Pembelajaran Anak Seharusnya Dimulai dari Pembelajaran Keluarga

Pembelajaran Anak Seharusnya Dimulai dari Pembelajaran Keluarga

oleh Sando Sasako
Lead Consultant
Advanced Advocacy Plus

Jakarta, 21 April 2012

Konsep Anak

Batasan seorang individu tidak lagi bisa dianggap sebagai seorang anak bervariasi. Ada yang berdasarkan kelompok umur, status perkawinan, status kejahatan, atau lainnya. Beberapa konsep anak menurut hukum yang berlaku di Indonesia:

  1. UU No.4/1979 tentang Kesejahteraan Anak, anak didefinisikan sebagai seseorang yang belum berusia 21 tahun dan belum pernah kawin.
  2. Konvensi Hak-hak Anak jo Keppres No.36/1990 tentang Pengesahan Konvensi Hak Anak, anak didefinisikan sebagai setiap manusia yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku untuk anak-anak, kedewasaan telah dicapai lebih cepat.
  3. UU No.12/1995 tentang Pemasyarakatan, definisi anak dibedakan atas jenis perlakuannya, yakni anak pidana, anak negara, dan anak sipil.
    1. Anak sipil didefinisikan sebagai anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di lembaga pemasyarakatan anak paling lama sampai berumur 18 tahun.
    2. Anak negara didefinisikan sebagai anak yang berdasarkan putusan pengadilan diserahkan kepada negara untuk dididik dan ditempatkan di lembaga pemasyarakatan anak paling lama sampai berumur 18 tahun.
    3. Anak sipil didefinisikan sebagai anak yang atas permintaan orangtua atau walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk dididik di lembaga pemasyarakatan anak paling lama sampai berumur 18 tahun.
  4. UU No.3/1997 tentang Pengadilan Anak.
    1. Anak didefinisikan sebagai seseorang yang terlibat dan/atau digolongkan dalam perkara anak nakal dan telah berusia 8 tahun tetapi belum mencapai umur 18 tahun dan belum pernah kawin.
    2. Anak nakal didefinisikan sebagai anak yang melakukan tindak pidana atau anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum yang lain dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
  5. UU No.20/1999 tentang Pengesahan Konvensi ILO No.138 mengenai Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja dan dalam Konvensi itu sendiri, anak didefinisikan sebagai seseorang yang berusia kurang dari 18 tahun.
  6. UU No.39/1999 tentang Hak Asasi Manusia, anak didefinisikan sebagai setiap manusia yang berusia di bawah 18 tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.
  7. UU No.1/2000 tentang Pengesahan Konvensi ILO No.182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak dan dalam Konvensi itu sendiri, anak didefinisikan sebagai semua orang yang berusia di bawah 18 tahun.
  8. UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak, anak didefinisikan sebagai seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
  9. Keppres No.87/2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak, anak didefinisikan sebagai setiap orang yang umurnya belum mencapai 18 tahun.

Perkembangan Anak

Perkembangan anak bisa mengacu pada perubahan biologis, psikologis, dan sosial-emosional yang terjadi pada setiap insan setelah dilahirkan sampai akhir usia remaja (adolescence). Perubahan perkembangan bisa terjadi akibat proses yang dikendalikan gen dan/atau sebagai hasil adaptasi terhadap faktor-faktor lingkungan melalui poses pembelajaran (wikipedia).

Menurut Shonkoff dalam Bertrand et al (2006:8), gen memang menentukan struktur dasar pengembangan otak. Akan tetapi, justru interaksi anak dan hubungannya dengan orang tua dan pihak lain yang signifikan yang menciptakan jaringan syaraf dan membentuk arsitektur otak. Interaksi dinamis variabilitas antara genetika dan lingkungan menciptakan jalur syaraf dan potensi biologis untuk belajar dari pengalaman, termasuk didalamnya kapasitas persepsi, mengorganisir, dan berespon.

Otak mengatur orkestra perkembangan fisik, sosial, emosi, bahasa, dan kognitif. Otak mengatur kapasitas belajar, cara berprilaku, dan sistem kekebalan serta hormon yang mempengaruhi kesehatan fisik dan emosi (Mustard, 2006). Kapasitas otak untuk fungsi-fungsi tingkat lebih tinggi dari manusia, seperti kemampuan menghadiri, berinteraksi dengan lainnya, sinyal emosi dan menggunakan simbol untuk berpikir, dibangun diatas platform ini.

