluruh tagihan piutang Bank Bali Rp 798,09 miliar. Disepakati paling lambat tiga bulan kemudian tagihan itu sudah diserahkan ke Bank Bali. Kemudian, Bank Bali juga menandatangani perjanjian cessie dengan Direktur Utama PT Era Giat Prima Setya Novanto. Bank Bali menjual seluruh tagihan pinjaman antarbanknya di BDNI, BUN, dan Bank Bira ke PT EGP. Total tagihan itu mencapai Rp 3 triliun.

    12 Januari 1999
    Wakil Ketua BPPN Pande Lubis mengirim surat ke Bank Bali. Isinya, BPPN sedang mengumpulkan dan mempelajari data mengenai transaksi Bank Bali untuk mencari pemecahan masalah.

    15 Februari 1999
    BPPN meminta bantuan BI untuk melakukan verifikasi atas tagihan Bank Bali ke BDNI dan BUN dari segi kewajaran dan kebenarannya.

    16 Februari 1999
    BI tolak usulan Pande Lubis untuk meneliti kembali klaim Bank Bali karena sebelumnya BI sudah menyatakan secara administrasi tidak berhak.

    18 Februari 1999
    Pande Lubis mengeluarkan memo kepada Erman Munzir yang berisi usulan untuk memeriksa ulang klaim Bank Bali. Erman kemudian mengaku telah minta Direktur UPMB I memprioritaskan klaim Bank Bali.

    22 Maret 1999
    BI melakukan verifikasi terhadap tagihan-tagihan Bank Bali ke BDNI dan BUN. Hasilnya, antara lain, tidak ditemukan indikasi ketidakbenaran dan ketidakwajaran transaksi SWAP, forward dan L/C antara Bank Bali dengan BDNI, transaksi pembelian promes yang di-endorse BUN belum sesuai dengan prinsip praktek perbankan yang berhati-hati.

    29 Maret 1999
    PT EGP memberikan surat kuasa ke Bank Bali untuk dan atas nama PT EGP menagih ke BUN piutang beserta bunganya sebesar Rp 342,919 miliar dan mengkreditkannya ke rekening perusahaan itu. Hal serupa dilakukan terhadap penagihan piutang beserta bunganya ke BDNI yang besarnya Rp 1, 277 triliun dan mengkreditkannya ke rekening PT EGP.

    1 April 1999
    Bank Bali mengirim surat ke BPPN. Isinya ralat tentang jumlah tagihan ke BDNI dan BUN.

    9 April 1999
    BPPN menolak klaim tagihan Bank Bali terhadap BUN. Pengecualian terhadap BDNI. Meski begitu, harus ada persetujuan dari Bank Indonesia atau Menteri Keuangan.

    14 Mei 1999
    Revisi Surat Keputusan Bersama Program Penjaminan Pemerintah:

    • Keterlambatan administratif bisa diterima selama tagihan valid,
    • Pengajuan klaim dapat dilakukan oleh salah satu pihak, baik debitor atau kreditor,
    • Ketidakberlakuan penjaminan diperluas sehingga mencakup kewajiban yang berasal dari pihak terkait,
    • Dana publik yang berasal dari perusahaan Asuransi dan Dana pensiun dikeluarkan dari kelompok pihak terkait,

    1 Juni 1999
    BPPN meminta BI melakukan pembayaran dana antarbank BB sebesar Rp 904 miliar. Dana Rp 904 miliar dari BI mengucur ke rekening BB di BI (piutang berikut bunganya).

    3 Juni 1999
    BPPN instruksikan transfer dana dari rekening Bank Bali di Bank Indonesia ke sejumlah rekening berjumlah Rp 798 miliar secara bersamaan (Rp 404 miliar ke rekening PT EGP di Bank Bali Tower, Rp 274 miliar ke rekening Djoko S. Tjandra di BNI Kuningan, 120 miliar ke rekening PT EGP di BNI Kuningan)

    9 Juni 1999
    Setelah uang keluar dari BI, janji PT EGP menyerahkan surat-surat berharga pemerintah yang harusnya jatuh tempo pada 12 Juni 1999 malah diubah dalam perjanjian penyelesaian. Isinya, Bank Bali agar memindahbukukan dana sebesar Rp 141 miliar ke PT EGP. Alasannya, tagihan Bank Bali dari BI hanya Rp 798 miliar, sehingga dikurangkan saja dengan uang yang mengalir dari BI sebesar Rp 904 miliar.

    20 Juli 1999
    Standard Chartered Bank melaporkan hasil due diligence dan menemukan:
    a. Terjadi tambahan kerugian akibat pembayaran keluar dari bank sebesar Rp 546 miliar sehubungan dengan klaim antarbank sebesar Rp 905 miliar
    b. Adanya usaha penjualan aset-aset bank oleh manajemen, BPPN menolak untuk menerima kerugian tambahan tersebut sebagai bagian dari rekapitalisasi

    23 Juli 1999
    Penyerahan Bank Bali dari Bank Indonesia ke BPPN berdasarkan SK Gubernur BI no 1/14/Kep Dpg/1999 menyusul terlampauinya batas waktu pencapaian kesepakatan antara Standard Chartered Bank dan pemegang saham Bank Bali

    30 Juli 1999
    Ahli hukum perbankan Pradjoto membeberkan jaringan money politics, dalam transaksi penagihan piutang Bank Bali terhadap BDNI, BUN dan Bank Bira senilai Rp 3 triliun, yang melibatkan Setya Novanto (Dirut PT EGP), dengan dugaan adanya dukungan sejumlah pejabat tinggi negara.

    5 Agustus 1999
    BPPN membentuk tim investigasi di bawah pengawasan International Review Committee untuk menginvestigasi kebenaran transaksi cessie, meneliti dasar hukumnya, menelaah proses pengambilan keputusan atas transaksi, melakukan pemeriksaan, penelitian, pengumpulan data, dan penyelidikan terhadap pengalihan dana yang dilakukan Bank Bali ke PT EGP.

    27 September 1999
    Pejabat sementara Jaksa Agung Ismudjoko SH mengungkapkan, tim penyidik Kejaksaan Agung yang dipimpin ketua tim Pengkaji Pidana Khusus Ridwan Mukiat siap menyidik skandal Bank Bali dengan mencoba memanggil orang-orang yang diduga terkait dalam kasus Bank Bali.

    7 Oktober 1999
    Presiden BJ Habibie telah menyetujui pemeriksaan tiga pejabat tinggi di kabinet waktu itu, salah satunya Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin, sebagai saksi dalam kasus skandal Bank Bali.

    29 November 1999
    Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat izin pemeriksaan Syahril Sabirin. Pemeriksaan Syahril menjadi menarik setelah Wakil Dirut Bank Bali Firman Soetjahja saat diperiksa tim penyidik mengakui adanya pertemuan di Hotel Mulia pada 11 Februari 1999 yang membahas soal cessie.

    5 Juni 2000
    Gubernur BI Syahril Sabirin resmi jadi tersangka kasus Bank Bali. Dia dipersalahkan tidak menerapkan prinsip kehati-hatian yang merupakan prinsip perbankan.

    21 Juni 2000
    Syahril Sabirin ditahan di Kejaksaan Agung.

    28 Agustus 2000
    Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diketuai Soedarto membebaskan Joko dari tuntutan hukum. Majelis berpendapat, kasus Joko bukan termasuk pidana, melainkan perdata. Sebelumnya, jaksa Antasari Azhar menuntutnya 18 bulan penjara.

    28 Juni 2001
    Mahkamah Agung kembali memenangkan Joko S. Tjandra. Majelis Hakim Agung memperkuat argumentasi majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, satu anggota majelis kasasi, Artidjo Alkostar, mengajukan dissenting opinion dengan menyatakan Joko bersalah melakukan korupsi.

    13 Maret 2002
    Syahril Sabirin divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan dihukum tiga tahun penjara.

    Maret 2002
    Mahkamah Agung menolak gugatan EGP di PTUN yang meminta agar surat keputusan mengenai pembatalan pengalihan tagihan Bank Bali ke EGP oleh BPPN dicabut.

    Agustus 2002
    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta membebaskan Syahril Sabirin dari semua dakwaan.

    12 Juni 2003
    Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan mengirim surat kepada direksi Bank Permata agar menyerahkan barang bukti berupa uang Rp 546,4 miliar. Pada hari yang sama, direksi Bank Permata mengirim surat ke BPPN untuk minta petunjuk.

    17 Juni 2003
    Direksi Bank Permata meminta fatwa MA atas permintaan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

    19 Juni 2003
    BPPN minta fatwa MA dan penundaan eksekusi putusan MA yang membebaskan Joko S. Tjandra. Alasannya, ada dua putusan MA yang bertentangan.

    25 Juni 2003
    Fatwa MA untuk direksi Bank Permata keluar. Isinya, MA tidak dapat ikut campur atas eksekusi.

    Sumber: ICW, PDAT


    http://www.antara.co.id/view/?i=1184769239&c=NAS&s=

    Kejakgung Ajukan Peninjauan Kembali Kasus Bank Bali
    Rabu, 18 Juli 2007 21:33 WIB

    Jakarta (ANTARA News) – Kejaksaan Agung (kejakgung) akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) kepada Mahkamah Agung (MA) untuk kasus Bank Bali dengan tiga tersangka, yaitu Joko Sugiarto Tjandra, Pande Lubis, dan Syahril Sabirin.

    Sekretaris Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Sesjampidsus), Kemas Yahya Rahman, di Jakarta, Rabu, mengatakan upaya peninjauan kembali dilakukan karena terjadi pertentangan putusan dan penilaian hakim terhadap perkara yang sama.

    “Berdasar pasal 263 KUHAP, apabila ada putusan yang saling bertentangan dan penilaian hakim yang berbeda-beda, terhadap putusan tersebut walaupun sudah berkekuatan hukum tetap dapat diajukan penijauan kembali,” kata Kemas.

    Kasus ini berawal pada “cessie” (perjanjian pengalihan hak menagih piutang-red) antara PT Era Giat Prima (EGP) dan Bank Bali pada Januari 1999.

    Perjanjian itu ditujukan untuk mencairkan piutang Bank Bali di tiga bank (BDNI, BUN dan Bank Bira) senilai Rp3 triliun. Namun yang bisa dicairkan oleh EGP (setelah diverifikasi BPPN-red) hanya sebesar Rp904 miliar dari nilai transaksi Rp1,27 triliun (di BDNI).

    Pencairan piutang sebesar Rp904 miliar itu juga melibatkan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang meminta BI melakukan pembayaran dana itu.

    Kasus ini mencuat setelh muncul dugaan praktik suap dan korupsi dalam proses pencairan piutang tersebut.

    Pada saat itu, Pande Lubis adalah Wakil Ketua BPPN, Syahril Sabirin menjabat Gubernur Bank Indonesia, dan Joko Sugiarto Tjandra adalah pemilik EGP.

    Menurut Kemas, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan membebaskan Joko Sugiarto Tjandra pada 28 Agustus 2000.

    Majelis juga menyatakan uang sebesar Rp546,46 miliar dikembalikan kepada perusahaan milik Joko, PT EGP. Sedangkan uang sebesar Rp28,75 juta dikembalikan kepada Joko sebagai pribadi.

    Atas putusan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan kasasi yang akhirnya ditolak oleh MA.

    Tersangka kedua, Pande Lubis juga dibebaskan majelis hakim PN Jakarta Selatan pada 23 November 2000.

    Namun demikian, pada tingkat kasasi, MA menganggap putusan itu salah dan mengganjar Pande empat tahun penjara. Putusan MA tersebut tidak membahas soal uang senilai RpRp546,46 miliar yang dijadikan barang bukti.

    Manurut Kemas, putusan MA itu belum lengkap karena hanya menyatakan Pande Lubis melakukan tindak pidana korupsi, tetapi tidak menyatakan nasib uang hasil korupsi.

    “Seharunsya uang dikembalikan kepada negara,” katanya.

    Sedangkan tersangka lainnya, Syahril Sabirin telah dihukum tiga tahun penjara oleh majelis hakim PN Jakarta Pusat pada 13 Maret 2002, dengan barang bukti uang senilai Rp546,46 miliar digunakan sebagai bukti dalam perkara lain.

    Pada tingkat banding, majelis hakim membebaskan Syahril. Hal serupa dilakukan MA yang membebaskan Syahril dengan menolak upaya kasasi dari JPU pada 23 September 2004.(*)
    COPYRIGHT © 2007


    http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2009/06/19/brk,20090619-182779,id.html

    Bank Permata Hormati Putusan Kasus Bank Bali
    ARIF FIRMANSYAH, Jum’at, 19 Juni 2009 | 14:24 WIB

    TEMPO Interaktif, Jakarta: Kuasa hukum Bank Permata, Luhut Pengaribuan, mengatakan pihaknya menghormati putusan majelis kasasi Mahkamah Agung tentang eksekusi uang dalam kasus cessie (hak tagih utang) senilai Rp 546 miliar milik Bank Bali yang tersimpan di Bank Permata.

    “Kami menghormati putusan MA karena itu kami bersikap proaktif dan berkoordinasi dengan kejaksaan,” kata Luhut Pangaribuan ketika dihubungi Tempo, Jumat (19/6). Luhut membantah pihaknya pernah menolak putusan eskusi. “Kami tidak pernah menyatakan menolak seperti diberikan Koran Tempo beberapa hari lalu,” katanya.

    Ketika ditanya apakah pihaknya siap menyerahkan uang milik Bank Bali yang tersimpan di Bank Permata, Luhut mengatakan sampai sekarang belum ada keputusan untuk menyerahkan uang tersebut. Menurut dia, koordinasi dengan kejaksaan belum sampai pada kesimpulan penyerahan uang. “Dalam hal ini kami mohon kebijaksanaan kejaksaan,” ucapnya.

    Luhut mengatakan sampai saat ini pihaknya memilih bersikap tidak menolak putusan soal eksukusi karena sudah menjadi kekuatan hukum. Namun, untuk menyerahkan uang tersebut Bank Permata masih akan mempelajari putusan eksekusi tersebut. “Jadi kami masih harus menunggu,” tutur dia.

    Salah satu yang diminta Luhut untuk dipertimbangkan adalah surat yang dikirim Bank Permata ke Menteri Keuangan soal permintaan perlindungan. Surat ini dikirim ketika ada upaya dari Joko Soegiarto Tjandra yang ingin mengambilalih Bank Permata. Surat ini dikirimkan juga ke Kejaksaan Agung melalui Menteri Keuangan. “Ini bisa jadi pertimbangan,” tambahnya.

    Dalam putusan kasus cessie Bank Bali, majelis memvonis mantan Gubernur Bank Indoensia Syahril Sabirin dan pemilik PT Era Giat Prima Joko Soegiarto Tjandra dua tahun penjara. majelis hakim juga memutuskan bahwa uang senilai Rp 546,46 miliar harus dikembalikan kepada negara. Dana tersebut terdapat dalam rekening bersama Bank Bali dan Era Giat Prima bernomor 0999045197.


    Kasus Bank Bali
    Kuasa Hukum Bank Permata Datangi Kejaksaan
    Arry Anggadha, Fadila Fikriani Armadita, Senin, 22 Juni 2009, 15:34 WIB
    arry.anggadha@vivanews.com

    Uang Joko Tjandra di Bank Bali (kini Bank Permata) Rp 546.166.116.369 disita untuk negara.

    VIVAnews – Kuasa Hukum Bank Permata, Luhut Pangaribuan mendatangi Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, siang ini. Kedatangan terkait rencana eksekusi uang milik Joko Tjandra sebesar Rp 546 miliar.

    “Kami tidak melakukan perlawanan, tetapi menyamakan persepsi,” kata Luhut Panggaribuan, di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Senin 22 Juni 2009.

    Luhut menjelaskan, kedatangannya ini untuk memenuhi panggilan, sesuai dengan pasal 270 KUHAP. Selain itu, kata Luhut, pihaknya meminta perlindungan hukum kepada pihak kejaksaan. Ada lima produk hukum yang berkaitan dengan dana escrow anccount ini.

    Luhut menerangkan, pertama adalah putusan yang berkaitan dengan perkara pidana Joko Tjandra. “Yang mengatakan dirampas oleh negara,” kata Luhut.

    Selain itu, lanjut Luhut, ada putusan perdata Mahkamah Agung yang mengatakan dana tersebut milik Bank Bali. Ada juga putusan dari Pengadilan Tata Usaha Negera yang menyatakan siapa pemilik dana tersebut adalah perdata. “Jadi akur dengan putusan Mahkamah Agung,” jelas Luhut.

    Selain itu ada pula fatwa Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa pengembalian barang bukti yang disita kepada pihak yang paling berhak menerima, tidak menentukan bahwa yang bersangkutan adalah pemilik dari barang bukti tersebut. “Fatwa tersebut keluar, ketika Era Giat Prima mau mengeksekusi dana tersebut,” kata dia.

    Dalam fatwa tersebut juga dijelaskan, salah satu amar putusan MA menyatakan dana sebesar Rp 546 Miliar itu milik Bank Bali. “Uang itu milik Bank Bali dan tetap ada di bank bali (sekarang Bank permata),” kata Luhut

    Luhut mengatakan, pihaknya hanya menyampaikan hal ini kepada kejaksaan. Karena kejaksaan bukan bagian dari proses lima produk hukum tadi. “Ttentu mereka butuh waktu untuk mereview,” jelas Luhut. Harapan Luhut Ke depan akan ada tindak lanjut dari pihak kejaksaan. “Sambil berkoordinasi dengan depatermen keuangan,” imbuhnya.

    Seperti diketahui, MA menjatuhkan vonis dua tahun penjara kepada Joko Tjandra dan Syahril Sabirin pada 11 Juni 2009. Putusan PK perkara Bank Bali ini dibacakan oleh majelis yang diketuai Djoko Sarwoko dengan anggota I Made Tara, Komariah E Sapardjaja, Mansyur Kertayasa, dan Artidjo Alkostar.

    Dalam putusan PK, majelis menilai Joko Tjandra terbukti bersalah dalam pencairan klaim Bank Bali. Selain hukuman badan, Joko Tjandra juga harus membayar denda Rp 15 juta serta uangnya di Bank Bali sebesar Rp 546.166.116.369 dirampas untuk negara.


    http://www.infokorupsi.com/id/korupsi.php?ac=2153&l=kasus-cessie-bank-bali-kisah-berliku-duit-setengah-triliun

    Kasus Cessie Bank Bali: Kisah Berliku Duit Setengah Triliun
    Selasa, 23 Juni 2009

    Joko Soegiarto Tjandra, bos Mulia Group

    Jakarta-Mahkamah Agung akhirnya menjebloskan Joko Tjandra dan Syahril Sabirin ke dalam bui. Sehari sebelum putusan dijatuhkan, dengan pesawat jet carteran, Joko terbang ke Papua Nugini. Syahril pasrah.

    Pesawat jet bernomor CLNO4 itu mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, selepas magrib. Pesawat milik maskapai TAG Aviation yang bermarkas di Amerika Serikat itu terbang langsung dari Hong Kong atas pesanan Joko Soegiarto Tjandra, bos Mulia Group, salah satu perusahaan properti papan atas di negeri ini. Rabu dua pekan lalu, begitu mendarat di Halim, pesawat itu langsung mengajukan permintaan pengisian bahan bakar.

    Sekitar pukul 20.00 sang pencarter datang. Berjaket kulit hitam, pria bernama asli Tjan Kok Hui muncul bersama dua rekannya. Ketiganya, yang hanya membawa empat koper kecil, langsung menuju Executive Lounge Abimanyu. Sembari menunggu pesawat mengisi bahan bakar, Joko memesan minuman ringan. “Tidak ada tanda-tanda ketegangan di wajahnya,” ujar Sugiarto, manajer operasi PT Sari Rahayu Biomanatara, perusahaan yang mengurus penyewaan maskapai TAG di Indonesia.

    Sekitar dua puluh menit kemudian, Joko bergegas menuju pesawat. Tujuan mereka Port Moresby, ibu kota Papua Nugini. Tak ada masalah dengan soal keimigrasian. Joko mengeluarkan semua dokumen yang diperlukan: dari paspor hingga nomor pokok wajib pajak (NPWP), yang membebaskannya dari fiskal. Sekitar pukul 20.30, Joko pun terbang ke Port Moresby. “Dia sempat menyalami saya,” kata Sugiarto.

    Ini bukan pertama kalinya Joko terbang ke Papua dengan pesawat khusus. Sugiarto mencatat, tiga kali sudah pengusaha 59 tahun ini menyewa pesawat TAG untuk mengantarkannya ke Port Moresby. Berkapasitas sepuluh penumpang, pesawat CLN04 itu memang hanya melayani carteran. “Pokoknya ini private jet-lah,” kata Sugiarto.

    Dua hari kemudian, barulah petugas Bandara Halim dikejutkan oleh datangnya surat dari Kejaksaan Agung. Kejaksaan menyatakan Joko dicekal lantaran turunnya putusan peninjauan kembali (PK ) Mahkamah Agung pada Kamis dua pekan lalu, yang menghukum Joko dua tahun penjara. Selain menghukum Joko, Mahkamah juga menghukum bekas Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin. Keduanya dinyatakan bersalah dalam kasus penggelontoran duit negara Rp 900 miliar lebih, yang dikenal dengan skandal “cessie Bank Bali”.

    Menghilangnya Joko tepat sehari sebelum putusan itu diketuk tak pelak menimbulkan kecurigaan: pengusaha ini sudah mendapat bocoran dirinya bakal dihukum. Tapi Ketua Mahkamah Agung Harifin Tumpa tak percaya hasil sidang majelis peninjauan kembali bisa bocor. “Tidak mungkin, karena sidang putusan dan pengumuman dilakukan bersamaan pada hari Kamis. Tidak ada jeda.”

    Kepala Angkasa Pura II Cabang Halim, Bram B. Tjiptadi, menolak jika instansinya dituding tak sigap menahan Joko. Menurut Bram, jika surat cekal itu datang sebelum Joko terbang, pihaknya pasti mencekal Joko. Tapi, nyatanya, surat cekal itu baru datang Jumat dua pekan lalu. “Kami tidak bisa disalahkan,” kata Bram kepada Tempo.

    Kini, baru Syahril yang dieksekusi. Selasa pekan lalu, setelah memenuhi panggilan kejaksaan, pria 66 tahun itu langsung dijebloskan ke penjara Cipinang, Jakarta Timur. Begitu masuk, seperti lazimnya penghuni baru, Syahril diambil fotonya dari depan, kiri, dan kanan. “Ma, sekarang saya sudah jadi napi,” kata Syahril dengan suara tercekat kepada istrinya, Murni Muis, yang ikut mengantarkannya ke penjara, setelah acara pemotretan itu selesai.

    SKANDAL “cessie Bank Bali” bermula saat pemilik bank ini, Rudy Ramli, kesulitan menagih piutangnya yang tertanam di brankas Bank Dagang Nasional Indonesia, Bank Umum Nasional, dan Bank Tiara pada 1997. Nilainya sekitar Rp 3 triliun. Hingga ketiga bank itu masuk perawatan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), tagihan itu tak membawa hasil. Belakangan, BPPN juga emoh mengabulkan tagihan itu dengan alasan penagihan itu terlambat diajukan ke BPPN, sehingga batas pembayarannya sudah lewat.

    Mentok di sana-sini, Rudy lantas menyewa jasa PT Era Giat Prima. Di perusahaan ini Joko duduk sebagai direktur dan Setya Novanto, yang saat itu bendahara Golkar, direktur utamanya. Perjanjian pengalihan hak tagih (cessie) diteken pada Januari 1999. Yang luar biasa adalah fee-nya. Era bakal mengantongi separuh dari duit yang dapat ditagih.

    Era Giat ternyata menggunakan “kekuatan politik” untuk mengegolkan proyek besar ini. Saat itu sejumlah tokoh Golkar disebut-sebut terlibat untuk “membolak-balik” aturan dengan tujuan proyek pengucuran duit itu berhasil. Pada 11 Februari 1999, misalnya, terjadi pertemuan rahasia antara Ketua Dewan Pertimbangan Agung Arnold Baramuli, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Tanri Abeng, Syahril Sabirin, Wakil Ketua BPPN Pande Lubis, petinggi Era Giat dan Wakil Direktur Utama Bank Bali, Firman Soetjahja membicarakan soal penarikan duit dari BPPN. Kepada Tempo, semuanya-kecuali Firman-saat itu membantah adanya pertemuan di Hotel Mulia tersebut (Tempo, 13 Agustus 2000).

    Yang pasti, setelah pertemuan itu, Bank Indonesia dan BPPN setuju mengucurkan duit Bank Bali itu. Jumlahnya Rp 905 miliar. Namun Bank Bali hanya mendapat Rp 359 miliar. Sisanya, sekitar 60 persen atau Rp 546 miliar, masuk rekening Era.

    Kongkalikong ini kemudian terungkap dan menjadi bola liar. Adalah pakar hukum perbankan Pradjoto yang pertama kali mengungkap kasus ini ke mana-mana. Pradjoto “mencium” skandal cessie ini berkaitan erat dengan pengumpulan dana untuk memajukan Habibie ke kursi presiden, saat itu. “Fee itu terlalu besar dan janggal,” kata Prajoto kepada Tempo.

    Satu per satu keganjilan di balik pencairan duit itu juga terkuak. Cessie itu, misalnya, tak diketahui BPPN, padahal saat diteken, BDNI sudah masuk perawatan BPPN. Cessie itu juga tak dilaporkan ke Bapepam dan PT BEJ, padahal Bank Bali sudah masuk bursa. Selain itu, penagihan kepada BPPN ternyata tetap dilakukan Bank Bali, bukan Era Giat.

    Sadar pembayaran piutang itu bermasalah, Ketua BPPN saat itu, Glenn M.S. Yusuf, membatalkan perjanjian cessie. Perang pun dimulai. Setya lalu menggugat BPPN ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan menang. Walau tetap menang di tingkat banding, Mahkamah Agung, lewat putusan kasasinya pada November 2004, memenangkan BPPN.

    Era Giat juga membawa kasus ini ke ranah perdata. Perusahaan itu menggugat Bank Bali dan Bank Indonesia agar mencairkan dana Rp 546 miliar untuk mereka. Pengadilan, pada April 2000, memutuskan Era Giat berhak atas duit lebih dari setengah miliar rupiah itu. Kasus ini terus bergulir ke atas. Lewat putusan kasasinya, Mahkamah kemudian memutuskan duit itu milik Bank Bali. Di tingkat peninjauan kembali, putusan itu tetap sama: duit itu hak Bank Bali.

    Di tengah proses pengadilan tata usaha negara dan perdata itulah, Kejaksaan Agung lantas “mengambil” kasus ini. Kejaksaan menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus ini, antara lain Joko Tjandra, Syahril, Pande Lubis, Rudy Ramli, hingga Tanri Abeng. Mereka dituduh melakukan korupsi duit negara. Kejaksaan menyita duit Rp 546 miliar itu dan menitipkan ke rekening penampungan (escrow account) di Bank Bali.

    Kendati yang menjadi tersangka lumayan banyak, ternyata belakangan yang diadili hanya tiga orang: Joko, Syahril, dan Pande Lubis. Dari tiga orang ini, nasib paling sial dialami Pande Lubis. Mahkamah, pada 2004, menghukum Pande empat tahun penjara. Sejak itu Pande mendekam di bui.

    Adapun Syahril, kendati divonis pengadilan negeri tiga tahun, belakangan hakim pengadilan banding dan hakim kasasi menganulir putusan itu. Yang kontroversial adalah Joko. Selain hanya dituntut ringan, hanya sebelas bulan, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemudian memutusnya bebas. Di tingkat kasasi, lagi-lagi ia dinyatakan bebas. Satu-satunya hakim kasasi yang saat itu melakukan dissenting opinion atas putusan Joko adalah Artijo Alkostar. Menurut Artijo, Joko jelas melakukan tindak pidana. Toh, Artijo kalah suara. Kejaksaan tak menyerah. Upaya hukum luar biasa pun, peninjauan kembali, dilakukan.

    Hasilnya memang tak sia-sia. Mahkamah, dua pekan lalu, menyatakan Joko dan Sjahril Sabirin bersalah dan menghukum mereka dua tahun penjara. “Ini politik banget,” kata O.C. Kaligis, mengomentari nasib kliennya. Kaligis menyoroti sejumlah nama yang lolos dari kasus ini, seperti Rudy Ramli dan juga Setya Novanto. “Padahal dia itu direktur utamanya.”

    KEJAKSAAN Agung mengklaim punya alasan kuat mengajukan PK. Menurut Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Marwan Effendy, putusan kasasi yang membebaskan Joko dan Syahril tidak adil. Ia menunjuk masuknya Pande ke bui, sementara Joko dan Syahril bebas. Padahal ketiganya dijerat kasus yang sama. “Ada kekeliruan dalam putusan hakim kasasi,” kata Marwan. Berangkat dari alasan itulah, Januari lalu, lewat Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, PK pun diajukan. “Ini ujungnya untuk kepentingan negara,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Untung Ari Muladi.

    Sebenarnya Joko pernah melobi kejaksaan agar kasus ini tak “naik lagi”. Ia menawarkan uangnya di Bank Bali-yang kini menjadi Bank Permata-diambil kejaksaan dengan syarat kejaksaan tidak melakukan peninjauan kembali. Ini bisa jadi hanya janji-janji Joko, karena menurut Marwan, hingga detik ini Joko tidak pernah datang meneken berita acara penyerahan uang. “Dia tidak punya iktikad baik,” kata Marwan. Lobi Joko di Kejaksaan Agung juga sempat terungkap saat Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta. Saat itu, nama Joko-dengan alias Joker-sempat disebut-sebut Artalyta saat menelepon Kemas Yahya Rahman, yang saat itu menjabat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus.

    Putusan peninjauan kembali kasus Joko juga tidak bulat. Dari lima hakim, dua hakim, Komariah Emong Sapardjaja dan Suwardi, mengajukan dissenting opinion. “Mereka berbeda soal formalitas peninjauan kembali,” kata Djoko Sarwoko, ketua majelis PK yang menangani kasus ini. Dihubungi Tempo pekan lalu, Komariah mengeluarkan alasan atas sikapnya: Pasal 263 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. “Jaksa tidak punya hak melakukan PK, apalagi ini terkait putusan bebas,” ujarnya.

    Kaligis juga menuding Mahkamah tidak konsisten dalam putusannya. Pandangan serupa dilontarkan Mohammad Assegaf, kuasa hukum Syahril. “Khususnya inkonsistensi Djoko Sarwoko,” katanya. Djoko, menurut Assegaf, pernah menolak peninjuan kembali yang diajukan kejaksaan dalam kasus Haji Mulyar bin Sanusi, tiga tahun lalu. “Waktu itu Pak Djoko bilang, PK yang diajukan jaksa tidak dapat diterima,” katanya. Kaligis dan Assegaf menyatakan akan mengajukan PK atas putusan PK Mahkamah. “Kami belum pernah memakai langkah PK,” ucap Kaligis.

    Kini tugas di depan mata memang menangkap Joko Tjandra dan juga membereskan duit Rp 546 miliar yang menurut Mahkamah milik negara. Soal lenyapnya Joko, Marwan Effendy mengaku mendapat jaminan dari pengacara Joko bahwa sang Joker akan muncul. “Dia minta waktu dulu untuk membereskan urusan bisnisnya di luar negeri,” ujar Marwan. Setya Novanto juga tak percaya Joko akan melarikan diri seperti sejumlah buron kejaksaan yang lain. “Dia mungkin sedang menenangkan diri karena kaget,” kata Setya, direktur Era yang lolos dari jerat hukum dalam kasus ini.

    Dihubungi Tempo Jumat pekan lalu, juru bicara Kedutaan Besar RI untuk Papua Nugini, Abdul Hakim, menyatakan pihaknya belum mendapat permintaan dari Jakarta untuk mencari Joko. Nama Joko Tjandra, kata Abdul Hakim, tidak ada dalam daftar pengusaha Indonesia yang berbisnis di Papua Nugini. “Dia juga tidak masuk daftar warga Indonesia yang memiliki izin tinggal tetap di sini,” kata Abdul.

    Adakah Joko akan muncul atawa lenyap selamanya, kita tunggu kejutan selanjutnya. Mungkin juga kejutan dari kasus hukumnya, terutama hak peninjauan kembali itu milik siapa sebenarnya. “Dunia sudah jungkir balik,” kata Syahril Sabirin mengenai soal PK ini. (LRB, Anne L. Handayani, Anton Aprianto, Rini Kustiani, Akbar Tri Kurniawan, Ismi Wahid, Agung Sedayu)

    10 Tahun, Lalu Masuk Bui
    PERKARA cessie Bank Bali yang sejak awal penuh kontroversi itu akhirnya mengirim juga Joko Soegiarto Tjandra ke bui. Mahkamah Agung, lewat putusan peninjauan kembali, juga menghukum mantan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin. Seperti Joko, Syahril dipidana dua tahun penjara. Inilah lika-liku perjalanan kasus yang memakan waktu hampir sepuluh tahun itu.

    21 Agustus 1998
    Badan Penyehatan Perbankan Nasional mengambil alih Bank Dagang Nasional Indonesia dan Bank Umum Nasional.

    11 Januari 1999
    Bank Bali meneken perjanjian pengalihan tagihan (cessie) dengan PT Era Giat Prima.

    14 Mei 1999
    Badan Penyehatan dan Bank Indonesia sepakat mengubah Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pelaksanaan Jaminan Pemerintah.

    1 Juni 1999
    Badan Penyehatan menginstruksikan Bank Indonesia membayar tagihan Bank Bali Rp 904 miliar. Surat instruksi diteken Wakil Ketua Badan Penyehatan, Farid Harianto, dan diantar Pande Lubis ke Bank Indonesia. Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin menyetujui pembayaran klaim.

    12 Agustus 1999
    Pemilik Bank Bali, Rudy Ramli, menyerahkan catatan hariannya kepada Kwik Kian Gie dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Kasus ini terungkap. Polisi menetapkan sepuluh tersangka kasus pidana korupsi Bank Bali, antara lain Rudy Ramli, Pande, dan Setya Novanto.

    29 September 1999
    Joko Tjandra ditahan kejaksaan hingga 8 November, dilanjutkan dengan tahanan kota.

    Februari 2000
    Joko, Tanri Abeng, dan Syahril menjadi tersangka.

    6 Maret 2000
    Putusan sela hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyatakan dakwaan jaksa tidak dapat diterima. Joko dilepaskan dari tahanan kota.

    31 Maret 2000
    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan permohonan perlawanan jaksa, memerintahkan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memeriksa dan mengadili Joko.

    28 Agustus 2000
    Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membebaskan Joko dari dakwaan.

    23 November 2000
    Pande Lubis dinyatakan bebas.

    28 Juni 2001
    Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi kejaksaan atas Joko.

    13 Maret 2002
    Syahril divonis tiga tahun.

    12 Agustus 2002
    Pengadilan Tinggi membebaskan Syahril.

    12 Juni 2003
    Kejaksaan Negeri meminta direksi Bank Permata menyerahkan barang bukti uang yang ada di escrow account senilai Rp 546 miliar setelah Joko dinyatakan bebas dari tuduhan korupsi.

    2004
    Pande Lubis dinyatakan bersalah oleh Mahkamah, dihukum empat tahun penjara

    2 Maret 2008
    Artalyta Suryani, tersangka suap jaksa Urip Tri Gunawan, menyatakan diminta bantuan oleh Joko Tjandra untuk membereskan kasusnya.

    3 September 2008
    Kejaksaan Agung mengajukan permohonan peninjauan kembali kasus Joko Tjandra dan Syahril Sabirin.

    8 Juni 2009

    Mahkamah menerima permohonan peninjauan kembali Kejaksaan Agung. Syahril dihukum 2 tahun penjara dan denda Rp 15 juta.

    11 Juni 2009
    Mahkamah menerima permohonan peninjauan kembali Kejaksaan Agung. Mahkamah menghukum Joko 2 tahun penjara dan denda Rp 15 juta. Uang Joko di Bank Bali sejumlah Rp 546.166.116.369 dirampas untuk negara.

    16 Juni 2009
    Joko mangkir dari panggilan kejaksaan.

    MASUK PENJARA

    1. Joko Tjandra, Direktur PT Era Giat Prima. Dihukum 2 tahun penjara, kini buron
    2. Syahril Sabirin, mantan Gubernur BI. Dihukum 2 tahun dan langsung ditahan
    3. Pande N. Lubis, mantan Wakil Kepala BPPN. Dalam tingkat kasasi dihukum 4 tahun

    LUPUT DARI JERAT HUKUM
    Sempat ditetapkan sebagai tersangka:

    1. Setya Novanto,Direktur PT Era Giat Prima
    2. Tanri Abeng, mantan Menteri Pendayagunaan BUMN
    3. Erman Munzir, pejabat Bank Indonesia

    DIBEBASKAN LEWAT PUTUSAN SELA PENGADILAN NEGERI JAKARTA SELATAN:

    1. Rudy Ramli, mantan Direktur Utama Bank Bali
    2. Firman Soetjahja, mantan Wakil Direktur Utama Bank Bali
    3. Hendri Kurniawan, mantan anggota direksi Bank Bali
    4. Rusli Suryadi, mantan anggota direksi Bank Bali

    YANG SEMPAT MASUK PUSARAN KASUS BANK BALI:

    1. Marimutu Manimaren (saat itu Bendahara Golkar)
    2. Glenn Yusuf (saat itu Ketua BPPN)
    3. Farid Harianto (saat itu Wakil Ketua BPPN)
    4. Bambang Subianto (saat itu Menteri Keuangan)
    5. J.B. Sumarlin (mantan Menteri Keuangan)
    6. A.A. Baramuli (saat itu tokoh Golkar)

    Sumber : Majalah Tempo, Selasa, 23 Juni 2009

    http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/06/22/LU/mbm.20090622.LU130663.id.html


    http://hukum.tvone.co.id/berita/view/16988/2009/06/29/barang_bukti_kasus_bank_bali_rp546_miliar_disita_kejaksaan

    Barang Bukti Kasus Bank Bali Rp546 Miliar Disita Kejaksaan
    tvOne, Jakarta, Senin, 29 Juni 2009 19:52 WIB

    Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan, berhasil mengeksekusi barang bukti perkara Bank Bali yang tersimpan di rekening penampung Bank Permata sebesar Rp546,468 miliar.

    “Sudah berhasil, sekarang uangnya disimpan dahulu di rekening kejaksaan besok (Selasa, 30/6) dikirimkan ke kas negara,” kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus), Marwan Effendy, di Jakarta, Senin (29/6).

    Penyitaan itu terkait putusan Mahkamah Agung (MA) yang mengabulkan permohonan peninjauan kembali (PK) yang diajukan Kejagung terkait perkara cessie (hak tagih) Bank Bali sebesar Rp546,468 miliar yakni Djoko Tjandra, pemilik PT Era Giat Prima (EGP), dan Syahril Sabirin, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI).

    Seperti dilansir Antara, keduanya divonis masing-masing dengan hukuman dua tahun penjara dan denda sebesar Rp15 juta serta barang bukti berupa uang yang dititipkan di rekening penampung Bank Permata sejumlah Rp546,468 miliar dirampas untuk dikembalikan ke negara.

    Dikatakan, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Bank Permata yang sudah bersikap kooperatif. “Kita mengucapkan terima kasih kepada Bank Permata yang sudah bersikap kooperatif,” katanya.

    Seperti diketahui, kasus ini berawal pada kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali kepada PT Era Giat Prima (EGP) pada Januari 1999. Perjanjian itu ditujukan untuk mencairkan piutang Bank Bali di tiga bank (BDNI, BUN dan Bank Bira) senilai Rp3 triliun. Namun yang bisa dicairkan oleh EGP (setelah diverifikasi BPPN-red) hanya sebesar Rp904 miliar dari nilai transaksi Rp1,27 triliun (di BDNI).

    Pencairan piutang sebesar Rp904 miliar itu melibatkan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang meminta BI melakukan pembayaran dana itu. Kasus ini mencuat setelah muncul dugaan adanya penyimpangan dalam proses pencairan piutang tersebut. Pada saat itu, Pande Lubis adalah Wakil Ketua BPPN, Syahril Sabirin menjabat Gubernur Bank Indonesia, dan Djoko Tjandra adalah pemilik EGP.

    Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan membebaskan Djoko Tjandra pada 28 Agustus 2000. Majelis juga menyatakan uang sebesar Rp546,46 miliar dikembalikan kepada perusahaan milik Djoko Tjandra, PT EGP sedangkan uang sebesar Rp28,75 juta dikembalikan kepada Djoko sebagai pribadi.

    Atas putusan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan kasasi yang akhirnya ditolak oleh MA. Tersangka kedua, Pande Lubis juga dibebaskan majelis hakim PN Jakarta Selatan pada 23 November 2000. Meski begitu, pada tingkat kasasi, MA menganggap putusan itu salah dan mengganjar Pande empat tahun penjara. Putusan MA tersebut tidak membahas soal uang senilai Rp546,46 miliar yang dijadikan barang bukti.


    http://antikorupsi.org/indo/content/view/14840/2/

    Kasus Bank Bali; Dana Rp 546 Miliar Masuk ke Kas Negara
    Kompas, Selasa, 30 Juni 2009

    Barang bukti perkara korupsi pengalihan hak tagih piutang atau cessie Bank Bali, dana Rp 546 miliar yang disimpan di rekening penampungan Bank Permata, masuk ke kas negara. Sejak Senin (29/6) siang hingga malam hari proses eksekusi atas putusan Mahkamah Agung atas peninjauan kembali yang dimohonkan jaksa berkaitan dengan uang itu dilakukan tim jaksa.
    Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung M Jasman Panjaitan, Senin petang, mengatakan, “Sampai saat ini tim masih di Bank Permata untuk menyelesaikan administrasi eksekusi. Tak ada kendala, mudah-mudahan malam ini tuntas.”

    Diperoleh keterangan, Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan Untung Setia Arimuladi dan Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Jaksel Sila Pulungan datang di Bank Permata Sudirman sejak Senin siang. Senin malam uang itu, yang sejak perkara disidik tahun 2001 disimpan di rekening penampungan Bank Bali, sudah dipindahkan ke kas negara.

    Putusan MA, selain menghukum mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Syahril Sabirin dan mantan Direktur Utama PT Era Giat Prima Joko Soegiarto Tjandra, masing-masing selama dua tahun penjara, juga menyatakan barang bukti uang Rp 546 miliar dirampas untuk negara. Bank Bali terkena likuidasi, lalu bergabung dengan beberapa bank lain menjadi Bank Permata.

    Pada Senin siang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menggelar sidang permohonan PK yang dimohonkan kuasa hukum Joko S Tjandra. Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Hari Sasangka, OC Kaligis yang menjadi kuasa hukum Joko membacakan permohonan PK.

    Dalam permohonan itu disebutkan, putusan MA yang mengabulkan PK dari jaksa dalam perkara pengalihan hak tagih piutang Bank Bali adalah kesalahan fatal dalam sejarah tindak pidana di Indonesia. “Putusan itu memperlihatkan kekhilafan hakim dan kekeliruan yang nyata karena melampaui kewenangan MA,” kata Kaligis.

    “Dalam KUHAP, tidak ada satu ketentuan pun yang memberikan hak bagi jaksa mengajukan PK,” lanjut Kaligis.

    Jaksa Rudy Pailang menuturkan, pengajuan PK oleh Joko tak dibenarkan. “Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung, hanya satu kali pengajuan PK untuk perkara yang sama,” kata dia.

    Jangan ganggu bank

    Secara terpisah di Jakarta, Senin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengharapkan eksekusi dana pengalihan hak tagih atas piutang Bank Permata, dulu Bank Bali, senilai Rp 546 miliar tidak menimbulkan masalah. Eksekusi sebaiknya tidak menyebabkan dampak buruk terhadap Bank Permata.

    “Kami tak ingin (eksekusi itu) menimbulkan persoalan perbankan yang tidak perlu, yang menimbulkan dampak buruk terhadap bank tersebut. Sebab, jumlahnya besar. Pergerakan uang itu bisa menimbulkan hal-hal yang tidak perlu,” ujar Sri Mulyani, seusai rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta. (idr/oin/faj)


    KASUS BANK BALI
    PDIP: Jaksa Main Politik
    M Hendry Ginting, Jumat, 21 Agustus 2009, 21:42:53 WIB

    Jakarta, RMOL. Politisi PDI Perjuangan menilai keputusan Mahkamah Agung (MA)yang menerima usulan Peninjauan Kembali (PK) dari Jaksa dalam kasus cessie Bank Bali sarat dengan muatan politis.

    “Sarat muatan politis. Saya menduga motif dibalik pengajuan PK oleh Jaksa ke MA didasari adanya kepentingan pihak tertentu. Jaksa sudah berpolitik dan ada pihak-pihak yang bermain dalam isu ini,” kata anggota Komisi III DPR Eva Sundari kepada wartawan di Jakarta, (Jumat, 21/8).

    Dia tidak kaget dengan keputusan MA tersebut. Sebab sebelumnya juga telah terjadi kasus yang berbeda tetapi dalam konteks yang sama, yakni ketika majelis hakim agung yang diketuai Iskandar Kamil dan diantaranya beranggotakan Djoko Sarwoko, ketika itu menolak permohonan PK yang diajukan oleh Jaksa terkait perkara Mulyar bin Syamsi.

    Ketika itu alasan penolakan itu karena bertentangan dengan KUHAP. Sebab yang berhak mengajukan PK adalah terpidana atau ahli waris terpidana. Tetapi yang terjadi sekarang ini kata dia malah sebaliknya. Majelis hakim agung tersebut yang juga diketuai oleh Djoko Sarwoko malah menerima PK yang diajukan oleh Jaksa dalam kasus cessie Bank Bali yang melibatkan Djoko Candra dan mantan gubernur Bank Indonesia. (BI) Syahril Sabirin. Menurut dia, tindakan MA tersebut mencerminkan hakim tak konsisten terhadap penegakan hukum dan juga berdampak semakin menurunnya kepercayaan masyarakat kepada MA. [dry]


    http://business.fortunecity.com/millionaire/97/indocap_art_pembuktian070999.htm

    Pembuktian Insider Trading di Skandal Bank Bali
    By Indra Safitri

    Ketika Rudy Ramli memberikan keterangan di depan DPR pada tanggal 9 September 1999 yang lalu, maka masyarakat secara transparan mulai dapat membaca dan mengerti atas versi terakhir yang terjadi atas skandal tersebut. Runtutan peristiwa skandal Bank Bali terus menjadi berita yang tak kunjung selesai sejak Pradjoto membongkar kasus tersebut.

    Dalam melacak runtutan peristiwa dan adanya bukti-bukti formal yang secara administratif menentukan langkah-langkah hukum Bank Bali dalam program rekapitalisasi memang terdapat indikator bahwa skandal tersebut mengandung begitu banyak pelanggaran, baik secara pidana, perdata maupun secara politis. Didalam kesempatan ini kami tidak akan membahas persoalan pidana muapun perdata yang sedang ditangani oleh kepolisian maupun kejaksaan namun yang jelas, sebagai entitas yang tunduk didalam rejim hukum pasar modal maka skandal tersebut berpotensi mengandung pelanggaran hukum pasar modal Indonesia.

    Hal yang sudah dapat dibuktikan adanya pelanggaran adalah soal pelanggaran kewajiban adanya laporan terhadap informasi material yang tidak dilakukan oleh Bank Bali. Oleh sebab itu Bapepam telah menjatukan sanksi secara administratif berupa denda akibat keterlambatan dalam penyampaian informasi tersebut.Indikasi awal ini, telah ditindak lanjuti dengan membentuk gugus tim pemeriksa karena diduga dalam kurun waktu tertentu terdapat dugaan telah terjadi perdagangan orang dalam (insider trading).

    Pernyataan yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Jakarta bahwa mereka mencurigai telah terjadinya praktek curang dari pihak-pihak yang mempunyai informasi orang dalam dan kemudian menjual saham Bank Bali sebelum kasus tersebut terbongkar. Memang diakui untuk membuktikan apakah pelanggaran tersebut memang benar terjadi memang bukan pekerjaan yang ringan.

    Dari kronologis perkara maka terdapat tahapan-tahapan waktu yang kemungkinan dapat dijadikan landasan bila penelusuran untuk membuktikan kemungkinan terjadinya insider trading, yaitu ; pertama , terdapatnya indikasi bahwa indikator finansial dan rekapitalisasi Bank Bali mengalami perubahan ; kedua, disaat proses audit atas Bank Bali sedang berlangsung dan ketiga, waktu dimana Bank Bali akan diambil alih. Sumber-sumber kebocoran tentunya dapat difokuskan kepada pihak-pihak yang tergolong kepada orang dalam seperti yang tercantum didalam UU No.8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal.

    Informasi yang diterima oleh Pradjoto, konon khabarnya telah beredar juga dikalangan-kalangan tertentu dan ini berarti bahwa informasi material atas apa yang terjadi dengan transaksi Bank Bali bukanlah merupakan sebuah informasi ekslusif yang dimiliki sepihak oleh kalangan dari Bank Bali. Sehingga terjadinya praktek insider trading dapat saja dilakukan oleh pihak-pihak yang secara langsung dituduh terlibat. Sehingga penyidik Bapepam dalam kasus ini dapat melakukan pemeriksaan kepada pihak-pihak lainnya yang diduga terlibat didalam perdagangan saham Bank Bali dalam jumlah dan kontinuitas yang signifikan.

    Apakah selanjutnya dalam mengumpulkan bukti awal dari pelanggaran pidana di pasar modal ini, Bapepam hanya bekerja sendiri?.Dalam hal ini Bapepam dapat bekerja sama dengan aparat Kepolisian dan Kejaksaan yang saat telah melakukan pemeriksaan-pemeriksaan terhadap sejumlah tesangka. Bila memang kerjasama tersebut dapat diwujudkan, maka Bapepam sesuai dengan kewenangannya dapat meminta informasi yang dapat mendukung pemenuhan atas unsur-unsur pelanggaran insider trading. Terutama dengan hal-hal yang berkaitan dengan unsur-unsur yang berkaitan dengan :
    a. Adanya informasi yang tergolong sebagai informasi orang dalam (inside information);
    b. Adanya orang dalam (insider) yang melakukan transaksi sebelum informasi tersebut dikatagorikan sebagai informasi yang bersifat publik;
    c.Adanya perdagangan yang dilakukan oleh orang dalam dengan mempergunakan informasi orang dalam dalam jangka waktu ketika informasi tersebut belum menjadi informasi publik.


     
  • Virtual Chitchatting 5:53 PM on 2014/04/25 Permalink  

    Jutaan alasan kenapa Sri Mulyani Indrawati harus digorok hidup-hidup


    http://hminews.com/news/1618/

    https://ahmadsamantho.wordpress.com/2010/06/08/sri-mulyani-indrawati-smi-berkeley-mafia-organisasi-tanpa-bentuk-otb-imf-dan-world-bank-wb/

    Sri Mulyani Indrawati (SMI), Berkeley Mafia, Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), IMF dan World Bank (WB)
    Oleh :Kwik Kian Gie, 30 Mei 2010
    Kwik Kian Gie, Menko Ekonomi Kabinet Persatuan Nasional 1999-2000 dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua Bappenas Kabinet Gotong-Royong 2001-2004



    posted by Ahmad Yanuana Samantho on Juni 8, 2010
    Note Admin: Untuk dapat melihat film dokumenter yang memaparkan tentang Perampokan Indonseia oleh para Kapitalis Global, silahkan lihat di link You Tube berikut. Ada beberapa seri film dokumenter tsb yang bisa ditelusuri via youtube. Pikirkan dan renungkanlah, mau jadi apa anak cucu kita bangsa Indonesia ke depannya?


    Mundurnya Sri Mulyani Indrawati (SMI) sebagai Menteri Keuangan RI menimbulkan kehebohan dan banyak pertanyaan tentang penyebab yang sebenarnya. Ada yang mengatakan bahwa perpindahannya pada pekerjaan yang baru di World Bank (WB) adalah hal yang membanggakan. Tetapi ada yang berpendapat, bahkan berkeyakinan tidak wajar, terutama kalau dikaitkan dengan skandal Bank Century (Century).

    Saya termasuk yang berpendapat, bahkan yakin sangat tidak wajar. Alasan-alasan saya sebegai berikut.

    Beberapa ungkapan dan pernyataan dalam berbagai pidato perpisahannya mengandung teka-teki dan mengundang banyak pertanyaan, yaitu : “Jangan ada pemimpin yang mengorbankan anak buahnya.” “Saya tidak bisa didikte. Saya menang. Saya tidak minggat, saya akan kembali. Dalam pidato serah terimanya kepada Menkeu yang baru menangisnya tidak wajar, berkali-kali dan sangat-sangat sedih. Lucu, menyatakan menang kok menangis sampai seperti itu. Juga sangat tidak wajar adanya sikap yang demikian fanatiknya dari staf Departemen Keuangan dengan ungkapan belasungkawa, seolah-olah SMI sudah meninggal.

    SMI sedang diperiksa oleh KPK sebagai tindak lanjut dari penyelidikan tentang skandal Century. Dalam proses yang sedang berjalan, Bank Dunia menawarkan jabatan dengan dimulainya efektif pada tanggal 1 Juni 2010. Bank Dunia yang selalu mengajarkan good governance dan supremasi hukum ternyata sama sekali tidak mempedulikan adanya proses hukum yang sedang berlangsung terhadap diri SMI.

    Menurut Jakarta Post, yang memberitakan melalui siaran pers tentang pengangkatan SMI sebagai managing director di WB adalah WB sendiri. Setelah itu, melalui wawancara barulah SMI mengakui bahwa berita itu benar. Itu terjadi pada tanggal 4 Mei 2010.

    Juru bicara Presiden memberi pernyataan bahwa Presiden SBY akan memberi konperensi pers setelah memperoleh ketegasan dari Presiden WB Robert Zoelick. Namun sehari kemudian diberitakan bahwa SBY telah menerima surat dari Presiden WB pada tanggal 25 April 2010. Mengapa SBY merasa perlu berpura-pura seperti ini ?

    Dalam konperensi persnya, SBY memuji SMI sebagai salah seorang menteri terbaiknya yang disertai dengan rincian prestasi dan capaian-capaiannya. Tetapi justru dengan bangga melepaskan SMI supaya tidak melanjutkan baktinya kepada bangsa Indonesia.

    SMI diberi waktu 72 jam untuk memberikan jawabannya menerima atau menolak tawaran WB. Tetapi SMI tidak membutuhkan waktu itu, karena dalam 24 jam langsung saja memberikan jawaban bahwa dirinya menerima tawaran itu.

    Dan antara penerimaan tawaran dan efektifnya dia berfungsi di WB hanya 25 hari. Seorang sopir saja membutuhkan waktu transisi yang lebih lama untuk majikannya perorangan. Tetapi SMI dan SBY merasa tidak apa-apa kalau jangka waktu tersebut hanyalah 25 hari.

    Mustahil bahwa WB yang mempunyai kantor perwakilan di Indonesia tidak mengetahui dan tidak mengikuti bekerjanya Pansus Century di DPR. Mustahil juga bahwa kantor perwakilan WB di Jakarta dan kantor pusatnya tidak mengetahui isi dari Laporan BPK. Dengan sendirinya juga mustahil bahwa WB tidak mengetahui bahwa sampai dibuktikan sebaliknya, SMI memang belum bersalah, tetapi jelas bermasalah yang masih dalam proses penyelesaian dan kejelasan oleh KPK.

    Tetapi WB yang di seluruh dunia mengumandangkan dan mengajarkan Good Governance dan jagoan dalam menegakkan supremasi hukum melakukan penginjak-injakan proses hukum yang sedang berjalan di KPK.

    Ketika itu, tindakan WB jelas melecehkan dan bahkan menganggap keseluruhan proses yang telah berjalan di Pansus Century DPR RI sebagai tidak ada atau hanya dagelan saja. Maka sangatlah menyedihkan bahwa sikap yang demikian oleh WB didukung oleh Presiden RI, sedangkan SMI bersikap tidak akan ada siapapun di Indonesia yang bisa menyentuhnya selama WB ada di belakangnya.

    Ketika berita itu meledak, banyak orang termasuk saya sendiri yang bertanya-tanya, apakah pengangkatannya ini tidak akan menimbulkan gejolak. Ternyata sama sekali tidak. Dalam waktu 10 hari sudah tidak ada lagi yang berbicara dengan nada kritis. Sebaliknya, banyak sekali yang berbicara dengan nada memuji.

    Yang lebih mengejutkan lagi ialah praktis tidak ada elit politik Indonesia yang marah kepada WB. Sebaliknya, dalam konperensi persnya Presiden RI SBY merasa berterima kasih kepada WB yang telah memberikan penghargaan kepada Indonesia, karena telah sudi memungut SMI menduduki jabatan yang terhormat di WB sebagai Managing Director.

    Ada suara dari DPR, terutama dari Faisal Akbar (Hanura) yang menyerukan agar SMI dicekal sebelum pemeriksaannya oleh KPK tuntas dengan kesimpulan bahwa SMI memang bersih dalam kebijakannya bailout Century. Namun pernyataan yang sangat logis ini tidak bergaung. Respons dari KPK justru mengatakan bahwa pemeriksaan dapat dilanjutkan di Washington, DC.

    Langsung saja muncul reaksi yang mengatakan bahwa pemeriksaan semacam ini akan sangat mahal, karena jaraknya yang jauh, dan juga akan terkendala oleh tersedianya dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Saya sendiri tidak dapat membayangkan bahwa WB akan mengizinkan adanya seorang managing director-nya diperiksa oleh KPK di markas WB di Washington, DC.

    Tadinya saya berpikir bahwa kalau dilakukan, pemeriksaan seorang managing director oleh KPK di Washington, DC pasti akan menarik perhatian pers internasional. Ternyata salah. Kenyataan adanya pengangkatan seorang MD WB yang bermasalah sama sekali tidak menarik perhatian pers internasional, terutama pers AS. Masih segar dalam ingatan kita betapa hebohnya reaksi pers internasional ketika Paul Wolfowitz terlibat skandal, sehingga memaksanya mengundurkan diri. Apa artinya Begitu hebatkah SMI, atau begitu remehnya bangsa Indonesia di mata pers internasional, sehingga peristiwa Century yang sedang berlangsung dianggap tidak ada ?

    Episode paling akhir dari hijrahnya SMI ke WB adalah penampilan SMI dalam pertemuan-pertemuan perpisahan. Pidatonya yang mendapat tepuk tangan sambil berdiri (standing ovation) dari orang-orang seperti Gunawan Mohammad, Marsilam Simanjuntak, Wimar Witoelar mengundang renungan apa gerangan yang ada di belakang ucapannya yang hanya sepotong tanpa penjelasan lanjutannya itu ? Yaitu : “Saya menang..” “Jangan lagi ada pemimpin yang tidak melindungi atau mengorbankan anak buahnya.” I will come back”, yang sangat mirip dengan ucapan Mac Arthur: “I shall return.” Akankah SMI membentuk semacam pemerintahan in exile yang akan kembali menjadi Presiden RI ? Sudah ada yang menyuarakan bahwa SMI-lah yang paling cocok untuk menjadi Presiden RI di tahun 2014.

    Di satu pihak demikian gagah beraninya sikap yang ditunjukkan oleh SMI dalam beberapa pidatonya, tetapi beliau menangis berkali-kali dengan wajah yang sangat-sangat sedih ketika berpidato dalam acara serah terima jabatan kepada Menteri Keuangan yang baru. Ada apa ? Sedihkah ? Menurut SMI sendiri tidak, dia menangis karena merasa “plong,” merasa lega. Bukankah orang menangis karena sedih atau karena terharu? Kalau lega, apalagi “plong” biasanya bersorak sorai.

    Apa pula yang menyebabkan Presiden SBY menghapus pengangkatan Anggito Abimanyu sebagai Wakil Menteri Keuangan tanpa yang bersangkutan diberitahu sebelumnya. Anggito mengetahuinya dari media massa seperti kita semua. Maka demi harga diri profesional, dia mengundurkan diri, membuang semua karir cemerlang yang dijalaninya. Demikian kejam, manipulatif, raja tega, main diktator, ataukah ada kekuatan besar, ada big stream that Presdient SBY can not resist ?

    Metaforsa Berkeley Mafia Menjadi Organisasi Tanpa Bentuk (OTB)

    Fenomena adanya sekelompok ekonom yang dikenal dengan sebutan Berkeley Mafia sudah kita ketahui. Aliran pikiran yang dihayati oleh kelompok ini juga sudah kita kenali. Komitmennya membela rakyat Indonesia ataukah membela kepentingan-kepentingan yang diwakili oleh 3 lembaga keuangan internasional (Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF) juga sudah diketahui oleh masyarakat luas.

    Pembentukan kelompok yang terkenal dengan nama Berkeley Mafia sudah dimulai sejak lama. Namanya menjadi terkenal dalam Konperensi Jenewa di bulan November 1967 yang akan diuraikan lebih lanjut pada bagian akhir tulisan ini. Awalnya kelompok ini adalah para ekonom dari FE UI yang disekolahkan di Universitas Berkeley untuk meraih gelar Ph.D. Tetapi lambat laun menjadi sebuah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) yang sangat kompak dan kokoh ideologinya. Ideologinya mentabukan campur tangan pemerintah dalam kehidupan ekonomi. Afiliasinya dengan kekuatan asing yang diwakili oleh Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF, sehingga sangat sering memenangkan kehendak mereka yang merugikan bangsanya sendiri. Lambat laun para anggotanya meluas dari siapa saja yang sepaham. Banyak ekonom yang tidak pernah belajar di Universitas Berkeley, bahkan tidak pernah belajar di UI menjadi anggota. Mereka membentuk keturunan-keturunannya.

    Anggotanya ditambah dengan para sarjana ilmu politik dari Ohio State University dengan Prof. Bill Liddle sebagai tokohnya, karena dia merasa dirinya “Indonesianist” dan diterima oleh murid-muridnya sebagai akhli tentang Indonesia. Paham dan ideologi yang dihayatinya sama.

    Kemudian diperkuat dengan orang-orang yang merasa dirinya paling pandai di Indonesia, sedangkan rakyatnya masih bodoh. Sikapnya seperti para pemimpin dan kader Partai Sosialis Indonesia (PSI) dahulu, yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir. Kecenderungannya memandang rendah dan sinis terhadap bangsanya sendiri, dengan sikap yang selalu tidak mau menjawab kritikan terhadap dirinya, melainkan disikapi dengan senyum yang khas, bagaikan dewa yang sedang tersenyum sinis. Sikap ini terkenal dengan sikap “senyum dewata.” Dengan senyum dewata banyak masalah sulit yang sedang menggantung memang menjadi lenyap.

    Dengan demikian sebutan Berkeley Mafia sebaiknya diganti dengan Organisasi Tanpa Bentuk (OTB).

    Ilustratif tentang adanya OTB ini adalah pidato Dorodjatun Kuntjorojakti yang pertama kali dalam forum CGI sebagai Menko Perekonomian dalam kabinet Megawati. Kepada sidang CGI diberikan gambaran tentang perekonomian Indonesia. Setelah itu dikatakan olehnya bahwa dia mengetahui kondisi perekonomian Indonesia dengan cepat karena dia selalu asistennya Prof. Ali Wardhana dan dekat dengan Prof. Widjojo Nitisastro. Selanjutnya dikatakan bahwa “dirinya bukan anggota partai politik. Tetapi kalau toh harus menyebut organisasinya, sebut saja Partai UI Depok”. Setengah bercanda, setengah bangga, secara tersirat Dorodjatun mengakui bahwa OTB memang ada, pandai, profesional dan berkuasa.

    Kaitan Sri Mulyani Indrawati (SMI), Peran Kelompok “Berkeley Mafia” dan Pengangkatannya sebagai Managing Director di Bank Dunia

    Jauh sebelum SMI menjadi “orang”, Berkeley Mafia sudah lahir dan sangat instrumental buat kekuatan asing. SMI adalah salah satu kader yang berkembang menjadi “Don”.

    Marilah kita telusuri sejarahnya. Pencuatan Berkeley Mafia yang pertama kali dan fenomenal terjadi di Jenewa di bulan November 1967, ketika mereka mendukung atau lebih tepat “mengendalikan” pimpinan delegasi RI, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam Malik. Tentang hal ini akan saya kemukakan pada bagian akhir tulisan ini dengan mengutip John Pilger, Jeffrey Winters dan Bradley Simpson yang akan diuraikan pada bagian akhir tulisan ini. Kita fokus terlebih dahulu pada jejak dan track record SMI.

    Jejak SMI dan Track Recordnya sebagai Kader OTB yang sangat Gigih dan Militan

    SMI adalah orang yang sejak awal sudah disiapkan sebagai kader yang militan dari OTB. Seperti yang lain-lainnya, karir dimulai dari FE-UI. Karirnya yang menonjol tidak sebagai dosen, tetapi sebagai Direktur Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat UI (LPEM UI). Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa FE UI dan Departemen Keuangan adalah pusat pengkaderan OTB.

    Ketika sudah terlihat jelas bahwa PDI-P akan menang dalam pemilu tahun 1999, dan Ketua Umumnya Megawati diperkirakan pasti akan menjadi Presiden, Kongres-nya di Bali menarik perhatian dari seluruh dunia. Saya terkejut melihat SMI, Dr. Sjahrir almarhum dan teknokrat Berkeley Mafia lainnya hadir dalam Kongres tersebut yang mendapat tempat khusus di stadion berlangsungnya pidato pembukaan oleh Megawati, yaitu duduk di kursi di bawah panggung. Tidak berdiri di depan panggung bersama-sama dengan massa yang mendengarkan pidato Ketua Umum PDI-P.

    Buat saya sangat mengherankan karena Berkeley Mafia adalah arsitek pembangunan ekonomi di era Soeharto yang dengan sendirinya bersikap berseberangan dan sangat melecehkan serta memandang rendah PDI-P. Mengapa mereka sekarang hadir dalam Kongres PDI-P ? Ternyata mereka dibawa oleh orang yang ketika itu sangat dekat dengan Megawati. Mereka diperkenalkan kepada Megawati sebagai calon-calon menteri dalam Kabinet Mega nantinya.

    Dari sini sangatlah jelas bahwa buat OTB, yang penting memegang kekuasaan ekonomi tanpa peduli siapa Presidennya dan tanpa peduli apa ideologi Presidennya. Mereka mempunyai organisasi sendiri yang saya sebut OTB tadi dengan kekuatan dan pengaruh yang sangat besar. Sepanjang 32 tahun rezim Soeharto, mereka selalu memegang tampuk kekuasaan ekonomi.

    Ketika pak Harto mengundurkan diri dan digantikan oleh Habibie, walaupun sudah tidak 100% lagi, kekuasaan ekonomi ada di tangan para menteri OTB.

    Sejak pak Harto berkuasa sampai dengan Megawati, dua Don dari OTB, Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana selalu secara resmi penasihat Presiden atas dasar Keputusan Presiden.

    Habibie digantikan oleh Gus Dur sebagai Presiden. Dalam kabinet Gus Dur tidak ada satupun menteri dari OTB. Menko EKUIN dipegang oleh Kwik Kian Gie (KKG), Menteri Keuangannya Bambang Sudibyo, Menteri Perdagangan dan Industri Jusuf Kalla. Tiga orang ini jelas tidak ada sangkut pautnya dengan OTB dan sama sekali tidak dapat dipengaruhi oleh OTB.

    Dalam waktu singkat Gus Dur ditekan oleh kekuatan internasional dan kekuatan para pengusaha besar di dalam negeri untuk memecat KKG. Karena sudah lama bersahabat, Gus Dur menceriterakannya terus terang kepada KKG, sambil mengatakan bahwa beliau telah mencapai kompromi dibentuk Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dengan Emil Salim sebagai Ketua dan SMI sebagai sekretarisnya. Di dalamnya ada beberapa anggota yang hanya berfungsi sebagai embel-embel. Mereka tidak pernah aktif kecuali SMI dan Emil Salim.

    DEN berhak menghadiri setiap rapat koordinasi oleh Menko EKUIN. Sebelum dan setelah KKG menjabat Menko EKUIN DEN tidak pernah ada. Jadi DEN memang khusus diciptakan untuk menjaga, mengawasi dan memata-matai KKG supaya jangan neko-neko terhadap OTB dan kepentingan World Bank, Bank Pembangunan Asia dan IMF.

    Dalam rapat koordinasi yang pertama KKG mengatakan kepada para menteri yang ada dalam koordinasinya bahwa kita sedang berhadapan dengan IMF yang mengawasi dengan ketat pelaksanaan Letter of Intent (LoI). Banyak dari butir-butir dalam LoI yang merugikan bangsa Indonesia, antara lain, bea masuk untuk impor beras dan gula harus nol persen, sedangkan ketika itu produksi dalam negeri melimpah. Maka KKG mengatakan supaya para menteri bersikap membela kepentingan bangsa Indonesia, kalau perlu menelikung, menghambat atau menyiasati LoI yang merugikan bangsa kita. Kalau mereka menghadapi persoalan KKG sebagai Menko EKUIN akan bertanggung jawab.

    Beberapa hari kemudian Emil Salim mendatangi KKG menegur dengan keras bahwa KKG tidak boleh bersikap seperti itu. KKG harus taat melaksanakan semua butir yang ada di dalam LoI, karena KKG sendirilah sebagai Menko EKUIN yang menandatangani LoI.

    Beberapa hari lagi setelah itu, Bambang Sudibyo (Menkeu), KKG dan Emil Salim dipanggil oleh Gus Dur. Gus Dur mempersilakan Emil Salim mengkuliahi KKG dan Bambang Sudibyo yang isinya tiada lain adalah butir-butir dari LoI.

    Mungkin dirasakan tidak mempan, sidang kabinet diselenggarakan secara khusus yang agendanya tunggal, yaitu membahas LoI. Kepada setiap menteri diberikan selembar formulir yang isinya butir-butir LoI yang harus dilaksanakan oleh masing-masing menteri yang bersangkutan, dan kemudian harus ditandatangani. Menteri-menteri menggerutu diperlakukan seperti anak SD.

    Dalam sidang kabinet itu, Mensesneg Bondan Gunawan membacakan uraiannya tentang butir-butir LoI yang mutlak harus dilaksanakan oleh setiap menteri, lengkap dengan slides. SMI hadir dalam sidang kabinet itu. Seusai membacakannya, Bondan sambil berkeringat menggerutu kepada KKG sambil mengatakan “diamput” bahwa dirinya tidak mengerti ekonomi kok disuruh memaparkan hal-hal seperti itu. Ketika KKG menanyakannya siapa yang membuatnya, dijawab singkat : SMI.

    Sebagai Menko EKUIN KKG ex officio menjabat Ketua KKSK yang memimpin dan memutuskan tentang rekapitalisasi bank-bank seperti yang tercantum dalam LoI. Dalam rapat tentang rekap BNI sebesar Rp. 60 trilyun, LoI mengatakan bahwa rekap dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar Rp. 30 trilyun, seluruh Direksi diganti dan dipantau apakah bekerja dengan baik menurut ukuran IMF. Kalau ya, maka Rekap. kedua sebesar Rp. 30 trilyun dilakukan.

    Darmin Nasution yang ketika itu Direktur di Kementerian Keuangan hadir mewakili Depkeu. Dia mengusulkan supaya Rekap. dilakukan sekaligus saja sebesar Rp. 60 trilyun, agar pemerintah tidak perlu dua kali minta izin/melaporkan kepada DPR. SMI yang hadir protes, mengatakan bahwa dalam LoI tercantum Rekap. dalam dua tahap. KKG merasa usulan Darmin Nasution masuk akal. Maka diputuskan olehnya bahwa Rekap. dilakukan sekaligus. Terlihat SMI sibuk dengan HP-nya.

    Seusai rapat, begitu KKG tiba di ruang kerjanya dari ruang rapat, telpon berdering dari John Dordsworth, Kepala Perwakilan IMF di Jakarta yang marah-marah karena KKG memutuskan tentang Rekap. BNI yang bertentangan dengan ketentuan LoI. Begitu telpon diletakkan telpon bordering lagi dari Bambang Sudibyo yang menceriterakan bahwa dirinya baru dimarah-marahi oleh Mark Baird, Kepala Perwakilan Bank Dunia di Jakarta tentang hal yang sama. Sangat jelas tugas SMI ternyata melaporkan segala sesuatu yang dilakukan oleh Pemerintah dan dianggap menyimpang dari yang dikehendaki oleh IMF, walaupun yang dikehendaki oleh IMF merugikan bangsa Indonesia.

    Peristwa selanjutnya adalah ketika KKSK harus merekap Bank Danamon. Bank Danamon diwakili oleh Dirutnya, seorang Amerika bernama Milan Schuster dan Direkturnya puteranya Ali Wardhana, Mahendra Wardhana. Mereka mengemukakan bahwa Bank Danamon menderita kerugian setiap bulannya dan CAR-nya juga di bawah 8%. KKG bertitik tolak dari jumlah kerugian setiap bulannya.

    Untuk menutup kerugian ini, surat utang pemerintah yang bernama Obligasi Rekapitalisasi Perbankan (OR) yang harus diinjeksikan haruslah Rp. X yang harus memberikan pendapatan bunga sebesar kerugian Bank Danamon. Maka keluarlah angka Rp. 18 trilyun. Dengan pendapatan bunga sebesar 1% sebulan dari OR yang Rp. 18 trilyun, kerugian Bank Danamon akan tertutup, atau Bank Danamon tidak akan bleeding lagi.

    SMI langsung protes mengatakan bahwa menginjeksi OR sebesar Rp. 18 trilyun berarti menjadikan CAR-nya sebesar 36%, sedangkan LoI memerintahkan merekap bank-bank sampai CAR-nya menjadi 8% saja. KKG tidak peduli, karena yang hendak dicapai adalah supaya Bank berhenti merugi. Kalau rekap dilakukan dengan jumlah yang hanya cukup untuk menjadikan CAR 8% saja, pendapatan bunganya akan jauh lebih kecil daripada kerugiannya, sehingga rekapitalisasi tidak akan menghentikan kerugian-nya (masih tetap bleeding).

    Kebijakan KKG yang menyimpang dari LoI, tetapi jelas-jelas lebih logis ini ternyata dilaporkan kepada IMF oleh SMI. Saya mengetahui tentang hal ini, karena ketika melakukan kunjungan kehormatan pada Menteri Keuangan Larry Summers di kantornya di Washington, DC, saya diterima oleh Larry Summers sendiri sebagai Menteri Keuangan, didampingi oleh Timothy Geithner selalu Deputy-nya plus beberapa pejabat tinggi lainnya yang memarahi KKG bahwa KKG selalu menelikung LoI-nya IMF. Ketika saya tanyakan tentang apa konkretnya sebagai contoh, dia menceriterakan persis seperti yang dikatakan oleh SMI dalam rapat KKSK.

    Selaku Menko EKUIN KKG harus memimpin delegasi RI ke Paris Club untuk berunding tentang penjadwalan kembali pembayaran hutang yang sudah jatuh tempo, karena Pemerintah tidak mampu membayarnya. KKG diundang ke Departemen Keuangan guna menerima penjelasan-penjelasan tentang jalannya perundingan, dan juga diberikan arahan-arahan oleh 3 perusahaan konsultan asing yang terkenal dengan nama “Troika”.

    Saya lupa nama dari masing-masing perusahaan konsultan tersebut. Dikatakan juga bahwa KKG beserta delegasinya (Dono Iskandar dari BI dan Jusuf Anwar dari Depkeu) harus siap bahwa lamanya perundingan 24 jam non stop tanpa dapat tidur, yaitu dari jam 10.00 pagi sampai jam 10.00 pagi keesokan harinya.

    KKG mengatakan bahwa dia tidak mau mengikuti skenario yang seperti itu. KKG minta kepada para petinggi Depkeu yang hadir agar mempersiapkan gambaran menyeluruh tentang posisi hutang luar negeri RI. KKG akan mengatakan bahwa jumlah hutang yang demikian besarnya adalah kesalahan negara-negara pemberi hutang juga, yang sejak tahun 1967 menggerojok hutang kepada Indonesia melalui IGGI/CGI.

    Setelah mengucapkan pidato singkat ini KKG akan tidur, dan mempersilakan mereka berunding sesukanya. Apa yang merekaputuskan akan dipenuhi oleh KKG kalau dianggap reasonable dan fair, tetapi kalau dianggap tidak fair akan ditolak dan KKG akan segera terbang kembali ke Indonesia sambil mengatakan akan berani menghadapi resiko apapun.

    Beberapa hari kemudian Marsilam Simanjuntak (Mensesneg) menelpon KKG memberitahukan bahwa Presiden Gus Dur telah menerbitkan Keputusan Presiden yang membentuk Tim Asistensi pada Menko EKUIN yang harus mengawal (baca mengawasi dan mengendalikan) Menko EKUIN selama perundingan Paris Club. Ketuanya Widjojo Nitisastro dan Sekretarisnya SMI. Memang selama perundingan Widjojo N. dan SMI mengapit KKG dan Bambang Sudibyo selama 24 jam, supaya mereka menjaga bahwa KKG benar-benar menanggapi pasal demi pasal dari para anggota Paris Club.

    Ketika Megawati menjabat Presiden, diberitakan di Kompas bahwa SMI akan menjabat sebagai anggota Board of Directors IMF di Washington mewakili Indonesia. KKG menanyakan hal itu kepada Mega. Beliau terkejut sambil mengatakan : “Kok enak saja, kan harus dengan persetujuan saya ?”, sambil mengatakan juga bahwa beliau tidak pernah mengetahuinya dan tidak pernah menandatangani Keppres untuk itu. Beberapa hari kemudian diberitakan lagi di Kompas bahwa SMI sudah akan efektif menjabat per tanggal tertentu. KKG menanyakan hal itu lagi kepada Megawati, dan dijawab bahwa Keppresnya memang sudah ditandatangani dengan alasan “daripada, daripada”.

    Konon kabarnya, sebelum susunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I terbentuk, SBY didatangi oleh Dubes AS Ralph Boyce dan Kepala Perwakilan Bank Dunia di Jakarta Andrew Steer. Mereka mengatakan bahwa kendali ekonomi hendaknya diberikan kepada SMI, Boediono dan Mari Pangestu. Boediono menolak yang bisa dipahami.

    Seusai sidang kabinet Megawati terakhir Boediono berpamitan dengan rekan-rekan menterinya. Dia mengatakan bahwa salah satu dari kita bisa saja diminta lagi oleh SBY untuk duduk dalam kabinetnya. Tetapi dia (Boediono) tidak akan mau duduk dalam pemerintahan. Dia sudah fed up dan akan kembali ke kampus saja. Saya termasuk yang diberitahu tentang hal ini.

    Maka saya tidak heran mendengar bahwa Boediono menolak tawaran SBY untuk duduk dalam KIB-nya. Namun ketika SBY tidak tahan tekanan publik, beliau mengumumkan akan melakukan reshuffle kabinet.

    Saya mendengar bahwa Boediono sedang “digarap” habis-habisan untuk mau menjadi Menko Perekonomian, dan terjadilah itu. Ini saya gambarkan betapa mutlak pengaruh kekuatan internasional dalam mengendalikan kebijakan ekonomi Indonesia. Lebih hebat lagi, Jakarta Post tanggal 25 Mei 2009 memberitakan bahwa ketika Boediono ditanya, faktor apa yang mendorongnya mau menerima pencalonan dirinya sebagai Wakil Presiden dijawab olehnya : “because of a big stream that I can not resist” yang berarti karena arus (kekuatan) besar yang tidak dapat ditahannya.

    Saya merasa perlu menceriterakan ini karena hubungannya antara SMI dan Boediono yang sama-sama anggota senior OTB dan sama-sama disodorkan kepada SBY agar mereka dan Mari Pangestu memegang kekuasaan ekonomi di Indonesia. Kenyataan-kenyataan ini jelas relevan dalam menjelaskan mengapa pengangkatan SMI sebagai managing director WB yang sangat tidak wajar dan menghina bangsa Indonesia itu berjalan demikian mulusnya.

    Di tengah-tengah menjalankan tugas sebagai Menkeu yang dalam proses pemeriksaan oleh KPK sebagai tindak lanjut dari hasil kerja Pansus DPR tentang Bank Century, SMI mengumumkan pengunduran dirinya untuk menjabat sebagai managing director di WB mulai tanggal 1 Juni 2010, seperti yang kita ketahui bersama.

    Saya mempunyai pengalaman yang menyangkut SMI dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Ceriteranya sebagai berikut : hibah dari Uni Eropa kepada Indonesia menurut investigasi WB dikorup. Karena pelaksananya Bappenas, maka saya “diperiksa” oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Yang dipermasalahkan bukan KKG mengkorup, tetapi mengapa KKG membayar kembali hibah yang dituntut oleh WB sebesar USD 500 juta sedangkan yang dikorup hanyalah sekitar USD 30.000.

    Mengembalikan hibah seluruhnya sebesar USD 500 juta dianggap merugikan keuangan negara. Tetapi ketika salah paham, bahwa justru KKG yang berkelahi tidak mau membayar dan SMI yang sebagai Menteri Keuangan yang membayarnya, SMI-nya tidak diapa-apakan. KKG juga tidak diapa-apakan, tetapi sempat diperiksa. Berkaitan dengan ini ada hal sejenis yang terpublikasikan secara luas. Indonesia menerima hutang dari WB sebesar USD 4,7 juta untuk membangun proyek infra struktur.

    Menurut WB lagi sebagian dikorup, dan karena itu minta supaya seluruh hutang yang USD 4,7 juta dikembalikan. Tidak jelas dikembalikan atau tidak. Rasanya dikembalikan dan tidak ada konsekwensinya, walaupun dianggap merugikan dan mengacaukan perencanaan keuangan negara. Saya kemukakan ini karena ada kecenderungan segala sesuatunya akan kebal hukum apabila WB ada di belakangnya. Jelas ini merupakan faktor yang bisa menjelaskan mengapa pengangkatan SMI oleh WB langsung saja mematikan urusannya dengan KPK tentang Century yang sebelumnya demikian gegap gempitanya.

    SMI, Berkeley Mafia, Kekuatan Asing dan Sejarah Pekembangannya

    Kekuatan asing yang boleh dikatakan menentukan semua kebijakan ekonomi dan keuangan Indonesia diwakili oleh tiga lembaga keuangan internasional, yaitu Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF.

    Ketika KKG sebagai Menko EKUIN pertama kali harus mengucapkan pidato di depan CGI dalam pembukaan rapat tahunannya, kepada KKG disodorkan naskah pidato oleh staf yang jelas anggota OTB. Isinya sama sekali tidak disetujui oleh KKG, dan dia minta kepada staf yang bersangkutan supaya diubah dengan arahan dari KKG. Dia menolak sambil mengatakan bahwa sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala bahwa pidato pembukaan IGGI/CGI oleh Ketua Delegasi RI haruslah dibuat oleh WB melalui staf Menko EKUIN. Akhirnya saya membuatnya sendiri yang isinya sesuai dengan hati nurani dan keyakinan saya, yang ternyata isinya mengejutkan pimpinan sidang, Wakil Presiden WB Dr. Kasum.

    Pidato yang saya ucapkan mengandung tiga inti. Yang pertama, kalau Indonesia tidak mampu membayar cicilan pokok utang beserta bunga yang jatuh tempo, negara-negara IGGI/CGI ikut bersalah, karena barang siapa memberi utang harus mengevaluasi apakah yang diberi utang akan mampu membayar cicilan utang pokoknya beserta bunganya tepat waktu. Kalau ternyata tidak bisa, negara-negara pemberi utang harus ikut bertanggung jawab dalam bentuk hair cut. Bukan hanya penundaan pembayaran cicilan utang pokoknya saja, yang sifatnya menggeser beban di kemudian hari, sedangkan bunganya pembengkak.

    Kedua, KKG protes penggunaan istilah “negara donor”, dan minta supaya istilah yang sudah dibakukan oleh WB bersama-sama dengan para ekonom OTB itu diganti dengan istilah “negara kreditur” atau “negara pemberi utang”. Ketiga, KKG juga protes digunakannya istilah “aid” atau bantuan, dan minta diganti dengan “loan” atau kredit. Kesemuanya tidak dihiraukan.

    Belakangan saya mendengar dari Dr. Satish Mishra yang khusus diperbantukan pada Indonesia oleh PBB selama krisis. Dia memberitahukan kepada saya bahwa walaupun segala sesuatu yang saya katakan masuk akal, para ekonom OTB sendiri bersama-sama dengan WB, Bank Pembangunan Asia dan IMF menyikapinya dengan “let him talk”. Biarlah dia bicara, tidak akan ada dampaknya sama sekali.

    Sejarah Penguasaan Ekonomi Indonesia oleh Kekuatan Asing dan Kelompok Berkeley Mafia

    Mari sekarang kita telaah bagaimana beberapa ahli dan pengamat asing melihat peran kekuatan asing dan kelompok Berkeley Mafia dalam perekonomian Indonesia sejak tahun 1967.

    Saya kutip apa yang ditulis oleh John Pilger dalam bukunya yang berjudul “The New Rulers of the World.” Saya terjemahkan seakurat mungkin ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :

    “Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil-alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller.

    Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonoom-ekonom Indonesia yang top”.

    Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan “the Berkeley Mafia”, karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan menawarkan: “buruh murah yang melimpah”, “cadangan besar dari sumber daya alam, pasar yang besar.”?

    Di halaman 39 ditulis : “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. “Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler'” kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konperensi.

    “Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya.

    Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

    Freeport mendapatkan bukit (mountain) dengan tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger duduk dalam board). Sebuah konsorsium Eropa mendapat nikel Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapat bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan-perusahaan Amerika, Jepang dan Perancis mendapat hutan-hutan tropis di Sumatra, Papua Barat dan Kalimantan.

    Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan buru-buru disodorkan kepada Soeharto membuat perampokan ini bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia.”

    Demikian gambaran yang diberikan oleh Brad Simpson, Jeffrey Winters dan John Pilger tentang suasana, kesepakatan-kesepakatan dan jalannya sebuah konperensi yang merupakan titik awal sangat penting buat nasib ekonomi bangsa Indonesia selanjutnya.

    Kalau baru sebelum krisis global berlangsung kita mengenal istilah “korporatokrasi”, paham dan ideologi ini sudah ditancapkan di Indonesia sejak tahun 1967. Delegasi Indonesia adalah Pemerintah. Tetapi counter part-nya captain of industries atau para korporatokrat.

    Para Perusak Ekonomi Negera-Negara Mangsa

    Benarkah sinyalemen John Pilger, Joseph Stiglitz dan masih banyak ekonom AS kenamaan lainnya bahwa hutanglah yang dijadikan instrumen untuk mencengkeram Indonesia ?

    Dalam rangka ini, saya kutip buku yang menggemparkan. Buku ini ditulis oleh John Perkins dengan judul : “The Confessions of an Economic Hit man”, atau “engakuan oleh seorang Perusak Ekonomi”. Buku ini tercantum dalam New York Times bestseller list selama 7 minggu.

    Saya kutip sambil menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

    Halaman 12 : “Saya hanya mengetahui bahwa penugasan pertama saya di Indonesia, dan saya salah seorang dari sebuah tim yang terdiri dari 11 orang yang dikirim untuk menciptakan cetak biru rencana pembangunan pembangkit listrik buat pulau Jawa.”
    Halaman 13 : “Saya tahu bahwa saya harus menghasilkan model ekonometrik untuk Indonesia dan Jawa”. “Saya mengetahui bahwa statistik dapat dimanipulasi untuk menghasilkan banyak kesimpulan, termasuk apa yang dikehendaki oleh analis atas dasar statistik yang dibuatnya.”

    Halaman 15 : “Pertama-tama saya harus memberikan pembenaran (justification) untuk memberikan hutang yang sangat besar jumlahnya yang akan disalurkan kembali ke MAIN (perusahaan konsultan di mana John Perkins bekerja) dan perusahan-perusahaan Amerika lainnya (seperti Bechtel, Halliburton, Stone & Webster, dan Brown & Root) melalui penjualan proyek-proyek raksasa dalam bidang rekayasa dan konstruksi.

    Kedua, saya harus membangkrutkan negara yang menerima pinjaman tersebut (tentunya setelah MAIN dan kontraktor Amerika lainnya telah dibayar), agar negara target itu untuk selamanya tercengkeram oleh kreditornya, sehingga negara penghutang (baca : Indonesia) menjadi target yang empuk kalau kami membutuhkan favours, termasuk basis-basis militer, suara di PBB, atau akses pada minyak dan sumber daya alam lainnya.”

    Halaman 15-16 : “Aspek yang harus disembunyikan dari semua proyek tersebut ialah membuat laba sangat besar buat para kontraktor, dan membuat bahagia beberapa gelintir keluarga dari negara-negara penerima hutang yang sudah kaya dan berpengaruh di negaranya masing-masing. Dengan demikian ketergantungan keuangan negara penerima hutang menjadi permanen sebagai instrumen untuk memperoleh kesetiaan dari pemerintah-pemerintah penerima hutang. Maka semakin besar jumlah hutang semakin baik. Kenyataan bahwa beban hutang yang sangat besar menyengsarakan bagian termiskin dari bangsanya dalam bidang kesehatan, pendidikan dan jasa-jasa sosial lainnya selama berpuluh-puluh tahun tidak perlu masuk dalam pertimbangan.”

    Halaman 15 : “Faktor yang paling menentukan adalah Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Proyek yang memberi kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan PDB harus dimenangkan. Walaupun hanya satu proyek yang harus dimenangkan, saya harus menunjukkan bahwa membangun proyek yang bersangkutan akan membawa manfaat yang unggul pada pertumbuhan PDB.”

    Halaman 16 : “Claudia dan saya mendiskusikan karakteristik dari PDB yang menyesatkan. Misalnya pertumbuhan PDB bisa terjadi walaupun hanya menguntungkan satu orang saja, yaitu yang memiliki perusahaan jasa publik, dengan membebani hutang yang sangat berat buat rakyatnya. Yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin miskin. Statistik akan mencatatnya sebagai kemajuan ekonomi.”

    Halaman 19 : “Sangat menguntungkan buat para penyusun strategi karena di tahun-tahun enam puluhan terjadi revolusi lainnya, yaitu pemberdayaan perusahaan-perusahaan internasional dan organisasi-organisasi multinasional seperti Bank Dunia dan IMF.”

    Penutup

    Fokus tulisan ini adalah peran SMI dalam perpspektif sejarah dan kaitannya dengan hubungan yang sangat erat dan subordinatif pada kekuatan-kekuatan asing, mungkin kekuatan corporatocracy yang diwakili oleh tiga lembaga keuangan internasional, yaitu Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan IMF.

    Sejak Konperensi Jenewa bulan November 1967 yang digambarkan oleh John Pilger, dalam tahun itu juga lahir UU no. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, yang disusul dengan UU No. 6 tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri, dan serangkaian perundang-undangan dan peraturan beserta kebijakan-kebijakan yang sangat jelas menjurus pada liberalsasi.

    Dalam berbagai perundang-undangan dan peraturan tersebut, kedudukan asing semakin lama semakin bebas, sehingga akhirnya praktis sama dengan kedudukan warga negara Indonesia. Kalau kita perhatikan bidang-bidang yang diminati dalam melakukan investasi besar di Indonesia, perhatian mereka tertuju pada pertumbuhan PDB Indonesia yang produknya untuk mereka, sedangkan bangsa Indonesia hanya memperoleh pajak dan royalti yang sangat minimal.

    Bidang-bidang ini adalah pertambangan dan infra struktur seperti listrik dan jalan tol yang dari tarif tinggi yang dikenakan pada rakyat Indonesia mendatangkan laba baginya.

    Bidang lain adalah memberikan kredit yang sebesar-besarnya dengan tiga sasaran : pertama, memperoleh pendapatan bunga, kedua, proyek yang dikaitkan dengan hutang yang diberikan di mark up, dan dengan hutang kebijakan Indonesia dikendalikan melalui anak bangsa sendiri, terutama yang termasuk kelompok OTB untuk ekonomi dan kelompok The Ohio Boys untuk bidang politik.

    Keseluruhan ini sendiri merupakan ceritera yang menarik dan bermanfaat sebagai bahan renungan introspeksi betapa kita sejak tahun 1967 sudah dijajah kembali dengan cara dan teknologi yang lebih dahsyat.

    Para penjajah Belanda dahulu menanam berbagai pohon yang buahnya bernilai tinggi. Kekejaman mereka terletak pada eksploitasi manusia Indonesia bagaikan budak. Kebun-kebunnya sampai sekarang menjadi PTP yang masih menguntungkan.

    Sejak tahun 1967, pengerukan dan penyedotan kekayaan alam Indonesia oleh kekuatan asing, terutama mineral yang sangat mahal harganya dan sangat vital itu dilakukan secara besar-besaran dengan modal besar dan teknologi tinggi. Para pembantunya adalah bangsa sendiri yang berhasil dijadikan kroni-kroninya. Apakah pengangkatan SMI menjadi managing director WB merupakan bagian dari skenario ini saya tidak tahu.


    http://www.tribunnews.com/nasional/2014/04/24/robert-tantular-beberkan-situasi-century-hingga-terjadi-rush

    Kasus Century
    Robert Tantular Beberkan Situasi Century Hingga Terjadi ‘Rush’
    Kamis, 24 April 2014 18:28 WIB

    TRIBUN/DANY PERMANA
    Mantan Deputi Bidang IV Pengelolaan Devisa Bank Indonesia Budi Mulya (kiri) menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan saksi Robert Tantular (kanan) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (24/4/2014). Budi didakwa karena diduga terlibat kasus korupsi pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) pada Bank Century dan penetapan Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Robert Tantular membeberkan proses kejadian hingga akhirnya terjadi rush di Bank Century, saat menjadi saksi Budi Mulya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (24/4/2014).

    Dia menjelaskan, awal November 2008, Bank Century memang sudah mendapat pengawasan khusus dari Bank Indonesia. Sekitar 12 November 2008, salah satu Direktur Bank Century, Hermanus memberitahu Robert soal kekurangan dana segar untuk memenuhi ketentuan Giro Wajib Minimun sebesar Rp 35 miliar.

    “Dia berusaha cari bantuan dari Sinar Mas dan Panin Bank,” kata Robert, Kamis (24/64/2014).

    Tidak hanya itu, Robert juga datang ke Bank Indonesia agar meminta dana Bank Century sebesar 1,3 juta dolar AS dapat dikonversikan ke rupiah. Karena keadaan sedang genting, peraturan yang biasanya perlu dua hari, diminta dipercepat.

    Bank Century sempat mendapat dana Rp 30 miliar dari Sinar Mas. Kantor cabang Bank Century di Palembang juga sudah siap Rp 5 miliar, meski akhirnya telat dalam pengajuan.

    “Tetap saja nggak dianggap (BI), akhirnya kalah kliring diumumin akhirnya seluruh Indonesia tahu terjadi rush, ini yang saya tidak tahu apa kesengajaan atau tidak. Surat dari direksi konversi 1,3 juta dolar AS juga tidak dijalankan. Besokannya baru dijalankan,” ujarnya.

    Penulis: Edwin Firdaus
    Editor: sanusi


    http://www.tribunnews.com/nasional/2014/04/24/robert-tantular-curigai-langkah-bank-indonesia

    Kasus Century
    Robert Tantular Curigai Langkah Bank Indonesia
    Kamis, 24 April 2014 18:42 WIB

    TRIBUN/DANY PERMANA
    Robert Tantular (kanan) bersaksi dalam sidang mantan Deputi Bidang IV Pengelolaan Devisa Bank Indonesia Budi Mulya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (24/4/2014). Budi didakwa karena diduga terlibat kasus korupsi pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) pada Bank Century dan penetapan Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemilik saham Bank Century, Robert Tantular, curiga kepada Bank Indonesia. Dia menduga Bank Indonesia sengaja membuat bank yang saat ini bernama Bank Mutiara itu kalah kliring pada 13 November 2008.

    “Ditetapkan kalah kliring itu sebenarnya menyakitkan, karena hanya kurang Rp 5 miliar,” kata Robert saat bersaksi dalam sidang terdakwa Budi Mulya, Kamis (24/4/2014).

    Namun, Robert mengaku tahu Bank Century ditetapkan berstatus unit di bawah pengawasan khusus (special surveillance unit) pada awal November 2008. Kemudian dia sempat meminta bantuan kepada Budi Mulya yang saat itu menjabat Deputi Gubernur Bidang Pengawasan Moneter pada 12 November 2008 supaya mendapat pinjaman likuiditas.

    “Kami kan punya rekening di BI nilainya 1,3 juta dolar AS. Kami minta supaya itu dikonversi ke rupiah supaya bisa menambah modal. Kan biasanya dua hari kerja. Tapi karena mendesak, kami minta secepatnya. Pak Budi dan Bu Siti Fadjrijah setuju mau membantu. Anjuran Pak Budi supaya besok pagi (13 November 2008) direksi memasukkan surat permohonannya ke BI untuk konversi,” kata Robert.

    Meski begitu, kenyataan yang terjadi justru berbeda. Menurut Robert, pada 13 November dia sudah meminta bantuan dana kepada PT Sinar Mas Multi Artha buat keperluan kliring. Sinar Mas, lanjutnya, hanya sanggup membantu Rp 25 miliar. Tetapi masih kurang. Sementara dari Bank Century cabang Palembang dikirim lagi uang Rp 5 miliar.

    “Waktu itu direksi mengatakan uang Rp 5 miliar dari cabang Palembang itu sudah ada di depan loket BI. Tapi oleh Pak Heru (Heru Kristiyono, pejabat BI) tetap saja enggak dianggap. Sore harinya diumumkan Bank Century kalah kliring. Ini yang saya enggak tahu apakah sengaja atau tidak,” kata Robert.

    Robert mengatakan, permintaan direksi Bank Century untuk mengubah uang di rekening BI juga tidak dijalankan. Dia mengatakan konversi itu baru dijalankan keesokan harinya, tetapi semuanya sudah terlambat.

    Dalam kesempatan sama, Robert mengaku tak tahu-menahu ihwal hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang menetapkan status Bank Century adalah bank gagal berdampak sistemik pada 13 November. Dia hanya tahu tiba-tiba Bank Century mendapat kucuran Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek senilai Rp 689 miliar.

    “FPJP itu hanya diberikan untuk menutup giro wajib minimum Bank Century yang sudah merah,” imbuh Robert.

    Penulis: Edwin Firdaus
    Editor: sanusi


    http://www.tribunnews.com/nasional/2014/04/24/saksi-ungkap-boediono-tolak-perhitungan-lps

    Kasus Century
    Saksi Ungkap Boediono Tolak Perhitungan LPS
    Kamis, 24 April 2014 20:18 WIB

    TRIBUN/DANY PERMANA
    Mantan Deputi Bidang IV Pengelolaan Devisa Bank Indonesia Budi Mulya (kiri) menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan saksi Robert Tantular (kanan) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (24/4/2014). Budi didakwa karena diduga terlibat kasus korupsi pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) pada Bank Century dan penetapan Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Mantan Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Firdaus Djaelani, bersaksi untuk terdakwa Budi Mulya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (24/4/2014).

    Dia mengungkapkan, ketika rapat 16 November 2008 dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Bank Indonesia (BI), Boediono selaku Gubernur BI menyangkal perhitungannya yang menyatakan biaya menutup Bank Century lebih rendah dibandingkan harus menyelamatkannya.

    Bahkan, Boediono yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres) RI, dalam rapat tersebut mengatakan bahwa perhitungan Firdaus hanyalah secara mikronya saja. “Ada yang menyela dalam rapat, Pak Boediono. Dia katakan LPS hanya melihat dari sisi mikronya,” kata Firdaus.

    Mendengar pernyataan Boediono tersebut, Firdaus mengaku mengiyakan dan membenarkan bahwa perhitungan LPS tidak melihat bank-bank lainnya.

    Seperti diketahui, dari surat dakwaan milik Budi Mulya, diduga telah terjadi skenario dalam penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik sehingga mendapatkan PMS (Penyertaan Modal Sementara).

    Skenario dimulai ketika rapat 16 November 2008 yang dihadiri oleh Sri Mulyani (Menkeu/Ketua KSSK), Boediono, Miranda, Muliaman Hadad, Siti Fadjrijah, Fuad Rahmany, Noor Rachmat, Poltak L Tobing (LPS), Firdaus Djaelani (Kepala Eksekutif LPS) dan Suharno Eliandy (LPS).

    Dalam rapat tersebut, Firdaus Djaelani mengatakan bahwa biaya menutup Bank Century lebih rendah dibandingkan harus menyelamatkannya.

    Namun, Boediono mengatakan perhitungan Firdaus hanya berdasarkan sisi mikronya saja. Sehingga, data tersebut diindahkan.

    Sebaliknya, DG Bi memerintahkan DPNP untuk menyiapkan konsep Analisis Dampak Sistemik (ADS) Bank Century untuk dipresentasikan dalam rapat KSSK tanggal 19 November 2008.

    Tetapi, pada saat rapat dengan KSSK yang dipaparkan hanya gambaran umum kinerja perbankan di Indonesia. Sehingga, KSSK belum memutuskan bank Century berdampak sistemik sebagaimana diinginkan oleh BI.

    Bahkan, nampaknya BI memang memaksakan agar Bank Century ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik. Terbukti, dari RDG tanggal 20 November 2008, DG BI mengarahkan DPNP mempersiapkan kajian untuk mendukung alasan penetapan sebagai bank gagal berdampak sistemik.

    Untuk mewujudkan keinginan DG BI tersebut ditempuh berbagai macam cara. Termasuk, menggunakan pendekatan psikologi pasar atau masyarakat dalam analisa dalam sistemik Bank Century. Dengan tujuan, agar secara kuantitatif tidak terukur dampak sistemik tersebut oleh KSSK.

    Bahkan, memalsukan data untuk ditunjukan kepada KSSK guna mendukung argumen Bank Century layak dikatakan sebagai bank gagal berdampak sistemik, yaitu menggunakan data tanggal 19 November 2008 dan dijadikan tanggal 20 November 2008.

    Selain itu, menghilangkan kajian yang dilakukan yang dilakukan Halim Alamsyah dalam lampiran yang akan diserahkan ke KSSK dan LPS. Padahal, dari kajian tersebut dinyatakan Bank Century tidak berdampak sistemik.

    Penghilangan tersebut atas arahan terdakwa Budi Mulya dan Miranda. Serta, atas persetujuan seluruh anggota DG BI, termasuk Boediono.

    Hingga akhirnya, pada rapat KSSK dengan Komite Koordinasi (KK) pada tanggal 21 November 2008, sekitar pukul 04.30 WIB, yang dihadiri oleh Sri Mulyani selaku Ketua KSSK, Boediono selaku anggota KSSK, Raden Pardede selaku Sekretaris KSSK dan Arief Surjowidjojo selaku konsultan hukum, secara tiba-tiba diputuskan bahwa Bank Century ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik. Selanjutnya, meminta LPS melakukan penanganan terhadap bank tersebut.

    Kemudian, pemberian PMS terealisasi mulai 24 Nopember 2008 sampai 24 Juli 2009 dan jumlahnya mencapai Rp 6,7 triliun. Padahal, upaya penyelamatan tersebut terbukti tidak mampu membantu Bank Century, terlihat dari CAR per 31 Desember 2008 yang menurut hasil audit kantor akuntan publik Amir Abadi Jusuf & Mawan, masih dalam posisi negatif 22,29 persen.

    Penulis: Edwin Firdaus
    Editor: sanusi


    http://www.transparansi.or.id/2014/04/hanya-sri-mulyani-yang-berani-lawan-hadi-poernomo/

    Hanya Sri Mulyani yang Berani “Lawan” Hadi Poernomo
    April 22, 2014

    JAKARTA – Hadi Poernomo akhirnya dijadikan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia diduga menyalahgunakan wewenangnya selaku Dirjen Pajak saat pengurusan Wajib Pajak PT Bank Central Asia Tbk Tahun 1999 di Ditjen Pajak pada 2003-2004.

    Kabar ini memang tidak terlalu mengagetkan, bahkan salah seorang anak buah Hadi Poernomo maklum jika dia ditangkap KPK. Pasalnya, sepak terjang Hadi di Ditjen Pajak tidak bisa dibilang baik.

    Dia menduduki jabatan Dirjen Pajak di era tiga presiden yakni Gus Dur, Megawati, dan SBY. Dari tiga presiden tersebut, dia pernah bekerja di bawah Prijadi ada Rizal Ramli, Boediono, Jusuf Anwar. Hanya Sri Mulyani yang berani menghentikan sepak terjang Hadi Poernomo.

    Menkeu Sri Mulyani yang saat itu dikenal tengah menggelontorkan reformasi birokrasi di Kemenkeu. Sejumlah Dirjen di Kementerian Keuangan pun dicopot termasuk Hadi Poernomo.

    Sri Mulyani kemudian mengganti Hadi dengan Darmin Nasution sebagai Dirjen Pajak. Program-program dan metode penerimaan pajak yang jadi andalan Hadi juga tak lagi dipakai oleh Darmin Nasution. Misalnya, menghitung penerimaan pajak dengan memasukkan penerimaan di tahun berikutnya sehingga penerimaan pajak selalu melebihi target.

    Selepas dari Dirjen Pajak, Hadi tak menjabat posisi apapun, sebelum akhirnya lewat seleksi di DPR menjadi Ketua BPK sejak 2009 hingga pensiun April 2014 ini. Saat maju di BPK sejumlah partai politik mendukungnya menduduki posisi pengaudit dana negara di lembaga dan kementerian.

    Oleh karena itu, banyak yang melihat hasil audit BPK terkait masalah Bank Century juga tidak lepas dari sejarah masa lalu interaksi antara Hadi Poernomo dengan Sri Mulyani. Ketika itu, Hadi sebagai Dirjen Pajak, sedangkan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.
    (mrt)
    Sumber: okezone.com – Selasa, 22 April 2014


    http://news.liputan6.com/read/2040369/hadi-poernomo-jadi-tersangka-dahlan-iskan-mengaku-terkejut

    Hadi Poernomo Jadi Tersangka, Dahlan Iskan Mengaku Terkejut
    by Sugeng Triono 22 Apr 2014 17:17

    (ANTARA/PRASETYO UTOMO)

    Liputan6.com, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku terkejut dengan ditetapkannya mantan ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai tersangka. Apalagi, kata Dahlan, status tersangka itu dikeluarkan KPK tepat pada hari ulang tahun Hadi, 21 April kemarin.

    “Saya hanya ingat saja, aduh ulang tahun kok dijadikan tersangka,” ujar Dahlan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (22/4/2014).

    Gara-gara kejadian ini, Dahlan jadi ingat Hadi pernah mengalami nasib serupa pada hari ulang tahunnya beberapa tahun lalu. Saat itu, ujar Dahlan, Hadi menjabat sebagai Dirjen Pajak. Tepat saat ulang tahunnya, Menteri Keuangan Sri Mulyana kala itu, memberhentikan Hadi. “Dulu beberapa tahun lalu, diberhentikan sebagai dirjen pajak oleh Ibu Sri Mulyani.”

    Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Hadi Poernomo sebagai tersangka karena diduga menyalahgunakan wewenangnya sebagai Dirjen Pajak. Hadi diduga telah mengubah hasil telaah permohonan keberatan pajak yang diajukan BCA dengan Non Perfomance Loan (NPL) sebesar Rp 5,7 triliun. Akibat kasus ini, negara diperkirakan rugi Rp 375 miliar.

    Akibat perbuatannya, Hadi dijerat Pasal 2 ayat 1 dan atau Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (Sunariyah)
    (Rinaldo)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2038273/pln-pertamina-berseteru-soal-panas-bumi-dahlan-memalukan

    PLN-Pertamina Berseteru soal Panas Bumi, Dahlan: Memalukan
    by Septian Deny 17 Apr 2014 12:26

    Liputan6.com, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengancam bakal memberi sanksi kepada PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) jika masih terus berseteru soal pengembangan sembilan proyek panas bumi senilai Rp 25 triliun.

    Dahlan memberi tenggat waktu kepada dua perusahaan BUMN itu untuk segera menyepakati akta jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) panas bumi.

    “Yang penting geothermal harus jalan. Nanti Deputi Kementerian BUMN akan meminta jadwal PLN dan Pertamina kapan kontrak jual beli listrik geothermal. Dalam seminggu, draft tandatangan itu harus sudah diterima,” ungkap Dahlan di Jakarta, Kamis (17/4/2014).

    Dahlan menilai alotnya diskusi antara Pertamina dan PLN ini bisa menghambat pengembangan sembilan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Padahal Indonesia merupakan negara dengan cadangan geothermal terbesar di dunia.

    “Pertamina hanya bisa jualan ke PLN. Kalau dua BUMN ini tidak segera sepakat maka potensi geothermal ini tidak bisa dimanfaatkan. Memalukan kalau BUMN menyandera negara, itu tidak bisa diterima. Terserah kalau tidak mau saya atur, atur sendiri,” tutur dia.

    Sebelumnya, Dahlan mengaku marah besar kepada PLN dan Pertamina. Kemarahan itu terjadi ketika Kementerian BUMN mengadakan Rapat Pimpinan (Rapim) di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, pada pekan lalu.

    Hal itu terjadi dikarenakan hingga saat ini belum ada jalan tengah antara PLN dan Pertamina mengenai pengerjaan proyek sembilan sumber panas bumi yang sudah dicanangkan beberapa tahun lalu.

    Dalam proyek ini, Pertamina akan menjadi kontraktor pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), sementara PLN akan menjadi pembeli listrik dari pembangkit yang dikelola Pertamina.

    Pada tahun lalu, keduanya sudah menyepakati penunjukan pihak ketiga untuk melakukan audit mengenai berapa biaya pengerjaan proyek dan berapa harga per kilowatt (kWh) dari listrik yang akan dihasilkan. Selain itu, kesepakatan juga dalam penentuan tingkat pengembalian investasi (IRR) sebesar 14.

    Namun meskipun sudah ada kesepakatan, dan hasil audit dari yang telah ditunjuk yaitu lembaga auditor profesional bertaraf internasional dari Selandia Baru, namun pada akhirnya PLN tidak menyetujui hasil audit tersebut.

    “Saya marah sekali, makanya saya tinggalkan, waktu itu saya tidak tahu berapa kali geebrak meja, karena saya pengen bagaimana geothermal itu harus menjadi kenyataan di Indoensia, kita ini bisa jadi produsen geothermal terbesar di dunia,” cerita Dahlan.

    (Nurseffi Dwi Wahyuni)


     
  • Virtual Chitchatting 5:53 PM on 2014/04/25 Permalink  

    ECW (Eduard Cornelis William) Neloe sebagai batu pijakan dan tumbal penggantinya? 

    ECW (Eduard Cornelis William) Neloe

    Semasa ECW Neloe menjadi Dirut, Bank Mandiri mengalami kredit macet senilai Rp 1,3 triliun di PT Lativi Media Karya, PT Cipta Graha Nusantara, PT Arta Trimustika Textindo/PT Arta Brama Textindo, dan PT Siak Zamrud Pusaka. Ada pemberian kredit diputuskan dalam satu hari, dan lima hari.
    ECW Neloe, I Wayan Pugeg, dan Sholeh Tasripan terlibat kasus korupsi pembelian aset PT Kiani Kertas pada tahun 2002 oleh Bank Mandiri; dengan nilai kerugian mencapai Rp 1,8 triliun.
    ECW Neloe, I Wayan Pugeg dan M Saleh Tasripan memperoleh bonus atau tantiem atas kinerja mereka sebesar Rp26 miliar. Besarnya tantiem untuk Dirut mencapai 100 persen, wakil dirut sebesar 95 persen, anggota direksi 90 persen, komisaris utama 40 persen, wakil komisaris utama 38 persen, anggota komisaris 36 persen dan sekretaris komisaris 15 persen dari tantiem dirut.

    Kasus Great River
    Per 29 Maret 2006, ECW Neloe selaku Dirut Bank Mandiri diperiksa Kejaksaan Agung terkait kredit macet di Great River dan penyimpangan pembelian obligasi GRI oleh Bank Mandiri.

    Di tahun 2001, PT Great River International Tbk kesulitan membayar utang US$150 Juta kepada Deutsche Bank.
    Di tahun 2002, Great River mendapat potongan pokok utang 85% dan sisa utang dibayar menggunakan pinjaman dari Bank Danamon.
    Di tahun 2003, Great River menerbitkan obligasi Rp 300 miliar untuk membayar pinjaman tersebut.
    Juli-September 2004, Bank Mandiri membeli obligasi Great River senilai Rp50 miliar dan memberi fasilitas Kredit Investasi; Kredit Modal Kerja; dan Non Cash Loan senilai lebih dari Rp265 milyar.
    Bapepam menyidik akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan GRI untuk tahun buku 2003.
    GRI melakukan penggelembungan account penjualan, piutang, dan aset hingga ratusan miliar rupiah.
    Bapepam menyebutnya dengan istilah menemukan kelebihan pencatatan atau overstatement penyajian account penjualan dan piutang dalam laporan tersebut.
    Kelebihan itu berupa penambahan aktiva tetap dan penggunaan dana hasil emisi obligasi yang tanpa pembuktian.
    Akibatnya, Great River mengalami kesulitan arus kas dan gagal membayar utang. GRI tidak mampu membayar utang Rp 250 miliar kepada Bank Mandiri dan gagal membayar obligasi senilai Rp 400 miliar.


    http://tempo.co.id/hg/ekbis/2001/02/27/brk,20010227-30,id.html

    Diumumkan, 10 Karyawan Exim yang Terlibat Skandal Valas
    27 Pebruari 2001

    TEMPO Interaktif, Jakarta:Sepuluh nama karyawan Bank Exim yang bertanggung jawab atas kerugian Rp 20 triliun yang diderita bank tersebut, akibat transaksi valas tahun 1997, diumumkan Dirut Bank Mandiri ECW Neloe dihadapan anggota Komisi IX DPR, Selasa (27/01) sore. Bank Exim adalah satu dari empat bank pemerintah yang dimerger menjadi Bank Mandiri per 1 Agustus 1999.

    Lima karyawan, Edi Salmon (Direktur Treasury), Saleh Aziz (Chief of Dealing Room), Haning Tyasadi (Dealer), Muchsin (Dealer), Ichsan Arifin (Dealer), telah dipecat dari jabatan. Tiga nama selanjutnya, Suharto (Dealer), Dedi Supriyanto (Dealer) dan Helmi Imam (Dealer) diturunkan pangkatnya. Sementara Juli Setyawan (Dealer) dan Sigit Setyawan (Dealer) mendapat surat teguran.

    Neloe akhirnya bersedia mengungkapkan nama-nama tersebut setelah didesak Rizal Djalil dari Fraksi Golongan Karya. “Saya sudah mendapat konfirmasi bahwa Kodradi (eks Dirut Bank Exim) tidak bersalah dalam kasus valas tersebut,”kata Rizal. Karena selama ini Kodradi selalu menjadi ‘tertuduh’ dalam kasus itu, Rizal menyatakan mempunyai kewajiban moril untuk mengumumkan mereka yang bersalah dan bertanggung jawab dalam kasus ini.

    Menurut Neloe, ke-10 orang tersebut selama enam bulan (Febuari- Juli 1997) melakukan transaksi forward valas secara diam-diam. Mereka tidak pernah sekalipun memberikan laporan ke Dewan Direksi. Padahal, menurut dia, setiap harinya harus ada laporan Net Open Position dari dealing room ke meja direksi tentang transaksi valas pada hari itu. “Setelah rugi Rp 20 triliun, baru mereka melapor ke direksi,” kata Neloe seraya menambahkan laporan itupun sempat dimanipulasi. (Febrina S)


    http://www.suaramerdeka.com/harian/0504/29/nas02.htm

    Dirut Mandiri Akui Tandatangani Kredit
    Jumat, 29 April 2005

    DIPERIKSA: Direktur Utama Bank Mandiri ECW Neloe memberikan keterangan kepada pers seusai menjalani pemeriksaan di Kantor Kejaksaan Agung Jakarta, Kamis (28/4). Neloe diperiksa hampir 12 jam terkait dengan kredit macet senilai Rp1,3 triliun. (94t)

    JAKARTA- Tim penyidik Kejaksaan Agung yang dipimpin Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Hendarman Supandji, Kamis kemarin, kembali memeriksa Direktur Utama Bank Mandiri Tbk ECW Neloe. Pemeriksaan berlangsung sekitar sepuluh jam, yang berakhir pada pukul 20.00 WIB.

    “Ada yang saya tandatangani, ada yang tidak,” kata Neloe seusai pemeriksaan. Ia tidak menjelaskan, persetujuan pengucuran kredit apa saja yang ditandatanganinya.

    Selain memeriksa Neloe, tim penyidik Kejakgung juga memeriksa Saiful, Komisaris Utama PT Cipta Graha Nusantara (CGN), dan Corporate Banking Bank Mandiri Fahrudin Yasin. Seusai diperiksa selama lebih dari enam jam Syaiful tutup mulut saat ditanya wartawan. JAM Pidsus Hendarman mengatakan selama pemeriksaan Neloe sangat kooperatif dan siap dipanggil untuk diperiksa lagi.

    Ia juga mengatakan Neloe telah memberikan penjelasan yang menyangkut PT Cipta Graha Nusantara. Namun Hendarman enggan menjawab materi apa saja yang ditanyakan dan berapa pertanyaan yang diajukan.

    “Ada sebagian persetujuan permohonan kredit yang ditandatangani Neloe. ” Hendarman juga mengiyakan ketika ditanya apakah pengucuran kredit Rp 20 miliar ke atas harus sepersetujuan dirut.

    Seperti diketahui, tim penyidik Kejagung saat ini tengah menyidik empat perusahaan penerima kredit Bank Mandiri Rp 1,3 triliun yang terindikasi macet. Perusahaan itu adalah PT Lativi Media Karya, PT Cipta Graha Nusantara, PT Arta Trimustika Textindo/PT Arta Brama Textindo, serta PT Siak Zamrud Pusaka.

    Hasil pemeriksaan menetapkan empat tersangka yang saat ini tengah ditahan di Rutan Salemba Kejagung. Sebanyak tiga tersangka berasal dari PT Cipta Graha Nusantara, dan seorang tersangka dari PT Siak Zamrud Pusaka.

    Sementara itu, anggota Komisi XI Dradjat Wibowo mengungkapkan, sebagian para tersangka kasus kredit macet PT Bank Mandiri Tbk yang ditangkap Kejaksaan Agung hanya bertindak sebagai “boneka” saja, dan bukan pihak yang bertanggung jawab terhadap dugaan kredit macet yang nilainya sekitar Rp 1 triliun. “Bahkan ada satu kasus di mana pemberian kredit diputuskan dalam satu hari, dan lima hari kemudian,” paparnya di Jakarta, kemarin.

    Menurut Dradjat yang juga ekonom Indef, Kejakgung harus memeriksa semua fakta yang ditemukan di lapangan, dan tidak hanya terpaku pada hasil temuan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang muncul ke permukaan.

    Selain itu, Dradjat juga mendesak lembaga seperti Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) yang diketuai Yunus Husein bersikap proaktif membantu Kejakgung dengan membuka aliran dana yang terkait dengan perusahaan yang memperoleh kredit dari Bank Mandiri, dan saat ini menjadi tersangka di Kejakgung. “Kalau aliran dana dibuka, maka yang akan terjadi bukan semata persoalan pelanggaran kredit, melainkan skandal yang komprehensif dan direncanakan,” katanya.

    Drajat menambahkan, dugaan skandal yang komprehensif dan direncanakan dengan matang itu, karena modus operandinya ada beberapa kasus kucuran kredit macet, dengan menggunakan aliran dana melalui SBV (perusahaan fiktif/kosong) yang ada di luar negeri. “Fungsi SBV hanya sebagai wadah saja, sebab dari informasi yang ada, aliran dana yang jumlah transaksinya di atas Rp 100 miliar itu, kemudian ditranfer di luar list, yaitu kepada orang sakti,” jelas Dradjat.

    Karena itu, Dradjat meminta, agar Kejakgung tidak terkecoh kepada persoalan yang muncul dipermukaan saja. Persoalan itu perlu penanganan lebih lanjut. “Kejakgung tidak perlu takut kalau ada ‘orang sakti’ yang ternyata setelah ditelusuri aliran dananya masuk ke rekening mereka,” tegas Dradjat.

    Lebih lanjut Dradjat juga menyesalkan sikap Menko Perekonomian Aburizal Bakrie yang pernyataannya, seolah-olah membela Bank Mandiri. Sebab, Aburizal harus memisahkan dia sebagai pejabat publik, karena akan mengganggu proses pemeriksaan di Kejakgung.

    Hal senada juga dikatakan Ketua Masyarakat Profesional Madani (MPM) Ismed Hasan Putero yang menilai pernyataan Aburizal bahwa kredit macet adalah wajar, haruslah dipahami bahwa pernyataan itu adalah benar apabila dalam proses pemberian kreditnya sesuai dengan prinsip-prinsip kehati-hatian. “Penanganan kasus Bank Mandiri menjadi test case bagi pemerintah dalam memberikan sanksi terhadap pelaku tindak kejahatan,” tandasnya.

    Jangan Khawatir

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat tidak khawatir sehubungan dengan pemeriksaan Direktur Utama Bank Mandiri ECW Neloe dalam kasus dugaan korupsi.

    “Dari segi banknya sendiri tidak ada sesuatu yang serius, apalagi sampai menyebabkan kolaps,” tegas dia seusai rapat koordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta Komisi Ombudsman di kantor presiden, kemarin.

    Rapat itu juga dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Perekonomian Aburizal Bakrie, Menko Polhukam Widodo AS, Menko Kesra Alwi Shihab, Menkeu Jusuf Anwar, dan Meneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati.

    Presiden mengungkapkan sekarang ada dugaan kuat disertai bukti-bukti permulaan terjadi korupsi dan penyimpangan di sejumlah lembaga. Sebagian terjadi di departemen pemerintahan, sebagian di BUMN-BUMN, dan sebagian lagi di swasta atau organisasi independen.

    “Ada sejumlah dugaan korupsi, tapi biarkan proses berjalan. Biarkan langkah-langkah penyelidikan dilaksanakan sebaik-baiknya tanpa harus kita gunakan dulu asas praduga tak bersalah dan kemudian malah tidak efektif pemberantasannya,” jelasnya.