Secara individu, perkembangan anak terlihat dalam bentuk pertumbuhan fisik, perkembangan gerak (motorik), perkembangan (mental) sosial-emosional, perkembangan kognitif/intelektual (konsentrasi untuk belajar, mengingat, dan menalar), dan penguasaan bahasa (komunikasi dan berbicara).

Secara sosial, perkembangan anak terlihat pada bentuk interaksinya dengan orang lain. Keterlantaran anak berdampak potensil pada kecenderungan berprilaku antisosial seperti egois, agresif, tidak patuh, atau berkepribadian psikopat, psikonerosis, psikosis (skizofrenia), atau lainnya.

Pemahaman perkembangan anak memiliki arti penting bagi masyarakat khususnya ketika menyangkut berbagai aspek budaya dan pendidikan. Perkembangan anak merupakan pondasi pembangunan komunitas dan pembangunan ekonomi. Hal ini bisa terjadi ketika kapabilitas anak menjadi pondasi masyarakat yang makmur dan berkelanjutan (NSC, 2007:4).[1]

Menciptakan kondisi yang tepat bagi perkembangan anak sejak dini cenderung lebih efektif dan dengan biaya lebih sedikit daripada menyelesaikan masalah pada usia yang lebih tua. Membuat sesuatu yang benar pada saat pertama lebih efisien dan utamanya lebih efektif dari pada mencoba membetulkannya kemudian.

Masa depan masyarakat mana pun tergantung pada kemampuannya mengadopsi kesehatan dan kesejahteraan generasi berikutnya. Ketika kita berinvestasi secara bijak pada anak dan keluarga, generasi berikutnya akan melunasinya sepanjang produktivitas dan tanggung jawab kewarganegaraan.

Secara sederhana bisa dinyatakan bahwa anak-anak saat ini akan menjadi warga, pekerja, dan orang tua masa depan. Ketika kita gagal menyediakan kebutuhan anak dalam membangun pondasi yang kuat untuk kehidupan yang sehat dan produktif, kita sendiri membahayakan kemakmuran dan keamanan kita.

Seluruh aspek modal manusia dewasa, dari keahlian tenaga kerja sampai pada prilaku kooperatif dan patuh pada hukum, dibangun atas kapasitas yang dikembangkan semasa belia (childhood), tepatnya sejak lahir. Peningkatan keahlian yang lebih kompleks dibangun di atas pondasi kapabilitas yang lebih mendasar yang membentuknya.

Kematangan emosi, kompetensi sosial, kemampuan kognitif secara bersama merupakan pondasi pembangunan manusia. Stres pada masa usia dini bisa menjadi katalis pertumbuhan atau merusak secara serius. Esensi fitur dari stres beracun adalah ketiadaan hubungan yang konsisten dan mendukung anak mengatasi permasalahannya.

Perkembangan anak memiliki momentumnya tersendiri bagi sang anak pada  setiap tahapan, khususnya pada anak usia sekolah dan masuk kedalam sistem sekolah. Beberapa tahapan perkembangan anak menurut umur: orok  (0-4 minggu), bayi (4 minggu-1 tahun), balita (toddler, 1-3 tahun), prasekolah (4-6 tahun), anak usia sekolah (6-13 tahun), remaja (13-20 tahun).

2.1 ucd Factors affecting the growth and development of a child
Bagan – 2.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak
Sumber: Liz Savory, BTEC’s First Children’s Care, Learning and Development, Ch.1: Understanding Children’s Development, Business and Technology Education Council, Pearson, 2006, hal.22.

Beberapa faktor penyebab buruknya perkembangan (fisik dan psikis) anak:

  1. Kekurangan oksigen, nutrisi, dan/atau air susu ibu.
  2. Kekurangan zat dan mineral penting bagi pertumbuhan fisik seperti yodium (penyakit gondok); zat besi (penyakit anemia dan rendahnya Hb); seng
  3. Terpapar zat dan mineral beracun seperti timah, arsen, mangan, dan pestisida.
  4. Terpapar virus dan bakteri seperti HIV, diare, cacing parasit, malaria.
  5. Tingkat depresi ibu semasa kehamilan.
  6. Trauma kekerasan dan kehilangan orang tua.
  7. Kurangnya stimulasi/kesempatan belajar.