    Menurut dia, jika masalah tersebut terlalu cepat diekspos melalui media massa maka dikhawatirkan orang-orang yang diduga melakukan korupsi keburu lari atau menghilangkan barang bukti, sehingga menyulitkan proses penyidikan lebih lanjut.

    “Itu terjadi di banyak BUMN. Bukan BUMN-nya, tetapi ada tindakan-tindakan dalam elemen BUMN itu. Demikian juga departemen pemerintahan, bukan departemennya melainkan ada oknum-oknum di situ,” tambahnya.

    Tak Ada Persoalan

    Salah satu dugaan ada tindak pidana korupsi itu terjadi di Bank Mandiri sebagaimana yang mengemuka akhir-akhir ini. Namun ditegaskan tidak ada persoalan pada bank tersebut.

    “Tidak ada persoalan pada banknya. Jadi jangan berpandangan perbankan nasional kolaps, bank-bank kita bermasalah atau kembali kembali mengalami krisis. Tidak!” tandasnya.

    Presiden menyatakan tidak ada masalah yang sangat luar biasa, apalagi sampai mengkhawatirkan kondisi umum perbankan nasional. Hanya ada hal-hal dalam pengelolaan bank BUMN tersebut yang perlu diperiksa terkait dengan dugaan penyimpangan.

    Sementara itu Menko Perekonomian Aburizal Bakrie mengaku belum tahu beberapa perusahaannya disebut-sebut masuk dalam daftar BPK terkait dengan pemeriksaan Direktur Utama Bank Mandiri.

    “Saya belum tahu. tapi yakin tidak ada yang salah. Dalam rapat koordinasi tadi (kemarin-Red) dibicarakan dan dilihat saja mana yang salah,” tuturnya.

    Mengenai pemeriksaan Direktur Utama Bank Mandiri ECW Neloe, ia mengatakan arahan Presiden adalah jangan sampai pemeriksaan dugaan korupsi tersebut justru membuat bank BUMN tersebut jatuh. (sas,F4,aih,bn,A20-33,69,53v)


    http://www.tempo.co/read/news/2005/05/11/05560886/ECW-Neloe-Dkk-Tersangka

    ECW Neloe Dkk Tersangka
    Astri Wahyuni, Rabu, 11 Mei 2005 | 18:22 WIB

    TEMPO Interaktif, Jakarta:Kejaksaan Agung sore ini (11/5) menetapkan tiga Direksi Bank Mandiri, yaitu Direktur Utama : ECW Neloe, Wakil Direktur : I Wayan Pugeg dan Direktur Corporate Banking, M.Soleh Tasripan, sebagai tersangka.

    Penetapan tersebut berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan saksi mengenai keterlibatan ketiganya dalam proses pengucuran kredit terhadap terhadap PT Siak Zamrud Pusaka, PT Arthabhama Tekstindo, PT Cipta Graha Nusantara, dan PT Lativi Media Karya.

    Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Soehandoyo, pihak penyidik sudah mengirimkan pemanggilan terhadap ketiganya untuk diperiksa sebagai tersangka Senin mendatang. “Kepada ketiganya, Jampidsus Hendarman sudah mengajukan permohonan cekal pada Jaksa Agung kemarin,”ujar Soehandoyo pada wartawan di Kejaksaan Agung, Rabu (11/5).

    Hasil penetapan tersangka baru tersebut, menurut Soehandoyo sudah dilaporkan pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, “Semua perkembangan selalu dilaporkan oleh Jampidsus dan Jaksa Agung pada Presiden,”ujarnya. Kemungkinan besar, menurut seorang Jaksa penyidik, ECW Neloe dan kawan-kawan langsung ditahan. “Tak adil, kalau tiga direksi Mandiri tak ditahan, dan diperlakukian berbeda dengan debitur yang sudah ditahan duluan,”kata Jaksa penyidik yang tak mau disebutkan namanya pada Tempo.


    https://groups.yahoo.com/neo/groups/nasional-list/conversations/topics/13965

    http://www.indomedia.com/bpost/052005/19/depan/utama1.htm

    Neloe Cs Dapat Bonus Rp26 M
    Jakarta, BPost, 20050518

    Menjadi tersangka skandal kredit macet Bank Mandiri, tak menyebabkan ECW Neloe, I Wayan Pugeg dan M Saleh Tasripan, tiga mantan direksi Bank Mandiri ini kelimpungan. Pasalnya, ketiganya justru memperoleh bonus atau tantiem atas kinerja mereka sebesar Rp26 miliar.

    Pemberian tantiem terhadap Neloe cs itu merupakan salah satu keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank Mandiri yang digelar Senin lalu.

    Tantiem merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang dihadiahkan kepada karyawan. Pembagian tantiem yang mencapai Rp26.278.257.287 ini merupakan 0,5 persen dari laba bersih yang diperoleh Bank Mandiri selama tahun 2004 yang total sekitar Rp5 triliun.

    Hadiah itu diberikan kepada anggota direksi dan komisaris serta sekretaris komisaris yang menjabat selama tahun 2004, dengan jumlah sesuai lamanya waktu menjabat.

    Besarnya tantiem untuk Dirut mencapai 100 persen, wakil dirut sebesar 95 persen, anggota direksi 90 persen, komisaris utama 40 persen, wakil komisaris utama 38 persen, anggota komisaris 36 persen dan sekretaris komisaris 15 persen dari tantiem dirut.

    Selain itu gaji direksi Bank Mandiri di bawah pimpinan Agus Martowardojo memperoleh gaji lebih besar 7 persen dari yang diterima Neloe. Gaji dirut dinaikkan Rp7 juta atau 7 persen per bulan dari gaji tahun 2004. Namun Neloe sempat mencicipi kenaikan gaji karena kenaikan gaji sudah diberlakukan sejak 1 Januari 2005.

    Sel bekas Akbar

    Sementara Neloe, I Wayan Pugeg dan M Soleh Tasripan, menghuni sel ?spesial? di Rutan Kejakgung.Dikatakan spesial, karena sel itu pernah ditempati mantan Ketua Partai Golkar Akbar Tanjung dan mantan Gubernur BI Sjahril Sabirin, ketika kedua tokoh itu sama-sama menjadi tersangka korupsi.

    Di sel ?spesial? berukuran 4×4 meter itu, ketiga mantan petinggi Bamk Mandiri yang ditahan sejak Selasa (17/5) itu dijadikan satu. Letak ruangan sel spesial ini persis berada di samping pintu masuk rumah tahanan Kejaksaan Agung.

    Begitulah yang dituturkan salah seorang petugas Kamdal (keamanan dalam) Kejagung kepada beberapa wartawan media cetak maupun elektronik, sembari mewanti-wanti agar namanya tidak disebut.

    Fasilitas apa saja yang diberikan kepada trio tersangka kredit macet Bank Mandiri? Menurut pengakuan kamdal itu, ketiganya mendapat jatah masing-masing satu buah tempat tidur berupa dipan. “Fasilitas yang disediakan oleh ketiganya memang sangat minim. Tidak ada televisi, kipas angin apalagi AC,” ungkap petugas itu.

    Selain itu, ketiga tersangka juga sudah tidak bisa lagi memakai fasilitas telepon genggam (ponsel). Sumber di Kejagung ini menjelaskan, sesuai presedur tetap (protap), para penghuni rumah singgah Kejaksaan Agung tidak diperkenankan leluasa berponsel ria.

    Namun, agar tidak ketinggalan informasi, selain televisi yang ditonton beramai-ramai, Neloe cs dan yang lainnya diperbolehkan membaca surat kabar, majalah ataupun buku lainnya.

    Mengenai kondisi terkini Neloe cs, sumber tadi mengaku, ketiganya dalam keadaan sehat. “Mereka tidur sangat nyenyak begitu masuk ke rutan Kejagung. Bisa dimaklumi, ketiganya sejak Selasa selama 9 jam lebih diperiksa intensif oleh tim penyidik. Cuma saja, I Wayan Pugeg sempat mengeluh sakit,” tuturnya.

    Salah seorang kuasa hukum dari kantor pengacara Amir Syamsuddin, Nurhasyim usai menjenguk ketiganya membantah saat ditanya I Wayan Pugeg mengalami stres.

    Nurhasyim menjelaskan, I Wayan Pugeg merasa letih setelah menjalani pemeriksaan Selasa kemarin, sejak pagi hingga malam hari. “Beliau tidak stres tapi kecapaen,” kata Nurhasyim.

    Tunjuk Pengacara

    Sementara itu, ECW Neloe, yang juga mantan Direktur Utama Bank Mandiri, secara resmi telah menunjuk pengacara pribadi, Jan Juanda Saputra dan LMM Samosir. Kedua pengacara itu, usai menjenguk kliennya di Rutan Kejagung, Rabu (18/5), mengaku sejak tiga hari lalu diberitahu untuk menjadi kuasa hukum mantan petinggi Bank mandiri yang kini ditahan di Kejaksaan Agung.

    Jan membantah, bila dikatakan kliennya tidak puas dengan kinerja Mohammad Assegaf. Sementara, Nurhasyim, salah satu tim pengacara Neloe cs mengaku belum mengetahui hal itu.

    Sekadar diketahui, selama ini yang menjadi tim kuasa hukum terhadap ECW Neloe, I Wayan Pugeg dan M Soleh Tasripan adalah, kantor pengacara Amir Syamsuddin, Moh Assegaf, Sulistio, Luhut Pangaribuan, dan Timbul Lubis.

    Nurhasyim dari kantor pengacara Amir Syamsuddin menjelaskan mengenai rencana penangguhan tahanan terhadap ECW Neloe, I Wayan Pugeg maupun M Soleh Tasripan yang kini sedang dibahas secara serius.

    Sementara mengenai rencana Mohammad Assegaf yang akan menggalang dukungan terhadap tokoh-tokoh penting, Nurhasyim mengaku hal tersebut belum bisa direalisasikan saat ini.

    .Mengenai rencana Assegaf yang akan membuat surat jaminan penangguhan tahanan dari para tokoh, Nurhasyim juga belum mengetahuinya. Namun, katanya lagi, sangat mungkin akan diserahkan surat jaminan keluarga kepada pihak Kejaksaan Agung.

    “Saat ini sedang disiapkan surat jaminan keluarga. Sementara kata Assegaf itu belumlah pasti, baru ngomong-ngomong dan kita juga belum bisa menjelaskan sekarang siapa saja tokoh yang akan ikut nanti,” ujar Nurhasyim.

    Tindak pidana korupsi

    Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidus) Kejagung, Hendarman Supanji, menyatakan ketiga mantan direksi Bank Mandiri itu diduga kuat melakukan tindak pidana korupsi terkait kasus kredit macet Bank Mandiri senilai Rp1 triliun lebih.

    Hendarman mengatakan, penahanan ketiga mantan Direksi Bank Mandiri tersebut dilakukan Kejagung sesuai dengan Pasal 21, karena adanya dugaan kuat terhadap ketiganya telah melakukan tindak pidana korupsi dengan alat bukti yang cukup.

    Dia i meminta tim penyidik dapat menyelesaikan pemeriksaan dan pemberkasan kasus Bank Mandiri dalam waktu minimal tiga bulan.

    “Dalam waktu empat bulan sudah harus masuk ke pengadilan,” kata Hendarman.

    Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk yang baru terpilih, Sigit Pramono mengatakan kasus kredit bermasalah yang kini melanda Bank Mandiri mempengaruhi para bankir secara psikologis.

    “Secara manusiawi dengan adanya berita-berita ini membuat secara psikologis atau kejiwaan akan terpengaruh,” kata Sigit di Jakarta Convention Center Senayan,JBP/yat/lya/dtc/ti


    http://inyabay.blogspot.com/2006/06/skandal-ikan-teri-inya-soroti-kredit.html

    uploaded: Thursday, June 01, 2006 02.43
    Kredit Macet Bank Mandiri: Skandal Ikan Teri …
    Rakyat Merdeka, 16 Oktober 2005

    MAJELIS Hakim Peng­adilan Negeri Jakarta Se­la­tan yang tengah menyidangkan k­a­sus kredit Bank Mandiri di­minta hati-hati dalam meng­am­bil keputusan. Anggota Komisi XI, Inya Bay, menilai kasus yang melibatkan bekas Dirut Mandiri Eduard Cornelis William (ECW) Neloe ini memiliki nuansa politis yang amat kental.

    Tuduhan yang disampaikan Jak­sa Penuntut Umum (JPU), se­but Inya yang berbicara di Ja­kar­ta, kemarin, sangat lemah dan cen­derung mengada-ada. Ke­bi­ja­kan Perkreditan Bank Mandiri (KPBM) yang dijadikan dasar oleh Neloe untuk mengucurkan kre­dit kepada PT Citra Graha Nu­santara (CGN) bukanlah pro­duk hukum, melainkan pedoman ope­rasional bagi pejabat Bank Man­diri. Dengan sendirinya, KPBM bersifat internal dan ber­laku khusus. “Ini artinya tidak ada pe­lang­ga­ran hukum. Pemberian kredit pa­da PT CGN adalah pelak­sa­na­an aturan main internal yang di­pu­tuskan rapat pemegang saham yang tentu melibatkan pe­me­rin­tah,” ujar Inya.

    Sambungnya, ber­dasarkan fakta-fakta itu kasus ini layak batal demi hukum. Dalam kasus ini JPU menuding pengucuran kredit untuk PT CGN yang dilakukan Oktober 2002 lalu telah merugikan ne­ga­ra sebesar Rp 160 miliar. Selain Neloe, bekas Direktur Risk Ma­na­gement I Wayan Pugeg dan be­kas Direktur Corporate Banking M Sholeh Tasripan juga du­duk di kursi terdakwa.

    Dalam sidang yang digelar Se­nin lalu (10/10) mereka bertiga di­ancam hukuman seumur hi­dup. Persidangan kasus ini akan kembali dilanjutkan Senin besok (17/10) dengan agenda men­dengar jawaban atas keberatan kuasa hukum Neloe cs. “Jadi, apabila pengucuran kre­dit itu dinilai melanggar dan me­nyalahi aturan yang ada, maka ko­misaris Bank Mandiri juga ha­rus ikut bertanggung jawab, dan dihadapkan di muka peng­adi­lan,” sambung Inya.

    Masih menurut Inya, pem­be­rian kredit itu juga bisa dilihat sebagai upaya direksi Bank Man­diri menyelamatkan anak pe­ru­sahaan mereka, yakni PT Tah­ta Medan (TM), pemilik Ho­tel Tiara Medan yang sedang ke­limpungan saat itu. Sebagaimana di­ketahui, sebesar 33 persen sa­ham PT TM dimiliki PT PIM dan 66 persen lainya dimiliki Dana Pensiun Mandiri. Inya juga menyebut, ber­da­sar­kan data yang dimilikinya kredit PT CGN di Bank Mandiri tidak da­lam status koleabilitas lima alias macet.

    Saat ini, sam­bung­nya, kredit PT CGN justru dalam sta­tus lan­car. “Jadi aneh, kalau mau mem­bongkar skandal kredit macet Bank Mandiri dengan kasus PT CGN. Kredit macet yang jum­lahnya di atas PT CGN masih ba­nyak. Yang ini kan cuma skandal ikan teri,” ujar dia heran. Inya tak mau jika persidangan ini di­gelar sekadar untuk mem­per­li­hatkan pada publik bahwa tim penegak hukum pemerintah be­kerja serius.

    Sebelumnya, Ketua Umum Ma­syarakat Profesional Madani (MPM), Ismed Hasan Putro, ju­ga mewanti-wanti PN Jaksel agar tidak terjebak pada per­mai­nan politik di seputar kasus ini. “Kalau ada pengusaha yang dekat dengan partai politik dan istana yang menerima kredit deng­an cara yang tidak pro­se­du­ral harus diusut juga. Jangan di­lindungi. Tidak boleh ada di­s­kri­minasi dalam kasus ini,” kata Is­med.


    http://www.indosiar.com/fokus/ecw-neloe-batal-diperiksa_60934.html

    Kasus Korupsi Bank Mandiri: ECW Neloe Batal Diperiksa

    indosiar.com, Jakarta – Kejaksaan Agung Jumat (27/04/07) batal memeriksa tiga mantan Direksi Bank Mandiri dalam kasus korupsi pengambilalihan aset PT Kiani Kertas. Ketiganya yaitu ECW Neloe, I Wayan Pugeg, dan Sholeh Tasripan tidak hadir dengan alasan masih melengkapi sejumlah dokumen alat bukti.

    Tiga mantan Direksi PT Bank Mandiri itu rencananya diperiksa tim penyidik Kejaksaan Agung sekitar pukul 10.00 WIB. Namun kuasa hukum ketiga direksi Bank Mandiri yaitu ECW Neloe, I Wayan Pugeg, dan Sholeh Tasripan yang diketuai OC Kaligis mengatakan klainnya tersebut tidak dapat datang di Gedung Bundar Kejaksaan Agung. Menurut Kaligis ECW Neloe Cs masih melengkapi beberapa dokumen sebagai alat bukti sesuai permintaan tim penyidik terkait pembelian aset PT Kiani Kertas pada tahun 2002 oleh Bank Mandiri.

    Meski demikian Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Hendarman Supandji mengakui tidak puas dengan alasan yang disampaikan Kuasa Hukum OC Kaligis menyusul tidak hadirnya ECW Neloe dan kawan-kawan. Pemanggilan terhadap terpidana bebas kasus kredit macet pada PT Cipta Graha Nusantara itu menurut Hendarman akan kembali dilakukan pekan depan.

    Rencana tim penyidik Kejaksaan Agung untuk memeriksa ECW Neloe dan kawan-kawan dalam kasus Kiani Kertas ini merupakan yang pertama kalinya. Kejakgung menetapkan mereka sebagai tersangka dalam kasus pembelian PT Kiani Kertas pada tahun 2002. Kerugian negara dalam pengambilalihan aset PT Kiani Kertas tersebut diperkirakan mencapai 1,8 triliun rupiah. (Gustav Roberto dan Hengki Wiramada/Sup)


    http://www.tempo.co/read/news/2007/09/14/055107590/Mantan-Direktur-Utama-Bank-Mandiri-ECW-Neloe-Dihukum-10-Tahun

    Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ECW Neloe Dihukum 10 Tahun
    Shinta Eka P., Jum’at, 14 September 2007 | 12:49 WIB

    TEMPO Interaktif, Jakarta:Mahkamah Agung (MA) menghukum mantan Direktur Utama Bank Mandiri E.C.W. Neloe serta Direktur Risk Management I Wayan Pugeg, dan Direktur Corporate Banking M. Sholeh Tasripan masing-masing 10 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan.

    “Majelis memutus dalam rapat terbuka 13 September 2007 lalu. Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berkelanjutan,” kata Ketua Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Andi Samsan Nganro saat membacakan petikan putusan MA di kantornya, Jumat.

    Dengan keputusan ini, majelis hakim yang dipimpin Bagir Manan dan beranggotakan Iskandar Kamil, Djoko Sarwoko, Harifin A. Tumpa, dan Rehngena Purba membatalkan putusan majelis hakim PN Jakarta Selatan nomor 2068/Pid.B/2005/PN JakSel tertanggal 20 Februari 2006.

    Saat itu majelis hakim PN Jakarta Selatan memvonis bebas tiga terdakwa kasus pengucuran kredit Rp 160 miliar ke PT Cipta Graha Nusantara ini. Mereka didakwa melanggar Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

    Dalam pertimbangan majelis hakim Jakarta Selatan disebutkan unsur setiap orang, unsur melanggar hukum, dan unsur memperkaya diri sendiri atau korporasi telah terbukti. Namun, unsur kerugian negara tidak terbukti. Kemudian Jaksa Baringin Sianturi yang kala itu menuntut 20 tahun penjara mengajukan kasasi atas putusan ini.

    Andi mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti putusan MA nomor 1114K/Pid/2006 ini. “Saya telah memerintahkan panitera muda pidana Ricar Soroinda Nasution untuk segera memberitahu kejaksaan,” katanya.


    Mahkamah Agung Khawatir Neloe Kabur http://www.tempo.co/read/news/2007/09/14/055107607/Mahkamah-Agung-Khawatir-Neloe-Kabur
    Kejaksaan Persilakan Neloe Diperiksa untuk Kasus Theo http://www.tempo.co/read/news/2005/12/30/05571530/Kejaksaan-Persilakan-Neloe-Diperiksa-untuk-Kasus-Theo
    Kejaksaan Agung Kembali Periksa Neloe http://www.tempo.co/read/news/2005/07/06/05563461/Kejaksaan-Agung-Kembali-Periksa-Neloe
    Neloe dan Kawan-kawan Kembali Diperiksa http://www.tempo.co/read/news/2005/06/06/05562073/Neloe-dan-Kawan-kawan-Kembali-Diperiksa
    Kejaksaan Perpanjang Penahanan Neloe Dkk http://www.tempo.co/read/news/2005/05/30/05561678/Kejaksaan-Perpanjang-Penahanan-Neloe-Dkk


    http://rahminaamie.wordpress.com/2013/01/27/4/

    KASUS GREAT RIVER
    rahminaamie, January 27, 2013

    PEMBAHASAN KASUS

    Akuntan Publik (AP) Justinus Aditya Sidharta mulai menjadi auditor Great River sejak 2001. Saat itu perusahaan masih kesulitan membayar utang US$150 Juta kepada Deutsche Bank. Pada 2002, Great River mendapat potongan pokok utang 85 persen dan sisa utang dibayar menggunakan pinjaman dari Bank Danamon. Setahun kemudian Great River menerbitkan obligasi Rp 300 miliar untuk membayar pinjaman tersebut. “Kami hanya tahu kondisi perusahaan pada rentang 2001-2003,” kata Justinus.

    Kasus Great River berawal pada sekitar bulan Juli hingga September 2004 PT Bank Mandiri telah membeli obligasi PT Great River International, Ybk sebesar Rp50 miliar dan memberi fasilitas Kredit Investasi; Kredit Modal Kerja; dan Non Cash Loan kepada PT. Great River Internasional senilai lebih dari Rp265 milyar yang diduga mengandung unsur melawan hukum karena obligasi tersebut default dan kreditnya macet.. Obligasi tersebut saat ini berstatus default atau gagal, sedangkan kreditnya macet. Pembelian obligasi dan pemberian kredit itu diduga kuat melawan hukum.

    Kronologi Kasus

    23 Nopember 2005
    Sejak Agustus 2005, Bapepam menyidik akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan Great River tahun buku 2003. Bapepam telah menemukan adanya:
    a. Overstatement atas penyajian akun penjualan dan piutang dalam Laporan Keuangan GRIV per 31 Desember 2003; dan
    b. Penambahan aktiva tetap perseroan, khususnya yang terkait dengan penggunaan dana hasil emisi obligasi, yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

    Ketua Bapepam Fuad Rahmany menyatakan telah menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan perusahaan tekstil tersebut. “Dalam kasus Great River ini, akuntan dengan emitennya terlibat konspirasi,” katanya. Tapi dia tidak bersedia menjelaskan secara detail praktek konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River itu. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Bapepam pada tanggal 22 Nopember 2005 meningkatkan Pemeriksaan atas kasus GRIV ke tahap Penyidikan. Sehubungan dengan tindakan Penyidikan tersebut, Bapepam telah dan akan berkoordinasi dengan instansi penegak hukum terkait.

    29 Maret 2006
    ECW Neloe Dirut Bank Mandiri memenuhi panggilan penyidik Kejaksaan Agung untuk diperiksa terkait kredit macet PT Great River Internasional (PT GRI).Yang bersangkutan diperiksa dalam dugaan penyimpangan pembelian obligasi PT GRI oleh Bank Mandiri.

    17 Mei 2006
    Sunyoto Tanudjaya (ST) bos PT. Great River jadi buron keberadaannya tidak di ketahui hingga saat ini. Direktur Penyidikan Kejaksaan Agung (Kejagung) mengeluarkan surat perintah penangkapan. Sekarang dia masih buron.

    28 November 2006
    Menteri Keuangan (Menkeu) RI terhitung sejak tanggal 28 Nopember 2006 telah membekukan izin Akuntan Publik (AP) Justinus Aditya Sidharta selama dua tahun. Sanksi tersebut diberikan karena Justinus terbukti melakukan pelanggaran terhadap Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) berkaitan dengan Laporan Audit atas Laporan Keuangan Konsolidasi PT Great River International Tbk (Great River) tahun 2003.

    Selama izinnya dibekukan, Justinus dilarang memberikan jasa atestasi (pernyataan pendapat atau pertimbangan akuntan publik) termasuk audit umum, review, audit kerja dan audit khusus. Dia juga dilarang menjadi Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang Kantor Akuntan Publik (KAP). Namun yang bersangkutan tetap bertanggungjawab atas jasa-jasa yang telah diberikan serta wajib memenuhi ketentuan untuk mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL).

    Pembekuan izin oleh Menkeu ini merupakan tindak lanjut atas Surat Keputusan Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik (BPPAP) Nomor 002/VI/SK-BPPAP/VI/2006 tanggal 15 Juni 2006 yang membekukan Justinus dari keanggotaan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP). Hal ini sesuai dengan Keputusan Menkeu Nomor 423/KMK.06/2006 tentang Jasa Akuntan Publik sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menkeu Nomor 359/KMK.06/2003 yang menyatakan bahwa AP dikenakan sanksi pembekuan izin apabila AP yang bersangkutan mendapat sanksi pembekuan keanggotaan dari IAI dan atau IAI-KAP

    04 Desember 2006
    Pengumuman oleh PT Bursa Efek Surabaya bahwa PT. Great River Internasional Tbk memenuhi kriteria delisting dengan menunjuk keterlambatan penyampaian laporan keuangan:
    Untuk tanggal yang berakhir pada 31 Desember2004 (audited)
    Untuk tanggal yang berakhir pada 30 Juni 2005
    Untuk tanggal yang berakhir pada 31 Desember2005 (audited)
    Untuk tanggal yang berakhir pada 30 Juni 2006

    08 Desember 2006
    Kasus Great River semakin mencuat setelah adanya temuan auditor investigasi Aryanto, Amir Jusuf, dan Mawar, yang menemukan indikasi penggelembungan account penjualan, piutang, dan aset hingga ratusan miliar rupiah di Great River. Akibatnya, Great River mengalami kesulitan arus kas dan gagal membayar utang.
    Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melimpahkan kasus penyajian laporan keuangan PT Great River International Tbk. ke Kejaksaan Tinggi. Ketua Bapepam Fuad Rahmany menyatakan telah menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan perusahaan tekstil tersebut. “Dalam kasus Great River ini, akuntan dengan emitennya terlibat konspirasi,” katanya.Tapi dia tidak bersedia menjelaskan secara detail praktek konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River itu.
    Fuad hanya menyatakan tugas akuntan adalah hanya memberikan opini atas laporan perusahaan. Akuntan, kata dia, tidak boleh melakukan segala macam rekayasa dalam tugasnya. “Karena ada sanksi berat untuk (rekayasa) itu,” katanya.

    Seperti diketahui, sejak Agustus lalu, Bapepam menyidik akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan Great River tahun buku 2003. Bapepam juga sudah menetapkan empat anggota direksi Great River sebagai tersangka, termasuk pemiliknya,SunjotoTanudjaja.
    Penyidikan berdasarkan hasil pemeriksaan adanya indikasi penipuan dalam penyajian laporan keuangan. Pasalnya, Bapepam menemukan kelebihan pencatatan atau overstatement penyajian account penjualan dan piutang dalam laporan tersebut. Kelebihan itu berupa penambahan aktiva tetap dan penggunaan dana hasil emisi obligasi yang tanpa pembuktian.

    Akibatnya, Great River kesulitan arus kas. Perusahaan tidak mampu membayar utang Rp 250 miliar kepada Bank Mandiri dan gagal membayar obligasi senilai Rp 400 miliar.
    Kuasa hukum Sunjoto Tanudjaja, J. Pieter Nazar, menyatakan sudah mengetahui kliennya akan disangkakan terlibat dalam manipulasi laporan keuangan Great River bersama oknum akuntan publik.

    20 Desember 2006
    Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) telah melimpahkan kasus penyajian laporan keuangan Great River ke Kejaksaan Agung pada tanggal 20 Desember 2006. Dalam laporan tersebut, empat anggota direksi perusahaan tekstil itu ditetapkan menjadi tersangka, termasuk pemiliknya, Sunjoto Tanudjaja. Bapepam menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River. Tak tertutup kemungkinan, Akuntan Publik yang menyajikan laporan keuangan Great River itu ikut menjadi tersangka.

    02 April 2007
    Menunjuk Pengumuman Bursa No. Peng-01/BEJ-PSJ/SPT/01-2005 tertanggal 13 Januari 2005 mengenai suspensi perdagangan saham GRIV yang telah berjalan lebih dari 2 (dua) tahun, serta kondisi PT Great River International Tbk yang saat ini tidak berjalan normal (operasional perusahaan lumpuh) sesuai kapasitas yang ada dan dipandang berpengaruh terhadap going concern Perusahaan Tercatat, dimana belum terdapat indikasi pemulihan yang memadai atas kondisi tersebut, maka mengacu pada Peraturan Pencatatan PT Bursa Efek Jakarta Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa angka III.3.1, Bursa menghapus pencatatan saham Perusahaan Tercatat sesuai dengan ketentuan peraturan ini apabila Perusahaan Tercatat mengalami sekurang-kurangnya satu kondisi di bawah ini :
    1. Mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha Perusahaan Tercatat, baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status Perusahaan Tercatat sebagai Perusahaan Terbuka, dan Perusahaan Tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai;
    2. Saham Perusahaan Tercatat yang akibat suspensi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, hanya diperdagangkan di pasar Negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 (dua puluh empat) bulan terakhir.

    Atas dasar hal tersebut, Bursa Efek Jakarta memutuskan untuk menghapuskan pencatatan Efek PT Great River International Tbk. yang berlaku efektif pada tanggal 2 Mei 2007. Selain itu terdapat pertimbangan lain yang mendasari keputusan penghapusan pencatatan Efek Perseroan yaitu belum dipenuhinya kewajiban penyampaian Laporan Keuangan dan kewajiban finansial Perseroan kepada Bursa berupa penyampaian Laporan Keuangan Tahunan Auditan Tahun 2004 dan 2005 serta Laporan Keuangan Triwulan I, Tengah Tahunan dan Triwulan III Tahun 2005 dan 2006 serta denda keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan baik Auditan maupun triwulanan tahun 2004, 2005 dan 2006 dan pembayaran Biaya Pencatatan Tahunan (ALF) tahun 2005 dan 2006 hingga saat dikeluarkannya pengumuman ini.

    PELANGGARAN KODE ETIK AKUNTAN DI BALIK SKANDAL PT. GREAT RIVER INTERNASIONAL, Tbk

    Kasus Great River semakin mencuat setelah adanya temuan auditor investigasi Aryanto, Amir Jusuf, dan Mawar, yang menemukan indikasi penggelembungan account penjualan, piutang, dan aset hingga ratusan miliar rupiah di Great River. Akibatnya, Great River mengalami kesulitan arus kas dan gagal membayar utang.

    Bapepam menyatakan telah menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan perusahaan tekstil tersebut. Dalam kasus ini, akuntan dengan emitennya terlibat konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River itu.
    Bapepam menyidik akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan Great River tahun buku 2003. Bapepam telah menemukan adanya:
    a. Overstatement atas penyajian akun penjualan dan piutang dalam Laporan Keuangan GRIV per 31 Desember 2003; dan
    b. Penambahan aktiva tetap perseroan, khususnya yang terkait dengan penggunaan dana hasil emisi obligasi, yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

    Sehingga perusahaan tekstil tersebut mengalami kelebihan pendapatan (overstatement) yang seharusnya justru merugi. Semestinya semua pihak untuk menjaga dan melindungi perusahaan dari praktik kecurangan sehingga perusahaan dan akuntan agar melaksanaan internal control yang dapat menghindari kecurangan itu diterapkan.

    Salah satu hal yang ditekankan pasca skandal ini adalah perlunya etika profesi. Selama ini bukan berarti etika professi tidak penting bahkan sejak awal professi akuntan sudah memiliki dan terus menerus memperbaiki Kode Etik Professinya baik di USA maupun di Indonesia. Etika adalah aturan tentang baik dan buruk. Kode etik mengatur anggotanya dan menjelaskan hal apa yang baik dan tidak baik dan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai anggota professi baik dalam berhubungan dengan kolega, langganan, masyarakat dan pegawai. Kenyataannya konsep etika yang selama ini dijadikan penopang untuk menegakkan praktik yang sehat yang bebas dari kecurangan tampaknya tidak cukup kuat menghadapi sifat sifat “selfish dan egois”, kerakusan ekonomi yang dimiliki setiap pelaku pasar modal, dan manajemen yang bermoral rendah yang hanya ingin mementingkan keuntungan ekonomis pribadinya.

    Profesi akuntan publik bisa dikatakan sebagai salah satu profesi kunci di era globalisasi untuk mewujudkan era transparansi bisnis yang fair, oleh karena itu kesiapan yang menyangkut profesionalisme mensyaratkan hal utama yang harus dipunyai oleh setiap anggota profesi yaitu: keahlian, berpengetahuan dan berkarakter. Dalam kenyataannya, banyak akuntan yang tidak memahami kode etik profesinya sehingga dalam prakteknya mereka banyak melanggar kode etik. Hal ini menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi. Kondisi ini diperburuk dengan adanya perilaku beberapa akuntan yang sengaja melanggar kode etik profesinya demi memenuhi kepentingan mereka sendiri.

    Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan Akuntan Indonesia. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada akuntan untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan juga dengan masyarakat. Selain dengan kode etik akuntan juga merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika sebagaimana yang diatur dalam kode etik profesi.

    Kasus PT Great River International, Tbk di atas, yang melibatkan akuntan publik Justinus Aditya Sidharta, dianggap telah menyalahi aturan mengenai kode etik profesi akuntan, terutama yang berkaitan dengan integritas dan objektivitas. Akuntan publik Justinus Aditya Sidharta dianggap telah melakukan tindak kebohongan publik, dimana dia tidak melaporkan kondisi keuangan PT Great River International, Tbk secara jujur.

    Menurut pengertiannya, integritas dapat berarti kepatuhan terhadap nilai-nilai moral, prinsip-prinsip, serta nilai-nilai lainnya yang terdapat dalam masyarakat pada umumnya. Pelanggaran integritas berarti seseorang telah melanggar aturan-aturan yang telah disepakati secara umum. Sedangkan objektivitas merupakan pernyataan jujur dan apa adanya terhadap suatu hal. Pelanggaran objektivitas menunjukkan bahwa seseorang telah berani melakukan tindak kebohongan / kecurangan dalam melakukan suatu hal. Kedua nilai ini, bersama dengan independensi, merupakan nilai dasar yang harus dimiliki oleh seorang akuntan publik agar seorang akuntan publik dapat menghasilkan suatu laporan yang sifatnya akurat dan dapat dipercaya. Tanpa adanya nilai-nilai dasar tersebut, seorang akuntan publik tidak ada bedanya dengan seorang penjahat yang tidak bermoral.


    http://rahminaamie.wordpress.com/2013/02/08/kasus-great-river/

    KASUS GREAT RIVER
    rahminaamie, February 8, 2013

    PEMBAHASAN KASUS

    Akuntan Publik (AP) Justinus Aditya Sidharta mulai menjadi auditor Great River sejak 2001. Saat itu perusahaan masih kesulitan membayar utang US$150 Juta kepada Deutsche Bank. Pada 2002, Great River mendapat potongan pokok utang 85 persen dan sisa utang dibayar menggunakan pinjaman dari Bank Danamon. Setahun kemudian Great River menerbitkan obligasi Rp 300 miliar untuk membayar pinjaman tersebut. “Kami hanya tahu kondisi perusahaan pada rentang 2001-2003,” kata Justinus.

    Kasus Great River berawal pada sekitar bulan Juli hingga September 2004 PT Bank Mandiri telah membeli obligasi PT Great River International, Ybk sebesar Rp50 miliar dan memberi fasilitas Kredit Investasi; Kredit Modal Kerja; dan Non Cash Loan kepada PT. Great River Internasional senilai lebih dari Rp265 milyar yang diduga mengandung unsur melawan hukum karena obligasi tersebut default dan kreditnya macet.. Obligasi tersebut saat ini berstatus default atau gagal, sedangkan kreditnya macet. Pembelian obligasi dan pemberian kredit itu diduga kuat melawan hukum.

    Kronologi Kasus 23 Nopember 2005

    Sejak Agustus 2005, Bapepam menyidik akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan Great River tahun buku 2003. Bapepam telah menemukan adanya:
    a. Overstatement atas penyajian akun penjualan dan piutang dalam Laporan Keuangan GRIV per 31 Desember 2003; dan
    b. Penambahan aktiva tetap perseroan, khususnya yang terkait dengan penggunaan dana hasil emisi obligasi, yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

    Ketua Bapepam Fuad Rahmany menyatakan telah menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan perusahaan tekstil tersebut. “Dalam kasus Great River ini, akuntan dengan emitennya terlibat konspirasi,” katanya. Tapi dia tidak bersedia menjelaskan secara detail praktek konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River itu. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Bapepam pada tanggal 22 Nopember 2005 meningkatkan Pemeriksaan atas kasus GRIV ke tahap Penyidikan. Sehubungan dengan tindakan Penyidikan tersebut, Bapepam telah dan akan berkoordinasi dengan instansi penegak hukum terkait.

    29 Maret 2006
    ECW Neloe Dirut Bank Mandiri memenuhi panggilan penyidik Kejaksaan Agung untuk diperiksa terkait kredit macet PT Great River Internasional (PT GRI).Yang bersangkutan diperiksa dalam dugaan penyimpangan pembelian obligasi PT GRI oleh Bank Mandiri.

    17 Mei 2006
    Sunyoto Tanudjaya (ST) bos PT. Great River jadi buron keberadaannya tidak di ketahui hingga saat ini. Direktur Penyidikan Kejaksaan Agung (Kejagung) mengeluarkan surat perintah penangkapan. Sekarang dia masih buron.

    28 November 2006
    Menteri Keuangan (Menkeu) RI terhitung sejak tanggal 28 Nopember 2006 telah membekukan izin Akuntan Publik (AP) Justinus Aditya Sidharta selama dua tahun. Sanksi tersebut diberikan karena Justinus terbukti melakukan pelanggaran terhadap Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) berkaitan dengan Laporan Audit atas Laporan Keuangan Konsolidasi PT Great River International Tbk (Great River) tahun 2003.
    Selama izinnya dibekukan, Justinus dilarang memberikan jasa atestasi (pernyataan pendapat atau pertimbangan akuntan publik) termasuk audit umum, review, audit kerja dan audit khusus. Dia juga dilarang menjadi Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang Kantor Akuntan Publik (KAP). Namun yang bersangkutan tetap bertanggungjawab atas jasa-jasa yang telah diberikan serta wajib memenuhi ketentuan untuk mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL).
    Pembekuan izin oleh Menkeu ini merupakan tindak lanjut atas Surat Keputusan Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik (BPPAP) Nomor 002/VI/SK-BPPAP/VI/2006 tanggal 15 Juni 2006 yang membekukan Justinus dari keanggotaan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI-KAP). Hal ini sesuai dengan Keputusan Menkeu Nomor 423/KMK.06/2006 tentang Jasa Akuntan Publik sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menkeu Nomor 359/KMK.06/2003 yang menyatakan bahwa AP dikenakan sanksi pembekuan izin apabila AP yang bersangkutan mendapat sanksi pembekuan keanggotaan dari IAI dan atau IAI-KAP

    04 Desember 2006
    Pengumuman oleh PT Bursa Efek Surabaya bahwa PT. Great River Internasional Tbk memenuhi kriteria delisting dengan menunjuk keterlambatan penyampaian laporan keuangan:
    Untuk tanggal yang berakhir pada 31 Desember2004 (audited)
    Untuk tanggal yang berakhir pada 30 Juni 2005
    Untuk tanggal yang berakhir pada 31 Desember2005 (audited)
    Untuk tanggal yang berakhir pada 30 Juni 2006

    08 Desember 2006
    Kasus Great River semakin mencuat setelah adanya temuan auditor investigasi Aryanto, Amir Jusuf, dan Mawar, yang menemukan indikasi penggelembungan account penjualan, piutang, dan aset hingga ratusan miliar rupiah di Great River. Akibatnya, Great River mengalami kesulitan arus kas dan gagal membayar utang.
    Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melimpahkan kasus penyajian laporan keuangan PT Great River International Tbk. ke Kejaksaan Tinggi. Ketua Bapepam Fuad Rahmany menyatakan telah menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan perusahaan tekstil tersebut. “Dalam kasus Great River ini, akuntan dengan emitennya terlibat konspirasi,” katanya.Tapi dia tidak bersedia menjelaskan secara detail praktek konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River itu.
    Fuad hanya menyatakan tugas akuntan adalah hanya memberikan opini atas laporan perusahaan. Akuntan, kata dia, tidak boleh melakukan segala macam rekayasa dalam tugasnya. “Karena ada sanksi berat untuk (rekayasa) itu,” katanya.

    Seperti diketahui, sejak Agustus lalu, Bapepam menyidik akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan Great River tahun buku 2003. Bapepam juga sudah menetapkan empat anggota direksi Great River sebagai tersangka, termasuk pemiliknya,SunjotoTanudjaja. Penyidikan berdasarkan hasil pemeriksaan adanya indikasi penipuan dalam penyajian laporan keuangan. Pasalnya, Bapepam menemukan kelebihan pencatatan atau overstatement penyajian account penjualan dan piutang dalam laporan tersebut. Kelebihan itu berupa penambahan aktiva tetap dan penggunaan dana hasil emisi obligasi yang tanpa pembuktian. Akibatnya, Great River kesulitan arus kas. Perusahaan tidak mampu membayar utang Rp 250 miliar kepada Bank Mandiri dan gagal membayar obligasi senilai Rp 400 miliar.
    Kuasa hukum Sunjoto Tanudjaja, J. Pieter Nazar, menyatakan sudah mengetahui kliennya akan disangkakan terlibat dalam manipulasi laporan keuangan Great River bersama oknum akuntan publik.

    20 Desember 2006
    Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) telah melimpahkan kasus penyajian laporan keuangan Great River ke Kejaksaan Agung pada tanggal 20 Desember 2006. Dalam laporan tersebut, empat anggota direksi perusahaan tekstil itu ditetapkan menjadi tersangka, termasuk pemiliknya, Sunjoto Tanudjaja. Bapepam menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River. Tak tertutup kemungkinan, Akuntan Publik yang menyajikan laporan keuangan Great River itu ikut menjadi tersangka.

    02 April 2007
    Menunjuk Pengumuman Bursa No. Peng-01/BEJ-PSJ/SPT/01-2005 tertanggal 13 Januari 2005 mengenai suspensi perdagangan saham GRIV yang telah berjalan lebih dari 2 (dua) tahun, serta kondisi PT Great River International Tbk yang saat ini tidak berjalan normal (operasional perusahaan lumpuh) sesuai kapasitas yang ada dan dipandang berpengaruh terhadap going concern Perusahaan Tercatat, dimana belum terdapat indikasi pemulihan yang memadai atas kondisi tersebut, maka mengacu pada Peraturan Pencatatan PT Bursa Efek Jakarta Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa angka III.3.1, Bursa menghapus pencatatan saham Perusahaan Tercatat sesuai dengan ketentuan peraturan ini apabila Perusahaan Tercatat mengalami sekurang-kurangnya satu kondisi di bawah ini :
    1. Mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha Perusahaan Tercatat, baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status Perusahaan Tercatat sebagai Perusahaan Terbuka, dan Perusahaan Tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai;
    2. Saham Perusahaan Tercatat yang akibat suspensi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, hanya diperdagangkan di pasar Negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 (dua puluh empat) bulan terakhir.

    Atas dasar hal tersebut, Bursa Efek Jakarta memutuskan untuk menghapuskan pencatatan Efek PT Great River International Tbk. yang berlaku efektif pada tanggal 2 Mei 2007. Selain itu terdapat pertimbangan lain yang mendasari keputusan penghapusan pencatatan Efek Perseroan yaitu belum dipenuhinya kewajiban penyampaian Laporan Keuangan dan kewajiban finansial Perseroan kepada Bursa berupa penyampaian Laporan Keuangan Tahunan Auditan Tahun 2004 dan 2005 serta Laporan Keuangan Triwulan I, Tengah Tahunan dan Triwulan III Tahun 2005 dan 2006 serta denda keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan baik Auditan maupun triwulanan tahun 2004, 2005 dan 2006 dan pembayaran Biaya Pencatatan Tahunan (ALF) tahun 2005 dan 2006 hingga saat dikeluarkannya pengumuman ini.

    PELANGGARAN KODE ETIK AKUNTAN DI BALIK SKANDAL PT. GREAT RIVER INTERNASIONAL, Tbk

    Kasus Great River semakin mencuat setelah adanya temuan auditor investigasi Aryanto, Amir Jusuf, dan Mawar, yang menemukan indikasi penggelembungan account penjualan, piutang, dan aset hingga ratusan miliar rupiah di Great River. Akibatnya, Great River mengalami kesulitan arus kas dan gagal membayar utang.

    Bapepam menyatakan telah menemukan adanya indikasi konspirasi dalam penyajian laporan keuangan perusahaan tekstil tersebut. Dalam kasus ini, akuntan dengan emitennya terlibat konspirasi dalam penyajian laporan keuangan Great River itu. Bapepam menyidik akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan Great River tahun buku 2003. Bapepam telah menemukan adanya:
    a. Overstatement atas penyajian akun penjualan dan piutang dalam Laporan Keuangan GRIV per 31 Desember 2003; dan
    b. Penambahan aktiva tetap perseroan, khususnya yang terkait dengan penggunaan dana hasil emisi obligasi, yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

    Sehingga perusahaan tekstil tersebut mengalami kelebihan pendapatan (overstatement) yang seharusnya justru merugi. Semestinya semua pihak untuk menjaga dan melindungi perusahaan dari praktik kecurangan sehingga perusahaan dan akuntan agar melaksanaan internal control yang dapat menghindari kecurangan itu diterapkan.

    Salah satu hal yang ditekankan pasca skandal ini adalah perlunya etika profesi. Selama ini bukan berarti etika professi tidak penting bahkan sejak awal professi akuntan sudah memiliki dan terus menerus memperbaiki Kode Etik Professinya baik di USA maupun di Indonesia. Etika adalah aturan tentang baik dan buruk. Kode etik mengatur anggotanya dan menjelaskan hal apa yang baik dan tidak baik dan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai anggota professi baik dalam berhubungan dengan kolega, langganan, masyarakat dan pegawai. Kenyataannya konsep etika yang selama ini dijadikan penopang untuk menegakkan praktik yang sehat yang bebas dari kecurangan tampaknya tidak cukup kuat menghadapi sifat sifat “selfish dan egois”, kerakusan ekonomi yang dimiliki setiap pelaku pasar modal, dan manajemen yang bermoral rendah yang hanya ingin mementingkan keuntungan ekonomis pribadinya.

    Profesi akuntan publik bisa dikatakan sebagai salah satu profesi kunci di era globalisasi untuk mewujudkan era transparansi bisnis yang fair, oleh karena itu kesiapan yang menyangkut profesionalisme mensyaratkan hal utama yang harus dipunyai oleh setiap anggota profesi yaitu: keahlian, berpengetahuan dan berkarakter. Dalam kenyataannya, banyak akuntan yang tidak memahami kode etik profesinya sehingga dalam prakteknya mereka banyak melanggar kode etik. Hal ini menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi. Kondisi ini diperburuk dengan adanya perilaku beberapa akuntan yang sengaja melanggar kode etik profesinya demi memenuhi kepentingan mereka sendiri.

    Dalam menjalankan profesinya seorang akuntan di Indonesia diatur oleh suatu kode etik profesi dengan nama kode etik Ikatan Akuntan Indonesia. Kode etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan tatanan etika dan prinsip moral yang memberikan pedoman kepada akuntan untuk berhubungan dengan klien, sesama anggota profesi dan juga dengan masyarakat. Selain dengan kode etik akuntan juga merupakan alat atau sarana untuk klien, pemakai laporan keuangan atau masyarakat pada umumnya, tentang kualitas atau mutu jasa yang diberikannya karena melalui serangkaian pertimbangan etika sebagaimana yang diatur dalam kode etik profesi.

    Kasus PT Great River International, Tbk di atas, yang melibatkan akuntan publik Justinus Aditya Sidharta, dianggap telah menyalahi aturan mengenai kode etik profesi akuntan, terutama yang berkaitan dengan integritas dan objektivitas. Akuntan publik Justinus Aditya Sidharta dianggap telah melakukan tindak kebohongan publik, dimana dia tidak melaporkan kondisi keuangan PT Great River International, Tbk secara jujur.

    Menurut pengertiannya, integritas dapat berarti kepatuhan terhadap nilai-nilai moral, prinsip-prinsip, serta nilai-nilai lainnya yang terdapat dalam masyarakat pada umumnya. Pelanggaran integritas berarti seseorang telah melanggar aturan-aturan yang telah disepakati secara umum. Sedangkan objektivitas merupakan pernyataan jujur dan apa adanya terhadap suatu hal. Pelanggaran objektivitas menunjukkan bahwa seseorang telah berani melakukan tindak kebohongan / kecurangan dalam melakukan suatu hal. Kedua nilai ini, bersama dengan independensi, merupakan nilai dasar yang harus dimiliki oleh seorang akuntan publik agar seorang akuntan publik dapat menghasilkan suatu laporan yang sifatnya akurat dan dapat dipercaya. Tanpa adanya nilai-nilai dasar tersebut, seorang akuntan publik tidak ada bedanya dengan seorang penjahat yang tidak bermoral.


     
  • Virtual Chitchatting 5:49 PM on 2014/04/25 Permalink  

    Antasari Azhar sebagai benang merah dalam 2 kasus mega skandal, Bank Bali dan Bank Century

    http://faktakriminalisasi.wordpress.com/2009/11/12/fakta-di-balik-kriminalisasi-kpk-dan-keterlibatan-sby/

    https://ahmadsamantho.wordpress.com/2009/11/17/fakta-di-balik-kriminalisasi-kpk-dan-keterlibatan-sby/

    Fakta di Balik Kriminalisasi KPK, dan Keterlibatan SBY
    Rina Dewreight, November 12, 2009 4:16

    Apa yang terjadi selama ini sebetulnya bukanlah kasus yang sebenarnya, tetapi hanya sebuah ujung dari konspirasi besar yang memang bertujuan mengkriminalisasi institusi KPK. Dengan cara terlebih dahulu mengkriminalisasi pimpinan, kemudian menggantinya sesuai dengan orang-orang yang sudah dipilih oleh “sang sutradara”, akibatnya, meskipun nanti lembaga ini masih ada namun tetap akan dimandulkan.

    Agar Anda semua bisa melihat persoalan ini lebih jernih, mari kita telusuri mulai dari kasus Antasari Azhar. Sebagai pimpinan KPK yang baru, menggantikan Taufiqurahman Ruqi, gerakan Antasari memang luar biasa. Dia main tabrak kanan dan kiri, siapa pun dibabat, termasuk besan Presiden SBY.

    Antasari yang disebut-sebut sebagai orangnya Megawati (PDIP), ini tidak pandang bulu karena siapapun yang terkait korupsi langsung disikat. Bahkan, beberapa konglomerat hitam – yang kasusnya masih menggantung pada era sebelum era Antasari, sudah masuk dalam agenda pemeriksaaanya.

    Tindakan Antasari yang hajar kanan-kiri, dinilai Jaksa Agung Hendarman sebagai bentuk balasan dari sikap Kejaksaan Agung yang tebang pilih, dimana waktu Hendraman jadi Jampindsus, dialah yang paling rajin menangkapi Kepala Daerah dari Fraksi PDIP. Bahkan atas sukses menjebloskan Kepala Daerah dari PDIP, dan orang-orang yang dianggap orangnya Megawati, seperti ECW Neloe, maka Hendarman pun dihadiahi jabatan sebagai Jaksa Agung.

    Setelah menjadi Jaksa Agung, Hendarman makin resah, karena waktu itu banyak pihak termasuk DPR menghendaki agar kasus BLBI yang melibatkan banyak konglomerat hitam dan kasusnya masih terkatung -katung di Kejaksaan dan Kepolisian untuk dilimpahkan atau diambilalih KPK. Tentu saja hal ini sangat tidak diterima kalangan kejaksaan, dan Bareskrim, karena selama ini para pengusaha ini adalah tambang duit dari para aparat Kejaksaan dan Kepolisian, khususnya Bareskrim. Sekedar diketahui Bareskrim adalah supplier keungan untuk Kapolri dan jajaran perwira polisi lainnya.

    Sikap Antasari yang berani menahan besan SBY, sebetulnya membuat SBY sangat marah kala itu. Hanya, waktu itu ia harus menahan diri, karena dia harus menjaga citra, apalagi moment penahanan besannya mendekati Pemilu, dimana dia akan mencalonkan lagi. SBY juga dinasehati oleh orang-orang dekatnya agar moment itu nantinya dapat dipakai untuk bahan kampanye, bahwa seorang SBY tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. SBY terus mendendam apalagi, setiap ketemu menantunya Anisa Pohan , suka menangis sambil menanyakan nasib ayahnya.

    Dendam SBY yang membara inilah yang dimanfaatkan oleh Kapolri dan Jaksa Agung untuk mendekati SBY, dan menyusun rencana untuk “melenyapkan” Antasari. Tak hanya itu, Jaksa Agung dan Kapolri juga membawa konglomerat hitam pengemplang BLBI [seperti Syamsul Nursalim, Agus Anwar, Liem Sioe Liong, dan lain-lainnya), dan konglomerat yang tersandung kasus lainnya seperti James Riyadi (kasus penyuapan yang melibatkan salah satu putra mahkota Lippo, Billy Sindoro terhadap oknun KPPU dalam masalah Lipo-enet/Astro, dimana waktu itu Billy langsung ditangkap KPK dan ditahan), Harry Tanoe (kasus NCD Bodong dan Sisminbakum yang selama masih mengantung di KPK), Tommy Winata (kasus perusahaan ikan di Kendari, Tommy baru sekali diperiksa KPK), Sukanto Tanoto (penggelapan pajak Asian Agri), dan beberapa konglomerat lainnya].

    Para konglomerat hitam itu berjanji akan membiayai pemilu SBY, namun mereka minta agar kasus BLBI , dan kasus-kasus lainnya tidak ditangani KPK. Jalur pintas yang mereka tempuh untuk “menghabisi Antasari ” adalah lewat media. Waktu itu sekitar bulan Februari- Maret 2008 semua wartawan Kepolisian dan juga Kejaksaan (sebagian besar adalah wartawan brodex – wartawan yang juga doyan suap) diajak rapat di Hotel Bellagio Kuningan. Ada dana yang sangat besar untuk membayar media, di mana tugas media mencari sekecil apapun kesalahan Antasari. Intinya media harus mengkriminalisasi Antasari, sehingga ada alasan menggusur Antasari.

    Nyatanya, tidak semua wartawan itu “hitam”, namun ada juga wartawan yang masih putih, sehingga gerakan mengkriminalisaai Antasari lewat media tidak berhasil.

    Antasari sendiri bukan tidak tahu gerakan-gerakan yang dilakukan Kapolri dan Jaksa Agung yang di back up SBY untuk menjatuhkannya. Antasari bukannya malah nurut atau takut, justeru malah menjadi-hadi dan terkesan melawan SBY. Misalnya Antasari yang mengetahui Bank Century telah dijadikan “alat” untuk mengeluarkan duit negara untuk membiayai kampanye SBY, justru berkoar akan membongkar skandal bank itu. Antasari sangat tahu siapa saja operator -operator Century, dimana Sri Mulyani dan Budiono bertugas mengucurkan duit dari kas negara, kemudian Hartati Mudaya, dan Budi Sampurna, (adik Putra Sanpurna) bertindak sebagai nasabah besar yang seolah-olah menyimpan dana di Century, sehingga dapat ganti rugi, dan uang inilah yang digunakan untuk biaya kampanye SBY.

    Tentu saja, dana tersebut dijalankan oleh Hartati Murdaya, dalam kapasitasnya sebagai Bendahara Paratai Demokrat, dan diawasi oleh Eddy Baskoro plus Djoko Sujanto (Menkolhukam) yang waktu itu jadi Bendahara Tim Sukses SBY. Modus penggerogotan duit Negara ini biar rapi maka harus melibatkan orang bank (agar terkesan Bank Century diselamatkan pemerintah), maka ditugaskan lah Agus Martowardoyo (Dirut Bank Mandiri), yang kabarnya akan dijadikan Gubernur BI ini. Agus Marto lalu menyuruh Sumaryono (pejabat Bank Mandiri yang terkenal lici dan korup) untuk memimpin Bank Century saat pemerintah mulai mengalirkan duit 6,7 T ke Bank Century.

    Antasari bukan hanya akan membongkar Century, tetapi dia juga mengancam akan membongkar proyek IT di KPU, dimana dalam tendernya dimenangkan oleh perusahaannya Hartati Murdaya (Bendahara Demokrat). Antasari sudah menjadi bola liar, ia membahayakan bukan hanya SBY tetapi juga Kepolisian, Kejaksaan, dan para konglomerat , serta para innercycle SBY. Akhirnya Kapolri dan Kejaksaan Agung membungkam Antasari. Melalui para intel akhirnya diketahui orang-orang dekat Antasari untuk menggunakan menjerat Antasari.

    Orang pertama yang digunakan adalah Nasrudin Zulkarnaen. Nasrudin memang cukup dekat Antasari sejak Antasari menjadi Kajari, dan Nasrudin masih menjadi pegawai. Maklum Nasrudin ini memang dikenal sebagai Markus (Makelar Kasus). Dan ketika Antasari menjadi Ketua KPK, Nasrudin melaporkan kalau ada korupsi di tubuh PT Rajawali Nusantara Indonesia (induk Rajawali Putra Banjaran). Antasari minta data-data tersebut, Nasrudin menyanggupi, tetapi dengan catatan Antasari harus menjerat seluruh jajaran direksi PT Rajawali, dan merekomendasarkan ke Menteri BUMN agar ia yang dipilih menjadi dirut PT RNI, begitu jajaran direksi PT RNI ditangkap KPK.

    Antasari tadinya menyanggupi transaksi ini, namun data yang diberikan Nasrudin ternyata tidak cukup bukti untuk menyeret direksi RNI, sehingga Antasari belum bisa memenuhi permintaan Nasrudin. Seorang intel polsi yang mencium kekecewaan Nasrudin, akhirnya mengajak Nasrudin untuk bergabung untuk melindas Antasari. Dengan iming-iming, jasanya akan dilaporkan ke Presiden SBY dan akan diberi uang yang banyak, maka skenario pun disusun, dimana Nasrudin disuruh mengumpan Rani Yulianti untuk menjebak Antasari.

    Rupanya dalam rapat antara Kapolri dan Kejaksaan, yang diikuti Kabareskrim. melihat kalau skenario menurunkan Antasari hanya dengan umpan perempuan, maka alasan untuk mengganti Antasari sangat lemah. Oleh karena itu tercetuslah ide untuk melenyapkan Nasrudin, dimana dibuat skenario seolah yang melakukan Antasari. Agar lebih sempurna, maka dilibatkanlah pengusaha Sigit Hario Wibisono. Mengapa polisi dan kejaksaan memilih Sigit, karena seperti Nasrudin, Sigit adalah kawan Antasari, yang kebetulan juga akan dibidik oleh Antasari dalam kasus penggelapan dana di Departemen Sosial sebasar Rp 400 miliar.

    Sigit yang pernah menjadi staf ahli di Depsos ini ternyata menggelapakan dana bantuan tsunami sebesar Rp 400 miliar. Sebagai teman, Antasari, mengingatkan agar Sigit lebih baik mengaku, sehingga tidak harus “dipaksa KPK”. Nah Sigit yang juga punya hubungan dekat dengan Polisi dan Kejaksaan, mengaku merasa ditekan Antasari. Di situlah kemudian Polisi dan Kejaksaan melibatkan Sigit dengan meminta untuk memancing Antasari ke rumahnya, dan diajak ngobrol seputar tekana-tekanan yang dilakukan oleh Nasrudin. Terutama, yang berkait dengan “terjebaknya: Antasari di sebuah hotel dengan istri ketiga Nasrudin.

    Nasrudin yang sudah berbunga-bunga, tidak pernah menyangka, bahwa akhirnya dirinyalah yang dijadikan korban, untuk melengserkan Antasari selama-laamnya dari KPK. Dan akhirnya disusun skenario yang sekarang seperti diajukan polisi dalam BAP-nya. Kalau mau jujur, eksekutor Nasrudin buknalah tiga orang yangs sekarang ditahan polisi, tetapi seorang polisi (Brimob ) yang terlatih.

    Bibit dan Chandra. Lalu bagaimana dengan Bibit dan Chandra? Kepolisian dan Kejaksaan berpikir dengan dibuinya Antasari, maka KPK akan melemah. Dalam kenyataannya, tidak demikian. Bibit dan Chandra , termasuk yang rajin meneruskan pekerjaan Antasari. Seminggu sebelum Antasari ditangkap, Antasari pesan wanti-wanti agar apabila terjadi apa-apa pada dirinya, maka penelusuran Bank Century dan IT KPU harus diteruskan.

    Itulah sebabnya KPK terus akan menyelidiki Bank Century, dengan terus melakukan penyadapan-penyadapan. Nah saat melakukan berbagai penyadapan, nyangkutlah Susno yang lagi terima duit dari Budi Sammpoerna sebesar Rp 10 miliar, saat Budi mencairkan tahap pertama sebasar US $ 18 juta atau 180 miliar dari Bank Century. Sebetulnya ini bukan berkait dengan peran Susno yang telah membuat surat ke Bank Century (itu dibuat seperti itu biar seolah-olah duit komisi), duit itu merupakan pembagian dari hasil jarahan Bank Century untuk para perwira Polri. Hal ini bisa dipahami, soalnya polisi kan tahu modus operansi pembobolan duit negara melalui Century oleh inner cycle SBY.

    Bibit dan Chandra adalah dua pimpinan KPK yang intens akan membuka skandal bank Bank Century. Nah, karena dua orang ini membahayakan, Susno pun ditugasi untuk mencari-cari kesalahan Bibit dan Chandra. Melalui seorang Markus (Eddy Sumarsono) diketahui, bahwa Bibit dan Chandra mengeluarkan surat cekal untuk Anggoro. Maka dari situlah kemudian dibuat Bibit dan Chandra melakukan penyalahgunaan wewenang.

    Nah, saat masih dituduh menyalahgunakan wewenang, rupanya Bibit dan Chandra bersama para pengacara terus melawan, karena alibi itu sangat lemah, maka disusunlah skenario terjadinya pemerasan. Di sinilah Antasari dibujuk dengan iming-iming, ia akan dibebaskan dengan bertahap (dihukum tapi tidak berat), namun dia harus membuat testimony, bahwa Bibit dan Chandra melakukan pemerasan.

    Berbagai cara dilakukan, Anggoro yang memang dibidik KPK, dijanjikan akan diselsaikan masalahnya Kepolisian dan Jaksa, maka disusunlah berbagai skenario yang melibatkanAnggodo, karena Angodo juga selama ini sudah biasa menjadi Markus. Persoalan menjadi runyam, ketika media mulai mengeluarkan sedikir rekaman yang ada kalimat R1-nya. Saat dimuat media, SBY konon sangat gusar, juga orang-orang dekatnya, apalagi Bibit dan Chandra sangat tahu kasus Bank Century. Kapolri dan Jaksa Agung konon ditegur habis Presiden SBY agar persoalan tidak meluas, maka ditahanlah Bibit dan Chandra ditahan. Tanpa diduga, rupanya penahaan Bibit dan Chandra mendapat reaksi yang luar biasa dari publik maka Presiden pun sempat keder dan menugaskan Denny Indrayana untuk menghubungi para pakar hokum untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

    Demikian, sebetulnya bahwa ujung persoalan adalah SBY, Jaksa Agung, Kapolri, Joko Suyanto, dan para kongloemrat hitam, serta innercycle SBY (pengumpul duit untk pemilu legislative dan presiden). RASANYA ENDING PERSOALAN INI AKAN PANJANG, KARENA SBY PASTI TIDAK AKAN BERANI BERSIKAP. Satu catatan, Anggoro dan Anggodo, termasuk penyumbang Pemilu yang paling besar.

    Jadi mana mungkin Polisi atau Jaksa, bahkan Presiden SBY sekalipun berani menagkap Anggodo!


     
  • Virtual Chitchatting 7:54 PM on 2014/04/23 Permalink  

    Seskab Dipo Alam menganulir rencana busuk Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN yang memaksa BTN untuk diakuisisi oleh Bank Mandiri

    http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2094543/dipo-surati-menko-menteri-bumn-dan-menkeu

    Tunda Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri
    Dipo Surati Menko, Menteri BUMN dan Menkeu
    Wiyanto, pasarmodal – Rabu, 23 April 2014 | 16:39 WIB

    Sekab Dipo Alam – inilahcom

    INILAHCOM, Jakarta – Sekretaris Kabinet Dipo Alam akan menyurati Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Menteri Keuangan tentang penundaan akuisisi BTN-Mandiri.

    Menurut Dipo surat tersebut merupakan aksi meredakan keresahan kalangan karyawan BTN sementara waktu. “Dalam masalah rencana akuisisi Mandiri-BTN, saya tulis surat ke Menko Perekonomian, Menkeu, Menteri BUMN serta Direktur Mandiri dan BTN,” ujar Dipo saat memberikan keterangan resmi di kantornya, Rabu (23/4/2014).

    Dipo menjelaskan, dalam suasana menjelang pemilihan presiden, supaya kementerian tersebut tidak mengambil kebijakan yang dapat berakibat pada keresahan masyarakat. Ujungnya bisa mengganggu jalannya pemilihan presiden nantinya.

    “Dalam dua kali sidang kabinet, dijelaskan menteri tidak mengambil kebijakan strategis yang akan membebani pemerintahan mendatang,” katanya. [jin]


    http://pemilu.okezone.com/read/2014/04/23/568/974683/dipo-menteri-jangan-keluarkan-kebijakan-kontroversial-saat-pilpres

    Dipo: Menteri Jangan Keluarkan Kebijakan Kontroversial Saat Pilpres
    Fahmi Firdaus – Okezone, Rabu, 23 April 2014 – 16:55 wib |

    JAKARTA- Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam, mengirimkan surat edaran nomor SE-05/Seskab/IV/2014 kepada para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri, dan para pimpinan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) untuk mencegah kebijakan yang berpotensi menimbulkan kontroversi.

    “Seskab mengingatkan kembali pada jajaran para menteri maupun pimpinan lembaga nonkementerian anggota kabinet, untuk berperan aktif menjaga suasana yang kondusif dalam menjaga kondisi ekonomi politik dan keamanan selama masa menjelang dan berlangsungnya pileg dan pilpres,” kata Dipo di Kantor Sekretariat Kabinet, Jakarta, Rabu (23/4/2014).

    Seskab meminta para menteri dan pimpinan lembaga pemerintah untuk tidak lagi mengambil kebijakan, keputusan, atau program yang memiliki implikasi luas selama masa menjelang dan berlangsungnya Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

    Namun, bila kebijakan yang sudah terlanjur diambil dan berpotensi menimbulkan kontroversi di masyarakat, ia meminta agar para menteri memberi penjelasan intensif kepada masyarakat. “Sehingga perbedaan pandangan itu tidak berpotensi mengganggu ekonomi, politik, sosial, hukum dan keamanan,” pungkasnya.
    (ugo)


    http://news.detik.com/read/2014/04/23/174519/2563573/10/surat-edaran-seskab-menteri-dilarang-buat-kontroversi-jelang-pilpres

    Surat Edaran Seskab: Menteri Dilarang Buat Kontroversi Jelang Pilpres
    Mega Putra Ratya – detikNews, Rabu, 23/04/2014 17:45 WIB

    Dipo Alam

    Jakarta – Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengeluarkan surat edaran untuk para menteri dan pejabat tinggi negara. Isinya para menteri dan pejabat tinggi dilarang membuat kebijakan kontroversial menjelang Pilpres. Surat edaran ini sebagai tindak lanjut arahan Presiden SBY.

    “Yang pertama adalah surat edaran. Terkait arahan presiden dalam sidang kabinet tanggal 5 Januari 2014 dan tanggal 16 Januari 2014. Mengenai kebijakan yang berpotensi menimbulkan kontroversi, keresahan di masyarakat atau politik dan sebagainya. Ini ditujukan kepada para Menteri KIB II, Jaksa Agung, Kapolri, Panglima TNI dan pemimpin lembaga non Kementerian,” jelas Dipo dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (23/4/2014).

    Menurut Dipo, Sekretaris Kabinet mengingatkan kembali kepada jajaran menteri maupun pimpinan lembaga non kementerian untuk menghormati dan menjaga suasana yang kondusif dalam kehidupan masyarakat di bidang sosial politik ekonomi dan keamanan. Selama masa dan menjelang pemilu presiden.

    “Kedua para menteri dan pejabat lembaga non kementerian untuk tidak ambil kebijakan, keputusan atau program yang memiliki implikasi luas yang berpotensi mengganggu masa atau menjelang pemilihan presiden sampai masa bakti akhir pemerintahan,” terang Dipo.

    “Guna menghindari terganggunya stabilitas ekonomi, politik dan keamanan. Kecuali dilaporkan ke presiden dan wakil presiden,” tambah dia.

    Ketiga, lanjut Dipo, dalam hal kebijakan yang sudah terlanjur ditempuh dan berpotensi menimbulkan perbedaan pandangan di masyarakat. Para menteri dan pimpinan non Kementerian, agar menginformasikan secara massif ke masyarakat.

    “Sehingga perbedaan tersebut nggak berkembang luas sehingga menimbulkan menggangu stabilitas sosial, ekonomi, politik, dan keamanan. Jadi ini surat edaran kami kirim. Jadi nggak ada lagi hal-hal yang dapat meresahkan karyawan, buruh, dan sebagainya. Ini dilaporkan ke Presiden,” tutup Dipo.
    (mpr/ndr)


    http://www.tribunnews.com/nasional/2014/04/23/dipo-menteri-dilarang-ambil-kebijakan-keputusan-atau-program-kontroversi

    Dipo: Menteri Dilarang Ambil Kebijakan, Keputusan atau Program Kontroversi
    Rabu, 23 April 2014 19:54 WIB

    Srihandriatmo Malau/Tribunnews.com
    Seskab Dipo Alam

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam mengeluarkan Surat Edaran bernomor SE-05/Seskab/IV/2014 kepada para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, dan para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK).

    Surat Edaran Seskab didasarkan pada arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyonoo (SBY) dalam dua kali rapat kabinet. Yakni Presiden mengarahkan para Menteri dan kepala lembaga pemerintahan nonkementerian dalam masa pemilihan umum legislatif dan Pemilu Presiden 2014 tidak mengambil kebijakan strategis yang berdampak luas dan meresahkan masyarakat serta dapat membebani pemerintahan yang akan datang.

    Dipo jelaskan, surat edaran ini ditujukan kepada Para Menteri KIB II, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri, para pemimpin lembaga pemerintahan non-kementerian.

    “Para Menteri dan pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian untuk tidak lagi mengambil kebijakan, keputusan atau program yang memiliki implikasi luas selama masa menjelang dan berlangsungnya Pemilihan Presiden dan wakil presiden, sampai dengan menjelang masa bakti pemerintahan,” tegas Dipo Alam saat memberikan keterangan pers di Gedung 3 Sekretariat Negara RI, Jakarta, Rabu (23/4/2014).

    Hal ini menurut Dipo, ditujukan guna menghindari terganggunya stabilitas ekonomi, sosial, politik dan keamanan. “Kecuali dilaporkan ke Presiden dan wakil presiden,” jelasnya.

    Lebih lanjut Dipo katakan, dalam hal kebijakan yang sudah terlanjur ditempuh dan berpotensi menimbulkan perbedaan, pandangan kontroversi di masyarakat, maka para Menteri dan pimpinan lembaga terkait segera memberikan penjelasan secara intensif kepada masyarakat.

    Alhasil, perbedaan pandangan tersebut tidak berkembang luas dan dapat mengganggu stabilitas dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik dan keamanan.

    “Jadi ini Surat Edarannya kami kirim hari ini Rabu (23/4/2014), nomor SE-05/Seskab/IV/2014 yang sebenarnya sudah dikemukakan oleh bapak Presiden dalam dua kali kesempatan sidang kabinet. Jadi tidak ada lagi hal-hal yang mengakibatkan keresahan-keresahan masyarakat pada umumnya termasuk karyawan, buruh dan sebagainya,” jelasnya.

    Penulis: Srihandriatmo Malau
    Editor: Rendy Sadikin


    http://krjogja.com/read/213405/seskab-minta-menteri-tak-keluarkan-kebijakan-aneh-aneh.kr

    Seskab Minta Menteri Tak Keluarkan Kebijakan ‘Aneh-aneh’
    Tomi Sujatmiko | Rabu, 23 April 2014 | 23:54 WIB |

    JAKARTA (KRjogja.com) – Sekretaris Kabinet (Seskab) meminta para menteri dan pimpinan lembaga pemerintah untuk berperan aktif menjaga suasana yang kondusif dalam kehidupan masyarakat di bidang sosial, politik, ekonomi dan keamanan selama masa menjelang dan berlangsungnya Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres).

    Hal ini, Menurut Seskab sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Rapat Terbatas pada 5 Januari 2014 dan Sidang Kabinet Paripurna tanggal 16 Januari 2014. Selanjutnya, telah mengirimkan Surat Edaran Nomor SE-05/Seskab/IV/2014 kepada para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri, dan para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) perihal mencegah kebijakan yang berpotensi menimbulkan kontroversi.

    “Para Menteri dan pimpinan Lembaga Pemerintah untuk tidak lagi mengambil kebijakan, keputusan, atau program yang memiliki implikasi luas selama masa menjelang dan berlangsungnya Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden sampai dengan menjelang masa bakti pemerintahan,” kata Seskab dalam konperensi pers di kantor Sekretariat Kabinet, Jakarta, Rabu (23/04/2014) sebagaimana dilansir dari laman resmi Setkab.

    Seskab Dipo Alam menjelaskan, hal itu perlu dilakukan guna menghindari terganggunya stabilitas kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan keamanan kecuali dilaporkan kepada Presiden dan Wakil Presiden.

    Dalam hal terdapat kebijakan yang sudah terlanjur ditempuh dan berpotensi menimbulkan perbedaan pandangan/kontroversi di masyarakat, menurut Seskab, para Menteri dan Pimpinan Lembaga Pemerintah terkait perlu segera memberikan penjelasan secara intensif kepada masyarakat, sehingga perbedaan pandangan tersebut tidak berkembang secara luas yang dapat mengganggu stabilitas kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan keamanan.

    “Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih,” bunyi akhir Surat Edaran Nomor: SE-05/Seskab/IV/2014 yang tembusannya dikirimkan kepada Presiden dan Wakil Presiden RI itu. (*)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2041176/dahlan-kritik-surat-edaran-sekretaris-kabinet

    Dahlan Kritik Surat Edaran Sekretaris Kabinet
    by Ilyas Istianur Praditya 24 Apr 2014 11:25

    Liputan6.com, Jakarta Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengkritik kebijakan yang dikeluarkan oleh Sekretaris Kabinet perihal larangan jajaran Menteri dan Pejabat Negara Setingkat Menteri mengeluarkan kebijakan strategis menjelang pemilihan presiden pada 9 Juli 2014.

    Menurut Dahlan, kebijakan yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor 05/Seskab/IV/2014 tertanggal 23 April 2014 tersebut justru seolah-olah membuat Pemerintah sudah demisioner sehingga menteri-menteri tidak bekerja maksimal.

    “Menurut pendapat saya Pemerintah harus tetap efektif melakukan tugasnya sampai akhir masa tugasnya, setidaknya sampai presiden baru terpilih,” papar Dahlan di kantor Garuda Maintenance Fasilities (GMF), Cengkareng, Banten (24/4/2014).

    Selama ini, jajaran Menteri yang telah terpilih dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II mengemban tugas yang berat yaitu demi memajukan bangsa dan mengabdi kepada masyarakat.

    “Program-program harus terus jalan termasuk program yang penting bagi masyarakat, yang penting buat bangsa,” jelasnya.

    Dengan SE yang menurut Sekretaris Kabinet, Dipo Alam sudah dibahas bersama Presiden dalam sidang kabinet tersebut, maka proyek-proyek Kementerian BUMN yang lain terancam juga tidak dapat segera diputuskan.
    (Arthur Gideon)


     
  • Virtual Chitchatting 5:00 PM on 2014/04/23 Permalink  

    Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri: Skandal yang menguak kedunguan Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN 

    Pembatalan Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri: Skandal yang memperlihatkan kebodohan Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN

    by S3ra Sutan Rajo Ali
    Jakarta, 24 April 2014

    Kedunguan Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN semakin terpampang jelas. Katanya, rencana akuisisi BTN oleh Bank Mandiri sudah melalui kajian yang melibatkan berbagai konsultan. Konsultan my ass ! Mana report-nya ! Publish kalo berani !
    Loe dogol kagak tau yang namanya analisis pro forma. Loe orang teknik sipil emang ngerti berbagai istilah yang ada di industri keuangan, apalagi di praktek merger & akuisisi, hostile takeover. Eh sontoloyo my ass !
    Kelakuan menteri bloon ini tak ubahnya kerbau yang dicucuk hidungnya. Kerbau terkenal sebagai makhluk besar dan bebal yang bisa disetir kemana saja oleh siapa saja yang memegang tali kerbau.
    Timbul pertanyaan, siapa yang menghela dan memegang tali kerbau? Possible suspect yang utama adalah Agus Martowardojo. Dia pernah menjabat sebagai Dirut Bank Mandiri. Dia tahu jeroannya Bank Mandiri. Dia tahu bagaimana memanipulasi dan men-generate uang dari dana obligasi rekapitalisasi pemerintah terhadap Bank Mandiri yang masih idle. Dia pula yang mengamankan hostile takeover ‘Bank Bali’ oleh Standard Chartered Bank dan Astra International di tahun 2002. Bank Bali menjadi Bank Permata per 18 Oktober 2002. Agus Martowardojo menjadi Dirut Bank Permata per 31 Oktober 2002.

    Di tahun 2004, baik Standard Chartered Bank maupun Astra International, keduanya sama-sama memiliki saham di Bank Permata masing-masingnya sebesar 31,55%.
    Di tahun 2013, baik Standard Chartered Bank maupun Astra International, keduanya sama-sama memiliki saham di Bank Permata masing-masingnya sebesar 44,56%.

    Agus D.W. Martowardojo
    Lahir di Amsterdam pada tanggal 24 Januari 1956, lulus dari FE-UI (1984), pernah bekerja di Bank of America di Jakarta (1984), Bank Niaga (1986-1994), Dirut Bank Bumiputera (1995-1998), Dirut Bank Exim Indonesia (1998), Bank Mandiri (1999), BPPN (2002), Dirut Bank Permata (31 Oktober 2002-Mei 2005), Dirut Bank Mandiri (Mei 2005-2010).
    Agus Martowardojo menjadi Menteri Keuangan ke-27 di Kabinet Indonesia Bersatu II (19 Mei 2010 hingga 19 April 2013), menggantikan Sri Mulyani Indrawati yang tersandung skandal Bank Century.
    Agus Martowardojo menjadi Gubernur Bank Indonesia (sejak 23 Mei 2013) menggantikan Darmin Nasution.
    Agus Martowardojo menjadi Dirut Bank Mandiri menggantikan ECW Neloe yang merugikan Bank Mandiri trilyunan rupiah.

    Kontra:
    Manajemen dan Karyawan
    Pemilik
    Pengusaha Properti (Asosiasi Pengembang Perumahan Seluruh Indonesia, APERSI)
    Eddy Hussy, (Real Estate Indonesia, REI, Ketua Umum DPP)
    Menteri Keuangan
    Sekretaris Kabinet
    SBY

    Pro:
    Muliaman D Hadad (OJK, Dewan Komisioner, Ketua)
    Sigit Pramono (Perbanas, Perhimpunan Bank-bank Nasional, Ketua Umum)
    Mahendra Siregar (BKPM, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kepala)
    Rosan P. Roslani (KADIN, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Ketua Bidang Perbankan)

    Dasar Akuisisi
    1. Rencana divestasi tertuang dalam surat Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tertanggal 11 April nomor SR-161/MBU/04/2014 yang ditujukan kepada Direktur Utama BTN.
    2. Pemerintah akan melepas seluruh (60,14%) saham yang dimilikinya di BTN pada semester I 2014. Pihak asing menguasai 25,45% dan publik lainnya sebesar 14,41%
    3. Rencana pelepasan saham tersebut telah masuk dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan diselenggarakan di bulan Mei 2014 untuk mendapat persetujuan prinsip atas perubahan pemegang saham perseroan.

    Bullshitting ala Dahlan Iskan:
    1. Pihak penentang rencana Menteri BUMN belum tentu mengerti mengenai peningkatan kualitas di industri perbankan.
    2. Merampingkan jumlah perbankan di Indonesia.
    3. Mendongkrak kapasitas (pendanaan) BTN dalam membiayai KPR.
    4. BTN kekurangan dana untuk membangun 1,5 juta unit rumah di Indonesia.
    5. Pemerintah tak bisa lagi mengucurkan dana karena banyaknya proyek negara yang butuh pembiayaan.
    6. Akuisisi BTN rampung dalam tiga bulan.
    7. BTN akan menjadi anak perusahaan perbankan yang mengakuisisnya.
    8. Bank Mendiri memiliki visi yang sama dengan BTN, yakni membiayai kredit perumahan.
    9. Meningkatkan daya saing perbankan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Indonesia akan punnya bank yang besarnya lebih besar dari Malaysia. Yang pertama kan Singapura, kedua Malaysia, kemudian Thailand. Dengan skema ini, kita akan mengalahkan Malaysia

    Beberapa udang diatas bakwan yang menjadi incaran Bank Mandiri di sudut Bank Mandiri:
    1. Biaya akuisi BTN berasal dari obligasi rekap senilai Rp 70 triliun yang belum diserap pasar.
    2. Cara instan Bank Mandiri untuk memperbesar pertumbuhan aset dan merealisasi ambisi terus ekspansi di pentas dunia.
    3. Menurunkan biaya pendanaan Bank Mandiri yang masih tinggi.
    4. Meningkatkan kapitalisasi pasar dalam rangka penguatan modal.

    Beberapa udang diatas bakwan yang menjadi incaran Bank Mandiri di sudut BTN:
    1. BTN memiliki program rumah murah dari Kementerian Perumahan Rakyat.
    2. Di tahun 2013, BTN mampu menyalurkan 96% dari 102.000 KPR dengan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Sedangkan Bank Mandiri hanya mampu 1.695 unit atau 1,66%.
    3. BTN berspesialisasi bagi kebutuhan masyarakat menengah ke bawah, sedangkan Bank Mandiri untuk menengah ke atas.
    4. Valuasi BTN lebih rendah dari rata-rata industri perbankan. Rasio buku BTN sekitar 1,28x sedangkan industri sekitar 2x.
    5. Harga saham BTN mengalami peningkatan

    Kedunguan Dahlan Iskan seperti keledai juga diperlihatkan pada kesamaan visi antara pemilik dan pengelola. Walaupun Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN diberikan hak untuk mengelola seluruh BUMN yang ada di Indonesia, bukan berarti dia bebas semaunya memperjual-belikan BUMN, apalagi BUMN di bidang keuangan.

    BUMN di bidang keuangan sudah jelas milik Menteri Keuangan. Emang ada orang yang mau dilangkahin hak-haknya. Kepongahan dan kepandiran Dahlan Iskan diperlihatkan dengan pengakuannya sebagai menteri yang ngawur.

    Kekalahan di Pemilu Legislatif 2014 membuat Partai Demokrat tidak bisa mempertahankan posisinya sebagai suara mayoritas di DPR. Termasuk didalamnya kemungkinan kalah di Pemilu Presiden di bulan Juni 2014. Dengan kata lain, pemerintahan yang sekarang secara de facto sudah demisioner. Secara etika kenegaraan, tidak boleh lagi ada keputusan politis yang signifikan.

    Proses akuisisi, apalagi hostile takeover, tidak akan pernah bisa selesai dalam 1 atau 2 bulan. Apalagi 3 bulan. Orang mau kawin aja butuh waktu PDKT sekian lama. Ini perusahaan, yang jelas corporate culture-nya beda. Kecuali kalau BTN bermasalah, mungkin loe bisa memaksa.

    Disinilah letak kepandiran Dahlan Iskan. Loe nggak tahu, loe nggak pernah belajar, begimane loe bisa meyakinkan banyak pihak kalau proses akuisisi BTN oleh Bank Mandiri bisa berjalan mulus. Baru koar-koar mau dibeli oleh Bank Mandiri, ribuan karyawan BTN sudah unjuk rasa. Oon loe, beneran dech. Mau aja jadi kambing congek.



    http://bisnis.liputan6.com/read/2037828/btn-mau-dilego-bos-bri-belum-diajak-bicara

    BTN Mau Dilego, Bos BRI Belum Diajak Bicara
    by Fiki Ariyanti 16 Apr 2014 13:37

    Liputan6.com, Jakarta Kabar penjualan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) masih menjadi teka-teki. Sebab belum ada kepastian dari bank pelat merah yang tertarik mengambil alih perbankan tersebut.

    Bank BUMN yang tertarik mengakuisisi BTN antara lain, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).

    Direktur Utama Bank BRI, Sofjan Basir saat dikonfirmasi mengenai hal ini justru menghindar dan bahkan melempar guyonan. “Siapa yang mau jual BTN? Kayak mau jual motor saja,” candanya di kantor BPK, Jakarta, Rabu (16/4/2014).

    Sofjan mengaku sampai saat ini belum ada pembicaraan terkait akuisisi BTN dari Menteri BUMN, Dahlan Iskan kepada BRI. “Belum ada pembicaraan. Saya nggak tahu,” cetus dia.

    Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah akan melepas seluruh saham yang dimilikinya di BTN pada semester I 2014 ini. Rencana pelepasan saham tersebut telah masuk dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan yang akan diselenggarakan pada 21 Mei 2014.

    Rencana pelepasan saham tersebut tertuang dalam surat Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tertanggal 11 April nomor SR-161/MBU/04/2014 yang ditujukan kepada Direktur Utama BTN.

    Saat ini saham BTN yang dimiliki pemerintah sebesar 60,14%, sedangkan yang dimiliki publik sebesar 39,86%. Dengan pelepasan saham BTN ini, maka bank milik pemerintah hanya tinggal Bank Mandiri, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).
    (Nurseffi Dwi Wahyuni)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2037858/akuisisi-btn-oleh-bank-mandiri-belum-tentu-positif

    Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri Belum Tentu Positif
    by Ilyas Istianur Praditya 16 Apr 2014 15:30

    Liputan6.com, Jakarta – Pengambilalihan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk oleh PT Bank Mandiri Tbk dinilai belum tentu dapat meningkatkan modal. Akan tetapi, penggabungan bank pelat merah itu dapat merampingkan jumlah perbankan di Indonesia.

    Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah mengeluarkan keputusan mengenai rencana pelepasan saham pemerintah di Bank Tabungan Negara (BTN).

    Keputusan tersebut tertuang dalam surat Kementerian BUMN tertanggal 11 April nomor SR-161/MBU/04/2014 ditujukan kepada Direktur Utama. Isinya menambahkan agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan yang akan digelar Mei 2014 persetujuan prinsip atas perubahan pemegang saham perseroan.

    Diperkirakan pelepasan saham itu, Bank Mandiri akan mengambil alih kepemilikan saham BTN mengingat memiliki visi yang sama yaitu membiayai kredit perumahan.

    Senior Ekonom Standard Chartered, Fauzi Ichsan menilai, adanya konsolidasi antar dua bank BUMN tersebut belum tentu secara keseluruhan akan berdampak baik. Hal itu terutama demi menambah modal perbankan.

    “Dengan konsolidasi ini, itu belum tentu akan meningkatkan modal, itu memang kemungkinan ada. Namun yang terpenting adalah meningkatkan kapitalisasi pasar untuk memperkuat itu (modal),” kata Fauzi di Hotel JW Marriot, Jakarta, Rabu (16/4/2014).

    Fauzi menambahkan, positifnya hasil penggabungan dua perbankan tersebut nanti akan terlihat dan akan tergantung dari respons pasar, mengingat kedua bank tersebut saat ini sudah melantai di bursa saham.

    Lebih lanjut menurut Fauzi, industri perbankan di Indonesia juga kurang proporsional. Dengan jumlah perbankan di Indonesia mencapai 120 bank, hal itu dinilainya terlalu banyak.

    “Idealnya itu sekitar 80 bank. Merger, konsolidasi atau akuisisi sangat dibutuhkan, terutama yang mendukung penyuntikan dana segar,” jelas Fauzi.

    Dengan adanya pelepasan saham pemerintah di BTN tidak akan mengurangi penerimaan deviden pemerintah. Hal itu dijelaskannya karena penggabungan ini nantinta hanya akan mempengaruhi sistem administrasi penyetoran dividen.

    “Bukan terus kepemilikan pemerintah berkurang, jadi cuma masuk kantong kiri keluar kantong kanan, dividen yang diakuisisi diserahkan ke induk, dan kemudian induk diserahkan ke kepemerintah, jadi begitu saja,” kata Fauzi.

    Berdasarkan data RTI, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) bergerak naik 10,63% ke level Rp 1.405 per saham. Saham BBTN sempat berada di level tertinggi Rp 1.525 per saham dan level terendah Rp 1.300 per saham.

    Harga saham BBTN dibuka di level Rp 1.305 pada pagi ini. Frekuensi perdagangan saham BBTN mencapai 5.974 kali dengan nilai transaksi saham sekitar Rp 155,8 miliar.
    (Agustina Melani)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2038232/btn-jadi-anak-usaha-bank-mandiri-dahlan-kita-kalahkan-malaysia

    BTN Jadi Anak Usaha Bank Mandiri, Dahlan: Kita Kalahkan Malaysia
    by Septian Deny 17 Apr 2014 10:47

    Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah berencana melepaskan seluruh saham yang dimilikinya di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) pada semester I tahun ini. BTN nantinya akan diakuisissi oleh perbankan BUMN lain. Salah satu nama yang gencar diberitakan adalah Bank Mandiri.

    Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, langkah pelepasan saham itu diambil untuk menolong BTN agar bisa menjadi lebih besar. Apalagi BTN mempunyai misi mulia dalam memenuhi kebutuhan perumahan untuk rakyat.

    “Kebutuhan perumahan di Indonesia 1,5 juta untuk. Untuk memenuhi itu, BTN belum mampu. Makanya harus dapat ‘kuda’ yang besar supaya bisa lari kencang. Nah kita bantu BTN supaya dapat melaksakan misi mulia,” ujarnya usai melakukan Rapim di Kantor PT Reindo, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (17/4/2014).

    Mengenai perbankan mana yang akan mengakuisisi BTN, Dahlan mengindikasikan Bank Mandiri yang akan melakukan hal tersebut.

    “Kami memikirkan, ada Bank Mandiri atau BRI. Ada yang berpandangan ke BRI saya setuju, ada pandangan ke Mandiri saya setuju, nanti diurus, nanti ada keputusan. Idenya masih harus dibahas di Kementerian BUMN,” lanjutnya.

    Mengenai skema akuisisi, Dahlan menjelaskan, nantinya BTN akan menjadi anak perusahaan perbankan yang mengakuisisnya.

    “BTN nanti jadi anak perusahaan Mandiri, nanti kita lihat. Kalau perlu minta persetujuan DPR akan kita lakukan. Pokoknya segala prosedur akan kita tempuh,” katanya.

    Dia melihat Bank Mandiri menjadi yang paling cocok melakukan akuisisi karena mempunyai kemampuan sehingga BTN bisa memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyakarat. Selain itu, jika kedua perbankan ini bersatu, maka Indonesia akan memiliki bank yang mampu mengalahkan bank di Malaysia dalam hal kapasitas.

    “Kalau BTN dan mandiri, Indonesia akan punnya bank yang besarnya lebih besar dari Malaysia. Yang pertama kan Singapura, kedua Malaysia, kemudian Thailand. Dengan skema ini, kita akan mengalahkan Malaysia,” tuturnya.

    Akuisisi ini juga diharapkan akan mampu perusahaan-perusahaan lain terutama BUMN untuk dapat memenuhi keperluan dana. “Perusahaan BUMN akan menjadi perusahan yang kian besar, kalau perusahan kian besar tapi banknya tidak besar, maka bank asing yang akan melayani. Nanti porsi bank asing akan lebih besar, makanya kita perlu yang besar,” tandasnya.
    (Nurseffi Dwi Wahyuni)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2038306/akuisisi-btn-bisa-amankan-likuiditas

    Akuisisi BTN Bisa Amankan Likuiditas
    by Septian Deny 17 Apr 2014 14:48

    Liputan6.com, Jakarta Pemerintah mengungkapkan, langkah akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) oleh PT Bank Mandiri Tbk atau PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) untuk membantu pendanaan perseroan sehingga penyaluran kredit Pemilikan Rumah (KPR) lebih tinggi.

    Selama ini, akselerasi penyaluran KPR BTN sedikit terganjal karena masalah permodalan dan pendanaan. Terlihat, rasio kredit terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio (LDR) perseroan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. di akhir 2013, LDR perseroan di level 104,42%, lebih tinggi dari tahun 2012 yang di level 100,90% dan tahun 2011 yang di level 102,56%.

    Jika level LDR ini terus-menerus di atas 100%, jika terjadi penarikan dana yang cukup besar ada kemungkinan perusahaan akan terganggu likuiditasnya.

    Dengan akuisisi tersebut, BTN diharapkan mendapat bantuan permodalan dan pendanaan dari bank induk sehingga bisa mendongkrak penyaluran KPR. “Kalau dapat bantuan permodalan larinya nanti bisa cepat,” tutur Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, Kamis (17/4/2014).

    Rencana pelepasan saham tersebut tertuang dalam surat Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tertanggal 11 April nomor SR-161/MBU/04/2014 yang ditujukan kepada Direktur Utama BTN.

    Secara rinci, isi surat tersebut adalah menambahkan agenda persetujuan prinsip atas perubahan pemegang saham perseroan pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan nanti.
    (Arthur Gideon)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039220/caplok-btn-bank-mandiri-bakal-gelar-rupslb-bulan-depan

    Caplok BTN, Bank Mandiri Bakal Gelar RUPSLB Bulan Depan
    by Fiki Ariyanti 20 Apr 2014 09:00

    Liputan6.com, Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk memastikan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada bulan depan. Salah satu agenda penting yang bakal dibahas dalam rapat itu adalah akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).

    Proses tersebut perlu dijalankan perbankan pelat merah itu setelah mengantongi restu dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. Pemerintah akan melepas seluruh saham di BTN, dan selanjutnya bakal diambil alih Bank Mandiri.

    Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin kepada Liputan6.com mengaku, telah diminta melakukan RUPSLB oleh pemegang saham dalam hal ini Kementerian BUMN.

    “Kami sudah diminta mengadakan RUPSLB pada 21 Mei ini dengan agenda salah satunya pemberian izin prinsip pengambilalihan saham pemerintah di bank BUMN. Kami sudah mulai prosesnya,” kata dia dalam pesan singkatnya, Jakarta, Minggu (20/4/2014).

    Lebih jauh Budi menyebut, Kementerian BUMN telah melayangkan surat permohonan divestasi dan akuisisi BTN kepada Menteri Keuangan (Menkeu), Chatib Basri. Hal ini menjawab pernyataan Chatib yang mengaku belum memperoleh surat terkait rencana itu dari Dahlan Iskan.

    “Surat dari Pak Dahlan ke Pak Menkeu sudah jalan. Selanjutnya akan ditentukan di Menkeu jalan selanjutnya ke mana,” terangnya.

    Dia menuturkan, apabila BTN resmi menjadi anak usaha Bank Mandiri, maka aset perbankan tersebut akan menembus angka lebih dari Rp 900 triliun.

    Namun ketika ditanya mengenai target proses akuisisi rampung, Budi belum memberikan jawaban pasti. “Tergantung Menkeu dan DPR,” tutup dia singkat.
    (Agustina Melani)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039268/ribuan-pekerja-btn-unjuk-rasa-tolak-akuisisi-oleh-bank-mandiri

    Ribuan Pekerja BTN Unjuk Rasa Tolak Akuisisi oleh Bank Mandiri
    by Fiki Ariyanti 20 Apr 2014 10:15

    Liputan6.com, Jakarta – Rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) oleh PT Bank Mandiri Tbk memperoleh perlawanan dari ribuan pekerja BTN yang tergabung dalam serikat pekerja (SP) BTN. Mereka secara tegas menolak pengambilalihan saham BTN oleh Bank Mandiri.

    Dari pantauan Liputan6.com, Minggu (20/4/2014), sekitar 1.000 karyawan BTN memadati Kantor Bank BTN yang terletak di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat. Ribuan pekerja itu kompak mengenakan seragam berwarna hitam menandakan rasa kekecewaan atas keputusan dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.

    Berbagai atribut pun diikutsertakan dalam aksi Bela BTN ini. Mulai dari spanduk bertuliskan BTN Not For Sale, Tolak Akuisisi, Direktur Utama BTN Maryono Go to Hell, hingga tabur bunga dan aksi teatrikal bertuliskan RIP Maryono dan Dahlan Iskan.

    Hingga saat ini, Ketua Panitia sekaligus Ketua Serikat Pekerja BTN, Satya Wijiantara sedang melakukan orasi dengan teriakan-teriakan “Tolak Akuisisi BTN, kembalikan BTN pada rakyat. Karena BTN milik rakyat,” katanya seraya diikuti sorak kebersamaan dari pekerja BTN.

    Salah satu panitia unjuk rasa, Raby mengaku, sekitar 1.000 karyawan BTN yang hadir berasal dari berbagai wilayah dan kantor cabang di Indonesia. “Ada yang dari Jabotabek dan luar Jabotabek, seperti Sumatera, Sulawesi, Jawa Tengah dan lainnya,” ucapnya.

    Raby mengaku, pekerja BTN mendesak supaya pemerintah membatalkan rencana akuisisi tersebut. “Kami nggak bisa berdiri sendiri lagi, nggak bisa jadi BUMN lagi. Dan yang ada pelayanan malah semakin hancur kalau akuisisi terealisasi,” terang dia.

    Dia mengatakan, kehancuran dapat terjadi karena adanya perbedaan segmentasi pasar dari kedua bank tersebut. “Kami kan melayani masyarakat menengah ke bawah, sedangkan Bank Mandiri untuk menengah ke atas. Dari situ saja sudah beda,” tutur Raby.

    Selanjutnya, dia mengungkapkan, bakal kembali menggelar aksi unjuk rasa pada 27 April 2014. Sementara Raby belum memastikan apakah puncak unjuk rasa akan dilakukan pada 21 Mei saat Bank Mandiri menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

    “Minggu depan kami akan lanjutkan demo lagi. Tapi kalau untuk 21 Mei, biarlah nggak usah,” pungkas Raby.
    (Agustina Melani)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039313/btn-dicaplok-karyawan-takut-di-phk

    BTN Dicaplok, Karyawan Takut di PHK
    by Fiki Ariyanti 20 Apr 2014 11:26

    Liputan6.com, Jakarta – Rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara (Tbk) oleh PT Bank Mandiri Tbk menimbulkan kekhawatiran terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran. Sebab, aksi korporasi tersebut selalu diiringi dengan efisiensi termasuk pegawai.

    Menurut Ketua Umum Serikat Pekerja BTN, Satya Wijayantara, keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang memerintahkan Bank Mandiri mengambil alih BTN akan menghilangkan eksistensi BTN dan membawa pengaruh terganggunya iklim bekerja di perusahaan serta PHK.

    “Ya pasti akan berdampak kepada proses PHK dalam skala besar, mengingat akuisisi selalu diiringi dengan efisiensi yang memunculkan program rasionalisasi pegawai. Aksi ini telah menjadi beban nasional berupa PHK atas warga negara dalam status terdidik,” tutur Satya kepada wartawan di Kantor Pusat BTN, Jakarta, Minggu (20/4/2014).

    Dalam kesempatan yang sama, Penasehat BTN sejak 1990 hingga sekarang ini, Rizal Ramli mengaku, pegawai BTN mengalami kecemasan timbulnya PHK.

    “Karena langkah ini tidak tepat mengingat BTN mempunyai sejarah yang cukup panjang, termasuk dalam membuka lapangan pekerjaan sebagai bank perumahan rakyat pertama di Indonesia,” ujar Mantan Menteri Koordinator Perekonomian itu.

    Sementara salah seorang pegawai BTN, Bias Priwastuti yang bekerja sebagai Commersial Funding Head Kantor Cabang Yogyakarta ini mengaku khawatir dengan kemungkinan terjadinya PHK.

    “Khawatir kehilangan pekerjaan pasti ada, wong bank sudah sehat kok dicaplok. Apalagi kalau akuisisi terjadi, nggak ada jaminan kontrak kerja antara Bank Mandiri dan BTN. Makanya kami menolak akuisisi,” keluh Bias.

    Dia menuturkan, tak rela bila BTN harus jatuh ke tangan Bank Mandiri. Bias menilai, Bank Mandiri hanya mencari cara instan untuk memperbesar asetnya dan menggapai ambisi terus ekspansi di pentas dunia.

    “Ya nggak rela, coba kalau kami punya sesuatu lalu diambil itu rasanya sedih. Apalagi Bank Mandiri dan BTN berbeda bisnisnya. Nanti program pemerintah untuk membiayai perumahan rakyat malah lebih panjang prosesnya, sedangkan Bank Mandiri fokus pada korporasi,” terang dia.

    Bias mengimbau, agar Bank Mandiri dapat segera menghentikan langkahnya untuk mengambil alih saham BTN. “Kami akan terus menolak sampai kapanpun,” cetus dia yang jauh-jauh datang dari Yogyakarta ke Kantor Pusat BTN, Jakarta untuk aksi Bela BTN.
    (Agustina Melani)


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/20/087571906/Demo-Karyawan-BTN-Buat-Pocong-Dahlan-Iskan

    Demo, Karyawan BTN Buat Pocong Dahlan Iskan
    Minggu, 20 April 2014 | 12:33 WIB

    Pekerja PT BTN mengusung keranda mayat palsu ketika berunjuk rasa menolak rencana akuisisi di kantor pusat, gedung Menara BTN di Jakarta (20/04). Aksi ini merupakan ekspresi kekhawatiran pekerja terhadap akuisisi yang berujung pada pemutusan hubungan kerja. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta – Sebanyak 1.200 karyawan PT Bank Tabungan Negara (persero) berunjuk rasa menolak rencana akuisisi perseroan oleh PT Bank Mandiri. Dalam demonstrasi di Menara BTN, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Ahad, 20 April 2014, para karyawan membawa boneka pocong dan nisan bertuliskan Dahlan Iskan dan Maryono.

    Beberapa karyawan lantas melakukan aksi tabur bunga di atas pocong bertuliskan nama kedua tokoh tersebut. Menurut beberapa peserta aksi, pocong dan nisan tersebut melambangkan dua orang yang bertanggung jawab atas dampak negatif bagi BTN setelah diakuisisi Bank Mandiri. Para karyawan menilai Direktur Utama BTN Maryono dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas akuisisi tersebut. (Baca: Tolak Akuisisi, Karyawan BTN Gugat Dahlan Iskan)

    Menurut Budi Purwanto, karyawan BTN Cabang Sidoarjo Jawa Timur, para pekerja merasa akuisisi oleh Bank Mandiri tidak perlu dilakukan. Sebab, hal ini akan menghalangi upaya pembiayaan subsidi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang selama ini hanya disalurkan oleh BTN. Budi juga mengaku khawatir akan ada pemutusan hubungan kerja setelah akuisisi ini berlangsung. “Ke depan, tidak ada yang tahu apa yang terjadi,” ujarnya. (Baca: Bank Mandiri Akuisisi BTN, Bagaimana Bisnis KPR?)

    Aksi para karyawan BTN berakhir pada pukul 11.30 WIB. Namun hingga saat ini ratusan pekerja masih tetap berada di halaman Menara BTN. Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pekerja BTN Satya Wijayantara, demonstrasi akan dilanjutkan pekan depan dengan tema pertahankan BTN Harmoni. (Baca: Tolak Diakuisisi Bank Mandiri, Karyawan BTN Demo).

    Sebelumnya diberitakan pemerintah berencana melepas kepemilikan saham di BTN. Bank Mandiri dikabarkan menjadi bank yang akan melakukan akuisisi terhadap BTN. Saat ini komposisi pemegang saham Bank BTN terdiri dari pemerintah sebesar 60,14 persen, badan usaha asing sebesar 25,45 persen, dan sisanya terdiri dari perorangan, karyawan, reksa dana, dana pensiun, asuransi, koperasi, dan perseroan terbatas. (Baca juga: Ini Dua Keuntungan Jika BTN Diakuisisi Mandiri)

    MAYA NAWANG WULAN


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039336/mantan-menko-perekonomian-sindir-dahlan-iskan-soal-akuisisi-btn

    Mantan Menko Perekonomian Sindir Dahlan Iskan Soal Akuisisi BTN
    by Fiki Ariyanti 20 Apr 2014 12:59

    Liputan6.com, Jakarta – Rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) oleh PT Bank Mandiri Tbk terus bergulir. Keputusan pemegang saham ini menuai reaksi dari sejumlah pihak, termasuk Mantan Menteri Koordinator Perekonomian (Menko) Rizal Ramli.

    Rizal mengungkapkan, perjalanan BTN hingga saat ini mengukir sejarah panjang sebagai bank perumahan rakyat pertama di Indonesia. Eksistensi tersebut diperkuat dengan arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa BTN tetap akan berdiri sendiri.

    “Bank ini (BTN) sejarahnya panjang, tidak adil kalau mau diambil alih bank lain. Jadi nggak tepatlah meski ini keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan,” tutur Rizal, saat Orasi Aksi Bela BTN, di kantor pusat BTN, Jakarta, Minggu (20/4/2014).

    Penasihat BTN itu mendesak supaya Dahlan Iskan segera menghentikan proses tersebut. Pasalnya, langkah akuisisi dianggap sebagai cara instan untuk menaikkan aset Bank Mandiri.

    “Dahlan jangan main gampangnya saja, ngambil keputusan pakai jalan cepat supaya Mandiri akusisis BTN, padahal belum mengetahui masalahnya. Cuma untuk kepentingan bank Mandiri, sejarah BTN dilupakan. Segera hentikan proses ini,” tegas dia.

    Keputusan Dahlan Iskan, kata Rizal, hanya akan memperburuk kinerja hubungan antar kedua bank BUMN tersebut. “Sama-sama bank BUMN harusnya saling menguatkan, bukan saling makan. Kan kakak adik,” ujar Rizal.

    Dia pun mengimbau kepada direksi Bank Mandiri untuk mengakuisisi bank swasta lain apabila ingin memperbesar aset dan mengalahkan bank-bank asing.
    (Agustina Melani)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039358/rizal-ramli-kinerja-merosot-bank-mandiri-jangan-sok-jago

    Rizal Ramli: Kinerja Merosot, Bank Mandiri Jangan Sok Jago
    by Fiki Ariyanti 20 Apr 2014 14:06

    Liputan6.com, Jakarta – Penasihat PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Rizal Ramli menilai, alasan PT Bank Mandiri Tbk untuk mengakuisisi bank perumahan itu karena kinerja yang kian merosot.

    “Dalam beberapa tahun terakhir ini, kinerja Bank Mandiri makin lama makin payah. Kinerjanya merosot,” ujar dia usai Orasi Bela BTN di Kantor Pusat BTN, Jakarta, Minggu (20/4/2014)

    Gerak bisnis Bank Mandiri, kata dia, sudah kalah gesit dibandingkan dua bank BUMN, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).

    “Kalau dibiarkan, satu atau dua tahun lagi, BRI akan mengalahkan Bank Mandiri sebagai bank nomor satu di Indonesia, mengalahkan Bank Mandiri,” jelasnya.

    Akuisisi, tambah Rizal, merupakan alasan Bank Mandiri untuk memperbesar asetnya. Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin pernah menyatakan jika pihaknya mengakuisisi BTN, maka aset perbankan tersebut bisa menembus di atas Rp 900 triliun.

    “Supaya loncat asetnya dan kembali jadi nomor satu di Indonesia dengan cara kurang cerdas. Mau enaknya sendiri pakai cara instan,” tutur Rizal.

    Dia mengingatkan agar Bank Mandiri tidak terlampau ambisius untuk meraih targetnya menjadi bank nomor satu di Asia Tenggara.

    “Jangan sok jago dulu lah, bersaing sama Singapura kalah. Turunkan dulu biaya-biaya di Bank Mandiri, kalau mau akuisisi bank swasta lalu masuk ke Laos, Vietnam, Myanmar. Jangan gengsi dulu,” papar Rizal.

    Sebab dia menceritakan pengalamannya saat membenahi PT Semen Indonesia Tbk untuk menjadi perusahaan semen besar skala internasional.

    “Dulu saya benahi Semen Gresik dengan membuat ongkos produksi semen jadi murah sekali. Sekarang, perusahaan itu malah bisa beli pabrik semen di Vietnam,” tutup Mantan Menteri Koordinator Perekonomian itu.

    Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan laba bersih tumbuh 17,36% menjadi Rp 18,82 triliun hingga akhir tahun 2013 dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 16,04 triliun.

    Pendapatan bunga dan syariah bersih perseroan tumbuh menjadi Rp 32,77 triliun pada 2013 dibandingkan tahun 2012 sebesar Rp 27,53 triliun. Aset perseroan tercatat sekitar Rp 733,09 triliun pada 31 Desember 2013 dibandingkan periode 31 Desember 2012 sebesar Rp 635,61 triliun.
    (Agustina Melani)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039272/isu-akuisisi-bikin-saham-btn-melonjak-pada-pekan-ini

    Isu Akuisisi Bikin Saham BTN Melonjak pada Pekan Ini
    by Agustina Melani 20 Apr 2014 14:15

    Liputan6.com, Jakarta – Harga saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan kenaikan pada pekan ini seiring pemerintah berencana menjual kepemilikan sahamnya di PT Bank Tabungan Negara Tbk.

    Dikabarkan PT Bank Mandiri Tbk akan mengambil alih saham PT Bank Tabungan Negara Tbk itu. Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk telah naik sekitar 9,2% selama empat hari dalam pekan ini. Namun sayang saham PT Bank Tabungan Negara Tbk harus ditutup melemah 2,86% ke level Rp 1.365 pada perdagangan saham Kamis 17 April 2014.

    Saham PT Bank Mandiri Tbk naik 1,02% dalam sepekan. Pada penutupan perdagangan saham, Kamis 17 April 2014, saham BMRI harus ditutup melemah 1,25% ke level Rp 9.850 per saham.

    Rencana pelepasan saham BTN milik pemerintah itu tertuang dalam surat Kementerian BUMN 11 April 2014 Nomor SR-161/MBU/04/2014 yang ditujukan kepada Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk Maryono. Saat ini, pemerintah memiliki sekitar 60,14% saham BTN.

    Ketika kabar pemerintah ingin menjual saham BTN terkuak, saham BTN pun langsung melonjak ke level Rp 1.405 pada perdagangan saham Rabu 16 April 2014.

    Sejumlah analis menilai, rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk oleh PT Bank Mandiri Tbk itu dapat berdampak positif untuk PT Bank Mandiri Tbk. Langkah akuisisi itu dapat memperbesar aset PT Bank Mandiri Tbk, dan melengkapi bisnis bank pelat merah itu.

    Analis PT Buana Capital Tbk, Alfred Nainggolan menuturkan, saat ini kredit perumahan belum terlalu signifikan bagi PT Bank Mandiri Tbk. Dengan rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk oleh PT Bank Mandiri Tbk maka menciptakan sinergi positif bagi kedua bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu.

    “BTN kesulitan pendanaan dengan diakuisisi bank Mandiri maka tertolong dari pendanaan. PT Bank Mandiri Tbk bisa tumbuh kencang lagi, dan lebih cepat membesar. Tetapi yang harus diperhatikan mengenai kepemilikan sahamnya. Apakah memang ada perubahan kepemilikan saham,” ujar Alfred, saat dihubungi Liputan6.com, akhir pekan ini.

    Sementara itu, Analis PT BNI Securities Thendra Crisnanda menuturkan, aset PT Bank Mandiri Tbk akan bertambah besar dengan akuisisi saham BTN. Aset besar dapat mewakili perbankan Indonesia untuk bertaraf global. Selain itu, diversifikasi bisnis PT Bank Mandiri pun semakin lengkap.

    “BTN menyasar dengan kredit properti ini berdampak positif untuk PT Bank Mandiri Tbk. Selama ini PT Bank Mandiri Tbk telah akuisisi Inhealth, dan bergabung dengan AXA, kalau jadi akuisisi BTN maka aset Mandiri bertambah,” kata Thendra.

    Selain itu, ia mengakui, memang tanpa akuisisi oleh PT Bank Mandiri Tbk, bisnis BTN cukup baik. Hal itu karena BTN fokus terhadap kredit perumahan. Namun sisi lain, langkah akuisisi BTN oleh Bank Mandiri dapat mengurangi persaingan di industri perbankan. Selain itu, penyaluran kredit pun tidak menjadi begitu kompetitif.

    Rekomendasi Saham

    Thendra mengatakan, saat ini saham PT Bank Mandiri Tbk cukup baik di luar akuisisi BTN. PT Bank Mandiri Tbk memiliki permodalan solid. Kedua, PT Bank Mandiri Tbk juga rajin memberikan dividen. Selain itu, bank pelat merah ini mencatatkan good corporate governance (GCG) yang baik.

    Saham PT Bank Mandiri Tbk pun mendapatkan rekomendasi buy dengan target harga Rp 10.500 dalam 12 bulan. Sedangkan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) cukup positif.

    “Valuasi BTN lebih rendah dari rata-rata industri perbankan. Rasio buku BTN sekitar 1,28x sedangkan industri sekitar 2x,” tutur Thendra.

    Sebagai informasi, PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan aset sekitar Rp 733 triliun pada 31 Desember 2013. Sementara itu, aset PT Bank Tabungan Negara Tbk tercatat Rp 131,16 triliun pada 31 Desember 2013.
    (Agustina Melani)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039372/rencana-diakuisisi-bank-mandiri-ini-10-sikap-pekerja-btn

    Rencana Diakuisisi Bank Mandiri, Ini 10 Sikap Pekerja BTN
    by Fiki Ariyanti 20 Apr 2014 14:48

    Liputan6.com, Jakarta – Ribuan pegawai PT Bank Tabungan Negara Tbk yang tergabung dalam Serikat Pekerja BTN berunjuk rasa menentang akuisisi oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Dalam orasinya, serikat pekerja menunjukkan 10 sikap sebagai bentuk perlawanan rencana pemerintah.

    Hari ini ribuan pekerja BTN menggelar apel kesetiaan bela BTN yang berlangsung di kantor pusat BTN. Unjuk rasa dimulai sejak pukul 09.00 dan berakhir pukul 12.00 WIB.

    Ketua Umum Serikat Pekerja BTN, Satya Wijayantara mengaku, kebijakan akuisisi BTN digulirkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan. Dan ternyata, dia menilai, keputusan tersebut syarat pelanggaran hukum.

    “Setidaknya telah melanggar tiga regulasi sekaligus, yakni Undang-undang (UU) Perseroan Terbatas (PT), UU BUMN dan ketentuan pasar modal. Ini adalah aksi nekad Dahlan menabrak regulasi bak Superman dan tidak perlu izin kepada siapapun termasuk Menteri Keuangan, Menko Perekonomian dan Presiden,” tutur dia di Jakarta, Minggu (20/4/2014).

    Berikut 10 sikap serikat pekerja BTN atas keputusan Kementerian BUMN yang menetapkan akuisisi BTN oleh Bank Mandiri :

    1. Seluruh pekerja BTN menolak kebijakan akuisisi karena memandang kebijakan tersebut hanya merupakan proyek eksperimen segelintir orang yang sekedar memenuhi ambisi pribadinya.

    2. Seluruh pekerja BTN menolak akuisisi terhadap dua perbankan yang berbeda mahzab yaitu Bank Mandiri yang bermahzab korporasi dengan BTN di ritel.

    3. Seluruh pekerja BTN menuntut Dahlan Iskan mematuhi kesepakatan politik tahun 2005 antara pemerintah dengan DPR RI yang menetapkan BTN sebagai bank tunggal yang berdiri sendiri dan fokus pada pelayanan penyediaan pembiayaan rumah.

    4. Seluruh pekerja BTN memandang kebijakan Kementerian BUMN dalam pengelolaan perbankan bersifat tidak jelas dan tidak transparan yaitu dalam surat Kementerian BUMN.

    5. Serikat pekerja BTN memandang kebijakan BUMN yang menetapkan akuisisi BTN dengan Bank Mandiri sebagai surviving bank, hanya berdampak memberi keuntungan pada Bank Mandiri saja.

    6. Serikat pekerja BTN memandang justru pemerintah harus mengatasi masalah penyediaan dana murah dengan jangka panjang waktu lama untuk penyediaan KPR melalui kebijakan Tapera yang saat ini masih digodok di DPR untuk diprioritaskan dan dikelola oleh Bank BTN.

    7. Serikat pekerja BTN memandang akuisisi adalah keputusan strategis bagi sebuah perseroan sehingga meminta Kementerian BUMN mematuhi seluruh regulasi yang ada.

    8. Serikat pekerja BTN memandang sikap Dahlan Iskan yang menyatakan apabila sudah pasar bebas ada bank-bank asing menyerbu Indonesia maka BTN akan kalah bersaing dalam pembiayaan perumahan untuk rakyat. Itu adalah pernyataan yang mengada-ada dan mengelabui rakyat.

    9. Serikat pekerja BTN memandang perlu memperingatkan kepada semua pihak yang berambisi untuk melenyapkan BTN dari sejarah Indonesia, maka sebagai konsekuensinya kami berkolaborasi dengan elemen buruh akan menggelar aksi unjuk rasa dan melakukan mogok kerja serta memblokade RUPS BTN maupun RUPS Mandiri.

    10. Serikat pekerja BTN memandang perlu memperingatkan kepada masyarakat bahwa terdapat dugaan kuat telah ada pihak-pihak yang mencoba mempermainkan isu akuisisi BTN ini sekedar mencari keuntungan pribadi yaitu dari profit naik turunnya harga saham BTN.
    (Agustina Melani)


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/20/087571934/Tolak-Akuisisi-Karyawan-BTN-Rilis-10-Tuntutan

    Tolak Akuisisi, Karyawan BTN Rilis 10 Tuntutan
    Minggu, 20 April 2014 | 16:32 WIB

    Pekerja PT BTN membawa poster Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika berunjuk rasa menolak rencana akuisisi di kantor pusat, gedung Menara BTN di Jakarta (20/04). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta – Serikat Pekerja Bank Tabungan Negara (BTN) berunjuk rasa menolak akuisisi BTN oleh Bank Mandiri pada Ahad, 19 April 2014. Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pekerja BTN Satya Wijayantara, ada sepuluh tuntutan yang disampaikan para karyawan terkait dengan akuisisi tersebut. (Baca: Tolak Akuisisi, Karyawan BTN Gugat Dahlan Iskan).

    Pernyataan sikap pertama, kata Satya, seluruh pekerja BTN menolak akuisisi atau merger oleh Bank Mandiri. Karyawan menilai kebijakan tersebut merupakan proyek eksperimen segelintir orang yang sekadar memenuhi ambisi pribadinya. “BTN hanya dijadikan alat pencitraan Dahlan Iskan agar Indonesia memiliki bank dengan aset yang mampu bersaing di tingkat regional,” katanya.

    Kedua, Satya mengatakan seluruh pekerja Bank BTN menolak kebijakan akuisisi atau merger karena dilakukan pada dua bank yang berbeda mazhab. Menurut dia, BTN adalah bank retail, sedangkan Bank Mandiri melayani kebutuhan korporat. “Proses ini berpotensi besar gagal dan berisiko menimbulkan korban, yakni para pekerja,” ujarnya.

    Ketiga, Serikat Pekerja BTN menuntut Dahlan Iskan selaku Menteri Badan Usaha Milik Negara untuk mematuhi kesepakatan politik tahun 2005 antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat. Kesepakatan itu menetapkan BTN sebagai bank tunggal yang fokus pada pembiayaan rumah untuk rakyat. (Baca: Demo, Karyawan BTN Buat Pocong Dahlan Iskan)

    Keempat, Serikat Pekerja BTN memandang pengelolaan bank oleh pemerintah tidak jelas dan tidak transparan. Menurut Satya, seolah-olah BTN akan diakuisisi tetapi pada faktanya akan dimerger. Pernyataan Dahlan Iskan tentang tujuan akuisisi BTN oleh Mandiri agar Indonesia memiliki bank dengan aset besar mempertegas adanya peleburan aset. “Sehingga berpotensi besar memunculkan gelombang pemecatan karyawan.” (Baca: Tolak Diakuisisi Bank Mandiri, Karyawan BTN Demo)

    Kelima, Serikat Pekerja BTN memandang kebijakan merger BTN oleh Mandiri hanya memberi keuntungan kepada Bank Mandiri. Di sisi lain, negara akan rugi karena daya saing perbankan melemah. Satya mengatakan negara juga merugi karena kehilangan bank yang berfokus dalam penyediaan rumah untuk rakyat.

    Keenam, Serikat Pekerja BTN menuntut pemerintah menyelesaikan pembahasan Tabungan Perumahan (Tapera) yang saat ini masih digodok oleh DPR dan sedianya akan dikelola oleh BTN. Ketujuh, Serikat Pekerja BTN menuntut pemerintah mematuhi seluruh regulasi dan menghormati hak-hak hukum karyawan, baik karyawan organik maupun karyawan outsourcing.

    Kedelapan, Serikat Pekerja BTN menolak pernyataan Dahlan Iskan yang menyebut BTN akan kalah bersaing dalam pembiayaan perumahan untuk rakyat. Satya mengatakan pernyataan itu mengada-ada dan kemungkinan untuk memenuhi ambisi pribadi Dahlan.