Lima unsur pertama bersifat biologis-genetis. Unsur kelima dan keenam bersifat psikologis-emosional, dan ketujuh bersifat sosial-emosional. Menurut Hurlock (1978:257), pengalaman sosial anak pada usia dini menimbulkan efek individual pada aspek kepribadian dan sosial, seperti:

  1. Prilaku sosial yang permanen, dengan pola-pola sosial, tidak-sosial, atau antisosial; menjadi pemimpin atau pengikut.
  2. Sikap sosial yang permanen, kecenderungan preferensi berinteraksi dengan orang atau benda.
  3. Kepribadian sosial.
  4. Partisipasi sosial.
  5. Penerimaan sosial.

2.2 Skema Model Penilaian Lingkungan Total dari Perkembangan Awal Anak (Total Environment Assessment Model of Early Child Development, TEAM-ECD)
Bagan – 2.2. Skema Model Penilaian Lingkungan Total dari Perkembangan Awal Anak (Total Environment Assessment Model of Early Child Development, TEAM-ECD)
Sumber: Arjumand Siddiqi, Lori G. Irwin, dan Clyde Hertzman, Early Child Development: A Powerful Equalizer, Commission on the Social Determinants of Health, WHO, Juni 2007, hal.17.

Lingkungan sosial kehidupan anak memiliki 3 sistem yang saling terkait,  yakni sistem sosial, sistem interaksi sosial, dan sistem pertukaran sosial. Dua sistem terakhir merupakan bagian dari sistem sosial yang memberlakukan sistem reward dan punishment. Sementara sekolah merupakan salah satu tempat dan upaya mengajarkan anak melakukan interaksi sosial dan pertukaran sosial dengan alam dan sesama.

Kehidupan seorang anak (manusia) berkembang melalui proses interaksi, inter-relasi, dan interdependensi secara intensif dengan anak (manusia) lain dengan budayanya tersendiri. Keseluruhan proses dimaksud, menurut teori sosiologi modern, merupakan proses pembelajaran sosial.

Keberhasilan seorang anak manusia dalam proses pembelajaran nilai-nilai sosial dan peran-peran sosialnya tergantung pada kekondusifan lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang dimaksud, menurut George G. Mead, terdiri atas lingkungan keluarga, lingkungan teman sepermainan (peer group), dan lingkungan masyarakat luas.

Teori klasik dari struktur sosial tersebut kemudian berkembang ke satu pendapat bahwa struktur sosial bisa terbentuk, berubah, dan bahkan menjadi struktur sosial baru melalui proses morfogenesis dan/atau morfostatis. Struktur sosial menjadi semacam pola kesepakatan sosial di masyarakat.

Keluarga, hukum, agama, ekonomi, agama, dan klas merupakan struktur sosial yang disepakati bersama. Termasuk didalamnya sistem-sistem yang mewadahinya, seperti sistem ekonomi, sistem hukum, sistem politik, sistem budaya, dan lainnya. Sistem sosial menjadi semacam sistem induk (parent system).

Pembelajaran Anak

Mengacu pada klasifikasi menurut profesi dan kurun waktu yang dilakukan Sharon De Leon, perkembangan anak dan pembelajaran anak merupakan hal yang sama, yakni berdasarkan pendapat para ahli berikut:

  1. Filsuf sampai tahun 1800, dimulai dari Plato, John Locke, Jean Jacques Rousseau.
  2. Pendidik di tahun 1800-an: Friedrich Froebel.
  3. Pendidik di abad ke-20: John Dewey; Rachel dan Margaret McMillan; Maria Montessori.
  4. Penggagas teori abad ke-20: Erik Erikson; Jean Piaget; Lev Vygotsky; Howard Gardner.

Sementara wikipedia membagi teori perkembangan anak menurut perspektif penelitian:

1.    Teori Sistem Ekologis, dengan dua tokohnya, Jean Piaget dan Lev Vygotsky (psikologi sejarah budaya).

2.    Teori Lampiran (attachment), dengan dua tokohnya, John Bowlby dan Mary Ainsworth (psikologi, evolusi, etologi).

3.    Teori Tahapan Psikososial dari Erik Erikson yang mensintesa teori Sigmund Freud.

4.    Teori Prilaku, dengan tiga tokohnya, William James, John B. Watson, dan B.F. Skinner.

5.    Teori Psikoseksual Sigmund Freud.

6.    Teori Dinamika Sistem.

Menurut NIACE (2006:5), pembelajaran keluarga berpotensi memberikan manfaat tersendiri bagi sang anak, orang tua, keluarga, sekolah, dan komunitas. Hubungan keluarga lebih banyak mempengaruhi (proses) pembelajaran dan perkembangan anak daripada hubungan anak dengan yang lainnya. Hubungan anak dengan anggota keluarga lainnya membentuk cara anak menjalin hubungan di luar rumah.

Menurut J.W. Gardner dalam Ong dan Smithberger (2006:9), keluarga dan komunitas merupakan pembangkit dan penjaga sistem-sistem nilai dan etika. Individu mendapatkan dirinya tidak terbatas pada observasi atas badannya semata dan pengetahuan pemikirannya sendiri, tetapi juga dari hubungan yang berlanjut terhadap yang lainnya, khususnya hubungan keluarga dekat atau komunitas, dan dari budaya daerah asal, hal-hal, adat, penghargaan terhadap tetua.

2.3 niace
Bagan – 2.3. Manfaat Pembelajaran Keluarga
Sumber: National Institute of Adult Continuing Education, Benefits of Family Learning, NIACE, Leicester, UK, 2006, hal.5.

Anak belajar dan berkembang dalam konteks budaya komunitas keluarga. Setiap keluarga memiliki keyakinan, nilai, dan ekspektasi masing-masing terhadap anak, yang berakar pada budaya komunitas sekaligus refleksi perspektif tersendiri dari keluarga tersebut. Di sisi lain, setiap komunitas memiliki budayanya masing-masing, yang mana setiap anggota bisa saling mempengaruhi satu sama lain secara individu, maupun terhadap komunitas lain.

Melalui budaya, anak menemukan identitas, rasa kepemilikan, dan keyakinan tentang apa yang penting dalam kehidupan, apa yang benar dan salah, bagaimana perduli terhadap diri sendiri dan orang lain, apa yang harus dirayakan, makan, dan pakai. Representasi budaya dapat terlihat pada gaya komunikasi, barang seni, praktek mendukung anak, dan musik.

Hal ini sesuai dengan pendapat Williams dan de Gaetano (1985) yang menyatakan bahwa budaya merupakan cara hidup (way of life) sekelompok orang, termasuk berbagi pandangan tentang dunia dan realita sosial, nilai dan keyakinan (beliefs), peran dan hubungan, dan pola atau standar prilaku.

Komunitas bisa mencakup keluarga kecil, tetangga, fasilitas perawatan anak (child care), program pemberdayaan anak, tempat peribadatan, sekolah, media, tempat kerja, balai kota. Komunitas bisa menjadi sumber kekuatan keluarga dan anak, melalui penyediaan dukungan dan sumber daya, khususnya ketika mereka sedang bermasalah (seperti stres atau trauma).

Ketika anak masuk ke dalam satu program pemberdayaan anak (seperti PAUD, TK, atau lainnya), perubahan dramatis mulai dialami anak dan keluarganya. Untuk pertama kalinya, anak berhadapan dengan tantangan beradaptasi terhadap lingkungan yang asing, rutinitas yang berbeda, dan hubungan yang baru. Sementara anggota keluarga harus menyesuaikan diri atas masuknya keterlibatan pihak lain dalam perawatan anak mereka.

Pembelajaran anak oleh seseorang didasari nilai-nilai yang diyakini orang tersebut. Beberapa nilai yang akrab dianggap alami, sementara nilai lainnya dianggap berbeda. Perbedaan nilai juga terdapat dalam perspektif waktu. Dulu, pembelajaran anak diarahkan pada kemandirian. Dewasa ini, pembelajaran anak diarahkan pada prinsip saling ketergantungan.

Pihak luar perlu mengetahui lebih awal tentang riwayat pembelajaran anak. Di sisi lain, pihak keluarga perlu mengetahui rencana pembelajaran anak dari pihak luar tersebut. Termasuk didalamnya kualifikasi dan kompetensi pihak luar, baik secara individu maupun secara institusi.