    Kesembilan, Serikat Pekerja BTN mengajak seluruh elemen buruh untuk berunjuk rasa, mogok kerja, serta memblokade Rapat Umum Pemegang Saham BTN dan RUPS Bank Mandiri pada Mei 2014. Tuntutan kesepuluh adalah Serikat Pekerja BTN meminta Presiden mengakhiri polemik ini dengan mencopot Menteri BUMN Dahlan Iskan.

    MAYA NAWANG WULAN


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039401/ada-campur-tangan-bos-bi-soal-akuisisi-btn-oleh-bank-mandiri

    Ada Campur Tangan Bos BI Soal Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri?
    by Fiki Ariyanti 20 Apr 2014 17:03

    Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum Serikat Pekerja PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Satya Wijayantara menduga, ada campur tangan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dibalik rencana akuisisi BTN oleh PT Bank Mandiri Tbk.

    “Ada peran Pak Agus Martowardojo dalam akuisisi ini, mengingat BTN diakuisisi bukan dari dana Bank Mandiri tapi dari obligasi rekap yang belum diserap pasar. Kan Agus Marto pernah jadi direktur utama Bank Mandiri,” kata Satya di kantor pusat BTN, Jakarta, Minggu (20/4/2014).

    Sekadar informasi, Direktur Utama Bank Mandiri saat ini, Budi Gunadi Sadikin pernah menyebut, perseroan memiliki obligasi rekap dengan total senilai Rp 70 triliun. Obligasi tersebut sangat cukup untuk mendanai rencana aksi korporasi besar itu.

    Lanjut Satya, kinerja Bank Mandiri sekarang ini tengah merosot. Dan hal ini akan sangat berisiko bagi masa depan BTN apabila rencana tersebut benar-benar terealisasi.

    “Kinerjanya Bank Mandiri lagi merosot, nah ini akan berisiko tinggi buat BTN. Kalau turun, bisa saja Bank Mandiri jual KPR-KPR BTN,” tegasnya.

    Seperti diberitakan, penasihat BTN, Rizal Ramli menilai, alasan Bank Mandiri untuk mengakuisisi bank perumahan itu karena kinerja yang kian merosot.

    “Dalam beberapa tahun terakhir ini, kinerja Bank Mandiri makin lama makin payah. Kinerjanya merosot,” ujar dia.

    Gerak bisnis Bank Mandiri, kata dia, sudah kalah gesit dibandingkan dua bank BUMN, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).

    “Kalau dibiarkan, satu atau dua tahun lagi, BRI akan mengalahkan Bank Mandiri sebagai bank nomor satu di Indonesia, mengalahkan Bank Mandiri,” jelasnya.

    Akuisisi, tambah Rizal, merupakan alasan Bank Mandiri untuk memperbesar asetnya. “Supaya loncat asetnya dan kembali jadi nomor satu di Indonesia dengan cara kurang cerdas. Mau enaknya sendiri pakai cara instan,” tukas dia.

    (Agustina Melani)


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/21/087571977/Diakuisisi-Mandiri-BTN-Makin-Rajai-Kredit-Properti

    Diakuisisi Mandiri, BTN Makin Rajai Kredit Properti
    Senin, 21 April 2014 | 05:33 WIB

    Ribuan Pekerja PT Bank Tabungan Negara (BTN) berunjuk rasa menolak rencana akuisisi di kantor pusat, gedung Menara BTN di Jakarta (20/04). Aksi yang diikuti 1.200 karyawan ini menolak rencana akuisisi oleh PT Bank Mandiri. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO , Jakarta – Meski menuai penolakan dari serikat karyawan, menurut sejumlah analis, akuisisi PT Bank Tabungan Negara (Persero) oleh PT Bank Mandiri (Persero) bakal memperkuat portofolio kredit keduanya. BTN diperkirakan akan memperkuat posisi di pasar properti. “Keberadaan BTN juga akan menambah portofolio kredit Bank Mandiri,” kata Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo kepada Tempo.

    Analis dari HD Capital, Yuganur Widjanarko, mengatakan akuisisi BTN akan menambah nilai aset per saham (nett asset value) Bank Mandiri. Dia memperkirakan bisnis kredit perumahan akan semakin dikuasai oleh bank dengan nilai kapitalisasi besar. “Bank pelat merah atau swasta seperti BCA nantinya menjadi penguasa,” ujarnya. (Baca : Tolak Akuisisi, Karyawan BTN Rilis 10 Tuntutan)

    Adapun David Cornelis, Kepala Riset KSK Financial Group, menilai baik BTN maupun Mandiri sama-sama sehat secara finansial. Mandiri mencatat pertumbuhan nilai laba sebesar 17,4 persen sepanjang 2013. (Baca : Bank Mandiri Akuisisi BTN, Bagaimana Bisnis KPR? )

    BTN mencatat kenaikan nilai laba 14,5 persen pada 2013. Dengan laba tersebut, rasio harga saham terhadap laba per saham (price to earning ratio/ PER) Mandiri mencapai 11,2 kali dengan return on equity (ROE) 20 persen. Sedangkan BTN memiliki PER 6,2 kali dengan ROE 16,5 persen.

    Berdasarkan data BTN per semester I 2013, perseroan itu menguasai 23 persen pangsa pasar kredit pemilikan rumah. Di pasar KPR bersubsidi, BTN menguasai pangsa 94 persen dari realisasi total program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan Kementerian Perumahan Rakyat per Juni 2013. Adapun Bank Mandiri menguasai 10 persen pangsa pasar kredit pemilikan rumah. (Baca: DPR: Akuisisi BTN Terganjal Program Perumahan)

    Pada Kamis, 17 April 2014, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengatakan BTN akan menjadi anak usaha Mandiri. Keduanya akan tetap dianggap sebagai entitas perusahaan yang berbeda. Menurut Dahlan, setelah akuisisi ini, kinerja penyaluran kredit perumahan akan digenjot. Sebab, BTN akan memiliki kemampuan lebih besar untuk memenuhi kekurangan jumlah perumahan, yang mencapai 1,5 juta unit per tahun. “Kalau mau lari kencang, BTN harus naik kuda besar, bukan keledai,” kata Dahlan.

    TRI ARTINING PUTRI | ANANDA PUTRI


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039689/agus-martowardojo-dukung-mandiri-akuisisi-btn

    Agus Martowardojo Dukung Mandiri Akuisisi BTN
    by Fiki Ariyanti 21 Apr 2014 14:05

    Liputan6.com, Jakarta Dituduh menjadi dalang akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) oleh PT Bank Mandiri Tbk, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo justru memberi sinyal dukungan atas rencana yang digulirkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.

    “Kalau seandainya sistem itu (akuisisi) mendorong terjadinya perbankan yang lebih sehat dengan konsolidasi bank, harus kita dukung. Tapi pelaksanaannya harus dengan prinsip pengelolaan yang sehat,” kata dia di kantornya, Jakarta, Senin (21/4/2014).

    Secara umum, tambah Agus, BI memandang bahwa kondisi perbankan di Indonesia, termasuk BTN cukup sehat baik dari rasio kecukupan modal, rasio kredit macet atau non performing loan (NPL) dan loan to deposit ratio (LDR).

    “Kalau seandainya ada rencana itu, nanti akan kami awasi lebih dalam lagi karena jika institusi itu termasuk dalam domestik Systematically Important Bank (SIB ), tentu BI akan memberikan perhatian,” jelasnya.

    Meski demikian, dia mengaku belum ada surat pemberitahuan dari manajemen kedua perbankan pelat merah itu kepada bank sentral. Agus mengaku menyerahkan urusan tersebut kepada dua institusi yang langsung mengawasinya yaitu Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    “Saya dan Dewan Gubernur lain belum menerima dan pemberitahuan apa-apa. Akuisisi maupun merjer bisa terwujud apabila ada willing seller dan willing buyer, jadi keduanya harus harmonis dan kalau memang bisa diyakini memberi nilai tambah, maka mereka (OJK dan BUMN) akan memutuskan hal itu,” tandasnya.
    (Arthur Gideon)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039837/mandiri-bisa-memperkuat-permodalan-btn

    Mandiri Bisa Memperkuat Permodalan BTN
    by Ilyas Istianur Praditya 21 Apr 2014 18:47

    Liputan6.com, Jakarta Rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melepas saham Pemerintah di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) ke PT Bank Mandiri Tbk mendapat tanggapan positif dari para praktisi perbankan.

    Namun, oleh para karyawan BTN sendiri, rencana akuisisi tersebut justru ditolak. Para karyawan khawatir mengenai status kepegawaian jika nantinya menjadi anak usaha Bank Mandiri.

    Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono menjelaskan para pegawai BTN tidak perlu khawatir akuisisi tersebut justru membuat BTN lebih kuat.

    “Aksi bisnis ini merupakan akuisisi, dan bukanlah merger. Jadi karyawan BTN tidak perlu khawatir, sebab akuisisi ini justru akan lebih menguatkan BTN,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/4/2014).

    Sigit menambahkan ke depan akuisisi Bank Mandiri terhadap BTN akan menguntungkan kedua bank tersebut.

    Saat ini BTN memiliki kekuatan dalam hal penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Sementara Bank Mandiri di sektor korporasi, sehingga Bank Mandiri bisa lebih memperluas cakupan bisnisnya.

    “Kedua Bank tersebut bisa bersinergi dengan sangat bagus dan saling melengkapi satu dengan yang lain,” kata Sigit.

    Sebagai bank dengan fokus KPR, BTN selama ini terkendala modal dan sumber pendanaan. Hal ini tercermin dari tingginya tingkat Loan To Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 104,4%. Rasio tersebut di atas ketentuan Bank Indonesia (BI). Selama 2013, total DPK BBTN sebesar Rp 96,2 triliun dimana mayoritas yaitu 54,9% merupakan dana mahal.

    Kondisi keuangan BTN tersebut bisa ditutupi oleh Bank Mandiri yang memiliki kekuatan modal dan sumber dana pihak ketiga yang besar. Sampai 2013, BMRI memiliki modal sebesar Rp 82,4 triliun, yang terbesar di antara Bank BUMN lainnya. Sementara, total dana pihak ketiga di BMRI yang mencapai Rp 556,3 triliun di tahun 2013, sekitar Rp 359,9 triliun merupakan dana murah.

    Menurut Sigit, akuisisi Bank Mandiri terhadap BTN juga akan menguntungkan pemerintah. “Dengan melepas saham pemerintah ke bank BUMN, pemerintah akan tetap memiliki kontrol penuh terhadap fungsi dan peran strategis BTN sebagai bank yang fokus mendukung penyediaan rumah bagi masyarakat,” jelasnya.

    Sigit menyebutkan, akuisisi BTN oleh Mandiri juga sesuai dengan arsitektur perbankan Indonesia. Khusus untuk bank BUMN, nantinya akan ada satu bank besar yang beskala internasional.
    (Arthur Gideon)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039938/empat-alasan-dahlan-iskan-ngotot-jual-btn-ke-mandiri

    Empat Alasan Dahlan Iskan Ngotot Jual BTN ke Mandiri
    by Ilyas Istianur Praditya 21 Apr 2014 21:15

    Liputan6.com, Jakarta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tetap ngotot untuk menjual saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) kepada Bank BUMN lainnya, PT Bank Mandiri Tbk.

    Menteri BUMN, Dahlan Iskan mengaku ada empat alasan mengapa dirinya memiliki roadmap penyederhaaan industri perbankan di Indonesia khususnya perbankan milik pemerintah.

    “Pertama, ini adalah gagasan yang sangat bagus untuk kemajuan Indonesia,” kata Dahlan kepada wartawan, Senin (21/4/2014).

    Menurut Dahlan, disebut kemajuan karena dengan penggabungan ini akan meningkatkan kapasitas dan daya saing industri perbankan Indonesia dalam menghadapi pasar bebas ASEAN di 2015.

    Untuk alasan kedua, selama ini BTN menunjukkan kinerja yang menurun, dan dengan penggabungan ini nantinya dapat meningkatkan kekuatan BTN dalam menjadikan lembaga keuangan yang berkonsentrasi dalam pemberian kredit perumahan kepada rakyat.

    “Selama ini BTN tidak cukup punya kemampuan untuk itu. Kredit rumah yang bisa diberikan oleh BTN bahkan lebih kecil dari kredit yang diberikan oleh bank yang bukan untuk perumahan,” jelas Dahlan.

    Ketiga, Dahlan menjelaskan dengan diambilalihnya BTN oleh Mandiri ini, nantinya akan menjadikan Bank Mandiri sebagai bank yang memiliki aset besar dan berhasil mengalahkan perbankan di Malaysia.

    “Negara kita negara besar, tapi banyak kalah di berbagai sektor oleh Malaysia. Kini Garuda Indonesia sudah mengalahkan Malaysia Airline, Semen Indonesia sudah mengalahkan Semen Malaysia, tahun depan pelabuhan kita mengalahkan pelabuhan Malaysia, dan kalau BTN diakuisi oleh Bank Mandiri maka di dunia perbankan Indonesia sudah mengalahkan Malaysia,” papar mantan Dirut Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu.

    Sedangkan untuk alasan ke empat, dengan peningkatan modal yang didapat Bank Mandiri maka akan membantu mengimbangi kekuatan industri perbankan dengan pertumbuhan industri yang lain.

    “Perusahaan-perusahaan di indonesia akan terus kian besar. Perusahaan besar memerlukan bank yang besar. Kalau perusahaan-perusahaan di indonesia kian besar sedang banknya tidak membesar maka hanya bank-bank asinglah yang akan merajalela. Bank asing yang amat diuntungkan karena hanya bank asing yang bisa melayani mereka,” pungkas Dahlan.
    (Arthur Gideon)


    http://bisnis.liputan6.com/read/2039941/dahlan-tak-akan-mundur-meskipun-ditentang-banyak-pihak

    Dahlan Tak akan Mundur Meskipun Ditentang Banyak Pihak
    by Ilyas Istianur Praditya 21 Apr 2014 21:45

    Dahlan Iskan pun sampai menangis ketika menyaksikan film berjudul “Sepatu Dahlan” besutan sutradara Benni Setiawan (Liputan6.com/Panji Diksana)

    Liputan6.com, Jakarta Rencana penjualan saham Bank Tabungan Negara (BTN) ke PT Bank Mandiri Tbk saat ini diprotes oleh para karyawan BTN. Meskipun begitu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku tidak akan mundur untuk menciptakan industri perbankan yang lebih solid.

    “Beberapa pihak menentang ide akuisisi BTN oleh Bank Mandiri tapi saya tidak akan mundur,” tegas Dahlan kepada wartawan, Senin (21/4/2014).

    Dahlan menambahkan pihak-pihak yang hingga saat ini menentang rencana Kementerian BUMN tersebut dikatakannya pihak-pihak yang belum tentu mengerti mengenai peningkatan kualitas di industri perbankan.

    Namun begitu, mantan Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) ini mengakui bahwa untuk memutuskan rencana pengambil alihan ini tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan harus mendapatkan persetujuan dari pihak-pihak lain.

    “Kalaupun pihak-pihak lain tidak akan menyetujui rencana ini, yang jelas saya sebagai Menteri yang membawahi BUMN sudah membuat rencana dan roadmap yang jelas untuk kemajuan negara di bidang itu,” paparnya.

    Protes yang dilakukan para karyawan BTN, diakuinya merupakan hal yang biasa, dimana dalam sebuah perjuangan demi kemajuan sebuah bangsa dikatakannya tidak akan semulus yang diinginkan.

    “Selalu ada yang menentang, saya harus ingat ketika saya pakai sepatu ket pun ada yang menentangnya. Negara ini tidak akan maju kalau gampang goyah dan gampang digoyang,” pungkasnya.
    (Arthur Gideon)


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/22/087572378/BTN-Dicaplok-Mandiri-Pengusaha-Properti-Resah

    BTN Dicaplok Mandiri, Pengusaha Properti Resah
    Selasa, 22 April 2014 | 15:30 WIB

    Pekerja PT BTN membawa poster Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika berunjuk rasa menolak rencana akuisisi di kantor pusat, gedung Menara BTN di Jakarta (20/04). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Garut – Pengusaha perumahan di Jawa Barat resah atas rencana pemerintah mengakuisi PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk oleh PT Bank Mandiri Tbk. Mereka juga menolak rencana pemerintah untuk menggabungkan kedua bank pelat merah tersebut.

    “Kami para pengusaha yang akan kena dampaknya,” kata Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha, Asosiasi Pengembang Perumahan Seluruh Indonesia (Apersi) Jawa Barat, Yusuf Supriadi, di Garut, Selasa, 22 April 2014. (Baca:Hatta: Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri Belum Final)

    Menurut dia, akuisi itu akan berdampak terhadap menurunnya penjualan perumahan murah. Alasannya, Bank Mandiri belum memiliki pengalaman dalam mengelola program rumah murah dari Kementerian Perumahan Rakyat. Karena itu, kebutuhan rumah murah masih dikelola oleh BTN.

    Selain itu, bila BTN menjadi anak usaha Bank Mandiri, fungsi-fungsi sosial BTN dalam pengadaan rumah dengan bunga kredit terjangkau akan terdegradasi. Sebab, acuannya akan disesuaikan dengan target komersial perusahaan yang baru. (Baca:Diakuisisi Mandiri,BTN Makin Rajai Kredit Properti)

    Tak hanya itu, segmen pasar kedua bank ini juga cukup berbeda. BTN merupakan bank retail dan fokus terhadap pembiayaan rumah untuk rakyat, sedangkan Bank Mandiri melayani kebutuhan korporat. “Bila kebijakan ini dilakukan, sistem perumahan murah akan berubah karena portofolionya akan mengikuti Mandiri,” ujar Yusuf.

    Menurut dia, pengusaha dan masyarakat sudah merasa nyaman dalam pengajuan kredit rumah. Begitu juga dalam proses pencairan dana cukup mudah dan tidak berbelit-belit. Dia mencontohkan proses pengajuan rumah bersubsidi di BTN hanya memerlukan waktu selama satu pekan. “Kalau dengan Mandiri bisa lebih dari satu minggu. Apalagi mereka hanya main di perumahan komersil,” ujarnya.

    SIGIT ZULMUNIR


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/22/092572433/Jadi-Anak-Bank-Mandiri-Modal-BTN-Bakal-Lancar

    Jadi Anak Bank Mandiri, Modal BTN Bakal Lancar
    Selasa, 22 April 2014 | 18:45 WIB

    Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (Persero), Budi Gunadi Sadikin, menjamin permodalan PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk bakal lancar. Jaminan ini diberikan jika BTN menjadi anak usaha Bank Mandiri. (Baca: Hatta: Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri Belum Final)

    Masalah kesulitan modal bisa diatasi dengan penambahan modal. Salah satunya, kata Budi, injeksi yang lebih cepat dari Mandiri. Sebagai anak usaha, BTN nantinya akan diperlakukan seperti layaknya anak usaha lainnya, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT AXA Mandiri.

    Budi menyatakan saat ini pihaknya sedang menyiapkan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS). “Salah satu yang disiapkan adalah mengenai persiapan struktur kedua organisasi, karyawan, dan jajaran,” kata Budi, Selasa, 22 April 2014.

    Dia menjelaskan, Bank Mandiri nantinya akan mengakusisi sekitar 60 persen saham pemerintah. Namun, hingga kini rencana itu masih dalam tahap finalisasi dan keputusannya akan diambil saat RUPS nanti.

    Menurut Budi, upaya akusisi ini sebenarnya rencana lawas Bank Mandiri. Meski begitu, dia enggan merinci berapa nilai anggaran yang disiapkan untuk melakukan akuisisi ini. “Itu kan ada hitungannya sendiri. Sekitar 60 persen dari market cap-lah pokoknya,” kata dia. Adapun sumber dana, juga masih dikaji. (Baca: Diakuisisi Mandiri, BTN Makin Rajai Kredit Properti)

    Seperti diketahui pemerintah berencana melepas kepemilikan saham di BTN. Bank Mandiri dikabarkan akan mengakuisisi BTN. Saat ini komposisi pemegang saham BTN terdiri dari pemerintah sebesar 60,14 persen, badan usaha asing sebesar 25,45 persen, dan sisanya terdiri dari perorangan, karyawan, reksa dana, dana pensiun, asuransi, koperasi, dan perseroan terbatas.

    FAIZ NASHRILLAH


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/23/087572651/Perbanas-Akuisisi-BTN-Menguntungkan-Kedua-Bank

    Perbanas: Akuisisi BTN Menguntungkan Kedua Bank
    Rabu, 23 April 2014 | 13:09 WIB

    TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengatakan akuisisi PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk oleh PT Bank Mandiri Tbk bakal menguntungkan kedua belah pihak. Asalkan, eksekusi rencana ini dilakukan dengan baik. “Harus diawasi eksekusinya,” katanya kepada Tempo, Rabu, 23 April 2014.

    Menurut Sigit, akuisisi harus menghasilkan “satu ditambah satu sama dengan tiga”. “Jangan sama dengan satu,” ujarnya. (Baca:Hatta: Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri Belum Final)

    Semua pihak, kata dia, harus menghormati keinginan pemilik saham menyatukan bank-bank mereka. Dalam hal ini, keinginan pemerintah menggabungkan kedua bank tersebut tidak perlu ditakuti. “Kalau terus-menerus ditolak, kapan kita punya bank besar.”

    Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menargetkan akuisisi BTN rampung dalam tiga bulan. “Saya ingin tiga bulan selesai, tapi tetap harus mengikuti prosedur,” katanya di kantornya, Selasa, 22 April 2014. (Baca: Kata Dahlan, Akuisisi BTN Beres Dalam Tiga Bulan)

    Dahlan melanjutkan, akuisisi ini berperan mendongkrak kapasitas BTN dalam membiayai kredit. Setelah menjadi anak usaha Bank Mandiri, BTN tetap berfokus pada pengucuran kredit perumahan. Selama ini BTN kekurangan dana untuk membangun 1,5 juta unit rumah di Indonesia. Di sisi lain, pemerintah tak bisa lagi mengucurkan dana karena banyaknya proyek negara yang butuh pembiayaan.

    TRI ARTINING PUTRI


    http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2094514/btn-mandiri-diharapkan-tak-ganggu-investasi

    BTN-Mandiri Diharapkan Tak Ganggu Investasi
    Budi Yuni Harto, pasarmodal – Rabu, 23 April 2014 | 15:38 WIB

    Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar – (Foto: istimewa)

    INILAHCOM, Jakarta – Akuisisi PT Bank Tabungan Nasional (BTN) oleh PT Bank Mandiri (Persero) diharapkan tidak mempengaruhi iklim investasi.

    Menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar, keputusan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mempersilahkan Mandiri mengakuisisi BTN harus dipahami oleh berbagai pihak. Sebab, BKPM sendiri saat ini sedang fokus untuk kesiapan Indonesia memasuki ASEAN Economic Community (AEC).

    “Saya harapkan tidak (berpengaruh). kalau mengenai tujuannya saya rasa semua dapat memahami apa yang disampaikan oleh Kementerian BUMN karena betul, apalagi kami yang juga concern bagaimana kesiapan Indonesia di kancah regional dan internaisonal apalagi memasuki AEC,” ujar Mahendra di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (23/4/2014).

    Menurut dia, seharusnya Indonesia sudah memiliki bank dengan taraf internasional. Saat ini perkembangan bank nasional Indonesia cepat, namun Mahendra menilai saat ini bank nasional masih kurang cepat untuk sampai ke tingkat internasional.

    Atas dasar itu, perlu dikaji dalam bentuk lain agar bisa mempercepat bank lokal menuju tingkat Internasional. “Memang kita harus memliki bank bertaraf internasional, kita tahu perkembangan bank nasional kita cepat, tapi tetap kurang cepat untuk sampai ke tingkat internasional sehingga bisa dikaji bentuk-bentuk lain yang bisa mempercepat hal tadi sehingga Indonesia punya bank yang bukan hanya secara operasional di tingkat Internasional,” tuturnya.

    Hendra beralasan, percepatan bank lokal untuk bisa ikut menentukan arah dari integrasi ekonomi di kawasan ASEAN, jika hanya berjalan di tempat Indonesia hanya menjadi penonton saja dan bank-bank asing yang akan menentukan arah ekonomi ASEAN.

    Dirinya juga mengatakan, proses untuk akuisisi BTN oleh Mandiri harus dibuat lebih baik dan lebih rapih dengan melibatkan seluruh stakeholder agar bisa didukung oleh seluruh pihak.

    “Agar (nank nasional) bisa ikut menentukan arah dari integrasi ekonomi di kawasan kita ini. Kalau tidak yah kita hanya menonton saja dan bank-bank lain dan otoritas bank-bank itu yang menentukan, kita berpandangan itu. Bahwa kemudian prosesnya harus dibuat lebih baik lebih rapi melibatkan seluruh stakeholder, memang seharusnya demikian dan saya rasa kalau ada pihak-pihak yang perlu dan harus dilakukan konsultasi, hendaknya dilakukan sehingga proses itu bisa didukung seluruh pihak,” katanya. [jin]


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/23/090572717/Asosiasi-Pengembang-Perumahan-Tolak-Akuisisi-BTN

    Asosiasi Pengembang Perumahan Tolak Akuisisi BTN
    Rabu, 23 April 2014 | 16:43 WIB

    TEMPO.CO, Jakarta – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) menolak rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk oleh PT Bank Mandiri Tbk. Salah satu alasannya adalah BTN sudah terbukti sukses berfokus pada pembiayaan perumahan bersubsidi.

    “Faktanya, tahun 2013 BTN mampu menyalurkan 96 persen dari 102 ribu kredit perumahan rakyat (KPR) dengan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Sedangkan Bank Mandiri hanya mampu 1.695 unit atau 1,66 persen,” ujar Sekretaris Jenderal Apersi Endang Kawidjaja di Menara Kadin, Jakarta, Rabu, 24 April 2014.

    Pernyataan tersebut sekaligus mementahkan keterangan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan yang menyatakan BTN tidak mampu mengimbangi tingginya kebutuhan KPR akan perumahan.

    Selain itu, Apersi menilai penggabungan BTN dengan Bank Mandiri agar Indonesia memiliki bank besar tidak akan terjadi. “Kenapa tidak dengan merger BNI dengan Mandiri, langsung Rp 1.300 triliun asetnya. Kenapa mengambil risiko dengan bank yang sudah menjadi spesialis di KPR FLPP hanya untuk mewujudkan bank besar yang hasilnya tidak juga besar, yang kemungkinan hasil KPR FLPP-nya relatif sedikit?” tutur Endang.

    Dia mengatakan anggota Apersi yang menjadi nasabah BTN pun merasa tidak pernah menemui kendala dalam pencairan dana baik kredit konstruksi maupun KPR konsumen sepanjang tahun lalu. “Malah mungkin banyak kendala di lapangan yang sebenarnya belum terkait atau tidak terkait dengan kondisi finansial bank fokus perumahan ini,” katanya.

    Ia juga menyesalkan proses akuisisi yang terkesan tertutup dan tidak transparan. Ia berharap proses penggabungan bisa lebih transparan dan matang serta dilakukan seusai pemilihan presiden. Sebab, penggabungan dua entitas perusahaan ini merupakan sebuah keputusan strategis.

    MAYA NAWANGWULAN


    http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2094561/rei-akuisisi-btn-langkah-mundur

    REI: Akuisisi BTN Langkah Mundur
    Rina Anggraini, pasarmodal – Rabu, 23 April 2014 | 17:23 WIB

    Ketua Umum DPP REI, Eddy Hussy – (Foto: istimewa)

    INILAHCOM, Jakarta – Realestat Indonesia (REI) menilai, langkah akuisisi PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) oleh Bank Mandiri sebagai langkah mundur bagi penyedian kredit pemilikan rumah (KPR) bagi semua lapisan masyarakat.

    “Indonesia justru butuh banyak bank yang fokus dalam penyaluran KPR. Bukan justru mengurangi bank fokus yang sudah ada,” ujar Ketua Umum DPP REI, Eddy Hussy di Jakarta, Rabu (23/4/2014).

    Jika akuisisi terjadi, tidak ada jaminan misi pembiayaan perumahan rakyat akan tetap berjalan. “Anak usaha pasti harus mengikuti maunya perusahaan induk. REI khawatir hal tersebut juga akan terjadi dengan BTN,” tambah dia.

    Ia juga menjelaskan rencana pemerintah melakukan pemupukan dana melalui tabungan perumahan juga akan mampu mengatasi sekaligus bisa membesarkan BTN jika peran tersebut diberikan. “Fokus ke sana dulu penetapan di UUD. Jika sudah diundangkan dan dioperasionalkan, akan sangat membantu pembiayaan perumahan,” jelas dia.

    Bahkan pembiayaan dengan bank manapun tidak jadi persoalan. Tetapi, REI tidak ingin adanya Akuisis BTN-Mandiri, terlebih untuk pengembang kecil yang sebagian besar berada di daerah. “BTN selama Ini membiayai perumahan di semua kelas, mulai dari rumah sederhana sampai mewah. Pengembang di daerah ingin BTN besar, tetapi bukan dengan akuisisi,” tuturnya. [jin]


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/24/090572795/Kadin-Dukung-Penggabungan-BTN-Mandiri

    Kadin Dukung Penggabungan BTN-Mandiri
    Kamis, 24 April 2014 | 05:09 WIB

    TEMPO.CO , Jakarta:Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendukung rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menggabungkan PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk. Penggabungan sangat diperlukan untuk mengangkat backlog perumahan yang terus meningkat.

    “Penguatan modal dan pendanaan BTN akan membantu mengatasi kebutuhan rumah yang terus meningkat akibat melonjaknya kelompok usia muda dan kelas menengah,” kata Ketua Kadin Bidang Perbankan Rosan P. Roslani kepada Tempo, di Jakarta, Rabu 23 April 2014. (Baca:Asosiasi Pengembang Perumahan Tolak Akuisisi BTN)

    Menurut Roslan, sebagai bank yang fokus di sektor perumahan, BTN sangat penting untuk memenuhi kebutuhan perumahan bagi rakyat Indonesia. Namun, kondisi BTN hingga saat ini tidak mampu untuk membiayai kebutuhan rumah yang semakin besar. Bahkan akibat modal dan pendanaan yang terbatas, ruang pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) kian mengecil.

    Seperti diketahui, saat ini modal BTN hanya sekitar Rp 11,5 triliun dengan loan to deposit (LDR) lebih dari 104 persen. Adapun lebih dari 55 persen Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan dana mahal, sehingga tingkat suku bunga KPR pun tinggi.

    “Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri dapat menjadi solusi dari berbagai persoalan yang dihadapi BTN dan pembiayaan perumahaan,” kata Rosan. “Karyawan BTN juga tidak perlu khawatir karena akuisisi ini tidak akan mengubah struktur.” (Baca:Jadi Anak Bank Mandiri, Modal BTN Bakal Lancar)

    Sesuai sensus perumahan 2010, backlog perumahan sudah mencapai 13,6 juta unit. Dengan asumsi kebutuhan rumah per tahun sebanyak 800 ribu unit dan hanya 400 ribu unit yang mampu dibiayai, maka dalam 20 tahun ke depan akan terjadi backlog perumahan hingga mencapai 21,6 juta rumah.

    Selain itu, menurut Rosan, konsolidasi perbankan sangat dibutuhkan untuk memperkuat daya saing bank nasional menghadapi persaingan dengan bank asing, baik di pasar domestik maupun international. Penguatan bank BUMN melalui konsolidasi bank-bank BUMN juga sangat dibutuhkan untuk menjadi lokomotif penggerak ekonomi nasional. (Baca:Diakuisisi Mandiri, BTN Makin Rajai Kredit Properti)

    Konsolidasi BTN dan Mandiri dianggap sebagai momentum yang tepat untuk melahirkan bank yang besar, kuat dan memiliki daya saing untuk berbagai segmen pasar. Dengan menjadi anak perusahaan Bank Mandiri yang didukung modal kuat, pendanaan besar dan jaringan yang luas, nantinya BTN akan memiliki ruang untuk bisa berkembang dan memaksimalkan potensi pasar perumahan yang semakin besar.

    “Indonesia butuh bank yang besar dan kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendorong ekonomi nasional agar tumbuh semakin tinggi. Konsolidasi ini juga dibutuhkan agar bank kita bisa menjadi pemain utama di dalam negeri dan ASEAN,” kata Rosan.

    RACHMA TW


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/24/087572796/BKPM-Penggabungan-BTN-Mandiri-Ciptakan-Bank-Besar

    BKPM: Penggabungan BTN-Mandiri Ciptakan Bank Besar
    Kamis, 24 April 2014 | 05:15 WIB

    Mahendra Siregar. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO , Jakarta:Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar menyatakan, memahami rencana Kementerian Badan Usaha Milik Negara terkait penggabungan PT Bank Tabungan Negara (BTN) dan PT Bank Mandiri Tbk. Menurut dia, langkah itu sebagai bentuk persiapan Indonesia untuk bersaing di kancah regional dan internasional. “Apalagi mau memasuki ASEAN Economic Community,” ujarnya, Rabu, 14 April 2014.

    Menurut Mahendra, dengan ketatnya persaingan perbankan saat ini, Indonesia harus memiliki bank bertaraf internasional. Secara nasional perbankan di Indonesia memang sudah tumbuh cepat, namun, kata dia, tidak secepat negara-negara lain. “Sehingga bisa dikaji bentuk lain untuk mempercepat pertumbuhan itu. Istilahnya size does matter.” (Baca:Hatta: Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri Belum Final)

    Jika hal itu bisa dilakukan, maka perbankan Indonesia bisa berperan dalam integrasi ekonomi di kawasan ASEAN. “Kalau tidak, kita hanya jadi penonton. Sedangkan bank dan otoritas bank lain yang menentukan,” ujarnya.

    Namun, Mahendra juga meminta proses akusisi bisa dilakukan dengan lebih baik dan melibatkan seluruh stakeholder. “Itu harus dilakukan dan kalau butuh konsultasi hendaknya itu juga dilakkukan.” (Baca:Jadi Anak Bank Mandiri, Modal BTN Bakal Lancar)

    Bank Mandiri berencana mengakuisisi saham pemerintah di BTN. Saat ini komposisi pemegang saham BTN terdiri atas pemerintah sebesar 60,14 persen, badan usaha asing 25,45 persen, serta sisanya perorangan, karyawan, reksa dana, dana pensiun, asuransi, koperasi dan perseroan terbatas.

    Agar akuisisi berjalan mulus, Bank Mandiri akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa pada 21 Mei mendatang. Menurut Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Gunadi Sadikin, rencana itu sebetulnya sudah lama disiapkan. Aksi korporasi ini merupakan bagian dari konsolidasi bank BUMN yang sudah dicanangkan oleh Kementerian BUMN sejak dulu.

    ANGGA SUKMA WIJAYA


    http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/04/24/234491/ojk-mendukung-akuisisi-btn

    OJK Mendukung Akuisisi BTN
    Suci Sedya Utami – 24 April 2014 17:42 wib

    Metrotvnews.com, Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung rencana Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (Kemeneg BUMN) PT Bank Tabungan Negara Tbk. BTN akan diakuisisi oleh PT Bank Mandiri Tbk.

    Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad, mengatakan OJK ingin mendorong konsolidasi industri keuangan nasional pada prinsipnya. “Saya kira kita mendukung,” ungkap Muliaman usai memberi sambutan dalam acara Microtafakul Conference Indonesia, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (24/4/2014)

    Dia menilai BTN memiliki tugas yang sangat penting yaitu mengembangkan hipotek bank di perumahan. Kebutuhan perumahan masih sangat besar di Indonesia dan perlu segera dikembangkan.

    “Menurut saya menjadi satu keperluan, tentu saja untuk keperluan itu kita butuh BTN yang kuat. Tentu saja ketika sampai disitu pemerintah sebagai pemilik tentu memiliki preferensi,” paparnya.

    Muliaman mengaku sudah melakukan pembicaraan dengan BTN. “Saya dengan BTN sudah banyak melakukan pembicaraan untuk mengembangkan produk-produk yang terkait dengan hipotek bank ini ke depan,” terangnya.

    Mantan Deputi Bank Indonesia ini mengatakan berencana bertemu dengan Meneg BUMN, Dahlan Iskan, dalam jangka dekat. “Sebetulnya enggak hanya menyangkut BTN saja yang dibicarakan tapi bagaimana ke depan peran dari bank pemerintah sebagai lokomotif dari sistem bank nasional, sebab peran bank pemerintah masih sangat besar di sistem perbankan nasional,” ucapnya.

    Muliaman mengatakan peran bank pemerintah dalam sistem perbankan nasional lebih dari 40 persen. Artinya, masih menjadi lokomotif sehingga diperlukan bank pemerintah yang kuat dan sehat.

    “Kuat dalam arti modalnya kuat, profesional, size-nya juga besar sehingga bisa menutupi dan melayani kebutuhan masyarakat,” kata dia.

    Dia menambahkan, untuk menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) 2015, Indonesia perlu memiliki perbankan dengan ukuran yang besar untuk menghadapi persaingan internasional dan bank dengan kekhususan seperti BTN.

    “Kita perlu dua-duanya kita perlu kekhususan itu karena memang ada keperluan itu, tapi kita juga perlu bank yang kuat artinya well capitalized dan well manage ya dua hal yang menjadi persyaratan kita,” tutupnya.
    (Bob)


    https://id.berita.yahoo.com/akuisisi-batal-dahlah-saya-seolah-menteri-ngawur-033813480–finance.html

    Akuisisi Batal, Dahlah: Saya Seolah Menteri Ngawur
    TEMPO.CO – Kam, 24 Apr 2014

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menyatakan rencana pengabungan PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk sudah melalui kajian yang melibatkan berbagai konsultan. “Saya harus menjelaskan bahwa tidak benar akuisisi ini belum melalui kajian yang mendalam. Seolah-olah saya menteri ngawur,” ujarnya, Kamis, 24 April 2014. (Baca: Akuisisi BTN Batal)

    Dahlan menjelaskan, penggabungan dua bank tersebut ditujukan untuk meningkatkan daya saing perbankan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Namun, jika presiden tidak menyetujuinya, dia mengaku pasrah. “Saya akan tunduk kalau memang benar-benar diperintah membatalkan akuisisi BTN oleh Bank Mandiri oleh atasan saya.” (Baca: Asosiasi Pengembang Perumahan Tolak Akuisisi BTN)

    Sebaliknya, Dahlan justru mengaku heran, setelah pemilihan umum, menteri tidak boleh mengambil kebijakan strategis pada akhir kepemimpinannya. “Jangan sampai dengan selesainya pemilahan umum 9 April lalu seolah-olah pemerintah sudah demisioner, sehingga menteri tidak bisa lagi bekerja maksimal,” tuturnya. (Baca: Kata Dahlan, Akuisisi BTN Beres Dalam Tiga Bulan)

    Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Dipo Alam menyatakan presiden menolak rencana akuisisi BTN oleh Mandiri. Menurut Dipo, proses akuisisi BTN berpotensi menjadi beban bagi pemerintah mendatang lantaran prosesnya yang panjang.

    Akuisisi BTN, kata Dipo, juga dinilai tidak sesuai dengan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta menteri dan pejabat negara tak mengeluarkan kebijakan yang menimbulkan keresahan masyarakat. Instruksi itu disampaikan di dua sidang kabinet, yakni pada 5 dan 19 Januari 2014.

    ANANDA PUTRI


     
  • Virtual Chitchatting 10:28 AM on 2014/04/23 Permalink  

    Menkeu M.Chatib Basri dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa menolak rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. yang dipaksakan oleh Dahlan Iskan selaku Menteri BUMN

    It won’t be happening on my account.
    You, dumb ass, are the management. Right.
    I am the sole owner of both BTN and Bank Mandiri.
    Will you do your Management Buy Out to BTN, Dahlan Iskan?
    You are the martyr, shit head.
    You are expendable.
    You are history right now.
    You have proved yourself worthless, meaningless.
    Poor mother fucker.


    http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/04/17/231957/menkeu-minta-surat-soal-mandiri-akuisisi-btn

    Menkeu Minta Surat soal Mandiri Akuisisi BTN
    Gayatri – 17 April 2014 18:03 wib

    Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Keuangan Chatib Basri belum menerima notifikasi resmi rencana akuisisi Bank Tabungan Negara oleh Bank Mandiri dari Kementerian BUMN. Ia menolak memberi komentar apa pun mengenai hal tersebut sampai ada surat resmi mengenai hal ini.

    Demikian Chatib ditemui di kantornya di Jakarta, Kamis (17/4/2014). “Saya bilang, Pak Dahlan (Menteri BUMN Dahlan Iskan) kirim surat ke saya dong,” kata Chatib.

    “Katanya Pak Dahlan baru mau kirim surat. Nanti saya tunggu suratnya dulu. Kalau suratnya datang, saya kan bisa pelajari yang mau dilakukan, bagusnya apa, apa enggaknya.”

    Chatib menyiratkan bahwa pihaknya sudah membicarakan perihal wacana tersebut secara informal. Meski demikian, ia tidak menganggap hal tersebut secara resmi dihitung sebagai rencana aksi korporasi sampai dengan adanya penjelasan resmi.

    “Saya tidak akan pernah jawab sesuatu yang tidak ada governance-nya di meja saya,” tegasnya.
    (Was)


    http://www.antaranews.com/berita/430404/menkeu-pelajari-rencana-akuisisi-btn

    Menkeu pelajari rencana akuisisi BTN
    Satyagraha Senin, 21 April 2014 22:38 WIB

    Menteri Keuangan Chatib Basri (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

    Jakarta (ANTARA News) – Menteri Keuangan Chatib Basri mengaku sedang mempelajari rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk oleh PT Bank Mandiri Tbk, sebelum memberikan keputusan terkait aksi korporasi ini.

    “Saya sudah terima suratnya hari Sabtu (19/4) kemarin. Sedang didisposisi supaya dipelajari. Intinya Pak Dahlan (Menteri BUMN) punya rencana untuk Bank Mandiri mengambil BTN,” ujarnya di Jakarta, Senin.

    Chatib mengatakan, rencana akuisisi sedang dipelajari oleh Kementerian Keuangan, karena BTN merupakan bank yang memiliki karakteristik berbeda dengan bank-bank lainnya, terutama dalam fungsi pembiayaan perumahan.

    “Ini dipelajari dengan baik, kajiannya mesti agak lengkap dan bukan sekedar besar saja. Karena BTN fungsinya khusus dan berbeda dengan bank lain,” katanya.

    Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan menegaskan, dirinya tidak akan mundur dan terus memperjuangkan proses akuisisi Bank Tabungan Negara oleh Bank Mandiri meskipun mendapat tentangan dari sejumlah kalangan.

    “BTN harus dibesarkan. Belum tentu pihak-pihak yang menentang akuisisi BTN oleh Bank Mandiri itu memiliki konsep dan roadmap yang jelas di bidang itu,” kata Dahlan dalam layanan pesan singkat (SMS).

    Editor: Aditia Maruli


    http://www.merdeka.com/uang/menkeu-minta-kajian-akuisisi-btn-mandiri-harus-lengkap.html

    Menkeu minta kajian akuisisi BTN-Mandiri harus lengkap
    Ardyan Mohamad | Selasa, 22 April 2014 09:02

    Merdeka.com – Menteri Keuangan Chatib Basri mengaku telah menerima surat penjelasan Kementerian Badan Usaha Milik Negara soal rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara (BBTN) Tbk menjadi anak usaha PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Surat itu sampai di Kemenkeu, Sabtu (19/4).

    Dia belum bisa berkomentar soal perkembangan kajian rencana itu dari sudut pandang Kemenkeu. Akan tetapi, sekilas dia merasa penjelasan Kementerian BUMN harus lengkap soal akuisisi ini.

    “Kajiannya menurut saya mesti agak lengkap. Bukan karena sekadar (BTN) besar, tapi karena BTN kan khusus, untuk pembiayaan perumahan, nanti dipelajari,” ujarnya di Jakarta, Senin (21/4).

    Setelah diterima menkeu, surat dari Menteri BUMN Dahlan Iskan itu didisposisikan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Hadiyanto.

    Tapi Chatib tidak tahu kapan bendahara negara selesai merampungkan kajian atas akuisisi kontroversial tersebut. “Saya tidak bisa jawab, sekarang Pak Hadiyanto masih mengkaji. Secepatnya lah,” cetusnya.

    Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menilai aksi korporasi dua bank pelat merah itu tidak bisa dilakukan, sebelum seluruh unsur pemerintah sepakat.

    Sebab menko merupakan ketua tim privatisasi yang menjadi palang pintu terakhir menentukan aksi korporasi menyangkut badan usaha milik negara.

    “Kalau ada (BUMN) yang mau IPO, atau mau pelepasan saham, dibahas dulu. Ada menkeu, ada menteri teknis, ada menteri BUMN, kita rapat, dan saya sama sekali belum ada pembahasan, jadi saya menganggap (rencana merger) itu belum sama sekali final,” ujarnya.

    Pemerintah berencana melepas 60,14 persen saham di BTN, untuk dialihkan ke Bank Mandiri pada semester pertama tahun ini. Penyerahan saham pemerintah ke Mandiri melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

    Rencana pelepasan saham pemerintah tersebut tertuang dalam surat Kementerian BUMN tertanggal 11 April nomor SR-161/MBU/04/2014 ditujukan kepada Direktur Utama BTN Maryono.

    Isinya menambahkan agenda RUPSLB perseroan yang akan digelar Mei 2014 terkait persetujuan prinsip atas perubahan pemegang saham perseroan. Sejauh ini, serikat pekerja BTN menolak rencana tersebut, dan mengancam terus berunjuk rasa bila wacana itu tidak dibatalkan.


    http://ekbis.sindonews.com/read/2014/04/22/34/856683/kemenkeu-masih-pelajari-proposal-akuisisi-btn-mandiri

    Kemenkeu masih pelajari proposal akuisisi BTN-Mandiri
    Maesaroh, Selasa, 22 April 2014 – 20:35 WIB

    Sindonews.com – Menteri Keuangan M Chatib Basri menuturkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih mempelajari proposal Menteri BUMN Dahlan Iskan terkait rencana pemerintah untuk melepas saham sebesar 60,14 persen di PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk ke PT Bank Mandiri Tbk.

    Menurut Chatib, surat yang dikirimkan Dahlan belum mencatumkan satu opsi pun terkait rencana tersebut. Sebagai informasi, Menkeu telah menerima surat proposal pengambilalihan BTN ke Bank Mandiri, Sabtu lalu (19/4/2014).

    “Bahwa ada rencana Bank Mandiri untuk mengambilalih BTN tapi enggak dibilang apakah itu akuisisi atau merger. Itu yang masih (kita) pelajari,” ucap Chatib di kantornya, Selasa (22/4/2014).

    Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tersebut mengatakan, kedudukan BTN khusus di antara bank-bank umum. Sebagai catatan, BTN merupakan bank BUMN yang diberi tugas khusus untuk mengembangkan perumahan rakyat. Namun, dalam surat Dahlan juga disebutkan bahwa BTN perlu permodalan makanya akan diambilalih Bank Mandiri.

    “Ini kita mesti lihat strateginya mau dibikin apa terus polanya harus apa? Apakah harus melewati korporasi atau privatisasi. Itu mesti dipelajari dulu. Kalau opsi ini diambil apa akibatnya?” tuturnya.

    Untuk mengkaji pengambilalihan BTN oleh Bank Mandiri, Menkeu sudah mendisposisikan tugas kajiannya kepada Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Hadiyanto. Ditemui di kantor Kemenkeu, Hadiyanto menjelaskan privatisasi BUMN harus mempertimbangkan beberapa hal.

    “Ketentuan privatisasi itu ada dalam UU BUMN. Perusahaan apa saja yang bisa diprivatisasi. Pokoknya dia harus punya sisi competiveness. Salah satunya lagi tidak bersifat strategis keamanan dan pertahanan,” ucapnya.
    (gpr)


    http://www.kemenkeu.go.id/Berita/kemenkeu-kaji-akuisisi-btn-oleh-bank-mandiri

    Kemenkeu Kaji Akuisisi BTN oleh Bank Mandiri
    23 April 2014 – 10:28

    Jakarta, 23/04/2014 MoF (Fiscal) News – Kementerian Keuangan tengah mempelajari rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Menteri Keuangan (Menkeu) M.Chatib Basri pun telah menerima surat dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengenai rencana akuisisi tersebut.

    “Saya sudah terima suratnya hari Sabtu (19/4) kemarin. Sedang didisposisi supaya dipelajari. Intinya Pak Dahlan (Menteri BUMN) punya rencana untuk Bank Mandiri mengambil (alih) BTN,” jelas Menkeu di Jakarta, Senin (21/4).

    Menkeu mengungkapkan, kajian mengenai akuisisi BTN ini harus dilakukan secara lengkap, mengingat karakteristik BTN yang berbeda dengan bank-bank lainnya, terutama terkait fungsi pembiayaan perumahan.”Ini dipelajari dengan baik, kajiannya mesti agak lengkap dan bukan sekedar besar saja, karena BTN fungsinya khusus dan berbeda dengan bank lain,” paparnya.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Hadiyanto mengungkapkan bahwa penyatuan Mandiri dan BTN memerlukan kajian mendalam. Skema penyatuannya pun harus benar-benar dipertimbangkan yang terbaik. “Kalau berkaitan dengan adanya saham negara terdilusi, harus ke DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), kalau privatisasi konsepnya harus ke DPR. Ada juga aksi korporasi tertentu yang sifatnya bisa di (level) RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) saja,” terangnya.(nic)


    http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2094991/menkeu-tetap-kaji-akuisisi-btn

    Menkeu Tetap Kaji Akuisisi BTN
    Budi Yuni Harto, pasarmodal – Kamis, 24 April 2014 | 19:09 WIB

    Menteri Keuangan, Chatib Basri – (Foto : inilahcom/Wirasatria)

    INILAHCOM, Jakarta – Kementerian Keuangan akan tetap mengkaji rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara oleh PT Bank Mandiri (Persero).

    Menteri Keuangan, Chatib Basri menilai keputusan Presiden SBY menunda akuisisi tersebut untuk melakukan pendalaman secara komprehensif. “Kan ditundanya untuk dipelajari secara komprehensif. Jadi kita tetap akan pelajari,” ujar Chatib di kantornya, Kamis (24/4/2014).

    Chatib mengatakan konsolidasi bank BUMN merupakan tanggung jawab Menteri BUMN. Kemenkeu hanya bertugas sebagai pemilik saham, yang hanya menyetujui atau tidaknya rencana akuisisi antar bank BUMN.

    “Kalau saya hanya sebagai pemilik saham, saya cuma menyetujui atau tidak. Kalau masalah arsitektur-nya itu bagian mereka, saya tidak mau jawab,” ucapnya.

    Menurut Menkeu kajian tentang akuisisi BTN oleh Mandiri menjadi pembahasan di sidang kabinet. Kemenkeu nantinya akan melihat struktur akuisisi tersebut.

    Lewat sidang kabinet tersebut nantinya akan diputuskan untuk dilanjutkan atau dilimpahkan kepada pemerintahan baru. “Nanti dibalikn ke sidang kabinet, kita dari keuangan kan akan liat strukturnya seperti apa. Nanti dibalikin di sana (sidang kabinet) baru diputuskan apakah akan dilanjutkan, apakah dilimpahkan ke pemerintahan selanjutnya,” katanya.

    Lebih lanjut, Menkeu menjelaskan skema akuisisi BTN oleh Mandiri juga akan terus dibahas. Jika akuisisi tersebut berupa privatisasi maka harus melalui Komite Privatisasi, jika bukan privatisasi bisa dilakukan dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). “Kalau privatisasi harus melalui Komite Privatisasi, kalau tidak privatisasi bisa langsung RUPS,” tandasnya.

    Presiden SBY, pada Rabu (23/4/2014) membatalkan rencana akuisisi PT Bank Tabungan Nasional oleh PT Bank Mandiri (Persero). Alasannya demi mencegah kebijakan yang menimbulkan potensi keresahan masyarakat.

    Pembatalan tersebut ditujukan untuk Menko Perekonomian, Hatta Rajasa dan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. SBY menilai sesuai dengan sidang kabinet, para menteri tidak bisa mengambil kebijakan strategis. Pembatalan tersebut nantinya akan ditunda sampai ada penjelasan pihak terkait yang lebih komprehensif. [hid]


     
  • Virtual Chitchatting 8:41 AM on 2014/04/23 Permalink  

    housing the children molester and predator is the notorious reason to close Jakarta International School (JIS, read: jizz), one front office of Central Intelligence Agency (CIA) in Jakarta 

    housing the children molester and predator is the notorious reason to close Jakarta International School (JIS, read: jizz), one front office of Central Intelligence Agency in Jakarta

    http://www.fbi.gov/wanted/seeking-info/willliam-james-vahey

    Willliam James Vahey

    International Sex Crimes Investigation
    Nicaragua, United Kingdom, Venezuela, Indonesia, Saudi Arabia, Greece, Iran, Spain, Lebanon
    1972-2014

    201312

    http://www.fbi.gov/wanted/seeking-info/willliam-james-vahey/image_thumb

    200407

    http://www.fbi.gov/wanted/seeking-info/willliam-james-vahey/vahey_w-2.jpg/image_thumb

    199505

    http://www.fbi.gov/wanted/seeking-info/willliam-james-vahey/vahey_w-3.jpg/image_thumb

    198604

    http://www.fbi.gov/wanted/seeking-info/willliam-james-vahey/vahey_william-4.jpg/image_thumb

    Multimedia: http://www.fbi.gov/wanted/seeking-info/willliam-james-vahey/person_view_multimedia

    DETAILS

    The Federal Bureau of Investigation (FBI) is seeking the public’s assistance to identify alleged victims of a suspected international child predator. William James Vahey, a 64-year-old U.S. citizen, was a suspect in an international sex crimes investigation who committed suicide on March 21, 2014. His alleged victims were American and international students enrolled in private schools abroad where Vahey taught, beginning in 1972.

    A USB thumb drive belonging to Vahey and provided to the FBI revealed pornographic images of minor males, approximately 12 to 14 years old, who appeared to be asleep or unconscious. The images were captioned with locations and dates that referenced places Vahey had previously traveled with students. When Vahey was confronted about the images, he reportedly admitted molesting boys throughout his entire life and said he gave the minors sleeping pills prior to the molestation.

    FBI agents have reviewed photographs dating back to 2008 that depict at least 90 alleged victims. The FBI is seeking to notify individuals of the ongoing investigation and encourage additional alleged victims to come forward.

    Vahey, who maintained residences in London and Hilton Head Island, South Carolina, traveled extensively and internationally during the past four decades, working as a middle school and high school teacher at several American international schools in at least nine different countries. He taught history, geography, and social studies, and also coached junior varsity and basketball teams for boys. He regularly accompanied students on overnight field trips.

    Between 1972 and 2014, Vahey was employed at the following schools:
    American Nicaraguan School, Managua, Nicaragua: 2013 until March 2014;
    Southbank International School, London, United Kingdom: 2009-2013;
    Escuela Campo Alegre, Caracas, Venezuela: 2002-2009;
    Jakarta International School, Jakarta, Indonesia: 1992-2002;
    Saudi Aramco Schools, Dhahran, Saudi Arabia: 1980-1992;
    American Community School, Athens, Greece: 1978-1980;
    Passargad School, Ahwaz, Iran: 1976-1978;
    American School of Madrid, Madrid, Spain: 1975-1976;
    American Community School of Beirut, Beirut, Lebanon: 1973-1975;
    Tehran American School, Tehran, Iran: 1972-1973.

    If you have information about the ongoing investigation regarding William James Vahey, or believe you may have been victimized by him, please complete our confidential questionnaire or submit a confidential email to: HOvictimassistance@ic.fbi.gov. You can also contact your local FBI office or the nearest American Embassy or Consulate.

    Field Office: Houston

    confidential questionnaire http://www.fbi.gov/stats-services/victim_assistance/seeking-victim-information/seeking-victims-in-william-james-vahey-case
    local FBI office http://www.fbi.gov/contact-us/field/
    American Embassy or Consulate http://www.fbi.gov/contact-us/legat/


    http://www.theguardian.com/uk-news/2014/apr/23/london-private-school-child-abuse-investigation-teacher-confession

    FBI investigates London links of teacher who abused 90 boys
    William Vahey, who taught at Southbank International School, admitted molesting children while teaching in Caracas
    Robert Booth, The Guardian, Wednesday 23 April 2014 20.32 BST

    William James Vahey in 2013, left, and 2004. The teacher, 64, killed himself after confessing to drugging and molesting children while on field trips. Photograph: AP

    An elite London school has become embroiled in an FBI-led international child abuse investigation into a highly regarded teacher who is believed to have molested more than 90 boys.

    William Vahey, a 64-year old American who taught at the Southbank International School in Westminster between 2009 and 2013, killed himself in Minnesota in March after confessing to drugging and molesting children while on field trips.

    He had been found with a memory stick that contained sexually graphic images of at least 90 boys who appeared to have been drugged. They were catalogued with dates and locations that corresponded to his overnight field trips with students beginning in 2008 when he was teaching in the Escuela Campo Alegre in Caracas, Venezuela.

    Southbank’s chair of governors, the former chief inspector of schools, Sir Chris Woodhead, said the school was “deeply, deeply shocked” by the FBI’s announcement of the suspected mass crime. The fee-paying school is used by foreign executives and diplomats. Vahey taught boys aged 11 to 16.

    Woodhead confirmed Vahey took part in several field trips while at Southbank and said parents at the school were last night showing “considerable concern”.

    The school is planning to either hold a meeting or will write to parents within 24 hours about the crisis. Families are also to be offered psychological counselling.

    The FBI said that Vahey was jailed in California in 1969 for child molestation, but Woodhead said that nothing showed up on criminal record checks or references taken in the UK and abroad by the school, where Vahey had taught history and geography.

    Scotland Yard is helping assess the FBI’s intelligence about “potential alleged offences against children in London”. The FBI said it was trying to identify the dozens of children pictured in the photos.

    Patrick Fransen, an FBI special agent, said: “He had access to children because of his position of trust. The manner in which he committed these acts – while the boys were unconscious – may have inhibited them from knowing what happened, making it impossible for them to come forward at the time of the molestation.”

    As well as teaching in London, Vahey also worked in schools in Caracas in Venezuela, Jakarta in Indonesia, Dhahran in Saudi Arabia, Tehran and Ahwaz in Iran, Athens, Madrid and Beirut, during his career in education. The FBI has urged anyone who believes they may have been a victim to come forward.

    Vahey was working in Nicaragua when he was exposed in March by his employer who discovered the digitised images, the FBI said. When confronted about the images by a school administrator, he confessed he was molested as a child and had preyed on boys his entire life, giving them sleeping pills prior to the molestation. Within days he killed himself.

    “This is a completely shocking revelation,” said Woodhead. “We are co-operating with what is now an international police inquiry. We are supplying the police with all the information they want; trips Vahey took and so on.

    “When he was appointed we ran a criminal records bureau check and again three years later. In each case there was no cause for alarm. “We took three references [from previous schools], two from Venezuela and one from Jakarta. All of the references were very positive and said he was an outstanding member of staff. They said he was very willing to take school trips but with what we know now that is not as positive as it was when we read them.”


    http://international.sindonews.com/read/2014/04/23/40/856898/jejak-fedofil-dunia-william-james-vahey-di-jis

    Jejak fedofil dunia William James Vahey di JIS
    Muhaimin, Rabu, 23 April 2014 – 14:40 WIB

    Foto William James Vahey, fedofil dunia yang dirilis FBI. Foto: fbi.gov.

    Sindonews.com – Kasus kekerasan seksual terhadap bocah TK di Jakarta Internasional School (JIS) juga disorot FBI. Sebab, sosok pelaku fedofil dunia, William James Vahey ternyata pernah mengajar di JIS.

    William James Vahey bunuh diri di Luverne, Minnesota, bulan lalu, dua hari setelah seorang hakim federal di Houston mengatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat bisa mencari salah satu foto korban Vahey.

    Data di FBI menyebut, ada 90 anak yang diduga menjadi korban Vahey. Salah satu foto menunjukkan seorang anak laki berusia 12 hingga 14 tahun dalam kondisi tertidur diduga menjadi korban Vahey. “Ini adalah salah satu dari dugaan ‘predator’ yang paling produktif yang pernah kami lihat,” kata agen FBI di Houston, Shauna Dunlap, seperti dilansir CNN.

    Sindonews mengakes website resmi FBI, yakni fbi.gov, Rabu (23/4/2014), di mana terdapat nama dan data riwayat Vahey. Dia terakhir mengajar di Nikaragua dari Agustus 2013 sampai dengan 11 Maret 2014, dua hari sebelum ia bunuh diri.

    FBI mengatakan, bahwa ketika Vahey dihadapkan dengan foto-foto yang diduga menjadi korbannya dia mengakuinya.”(Dia) mengaku menganiaya anak laki-laki sepanjang hidupnya dan ia memberikan anak-anak obat tidur sebelum dianiaya,” ujar Dunlap.

    Sedangkan jejak Vahey di JIS, tercatat sebagai pengajar di JIS pada tahun 1992-2002. (Baca: Fedofil buronan FBI pernah mengajar di JIS) Berikut jejak Vahey yang dilansir FBI secara lengkap.
    -Mengajar di Amerika Nikaragua School di Managua, Nikaragua (2013-2014).
    -Mengajar di Southbank International School di London , Inggris (2009-2013).
    -Mengajar di Escuela Campo Alegre di Caracas , Venezuela (2002-2009).
    -Mengajar di Jakarta International School di Jakarta , Indonesia (1992-2002).
    -Mengajar di Saudi Aramco Sekolah di Dhahran , Arab Saudi (1980-1992).
    -Mengajar di American Community School di Athena , Yunani (1978-1980).
    -Mengajar di Passargad School di Ahwaz , Iran (1976-1978).
    -Mengajar di American School of Madrid di Spanyol (1975-1976).
    -Mengajar di American Community School of Beirut di Lebanon (1973-1975).
    -Mengajar di Tehran American School di Iran (1972-1973).