Pihak keluarga bisa memiliki perspektif dan nilai yang berbeda dengan budaya komunitas setempat dan pihak luar tersebut, walaupun berada dalam satu atau beberapa komunitas yang sama. Perspektif setiap pihak bisa berbeda akibat perbedaan sudut pandang dan kepentingan serta interpretasi terhadap aturan budaya, nilai, keyakinan, dan ekspektasi.

Komunikasi dua-arah yang terbuka dan saling menghargai menjadi syarat keberhasilan pembelajaran anak oleh pihak lain. Tidak boleh ada pemaksaan dan penghakiman, kecuali saling berbagi perbedaan nilai, keyakinan, praktek, dan gaya komunikasi. Tujuan komunikasi adalah demi memfasilitasi pembelajaran dan perkembangan anak.

Dampak Budaya terhadap Pembelajaran Anak

Partisipasi pihak luar dalam pembelajaran anak menjadi suatu keniscayaan ketika sang anak hidup dalam suatu komunitas seperti tetangga dan lainnya. Bagi anak, gaya pembelajaran anak merupakan caranya memanfaatkan strategi bantu mempelajari tugas dan mengorganisir informasi (Sousa, 2006:5).

Bagi anak yang mampu belajar secara visual, penekanan pada strategi visual dan representasi mental bagi pengolahan informasi menjadi suatu keharusan. Sementara ada anak lainnya yang mampu belajar secara efektif dan fokus pada pembelajaran bersama (hands-on) dalam kelompok-kelompok kecil.

Aktivitas pembelajaran terbagi atas sifatnya yang kooperatif (tidak individualis) atau bersaing (individualis). Sikap diam pada pertanyaan dalam kelas harus diinterpretasikan secara arif dan bijaksana. Ada yang menginterpretasikan sikap anak yang tidak patuh, tidak menyimak, atau tidak menghargai. Di sisi lain, anak bukannya tidak tahu jawabannya. Di beberapa suku (Navajo dan Apache), anak enggan memberi jawaban karena tidak ingin bersaing dengan sesamanya. Oleh karena itu, budaya dan/atau gaya pembelajaran anak perlu diwaspadai.

Lebih jauh diinterpretasikan, hal tersebut membuat metode pengajaran tradisional menjadi hal yang usang, karena tidak sensitif terhadap budaya. Dampak negatifnya adalah bisa membahayakan atau menghambat pembelajaran anak karena merasa ditolak, diisolasi, dan gelisah. Di sisi lain, pengajar juga bisa merasa frustasi dan tidak bisa menggapai siswa.

Pendidikan yang responsif secara budaya mampu mengenali dan memberikan solusi atas beberapa masalah berikut:

  1. Gaya pembelajaran anak, secara individu maupun budaya.
  2. Perbedaan mode pembelajaran reflektif, dengan fleksibilitas praktek pengajaran.
  3. Peran kolaborasi kelompok.
  4. Fungsi prilaku non-verbal.

Di tengah masyarakat yang masih sangat menghargai budaya lokal, khususnya masyarakat pedesaan dam/atau terutama masyarakat pedalaman yang relatif terisolasi, keluarga masih menjaga dan menjunjung tinggi serta menerapkan dan mewariskan nilai-nilai tradisional. Keyakinan dan nilai-nilai budaya telah mendarah-daging melalui pengajaran dan pengalaman dalam sistem keluarga dan komunitas.

Pembelajaran Keluarga

Menurut Semali (2001:22), pentingnya pembelajaran keluarga telah lama disuarakan oleh Bronfenbrenner, tepatnya sejak 1974. Setelah melakukan tinjauan yang ekstensif terhadap program-program intervensi pemerintah di sektor pendidikan, Bronfenbrenner menyimpulkan bahwa keluarga merupakan sistem paling efektif dan ekonomis dalam mengadopsi dan menjaga kelanjutan perkembangan anak.

Tanpa keterlibatan keluarga, intervensi cenderung gagal dan efek yang minim, seperti kognitif, sosial, dan prilaku, cenderung memudar begitu intervensi dihentikan. Teori ekologis Bronfenbrenner memandang anak sebagai makhluk sosial yang dikelilingi oleh dan belajar dari lingkungan yang kompleks, mulai dari keluarga, tetangga, komunitas (satu suku atau satu geografis), sekolah, tempat ibadah, dan struktur sosial yang lebih besar.