    FBI minta siapa pun yang memiliki informasi tentang korban Vahey untuk melaporkannya ke e-mail HOvictimassistance@ic.fbi.gov atau menghubungi kantor FBI lokal dan Kedutaan Besar AS setempat.
    (mas)


    http://edition.cnn.com/2014/04/22/justice/texas-fbi-international-child-predator-victims/

    FBI seeks victims of ‘prolific’ international child predator
    By CNN Staff, April 23, 2014 — Updated 1311 GMT (2111 HKT)

    STORY HIGHLIGHTS
    * FBI: William James Vahey taught at private schools in 9 countries for 42 years
    * He’s one of “the most prolific alleged predators we’ve ever seen,” agent tells KPRC
    * Thumb drive allegedly contained images depicting sexual assault on children
    * FBI is asking potential victims to contact them or nearest American Embassy

    Images provided by the FBI show William James Vahey in 2013 (left) and in 1986.

    (CNN) — An alleged child predator who taught at schools across the world for more than four decades may have more victims, and the FBI is trying to track them down, the agency’s Houston bureau said Tuesday.

    William James Vahey killed himself in Luverne, Minnesota, last month, two days after a federal judge in Houston said authorities could search one of Vahey’s thumb drives that allegedly contained images depicting sexual assault on children, CNN affiliate KPRC reported.

    There were images of at least 90 victims, dating back to 2008, and the FBI is encouraging additional alleged victims to come forward. The images on the thumb drive allegedly belonging to Vahey showed boys, estimated to be between 12 and 14 years old, asleep or unconscious, the agency said.

    The images had captions and dates referencing places that Vahey had previously traveled with students, the FBI said.

    “This is one of the most prolific alleged predators we’ve ever seen,” Houston FBI Special Agent Shauna Dunlap told the station.

    Vahey began teaching in private schools in 1972, the FBI says. He last taught at the American Nicaraguan School in Pista Suburbana, Managua, Nicaragua from August 2013 until March 11, two days before he committed suicide, KPRC reported.

    The case came to law enforcement attention after Vahey fired his maid for allegedly stealing personal items from his home last year, KPRC said. In March, the ex-maid brought a stolen thumb drive to the American Nicaraguan School, saying she came forward because the drive contained sexual images, the station reported.

    The FBI said that when Vahey was confronted with the images, he “reportedly admitted molesting boys throughout his entire life and said he gave the minors sleeping pills prior to the molestation.”

    He had residences in London and Hilton Head Island, South Carolina, and traveled extensively, the FBI said. He worked at schools in nine countries, teaching a variety of subjects and coaching boys’ basketball. He regularly accompanied students on overnight field trips, the FBI said.

    The schools where he taught are, according to the FBI:
    — American Nicaraguan School in Managua, Nicaragua (2013-2014)
    — Southbank International School in London, United Kingdom (2009-2013)
    — Escuela Campo Alegre in Caracas, Venezuela (2002-2009)
    — Jakarta International School in Jakarta, Indonesia (1992-2002)
    — Saudi Aramco Schools in Dhahran, Saudi Arabia (1980-1992)
    — American Community School in Athens, Greece (1978-1980)
    — Passargad School in Ahwaz, Iran (1976-1978)
    — American School of Madrid in Spain (1975-1976)
    — American Community School of Beirut in Lebanon (1973-1975)
    — Tehran American School in Iran (1972-1973)

    Anyone who has information on Vahey and who believes he victimized them can send a confidential e-mail to HOvictimassistance@ic.fbi.gov or contact their local FBI office or nearest U.S. Embassy.


    http://rossrightangle.wordpress.com/2014/04/23/william-james-vahey-sex-abuse-suspect-and-jis-teacher-for-ten-years/

    William James Vahey – Sex-Abuse Suspect…AND…JIS Teacher for TEN Years?
    ross1948 12:33 pm on April 23, 2014

    A suspected child molestor who recently suicided in the USA is alleged to have taught children at Jakarta International School for as long as ten years, according to Kompas.com today. http://internasional.kompas.com/read/2014/04/23/0920087/FBI.Tersangka.Pedofil.Pernah.Mengajar.di.JIS.Selama.10.Tahun

    Exactly what impact this shock news will have on JIS’s reputation remains to be seen.

    But the sudden revelation about a man under investigation by the FBI could hardly have come at a worse time for the school.

    Only days ago the JIS Principal asserted that talk of sexual abuse cases other than the one currently causing nationwide outrage was only that, ‘talk,’ and they’d heard of no such crimes being committed.

    William William James Vahey

    Well, William James Vahey’s details will soon be on the pages of every Indonesian newspaper.
    So far, all we’ve heard is that JIS is preparing a statement on the matter.
    It should make interesting reading.


    http://internasional.kompas.com/read/2014/04/23/0920087/FBI.Tersangka.Pedofil.Pernah.Mengajar.di.JIS.Selama.10.Tahun

    FBI: Tersangka Paedofil Pernah Mengajar di JIS Selama 10 Tahun
    Rabu, 23 April 2014 | 09:20 WIB

    FBI/CNN Foto wajah William James Vahey yang dirilis FBI. Foto kiri dari tahun 2013 dan kanan dari tahun 1986

    HOUSTON, KOMPAS.com – Seorang tersangka paedofil, yang kasusnya kini sedang ditangani FBI, pernah mengajar di Jakarta International School (JIS) di Jakarta, selama 10 tahun, yaitu tahun 1992-2002.

    Tersangka bernama William James Vahey itu selama empat dekade mengajar di berbagai sekolah swasta di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Biro Houston FBI, Selasa (22/4/2014), menyatakan bahwa pihaknya yakin, banyak anak telah menjadi korban dan badan itu sedang mencoba untuk melacak para korban tersebut.

    Vahey bunuh diri di Luverne, Minnesota, AS, bulan lalu, dua hari setelah seorang hakim federal di Houston mengatakan bahwa pihak berwenang bisa mencari salah satu flash disk Vahey yang diduga berisi foto-foto yang menggambarkan kekerasan seksual terhadap anak-anak, lapor televisi KPRC yang merupakan jaringan afiliasi CNN, Selasa.

    Ada sejumlah foto dari setidaknya 90 korban, yang berasal dari tahun 2008, dan FBI sedang mendorong terduga korban lain untuk memberikan laporan. Foto-foto di flash disk yang diduga milik Vahey itu menunjukkan sejumlah anak laki-laki, diperkirakan berusia antara 12 dan 14 tahun, dalam keadaan tertidur atau tidak sadarkan diri, kata FBI.

    Foto-foto tersebut memiliki keterangan dan tanggal yang merujuk ke tempat-tempat Vahey sebelumnya bepergian bersama para siswa. “Ini merupakan salah satu dari tersangka predator (anak) yang paling produktif yang pernah kami lihat,” kata Agen Khusus FBI Houston, Shauna Dunlap, sebagaimana dikutip CNN.

    Vahey mulai mengajar di sejumlah sekolah swasta tahun 1972, kata FBI. Dia terakhir mengajar di American Nicaraguan School di Pista Suburbana, Managua, Nikaragua, dari Agustus 2013 sampai 11 Maret 2014, dua hari sebelum ia bunuh diri.

    Kasus itu menjadi perhatian penegak hukum setelah Vahey memecat seorang pembantunya karena diduga telah mencuri barang-barang pribadi dari rumahnya, tahun lalu. Pada Maret lalu, mantan pembantu itu membawa flash disk yang dicuri itu ke American Nicaraguan School. Mantan pembantu itu mengatakan, dia datang karena flash disk itu berisi foto-foto seksual.

    Ia punya tempat tinggal di London, Inggirs, dan di Hilton Head Island, Carolina Selatan, dan sering bepergian, kata FBI. Dia telah bekerja di sekolah-sekolah di sembilan negara, mengajar berbagai mata pelajaran dan melatih basket untuk anak laki-laki. Ia secara rutin menemani para siswa dalam kunjungan ke luar kota.

    Berikut ini adalah daftar sekolah tempat ia mengajar, berdasarkan data FBI:
    1) American Nicaraguan School di Managua, Nikaragua (2013-2014)
    2) Southbank International School di London, Inggris (2009-2013)
    3) Escuela Campo Alegre di Caracas, Venezuela (2002-2009)
    4) Jakarta International School di Jakarta, Indonesia (1992-2002)
    5) Saudi Aramco Schools di Dhahran, Arab Saudi (1980-1992)
    6) American Community School di Athena, Yunani (1978-1980)
    7) Passargad School di Ahwaz, Iran (1976-1978)
    8) American School of Madrid di Spanyol (1975-1976)
    9) American Community School of Beirut di Lebanon (1973-1975)
    10) Tehran American School di Iran (1972-1973)

    Pihak FBI mengatakan, siapa pun yang punya informasi tentang Vahey dan yang yakin bahwa pria itu telah menjadikan mereka sebagai korbannya dapat mengirim e-mail rahasia ke Ovictimassistance@ic.fbi.gov atau menghubungi kantor FBI lokal atau Kedutaan Besar AS terdekat.


    http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/14/04/23/n4gncq-terungkap-mantan-guru-jis-ternyata-pernah-perkosa-90-bocah

    Terungkap! Mantan Guru JIS Ternyata Pernah Perkosa 90 Bocah
    Rabu, 23 April 2014, 08:41 WIB

    William James Vahey

    REPUBLIKA.CO.ID, HOUSTON — FBI merilis bahwa mereka kini sedang menangani salah satu kasus kekerasan seksual terburuk yang menimpa anak. Pelaku diketahui bernama William James Vahey, (64 tahun) asal South Carolina. FBI menduga Vahey sudah memperkosa 90 anak. Jumlah ini bahkan diprediksi melonjak.

    Yang membuat tersentak adalah kenyataann bahwa Vahey berprofesi sebagai guru. Celakanya, Vahey pernah menjadi staf pengajar di Jakarta International School (JIS).

    Di JIS sendiri saat ini baru terkuak kasus pelecehan seksual terhadap bocah. Namun, polisi baru menduga pelaku pelecehan seksual itu adalah petugas kebersihan. Sedangkan guru JIS tidak masuk dalam daftar pelaku yang dicurigai.

    Vahey sendiri pernah menjadi guru di JIS dalam kurun 1990-an hingga awal tahun 2000-an. FBI memastikan bahwa Vahey adalah salah satu predator pemerkosa bocah paling diincar oleh FBI. “Dia adalah salah satu pelaku yang paling kakap yang pernah ada,” kata agen FBI Houston, Shauna Dunlop, seperti dilansir Click2houston.

    Vahey sendiri ditemukan bunuh diri ketika FBI baru memulai memproses kasusnya. Vahey baru saja dipecat dari sekolah internasional di Nikaragua akibat kasus pelecehan, awal tahun ini.

    “Sebelum mengajar di Nikaragua, pelaku juga pernah menjadi guru di London, Inggris, Venezuela, Dhahran, Athena, Tehran, Madrid, Beirut, dan Jakarta,” kata Dunlop.


     
  • Virtual Chitchatting 4:09 PM on 2014/04/22 Permalink  

    As the cat is having the crocodile for lunch, I’m having a friend for dinner 

    Opera on Android
    Galaxy Young
    320×480

    I’m having a friend for dinner means…
    I am going to eat my friend as dinner…….
    I am letting my friend eat his own brain…..

    In the movie, Lecter is having his nemesis eating his own brain.
    His nemesis, Dr. Frederick Chilton, is sitting, and still is alive, but brain dead.
    Chilton’s brain was prepared and cooked by The Cannibal Lecter.
    Yet, Lecter let his nemesis’ skull remain open.

    Chilton ran the mental institution where Lecter was confined to some Caribbean country.


    Hannibal Lecter: [on telephone] I do wish we could chat longer, but… I’m having an old friend for dinner. Bye.

    Clarice Starling: Dr. Lecter?… Dr. Lecter?… Dr. Lecter?… Dr. Lecter?…


    I do wish we could chat longer, but I’m having an old friend – YouTube

    2 Jun 2013 – 11 sec – Uploaded by Wayne H Fitzgerald
    ► 0:11


    (12/12) Movie CLIP – Having an Old Friend for Dinner – YouTube

    30 Jul 2013 – 3 min – Uploaded by MOVIECLIPS
    ► 2:42


    Having an Old Friend for Dinner – at MOVIECLIPS.com

    http://movieclips.com/x2VwX-the-silence-of-the-lambs-movie-having-an-old-friend-for-dinner/

    25 Aug 2009 – 2 min
    ► 2:13


     
  • Virtual Chitchatting 1:00 PM on 2014/04/22 Permalink  

    kalo kucing makan buaya… 

    as the cat is having a crocodile as its lunch
    Jakarta, 2014-04-22 PM 01:00


    Jaguar Attacks Crocodile (EXCLUSIVE VIDEO) – YouTube

    26 Sep 2013 – 2 min – Uploaded by National Geographic
    ? 2:02


    Jaguar Attacks Caiman Crocodile – CLOSE UP FOOTAGE – YouTube

    3 Oct 2013 – 1 min – Uploaded by Barcroft TV
    ? 1:21


    Jaguar Attacks Crocodile (EXCLUSIVE VIDEO) – National Geographic

    http://video.nationalgeographic.com/video/news/jaguar-attacks-crocodile

    5 Mar 2014


    Jaguar attacks caiman crocodile on MSN Video

    http://video.uk.msn.com/watch/video/jaguar-attacks-caiman-crocodile/2uxm6y9nr

    3 Oct 2013


    Jaguar Attacks Caiman Crocodile – CLOSE UP FOOTAGE …

    20 Dec 2013 – 1 min
    ? 1:22


    Video: Swimming jaguar filmed ambushing caiman in dramatic …

    http://www.telegraph.co.uk/earth/earthnews/10352674/Swimming-jaguar-filmed-ambushing-caiman-in-dramatic-video.html

    3 Oct 2013


     
  • Virtual Chitchatting 12:07 PM on 2014/04/22 Permalink  

    kalo kodok makan kobra dan kampret

    ini konfirmasi kodok makan kobra di pretoria, afrika selatan. BilBy September 23, 2013 at 12:44 am
    For many amphibians, if you can force it in your stomach somehow, it’s food. There’s an African Giant bullfrog specimen in a jar at the Transvaal Museum in Pretoria that swallowed something like 17 baby rinkhals (a type of cobra) in one go.

    ini konfirmasi kodok makan ular di Townsville, Australia, Melissa, September 26, 2013, 9:47 pm
    We had a large green tree frog eat a snake on our back patio one night.

    ini salah satu penampakan kampret yang ditelan kodok, hidup-hidup lho, eaten alive. di Peru. Amerika Latin sono. di bulan September 2013.
    ini konfirmasi kodok makan kampret dari AfriBats http://www.blogger.com/profile/15220675803699330412 September 25, 2013 at 1:27 PM
    Great picture, great story! Also interesting to see that there’s a similar case published. The swallowed bat clearly is a free-tailed bat (family Molossidae; shown by the tail, which is not enclosed by a membrane, and the particular way the 3rd digit is folded). Several free-tailed bats (such as Molossus sp. mentioned in the published article) roost in roofs of buildings, and the picture seems to show a concrete floor, so most likely this happened when the bat was exiting its roost. These bats are fast flyers, which comes at the cost of reduced manoeuvrability. They further require a certain height of their roost site to gain sufficient speed and lift. Sometimes things go wrong and they crash-land on the ground below the roost, and I would reckon that in this case it happened right in front of the toad…


    Profil Kodok dan Katak

    Kebiasaan makan
    Kodok memangsa berbagai jenis arthropoda dan serangga yang ditemuinya. Kodok kerap ditemui berkerumun di bawah cahaya lampu jalan atau taman, menangkapi serangga-serangga yang tertarik oleh cahaya lampu tersebut.
    Sebaliknya, kodok juga dimangsa oleh berbagai jenis makhluk yang lain: ular, kadal, burung-burung , seperti bangau ,elang, garangan, linsang, dan juga dikonsumsi manusia.

    Kebiasaan Jingkrak-jingkrak
    Kodok membela diri dengan melompat jauh, mengeluarkan lendir dan racun dari kelenjar di kulitnya; dan bahkan ada yang menghasilkan semacam lendir pekat yang lengket, sehingga mulut pemangsanya akan melekat erat dan susah dibuka.

    Kelakuan
    Katak ini memiliki suara yang sangat keras. Ketika musim hujan tiba suara tersebut berfungsi untuk menarik betina. Katak dengan suara nyaring dan keraslah yang disukai betina. Katak ini hidup soliter, tidak berkelompok. Sama seperti katak lain, katak ini aktif malam hari. Saat siang akan bersembunyi di balik seresah, batu dan lubang pohon. tetapi pada umumnya katak ini lebih suka hidup di dalam lubang pohon.

    Kediaman (rumah, tempat tinggal, tempat bercucuk tanam, tempat mancucuak, tempat barancuak)
    Habitat asli katak ini adalah daerah hutan hujan. Katak ini menyukai daerah yang lembab, dekat dengan sumber air. Hewan ini tersebar di Papua Nugini, Queensland Utara, Kepulauan Bismarck, dan Kepulauan Admiralty.

    Kebiasaan Menetap
    Kodok dan katak hidup menyebar luas, terutama di daerah tropis yang berhawa panas. Makin dingin tempatnya, seperti di atas gunung atau di daerah bermusim empat (temperate), jumlah jenis kodok cenderung semakin sedikit. Salah satunya ialah karena kodok termasuk hewan berdarah dingin, yang membutuhkan panas dari lingkungannya untuk mempertahankan hidupnya dan menjaga metabolisme tubuhnya.
    Hewan ini dapat ditemui mulai dari hutan rimba, padang pasir, tepi-tepi sungai dan rawa, perkebunan dan sawah, hingga ke lingkungan pemukiman manusia. Bangkong kolong, misalnya, merupakan salah satu jenis katak yang kerap ditemui di pojok-pojok rumah atau di balik pot di halaman. Katak pohon menghuni pohon-pohon rendah dan semak belukar, terutama di sekitar saluran air atau kolam.

    Kebiasaan Kawin
    Katak jantan berukuran lebih kecil dari betinanya. Untuk memikat sang betina, jantan harus bernyanyi dengan suara keras dan nyaring. Katak betina menghasilkan sekitar 200-400 butir telur. Musim kawin terjadi saat musim hujan. Telur-telur diletakkan di perairan yang dangkal.
    Pada saat bereproduksi katak dewasa akan mencari lingkungan yang berair. Disana mereka meletakkan telurnya untuk dibuahi secara eksternal. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan mencari nutrisi yang dibutuhkan dari lingkungannya, kemudian berkembang menjadi dewasa dengan bentuk tubuh yang memungkinkannya hidup di darat, sebuah proses yang dikenal dengan metamorfosis. Tidak seperti telur reptil dan burung, telur katak tidak memiliki cangkang dan selaput embrio. Sebaliknya telur katak hanya dilindungi oleh kapsul mukoid yang sangat permeabel sehingga telur katak harus berkembang di lingkungan yang sangat lembap atau berair.

    Siklus kehidupan
    Kodok dan katak mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis kodok pegunungan menyimpan telurnya di antara lumut-lumut yang basah di pepohonan. Sementara jenis kodok hutan yang lain menitipkan telurnya di punggung kodok jantan yang lembap, yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga menetas bahkan hingga menjadi kodok kecil.Sekali bertelur katak bisa menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun.
    Telur-telur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong (b. Inggris: tadpole), yang bertubuh mirip ikan gendut, bernapas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-lahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan, menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru. Setelah masanya, berudu ini akan melompat ke darat sebagai kodok atau katak kecil.
    Kodok dan katak kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau pada ketika menjelang hujan. Pada saat itu kodok-kodok jantan akan berbunyi-bunyi untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan. Beberapa jenisnya, seperti kodok tegalan (Fejervarya limnocharis) dan kintel lekat alias belentung (Kaloula baleata), kerap membentuk ‘grup nyanyi’, di mana beberapa hewan jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan. Suara keras kodok dihasilkan oleh kantung suara yang terletak di sekitar lehernya, yang akan menggembung besar manakala digunakan.
    Pembuahan pada kodok dilakukan di luar tubuh. Kodok jantan akan melekat di punggung betinanya dan memeluk erat ketiak si betina dari belakang. Sambil berenang di air, kaki belakang kodok jantan akan memijat perut kodok betina dan merangsang pengeluaran telur. Pada saat yang bersamaan kodok jantan akan melepaskan spermanya ke air, sehingga bisa membuahi telur-telur yang dikeluarkan si betina.

    Katak dan kodok sebagai makanan manusia
    Sudah sejak lama kodok dikenal manusia sebagai salah satu makanan lezat. Di rumah-rumah makan Tionghoa, masakan kodok terkenal dengan nama swie kee. Disebut ‘ayam air’ (swie: air, kee: ayam) demikian karena paha kodok yang gurih dan berdaging putih mengingatkan pada paha ayam. Selain itu, di beberapa tempat di Jawa Timur, telur-telur kodok tertentu juga dimasak dan dihidangkan dalam rupa pepes telur kodok.
    Katak berperan sangat penting sebagai indikator pencemaran lingkungan. Tingkat pencemaran lingkungan pada suatu daerah dapat dilihat dari jumlah populasi katak yang dapat ditemukan di daerah tersebut. Latar belakang penggunaan katak sebagai indikator lingkungan karena katak merupakan salah satu mahluk purba yang telah ada sejah ribuan tahun lalu. Jadi katak tetap exist dengan perubahan iklim bumi. Tentunya hanya pengaruh manusialah yang mungkin menyebabkan terancamnya populasi katak. Salah satunya adalah pembuangan limbah berbahaya oleh manusia ke alam. Limbah berbahaya inilah yang bisa mengancam keberadaan katak pada daerah yang tercemar. Selain itu, karena pentingnya kedudukan katak dalam rantai makanan, maka pengurangan jumlah katak akan menyebabkan terganggunya dinamika pertumbuhan predator katak. Bahkan terganggunya populasi katak dapat berakibat langsung dengan punahnya predator katak.
    Akan tetapi yang lebih mengancam kehidupan kodok sebenarnya adalah kegiatan manusia yang banyak merusak habitat alami kodok, seperti hutan-hutan, sungai dan rawa-rawa. Apalagi kini penggunaan pestisida yang meluas di sawah-sawah juga merusak telur-telur dan berudu katak, serta mengakibatkan cacat pada generasi kodok yang berikutnya.


    kodok bangkong

    Kingdom: Animalia
    Filum: Chordata
    Kelas: Amphibia
    Ordo: Anura
    Famili: Bufonidae
    Genus: Bufo
    Laurenti, 1768.

    Spesies: B. melanostictus
    Nama binomial: Bufo melanostictus
    Schneider, 1799.

    Bangkong kolong memiliki nama ilmiah Bufo melanostictus Schneider, 1799. Bangkong ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti kodok buduk (Jkt.), kodok berut (Jw.), kodok brama (Jw., yang berwarna kemerahan), dan Asian black-spined toad (Ingg.).
    Kodok ini menyebar luas mulai dari India, Republik Rakyat Tiongkok selatan, Indochina sampai ke Indonesia bagian barat. Di Indonesia, dengan menumpang pergerakan manusia, hewan amfibi ini dengan cepat menyebar (menginvasi) dari pulau ke pulau. Kini bangkong kolong juga telah ditemui di Bali, Lombok, Sulawesi dan Papua barat.

    Bentuk tubuh
    Kodok berukuran sedang, yang dewasa berperut gendut, berbintil-bintil kasar. Bangkong jantan panjangnya (dari moncong ke anus) 55-80 mm, betina 65-85 mm. Di atas kepala terdapat gigir keras menonjol yang bersambungan, mulai dari atas moncong; melewati atas, depan dan belakang mata; hingga di atas timpanum (gendang telinga). Gigir ini biasanya berwarna kehitaman. Sepasang kelenjar parotoid (kelenjar racun) yang besar panjang terdapat di atas tengkuk.
    Bagian punggung bervariasi warnanya antara coklat abu-abu gelap, kekuningan, kemerahan, sampai kehitaman. Ada pula yang dengan warna dasar kuning kecoklatan atau hitam keabu-abuan. Terdapat bintil-bintil kasar di punggung dengan ujung kehitaman.
    Sisi bawah tubuh putih keabu-abuan, berbintil-bintil agak kasar. Telapak tangan dan kaki dengan warna hitam atau kehitaman; tanpa selaput renang, atau kaki dengan selaput renang yang sangat pendek. Hewan jantan umumnya dengan dagu kusam kemerahan.

    Kebiasaan
    Bangkong kolong paling sering ditemukan di sekitar rumah. Melompat pendek-pendek, kodok ini keluar dari persembunyiannya di bawah tumpukan batu, kayu, atau di sudut-sudut dapur pada waktu magrib; dan kembali ke tempat semula di waktu subuh. Terkadang, tempat persembunyiannya itu dihuni bersama oleh sekelompok kodok besar dan kecil; sampai 6-7 ekor.
    Bangkong kolong kawin di kolam, Sampora, Palabuan Ratu
    Bangkong ini kawin di kolam-kolam, selokan berair menggenang, atau belumbang, sering pada malam bulan purnama. Kodok jantan mengeluarkan suara yang ramai sebelum dan sehabis hujan untuk memanggil betinanya, kerapkali sampai pagi. Bunyinya: rrrk, ..rrrk, atau …oorek-orek-orek-orekk ! riuh rendah.
    Pada saat-saat seperti itu, dapat ditemukan beberapa pasang sampai puluhan pasang bangkong yang kawin bersamaan di satu kolam. Sering pula terjadi persaingan fisik yang berat di antara bangkong jantan untuk memperebutkan betina, terutama jika betinanya jauh lebih sedikit. Oleh sebab itu, si jantan akan memeluk erat-erat punggung betinanya selama prosesi perkawinannya. Kadang-kadang dijumpai pula beberapa bangkong yang mati karena luka-luka akibat kompetisi itu; luka di moncong hewan jantan, atau luka di ketiak hewan betina.
    Nampaknya kodok ini memiliki asosiasi yang erat dengan lingkungan hidup manusia. Dari waktu ke waktu, bangkong kolong terus memperluas daerah sebarannya mengikuti aktivitas manusia. Iskandar (1998) mencatat bahwa kodok ini tak pernah terdapat di dalam hutan hujan tropis.

    Rujukan
    Djoko T. Iskandar, 1998, Amfibi Jawa dan Bali
    Amphibian Species of the World 3.0, an Online Reference http://research.amnh.org/herpetology/amphibia/references.php?id=1648

    http://id.wikipedia.org/wiki/Bangkong_kolong


    http://newswatch.nationalgeographic.com/2013/09/25/surprising-photo-toad-eats-bat/

    Surprising Photo: Toad Eats Bat
    Christine Dell’Amore of National Geographic in Weird & Wild on September 25, 2013

    It may look like the Lady Gaga of amphibians, but this enterprising cane toad is actually in the midst of eating a bat.

    Yufani Olaya, a ranger at Peru’s Cerros de Amotape National Park, sent the picture to Peru-based biologist Phil Torres, who published it on his blog.

    The toad and its bat prey in Cerros de Amotape National Park. Photograph courtesy Yufani Olaya and PeruNature.com

    Torres said this is a rare-and perhaps first-documented sighting of a cane toad feeding on a bat. Cane toads (Bufo marinus) are native to South America and can weigh up to 4.4 pounds (2 kilograms). They are “notoriously opportunistic” feeders, which has made them a scourge in places where they’re not native, such as Australia, he said. (Watch a video of the unstoppable cane toad.)

    Even so, Torres couldn’t imagine how even an aggressive amphibian like the cane toad snagged a highly mobile bat, so he contacted Olaya again for more details on the attack.

    Olaya told Torres that “out of nowhere the bat just flew directly into the mouth of the toad, which almost seemed to be sitting with its mouth wide open.”

    Wrote Torres: “With toad-like reflexes, this cane toad was able to snatch the unsuspecting bat right out of the air as it flew too close to the ground, and apparently directly at the toad’s awaiting mouth.” So, did the toad finally get those wings in its mouth?

    According to Olaya, no. The toad finally gave up and spat it out. While Olaya at first thought the bat was dead, he said it slowly recovered and was able to fly away. I’m sure it won’t make that mistake again.

    Voracious Predator

    Don Wilson, curator emeritus of mammals at the Smithsonian National Museum of Natural History, said that it’s “certainly plausible” that a cane toad could eat a bat.

    Wilson said it’s a free-tailed bat, a type of bat that often roosts in roofs and flies high and fast, he said. For this reason, it’s likely that the bat crash-landed while exiting or entering its roost, and that the toad happened to be nearby.

    Cane toads “will eat most anything it can get in its mouth,” he said, “so grabbing a nearby bat would be no great surprise.”

    Brian Gratwicke, an amphibian conservation biologist at the Smithsonian Conservation Biology Institute, agreed a cane toad could probably catch a bat, adding that there’s another report of a relative of the cane toad eating a bat in Brazil in 2003.

    “But it’s really a traffic accident in the animal kingdom, not really the norm. I guess this is why this picture and story are so compelling.”

    What other weird predator-prey attacks have you witnessed?


    http://blog.perunature.com/2013/09/what-heck-is-going-on-in-this-picture.html

    What the heck is going on in this picture?
    Phil Torres, September 22, 2013 at 10:19 PM

    http://www.biotemas.ufsc.br/volumes/pdf/volume232/215a218Final.pdf

    This toad appears to be a fan of star wars… or is it using blinders…? or does it have giant ears…? or what is that sticking out of its mouth!?

    Look closely and you’ll realize that this is a rare, and perhaps first, sighting of a cane toad feeding on a bat. Yes, this happened.

    This photo was taken at a remote guard station in Peru by park ranger Yufani Olaya at Cerros de Amotape National Park. He gave us permission to write about the photo, but we’re waiting to hear back from him on more details about where exactly he found it, and how he thinks a ground-dwelling toad could have captured a bat.

    We’re unsure how common this is, but we do know that this is probably the first photographed record of a cane toad feeding on a bat. Cane toads are notoriously opportunistic feeders, and while they are native to South America this trait has made them infamously invasive in places like Australia.

    Without more information about this photo it can be difficult to guess how a ground-dwelling toad and a flying bat could ever cross paths, unless the bat had fallen.

    My best guess? I have seen bats and toads use similar locations in the rainforest, just not at the same time. Both are known to use small holes along streamsides, so it’s possible this bat decided to roost in a hole that was inhabited by a hungry toad, which after some difficulty swallowing took a walk to get its photo taken by Olaya.

    Here in the Tambopata rainforest we often run across cane toads- but from now on we’ll keep an extra close eye out for what’s in their mouths.

    We’ll keep you in the loop as we get more information on this odd and fascinating sighting.

    Update: Sept 23, 2013 10:00am

    We finally got in touch with Olaya. As was suggested by John Scanlon in a comment on a repost of this story on Why Evolution Is True, it appears the bat was flying a bit too close to the ground. Many bats will feed on insects flying near the ground or will glean insects that are actually on the ground (pallid bats in the US are a great example of the latter).

    Olaya described the toad’s success as “out of nowhere the bat just flew directly into the mouth of the toad, which almost seemed to be sitting with its mouth wide open.” With toad-like reflexes, this cane toad was able to snatch the unsuspecting bat right out of the air as it flew too close to the ground, and apparently directly at the toad’s awaiting mouth.

    So, did the toad finally get those wings in its mouth? According to Olaya, no. The toad finally gave up and spat it out. While Olaya at first thought the bat was dead, he said it slowly recovered and was able to fly away. I’m sure it won’t make that mistake again.

    Update: Sept 24 5:00pm
    We were sent a paper which describes a related toad feeding on a bat, which you can find (with images) here. http://www.biotemas.ufsc.br/volumes/pdf/volume232/215a218Final.pdf

    Special thanks to A. Ruesta for bringing this photo to our attention, and for getting in contact with Mr. Olaya.

    AfriBats http://www.blogger.com/profile/15220675803699330412 September 25, 2013 at 1:27 PM
    Great picture, great story! Also interesting to see that there’s a similar case published. The swallowed bat clearly is a free-tailed bat (family Molossidae; shown by the tail, which is not enclosed by a membrane, and the particular way the 3rd digit is folded). Several free-tailed bats (such as Molossus sp. mentioned in the published article) roost in roofs of buildings, and the picture seems to show a concrete floor, so most likely this happened when the bat was exiting its roost. These bats are fast flyers, which comes at the cost of reduced manoeuvrability. They further require a certain height of their roost site to gain sufficient speed and lift. Sometimes things go wrong and they crash-land on the ground below the roost, and I would reckon that in this case it happened right in front of the toad…

    Henrique – HAS! http://www.blogger.com/profile/15418978229252424648 September 25, 2013 at 4:48 PM
    kk Is This Creature a Bat-Toad Hybrid? 09/23/2013
    Here in the Washington, DC area, autumn is fully underway. That means the holiday season is just around the corner, with Halloween only about 5 weeks away. A lot of holidays have animals associated with them–think Thanksgiving turkey, Christmas reindeer, Easter bunny. Halloween has a whole menagerie: snakes, spiders, wolves and the most important ingredients in any witch’s brew, bats and toads.
    So, to kick off the holiday season, I’m sharing this crazy photo of an animal that looks like a cross between a toad and a bat.

    BatToad
    What could possibly be going on here? Is this a toad that has mutated and sprouted bat wings? Is it someone trying to have fun by sticking prosthetic wings on the head of the poor amphibian? Or maybe it’s a totally new species, undescribed by science?
    It’s none of those things; what you are seeing here is a photo of a South American cane toad that managed to catch and partially swallow a bat. How did this macabre act of predation occur when bats fly through the air and toads spend their time on the ground?
    You’ll have to click through to read the full story, including what actually ended up happening to the bat, on biologist Phil Torres’ blog post all about it.
    To learn more about Rainforest Expeditions, visit the group’s Facebook page.
    Get Involved! Protect wildlife with David and the National Wildlife Federation.


    http://whyevolutionistrue.wordpress.com/2013/09/23/the-weirdest-toad-you-will-see-this-year/

    The weirdest toad you will see this year
    by Matthew Cobb September 23, 2013 at 12:40 am

    Tw**ted by @phil_torres: this bizarre Peruvian toad. Full explanation, link and credit below the fold.

    http://whyevolutionistrue.files.wordpress.com/2013/09/battoad.jpg?w=614&h=411

    So what’s going on? See if you can work it out. Then scroll down… This is a cane toad, and it has just eaten a bat. Phil explains:
    This photo was taken at a remote guard station in Peru by park ranger Yufani Olaya at Cerros de Amotape National Park. He gave us permission to write about the photo, but we’re waiting to hear back from him on more details about where exactly he found it, and how he thinks a ground-dwelling toad could have captured a bat.
    We’re unsure how common this is, but we do know that this is probably the first photographed record of a cane toad feeding on a bat. Cane toads are notoriously opportunistic feeders, and while they are native to South America this trait has made them infamously invasive in places like Australia.Without more information about this photo it can be difficult to guess how a ground-dwelling toad and a flying bat could ever cross paths, unless the bat had fallen.

    My best guess? I have seen bats and toads use similar locations in the rainforest, just not at the same time. Both are known to use small holes along streamsides, so it’s possible this bat decided to roost in a hole that was inhabited by a hungry toad, which after some difficulty swallowing took a walk to get its photo taken by Olaya.

    Here in the Tambopata rainforest we often run across cane toads- but from now on we’ll keep an extra close eye out for what’s in their mouths.

    BilBy September 23, 2013 at 12:44 am
    For many amphibians, if you can force it in your stomach somehow, it’s food. There’s an African Giant bullfrog specimen in a jar at the Transvaal Museum in Pretoria that swallowed something like 17 baby rinkhals (a type of cobra) in one go.

    Jim Knight September 23, 2013 at 4:17 am
    Marine toads will eat anything they can get in their mouths, and they get large enough to take a great many other taxa. The bat appears to be some sort of free-tailed molossid? It would be interesting to develop a list of all the various food types that Chaunus marinus has been recorded as having taken…

    John Scanlon, FCD September 23, 2013 at 4:33 am
    A lot of insectivorous bats forage close to ground level, either in pursuit of flying insects (wherever they may fly) or gleaning from surfaces, so they could run into a toad during normal actity. (Also Vampire bats, and the New Zealand emballonurids, forage actively on the ground, but this isn’t one of them.)
    Based on limited data, I guess this particular bat is likely a Mexican Free-tail (because… the tail, and it’s the most abundant and widespread bat in the Americas), and may be either a juvenile that fell off a cave wall (or out of a tree hollow or the wall of a house) or an adult caught on the ground near the entrance to a roost cave, like the mobs of a related species seen here.

    AfriBats September 25, 2013 at 11:31 am
    Fully agree – definitely a free-tailed bat (family Molossidae; shown by the tail, which is not enclosed by a membrane, and the particular way the 3rd digit is folded).
    Several free-tailed bats (such as Molossus sp.) roost in roofs of buildings, and the picture seems to show a concrete floor, so most likely this happened when the bat was exiting its roost.
    These bats are fast flyers, which comes at the cost of reduced manoeuvrability. They further require a certain height of their roost site to gain sufficient speed and lift. Sometimes things go wrong and they crash-land on the ground below the roost, and I would reckon that in this case it happened right in front of the toad…
    Phil Torres’ blog has a link to a paper reporting a very similar case:

    http://www.biotemas.ufsc.br/volumes/pdf/volume232/215a218Final.pdf

    ironwing September 23, 2013 at 5:17 am
    Some bats are able to feed on the ground, like the Pallid Bat (not the same range as the toad, but you get the idea):

    http://en.wikipedia.org/wiki/Pallid_bat

    That photo offers great design inspiration for the companies that make things out of cane toad leather…

    teacupoftheapocalypse September 23, 2013 at 7:28 am
    The whole of Star Wars is true, except everything is very much smaller than you might imagine (like the G’Gugvuntts and Vl’hurgs, but slightly less miniature).
    The toad has just swallowed Darth Vader’s TIE fighter.

    Gregory C. Mayer September 23, 2013 at 8:01 am
    It is not all that uncommon for bats to strike ceiling fans and fall to the ground disabled. I’ve seen this several times at a field station in Costa Rica. If this happened on a porch or other room with access by toads, I can readily see them gobbling up the wounded bat. The toad in the photo appears to be sitting on concrete, so it is in or near a human built structure.

    Gregory C. Mayer September 23, 2013 at 8:04 am
    The answer is now in: flying close to the ground (credit to John Scanlon!):
    We finally got in touch with Olaya. As was suggested by a John Scanlon in a comment on a repost of this story on Why Evolution Is True, it appears the bat was flying a bit too close to the ground. Many bats will feed on insects either flying near the ground, or gleaning insects that are actually on the ground (pallid bats in the US are a great example of the latter).
    See the full update at Phil Torres’s Rainforest Expeditions site. http://blog.perunature.com/2013/09/what-heck-is-going-on-in-this-picture.html

    Diane G. September 27, 2013 at 12:19 am
    What a great shot!
    I got it right away. Really fun how symmetrically the bat is projecting out of the toad’s mouth. Guess that can happen when you swallow something head-first.

    DIANE…., HEAD ON….. ;P you have been given a head… !


    http://www.lrm.nt.gov.au/feral/canetoad

    Cane Toad – Rhinella marina

    Impacts
    The main threat posed by cane toads occurs when other wildlife attempt to eat them. When cane toads are threatened, they release a toxin (bufotoxin) from the glands behind the eyes and across their back. This toxin is present in both the adults and tadpoles, meaning that cane toads may negatively impact a wide diversity of wildlife.
    While it has been very difficult to quantify the losses to native animals as a result of cane toad invasion, evidence suggests that the northern quoll, goannas, snakes, fish, freshwater crocodiles and egrets are particularly affected by the invasion of cane toads. In parts of Queensland, populations of some of these animals were dramatically reduced when cane toads first arrived, although it seems that many have recovered since that time. This recovery has mainly been attributed to a change in behaviour, as native animals have learned to avoid cane toads as a food source.
    Other threats to native wildlife include competition with native animals for food and resources and increased spread of disease.

    Background
    Cane toads are native to Central and South America. They were first introduced to Australia (Queensland) in the 1930’s as a means of controlling the cane beetle, which was causing significant damage to sugar cane crops. Cane toads have spread fairly rapidly through northern Australia, and they are now located in Queensland, New South Wales and the Northern Territory. In fact, few people realise that cane toads were first sighted in the Northern Territory in 1984. However, more recent sightings of cane toads in the Darwin region has resulted in greater public interest. Considerable activity is currently being invested into preventing cane toads from spreading into Western Australia.
    Cane toads are prolific breeders, which is one of the primary reasons for their considerable invasion success. In addition, they are opportunistic feeders, and their diet comprises both living and dead matter such as plants, carrion, dog food, household refuse, small vertebrates, and a range of invertebrates. Other characteristics that add to their invasion success in Australia, and in other locations, include their capacity to live for extended periods away from water, their ability to tolerate sea water for short periods, and their nocturnal activity.

    Distribution and Habitat
    Cane toads can exist in many different habitats but must have water available to breed. During the Dry Season, toads remain inactive in shallow burrows under the ground, or in clusters under logs, rocks or sheets of iron, etc. They are mainly nocturnal. Cane toads can also survive for periods in sea water. There are accounts of adult cane toads swimming at sea in Bermuda, Mexico and Jamaica. They have been similarly sighted swimming in the McArthur estuary in the Gulf country of the Northern Territory and may have colonised Kangaroo Island (NT) in this way.

    Life Cycle
    Toads are prolific breeders compared to native frogs. They can breed twice a year and lay 10 000 to 20 000 eggs each breeding. Their eggs can hatch in 2 days and look different to frogs’ eggs as they are laid in thin strands of clear jelly.
    The cane toad tadpole is much smaller than native tadpoles. Eggs, tadpoles and toadlets are all toxic, but only some animals die when they eat them.

    Management

    There are 3 important steps to follow if you think you have found a toad.

    Identify the animal.
    In the last 5 years, our officers have been called on to identify many suspected cane toads sighted in Darwin. 95% of these animals were identified as Marbled Frogs or other native species. Some of these native frogs had been killed. People from interstate have never seen Marbled Frogs, a common Darwin native species and their warty appearance and large size fools many people. Please be sure that you really do have a cane toad before killing it.

    Use a safe method to collect the toad.
    Cane toads are toxic. The source of the toxins is a large gland on the back of the neck. It is only toxic if ingested or rubbed into eyes. The toxin exudes over the toad’s skin, it does not spurt out. Use two plastic shopping bags, or something similar to pick up the toad. Turn the bags inside out, grab the toad, turn the bags the correct way round again, tie the bags tightly and you’ll have safely bagged your toad.

    Disposing of the toad.
    We have all heard stories of how people in other places kill cane toads. The most humane method of disposing of toads is to place your double-bagged toad in the freezer overnight.


     
  • Virtual Chitchatting 12:00 PM on 2014/04/22 Permalink  

    Segala hal yang perlu anda ketahui tentang NPWP dan PKP 

    Para Keparat di Ditjen Pajak emang biang tukang palak. Mau buat usaha yang resmi aja, birokrasinya ribet banget. Mereka memang sangat kukuh memegang prinsip, selagi bisa dipersulit, kenapa dipermudah.

    Apa salahnya pas nerbitin SKT dan NPWP badan, KPP langsung buat PKP sementara. Padahal SKT dan NPWP badan sudah dikirim by post. Yang bikin jengkelnya lagi, pas kita apply buat PKP, mereka langsung menganulir alamat kita. alamat sudah diverifikasi oleh tukang pos sebelumnya. sangat tidak jelas apa alasan para keparat di Ditjen Pajak membuat klaim alamat belum diverifikasi. alasan birokratis adalah belum diverifikasi dan disurvey langsung oleh aparat mereka yang emang keparat banget.

    kalau sudah ketemu aparat, one by one, face to face, kita harus ngamplopin pelicin, men. minta tolong, memohon-mohon. supaya urusan jadi mudah dan lancar. beda banget sama PTSP, yang kukuh meminta klaim dari pendaftar untuk tidak menyogok para aparat di PTSP. harus dibuat di atas kertas segel untuk setiap pendaftaran apa pun.

    kita tidak melihat hal itu di KPP.

    bulan april adalah bulan orang terlambat bayar kewajiban pajak, entah itu pribadi atau perusahaan. ketika mendengar sendiri aparat pajak bilang wah bapak terlambat bayar pajak, bapak kena denda Rp 500.000. Gile. Tanpa basa-basi !

    khan bisa bilang pake bahasa yang sopan, pak, ibu, menurut Peraturan Dirjen Pajak Nomor…., kalau terlambat membayar pajak, bapak, ibu kena denda sekian sekian. ini lho berkas peraturan yang mengatur. kan enak ngedengernya. jangan langsung men-judge dan mengultimatum, bapak harus bayar denda lima ratus rebu. kalo gocap, orang nggak mikir men.

    gope, euy ! entar dulu, apa dasarnya. emang aparat pajak dilahirkan untuk jadi keparat, sama kayak polisi, jaksa, hakim….

    http://www.pajak.go.id/sites/default/files/BookletKUP.pdf

    http://www.reform.kemenkeu.go.id/codes/lu/SOP_DJP.pdf

    https://xa.yimg.com/kq/groups/20487296/1068506672/name/Format+Faktur+Pajak+12PJ_PER24.pdf

    http://www.kppu.go.id/docs/LaporanKeuangan/Buku%20Saku%20Pajak.pdf

    http://www.pajak.go.id/sites/default/files/info-pajak/PER-02.PJ_.2014.pdf


    Contents
    20130930 1742 Gawat! Urus NPWP Tak Lagi Instan
    20131126 1303 Biaya Urus Ijin Usaha Ciderai Reformasi Perizinan
    Jasa Laporan Bulanan, Tahunan, dan Restrukturisasi Pajak
    20061109 1626 Perlukah kami mengurus PKP?
    20140121 1518 Tata Cara Penyampaian Pengaduan Pelayanan Perpajakan
    20120415 0230 Pelaporan Pajak
    20120306 1105 Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak
    20120306 1340 Pendaftaran NPWP dan Pengukuhan PKP
    20120306 1315 NPWP dan Manfaatnya
    20120306 0956 Istilah-Istilah Perpajakan


    http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2013/09/30/gawat-urus-npwp-tak-lagi-instan-596433.html

    Gawat! Urus NPWP Tak Lagi Instan
    Priyantarno Muhammad http://www.kompasiana.com/priyantarno
    30 September 2013 | 17:42

    Bagi yang sempat membaca pasal 7 ayat 2 Per 20/PJ/2013 tentang Tata Cara Pendaftaran dan Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak, Pelaporan Usaha dan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, serta Perubahan Data dan Pemindahan Wajib Pajak.

    Pasal 7 ayat 2 tersebut berbunyi “Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak dan Surat Keterangan terdaftar disampaikan kepada Wajib Pajak dengan pos tercatat”. Kata Pos Tercatat menjadi hal yang aneh dalam pasal ini.

    Pada Era dimana Direktorat Jenderal Pajak berusaha membuktikan diri sebagai Departemen dengan sistem birokrasi yang dapat menjadi contoh bagi institusi lain, hal ini dapat dipandang sebagai suatu kemunduran. Bagaimana tidak? Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak yang bisa selesai dalam sehari justru mesti melalui pos tercatat yang bisa mengakibatkan sampai ke tangan wajib pajak dua atau tiga hari.

    Sebuah sisi yang sangat tidak mendukung citra Direktorat Jenderal Pajak di masa yang akan datang, nada sumbang seperti “orang pajak kerjanya apa sih? Kita mau daftar dipersulit” , “Orang pajak di gaji tinggi, tapi buat kartu saja tidak bisa selesai dalam sejam” dan beberapa nada sumbang lainnya adalah hal yang akan siap berdendang di telinga para aparat pajak, khususnya yang bertugas pada Tempat Pelayanan Terpadu.

    Lalu, apakah pasal 7 ayat 2 ini sebuah kekeliruan? Mari lihat sisi lainnya, sudah menjadi rahasia umum , Masyarakat Indonesia sebagian besar malas berurusan dengan birokrasi sehingga menggunakan perpanjangan tangan orang lain (calo), hal ini menyebabkan informasi yang wajib diketahui oleh Wajib Pajak tentang Hak dan Kewajiban Perpajakannya menjadi tidak tersampaikan, pengiriman Nomor Pokok Wajib Pajak melalui Pos dapat meminimalisir hal itu, apalagi jika bersamaan dengan pengiriman pos itu juga disertakan brosur, atau CD yang menerangkan hak dan kewajiban Wajib Pajak.

    Bagaimana jika Wajib Pajak sendiri yang mendaftarkan langsung dengan datang ke Kantor Pelayanan Pajak, atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan? Menurut penulis jika hal ini terjadi maka ada baiknya jika Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak serta Surat Keterangan Terdaftar dapat diserahkan langsung, dan mendapat penjelasan langsung tentang hak dan kewajiban perpajakannya, hal ini tidak mesti dijelaskan oleh petugas Tempat Pelayanan Terpadu,jika dianggap memakan waktu dan mengganggu pelayanan terhadap Wajib Pajak lainnya, hal ini bisa dilimpahkan ke petugas help desk.

    Pada akhirnya, sebagai aparat pajak yang bermain ….


    http://regional.kompasiana.com/2013/11/26/biaya-urus-ijin-usaha-ciderai-reformasi-perizinan-611398.html

    Biaya Urus Ijin Usaha Ciderai Reformasi Perizinan

    Mustafa, Jurnalis Warga Aceh Singkil, http://www.kompasiana.com/acehpeugah
    26 November 2013 | 13:03

    Singkil – Beban atau biaya pengurusan ijun usaha adalah salah satu penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang di berikan kepada Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (KP2TSP) dinilai menciderai semangat reformasi perizinan usaha yang saat ini sedang digalakkan dikabupaten Aceh Singkil.

    Hal tersebut disampaikan Oleh Donny Aktifis Pemuda dari LSM Daun Fondation Aceh Singkil, Selasa (22/10) di Studio Radio Xtrafm Rimo, Usai acara Talk Show bertajuk membangun PTSP yang Cepat, Murah dan Transparan yang di selenggarakan Oleh Yayasan Bitra Indonesia. Menurut Doni jika pemerintah ingin serius mereformasi pelayanan perizinan hendaknya Pelayanan Terbuka Satu Pintu (PTSP) jangan lagi dibebani dengan PAD. Menurutnya, jika PTSP masih di Bebani PAD maka PTSP akan melakukan pungutan pada setiap perizinan usaha yang dikeluarkan.

    Hal tersebut menurutnya Kontradiktif dengan semangat reformasi perizinan yang saat ini sedang di galakkan. Terlebih di Aceh Singkil saat ini masih banyak pelaku usaha yang enggan mengurus Izin atas usaha-usaha yang dimilikinya. Salah satu faktor, adanya biaya yang di bebankan kepada pelaku usaha saat mengurus legalitas Usahanya.

    “Beban PAD pada PTSP dapat menyebabkan reformasi perizinan tidak berjalan maksimal. Hemat saya pelaku usaha kecil akan enggan mengeluarkan biaya untuk mengurus izin usaha mereka.” terang Doni.

    Doni melanjutkan, jika memang harus ada beban biaya dalam pengurusan perizinan, sebaiknya beban biaya tidak dipukul rata, untuk pelaku usaha kecil diberikan gratis. Sehingga masyarakat tidak merasa berat dalam mengurus Izin usaha yang dimilikinya.

    Kendatipun demikian, Ia menilai Reformasi perizinan Usaha yang dilakukan KP2PTSP saat ini cukup berhasil. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat sudah menuju kearah yang lebih baik dari sebelumya, ia berharap hal ini terus di pertahankan bahkan ditingkatkan sehingga dapat menarik masyarakat untuk mengurus legalitas usahanya.


    http://www.suratizinusaha.com/jasa-perpajakan-plus.html

    JASA LAPORAN BULANAN, TAHUNAN DAN RESTRUKTURISASI PAJAK

    Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal diatas maka pajak mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
    1. Fungsi anggaran (budgetair)
    2. Fungsi stabilitas
    3. Fungsi redistribusi pendapatan

    Sering kali wajib pajak baik perorangan maupun badan kurang mengerti atau tidak mau ribet masalah teknis dalam membuat laporan pajak, baik bulanan maupun tahunan, Seperti kita tahu bahwa dalam membuat laporan pajak ada mekanisme pajak yang harus dilakukan agar tidak terkena sanksi pajak

    Bagi rekan-rekan yang tidak mau pusing dan ribet masalah teknis pajak, urus NPWP, PKP, Normalisai Pajak, membuat laporan bulanan, tahunan, restrukturisasi, pembuatan faktur dan lain-lain dapat dipercayakan kepada kami dan kami akan membereskannya.

    • Pengurusan NPWP dan PKP biaya Rp. 800.000
    • Normalisasi Pajak Rp. 3.000.000
    • Laporan Bulanan Rp. 500.000 Per Bulan
    • Laporan Tahunan Rp. 1.000.000
    • Restrukturisasi minimal kelebihan dana Rp. 200.000.000 dengan biaya 50 %

    TERJEMAHAN DOKUMEN RESMI SEGALA BAHASA

    DALAM RANGKA PASAR GLOBAL DOKUMEN-DOKUMEN BERHARGA ANDA BISA KAMI TERJEMAHKAN DALAM BERBAGAI MACAM BAHASA, ANTARA LAIN BAHASA INGGRIS, JEPANG, PRANCIS, JERMAN, MANDARIN, PORTUGIS, SPANYOL, DLL, SECARA RESMI DAN TERSUMPAH OLEH PEJABAT YANG BERWENANG, ADAPUN MENGENAI BIAYA TERJEMAHAN DIHITUNG BERDASARKAN JUMLAH PER LEMBAR HASIL TERJEMAHAN DARI KAMI, SEKALI LAGI HASIL TERJEMAHAN BUKAN DIHITUNG DARI JUMLAH LEMBAR DOKUMEN YANG DITERJEMAHKAN, UNTUK BIAYA PERLEMBAR HASIL TERJEMAHAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
    1. BAHASA INDONESIA KE INGGRIS ATAU SEBALIKNYA Rp. 40.000 PERLEMBAR HASIL
    2. BAHASA INDONESIA KE MANDARIN/CINA ATAU SEBALIKNYA Rp. 200.000 PERLEMBAR HASIL
    3. BAHASA INDONESIA KE JEPANG ATAU SEBALIKNYA Rp. 200.000 PERLEMBAR HASIL
    4. BAHASA INDONESIA KE JERMAN ATAU SEBALIKNYA Rp. 150.000 PERLEMBAR HASIL
    5. BAHASA INDONESIA KE PRANCIS ATAU SEBALIKNYA Rp. 150.000 PERLEMBAR HASIL
    6. BAHASA INDONESIA KE PORTUGIS ATAU SEBALIKNYA Rp. 275.000 PERLEMBAR HASIL
    7. BAHASA INDONESIA KE SPANYOL ATAU SEBALIKNYA Rp. 275.000 PERLEMBAR HASIL


    http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybernews/detail.aspx?x=Tax+Consultation&y=cybernews|0|0|62|797

    Perlukah kami mengurus PKP?

    Tax Consultation Thu, 09 Nov 2006 16:26:00 WIB

    Question:

    Perusahaan yang kami buat masih baru 2 tahun dan baru ada 1 transaksi yang nilainya hampir 1 milyar (pengadaan barang), dan hendak ditagihkan dalam waktu dekat. keuntungan kami tidak sampai 10 % nya.

    Pertanyaan saya :

    1. Apakah kami sudah perlu menjadi/mengurus PKP ? Karena bisnis kami tidak tentu jalan atau tidak.

    2. Benarkah Biaya Pengurusan PKP Rp 1.000.000,- ?

    Mohon jawaban untuk keduanya dalam waktu dekat ini karena kami sangat butuh informasi tsb dan ingin jadi WNI yang baik dan taat hukum.

    Terimakasih.
    Relia

    Relia ~ Jakarta

    Answer:

    Yth. Sdri Relia,
    Berdasarkan Undang-undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 9 Tahun 1994 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang No. 16 Tahun 2000 dalam Pasal 2 ayat (2) dijelaskan bahwa “Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahaannya, wajib melaporkan usahanya pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha, dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak”.

    Sesuai dengan Pasal 1 Keputusan Menteri Keuangan No. 571/KMK.03/2003 tanggal 29 December 2003 tentan Perubahan Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 552/KMK.04/2000 Tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan Nilai, dijelasan bahwa “Pengusaha Kecil adalah Pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).”

    Dalam Pasal 4 di jelaskan bahwa “Pengusaha Kecil wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, apabila sampai dengan suatu bulan dalam tahun buku, jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan brutonya melebihi batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1″.

    Menjawab pertanyaan Saudari yang pertama, maka sesuai dengan peraturan di atas, perusahaan Saudari wajib di kukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, karena peredaran bruto perusahaan telah melebihi Rp. 600.000.000,-

    Atas pengurusan PKP tidak dikenakan biaya, hal ini sesuai dengan Instruksi Dirjen Pajak No. INS-181/PJ./2004 tanggal 27 December 2004 tentang Peningkatan Pelayanan Kepada Wajib Pajak dan Percepatan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme .

    Demikianlah penjelasan dari kami. Terima kasih.

    Hormat kami,

    Tim Pengasuh.


    http://www.pajak.go.id/content/peraturan-dirjen-pajak-nomor-02pj2014

    Tata Cara Penyampaian Pengaduan Pelayanan Perpajakan
    Selasa, 21 Januari 2014 – 15:18

    Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-02/PJ/2014 tentang Tata Cara Penyampaian Pengaduan Pelayanan Perpajakan
    PER-02.PJ_.2014.pdf http://www.pajak.go.id/sites/default/files/info-pajak/PER-02.PJ_.2014.pdf


    http://www.pajak.go.id/content/pelaporan-pajak

    Pelaporan Pajak
    Minggu, 15 April 2012 – 02:30

    Sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang Perpajakan, Surat Pemberitahuan (SPT) mempunyai fungsi sebagai suatu sarana bagi Wajib Pajak di dalam melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah Pajak yang sebenarnya terutang. Selain itu Surat Pemberitahuan berfungsi untuk melaporkan pembayaran atau pelunasan Pajak baik yang dilakukan Wajib Pajak sendiri maupun melalui mekanisme pemotongan dan pemungutan yang dilakukan oleh pihak pemotong/pemungut, melaporkan harta dan kewajiban, dan pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan dan pemungutan Pajak yang telah dilakukan.

    Sehingga Surat Pemberitahuan mempunyai makna yang cukup penting baik bagi Wajib Pajak maupun aparatur Pajak. Pelaporan Pajak disampaikan ke KPP atau KP2KP dimana Wajib Pajak terdaftar. SPT dapat dibedakan sebagai berikut:

    1. SPT Masa, yaitu SPT yang digunakan untuk melakukanPelaporan atas pembayaran Pajak bulanan.
    Ada beberapa SPT Masa yaitu: PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 25, PPh Pasal 26, PPh Pasal 4 (2), PPh Pasal 15, PPN dan PPnBM, serta Pemungut PPN
    2. SPT Tahunan, yaitu SPT yang digunakan untukPelaporan tahunan.
    Ada beberapa jenis SPT Tahunan: Wajib Pajak Badan dan Wajib Pajak Orang Pribadi

    Saat ini khusus untuk SPT Masa PPN sudah dapat disampaikan secara elektronik melalui aplikasi e-Filing. Penyampaian SPT Tahunan PPh juga dapat dilakukan secara online melalui aplikasi e-SPT.

    KeterlambatanPelaporan untuk SPT Masa PPN dikenakan denda sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), dan untuk SPT Masa lainnya dikenakan denda sebesar Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah). Sedangkan untuk keterlambatan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi khususnya mulai Tahun Pajak 2008 dikenakan denda sebesar Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah), dan SPT Tahunan PPh Badan dikenakan denda sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).