Model ekologis Bronfenbrenner –mencakup keluarga, pra-sekolah, pendidikan orang dewasa dan orang tua (adult and parenting), hubungan dengan komunitas, layanan sosial, kesempatan kerja  dan pekerjaan lokal,– menjadi prasyarat pada program pendidikan keluarga melek huruf (family literacy).

Program melek huruf keluarga mengkombinasikan 4 komponen utama, yakni:

  1. pendidikan anak usia dini (PAUD),
  2. pendidikan dasar orang dewasa,
  3. pendidikan orang tua, dan
  4. interaksi huruf (interactive literacy) orang tua-anak.

Pendekatan lain dari Bronfenbrenner, yakni teori sistem keluarga, memiliki relevansi pada intervensi melek huruf keluarga. Pendekatan ini berfokus pada cara anggota keluarga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pihak lain dalam keluarga. Pendekatan ini menganggap keluarga sebagai satu sistem sosial dengan pola interaksi yang berkembang sepanjang waktu.

Anak hidup dan berkembang dalam latar belakang yang berbeda secara sosial, budaya, ras, etnis, dan bahasa. Pencarian terhadap praktek terbaik dan fitur apa saja yang terbaik bagi pendidikan keluarga melek huruf bukanlah sesuatu yang baru. Beberapa penilaian dan potensi dampak intervensi pada pendidikan keluarga dan anak (Family And Child Education, FACE) dapat dilihat pada Lampiran 2.

Di tahun 1988, Porter et al mengembangkan teori atribut keberhasilan implementasi kebijakan. Teori tersebut dibingkai dalam kerangka kerja 5 komponen, yakni:

  1. Specificity, atau ketentuan teknis yang mengacu pada keluasan dan rincian kebijakan.
  2. Konsistensi, yang merepresentasi koherensi kebijakan, bertentangankah (kontradiksi) atau saling menguatkan.
  3. Otoritas. Kebijakan memiliki kewenangan ketika berbentuk hukum, konsisten dengan norma-norma sosial, berwawasan atau didukung para ahli, atau melalui promosi pemimpin yang kharismatik.
  4. Kekuasaan, dihubungkan dengan penghargaan dan sanksi terkait kebijakan, seperti insentif moneter.
  5. Stabilitas, yang mana orang, kondisi (circumstances), dan kebijakan bersifat konstan sepanjang waktu.

Kerangka kerja tersebut sangat menekankan wujudnya perbedaan pengetahuan atau persepsi terhadap atribut kebijakan di kalangan pemangku kepentingan di tingkat sekolah, pemerintah daerah, atau pemerintah pusat. Hal ini didasari asumsi yang mendasar bahwa setiap institusi memiliki nilai-nilai intinya tersendiri.

Oleh karena itu, Thompson (2003) kemudian mendefinisikan faktor-faktor kritis bagi keberhasilan implementasi kebijakan di tingkat sekolah, antara lain:

  1. Basis standar.
  2. Siswa memiliki kualifikasi (standar tinggi).
  3. Akuntabilitas terpusat.
  4. Pengembangan profesional.
  5. Sumber daya yang mendukung bimbingan keteladanan.
  6. Efektivitas pemakaian data.
  7. Komunikasi yang terbuka dengan keluarga, mitra, dan pemangku kepentingan internal.

[1] Lima konsep inti lainnya dalam perkembangan anak menurut National Scientific Council dari Harvard adalah sebagai berikut:

1.     Otak dibangun sepanjang waktu.

2.     Pengaruh interaktif antara gen dan pengalaman membentuk arsitektur pengembangan otak, dan komponen aktif anak dalam terlibat hubungan dengan orang tua dan pemberi perhatian dalam keluarga atau komunitas adalah ‘serve and return’.

3.     Arsitektur otak dan pengembangan kemampuan dibangun dari bawah, dengan sirkuit dan keahlian sederhana dalam menyediakan jenjang untuk sirkuit dan keahlian yang lebih canggih sepanjang waktu.

4.     Stres beracun pada anak usia dini terkait dengan efek menetap pada sistem syaraf dan sistem hormon stres yang bisa merusak pengembangan arsitektur otak dan mengarah pada masalah seumur hidup dalam pembelajaran, prilaku, dan kesehatan fisik dan  mental.

5.     menciptakan kondisi yang tepat bagi perkembangan anak sejak dini cenderung lebih efektif dan sedikit biaya daripada menyelesaikan masalah pada usia lebih tua.

About these ads