    Berikut batas waktu pembayaran danPelaporan untuk kewajiban perpajakan bulanan:

    No Jenis SPT Batas Waktu Pembayaran Batas WaktuPelaporan
    Masa
    1 PPh Pasal 4 ayat (2) Tgl. 10 bulan berikut Tgl. 20 bulan berikut
    2 PPh Pasal 15 Tgl. 10 bulan berikut Tgl. 20 bulan berikut
    3 PPh Pasal 21/26 Tgl. 10 bulan berikut Tgl. 20 bulan berikut
    4 PPh Pasal 23/26 Tgl. 10 bulan berikut Tgl. 20 bulan berikut
    5 PPh Pasal 25 (angsuran Pajak) untuk Wajib Pajak orang pribadi dan badan Tgl. 15 bulan berikut Tgl. 20 bulan berikut
    6 PPh Pasal 25 (angsuran Pajak) untuk Wajib Pajak kriteria tertentu yang diperbolehkan melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa Akhir masa Pajak terakhir Tgl.20 setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir
    7 PPh Pasal 22, PPN & PPn BM oleh Bea Cukai 1 hari setelah dipungut Hari kerja terakhir minggu berikutnya (melapor secara mingguan)
    8 PPh Pasal 22 – Bendahara Pemerintah Pada hari yang sama saat penyerahan barang Tgl. 14 bulan berikut
    9 PPh Pasal 22 – Pertamina Sebelum Delivery Order dibayar  
    10 PPh Pasal 22 – Pemungut tertentu Tgl. 10 bulan berikut Tgl. 20 bulan berikut
    11 PPN dan PPn BM – PKP Akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum SPT Masa PPN disampaikan Akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak
    12 PPN dan PPn BM – Bendaharawan Tgl. 7 bulan berikut Tgl. 14 bulan berikut
    13 PPN & PPn BM – Pemungut Non Bendahara Tgl. 15 bulan berikut Tgl. 20 bulan berikut
    14 PPh Pasal 4 ayat (2), Pasal 15,21,23, PPN dan PPnBM Untuk Wajib Pajak Kriteria Tertentu Sesuai batas waktu per SPT Masa Tgl.20 setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir

    Berikut batas waktu pembayaran danPelaporan untuk kewajiban perpajakan tahunan:

    No Jenis SPT Batas Waktu Pembayaran Batas WaktuPelaporan
    Tahunan
    1 PPh – Orang Pribadi Sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan akhir bulan ketiga setelah berakhirnya tahun atau bagian tahun Pajak
    2 PPh – Badan Sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan akhir bulan keempat setelah berakhirnya tahun atau bagian tahun Pajak
    3 PBB 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT —-

    http://www.pajak.go.id/content/seri-kup-wajib-pajak-dan-pengusaha-kena-pajak

    Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak
    Selasa, 6 Maret 2012 – 11:05

    Sesuai dengan ketentuan yang berlaku di bidang perpajakan, Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak merupakan pihak yang melaksanakan berbagai kewajiban perpajakan sesuai ketentuan yang berlaku. Secara umum, Wajib Pajak merupakan pihak yang melaksanakan kewajiban perpajakan untuk seluruh jenis pajak, seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Pajak Lainnya (PL, seperti: Bea Materai), sedangkan Pengusaha Kena Pajak merupakan pihak yang melaksanakan kewajiban perpajakan terkait PPN.

    A. Pengertian

    1. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
    2. Wajib Pajak (WP) adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
    3. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
    4. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean.
    5. Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya.
    6. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

    B. Pendaftaran Untuk Mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak

    1. Berdasarkan sistem self assessment setiap WP yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri utuk memiliki NPWP dengan cara :
    a.Datang langsung ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau melalui Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konnsultasi Pajak (KP2KP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kependudukan WP.
    b.Melalui internet di situs Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) pada aplikasi e-Registration (ereg.pajak.go.id).
    2. Kewajiban mendaftarkan diri berlaku pula terhadap wanita kawin yang ingin dikenakan pajak secara terpisah dengan suaminya.
    3. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu yang mempunyai tempat usaha berbeda dengan tempat tinggal, selain wajib mendaftarkan diri ke KPP yang wilayahnya kerjanya meliputi tempat tinggalnya, juga diwajibkan mendaftarkan diri ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat kegiatan usah dilakukan.
    4. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usahanya atau pekerjaan bebas, bila sampai dengan suatu bulan memperoleh penghasilan yang jumlahnya telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) setahun, wajib mendaftarkan diri paling lambat pada akhir bulan berikutnya.
    5. WP orang pribadi lainnya yang memerlukan NPWP dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh NPWP.

    C. Pelaporan Usaha Untuk Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

    1. Pengusaha yang dikenakan PPN, wajib melaporkan usahanya pada KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi PKP.
    2. Pengusah orang pribadi atau badan yang mempunyai tempat kegiatan usaha berbeda dengan tempat tinggal, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan, juga wajib mendaftarkan diri ke KPP di tempat kegiatan usaha dilakukan.
    3. Pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP wajib mengajukan pernyataan tertulis untuk dikukuhkan sebagai PKP.
    4. Pengusaha kecil yang tidak memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP tetapi sampai dengan suatu masa pajak dalam suatu tahun buku seluruh nilai peredaran bruto telah melampaui batas yang ditentukan sebagai pengusaha kecil, wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat akhir masa pajak berikutnya.

    D. Tempat Pendaftaran Wajib Pajak Tertentu dan Pelaporan Bagi Pengusaha Tertentu

    1. Seluruh WP BUMN (Badan Usah Milik Negara) da WP BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) di wilayah DKI Jakarta, di KPP BUMN Jakarta;
    2. WP PMA (Penanaman Modal Asing) yang tidak go public, di KPP PMA kecuali yang telah terdaftar di KPP lama dan WP PMA di kawasan berikat dengan permohonan diberikan kemudahan mendaftar di KPP setempat;
    3. WP Badan dan Orang Asing (Badora), di KPP Badora;
    4. WP go public, di KPP Perusahaan Masuk Bursa (Go Public), kecuali WP BUMN/BUMD serta WP PMA yang berkedudukan di kawasan berikat;
    5. WP BUMN diluar Jakarta, di KPP setempat;
    6. Untuk WP BUMN/BUMD, PMA, Badora, Go Public di luar Jakarta, khusus PPh pemotongan/pemungutan dan PPN/PPnBM di tempat kegiatan usaha atau cabang.

    E. Fungsi Nomor Pokok Wajib Pajak dan Pengukuhan PKP

    1. Fungsi NPWP adalah sebagai berikut :
    a. Sarana dalam administrasi perpajakan;
    b. Tanda pengenal diri atau identitas WP dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya;
    c. Menjaga ketertiban dakam pembayaran pajak dan pengawasan admiinistrasi perpajakan;
    d. Setiap WP hanya diberikan satu NPWP;

    2. Fungsi Pengukuhan PKP adalah sebagai berikut :
    a. Pengawasan dalam melaksanakan hak dan kewajiban PKP di bidang PPN dan PPnBM.
    b. Sebagai identitas PKP yang bersangkutan.

    F. Penerbitan NPWP dan Pengukuhan PKP Secara Jabatan (Sifat Retroaktif)

    KPP dapat menerbitkan NPWP dan Pengukuhan PKP secara jabatan, apabila WP tidak memenuhi kewajiban mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP, bila berdasarkan data yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak ternyata WP memenuhi syarat untuk memperoleh NPWP atau PKP.

    G. Sanksi Yang Berhubungan Dengan NPWP dan Pengukuhan Sebagai PKP

    Setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak NPWP atau Pengukuhan PKP, sehingga dapat merugikan pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling tinggi 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar.

    Pidana tersebut di atas ditambah 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana, apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan.

    Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, atau menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan.


    http://www.pajak.go.id/content/seri-kup-pendaftaran-npwp-dan-pengukuhan-pkp

    Pendaftaran NPWP dan Pengukuhan PKP
    Selasa, 6 Maret 2012 – 13:40

    Sesuai dengan ketentuan yang berlaku di bidang perpajakan, Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak merupakan pihak yang melaksanakan berbagai kewajiban perpajakan sesuai ketentuan yang berlaku. Secara umum, Wajib Pajak merupakan pihak yang melaksanakan kewajiban perpajakan untuk seluruh jenis pajak, seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Pajak Lainnya (PL, seperti: Bea Materai), sedangkan Pengusaha Kena Pajak merupakan pihak yang melaksanakan kewajiban perpajakan terkait PPN (lihat artikel sebelumnya: Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak).

    A. Tata Cara Pendaftaran dan Pemberian NPWP serta Pelaporan dan Pengukuhan PKP

    Wajib Pajak (WP) mengisi formulir pendaftaran dan menyampaikan secara langsung atau melalui pos ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Pajak (KP2KP) setempat dengan melampirkan :
    1. Untuk WP Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas : KTP bagi penduduk Indonesia atau paspor bagi orang asing;
    2. Untuk WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas: KTP bagi penduduk Indonesia atau paspor bagi orang asing;
    3. Untuk WP Badan :
    a. Akte pendirian dan perubahan atau surat keterangan penunjukkan dari kantor pusat bagi BUT (Bentuk Usaha Tetap);
    b. KTP bagi penduduk Indonesia atau paspor bagi orang asing sebagai penanggung jawab;
    c. NPWP pimpinan/penanggung jawab Badan.
    4. Untuk Bendahara sebagai Pemungut/ Pemotong :
    a. KTP bendahara;
    b. Surat penunjukan sebagai bendahara.
    5. Untuk Joint Operation sebagai Wajib Pajak Pemotong/pemungut :
    a. Perjanjian kerja sama sebagai joint operation;
    b. NPWP masing-masing anggota joint operation;
    c. KTP bagi penduduk Indonesia atau paspor bagi orang asing sebagai penanggung jawab Joint Operation.
    6. Wajib Pajak dengan status cabang, orang pribadi pengusaha tertentu atau wanita kawin harus melampirkan surat keterangan terdaftar Kantor Pusat/domisili/suami.
    7. Untuk WP Orang pribadi dan WP Badan yang melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, persyaratan tambahan yang diminta antara lain SIUP dan keterangan domisili dari pengelola gedung/kelurahan. Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak ini harus melalui pembuktian alamat dari WP tersebut.
    Khusus Wanita kawin dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP sebagai sarana untuk memenuhi hak dan kewajiban perpajakan atas namanya sendiri, dengan persyaratan sesuai dengan kondisi dari wanita tersebut (butir 1 atau 2). Apabila permohonan ditandatangani orang lain harus dilengkapi dengan surat kuasa khusus.

    B. Pendaftaran NPWP dan PKP Melalui Elektronik (Electronic Registration)

    Pendaftaran NPWP dan PKP oleh Wajib Pajak dapat juga dilakukan secara elektronik yaitu melalui internet di situs Direktorat Jenderal Pajak dengan alamat http://www.pajak.go.id. Wajib Pajak cukup memasukan data-data pribadi (KTP/SIM/Paspor) untuk dapat memperoleh NPWP.
    Berikut langkah-langkah untuk mendapatkan NPWP melalui internet :
    1. Cari situs Direktorat Jenderal Pajak di Internet dengan alamat http://www.pajak.go.id;
    2. Selanjutnya anda memilih menu e-Registration (ereg.pajak.go.id);
    3. Pilih menu “buat account baru” dan isilah kolom sesuai yang diminta;
    4. Setelah itu anda akan masuk ke menu “Formulir Registrasi Wajib Pajak Orang Pribadi”. Isilah sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang anda miliki;
    5. Anda akan memperoleh Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Sementara yang berlaku selama 30 (tiga puluh) hari sejak pendaftaran dilakukan.
    6. Cetak SKT Sementara tersebut beserta Formulir Registrasi Wajib Pajak Orang Pribadi sebagai bukti anda sudah terdaftar sebagai Wajib Pajak.
    7. Tanda tangani formulir registrasi, kemudian dapat dikirimkan/disampaikan langsung bersama SKT Sementara serta persyaratan lainnya ke Kantor Pelayanan Pajak seperti yang tertera pada SKT Sementara tersebut. Setelah itu Anda akan menerima kartu NPWP dan SKT asli.

    C. Wajib Pajak Pindah

    Dalam hal WP pindah domisili atau pindah tempat kegiatan usaha, WP agar melaporkan diri ke KPP lama maupun KPP baru dengan ketentuan:

    1. Wajib Pajak Orang Pribadi :
    a. Yang pindah tempat tinggal, melampirkan surat keterangan pernyataan pindah tempat tinggal dari instansi yang berwenang sekurang-kurangnya Lurah atau Kepala Desa bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah surat pernyataan tempat tinggal/domisili yang baru dari yang bersangkutan bagi orang asing (bentuk formulir ditentukan Direktorat Jenderal Pajak). Dalam hal WP yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, persyaratan tersebut dapat berupa surat keterangan dari pimpinan instansi atau perusahaan.
    b. Yang pindah tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, melampirkan surat pernyataan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang baru dari WP.

    2. Wajib Pajak Badan :
    a. Pindah tempat kedudukan, melampirkan surat pernyataan tempat kedudukan yang baru dari salah seorang pengurus yang aktif.
    b.Pindah tempat kegiatan usaha, melampirkan surat pernyataan tempat kegiatan usaha baru dari salah seorang pengurus yang aktif.

    D. Penghapusan NPWP dan Persyaratannya

    Penghapusan NPWP dilakukan dalam hal diajukan permohonan penghapusan NPWP oleh :
    1. WP dan/atau ahli warisnya karena WP sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. Misalnya :
    a. WP meninggal dan tidak meninggalkan harta warisan, diisyaratkan adanya fotokopi akte kematian atau surat keterangan kematian dari instansi yang berwenang;
    b. WP meninggal dan meninggalkan warisan. Apabila selesai dibagi kepada ahli warisnya, disyaratkan adanya keterangan tentang selesainya warisan tersebut dibagi oleh ahli warisnya;
    c. WP Orang Pribadi lainnya yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai WP, disyaratkan surat pernyataan dan keterangan dari instansi yang berwenang;
    2. Wanita kawin yang sebelumnya telah memiliki NPWP dan menikah tanpa membuat perjanjian pemisahan harta serta suaminya telah terdaftar sebagai WP, disyaratkan adanya surat nikah/akte perkawinan dari catatan sipil;
    3. WP Badan dalam rangka likuidasi atau telah dibubarkan secara resmi, disyaratkan adanya akte pembubaran;
    4. Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang karena sesuatu hal kehilangan statusnya sebagai BUT, disyaratkan adanya permohonan WP yang dilampiri dokumen yang mendukung bahwa BUT tersebut tidak memenuhi syarat lagi untuk dapat digolongkan sebagai WP;

    Artikel terkait:
    1. Istilah-Istilah Perpajakan http://www.pajak.go.id/content/istilah-istilah-perpajakan
    2. Wajib Pajak dan Pengusaha Kena Pajak http://www.pajak.go.id/content/wajib-pajak-dan-pengusaha-kena-pajak
    3. NPWP dan Manfaatnya http://www.pajak.go.id/content/npwp-dan-manfaatnya


    http://www.pajak.go.id/content/seri-kup-npwp-dan-manfaatnya

    NPWP dan Manfaatnya
    Selasa, 6 Maret 2012 – 13:15

    Untuk melaksanakan administrasi perpajakan, Direktorat Jenderal Pajak menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sebagai sarana administrasi sekaligus sebagai tanda pengenal atau identitas Wajib Pajak. Setiap Wajib Pajak akan diberikan NPWP pada saat melakukan pendaftaran, sehingga seluruh administrasi perpajakan terkait dengan Wajib Pajak tersebut akan menggunakan NPWP yang dimaksud.

    A. Pengertian

    1. Wajib Pajak (WP) adalah orang pribadi atau badan meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
    2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

    B. Orang Pribadi Yang wajib Memiliki NPWP

    1. Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
    2. Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas, yang memperoleh penghasilan diatas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
    Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) setahun adalah :
    a. Wajib Pajak sendiri : Rp 15.840.000,-;
    b. Wajib Pajak kawin : Rp 17.160.000,-;
    c. Wajib Pajak kawin & Memiliki 1 tanggungan : Rp 18.480.000,-;
    d. Wajib Pajak kawin & Memiliki 2 tanggungan : Rp 19.800.000,-;
    e. Wajib Pajak kawin & Memiliki 3 tanggungan : Rp 21.120.000,-.
    Misalnya, Budi (statusnya sendiri) karyawan di PT A memiliki penghasilan setiap bulannya Rp 2 juta atau setahun Rp 24 juta, dengan demikian Budi wajib memiliki NPWP.

    C. Cara Mendapatkan NPWP

    Pendaftaran NPWP dapat dilakukan dengan membuka situs Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id).
    Langkah-langkahnya adalah :
    1. Cari situs Direktorat Jenderal Pajak di Internet dengan alamat http://www.pajak.go.id.
    2. Selanjutnya anda memilih menu e-Registration (ereg.pajak.go.id).
    3. Pilih menu “buat account baru” dan isilah kolom sesuai yang diminta.
    4. Setelah itu anda akan masuk ke menu “Formulir Registrasi Wajib Pajak Orang Pribadi”. Isilah sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang anda miliki.
    5. Anda akan memperoleh Surat Keterangan Terdaftar (SKT) Sementara yang berlaku selama 30 (tiga puluh) hari sejak pendaftaran dilakukan. Cetak SKT Sementara tersebut sebagai bukti anda sudah terdaftar sebagai Wajib Pajak.
    6. Tanda tangani formulir registrasi, kemudian dapat dikirimkan/disampaikan langsung bersama SKT Sementara ke Kantor Pelayanan Pajak seperti yang tertera pada SKT Sementara tersebut. Setelah itu Wajib Pajak akan menerima kartu NPWP dan SKT asli.
    Pendaftaran NPWP juga dapat dilakukan dengan cara langsung mendatangi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal dari Wajib Pajak serta mendatangi Pojok Pajak yang terdapat di tempat keramaian (mall, gedung perkantoran).

    D. Persyaratan Untuk Memiliki NPWP

    Cukup hanya mengisi formulir pendaftaran dan menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau paspor bagi orang asing

    E. Biaya Pembuatan NPWP

    Pembuatan NPWP dan semua pelayanan di Kantor Pelayanan Pajak tanpa dipungut biaya atau gratis.

    F. Manfaat Memiliki NPWP

    1. Kemudahan Pengurusan Administrasi, dalam :
    a. Pengajuan Kredit Bank;
    b. Pembuatan Rekening Koran di Bank;
    c. Pengajuan SIUP/TDP;
    d. Pembayaran Pajak Final (PPh Final, PPN dan BPHTB, dll);
    e. Pembuatan Paspor;
    f. Mengikuti lelang di instansi Pemerintah, BUMN dan BUMD.

    2. Kemudahan pelayanan perpajakan :
    a. Pengembalian pajak;
    b. Pengurangan pembayaran pajak;
    c. Penyetoran dan pelaporan pajak

    G. Penghapusan NPWP

    NPWP dapat dihapuskan, hanya apabila Wajib Pajak tersebut sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan. Misalnya Wajib Pajak meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan atau meninggalkan warisan tetapi sudah terbagi habis kepada ahli warisnya.
    Contoh lain adalah Wajib Pajak tidak lagi memperoleh penghasilan atau memperoleh penghasilan tetapi di bawah PTKP.

    H. Sanksi Tidak Memiliki NPWP

    Setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP dan atas perbuatannya tersebut menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.


    http://www.pajak.go.id/content/seri-kup-istilah-istilah-perpajakan

    Istilah-Istilah Perpajakan
    Selasa, 6 Maret 2012 – 09:56

    Untuk lebih memahami berbagai ketentuan mengenai administrasi perpajakan, berikut ini hal-hal yang perlu Anda ketahui mengenai istilah-istilah perpajakan:

    1. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

    2. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

    3. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

    4. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean.

    5. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya.

    6. Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

    7. Masa Pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu tertentu sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini.

    8. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.

    9. Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu 1 (satu) Tahun Pajak.

    10. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

    11. Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

    12. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak.

    13. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak.

    14. Surat Setoran Pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas negara melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

    15. Surat ketetapan pajak adalah surat ketetapan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.

    16. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.

    17. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.

    18. Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.

    19. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang.

    20. Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.

    21. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak.

    22. Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, ditambah dengan pajak yang dipotong atau dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri, dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.

    23. Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan setelah dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan, yang dikurangkan dari pajak yang terutang.

    24. Pekerjaan bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja.

    25. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

    26. Bukti Permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan, tulisan, atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.

    27. Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan.

    28. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

    29. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca, dan laporan laba rugi untuk periode Tahun Pajak tersebut.

    30. Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan pengisian Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang kebenaran penulisan dan penghitungannya.

    31. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya.

    32. Penyidik adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    33. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga.

    34. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap surat ketetapan pajak atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak.

    35. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak.

    36. Putusan Gugatan adalah putusan badan peradilan pajak atas gugatan terhadap hal-hal yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dapat diajukan gugatan.

    37. Putusan Peninjauan Kembali adalah putusan Mahkamah Agung atas permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Wajib Pajak atau oleh Direktur Jenderal Pajak terhadap Putusan Banding atau Putusan Gugatan dari badan peradilan pajak.

    38. Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak adalah surat keputusan yang menentukan jumlah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak untuk Wajib Pajak tertentu.

    39. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga adalah surat keputusan yang menentukan jumlah imbalan bunga yang diberikan kepada Wajib Pajak.

    40. Tanggal dikirim adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam hal disampaikan secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan disampaikan secara langsung.

    41. Tanggal diterima adalah tanggal stempel pos pengiriman, tanggal faksimili, atau dalam hal diterima secara langsung adalah tanggal pada saat surat, keputusan, atau putusan diterima secara langsung.


    http://pelayanan-pajak.blogspot.fr/2010/01/ditjen-pajak-terima-8390-pengaduan.html

    Ditjen Pajak Terima 8.390 Pengaduan Masyarakat di 2009
    Direktorat Jenderal Pajak menerima 8.390 pengaduan dari masyarakat terkait pajak selama Januari hingga Oktober 2009. Keluhan yang paling banyak diadukan oleh masyarakat adalah mengenai ketidakprofesionalan petugas pajak dan hambatan pelayanan pajak.

    Hal tersebut terkait dengan batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh 2008 yang harus dimasukkan paling lambat tangga 31 Maret 2009, sehingga masyarakat dan Wajib Pajak banyak melakukan pengaduan, informasi dan saran terkait dengan pelayanan unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

    Dari total jumlah pengaduan tersebut, tidak semua pengaduan yang diterima dapat ditindaklanjuti karena unsur identitas pelapor yang tidak jelas, tidak ada kontak yang dapat dihubungi, dan atau bukti/data pendukung tidak ada.

    Sebanyak 7.985 pengaduan dapat langsung diselesaikan atau dijawab oleh petugas Pusat Pengaduan Pajak tanpa harus ditindaklanjuti ke unit kerja bersangkutan karena sifatnya hanya informasi dan saran.

    Jenis pengaduan yang dilakukan oleh masyarakat adalah:

    • Ketidakprofesionalan dan hambatan pelayanan
    • Inkonsistensi penerapan peraturan
    • Indikasi penggelapan pajak
    • Penyalahgunaan wewenang dan disiplin

    http://finance.detik.com/read/2010/04/28/131635/1347005/4/mafia-pajak-terbongkar-tjiptardjo-kebanjiran-keluhan

    Mafia Pajak Terbongkar, Tjiptardjo Kebanjiran Keluhan
    Muchus Budi R. – detikfinance
    Rabu, 28/04/2010 13:16 WIB

    Solo -Ada hikmah tersendiri dari terbongkarnya kasus mafia pajak. Dirjen Pajak, M Tjiptardjo, mengaku setiap hari call center Ditjen Pajak kebanjiran aduan dan keluhan masyarakat yang jumlahnya mencapai 3.000 per hari.

    “Ada hikmah tersendiri dari terbongkarnya kasus pelanggaran pegawai pajak seperti Gayus Tambunan maupun yang di Surabaya itu. Sekarang orang semakin berani mengaku dan mengeluhkan pelayanan petugas pajak. Ini perkembangan yang bagus untuk membenahi lembaga ini,” ujar Tjiptardjo kepada wartawan di Solo, Rabu (28/4/2010).

    Dia menyebutkan, saat ini call center di direktorat pajak setiap hari rata-rata menerima masukan setidaknya 3.000 per hari. Jumlah tersebut melonjak drastis dari rata-rata penerimaan masukan sebelum kasus mafia pajak terbongkar, namun .

    Dari 3.000 masukan tersebut, kata Tjiptardjo, memang ada juga yang sekadar menanyakan mesalah teknis. Namun demikian sebagian besar dari masukan itu berupa keluhan atau aduan masyarakat atau perlakukan atau tindakan petugas pajak terhadap mereka.

    “Ini perkembangan yang sangat bagus. Sekarang orang berani secara terbuka mengadukan bahwa telah dirugikan petugas pajak. Semua informasi dan masukan itu pastinya akan langsung kami tindak lanjuti. Jika setelah kami cek memang ada kesalahan pada petugas kami maka kami akan mengambil langkah tegas dengan menindak petugas yang bersangkutan,” urainya.

    Tjiptardjo menegaskan pihaknya akan terus meningkatkan iklim kepercayaan publik tersebut untuk menggali informasi langsung dari wajib pajak terhadap pelayanan petugas pajak. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kemerosotan kepercayaan wajib pajak terhadap direktorat pajak seiring terbongkarnya praktik mafia pajak di lembaga tersebut.

    (mbr/qom)


     
  • Virtual Chitchatting 10:44 AM on 2014/04/22 Permalink  

    Ketika Abraham Samad, Ketua KPK, sang ksatria kodok ngomong soal moral dan keadilan

    masih ingat sejarah dan perjalanan abraham samad sebelum menjadi Ketua KPK?
    1. Dia pernah menyembah-nyembah ke Patrialis Akbar selaku Menkumham dan Ketua Pansel KPK.
    2. Dia pernah menyembah-nyembah ke Anas Urbaningrum selaku Ketua Umum Partai Demokrat.

    Sebagai balas budi ke Anas, dia berinisiatif membocorkan SPRINDIK atas Anas Urbaningrum.
    Sprindik itu approval untuk go ahead, inisiasi, aktivasi operasi intelijen KPK terhadap Anas.

    Ketua BPK Hadi Poernomo dijadikan tersangka korupsi oleh KPK saat dia menjabat sebagai Dirjen Pajak.
    Hadi Poernomo dijadikan tersangka setelah BPK meng-approve keterlibatan SBY-Boediono dalam kasus Bank Century.

    Si Samad emang patut diberi gelar Ksatria Kodok !

    ilmu katak saat meloncat adalah: dengan keras, tangannya menyibak orang di sekelilingnya dan dengan keras, kakinya memijak/menendang (kepala) orang di bawahnya.

    Kok kodok, bukan katak? yang namanya kodok itu perutnya pasti gendut. kalau katak, kurus kering, kayak kermit. ;p Karena perutnya gendut, jadi kodok itu termasuk golongan pemakan segala.
    Yang kita tahu, kodok itu makanan ular. kalau ular vs buaya, mana yang menang? kasus terakhir, di brisbane, ular bisa makan buaya. kalau cicak besar (ular) makan buaya http://mayachitchatting.wordpress.com/2014/03/03/kalau-cicak-besar-ular-makan-buaya/. Karena sekarang zaman edan, giliran ular yang dimakan kodok. kampret, kalong, kelelawar aja bisa dimakan kodok, hidup-hidup lho. begimane carenya? gugling lha.

    ini konfirmasi dari AfriBats http://www.blogger.com/profile/15220675803699330412 September 25, 2013 at 1:27 PM
    Great picture, great story! Also interesting to see that there’s a similar case published. The swallowed bat clearly is a free-tailed bat (family Molossidae; shown by the tail, which is not enclosed by a membrane, and the particular way the 3rd digit is folded). Several free-tailed bats (such as Molossus sp. mentioned in the published article) roost in roofs of buildings, and the picture seems to show a concrete floor, so most likely this happened when the bat was exiting its roost. These bats are fast flyers, which comes at the cost of reduced manoeuvrability. They further require a certain height of their roost site to gain sufficient speed and lift. Sometimes things go wrong and they crash-land on the ground below the roost, and I would reckon that in this case it happened right in front of the toad…

    ini salah satu penampakan kampret yang ditelan kodok, hidup-hidup lho, eaten alive. di Peru. Amerika Latin sono. di bulan September 2013. nama kodoknya cane toad. gugling aja.

    cane toad, kodok bangkong ini juga bisa makan ular. ini kejadian di australia. masih inget ular makan buaya di brisbane sono. kalau cicak besar (ular) makan buaya http://mayachitchatting.wordpress.com/2014/03/03/kalau-cicak-besar-ular-makan-buaya/. di Townsville, masih di Australia, Melissa, September 26, 2013, 9:47 pm, memang dan sudah mengkorfimasi kelakuan kodok yang bisa makan ular….. yummy. “We had a large green tree frog eat a snake on our back patio one night.”

    ini konfirmasi kodok makan kobra di pretoria, afrika selatan. BilBy September 23, 2013 at 12:44 am
    For many amphibians, if you can force it in your stomach somehow, it’s food. There’s an African Giant bullfrog specimen in a jar at the Transvaal Museum in Pretoria that swallowed something like 17 baby rinkhals (a type of cobra) in one go.


    http://blog.liputan6.com/2009/01/09/lompatan-ksatria-katak/

    Lompatan Ksatria Katak
    Syaiful Halim, January – 9 – 2009

    Cerita tentang Ksatria Katak saya dapat dari mantan Imamu Masjid Kraton Benteng Wolio di Pulau Buton dua tahun yang silam. Pada masa Kesultanan Kesultanan Butuni, Imamu Masjid memiliki peran sentral dalam bidang spiritual. Ia merupakan sultan kedua di organisasi itu dengan julukan Sultan Batin. Dan, di tingkat spiritualnya, ia diyakini bukan sekedar ahli tarekat atau hakekat, tapi ahli ma’rifat!

    Namun, saya tidak akan berpanjang-panjang dengan cerita kejayaan dan era emas Imamu Masjid di masa silam. Karena, hanya akan menyita berlembar-lembar halaman dan konteksnya belum cukup penting untuk diungkap. Dan, saya lebih tertarik mengingat kembali amsal atau pemisalan yang diungkap sang mantan Imamu Masjid tentang Ksatria Katak.

    Tuturnya, dalam setiap ruang kehidupan terdapat banyak tokoh dan karakter. Kalau mau merenung sedikit saja, kita segera sadar, karakter dari setiap tokoh itu sebenarnya merupakan penampakan dari karakter hewan-hewan di hutan luas. Artinya, setiap manusia menyimpan potensi kehewanan. Selain itu, aksi-aksi yang diperlihatkan manusia di kehidupan nyata pun tak ubahnya aksi-aksi hewan-hewan di Kerajaan Rimba.

    Lantas, ia pun mengenalkan saya pada tokoh Kstaria Katak di Kerajaan Rimba itu. Meski sekedar katak, menurutnya, hewan itu memiliki kegemilangan yang tak seburuk rupa dan bentuknya. Karena, ia memiliki lompatan-lompatan yang melebihi kecepatan, kecerdasan, dan kesetiaan hewan lain. Berkat kelebihannya itulah ia terkenal dengan jargon “lompatan Ksatria Katak”.

    Lahirnya jargon itu, karena ia memiliki hasil kerja, prestasi, atau rekor, yang di atas rata-rata. Bahkan, ia sanggup berbuat sesuatu melebihi kapasitasnya atau kstaria-ksatria yang lebih tinggi kastanya. Problemnya, sang Ksatria Katak terlalu asyik dengan tanggung jawab dan peraihan hasil maksimal atas kerjanya. Namun, ia malas berkoordinasi atau melaporkan hasil kerja di setiap tahapan-tahapan. Sehingga, ia sering dianggap berjalan dalam dunianya sendiri dan lepas kendali. Akibat “cacad” itu, lompatan sang Kstaria tidak pernah dihitung atau diapresiasi. Karena, Kerajaan Rimba lebih mengakomodir para ksatria yang rajin melapor, bekerja sesuai trek, dan pintar membuka peluang untuk dekat dengan pengendali sistem.

    Meskipun begitu, sang Kstaria Katak akan terus bekerja sesuai amanat Raja. Karena, sesungguhnya ia tidak membutuhkan pujian dan sanjungan, selain membuat lompatan demi lompatan untuk kejayaan Kerajaan Rimba. Bahkan, ia juga tidak peduli ketika ia ditempatkan sebagai Ronin – Ksatria Samurai tanpa tuan dalam mitos Jepang – lantaran kalah pintar berpolitik dibandingkan ksatria lain.

    Sejenak saya terdiam mendengar cerita Imamu Masjid. Namun, imajinasi di kepala ini bergerak liar dan menangkap nama Sri Bintang Pamungkas dan sahabat saya, Bambang Warih Koesoema. Pada masa orde baru, keduanya direcall dari panggung DPR karena “lompatan-lompatan Ksatria Katak”nya yang tak lazim dan di luar kendali partai.

    Lima tahun yang silam, saya sempat membuat film dokumenter perjalanan Bambang Warih Koesoema menuju kursi senator. Saya paham, ia memang brilian, teramat kaya wawasan, dan terlalu luar biasa untuk kelas DPD. Sehingga, bila membandingkan dengan caleg-caleg yang muncul di saat sekarang, ia teramat perkasa. Maka, sangat wajar bila ia memiliki keberanian untuk membuat lompatan ala Ksatria Katak. Dan, wajar bila ia harus didepak dari sistem!

    Dalam dunia spiritual, saya juga tak bisa melepaskan nama Hussein Al-Hallaj dengan pemaham wahdatul wujud-nya dan Syekh Siti Jenar dengan keyakinan Manunggaling Klawan Gusti-nya. Kedua “lompatan” itu merupakan pencapaian ruhani yang telah ma’rifat hingga terjadi penyatuan antara Pencipta dan yang dicipta secara ruhani. Keduanya menampakkan penyataan itu ketika mereka dalam kondisi fana, sehingga manusia awam beranggapan, “Mereka mengaku sebagai Tuhan!”

    Buah dari “lompatan Ksatria Katak”nya, Al-Hallaj wafat di tiang gantungan lantaran dieksekusi Guru Mursyidnya sendiri, Syekh Abil Qasim Junaid Al-Baghdadi RA. Sebenarnya, sang Guru Mursyid tidak pernah menyalahkan keyakinan Al-Hallaj, namun sang murid dinilai tidak cerdas. Karena, ia melepaskan sisi kemanusiaannya ketika berada di tingkatan itu. Kesalahan terbesar lain, ia terlalu lancang membongkar rahasia tertinggi spiritual itu kepada manusia biasa.

    Alasan penghukuman Dewan Wali Sanga atas Syekh Siti Jenar juga tidak jauh berbeda, yakni terkait “lompatan Ksatria Katak”nya. Sehingga, Syekh Siti Jenar harus menjadi martir atas lompatan yang melebihi batas dan tanpa koordinasi para wali lain. Point tidak rajin berkoordinasi alias jalan sendiri memang sangat memberatkan, melebihi fokus utama masalah yang memperkankan ajaran ma’rifat secara terbuka.

    Masa telah bergulir jauh ke era lautan dan daratan menyatu dalam ikatan globalisasi. Batas-batas dunia telah pupus dirajut teknologi. Manusia antarbangsa menyatu di bawah antariksa komunikasi. Resiko keeratan itu, manusia modern orang lebih takut dijuluki “gagap teknologi” ketimbang “gagap guyub”. Dan, mereka juga dibuat terbiasa mengeluh sedih tanpa berbuat banyak, ketika tentara zionis membantai warga Palestina. Mereka juga hanya mesem-mesem ketika krisis globalisasi mengiris-ngiris nasib kaum dhuafa di berbagai belahan dunia.

    Seiring dengan itu, kita juga tahu, “lompatan Ksatria Katak” ala Sri Bintang Pamungkas atau Bambang Warih Koesoema telah bermetamorfosis dalam berbagai bentuk dengan macam-macam karakter atau pelakon. Konsep Wahdatul Wujud-nya Hussein Al-Hallaj dan Manunggaling Klawan Gusti-nya Syekh Siti Jenar juga tetap mendapat tempat. Entah benar-benar menjadi keyakinan penuh atau sejedar lompatan untuk mencerahkan diri. Itu artinya, “lompatan Ksatria Katak” itu tetap memiliki apresiasi dan nilai di masa-masa selanjutnya.

    Kesimpulannya, setiap orang memiliki potensi untuk melakukan lompatan-lompatan ala Ksatria Katak. Namun, ia juga harus menimbang resiko dan dampak yang bakal didapat. Buat kita, mungkin lompatan itu hebat dan mempesona, tapi bagaimana dengan sekitar kita? Bagaimana dengan sistem? Karena, jangan-jangan sistem masih mengakomodir cara hidup para ksatria yang lurus, patuh, dan setia berjalan sesuai trek, tanpa hasil yang meletup-letup. Sehingga, lompatan itu bukan hanya mubazir, namun justru menjadi nilai teramat buruk di kemudian hari. Boleh saja kita berdalih bahwa lompatan itu dilakukan untuk kejayaan sistem. Tapi, apakah hal itu dipahami juga oleh sekeliling kita atau sistem?

    Pilihan memang ada di tangan kita untuk menjadi berbuat apa saja dengan kapasitas yang ada. Baik mencoba “berulah” dengan lompatan Ksatria Katak versi kita, maupun bertahan dengan kepatuhan pada sistem. Kedua pilihan itu tetap mengundang resiko. Karena, pada hakekatnya, kita tengah bermain di ranah fisik yang semuanya dirundung banyak faktor dan ketidakpastian.

    Jangan berpikir, sekeliling kita akan mudah memahami pola pikir atau keinginan kita. Dan, jangan juga mencoba-coba menyandarkan pemikiran itu pada agama, karena bisa tidak “nyambung”. Boleh saja kita keyakinan, karena orang-orang di sekitar kita telah hafal dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits, rajin menelah kitab tasawuf klasik Al-Hikam atau Sirrul Asraar-nya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani QS. Tapi, sekali lagi, persoalan dunia bisa membutakan mata batin dan mata lahirnya, hingga bila lompatan tidak berkenan di mata sistem maka jadi tidak bermakna pula di mata-mata mereka.

    Yang pasti, saya makin terperangah, ketika mantan Imamu Masjid membiuskan pesan atas cerita “lompatan Ksatria Katak”nya itu bahwa setiap dari kita harus membuat lompatan besar dalam hidup kita di bidang ruhani. Sekali lagi di bidang ruhani, bukan jasmani. Artinya, saatnyalah menyadari bahwa kita memiliki beban tanggung jawab hidup untuk dunia dan akhirat. Saatnyalah mengetahui bahwa pencapaian lompatan-lompatan itu terkait jasmaniah dan ruhaniah. Saatnyalah meyakini bahwa hasil dari kedua hal itu berhubungan dengan kedekatan kita dengan Yang Mahapencipta. Pada satu titik, ketika usia semakin senja, lompatan mendekatiNya adalah lompatan terhebat sang Ksatria Katak.

    “Lompatan itulah yang dilakukan Rasulallah SAW di Goa Hira saat berusia 40 tahun. Lalu, ia juga berkesempatan melakukan lompatan lain melalui momen Isra dan Mi’raj. Dan, banyak rentetan lompatan-lompatan. Dan, semuanya berawal dari lompatan di Goa Hira,” kata sang mantan Imamu Masjid.

    Belakangan, saya baru sadar bahwa lompatan sang Ksatria Katak itulah yang disebut “hijrah”. Ya, hijrah secara ruhani. Hijrah untuk lebih memikirkan masalah akhirat dibandingkan masalah dunia. Hijrah untuk mencapai maqom-maqom spiritual yang lebih tinggi dibandingkan prestasi duniawi. Dan, hijrah untuk makin erat dan ikatan mahabbah dan ma’rifat dengan Yang Mahamencintai.

    Artinya, sebagian dari kita boleh menderita kalah berkat resiko lompatan ala Ksatria Katak di ranah jasmaniah. Tapi, semoga saja, hal itu menjadi pelajaran untuk segera melakukan lompatan ala Ksatria Katak di arena ruhaniah. Karena, pada hakekatnya, arena ruhaniah pun membutuhkan perhatian besar dibandingkan ranah jasmaniah. Dan, buah pencapaiannya juga sangat-sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan di alam fana itu, dan tentu saja, di alam baqa kelak.


    http://blog.liputan6.com/2009/02/05/lompatan-ksatria-katak-2/

    Lompatan Ksatria Katak (2)
    Syaiful Halim, February – 5 – 2009

    Seorang teman menyatakan keprihatinannya atas cerita “Lompatan Ksatria Katak” terdahulu. “Sangat real,” katanya. Karena, ia pun merasa jadi bagian dari kaum Ksatria Katak itu. Dalam konteks organisasi yang diikutinya, tentu saja. Sebaliknya, seorang teman lain bertanya-tanya, adakah cerita itu di dunia nyata? Kalau iya, bagaimana gambaran rincinya?

    Bila teman yang pertama berada di sebuah lingkungan perusahaan besar, maka teman yang kedua baru saja lulus dari bangku kuliah. Maka, sangat wajar, bila cerita “Lompatan Ksatria Katak” menghadirkan dua persepsi yang bertolak-belakang; keprihatinan dan ketidakpercayaan. Sehingga, saya harus memilih, untuk memberikan cerita tambahan untuk kedua teman saya itu. Dan, semoga masing-masing menangkap pesan yang saya maksud dengan kejujuran.

    Menyangkut pertanyaan pertama, di manakah setting cerita “Lompatan Ksatria Katak” itu terjadi? Jawabnya, sudah pasti melingkupi semua organisasi dengan banyak nama, bentuk, tujuan, dan ciri-ciri kekhasan lainnya. Bahkan, juga organisasi keagamaan. Termasuk juga, yang telah mengurusi para ikhwan yang tengah menekuni jalan menuju Tuhan sejenis komunitas tarekat. Motifnya, macam-macam dan bikin muak untuk dibahas!

    Bila jawaban di atas belum juga bisa menjelaskan, menurut saya, ada baiknya mengingat-ingat kembali lelakon “Petruk Dadi Raja” yang kerap dimainkan di panggung-panggung pewayangan. Semiotik cerita itu, pada hakekatnya tentang kesemrawutan sistem, hingga seorang punakawan bisa menjadi pemimpin. Bila ada sekuel lanjutan, maka cerita itu akan menghadirkan para punakawan lain yang bergegas naik pangkat. Entah menjadi menteri, dirjen, direktur, atau Ketua RT. Dengan beranjaknya status kaum sudra yang juga “sudra” dalam kompetensi dan aturan profesional, maka muncullah kesemrawutan-kesemrawutan lain. Hingga, lompatan-lompatan para Ksatria Katak jadi tidak bermakna. Namun, kibas sayap burung merak, celoteh latah burung beo, auman harimau ompong, trik-trik licik kancil, atau penyamaran bunglon, menjadi lebih diperhitungkan.

    Bila ilustrasi di atas terasa begitu subyektif dan tidak menjangkau nalar ilmiah, maka ada baiknya saya kutipkan esai Emha Ainun Nadjib dalam buku “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki”. Alkisah, terdapat dua musafir di padang pasir nan gersang, yang sayup-sayup melihat titik hitam di kejauhan. Musafir pertama yakin, titik hitam merupakan kerbau. Sedangkan musafir kedua tak kalah yakin, titik hitam itu merupakan benteng. Lalu, mereka pun bergegas mendekati sumber perdebatan itu.

    Dalam setiap jarak tertentu, mereka terus menjejalkan keyakinannya. Yang satu mengatakan kerbau dan yang lain mengatakan banteng. Dan, keduanya sama-sama keras kepala. Sama kerasnya dengan batu yang tak retak akibat sengatan matahari. Hingga, mereka pun berhasil mendekati titik hitam itu. Sesaat kemudian, titik hitam yang telah berbentuk itu terbang ke angkasa.

    “Burung!” kata musafir pertama.

    Namun, musafir kedua tetap dengan keyakinannya bahwa titik hitam itu merupakan banteng. Musafir pertama emosi. Karena, ia merasa matanya masih sehat dan wawasannya yang mumpuni untuk menyimpulkan, titik hitam yang bisa terbang itu merupakan burung. Musafir kedua juga tak kalah galaknya, untuk mempertahankan argumennya. Sehingga, keduanya juga tidak pernah bisa akur dan keukeuh dengan keyakinannya.

    Profil musafir kedua yang ngotot dengan pendapatnya – meski salah dan jelas-jelas salah – merupakan gambaran orang-orang yang memainkan sistem di Kerajaan Rimba. Persisnya, dengan pemimpin yang tidak memiliki trah dan sudra dalam segala hal. Ya, persis sekuel lelakon “Petruk Dadi Raja”. Ia hanya patuh pada kebijakan sang Raja, sesalah atau sebodoh apapun. Dan, sudah pasti mereka tidak mengenal jargon “lompatan Ksatria Katak” dalam kamus pribadinya. Karena, mereka hanya mengenal ensilokpedi yang disodorkan sang Raja.

    Sebaliknya dengan musafir pertama yang lurus dan jujur, maka jadi makhluk tidak popular di lingkungan kerajaan itu. Ia laksana pohon kayu, yang sudah pasti langsung ditebang pemiliknya. Sedangkan kayu bengkok, ya dibiarkan bertahan di pohonnya. Dan, seandainya ia mau diperhitungkan kembali hingga bisa bergabung dalam tim, maka ia harus memperbaiki kepolosan nalarnya. Jangan takut dibilang bodoh atau tidak berwawasan. Karena, patokan kompetensi sudah bergeser. Bergegaslah untuk mengikutinya, atau terlempar dari sistem dan menjadi ksatria-ksatria tak bertuan ala Ronin.

    Masalahnya, apakah seseorang yang merasa memiliki Tuhan, apapun agamanya, ikhlas menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada keadaan? Apakah keimanan yang dibangun sejak balita harus luntur, hingga tanpa sadar menuhankan manusia lain? Padahal, Yang Mahaperkasa pun memiliki kecemburuan yang tinggi dan sangat tidak ikhlas hambaNya harus bergeser, hanya karena takut kehilangan posisi dan masa depan. Bukankah kedua hal itu sudah diatur olehNya?

    Meniatkan diri untuk mulai ber”hijrah” secara ruhaniah merupakan lompatan ala Ksatria Katak terbesar dan bersejarah dalam kehidupan manusia. Tumbuhnya kesadaran untuk makin mengenalNya jauh lebih penting dibandingkan hal apapun. Sehingga, ketika para merak, beo, harimau ompong, kancil, bunglon, atau hewan-hewan lain yang takut susah berkeliaran dan menggoda keimanan, kita tetap istiqomah untuk berada di jalanNya.

    Dan agar niat itu tidak sia-sia dan sekedar pelampiasan keputusasaan, maka harus dibuktikan dengan amaliyah. Setiap agama memiliki cara masing-masing untuk menunjukkan kesungguhannya ber”hijrah”. Yang dibutuhkan. kedisiplinan untuk menjalankannya. Plus, tanpa menoleh kiri-kanan. Tapi lurus ke depan ke arah Yang Mahakuasa.

    Bila hal itu juga masih membuat hati dan pikiran goyah, maka segeralah mendekati guru yang sebenar-benarnya guru. Dan, tidak larut dalam diskusi-diskusi pepesan kosong atau buku-buku bacaan. Amaliyah bukan untuk diributkan, tapi harus diyakini dan diamalkan sesungguh-sungguhnya. Jangan lagi terjebak dalam jargon-jargon modern yang sekedar memodifikasi istilah. Tapi, tidak memberikan jalan terbenar untuk menjangkauNya. Buku-buku bacaan pun tidak bisa menjadi sandaran penuh, untuk menjawab seluruh pertanyaan tentang Tuhan. Karena, subyektivitas penulis dan berbagai keterbatasan untuk memaparkan hal yang sebenarnya tidak bisa ditunjukkan huruf-huruf.

    Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jalilani QS, “Buanglah buku-bukumu dan carilah seorang guru, bila engkau ingin mendekatiNya.” Tujuannya, agar kita benar-benar mendapat bimbingan yang betul untuk mendekatiNya dan tidak diombang-ambing pendapat-pendapat yang tak jelas. Dengan adanya guru, maka “hijrah” itu jadi lebih terarah dan benar-benar memberikan makna atau lompatan terbesar ala Ksatria Katak itu.


    http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham_Samad

    Dr. Abraham Samad, S.H., M.H.

    Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ke-4
    Mulai menjabat 2011
    Didahului oleh M. Busyro Muqoddas

    Informasi pribadi
    Lahir 27 November 1966 (umur 47)
    Bendera Indonesia Makassar, Sulawesi Selatan
    Alma mater Universitas Hasanuddin
    Profesi Advokat

    Dr. Abraham Samad, S.H., M.H., (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 27 November 1966; umur 47 tahun) adalah seorang advokat Indonesia yang menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2011-2015.

    Pendidikan

    Abraham Samad meyelesaikan pendidikan Sarjana (Strata 1/S1), Magister (Strata2/S2), dan Doktoral (Strata 3/S3) di bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH Unhas), Makassar. Gelar Doktor diraihnya pada tahun 2010. Tesisnya mengambil tema tentang pemberantasan korupsi, yaitu mengupas penanganan kasus korupsi di pengadilan negeri dengan pengadilan khusus.

    Karier

    Sejak tahun 1996, Abraham Samad melakoni profesi sebagai advokat. Kemudian, untuk menunjang profesi yang digelutinya, Abraham Samad medirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang diberi nama Anti Coruption Committee (ACC). LSM ini bergerak dalam kegiatan pemberantasan korupsi, seperti melakukan kegiatan pembongkaran kasus-kasus korupsi, khususnya di Sulawesi Selatan. Selain itu ACC memiliki tujuan mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik serta sistem pelayanan publik yang maksimal dengan sasaran pemberantasan korupsi. Abraham Samad duduk sebagai koordinator, selain ia adalah penggagas LSM tersebut.

    Seleksi Calon Pimpinan KPK

    Abraham Samad sebelumnya pernah mendaftar sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Komisi Yudisial. Namun, semua gagal hingga ia memutuskan untuk mengikuti seleksi calon pimpinan KPK. Seleksi capim KPK 2011 sebenarnya bukanlah hal baru bagi Abraham, karena ia sebelumnya sudah pernah mendaftar sebanyak dua kali. Pada ketiga kalinya inilah Abraham bisa melewati seleksi hingga tingkat akhir (uji kelayakan dan kepatutan oleh DPR). Abraham bersama 8 calon (sebelumnya 10 calon) diajukan oleh Pansel KPK yang diketuai oleh Menkumham Patrialis Akbar dimana Abraham menempati peringkat kelima dari seluruh calon yang diajukan. Abraham merupakan calon pertama yang menjalai uji kelayakan dan kepatutan yang dimulai pada tanggal 21 November 2011.

    Pada tanggal 3 Desember 2011 melalui voting pemilihan Ketua KPK oleh 56 orang dari unsur pimpinan dan anggota Komisi III asal sembilan fraksi DPR, Abraham mengalahkan Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu Praja. Abraham memperoleh 43 suara, Busyro Muqoddas 5 suara, Bambang Widjojanto 4 suara, Zulkarnain 4 suara, sedangkan Adnan 1 suara. Ia dan jajaran pimpinan KPK yang baru saja terpilih, resmi dilantik di Istana Negara oleh Presiden SBY pada tanggal 16 Desember 2011.

    Dukungan

    Abraham didukung oleh beberapa lembaga, diantaranya:
    * Koalisi Masyarakat Anti-Korupsi;
    * Komisi Pemantau Legislatif (Kopel);
    * Pusat Studi Demokrasi Unhas;
    * Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia-Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI-LBH) Makassar;
    * Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Makassar (YLBHM);
    * YLBHP2i;
    * Masyarakat Peduli Pelayanan Publik Sulsel.
    * Clean Governance DPC Lamongan

    Testimoni
    * “Saya harap beliau terpilih menjadi pimpinan KPK. Saya kenal dia dan track record-nya untuk antikorupsi tidak diragukan lagi.” Buhari Kahhar Mudzakkar, Ketua Komisi C DPRD Sulawesi Selatan
    * “Dari segi disiplin ilmu serta track record-nya tidak diragukan lagi. Kami berharap bisa masuk di pimpinan KPK.” Akmal Pasluddin,Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan dan Ketua DPW PKS Sulawesi Selatan

    Referensi
    Politikana – 15 november 2011 http://politikana.com/baca/2011/11/15/abraham-samad-kuda-hitam-pimpinan-kpk.html
    Kompas – 21 November 2011 http://nasional.kompas.com/read/2011/11/21/08325999/Abraham.Samad.Diuji.Pertama
    Tribun Timur – 6 agustus 2011 http://makassar.tribunnews.com/2011/08/06/profil-abraham-samad-calon-pimpinan-kpk
    Situs Resmi Komite Pemantau Legislatif (Kopel) http://www.kopel-online.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1526:abraham-samad-layak-pimpin-kpk&catid=50:sulawesi&Itemid=112
    Artikel:”Abraham Samad Ketua KPK” di Kompas.com http://nasional.kompas.com/read/2011/12/02/16051189/Abraham.Samad.Ketua.KPK
    Foto pelantikan pimpinan KPK baru di detik.com http://foto.detik.com/readfoto/2011/12/16/183611/1793217/157/1/sby-lantik-abraham-cs?991105462
    Berita Terbaru – 4 Agustus 2011 http://www.berita-terbaru.com/uncategorized/10-calon-pimpinan-kpk-yg-lolos-seleksi-iii-siapakah-mereka-share.html


    http://makassaronline.blogspot.com/2011/12/profil-abraham-samad-ketua-kpk-yang.html

    Profil Abraham Samad Ketua KPK Yang Baru
    Rison Sarundaek on Sabtu, 03 Desember 2011 | 01.13

    Abraham Samad mengalahkan empat pimpinan KPK dalam Pemilihan Ketua KPK yang baru, yakni Bambang Widjojanto (4 suara), Busyro Muqoddas (5 suara), Adnan Pandu Praja (1 suara), dan Zulkarnain (3 suara).

    Abraham Samad adalah pimpinan KPK paling muda. Dia berusia 45 tahun, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan. Abraham menyelesaikan pendidikan hukum strata satu hingga strata tiga di Universitas Hasanuddin, Makassar.

    Di Makassar, Samad dikenal sebagai aktivis antikorupsi. Dia penggagas sekaligus Koordinator Anti Corruption Committee di Sulsel. Salah satu kasus korupsi yang pernah dia bongkar yakni kasus yang melibatkan wali kota Makassar.

    Akibat langkahnya itu, rumah serta usaha milik istrinya pernah dirusak sekelompok orang. Selain sebagai aktivis, dia juga berkarier sebagai advokat. Dia telah menanggalkan profesinya itu ketika mendaftar di panitia seleksi calon pimpinan KPK.

    Selama uji kepatutan dan kelayakan, Abraham satu-satunya calon yang berani berjanji akan mundur tanpa didesak jika satu tahun kepemimpinannya dianggap gagal. “Saya enggak perlu diminta turun (sebagai pimpinan). Satu tahun enggak bisa apa-apa saya akan mundur,” kata Samad berapi-api.

    Dia juga satu-satunya calon pimpinan yang berani menggunakan kata-kata yang keras ketika uji kelayakan dan kepatutan, seperti kata “libas” dan “gantung”.

    Perbedaan Abraham dengan calon pimpinan yang lain yakni dia berani mengkritik keras pansel capim KPK atas pemeringkatan delapan capim. Dia di tempatnya di posisi kelima oleh pansel. “Itu penghinaan yang luar biasa,” ujar Samad.

    Profil dan Biodata Abraham Samad
    * Nama :Dr. Abraham Samad, SH.
    * Tempat Kelahiran :Makassar, Sulawesi Selatan
    * Tanggal lahir : 27 November 1966 (44 th)

    Menyelesaikan jenjang pendidikan hukum dari Strata 1 hingga Strata 3 di Universitas Hasanuddin. Di Unhas, ia meraih gelar doktor pada 2010.

    Sejak 1996 sampai sekarang, Abraham Samad masih berkarir sebagai advokat. Namun, ia termasuk pengacara dengan latar belakang LSM. Sebab, Abraham adalah seorang penggagas sekaligus Koordinator ACC (Anti Corruption Committee) di Sulsel. Di LSM itu, ia sangat fokus dalam mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik serta sistem pelayanan publik yang maksimal dengan sasaran pemberantasan korupsi.

    Sosok Advokat Pejuang Keadilan

    Saat itu usia Abraham Samad baru saja menginjak sembilan tahun, ketika ayahnya, Andi Samad, seorang tokoh pejuang kemerdekaan ’45 berpulang ke Rahmatullah. Memang tak ada yang lebih mennyedihkan ketika harus menghadapi sebuah kenyataan pahit bahwa seorang yang selama ini menjadi penopang hidup keluarga telah dipanggil oleh sang pencipta.

    Lahir pada tanggal 27 November 1967, di Makassar, Abraham Samad tumbuh dalam
    pengasuhan ibunya. Sebagai anak yang sejak kecil ditinggal ayahnya, Abraham memang menjadi sangat terikat secara emosional dengan sang ibu. Hubungan ini demikian kuat. Bahkan bagi Abraham, sosok ibunyalah yang senantiasa menjadi pilar dalam menuntut hidupnya.

    Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Abraham Samad kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nasional, Makassar, tahun 1980. Disekolah ini, Abraham semakin tumbuh dalam pribadi yang sangat kritis. Sikap kritisnya ini kemudian tercermin dari sifatnya yang sangat tidak nyaman terhadap proses ketidakadilan yang dijumpainya. Inilah saat-saat di mana Abraham mulai membentuk wataknya yang tidak mengenal kompromi terhadap apa yang dianggapnya sebagai penyimpangan.

    Pribadi ini kemudian berlanjut dan memperoleh ruang pertumbuhannya ketika ia memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Cendrawasih, Makassar, tahun 1983. Saat itu Abraham terbilang populer diantara kawan-kawannya. Jiwanya yang kritis dan memberontak ini sering meledak dalam dirinya, membuat Abraham seringkali terlibat perkelahian antara sesama siswa (tawuran), hanya karena keinginan membela kawan-kawannya. Sikap kesetiakawanan ini menjadikan Abraham dijadikan tempat mengadu kawan-kawannya yang sedang terlibat masalah.

    Setelah menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1987, Abraham kemudian melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Pilihannya saat itu cuma satu, Fakultas Hukum sebagaimana yang memang menjadi keinginannya sejak kecil. Abraham pun mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin dan diterima di sana. Memasuki dunia kampus, bagi Abraham seperti menemukan tempatnya untuk mengaktualisasikan diri.

    Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 1992, Abraham sedikit goyah dalam penentuan karir profesi yang akan digelutinya kelak. Pada satu sisi, ia sangat berkeinginan untuk menekuni profesi advokat, karena pada dunia inilah ia bisa melakukan pengabdian untuk melakukan pembelaan terhadap orang-orang yang hak-haknya terlanggarkan serta dirugikan sesuai dengan pangilan hatinya. Namun di sisi lain, ibunya lebih mengharapkan agar Abraham untuk menjadi seorang Birokrat.

    Namun sebelum benar-benar terjun pada profesi advokat, Abraham memulainya dengan magang terlebih dahulu. Agaknya, ada hal-hal tertentu yang selalu saja menggelisahkan hati Abraham sejak pertama kali menjejakkan kakinya dalam belantara penegakan hukum di Indonesia. Kegeliasahan tersebut semakin lama semakin membesar ketika ia semakin memahami bahwa sistem hukum Indonesia belum berjalan sebagaimana mestinya.

    Ada suatu kasus yang ditangani oleh Abraham Samad yaitu kasus bom Makassar beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, Abraham terlihat semakin aktif dalam melakukan pembelaan terhadap korban perlakuan tidak adil dengan isu teroris yang saat itu sangat sensitif dan cenderung dihindari oleh para advokat lain.

    Sebagai seorang praktisi hukum sekaligus tokoh pejuang anti korupsi, Abraham sangat prihatin terhadap fenomena budaya korupsi yang merajalela di negeri ini. Dalam pandangannya, dunia hukun dan peradilan di Indonesia sudah sangat terkontaminasi oleh perilaku korupsi ini. “Para penegak hukum, termasuk para advokat saat ini telah menjadi bagian dari mata rantai korupsi itu. Inilah yang menjadikan sistem peradilan kita mengalami proses pengeroposan, dimana budaya korupsi ini secara langsung menyebabkan perlakuan terhadap rakyat kecil menjadi sampai tidak adil”, papar Abraham.

    “Dengan demikian, lanjut Abraham, apapun bentuk program yang akan dijalankan untuk mengeliminir kecenderungan budaya perilaku korup ini, bila mafia hukum dan peradilan tidak diberantas, maka semua itu tak akan ada gunanya”. Namun sampai saat ini, Abraham sama sekali tidak melihat adanya upaya tersebut.

    5 Desember 2011 01.16
    googlespot mengatakan…
    Sejak 1966 sampai sekarang, Abraham Samad masih berkarir sebagai advokat.
    “SALAH KETIK YA OM REDAKSI…”

    11 Desember 2011 21.00
    Rison Sarundaek mengatakan…
    Terimah kasih kritiknya
    Maksudnya 1996 bukan 1966


    http://www.pariamantoday.com/2012/10/ruhut-sitompul-kodok-bisa-ketawa-dengar.html

    Ruhut Sitompul : Kodok Bisa Ketawa Dengar Penjelasan Polri

    image : lensaindonesia.com

    Judul ini diambil dari kalimat yang keluar dari mulut Ruhut Sitompul pada waktu diwawancarai oleh sebuah stasiun TV terkait penjelasan Polri atas rencana penangkapan Kompol Novel Baswedan. Itu kalau kodok bisa ketawa ya….dan sayangnya kodok memang tidak bisa ketawa,entah kalau ada kodok sakti…!

    Kodok adalah jenis binatang yang hidup di dua alam,bisa di air dan juga bisa di darat…Binatang ini kalau berenang kakinya menginjak-injak kebawah dan kaki yang lain (berfungsi seperti tangan menyepak ke samping dan kalau di darat lidahnya menjulur seperti menjilat-jilat untuk mencari mangsa yang akan dimakannya. Perilaku kodok ini sering dipakai untuk menggambarkan seorang pemimpin (kelas menengah) yang dalam memimpin di organisasinya menggunakan perilaku kodok,yaitu menginjak-injak bawahannya,menyepak sesama kawan sekerjanya dan menjilat atasannya untuk mengamankan dirinya sendiri.

    Nah,kembali ke peristiwa rencana penangkapan Kompol Novel Baswedan,maka perilaku Kombes Dedy Irianto dan Komjen Sutarman bisa digambarkan seperti perilaku kodok tersebut. Apa yang mereka sampaikan dihadapan publik menggambarkan betapa mereka berdua mempunyai sifat dan karakter yang sama dengan perilaku kodok. Kompol Novel Baswedan yang merupakan bawahan mereka berdua dibuat tidak berdaya dan dinjak-injak martabatnya dengan membeberkan masa lalu yang nota bene adalah aib yang memang sengaja disimpan dalam “X-Files” kepolisian untuk dibuka sewaktu-waktu bila yang bersangkutan dianggap “mengancam” kesatuan korps Polri. Entah siapa yang “dijilat” oleh Kombes Dedy Irianto dan Komjen Sutarman,apakah Kapolri/Wakapolri ataukah Irjen Djoko Susilo…?

    Ataukah ada orang lain yang dianggap oleh mereka sedang berkuasa di negeri ini..? Opini ini terus berkembang dan semakin menguat di kalangan masyarakat .

    Dilihat dari jenisnya,kodok juga binatang yang perutnya “gendut” …persis rekening para jenderal Polisi yang disinyalir banyak menyimpan duit haram dan kasusnya tidak pernah tuntas (atau dituntaskan)….Cuman kalau dilihat dari penampilan Kombes Dedy Irianto dan Komjen Sutarman,mereka memang tidak berperawakan “perut gendut/buncit” seperti kodok,entah rekening mereka berdua…..? KPK atau PPATK memang perlu menelusuri rekening mereka supaya publik juga tahu apakah mereka berdua termasuk polisi bersih atau tidak.

    Jadi,kodok si Ruhut Sitompul memang manjur,menginspirasi masyarakat untuk memperbincangkan ilmu kodok yang sedang dipakai oleh perwira-2 Polri dalam menginjak-injak martabat seorang Polisi yang berpangkat Kompol dan untuk menyenangkan hati perwira tingginya…(atau penguasa?). Kalau Ruhut Sitompul yang bicara,tentu banyak makna yang sedang mau diungkapkan olehnya….

    Terima kasih bang Poltak….! Salam “Save KPK”….!

    catatan mania telo freedom writers kompasianer


    http://kolom-biografi.blogspot.com/2013/01/biografi-abraham-samad-ketua-kpk.html

    Biografi Abraham Samad – Ketua KPK

    Biografi Abraham Samad – Ketua KPK. Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan lembaga anti korupsi yang paling dibenci oleh para “Tikus-Tikus Berdasi” di Indonesia. Ketuanya adalah Dr. Abraham Samad, S.H., M.H Dilahirkan pada tanggal 27 November 1967, di Makassar, Abraham Samad sekrang menjabat sebagai Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di Indonesia dengan masa jabatan 2011 sampai dengan 2015, Semasa kecil, Abraham Samad tumbuh dalam pengasuhan ibunya. Sebagai anak yang sejak kecil ditinggal ayahnya, Abraham memang menjadi sangat terikat secara emosional dengan sang ibu. Hubungan ini demikian kuat. Bahkan bagi Abraham, sosok ibunyalah yang senantiasa menjadi pilar dalam menuntut hidupnya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Abraham Samad kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nasional, Makassar, tahun 1980. Disekolah ini, Abraham semakin tumbuh dalam pribadi yang sangat kritis. Sikap kritisnya ini kemudian tercermin dari sifatnya yang sangat tidak nyaman terhadap proses ketidakadilan yang dijumpainya. Inilah saat-saat di mana Abraham mulai membentuk wataknya yang tidak mengenal kompromi terhadap apa yang dianggapnya sebagai penyimpangan.

    Pribadi ini kemudian berlanjut dan memperoleh ruang pertumbuhannya ketika ia memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Cendrawasih, Makassar, tahun 1983. Saat itu Abraham terbilang populer diantara kawan-kawannya. Jiwanya yang kritis dan memberontak ini sering meledak dalam dirinya, membuat Abraham seringkali terlibat perkelahian antara sesama siswa (tawuran), hanya karena keinginan membela kawan-kawannya. Sikap kesetiakawanan ini menjadikan Abraham dijadikan tempat mengadu kawan-kawannya yang sedang terlibat masalah. Setelah menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1987, Abraham kemudian melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Pilihannya saat itu cuma satu, Fakultas Hukum sebagaimana yang memang menjadi keinginannya sejak kecil. Abraham pun mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin dan diterima di sana. Memasuki dunia kampus, bagi Abraham seperti menemukan tempatnya untuk mengaktualisasikan diri.

    Abraham Samad sedikit goyah dalam penentuan karir profesi yang akan digelutinya kelak. Pada satu sisi, ia sangat berkeinginan untuk menekuni profesi advokat, karena pada dunia inilah ia bisa melakukan pengabdian untuk melakukan pembelaan terhadap orang-orang yang hak-haknya terlanggarkan serta dirugikan sesuai dengan pangilan hatinya. Namun di sisi lain, ibunya lebih mengharapkan agar Abraham untuk menjadi seorang Birokrat. Namun sebelum benar-benar terjun pada profesi advokat, Abraham memulainya dengan magang terlebih dahulu. Agaknya, ada hal-hal tertentu yang selalu saja menggelisahkan hati Abraham sejak pertama kali menjejakkan kakinya dalam belantara penegakan hukum di Indonesia. Kegeliasahan tersebut semakin lama semakin membesar ketika ia semakin memahami bahwa sistem hukum Indonesia belum berjalan sebagaimana mestinya.

    Ada suatu kasus yang ditangani oleh Abraham Samad yaitu kasus bom Makassar beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, Abraham terlihat semakin aktif dalam melakukan pembelaan terhadap korban perlakuan tidak adil dengan isu teroris yang saat itu sangat sensitif dan cenderung dihindari oleh para advokat lain. Sebagai seorang praktisi hukum sekaligus tokoh pejuang anti korupsi, Abraham sangat prihatin terhadap fenomena budaya korupsi yang merajalela di negeri ini. Dalam pandangannya, dunia hukun dan peradilan di Indonesia sudah sangat terkontaminasi oleh perilaku korupsi ini.

    “Para penegak hukum, termasuk para advokat saat ini telah menjadi bagian dari mata rantai korupsi itu. Inilah yang menjadikan sistem peradilan kita mengalami proses pengeroposan, dimana budaya korupsi ini secara langsung menyebabkan perlakuan terhadap rakyat kecil menjadi sampai tidak adil”, papar Abraham.

    “Dengan demikian, lanjut Abraham, apapun bentuk program yang akan dijalankan untuk mengeliminir kecenderungan budaya perilaku korup ini, bila mafia hukum dan peradilan tidak diberantas, maka semua itu tak akan ada gunanya”. Namun sampai saat ini, Abraham sama sekali tidak melihat adanya upaya tersebut.

    Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 1992, kemudian Abraham Samad melanjutkan studi Magisternya (Strata2/S2) di Universitas yang sama. Sejak tahun 1996, Abraham Samad melakoni profesi sebagai advokat. Kemudian, untuk menunjang profesi yang digelutinya, Abraham Samad medirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang diberi nama Anti Coruption Committee (ACC). LSM ini bergerak dalam kegiatan pemberantasan korupsi, seperti melakukan kegiatan pembongkaran kasus-kasus korupsi, khususnya di Sulawesi Selatan. Selain itu ACC memiliki tujuan mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik serta sistem pelayanan publik yang maksimal dengan sasaran pemberantasan korupsi. Abraham Samad duduk sebagai koordinator, selain ia adalah penggagas LSM tersebut.

    Kemudian Abraham Samad melanjutkan studi Doktoralnya (Strata 3/S3) di bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH Unhas), Makassar. Gelar Doktor diraihnya pada tahun 2010. Tesisnya mengambil tema tentang pemberantasan korupsi, yaitu mengupas penanganan kasus korupsi di pengadilan negeri dengan pengadilan khusus.

    Abraham Samad sebelumnya pernah mendaftar sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Komisi Yudisial. Namun, semua gagal hingga ia memutuskan untuk mengikuti seleksi calon pimpinan KPK. Seleksi capim KPK 2011 sebenarnya bukanlah hal baru bagi Abraham, karena ia sebelumnya sudah pernah mendaftar sebanyak dua kali. Pada ketiga kalinya inilah Abraham bisa melewati seleksi hingga tingkat akhir (uji kelayakan dan kepatutan oleh DPR). Abraham bersama 8 calon (sebelumnya 10 calon) diajukan oleh Pansel KPK yang diketuai oleh Menkumham Patrialis Akbar dimana Abraham menempati peringkat kelima dari seluruh calon yang diajukan. Abraham merupakan calon pertama yang menjalai uji kelayakan dan kepatutan yang dimulai pada tanggal 21 November 2011.

    Pada tanggal 3 Desember 2011 melalui voting pemilihan Ketua KPK oleh 56 orang dari unsur pimpinan dan anggota Komisi III asal sembilan fraksi DPR, Abraham mengalahkan Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu Praja. Abraham memperoleh 43 suara, Busyro Muqoddas 5 suara, Bambang Widjojanto 4 suara, Zulkarnain 4 suara, sedangkan Adnan 1 suara. Ia dan jajaran pimpinan KPK yang baru saja terpilih, resmi dilantik di Istana Negara oleh Presiden SBY pada tanggal 16 Desember 2011

    Referensi :


    http://www.kaskus.co.id/thread/50fee56b7c1243f327000005

    Biografi Abraham Samad (Ketua KPK)
    23-01-2013 02:15

    Dr. Abraham Samad, S.H., M.H Dilahirkan pada tanggal 27 November 1967, di Makassar

    Quote:Abraham Samad sekrang menjabat sebagai Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di Indonesia dengan masa jabatan 2011 sampai dengan 2015, Semasa kecil, Abraham Samad tumbuh dalam pengasuhan ibunya. Sebagai anak yang sejak kecil ditinggal ayahnya, Abraham memang menjadi sangat terikat secara emosional dengan sang ibu. Hubungan ini demikian kuat. Bahkan bagi Abraham, sosok ibunyalah yang senantiasa menjadi pilar dalam menuntut hidupnya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Abraham Samad kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nasional, Makassar, tahun 1980. Disekolah ini, Abraham semakin tumbuh dalam pribadi yang sangat kritis. Sikap kritisnya ini kemudian tercermin dari sifatnya yang sangat tidak nyaman terhadap proses ketidakadilan yang dijumpainya. Inilah saat-saat di mana Abraham mulai membentuk wataknya yang tidak mengenal kompromi terhadap apa yang dianggapnya sebagai penyimpangan.

    Pribadi ini kemudian berlanjut dan memperoleh ruang pertumbuhannya ketika ia memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Cendrawasih, Makassar, tahun 1983. Saat itu Abraham terbilang populer diantara kawan-kawannya. Jiwanya yang kritis dan memberontak ini sering meledak dalam dirinya, membuat Abraham seringkali terlibat perkelahian antara sesama siswa (tawuran), hanya karena keinginan membela kawan-kawannya. Sikap kesetiakawanan ini menjadikan Abraham dijadikan tempat mengadu kawan-kawannya yang sedang terlibat masalah. Setelah menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1987, Abraham kemudian melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Pilihannya saat itu cuma satu, Fakultas Hukum sebagaimana yang memang menjadi keinginannya sejak kecil. Abraham pun mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin dan diterima di sana. Memasuki dunia kampus, bagi Abraham seperti menemukan tempatnya untuk mengaktualisasikan diri.

    Abraham Samad sedikit goyah dalam penentuan karir profesi yang akan digelutinya kelak. Pada satu sisi, ia sangat berkeinginan untuk menekuni profesi advokat, karena pada dunia inilah ia bisa melakukan pengabdian untuk melakukan pembelaan terhadap orang-orang yang hak-haknya terlanggarkan serta dirugikan sesuai dengan pangilan hatinya. Namun di sisi lain, ibunya lebih mengharapkan agar Abraham untuk menjadi seorang Birokrat. Namun sebelum benar-benar terjun pada profesi advokat, Abraham memulainya dengan magang terlebih dahulu. Agaknya, ada hal-hal tertentu yang selalu saja menggelisahkan hati Abraham sejak pertama kali menjejakkan kakinya dalam belantara penegakan hukum di Indonesia. Kegeliasahan tersebut semakin lama semakin membesar ketika ia semakin memahami bahwa sistem hukum Indonesia belum berjalan sebagaimana mestinya.

    Ada suatu kasus yang ditangani oleh Abraham Samad yaitu kasus bom Makassar beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, Abraham terlihat semakin aktif dalam melakukan pembelaan terhadap korban perlakuan tidak adil dengan isu teroris yang saat itu sangat sensitif dan cenderung dihindari oleh para advokat lain. Sebagai seorang praktisi hukum sekaligus tokoh pejuang anti korupsi, Abraham sangat prihatin terhadap fenomena budaya korupsi yang merajalela di negeri ini. Dalam pandangannya, dunia hukun dan peradilan di Indonesia sudah sangat terkontaminasi oleh perilaku korupsi ini.

    “Para penegak hukum, termasuk para advokat saat ini telah menjadi bagian dari mata rantai korupsi itu. Inilah yang menjadikan sistem peradilan kita mengalami proses pengeroposan, dimana budaya korupsi ini secara langsung menyebabkan perlakuan terhadap rakyat kecil menjadi sampai tidak adil”, papar Abraham.

    “Dengan demikian, lanjut Abraham, apapun bentuk program yang akan dijalankan untuk mengeliminir kecenderungan budaya perilaku korup ini, bila mafia hukum dan peradilan tidak diberantas, maka semua itu tak akan ada gunanya”. Namun sampai saat ini, Abraham sama sekali tidak melihat adanya upaya tersebut.

    Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 1992, kemudian Abraham Samad melanjutkan studi Magisternya (Strata2/S2) di Universitas yang sama. Sejak tahun 1996, Abraham Samad melakoni profesi sebagai advokat. Kemudian, untuk menunjang profesi yang digelutinya, Abraham Samad medirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang diberi nama Anti Coruption Committee (ACC). LSM ini bergerak dalam kegiatan pemberantasan korupsi, seperti melakukan kegiatan pembongkaran kasus-kasus korupsi, khususnya di Sulawesi Selatan. Selain itu ACC memiliki tujuan mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik serta sistem pelayanan publik yang maksimal dengan sasaran pemberantasan korupsi. Abraham Samad duduk sebagai koordinator, selain ia adalah penggagas LSM tersebut.

    Kemudian Abraham Samad melanjutkan studi Doktoralnya (Strata 3/S3) di bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH Unhas), Makassar. Gelar Doktor diraihnya pada tahun 2010. Tesisnya mengambil tema tentang pemberantasan korupsi, yaitu mengupas penanganan kasus korupsi di pengadilan negeri dengan pengadilan khusus.

    Abraham Samad sebelumnya pernah mendaftar sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Komisi Yudisial. Namun, semua gagal hingga ia memutuskan untuk mengikuti seleksi calon pimpinan KPK. Seleksi capim KPK 2011 sebenarnya bukanlah hal baru bagi Abraham, karena ia sebelumnya sudah pernah mendaftar sebanyak dua kali. Pada ketiga kalinya inilah Abraham bisa melewati seleksi hingga tingkat akhir (uji kelayakan dan kepatutan oleh DPR). Abraham bersama 8 calon (sebelumnya 10 calon) diajukan oleh Pansel KPK yang diketuai oleh Menkumham Patrialis Akbar dimana Abraham menempati peringkat kelima dari seluruh calon yang diajukan. Abraham merupakan calon pertama yang menjalai uji kelayakan dan kepatutan yang dimulai pada tanggal 21 November 2011.

    Pada tanggal 3 Desember 2011 melalui voting pemilihan Ketua KPK oleh 56 orang dari unsur pimpinan dan anggota Komisi III asal sembilan fraksi DPR, Abraham mengalahkan Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu Praja. Abraham memperoleh 43 suara, Busyro Muqoddas 5 suara, Bambang Widjojanto 4 suara, Zulkarnain 4 suara, sedangkan Adnan 1 suara. Ia dan jajaran pimpinan KPK yang baru saja terpilih, resmi dilantik di Istana Negara oleh Presiden SBY pada tanggal 16 Desember 2011

    http://kolom-biografi.blogspot.com/2013/01/biografi-abraham-samad-ketua-kpk.html

    http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham_Samad

    http://makassaronline.blogspot.com/2011/12/profil-abraham-samad-ketua-kpk-yang.html

    http://www.kpk.go.id/modules/commissioners/index.php


    http://bebekbeli.blogspot.com/2013/02/biografi-abraham-samad-ketua-kpk.html

    Biografi Abraham Samad (Ketua KPK)
    hosnan ajaa, Tuesday, February 5, 2013, 2:56 AM

    Dr. Abraham Samad, S.H., M.H Dilahirkan pada tanggal 27 November 1967, di Makassar

    Abraham Samad sekrang menjabat sebagai Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) di Indonesia dengan masa jabatan 2011 sampai dengan 2015, Semasa kecil, Abraham Samad tumbuh dalam pengasuhan ibunya. Sebagai anak yang sejak kecil ditinggal ayahnya, Abraham memang menjadi sangat terikat secara emosional dengan sang ibu. Hubungan ini demikian kuat. Bahkan bagi Abraham, sosok ibunyalah yang senantiasa menjadi pilar dalam menuntut hidupnya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Abraham Samad kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nasional, Makassar, tahun 1980. Disekolah ini, Abraham semakin tumbuh dalam pribadi yang sangat kritis. Sikap kritisnya ini kemudian tercermin dari sifatnya yang sangat tidak nyaman terhadap proses ketidakadilan yang dijumpainya. Inilah saat-saat di mana Abraham mulai membentuk wataknya yang tidak mengenal kompromi terhadap apa yang dianggapnya sebagai penyimpangan.

    Pribadi ini kemudian berlanjut dan memperoleh ruang pertumbuhannya ketika ia memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA) Katolik Cendrawasih, Makassar, tahun 1983. Saat itu Abraham terbilang populer diantara kawan-kawannya. Jiwanya yang kritis dan memberontak ini sering meledak dalam dirinya, membuat Abraham seringkali terlibat perkelahian antara sesama siswa (tawuran), hanya karena keinginan membela kawan-kawannya. Sikap kesetiakawanan ini menjadikan Abraham dijadikan tempat mengadu kawan-kawannya yang sedang terlibat masalah. Setelah menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1987, Abraham kemudian melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Pilihannya saat itu cuma satu, Fakultas Hukum sebagaimana yang memang menjadi keinginannya sejak kecil. Abraham pun mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin dan diterima di sana. Memasuki dunia kampus, bagi Abraham seperti menemukan tempatnya untuk mengaktualisasikan diri.

    Abraham Samad sedikit goyah dalam penentuan karir profesi yang akan digelutinya kelak. Pada satu sisi, ia sangat berkeinginan untuk menekuni profesi advokat, karena pada dunia inilah ia bisa melakukan pengabdian untuk melakukan pembelaan terhadap orang-orang yang hak-haknya terlanggarkan serta dirugikan sesuai dengan pangilan hatinya. Namun di sisi lain, ibunya lebih mengharapkan agar Abraham untuk menjadi seorang Birokrat. Namun sebelum benar-benar terjun pada profesi advokat, Abraham memulainya dengan magang terlebih dahulu. Agaknya, ada hal-hal tertentu yang selalu saja menggelisahkan hati Abraham sejak pertama kali menjejakkan kakinya dalam belantara penegakan hukum di Indonesia. Kegeliasahan tersebut semakin lama semakin membesar ketika ia semakin memahami bahwa sistem hukum Indonesia belum berjalan sebagaimana mestinya.

    Ada suatu kasus yang ditangani oleh Abraham Samad yaitu kasus bom Makassar beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, Abraham terlihat semakin aktif dalam melakukan pembelaan terhadap korban perlakuan tidak adil dengan isu teroris yang saat itu sangat sensitif dan cenderung dihindari oleh para advokat lain. Sebagai seorang praktisi hukum sekaligus tokoh pejuang anti korupsi, Abraham sangat prihatin terhadap fenomena budaya korupsi yang merajalela di negeri ini. Dalam pandangannya, dunia hukun dan peradilan di Indonesia sudah sangat terkontaminasi oleh perilaku korupsi ini.

    “Para penegak hukum, termasuk para advokat saat ini telah menjadi bagian dari mata rantai korupsi itu. Inilah yang menjadikan sistem peradilan kita mengalami proses pengeroposan, dimana budaya korupsi ini secara langsung menyebabkan perlakuan terhadap rakyat kecil menjadi sampai tidak adil”, papar Abraham.

    “Dengan demikian, lanjut Abraham, apapun bentuk program yang akan dijalankan untuk mengeliminir kecenderungan budaya perilaku korup ini, bila mafia hukum dan peradilan tidak diberantas, maka semua itu tak akan ada gunanya”. Namun sampai saat ini, Abraham sama sekali tidak melihat adanya upaya tersebut.

    Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 1992, kemudian Abraham Samad melanjutkan studi Magisternya (Strata2/S2) di Universitas yang sama. Sejak tahun 1996, Abraham Samad melakoni profesi sebagai advokat. Kemudian, untuk menunjang profesi yang digelutinya, Abraham Samad medirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang diberi nama Anti Coruption Committee (ACC). LSM ini bergerak dalam kegiatan pemberantasan korupsi, seperti melakukan kegiatan pembongkaran kasus-kasus korupsi, khususnya di Sulawesi Selatan. Selain itu ACC memiliki tujuan mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik serta sistem pelayanan publik yang maksimal dengan sasaran pemberantasan korupsi. Abraham Samad duduk sebagai koordinator, selain ia adalah penggagas LSM tersebut.

    Kemudian Abraham Samad melanjutkan studi Doktoralnya (Strata 3/S3) di bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH Unhas), Makassar. Gelar Doktor diraihnya pada tahun 2010. Tesisnya mengambil tema tentang pemberantasan korupsi, yaitu mengupas penanganan kasus korupsi di pengadilan negeri dengan pengadilan khusus.

    Abraham Samad sebelumnya pernah mendaftar sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Komisi Yudisial. Namun, semua gagal hingga ia memutuskan untuk mengikuti seleksi calon pimpinan KPK. Seleksi capim KPK 2011 sebenarnya bukanlah hal baru bagi Abraham, karena ia sebelumnya sudah pernah mendaftar sebanyak dua kali. Pada ketiga kalinya inilah Abraham bisa melewati seleksi hingga tingkat akhir (uji kelayakan dan kepatutan oleh DPR). Abraham bersama 8 calon (sebelumnya 10 calon) diajukan oleh Pansel KPK yang diketuai oleh Menkumham Patrialis Akbar dimana Abraham menempati peringkat kelima dari seluruh calon yang diajukan. Abraham merupakan calon pertama yang menjalai uji kelayakan dan kepatutan yang dimulai pada tanggal 21 November 2011.

    Pada tanggal 3 Desember 2011 melalui voting pemilihan Ketua KPK oleh 56 orang dari unsur pimpinan dan anggota Komisi III asal sembilan fraksi DPR, Abraham mengalahkan Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu Praja. Abraham memperoleh 43 suara, Busyro Muqoddas 5 suara, Bambang Widjojanto 4 suara, Zulkarnain 4 suara, sedangkan Adnan 1 suara. Ia dan jajaran pimpinan KPK yang baru saja terpilih, resmi dilantik di Istana Negara oleh Presiden SBY pada tanggal 16 Desember 2011

    sumber | baruuniks.blogspot.com |

    http://www.kaskus.co.id/thread/50fee56b7c1243f327000005


    http://jakarta.law.ugm.ac.id/?p=2227

    http://www.ugm.ac.id/id/berita/8170-abraham.samad:.kpk.bukan.pemadam.kebakaran

    Abraham Samad: KPK Bukan Pemadam Kebakaran
    Kamis, 05 September 2013 – Ika

    Abraham Samad: KPK Bukan Pemadam Kebakaran

    Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menyebutkan bahwa kebanyakan pejabat negara, penentu kebijakan, dan aparat penegak hukum melakukan tindak korupsi karena dorongan sifat tamak dan serakah. Mereka masih saja rakus mengambil barang negara yang seharusnya didistribusikan untuk masyarakat walaupun telah mendapatkan berbagai fasilitas dan gaji dari negara yang cukup besar.

    “Pejabat negara seharusnya tidak perlu korupsi karena pendapatanya sudah luar biasa besar,” katanya, Kamis (5/9) saat mengisi kuliah perdana mahasiswa program pascasarjana UGM. Tahun ajaran baru ini UGM menerima 4.811 mahasiswa program pascasarjana.

    Ia mencontohkan mantan Ketua SKK Migas, Rudi Rubiandini setiap bulannya menerima gaji sebesar Rp. 220 juta saat menjabat sebagai Ketua SKK Migas. Ditambah lagi Rp. 75 juta pendapatan sebagai komisaris Bank Mandiri.
    “Pendapatan Rp. 300 juta gak akan habis dalam 1 bulan. Jadi kalau masih korupsi ini namanya serakah luar biasa. Korupsi karena sifat tamak dan rakus,” tegasnya.

    Menilik hal tersebut, Abraham Samad mengungkapkan bahwa saat ini KPK tengah fokus dalam upaya memberantas korupsi dalam kategori besar yaitu yang melibatkan penyelenggara negara, penentu regulasi, dan aparat penegak hukum sebagai aktor korupsi dan juga korupsi dalam jumlah besar.

    Kendati begitu, dalam penanganan kasus korupsi ini KPK masih kekurangan tenaga. Pasalnya saat ini KPK hanya memiliki sebanyak 700 pegawai dan 60 penyidik. Sementara setiap harinya setidaknya masuk 30 laporan kasus dan yang lolos verifikasi 10 kasus.

    “Dengan jumlah penyidik yang sedikit ini tidak mungkin bisa menyelesaikan semua kasus di seluruh Indonesia. Untuk itu harus ada metode tertentu agar semua kasus dapat terselesaikan dan KPK konsen mengurus kasus korupsi yang terjadi di sektorsectorntu yang menyangkut hajat hidup orang banyak yakni ketahanan pangan plus, ketahanan energy dan lingkungan, bidang infrastruktur, dan penerimaan pajak, bea cukai, serta PNBP ,” urainya.

    Selain fokus menangani korupsi kategori besar, KPK juga konsen memberantas korupsi melalui dua pendekatan yaitu pencegahan dan pendekatan represif yang saling diintegrasikan.

    “Keterbatasan selama ini pemberantasan korupsi hanya dengan pendekatan represif. Kalau hanya dengan penindakan semata maka dalam 1-3 tahun mendatang akan muncul lagi, tetapi jika disertai dengan pencegahan makan dalam 1-3 tahun korupsi akan hilang karena ada perbaikan sistem yang menghasilkan mesin-mesin korupsi,” papar Abraham Samad.

    Pada kesempatan itu, Abraham Samad tak lupa mengajak seluruh elemen masyarakat termasuk sivitas akademika UGM untuk bersama-sama melawan kejahatan korupsi. “KPK tak bisa terus menerus jadi pemadam kebakaran yang setiap ada kejadian selalu semprotkan air untuk padamkan api. Akar permaslahan korupsi harus diperbaiki secara menyeluruh sehingga 2-3 tahun kedepan tidak terjadi lagi dan itu membutuhkan kerjasama semua pihak, “tandasnya.

    Seperti diketahui tingkat tindak korupsi di Indonesia terus mengalamai kenaikan selama tiga tahun terakhir. Tahun 2010 indeks persepsi korupsi (CPI) Indonesia 2,8 naik menjadi 3,0 pada 2011. Selanjutnya tahun 2012 CPI Indonesia meningkat menjadi 3,2.

    Sementara sebelumnya, Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., dalam sambutannya mengatakan korupsi merupakan persoalan serius yang terus menggerogoti bangsa. Yang terjadi justru penggunaan anggaran dirancang untuk dirampok.

    Oleh sebab itu UGM berkomitmen untuk ikut bersama-sama KPK teguh dalam melawan danmencegah korupsi dan menjadikan Indonesia bangsa yang kuat di masa depan. “Ini serius dan KPK butuh teman. UGM siap jadi teman KPK dalam melawan kejahatan korupsi,” ucap Rektor.(Humas UGM/Ika)


    http://www.voaindonesia.com/content/samad-kpk-tak-bisa-diintervensi-siapapun/1807473.html

    Abraham Samad: KPK Tak Bisa Diintervensi Siapapun
    Andylala Waluyo, 10.12.2013

    Di hari anti korupsi sedunia Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad menegaskan, KPK tidak bisa diintervensi oleh kekuatan manapun dalam memberantas korupsi.

    Ketua KPK Abraham Samad menegaskan, lembaganya tidak bisa diintervensi oleh siapapun dalam memberantas korupsi (foto: dok).

    JAKARTA – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad di Jakarta Selasa (10/12) menegaskan, lembaga KPK yang dipimpinnya tidak bisa diintervensi oleh kekuatan manapun dalam memberantas korupsi. Sampai hari ini menurut Samad, KPK masih merupakan lembaga yang dapat dipercaya integritasnya dalam memberantas korupsi di Indonesia.

    Samad mengatakan, “KPK tidak akan terpengaruh dan tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun juga. KPK juga tidak bisa dipaksa-paksa. Kenapa si A ditangkap, si B tidak. Kenapa dia belum dijadikan tersangka. Kenapa rumah saya digeledah dan rumah dia tidak dan sebagainya. Melalui hari anti korupsi kami sampaikan bahwa segala sesuatu ada prosedur dan aturan hukumnya. Kalau memang ada bukti seseorang melakukan tindak pidana korupsi, tentunya kami akan proses sesuai dengan peraturan yang berlaku tanpa pandang bulu. Karena kita semua sama kedudukannya di mata hukum. Tidak peduli apa jabatannya, keluarganya siapa dan sebagainya.”

    Samad meyakinkan bahwa tidak ada latar belakang dendam dari KPK dalam memutus seseorang menjadi tersangka. KPK tegasnya, dalam memutus perkara, semata-mata untuk menegakan hukum dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari korupsi yang sekian lama membelenggu.

    Samad juga memastikan independensi KPK dalam menangani sebuah perkara, telah menjadi rujukan lembaga-lembaga anti korupsi di beberapa negara. Bahkan tambah Samad, KPK di tahun 2013 juga meraih penghargaan Ramon Magsaysay Award dari Filipina terkait prestasi KPK di bidang penegakan hukum.

    “Ada kabar menggembirakan dari Panama, dalam konferensi Konvensi PBB untuk pemberantasan korupsi (United Nations Convention Against Corruption /UNCAC) November lalu di Panama, ‘Jakarta Statement’ yang memuat prinsip-prinsip utama bagi lembaga anti korupsi untuk menjaga independensi dan integritas dalam memberantas korupsi, dijadikan rujukan penguatan lembaga-lembaga anti korupsi di dunia. Di tahun ini pula Indonesia juga menerima penghargaan bergengsi dari dunia internasional yaitu Ramon Magsaysay Award. Diberikan kepada KPK karena dianggap telah berhasil menyebarluaskan nilai-nilai integritas dan mengkampanyekan gerakan anti korupsi di Indonesia,” papar Samad.

    Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam peringatan hari anti korupsi sedunia di Istana Negara Jakarta Senin (9/12) mengingatkan KPK agar mengedepankan pencegahan korupsi, bukan malah menjebak.

    “Sejumlah pejabat negara dan pejabat pemerintahan termasuk yang ada di daerah sebenarnya tidak punya niat untuk melakukan korupsi, tetapi mereka melakukan kesalahan administratif. Ini tentunya mereka justru harus diselamatkan, dicegah jangan sampai dia keliru sehingga mereka akhirnya berurusan dengan penegak hukum. Oleh karena itulah tugas dan kewajiban pencegahan korupsi menjadi sangat penting. Falsafah kita mencegah, bukan menjebak. Falsafah kita mengamankan asset negara, bukan setelah hilang baru kita cari. Dari mana-mana mencarinya tentu tidak selalu mudah,” ujar Presiden Yudhoyono.

    Presiden juga mengaku mendapat banyak laporan dari pejabat di daerah yang takut mengeluarkan keputusan atas proyek di daerah karena takut dianggap korupsi.

    Yudhoyono menambahkan, “Situasi yang kadang-kadang membuat pejabat di daerah dan aparat birokrasi itu mengalami kegamangan untuk melaksanakan tugas-tugasnya karena takut disangka korupsi. Bayangkan kalau provinsi dan kabupaten tidak bisa bekerja. Bayangkan ada lembaga negara yang tidak bisa bekerja. Bayangkan juga BUMN yang tidak bisa bekerja, karena cara-cara pemeriksaan sedemikian rupa sehingga membikin kemandegan dari organisasi itu.”

    Sementara, peneliti Divisi Investigasi Indonesia Corruption Watch/ICW Tama Satrya Langkun kepada VoA mengaku heran dengan pernyataan Presiden yang di satu sisi menghendaki ada pemberantasan korupsi, tapi disisi lain menginstruksikan kepada KPK agar saat memeriksa pejabat yang disuga korup agar tidak mengganggu kerja-kerja dari pejabat yang bersangkutan.

    Ia menjelaskan, “Di satu sisi pejabat diminta setransparan mungkin untuk menghindari praktek korupsi, tapi di sisi lain KPK justru malah diminta untuk mempertimbangkan sejumlah panggilan-panggilan pemeriksaan terhadap pejabat negara. Nah ini kan justru ada sebuah privilege terhadap pihak-pihak tertentu terutama orang-orang di pemerintahan. Terkait dengan penanganan tindak pidana korupsi. Harusnya kan mereka dalam posisi yang sama.”

    Transparency International (TI) beberapa waktu lalu meluncurkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang mengukur tingkat korupsi suatu negara pada tahun 2013. Berdasarkan hasil survei terhadap 177 negara, Indonesia mendapatkan skor IPK yang sama dengan tahun 2012, yaitu 32.

    Dalam memperoleh skor IPK, lembaga TI melakukan penggabungan sumber data yang diperoleh dari 13 lembaga internasional yang independen dan kredibel. IPK memiliki rentang skor antara 0-100. Semakin tinggi skor IPK sebuah negara, semakin bersih tingkat korupsi di negara tersebut. Secara global, Indonesia masuk dalam 70 persen negara-negara yang memiliki skor IPK di bawah 50.

    Sementara di kawasan Asia Pasifik, Indonesia masuk dalam 63 persen negara-negara yang memiliki skor IPK di bawah 50. Meski memiliki skor yang sama dengan tahun lalu, Indonesia naik empat peringkat di antara negara-negara lain dari 118 menjadi 114 pada tahun 2013 ini.


     
  • Virtual Chitchatting 10:43 AM on 2014/04/22 Permalink  

    Patrialis Akbar

    Dr. H. Patrialis Akbar, S.H., M.H.
    Tempat / Tanggal Lahir : Padang, 31-10-1958
    Agama : Islam
    Jabatan : Hakim Konstitusi RI
    Masa Jabatan Pada tanggal 13 Agustus 2013 disumpah menggantikan Achmad Sodiki

    Nama Istri/Suami: Sufriyeni
    Jumlah Anak: 5 (lima) Orang
    Alamat Rumah: 1 Rumah Jabatan Anggota DPR RI Blok C – I No. 197 Kalibata Jakarta 12750
    2 Jl. Cakra Wijaya V Blok P No.3 Cipinang Muara,Jatinegara, Jakarta Timur
    Telpon,Fax Rumah: 7988 965, (0751) 71413
    Pendidikan :
    1971 Sekolah Dasar Muhammadiyah Padang;
    1974 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, SMPN II, Padang;
    1975 Sekolah 4 Tahun Pendidikan Guru Agama Negeri, Padang;
    1977 Sekolah 2 Tahun Pendidikan Guru Agama Negeri, Padang;
    1977 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, STM Negeri II, Padang;
    1983 Strata Satu dari FH Universitas Muhammadiyah, Jakarta;
    2010 S2 Program Magister Hukum Universitas Gajah Mada;
    2012 S3, Doctor (Hukum) Universitas Pajajaran, Bandung.

    Karir :
    1989 – 1992 Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta
    1989 – 1999 Pengacara dan Penasehat Hukum
    1999 – 2004 – Wakil Ketua Fraksi Refomasi DPR RI,

    • Anggota Panitia Ad Hoc I BP MPR RI,.
    • Anggota Komisi II DPR RI,
    • Kuasa Hukum DPR RI.

    2004 – 2009 – Ketua Fraksi PAN MPR RI

    • Pimpinan Sub Tim Kerja I MPR RI
    • Anggota Komisi III DPR RI
    • Kuasa Hukum DPR RI
    • Juri Cerdas Cermat UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 tingkat SLTA se Indonesia.

    Okt 2009 – Okt 2011 Menkumham RI KIB II;
    Okr 2009 – Okt 2011 Anggota Kompolnas
    Des 2011 – Juli 2013 Komisaris Utama PT. Bukit Asam Tbk.
    13 Agustus 2013 – Sekarang Hakim Mahkamah Konstitusi

    Organisasi : Mahkamah Konstitusi RI

    DAERAH PEMILIHAN, PEROLEHAN SUARA & JUMLAH KURSI DI DP
    Asal Daerah Pemilihan(DP): SUMBAR I
    Jumlah Kursi Per DP : 8
    Bilangan Pembagi Pemilihan: 142.752

    PEROLEHAN SUARA
    No. Urut Calon: 1

    Perolehan Suara: 43.590
    Perolehan Suara Terbesar: 43.590
    No Urut Calon Terbesar: 1


     
  • Virtual Chitchatting 10:42 AM on 2014/04/22 Permalink  

    ketika salah satu dajjal Dirjen Pajak harus nginep di hotel prodeo di usia tua. ratapan orang tua: duh gusti lanang, nasib panjenengan


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/22/063572280/Harta-Hadi-Poernomo-dari-Bekasi-hingga-California

    Harta Hadi Poernomo, dari Bekasi hingga California
    Selasa, 22 April 2014 | 09:33 WIB

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Hadi Poernomo saat acara pelepasan masa baktinya di kantor BPK, Jakarta (21/4). Hadi Poernamo yang baru pensiun sebagai ketua BPK belum beri keterangan apapun terkait penetapan tersangka pada dirinya. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Purnomo sebagai tersangka kasus pajak PT Bank Central Asia. Saat menjabat Direktur Jenderal Pajak Hadi pada 2002-2004, Hadi diduga mengubah keputusan permohonan pajak BCA sehingga merugikan negara Rp 375 miliar. (Baca: Tersandung Skandal Pajak, Ini Reaksi Bos BCA)

    Investigasi majalah Tempo menemukan sejumlah aset Hadi yang tersebar dari Sawangan, Bogor hingga ke Los Angeles, Amerika Serikat. Berdasarkan laporan kekayaan yang disetorkan kepada KPK, total kekayaan Hadi mencapai Rp 37,9 miliar. Harta ini sebagian besar berasal dari hibah orang tua dan mertuanya. (Baca: KPK Tetapkan Hadi Poernomo sebagai Tersangka)

    Dalam daftar pelaporan harta kekayaan penyelenggara negara yang diserahkan ke KPK pada 2010, Hadi juga memiliki harta senilai Rp 38,8 miliar dan banyak tanah di sejumlah daerah, termasuk tanah dan apartemen di Los Angeles, California, Amerika Serikat, seluas 60 x 160 meter persegi.

    Hampir semua aset tersebut diatasnamakan Melita Setyawati, istrinya. Berikut sebagian besar harta Hadi yang ditemukan Tim Investigasi Tempo.
    1. Raya Kembangan RT 08/02 No. 46, Kembangan, Jakarta Barat. Luas tanah: 2.900 meter persegi. AJB 25 Juni 1985 atas nama Melita Setyawati. Nilai jual obyek pajak (NJOP): Rp 2.925.000/meter persegi, harga pasar Rp 3-4 juta/meter persegi.

    2. Raya Kembangan RT 08/02, Kembangan, Jakarta Barat. Luas tanah: 1.000 meter persegi. NJOP: Rp 2.925.000/meter persegi, harga pasar Rp 3-4 juta/meter persegi. AJB 2 Juli 1993 atas nama Melita Setyawati.

    3. Kencana Molek I Blok M-12A No. 29, Kembangan, Jakarta Barat. Luas tanah/bangunan: 135/160 meter persegi. NJOP: Rp 5.095.000. AJB 22 Agustus 1996 atas nama Melita Setyawati.

    4. Kembangan Raya 10 RT 07/01, Kembangan, Jakarta Barat. Luas tanah/bangunan: 429/326 meter persegi. NJOP: Rp 516.000/meter persegi. AJB 2 Agustus 2004 atas nama Melita Setyawati.

    5. Anggrek Garuda Blok H/2 RT 01/05, Kemanggisan, Jakarta Barat. Luas tanah/bangunan: 233/100 meter persegi. NJOP: Rp 4.155.000/meter persegi. Akta hibah 15 November 1985 untuk Hadi Poernomo dari R. Abdul Hadi Noto Sentoso, yang membeli 15 November 1985.

    6. Kompleks Migas 44/17A RT 01/07, Kemanggisan, Jakarta Barat. Luas tanah/bangunan: 315/200 meter persegi. NJOP: Rp 2.025.000/meter persegi. AJB tahun 1973 atas nama Melita Setyawati.

    7. Iskandarsyah I/18 RT 05/04, Melawai, Jakarta Selatan. Luas tanah/bangunan: 668/400 meter persegi dan 668/668 meter persegi. NJOP: Rp 7.455.000/meter persegi. Akta hibah 18 Januari 1985 untuk Hadi Poernomo dari R Abdul Hadi Noto Sentoso, yang membeli 21 September 1983.

    Selanjutnya Apartemen Taman Rasuna


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/14/090570589/Pensiun-Hadi-Poernomo-Minta-e-Audit-Dilanjutkan

    Pensiun, Hadi Poernomo Minta e-Audit Dilanjutkan
    Senin, 14 April 2014 | 14:51 WIB

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo. ANTARA FOTO/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo meminta penggantinya untuk melanjutkan program e-audit yang ditargetkan mulai efektif pada 2015. Hadi akan memasuki masa pensiun pada 21 April 2014.

    Dia menjelaskan program e-audit itu sangat penting sebagai langkah preventif mencegah praktek korupsi di lembaga pemerintahan. “Pesan saya e-audit dan pusat data diperkuat sehingga bisa mudah untuk mengerjakannya,” kata Hadi, seusai melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara di Kantor BPK, Jakarta, Senin, 14 April 2014.

    Program e-audit merupakan janji Hadi Poernomo saat terpilih menjadi Ketua BPK pada 2009 lalu. Hadi mengatakan nota kesepahaman dengan pemerintah daerah sendiri ditargetkan rampung pada pekan ini. Dari 34 pemerintah provinsi di Indonesia, tinggal 11 yang belum menandatangani kesepakatan e-audit. “Kamis mudah-mudahan selesai,” katanya. (Baca juga: BPK: Aplikasi e-Audit Efektif Mulai 2015)

    Saat ini bursa calon pengganti Hadi mulai dibuka. Ketua BPK akan dipilih secara langsung oleh para anggota melalui sidang badan. Jumlah anggota BPK saat ini adalah delapan orang. Dua anggota Badan Pemeriksa, yakni Rizal Djalil dan Sapto Amal Damandari, disebut bakal bersaing untuk menduduki kursi nomor satu auditor negara tersebut.

    Sumber Tempo mengatakan Sapto dan Rizal memiliki posisi dukungan yang seimbang. Sapto dan Rizal sama-sama didukung oleh tiga anggota BPK lainnya.

    ANGGA SUKMA WIJAYA


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/16/087571098/60-Persen-Kasus-di-KPK-Berdasarkan-Audit-BPK

    60 Persen Kasus di KPK Berdasarkan Audit BPK
    Rabu, 16 April 2014 | 11:29 WIB

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo bersama Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad dalam jumpa pers penyerahkan laporan hasil perhitungan kerugian negara atas kasus dugaan korupsi pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) Bank Century di gedung KPK, Jakarta (23/12). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta – Badan Pemeriksa Negara Polandia atau Najwyzsza Izba Kontroli (NIK) hari ini menyerahkan Peer Review atas Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. Ini merupakan audit ketiga terhadap kinerja BPK. Sebelumnya pemeriksaan pertama tahun 2004 oleh Badan Pemeriksa Negara Selandia Baru atau Office Auditor General New Zealand (OAG NZ) dan pada 2009 oleh Badan Pemeriksa Negara Belanda atau Algemene Rekenkamer (ARK) Belanda.

    “Sebanyak 60 persen proses pengawasan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi adalah hasil dari usulan BPK atas laporan penyerahan pemeriksaan,” kata Krzysztof Kwiatkowsko, President of NIK Polandia, ketika ditemui di kantor BPK, Jakarta, Rabu, 16 April 2014. Ia juga menilai baik pengawasan keuangan BPK yang ditindaklanjuti kejaksaan.

    Krzysztof menyimpulkan sumber daya manusia BPK sangat bagus, muda, bersemangat, dan berkinerja baik. Terutama BPK mempunyai dasar hukum kuat yang menentukan kualitas tinggi atas hasil pemeriksaan BPK.

    NIK Polandia juga memuji proses pemeriksaan BPK yang menerapkan prosedur sangat teliti. “Tidak ada institusi pengawas bagus yang tidak mempunyai sistem teknologi informasi yang baik. Dan di Indonesia kami temukan sistem TI yang bagus, dan BPK mempunyai tim yang sangat berpotensi dan visi perkembangan yang cepat,” kata Krzystof.

    Hasil pemeriksaan NIK Polandia, 60 persen kasus yang dilakukan oleh KPK atas usul BPK terdapat juga kasus-kasus terkenal yang diungkapkan melalui pengaduan publik karena disampaikan melalui media. Ia mengatakan NIK Polandia mendorong BPK untuk menerbitkan dan menyampaikan tidak hanya versi singkat atas laporan hasil audit, tapi juga versi lengkap dari laporan melalui Internet.

    MAYA NAWANGWULAN


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/21/063572154/KPK-Tetapkan-Hadi-Poernomo-sebagai-Tersangka

    KPK Tetapkan Hadi Poernomo sebagai Tersangka
    Senin, 21 April 2014 | 18:28 WIB

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Hadi Purnomo. TEMPO/Subekti
    TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Purnomo sebagai tersangka. Hadi ditetapkan sebagai tersangka terkait dengan jabatannya sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan periode 2002-2004. Hadi diduga mengubah keputusan sehingga merugikan negara Rp 375 miliar.

    “KPK temukan bukti-bukti akurat. Dan, setelah melakukan gelar perkara, menetapkan saudara HP sebagai tersangka,” kata Ketua KPK Abraham Samad di gedung kantornya, Senin, 21 April 2014.

    Hadi disangkakan dengan Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-Undang 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Perbuatan melawan hukum yang dilakukan saudara HP yaitu penyalahgunaan wewenang dalam menerima seluruh permohonan keberatan BCA,” kata Abraham.

    Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengatakan BCA keberatan dengan pajak atas transaksi non-performance loan sebesar Rp 5,7 triliun. Keberatan BCA itu terjadi tahun 1999. “Tapi, memang, dengan itu dugaan kerugian negaranya adalah Rp 375 miliar.”

    MUHAMAD RIZKI


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/21/063572161/Hadi-Poernomo-Jadi-Tersangka-di-Hari-Ulang-Tahun

    Hadi Poernomo Jadi Tersangka di Hari Ulang Tahun
    Senin, 21 April 2014 | 19:11 WIB

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Purnomo. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Nama Hadi tercantum dalam surat perintah penyidikan yang ditandatangani KPK pada 21 April 2014. Tanggal penandatanganan surat tersebut bersamaan dengan hari ulang tahun Hadi.

    Pria kelahiran Pamekasan, 21 April 1947 tersebut pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Tepat di usia 67 tahun, Hadi diberi ‘kado spesial’ berupa status tersangka oleh KPK.

    “KPK temukan bukti-bukti akurat dan setelah melakukan gelar perkara, menetapkan saudara HP sebagai tersangka,” kata Ketua KPK Abraham Samad di kantornya, Senin, 21 April 2014. “Surat penyidikan ditandatangani pada 21 April 2014.”

    Hadi ditetapkan sebagai tersangka terkait dengan jabatannya sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan periode 2002-2004. Hadi diduga mengubah keputusan sehingga PT Bank Central Asia (BCA) tak jadi menyetor Rp 375 miliar uang pajak.

    “KPK temukan bukti-bukti akurat dan setelah melakukan gelar perkara, menetapkan saudara HP sebagai tersangka,” kata Ketua KPK Abraham Samad.

    Hadi disangka dengan pasal 2 ayat 1 dan/atau pasal 3 Undang-Undang 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Perbuatan melawan hukum yang dilakukan saudara HP, yaitu penyalahgunaan wewenang dalam menerima seluruh permohonan keberatan BCA,” kata Abraham.

    Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengatakan BCA keberatan dengan pajak atas transaksi non-performance load sebesar Rp 5,7 triliun. Keberatan BCA itu terjadi tahun 1999. “Tapi memang, dengan itu dugaan kerugian negaranya adalah Rp 375 miliar.”

    MUHAMAD RIZKI


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/21/063572174/Hadi-Poernomo-Terancam-Hukuman-20-Tahun-Bui

    Hadi Poernomo Terancam Hukuman 20 Tahun Bui
    Senin, 21 April 2014 | 20:06 WIB

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo bersama Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad dalam jumpa pers penyerahkan laporan hasil perhitungan kerugian negara atas kasus dugaan korupsi pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) Bank Century di gedung KPK, Jakarta (23/12). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta – Tepat pada hari ulang tahun ke-67, mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Poernomo ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Saat menjabat Direktur Jenderal pada 2004, ia dituding menyalahgunakan wewenang dengan menerima keberatan pajak Bank Central Asia. “Dugaan kerugian negara akibat pajak yang seharusnya dibayarkan ke negara Rp 375 miliar,” ujar Ketua KPK Abraham Samad dalam jumpa pers di kantornya, Senin malam, 21 April 2014. (Baca juga: Hadi Poernomo Jadi Tersangka di Hari Ulang Tahun).

    KPK menjerat Hadi dengan Pasal 2 ayat 1 dan/atau Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Korupsi, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Berdasarkan pasal tersebut, Hadi yang baru saja pensiun hari ini terancam hukuman pidana maksimal penjara 20 tahun dan denda Rp 1 miliar. (Baca juga: KPK Tetapkan Hadi Poernomo sebagai Tersangka).

    Samad menjelaskan, pada 17 Juli 2003, BCA mengajukan surat keberatan pajak atas tagihan pajak 1999 kepada Direktorat Jenderal Pajak. Sebab, selepas krisis moneter, kinerja BCA terganggu akibat non-performing loan alias kredit macet sebesar Rp 5,7 triliun.

    Direktorat Pajak Penghasilan (PPh) menelaah keberatan itu nyaris setahun lamanya, dan melansir surat pada 13 Maret 2004 yang menyimpulkan permohonan BCA harus ditolak. Namun, Hadi pada 18 Juli 2004, sehari sebelum tenggat pengambilan keputusan, lewat nota dinas kepada Direktur PPh, memerintahkan kesimpulan diubah.

    “Dia meminta Direktur PPh selaku pejabat penelaah keberatan mengubah kesimpulan, yang semula menolak, jadi menerima seluruh keberatan,” tutur Samad. Karena nota dinas itu dilansir hanya sehari sebelum tenggat penelaahan, Direktur PPh tak bisa mengajukan keberatan atas putusan Hadi itu. “Perbuatan melawan hukum yang dilakukan tersangka adalah melakukan penyalahgunaan wewenang dalam menerima keberatan BCA,” kata Samad.

    Dengan adanya keputusan itu, BCA tak jadi membayar pajak Rp 375 miliar. Nilai itulah yang menjadi potensi kerugian negara. Bank-bank lain juga mengajukan keberatan serupa, tapi Ditjen Pajak telah menolaknya. “Padahal, seharusnya keputusan diambil berdasar pertimbangan teliti, tepat, cermat, dan bersifat menyeluruh,” ujar Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto.

    Menurut Bambang, penyelidikan kasus ini telah memakan waktu lama. Setidaknya telah empat kali tim satuan tugas penyelidik KPK melakukan gelar perkara. Pada ekspose Kamis pekan lalu, KPK memutuskan untuk menetapkan Hadi sebagai tersangka dan mengumumkannya hari ini. Surat perintah penyidikan pun dilansir komisi antirasuah hari ini.

    Bambang mengatakan, untuk sementara ini, KPK akan berfokus pada penyidikan terhadap Hadi. Namun, KPK tentu bakal memeriksa pihak lain yang punya keterkaitan dengan kasus tersebut. “Siapa pun dia, akan diperiksa mendalam,” ujar Samad saat menjawab pertanyaan ihwal apakah pihak BCA pun akan diperiksa dan dijadikan tersangka.

    BUNGA MANGGIASIH | MUHAMAD RIZKI


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/21/063572180/KPK-Isyaratkan-Periksa-BCA-Terkait-Kasus-Ketua-BPK

    KPK Isyaratkan Periksa BCA Terkait Kasus Ketua BPK
    Senin, 21 April 2014 | 20:55 WIB

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Purnomo di kantor redaksi Tempo, Jakarta, 9 September 2013. Pria kelahiran Pamekasan, jawa Timur ini pernah menjabat sebagai Direktur Jendral Pajak tahun 2001. TEMPO/Ratih Purnama

    TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad mengatakan lembaganya bakal langsung memeriksa pihak-pihak yang diduga terkait dengan kasus pajak PT Bank Central Asia yang menyeret mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Poernomo sebagai tersangka. Abraham juga menyiratkan lembaganya bakal memeriksa pihak dari BCA.

    “Siapa pun yang diduga terkait akan diperiksa, termasuk itu (BCA),” kata Abraham di gedung KPK, Senin, 21 April 2014. Sayangnya, Abraham tak menjawab kapan pemeriksaan akan dilakukan dan siapa yang diperiksa.

    KPK menetapkan Hadi sebagai tersangka. Hadi ditetapkan sebagai tersangka terkait dengan jabatannya sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan periode 2002-2004. Hadi diduga mengubah keputusan, sehingga PT Bank Central Asia tak jadi menyetor Rp 375 miliar uang pajak. (Baca juga: Hadi Poernomo Terancam Hukuman 20 Tahun Bui).

    “KPK temukan bukti-bukti akurat. Dan, setelah melakukan gelar perkara, menetapkan saudara HP sebagai tersangka,” kata Abraham Samad.

    Hadi disangkakan dengan Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-Undang 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) kesatu KUHP. “Perbuatan melawan hukum yang dilakukan saudara HP yaitu penyalahgunaan wewenang dalam menerima seluruh permohonan keberatan BCA,” kata Abraham.

    Pada 17 Juli 2003, BCA mengajukan surat keberatan pajak atas transaksi non-performance loan Rp 5,7 triliun tahun 1999. Surat diajukan ke Direktur PPH. “Direktur PPH mengkaji dan pada 13 Maret 2004 menyatakan menolak permohonan wajib pajak BCA,” kata Abraham.

    Pada 18 Juli 2004, sehari sebelum jatuh tempo, Hadi memberikan keputusan final dalam permohonan BCA. Hadi selaku Dirjen Pajak memerintahkan Direktur PPH untuk mengubah simpulannya sendiri, yang sebelumnya permohonan BCA ditolak menjadi “diterima seluruhnya”.

    “Dalam nota dinas Dirjen Pajak kepada Direktur PPH ditulis supaya kesimpulan “menolak” diubah. Di situlah peran Dirjen Pajak,” kata Abraham.

    Lalu, tertanggal 18 Juli 2004 itu, Hadi menerbitkan surat keputusan yang menerima seluruh keberatan BCA. Lantaran sudah mepet dengan tanggal jatuh tempo, seusai SK terbit, tak ada kesempatan lagi bagi Direktur PPH selaku pejabat penelaah pajak untuk memberikan tanggapan.

    “Seharusnya ada waktu supaya Direktur PPH menyampaikan kesimpulan yang berbeda,” kata Abraham. Hadi, menurut Abraham, mengabaikan fakta bahwa ada beberapa bank lain mengajukan keberatan yang sama. “Tapi permohonan bank lain ditolak,” katanya.

    MUHAMAD RIZKI


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/22/063572254/Nota-Dinas-Ini-yang-Menjerat-Hadi-Poernomo

    Nota Dinas Ini yang Menjerat Hadi Poernomo
    Selasa, 22 April 2014 | 07:23 WIB

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Hadi Poernomo saat menjawab pertanyaan wartawan di kantor BPK, Jakarta, (21/4). Pada 21 April 2014, Hadi Poernomo resmi pensiun sebagai Ketua BPK. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta – Bekas Direktur Jenderal Pajak Hadi Poernomo ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 21 April 2014. Ketua KPK Abraham Samad mengatakan Hadi, yang kini Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, diduga berperan dalam mengubah keputusan penolakan keberatan PT Bank Central Asia Tbk.

    Akibatnya, BCA tak jadi menyetor Rp 375 miliar uang pajak kepada negara. “Dalam nota dinas Dirjen Pajak kepada Direktur Pajak Penghasilan, ditulis supaya kesimpulan ‘menolak’ diubah. Di situlah peran Dirjen Pajak,” kata Abraham di gedung KPK, Jakarta, Senin, 21 April 2014. (Baca: Hadi Poernomo Terancam Hukuman 20 Tahun Bui).

    Dalam dokumen yang didapat Tempo, isi nota dinas bernomor ND-192/PJ/204 tertanggal 17 Juni 2004 itu menolak argumentasi pemeriksa dan Direktorat PPh dengan tiga alasan. Pertama, BCA masih memiliki aset meski sudah tidak dalam kendali wajib pajak, tetapi perusahaan akan merugi jika aset dikeluarkan dari perusahaan.

    Alasan kedua, penolakan itu melanggar Pasal 10 Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia Nomor 117/KMK.017/1999 dan Nomor 31/15/KEP/GBI tanggal 26 Maret 1999. Ketiga, substansi aset (Non-Performance Loan-NPL) dikuasai Badan Penyehatan Perbankan Nasional sehingga menjadi losses bagi perusahaan meskipun diharuskan cessie dengan nilai nihil.

    Alasan keempat, penyisihan cadangan piutang tak dapat ditagih lagi tahun lalu tidak dibukukan sebagai pendapatan lagi, maka koreksi semula agar didrop. Dengan begitu, Hadi Poernomo, melalui Surat Keputusan Nomor KEP-870/PJ.44/2004 tanggal 18 Juni 2004 menyatakan mengabulkan seluruh permohonan keberatan wajib pajak alias mengabulkan keinginan BCA. (Baca pula: Hadi Poernomo Jadi Tersangka di Hari Ulang Tahun).

    MUHAMAD RIZKI


    http://www.tempo.co/read/news/2014/04/22/063572266/Lonjakan-Kekayaan-Hadi-Poernomo

    Lonjakan Kekayaan Hadi Poernomo
    Selasa, 22 April 2014 | 08:21 WIB

    Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Hadi Poernomo saat acara pelepasan masa baktinya di kantor BPK, Jakarta (21/4). Hadi Poernamo yang baru pensiun sebagai ketua BPK belum beri keterangan apapun terkait penetapan tersangka pada dirinya. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta – Bekas Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Poernomo ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi pada 21 April 2014. Hadi diduga mengubah keputusan permohonan keberatan pajak sehingga PT Bank Central Asia tak jadi menyetor Rp 375 miliar uang pajak saat ia masih menjabat Direktur Jenderal Pajak pada 2001-2006.

    Sebagai pegawai negeri sipil, harta Hadi tergolong besar alias jumbo. Dalam daftar pelaporan harta kekayaan penyelenggara negara yang diserahkan ke KPK pada 2010, Hadi memiliki harta senilai Rp 38,8 miliar dan banyak tanah di sejumlah daerah, termasuk tanah dan apartemen di Los Angeles, California, Amerika Serikat, seluas 60 x 160 meter persegi. (Baca: KPK Tetapkan Hadi Poernomo sebagai Tersangka).

    Hadi tercatat pertama kali melaporkan hartanya pada 6 Juli 2001 ketika baru saja menjabat Direktur Jenderal Pajak. Saat itu total kekayaannya baru Rp 13.855.379.000 dan US$ 50.000. Pada 14 Juni 2006, ketika Hadi sudah tak lagi menjabat Dirjen Pajak, kekayaan Hadi melonjak menjadi Rp 26.061.814.000 dan US$ 50.000. (Baca: Kabulkan BCA, Hadi Poernomo Tolak BII dan Danamon).

    Ketika menjabat Ketua BPK, Hadi melaporkan hartanya ke KPK pada 9 Februari 2010. Harta dia kembali meroket menjadi Rp 38.800.979.805. Hadi punya tanah di Los Angeles, yang dia klaim berasal dari hibah, perolehan tahun 1986. Tanah tersebut ditaksir harganya US$ 56 ribu atau sekitar Rp 600 juta. (Baca pula: Hadi Poernomo Terancam Hukuman 20 Tahun Bui).

    MUHAMAD RIZKI


     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: