Media massa Indonesia, Komnas HAM, Imparsial, KontraS yang sangat membela preman, bajingan tengik, penegak hukum pengedar narkoba

Media massa Indonesia, Komnas HAM, Imparsial, KontraS yang sangat membela preman, bajingan tengik, penegak hukum pengedar narkoba

Kapitan
polisi cuma berani lawan demostran dengan senjata lengkap plus keroyokan lagi …

Umar
biasanya kalau kasus berbau aparat .biasanya ya , wesss…..nyaris tak terdengar, dan akhirnya mampet, pet……..tttttt. terus hilang. kalau di indonesia selain ALLAH. yang punya kekuasaan menghilangkan nyawa manusia ya aparat . maaf ya teman-teman

Sukses jadi kere
YG PASTI INI BUKTI BAHWASANYA MASYARAKAT SUDAH TDK PERCAYA DNG INSTITUSI PENEGAK HUKUM DI NEGRI INI.
MASYARAKAT LEBIH PUAS DNG HUKUM RIMBA DI BANDING DNG PROSEDUR HUKUM YG TEBANG PILIH DLM PENEGAKAN HUKUM.
TERLALU BODOH JIKA MEREKA2 YG MEMBELA MATI2AN PARA KORBAN YG NOTA BENE SAMPAH MASYARAKAT YG PANTAS KALO DIMATIKAN.

Sukses jadi kere
BUAT PEMBELAJARAN SAJA KPD INSTITUSI PENEGAKAN HUKUM DI NEGRI INI,BAHWA MASYARAKAT YG NOTABENE LEMAH AKAN BERTINDAK BRINGAS MENYIKAPI SEGALA MACAM HUKUM YG MELEMPEM & TDK ADA KETEGASAN UNTK MENEGAKAN HUKUM SETEGAK2NYA..

Amelia Sudirman
kalau menurut analisa idjon djanbi..kemungkinan besar polisi satuan khusus…brimob dan densus dong?? hmmm…perang antar mafia narkoba dengan beking aparatkah?? kayak di film2..sshh

Dodot
kl udah gini kebanyakan hasilnya pasti rekayasa.bisa2 yang gak bersalah jadi korban.hebat nian negara ini

Deden Fachruddin
Komnas HAM, Kontras dan Wartawan mana hati nurani anda kok yg dibela preman yg dihabisi aparat dan beritanya bahwa aparat melanggar HAM
LIHAT KONDISI ISTRI DARI ALM.SERKA HERU SANTOSO YG SEDANG MENANTI KELAHIRAN ANAKNYA APAKAH TIDAK ADA EMPATI SEDIKITPUN TERHADAPNYA DAN BERFIKIR BAGAIMANA NASIB SERTA MASA DEPAN ANAKNYA
PUNYA OTAK GAK DIPAKAI PUNYA HATI DAN RASA SUDAH MATI YA BEGINILAH REPUBLIK CARUT MARUT YANG SALAH JADI BENAR YANG BENAR JADI SALAH PREMAN JADI PAHLAWAN PEMBRANTAS PREMAN JADI PESAKITAN

John
Menurut Gue pengakuan para anggota kopassus yg menyerang lapas sdh cukup…!! Karena mereka jg akan menghadapi peradilan militer…..!!! Secara ‘aturan’ memang mereka salah..!! Tp yg mereka bunuh adalah ‘preman’ yg sangat meresahkan masyarakat..!!! Bayangkan saja jika seorang anggota kopassus saja berani mereka ”bunuh”..????!!!! Apalagi kita yg masyarakat biasa.??????!!!!

Zaldy
STOP HENTIKAN usut mengusut hanya demi 4 orang BEGUNDAL.

Sjuud
Komnas HAM lebay. Bagi kami biar sajalah preman dihajar sampai mampus. Mereka sdh banyak merugikan masyarakat, kok. Kami bangga pada 11 anggota Kopassus yg di tangkap. Mestinya Kopassus harus melawan ketidak adilan ini. Masyarakat butuh Kopassus nggak butuh preman. Dalam kasus ini, perlu juga Komnas HAM dilawan habis !!!

Tweety
Kalo yang dibunuh hanya penjahat yang pake SABU doank, dimana dia hanya merugikan dirinya sendiri aja bolehlah kita mikirin mengenai HAM…nah ini yang mati juga PREMAN BIADAB,PEMBUNUH, PEMERKOSA, SAMPAH MASYARAKAT..buat apa ngeributin HAM? kalo tuh preman masih idup dan dia buat ONAR dan merugikan masyarakat lainnya apakah tuh preman ada kepikiran tentang HAM orang yang dizhaliminya???

Radenkayanto Kayanto
Komnas HAM !!!!! Ada Motif MELEMAHKAN TNI , Ukurannya Sangat Jelas MENDIKTE ” MERONGRONG ” Segala Kebijakan TNI dan Langkah – Langkah TNI , Lebih – Lebih kepada KOPASSUS.
Lebih baik Bubarkan Komnas HAM.

Supriyono
HAM LAGI….HAM LAGI , PREMAN2 TAMBAH BESAR KEPALA

Thoyes
komnas sudah di desak amrik,segera melaporkan hasil rekomendasi temuannya agar sukses feenya cair ,,..! makanya ngototnya berlebihan,mengada ada dnj anggal,..padahal kopassus siap bertanggung jawab, apapun resikonya,..lebih terhormat gugur dimedan tempur,daripada tewas di tangan preman sifatnya najis berat..! dan prajurit kopassus tak gentar menanggung resikonya,..lantas mau apalagi komnas ham,.. ? kalau masih mengada ada ini namanya menantang dan cari musibah.

Dui Astanto
WOI KOMNAS HAM,
UDAH LAAAH…
DIBAHAS MULU…
KAMPRET LO PADA…

Ryan
tunggu aja dah kelanjutannya… kalo sekarang kan belum bisa buktikan apa”….

Sukses jadi kere
Gue jg pingin bikin spanduk bertuliskan “Petruskan koruptor sekalian pengacaranya,I love kopassus”

Saya dukung penegak hukum yg menghukum pelaku penembakan dengan seadil adilnya..!!

ulfi
basmi preman luar daerah yg beroperasi d jogja.,ngotor2i jogja..kalo mau bikin rusuh tidak aman,jangan ke jogja! jogja tmpt mencri ilmu,jgja kota budaya yg terkenal ramah tamah.

sangat prihatin dengan tindakan kopassus,..dengan tindakan polisi yg nembak karumkit,..sangat prihatin dengan penyerangan TNI ke polres di OKU,….

Tsn
sebaiknya ngak usah dukung mendukung. segala bentuk kejahatan kita kecam siapa pun yg melakukannya. hari ini kita dukung TNI/POLRI nanti-nantinya kita juga benci mereka. jadi lebih baik yg jahat dan salah ya disalahkan, dan yg benar ya dibenarkan, tidak lebih dari itu

Devano
Berarti masyarakat Yogyakarta sudah lupa kalau preman itu sendiri banyak di backingin tentara. dan masyarakat Yogyakarta akan dikasih stempel masyarakat sadis karena mendukung pembunuhan tanpa pengadilan dengan bar-bar.

Bayu
INI GERAKAN GILA2AN SAMPAI ADA DEMO SEGALA….pasti sudah parah benar kondisi negara ini…sudah saatnya polri diganti semua seprti di china…

Agus
MEMUJI BOLEH TAPI TIDAK BOLEH BERLEBIHAN SOALNYA YANG KORBAN PENYERANGAN DI CEBONGAN ADALAH RAKYAT / WARGA NEGARA INDONESIA BUKAN MUSUH TNI TUGASNYA TNI MEMPERTAHANKAN WILAYAH NKRI.

AdU
“aku iki putune ki ageng selo bentar”
RE KA YA SA, saya sebagai anak prajurit pun malu dengan PROPAGANDA MURAHAN dari pasukan komando yg katanya “ELITE” tapi ber POLITIK.

Tommy
Berantas preman dimanapun berada!…..hidup TNI….

Jack Daniel
bukan pengalihan isu..ada upaya minta tolong kepada Kopassus untuk menghabisi para preman dan koruptor di Jogjakarta…yaa kita sangat amat mendukung dong…

Rojali
preman memberantas preman ???

Bayu
KALAU NEGARA SUDAH KACAU..POLISI KORUP DAN BELA PREMAN…SIAPAPUN YG MEMBANTU BRANTAS PREMAN PASTI JADI PAHLAWAN…INGAT SUPERMAN DI AMRIK…yang paling salah adalah polisi, karena tidak berfungsi malah ikutan jadi preman…dan parahnya membackingi preman..

Suharwo
Kalau yg diserang Preman alias penjahat mah biarin saja gak perlu diributin kecuali yg diserang Majid Gereja dan tempat ibadah lainnya baru kita balik serang tak peduli Kopasus

Rdx
Indonesia tidak perlu pengamat. Apa sumbang sihnya pengamat bagi pembangunan bangsa ini. Apakah pengamat juga bisa mensejahterakan masyakat. Lagi pula siapa sih yang mengangkat mereka jadi pengamat. Itu kan hanya pengakuan dari mereka sendiri biar nanti dipanggil stasiun tv untuk mengomentari terus terima duit . Klo cuma komentar aja banyak orang bisa dan nggak perlu pendidikan yang tinggi – tinggi. Kerjanya cuma ngomong doang begitu. Apakah orang seperti ini sumber daya manusia yang berkualitas?

bakule sayuran
sesama preman pasti saling melindungi… betul betul betullll???? sosiolog kok tdk peka dg lingkungan… pasti dulu lulus kuliahnya nyogok nih, ujiannya jg nyontek… jgn pandang kopasus apa hansip, siapapun yg memberi keamanan & melindungi masyarakat sdh pasti disanjung masyarakat. mungkin anda ini termasuk sosiolog yg sdg pasang papan nama…

MAHA
DIBALIK SAJA : ADA UPAYA ALIHKAN ISUE PENGEROYOKAN YG MENYEBABKAN SEORANG KOPASSUS MENINGGAL DUNIA MENJADI ISUE PENEMBAKAN TERHADAP 4 ORG YG MENGEROYOK/MEMBUNUH TERSEBUT

Moch.
Pengamat bisanya cuma ngomong doang, actionnya nol besar,cuma jadi flame sosial di masyarakat, harusnya orang begundal kayak gini diHABISI!

Gayung
penulis hanya melihat dari penyerangannya saja. Padahal rakyat sudah tidak bisa berbuat apa-apa dengan aksi preman sekarang ini. Pemerintah, aparat keamanan (polisi) tidak dapat melindungi masyarakat dari para preman. Jadi dengan adanya penembakan itu rakyat sangat senang sekali dan mendukung. Kalau bisa diberantas saja semua preman oleh TNI. Komnas HAM, komunitas preman lainnya hanya ingin rakyat Indonesia tidak tenang saja dengan menggembar gemborkan hak azasi Manusia, demokrasi. Penyalahgunaan berdalih HAM dan Demokrasi untuk mengacaubalaukan pemerintah dan membuat rakyat tidak tenang harus disingkirkan. Kalau polisi tidak bisa berbuat, rakyat akan meminta TNI untuk mengamankan negara ini

HUSEN NUGRAHA
SAYA JUGA MENDUKUNG PEMBERANTASAN PREMANISME, SEKARANG INI PREMANISME SUDAH SEMAKIN MEREJALELA DAN MEMBUAT RESAH KEHIDUPAN DISEKITARNYA

Pandu Budi
..berani jadi preman ya harus siap mati dibunuh

achmad
TIM PENCARI ORANG MUNAFIK AJE????

Dbs
Lucu sekali. Masyarakat dikasi tau tp tdk mau tau. Itu bukan pemberantasan preman tp aksi balas dendam. Masyarakat sudah buta akan kebenaran. Aksi kejahatan kok di dukung dan di puji. Tdk beda dgn penjahat.

Teruwuk
Tdk ada yg mau dibutakan,hanya saja msyrkt udah pada pintar,tahu yg benar dg yg salah.Terlalu bego dan tolol klo preman mau dipuji.Preman artinya penjahat bung,jangan bodoh ya???

Sidik Riyanto
takut kali ya.indrayanna…mungkin kalo polisi yang berbuat bakal…menerjunkan tim pencari fakta berjumlah ratusan

Muhammad
keluarga harusnya mengingatkan klau ke joga bukan jadi pembunuh, dan berkelai sambil kroyokan,, terus ngapain juga bawa senjata kalu bukan preman,,?

Datok
KOMNAS HAM AGAK KESAL…RAKYAT BANYAK DUKUNG PRAJURIT NYA… SEDANGKAN KOMNAS HAM MEMILIH MEMBELA MANUSIA YG BIKIN RESAH..

PEDOMAN KOMENTAR Ayo Ber …
Tim pencari fakta atau Tim pencari honor.

Hendardi
Ingat pembentukan tim pencari fakta adalah Intervensi terhadap hukum yang berlaku……Mekanisme hukum yang berlaku adalah benar seperti sekarang …..Biarlah 11 Prajurit tersebut diadili di Peradilan Militer sesuai UU yang berlaku di negeri ini……..

Tekun
Bravooooo kopasus…..

SIMILIKITHI
Orang memang PREMAN kok,gak mau disebut PREMAN……..
Kenapa ketika masih hidup gak dinasehati utk menjadi orang baik baik……….?.

Jack Daniel
dirumah di kampung halaman dia kelihatan kayak orang baek..setelah diJawa berlagaklah ia seperti jagoan,sok hebat sok jadi tukang ngompas sok jadi tukang peras dan sok jadi tukang bunuh orang…maka disebutlah mereka para preman kurang ajar…gitu pak gak usah sewot..

Omes
Mana ada PREMAN yang mau mengaku mereka PREMAN
pihak keluarga juga belum tentu mau mengaku kalau saudaranya PREMAN,
jangan buat berita pembohongan publik lah, publik juga sudah tau kok siapa mereka
harusnya keluarga menasihati agar mereka tidak menjadi preman, tapi kalau uang bulanan dari hasil premanisme ya sepertinya gak mungkin memberikan nasehat

Deddy
preeman ya preman

Tri Grahna
kalo orang yg membunuh, memperkosa, berbuat onar, narkoba pantasnya disebut apa..????

Tommy
Mereka itu watak keras kepala ,kerjanya mabok! Kriminal! ya preman boss…
masa mau disebut bencong!

Tetha
Bah ngelunjak nih kel preman. Apa anda sendiri sdh minta maaf pd kel.Sertu Heru santoso yg terbunuh akibat kebrutalan sdr anda itu, jg kpd masy yogya yg selama ini resah dg keberadaan dan perbuatan premanisme sdr anda. Ucapan dukacita ? Hahahaha……masy yogya justru gembira dg berkurangnya preman. Hidup tni ……tumpas preman di Indonesia. Krn nila setitik rusak susu sebelanga …. itu yg terpaksa hrs diterima org ntt lainnya……

PEDOMAN KOMENTAR Ayo Ber …
Lah memang faktanya preman koq enggak mau disebut preman. Jauh2 merantau ke jawa koq cuman jadi preman.

Maharani
PARA PEMIRSA GAK USAH RIBUT,, KALAU BEGITU KITA NOBATKAN 4 ORANG TERSEBUT SEBAGAI PAHLAWAN, BILA PERLU KITA BANGUN PATUNG BRIPKA JUAN DENGAN SERAGAM POLISI, KITA KASIH NAMA PATUNG PAHLAWAN TAK DIKENAL, KRN POLRI TDK MAU AKUI DIA SEBAGAI ANGOTA POLISI

Endras
itu tanggung jaeab perbuatan bung … hukum masyarakat mmg tdk kenal belas kadihan … todak perlu sakit hati … terima saja dgn lapang dada …

Isongtanz
terlalu mengada2 gak mungkin yogyakarta di kuasai militer. Gw tetep dukung kopasus basmi preman. hidup kopasus!

Bogel
Mereka Lukas Ispandriyarno, Najib Azka hanya berteori, yah maklum disekolahin agar pintar berbicara. Lagi pula biar kelihatan orang pinter gitu !. Heru mati di bunuh 4 orang pelanggaran hukum, bukan pelanggaran ham (betul menurut anda), tapi kalau mau ngomong coba kembali kebelakang, dari awal mereka di Polisi sampai jadi preman, sampai jadi pengedar narkoba, Dan posisikan diri anda berdua pada keluarga korban Heru dan keluarga korban kelakuan ke 4 orang. Apa pendapat anda sama dengan posisi sekarang ? Anda hanya pengamat, yang omongannya dan kesimpulannya berdasarkan pesanan,

Agus Susmadji, S. Sos
Lukas nih mau menggiring kemana permslhn premanisme ? Jg mulutmu lukas nggak pernah dipalak preman sih

Hammam
PENGAMAT JUGA MENGATAKAN TINDAKAN KOPASSUS PATUT MENDAPAT DUKUNGAN DARI RAKYAT..

Komang
ini pengamat belain preman

Romeo
Justru LSM ama Komnas HAM yang mau ngaburin masalah!. ‘ Hampir tiap hari ngomongin 4 Preman yang mampus ditembak! ‘ sementara Kopssus yang dibunuh ama Preman kagak ada beritanya!?
” Pengamat bisanya ngoceh doang! ” ‘ teteeep aja mau ngebela’in Preman!.
‘ Udah sich!., ‘ anggep aja udah selesai… ‘ gimana keluarga korban mau tenang kalo’ kasus ini di jadi’in konsumsi Publik!

Iwan
apakah penembakan oleh polisi terhadap orang tidak bersenjata bukan merupakan pelanggaran HAM

Muhammad Al Bokiah
lebih tepat kalo disebut OPINI PERGESERAN ISSUE “PREMAN” KORUPTOR (HAM itu cuman ekses atau akibat yg ditimbulkan) Pemeran Utamanya sudah keliatan sekarang (waktu diwawancara saat sibeye olah raga bareng, tampak bener show force nya), Jenderal Pit BUL SIT Hardiono, sejatinya Gurita “SBY” Koruptor Cikeas, Presiden Bandit Matur Sukma Demokrat.

Wong Door
kemungkinan para pengamat itu pernah menggunakan jasa preman jadi ketukutan sendiri…..bravo kopassus

I
Sulit di bedakan antara PENGAMAT dengan PROVOKATOR.kejadian CEBONGAN cukup menguntungkan rakyat yg merasa resah dg kejahatan para preman.efek kejut yg dilakukan kopassus.akan berdampak besar terhadap prilaku para kriminal.di negeri ini.dimana aparat keamanan (polisi) tidak bisa signifikan mengatasi kejahatan premanisme. JAYA KOPASSUS RAKYAT MEMBELAMU

irvinmaulana 27/03/2013
ini yang di beritakan dari keluarga korban penembakan. sedangkan korban dari kopasus ga penah. bukankah korban dari kopassus juga sama2 sedih….

senandungnacita 27/03/2013
preman aja di pikirin,, bandingkan dgn terduga teroris lgsung ditembak densus.. media gak ada yang mempertanyakan

untouchable 26/03/2013
Di indonesia ga butuh preman. cma bs mresahkan wrga saja. klian preman2 yg ngerti teknologi atw alias tdk gaptek, pst klian bs mlihat dsni. mkanya jgn sok jagoan. skg liat akibat nya crtakanlah ke tmn2 preman klian yg gaptek biar mreka tw golok tu tjam

harsa 26/03/2013
bukannya sekolah yang bener… malah keluyuran di cafe hotel…. kasian orang tua lo , diboongin mulu. rata2 orang model gini disekolahin ke jawa buakan sekolah yang bener malahan sok parlente.

iskakj12 26/03/2013
…maaf, anak ibu juga menerapkan hukum itu….

khinoy 28/03/2013
sikat habis saja preman di seluruh Indonesia…kami rakyat Indonesia yg merasa resah oleh perilaku mereka mendukung TNI untuk membabat habis para preman…Bravo TNI

rookie 28/03/2013
Yg dieksekusi juga pemerkosa dan pembunuh ini..gpp lah buat bikin efek jera. Kalo bisa diperbanyak saja biar turun angka kejahatan.

audiotherapy 28/03/2013
SULTAN YG BIJAK MAU MELINDUNGI RAKYATNYA

cell988 28/03/2013
yang begini kok di belaaa,, pye too

Somed
Cara mengeksekusi bukanlah alat bukti yang menunjukkan bahwa itu bermotifkan balas dendam yang berasal dari TNI. Bagaimana kalau ada pihak ketiga yang ingin mendiskreditkan TNI sehingga pihak ketiga tersebut mengkondisikan seolah-olah ini adalah perbuatan TNI. Hilangkan dulu opini bahwa TNI terlibat tapi cari bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sanbob
@Somed: Polisi itu sdh sebenarnya tahu siapa orang2 yg membunuh tahanan tsb. Mencari jarum ditumpukan jerami saja polisi mampu kok, mosok gajah didepan jidat tidak kelihatan..??, apalagi CCTV-nya ada.
Banyak pertanyaan yg timbul, misalnya
Mengapa polisi tdk memberikan bantuan pengamanan yg diminta oleh pihak lapas..??,
Mengapa Kasad menyatakan ada indikasi keterlibatan oknum TNI..??, karena intel TNI pasti sdh bergerak mencari info2,
Mengapa LPSK diminta untuk membantu melindungi para saksi..??,
Mengapa polri selalu gamang, ragu2 dan berbelit2 jika ditanya media..??,
Sangat luar biasa sekali jika ada orang awam dpt melakukan pembantaian yg terlatih seperti itu, teroris saja blm tentu mampu, dan senjatanya juga bukan dari jenis sembarangan, selain itu motifnya pun jauh.

Bambang
Mungkin dipastikan kasus Cebongan akan ber-larut2 tdk selesai. Padahal yg namanya Perampok Pegadaian di Jogya beberapa hari yg lalu saat ini sdh tertangkap Polisi di Pelabuhan Merak (artinya ini cukup Canggih), sdgkan kasus Cebongan kelihatannya Polisi Ogah2 mengungkap

Gandang
ketakutan……….? jgn jadi polisi

Yunia
membunuh..apalagi main keroyokan hukuman yg pantes ya mati jg..
bagus bgt koppasus.. menegakkan keadilan seadil adilnya..
g kayak polisi.. menTUHANkan uang setinggi tingginya

John
Karena ‘arahnya sdh jelas’..!! Jd polisi takut..!!!

Muhammad Al Bokiah
(((( HALLOOOO ))))) EFFECT ini yang memang sengaja dan diinginkan para pelaku KONSPIRASI (penguasa korup), NEGARA dibikin KACAU dg cara mengalihkan isue yg lagi ramai dari Terbakarnya SETNEG, GIBAS DOLLAR proyek hambalang sekaligus membenarkan laporan intel tentang aka adanya usaha kudeta yg dihembuskan sby presiden demokrat korup.

cinta jogja 05.04.2013, 16:15
SS Bilah keparat kamu !!!
kalau preman itu tidak mampus … mereka akan merongrong rakyat lemah dan kamu kontras kenapa tdk membela rakyat !!!

http://www.tempo.co/read/news/2011/05/28/063337347/Mahfud-MD-Indonesia-dalam-Keadaan-Bahaya

Mahfud MD: Indonesia dalam Keadaan Bahaya
MUH SYAIFULLAH, Sabtu, 28 Mei 2011 | 14:35 WIB

Mahfud MD. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Bantul – Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD memberi pernyataan mengejutkan. Kata dia, saat ini negara Republik Indonesia dalam keadaan bahaya. Ancaman bahaya tidak datang dari luar negeri, melainkan justru datang dari dalam negeri sendiri.

“Ancaman itu adalah proses penegakan hukum, keadilan, kebenaran. Proses pembangunan demokrasi mengalami kemacetan karena ada saling sandera,” kata Mahfud usai pelantikan pengurus Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia di Pyramid Resto, Bantul, Sabtu, 28 Mei 2011.

Ia mencontohkan maksud sandera itu. Kata dia, kalau si A melakukan korupsi besar sulit diselesaikan secara hukum karena si A sudah menyandera si B sebagai orang yang menegakkan hukum. Sementara, si B telah disuap. Ketika si B menyuruh si C hal tersebut juga tidak bisa karena si C juga telah disuap. “Hampir tidak ada kekuatan yang dapat menggunting ini,” ujarnya. “Ketika saat ini ada kasus diributkan, pada akhirnya diambangkan.”

Menurut Mahfud, sampai saat ini tidak ada satu pun kasus-kasus besar di Indonesia yang diselesaikan sampai ke ujung-ujungnya. Bahkan, kata Mahfud, semua kasus yang besar “diselingkuhkan” secara politik. Ketika ada kasus besar sudah sangat parah maka dimunculkan lagi kasus baru sehingga kasus lama hilang. “Ini sangat berbahaya bagi kelangsungan bangsa dan negara,” ujarnya.

Berdasarkan fakta sejarah dan berdasarkan ajaran agama apa pun, suatu negara yang tidak mampu menegakkan keadilan, “tinggal menunggu waktu untuk hancur.”

Ia mencontohkan, Kerajaan Majapahit, Demak, Mataram, di mana kerajaan yang semula jaya tiba-tiba runtuh karena ketidakadilan.

Mahfud juga memberi contoh lain yang terjadi saat ini. Seseorang yang diduga melakukan tindak pidana, setelah diadili dia berlindung ke banyak orang. Ketika kasus yang melibatkannya tak bisa dielakkan, orang itu mengancam akan membongkar tindak pidana yang dilakukan karena ia mengetahuinya.

“Maka dibutuhkan pemimpin yang bersih untuk memberantas tindakan sandera-menyandera yang menyebabkan negara dalam kondisi bahaya,” kata dia.

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:tdpDeivp02gJ:lebihkeren.org/ini-dia-keempat-identitas-korban-penembakan-lapas-cebongan/+profil+korban+cebongan&cd=23&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=opera

http://lebihkeren.org/ini-dia-keempat-identitas-korban-penembakan-lapas-cebongan/

Ini Dia Keempat Identitas Korban Penembakan Lapas Cebongan

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN – Kasus penembakan yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata di Lapas Cebongan, Mlati, Sleman, menewaskan empat orang titipan tahanan Polda DIY, Sabtu (23/3). Satu orang di antaranya merupakan warga Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Para korban penembakan adalah Hendrik Angel Sahetapi alias Deki (31 tahun), Yohanes Juan (38), Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi (29), dan Adrianus Candra Galaja alias Dedi (33). Tiga nama pertama tercatat sebagai warga Tegal Panggung, Yogyakarta. Sedangkan Dedi beralamat di Nagekeo, NTT.

Kapolres Sleman, Heri Sutrisman, mengatakan sampai Sabtu siang ini, pihaknya masih melakukan olah TKP dan pengumpulan barang bukti di lokasi kejadian. Dia juga mengakui, satu di antara para korban, yakni Yohannes Juan, merupakan mantan anggota Polresta Yogyakarta.

“Tapi jangan bawa-bawa masalah ini sebagai kasus antara TNI dan Polri,” kata Heri. Yohannes Juan merupakan mantan anggota Polri yang sempat terlibat kasus narkoba dan menjadi terpidana selama 2 tahun 6 bulan. Dengan begitu, dia mengatakan, keterlibatan Juan tidak mengatasnamakan kepolisian.

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/06173697/LP.Cebongan.Sleman.Diserbu.Empat.Tewas

LP Cebongan Sleman Diserbu, Empat Tewas
R. Adhi Kusumaputra | Sabtu, 23 Maret 2013 | 06:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Lembaga Pemasyarakatan Cebongan di Sleman, DI Yogyakarta, diserbu sekelompok orang pada hari Sabtu (23/3/2013) pukul 01.00 dini hari tadi. Empat orang dilaporkan tewas.

Informasi dari Polda Daerah Istimewa Yogyakarta Sabtu pagi ini menyebutkan, LP Cebongan didatangi tiga truk bermuatan sekitar 15 orang bersenjata lengkap dan menggunakan tutup kepala serta pelindung tubuh. Mereka memaksa masuk LP, tetapi dilarang oleh penjaga LP.

Kelompok bertopeng ini kemudian melempar granat dan melukai penjaga LP, lalu mencari pelaku pengeroyokan anggota TNI di Hugos Cafe, Yogyakarta. Kelompok bersenjata ini pun menembak mati empat pelaku pengeroyokan terhadap anggota TNI di Hugos Cafe.

Setelah melakukan aksinya, kelompok ini langsung kabur meninggalkan LP.

Editor : Robert Adhi Ksp

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/07302878/Penyerang.LP.Sleman.yang.Tewaskan.4.Orang.Bersenjata.Lengkap

Penyerang LP Sleman yang Tewaskan 4 Orang Bersenjata Lengkap
Sabtu, 23 Maret 2013 | 07:30 WIB

Tribun Yogya/Hendy Kurniawan
Mobil Labfor Polda DIY berada Lapas Cebongan Sleman, usai penyerangan kelompok bersenjata yang menewaskan empat orang, Sabtu (23/3/2013) dini hari.

SLEMAN, KOMPAS.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan, Sleman, diserang puluhan orang bersenjata pada Sabtu (23/3/2013) sekitar pukul 02.00. Akibatnya, empat orang tahanan kasus kericuhan Hugos Cafe tewas dengan luka tembak.

Kapolda DIY Brigjen (Pol) Sabar Rahardjo yang datang ke TKP menjelaskan, penyerangan dilakukan sekitar 17 orang. Setelah melompati pagar kompleks lapas, penyerang memaksa petugas jaga menunjukkan sel keempat tahanan dan melakukan penembakan.

“Menurut penjaga, penyerang sempat menodongkan senjata dan memaksa menunjukkan kunci sel. Empat orang tewas dengan luka tembak. Nanti akan diidentifikasi labfor,” beber Sabar.

Ditambahkannya, kelompok penyerang membawa semua unit closed circuit television (CCTV) yang ada di lapas, sedangkan seorang penjaga sempat mengalami pemukulan saat diminta menunjukkan kunci sel korban.

Meski demikian, tidak ada status siaga yang ditetapkan di DIY setelah kasus penyerangan ini. “Enggak ada (status) siaga,” tukas Sabar.

Dari informasi yang dihimpun, keempat korban penyerangan masih berada di dalam lapas. Belum ada keterangan kapan akan dilakukan evakuasi.

Sumber : Tribunnews.com
Editor : Farid Assifa

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/0730129/Tersangka.Pembunuh.Anggota.Kopassus.Ditembak.

Pembunuhan
Tersangka Pembunuh Anggota Kopassus Ditembak
Aloysius Budi Kurniawan | Sabtu, 23 Maret 2013 | 07:30 WIB

Tribun Yogya/Hendy Kurniawan
Mobil Labfor Polda DIY berada Lapas Cebongan Sleman, usai penyerangan kelompok bersenjata yang menewaskan empat orang, Sabtu (23/3/2013) dini hari.

YOGAKARTA, KOMPAS.com- Empat tersangka pembunuhan Sertu Santosa, anggota Kopassus Grup II Surakarta di Cafe Hugos, Selasa (19/3/2013) kemarin ditembak sekelompok orang tak dikenal, Sabtu (23/3/2013) dini hari di Lapas Cebongan, Sleman.

Para pelaku yang menggunakan penutup wajah tersebut menembak langsung keempat tersangka menggunakan senjata laras panjang.

Mendengar kabar tersebut, Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen (Pok) Sabar Rahardjo langsung meluncur ke lokasi.

“Segerombolan orang melompat pagar lapas. Mereka memaksa petugas pemegang kunci menunjukkan ruang tahanan dan langsung menembaki empat tersangka,” ujarnya, Sabtu (23/3) di Sleman.

Setelah menembaki keempat tersangka, gerombolan orang tak dikenal tersebut langsung membawa kabur CCTV lapas.

Editor : Tjahja Gunawan Diredja

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/07381662/Penembak.Tersangka.Pembunuh.Kopassus.17.Orang

Pembunuhan
Penembak Tersangka Pembunuh Kopassus 17 Orang
Aloysius Budi Kurniawan | Sabtu, 23 Maret 2013 | 07:38 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Pelaku penembakan empat tersangka pembunuhan Sertu Santoso, anggota Kopassus Grup II Surakarta, di Lapas Cebongan Sleman, Sabtu (23/3/2013) dini hari, berjumlah sekitar 17 orang.

Mereka menggunakan penutup kepala dan membawa senjata api.

“Menurut keterangan sipir lapas, gerombolan orang bersenjata itu melompat pagar dan memaksa petugas sipir menunjukkan ruang tahanan empat tersangka. Keempat tersangka langsung ditembak di tempat hingga tewas,” kata Kapolda DI Yogyakarta Brigjen (Pol) Sabar Rahardjo, Sabtu (23/3/2013), di lokasi kejadian.

Diperkirakan, para pelaku yang masuk ke lapas berjumlah sekitar 17 orang. Namun, meski demikian, diduga masih ada oknum lain di luar lapas yang turut berjaga-jaga saat kejadian.

Adapun empat tersangka yang tewas ditembak segerombolan orang tersebut sebelumnya terlibat dalam pembunuhan Sertu Santoso, anggota Kopassus Grup II Surakarta, di Hugos Cafe, Selasa (19/3/2013) lalu.

Editor : Tjahja Gunawan Diredja

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/07443432/Kronologi.Penyerangan.LP.Sleman.yang.Tewaskan.4.Orang

Kronologi Penyerangan LP Sleman yang Tewaskan 4 Orang
Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma | Sabtu, 23 Maret 2013 | 07:44 WIB

Kompas.com/ Yustinus Wijaya Kusuma
Polisi berjaga-jaga di depan pintu masuk LP Sleman, Yogyakarta.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Empat pelaku penganiaya hingga menewaskan Sersan Satu Santoso, salah satu anggota TNI AD Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, tewas dengan luka tembak di dalam Lapas Cebongan, Sleman, pada Sabtu (23/3/2013) dini hari.

Kapolda DIY Brigjen (Pol) Sabar Rahardjo saat mendatangi lokasi kejadian mengatakan, empat tahanan tewas di ruang tahanan dengan luka tembak. Ia memaparkan kronologi kejadian tersebut. Awalnya, ada sekelompok orang dengan menutup muka melompat pagar depan gedung setinggi sekitar satu meter, kemudian mencari penjaga dan memaksa untuk masuk ke dalam sel.

Setelah masuk, mereka kemudian kembali memaksa penjaga menunjukkan ruang tahanan untuk mencari ruang empat tahanan pelaku penganiayaan di Hugos Cafe. Setelah menemukan sasaran, gerombolan tersebut lantas menembakkan senjata api hingga menyebabkan keempat tahanan itu tewas.

“Saya tadi sudah meminta keterangan petugas penjaga pintu dan menurutnya ada sekitar 17 orang yang masuk dan ada beberapa di luar,” terangnya, Sabtu (23/03).

Ia menambahkan, closed circuit television (CCTV) yang terpasang di lokasi lapas juga diambil gerombolan tersebut.

“CCTV yang ada di lokasi juga diambil,” katanya.

Keempat tahanan tersebut berinisial D, DD, AL, serta YJ merupakan pelaku penganiayaan di Hugos Cafe pada Selasa (19/3/2013) lalu dengan korban tewas Sertu Santoso. Sampai pukul 06.30 WIB pagi ini, petugas dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polda DIY masih melakukan penyelidikan di lokasi Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Editor : Farid Assifa

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/08324221/Menko.Polhukam.Usut.Insiden.di.Lapas.Sleman.

Menko Polhukam: Usut Insiden di Lapas Sleman!
Hindra Liauw | Sabtu, 23 Maret 2013 | 08:32 WIB

Kompas.com/ Yustinus Wijaya Kusuma Aparat kepolisian bersenjata lengkap menjaga gedung LP Sleman.

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto memerintahkan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo untuk mengusut penyerangan di Lapas Sleman pada Sabtu (23/3/2013) dini hari.

“Siapa pun pelakunya harus segera ditangkap dan diadili,” kata Djoko kepada para wartawan, Sabtu.

Seperti diwartakan, empat pelaku penganiaya hingga menewaskan Sersan Satu Santoso, salah satu anggota TNI AD Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, tewas dengan luka tembak di dalam Lapas Sleman.

Kapolda DIY Brigjen (Pol) Sabar Rahardjo saat mendatangi lokasi kejadian mengatakan, empat tahanan tewas di ruang tahanan dengan luka tembak. Ia memaparkan kronologi kejadian tersebut. Awalnya ada sekelompok orang dengan menutup muka melompat pagar depan gedung setinggi sekitar satu meter, kemudian mencari penjaga dan memaksa untuk masuk ke dalam sel.

Setelah masuk, mereka kemudian kembali memaksa penjaga menunjukkan ruang tahanan untuk mencari ruang empat tahanan pelaku penganiayaan di Hugos Cafe. Setelah menemukan sasaran, gerombolan tersebut lantas menembakkan senjata api hingga menyebabkan keempat tahanan itu tewas.

“Saya tadi sudah meminta keterangan petugas penjaga pintu dan menurutnya ada sekitar 17 orang yang masuk dan ada beberapa di luar,” terangnya, Sabtu (23/03).

Ia menambahkan, closed circuit television (CCTV) yang terpasang di lokasi lapas juga diambil gerombolan tersebut.

“CCTV yang ada di lokasi juga diambil,” katanya.

Keempat tahanan tersebut berinisial D, DD, AL, serta YJ merupakan pelaku penganiayaan di Hugos Cafe pada Selasa (19/3/2013) lalu dengan korban tewas Sertu Santoso. Sampai pukul 06.30 WIB pagi ini, petugas dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polda DIY masih melakukan penyelidikan di lokasi Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/0848508/Penyerang.Lukai.8.Petugas.Lapas.Sleman

Penyerang Lukai 8 Petugas Lapas Sleman
Sabtu, 23 Maret 2013 | 08:48 WIB

Kompas.com/ Yustinus Wijaya Kusuma
Polisi berjaga-jaga di depan pintu masuk LP Sleman, Yogyakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Lapas Sleman Sukamto mengatakan, sekelompok orang yang menyerang LP Sleman pada Sabtu (23/3/2013) dini hari turut melukai 8 petugas. Selain melukai 8 petugas, kelompok tersebut menembak mati 4 tahanan kasus penganiayaan terhadap Sersan Satu Santoso, anggota TNI AD Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo. Akibat penganiayaan itu, Santoso meninggal.

“Mereka (petugas) dipukul para penyerang,” tukas Sukamto, tanpa menjelaskan lebih lanjut, Sabtu pagi.

Kapolda DIY Brigjen (Pol) Sabar Rahardjo saat mendatangi lokasi kejadian mengatakan, 4 tahanan tewas di ruang tahanan dengan luka tembak. Ia memaparkan kronologi kejadian tersebut. Awalnya ada sekelompok orang dengan menutup muka melompat pagar depan gedung setinggi sekitar satu meter, kemudian mencari penjaga dan memaksa untuk masuk ke dalam sel.

Setelah masuk, kemudian mereka kembali memaksa penjaga menunjukkan ruang tahanan pelaku penganiayaan terhadap Sertu Santoso yang terjadi di Hugos Cafe. Setelah menemukan sasaran, gerombolan tersebut lantas menembakkan senjata api hingga menyebabkan keempat tahanan itu tewas.

“Saya tadi sudah meminta keterangan petugas penjaga pintu dan menurutnya ada sekitar 17 orang yang masuk dan ada beberapa di luar,” terangnya, Sabtu.

Ia menambahkan, closed circuit television (CCTV) yang terpasang di lokasi lapas juga diambil gerombolan tersebut.

“CCTV yang ada di lokasi juga diambil,” katanya.

Keempat tahanan tersebut berinisial D, DD, AL, dan YJ merupakan pelaku penganiayaan di Hugos Cafe pada Selasa (19/3/2013) lalu dengan korban tewas Sertu Santoso. Sampai pukul 06.30 WIB pagi ini, petugas dari Laboratorium Forensik (Labfor) Polda DIY masih melakukan penyelidikan di lokasi Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Sumber : Tribunnews
Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/0917153/Tersangka.Pembunuh.Kopassus.Titipan.Polda.DIY

Pembunuhan
Tersangka Pembunuh Kopassus Titipan Polda DIY
Aloysius Budi Kurniawan | Sabtu, 23 Maret 2013 | 09:17 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Kuasa hukum empat korban penembakan di Lapas Cebongan, Sleman, menyayangkan kasus penembakan oleh segerombolan orang bersenjata api, Sabtu (23/3/2013) dini hari.

Sebab, keempat korban masih dalam pengamanan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta dan dititipkan di Lapas Cebongan, Sleman.

“Awalnya semua tersangka ditahan di Polres Sleman, tapi kemudian dipindah ke tahanan Polda, Rabu (20/3/2013). Kemudian, Jumat (22/3/2013), jam 11.00, mereka dipindahkan lagi ke Lapas Cebongan. Kami terus mengikuti pemindahan keempat korban. Mereka diperlakukan seperti teroris,” kata kuasa hukum korban, Riyo Rama Baskara, Sabtu (23/3/2013) di Lapas Cebongan, Sleman.

Menurut Riyo, keempat korban penembakan murni tersangka kasus kriminal dan bukan teroris.

Akan tetapi, saat dipindahkan, mereka seolah-olah diperlakukan seperti tersangka teroris dengan pengamanan ketat pasukan bersenjata.

“Mereka di bawah perlindungan Polda. Polda DI Yogyakarta sendiri belum memberi tahu kami alasan pasti pemindahan para tersangka ke Lapas Cebongan. Mereka hanya mengatakan kamar tahanan Polda sedang direnovasi,” paparnya.

Sebelumnya, Jumat (22/3/2013), kuasa hukum sempat bertemu dengan keempat korban dan mengantar dari tahanan di Polda ke lapas.

Kuasa hukum juga sempat membahas rencana pengajuan pra-peradilan menyikapi proses pemeriksaan yang dinilai janggal. Namun, sebelum proses tersebut dilakukan, keempat tersangka justru ditembaki segerombolan orang tak dikenal.

Seperti diberitakan sebelumnya, empat tersangka pembunuhan Sertu Santoso, anggota Kopassus Grup II Surakarta di Hugos Cafe, ditembak sekelompok orang tak dikenal, Sabtu (23/3/2013) dini hari di Lapas Cebongan, Sleman.

Para pelaku yang menggunakan penutup wajah tersebut menembak langsung keempat tersangka menggunakan senjata api.

Editor : Tjahja Gunawan Diredja

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/10113119/Denny.Indrayana.Penyerang.Lapas.Sleman.Akan.Diproses.Hukum

Denny Indrayana: Penyerang Lapas Sleman Akan Diproses Hukum
Icha Rastika | Sabtu, 23 Maret 2013 | 10:11 WIB

RODERICK ADRIAN MOZES
Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana mengatakan, penyerangan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Sleman, Yogyakarta, yang menewaskan empat tahanan merupakan tindak pidana yang tidak dapat dibiarkan. Apa pun alasannya, kata Denny, pelaku penyerangan tersebut harus bertanggung jawab dan diproses secara hukum.

“Kami mendukung penyelidikan yang cepat dan menyeluruh untuk segera mendapatkan siapa pelaku-pelaku yang melakukan penyerangan tersebut,” kata Denny melalui pesan singkat yang diterima wartawan, Sabtu (23/3/2013).

Dia mengatakan, Kementerian Hukum dan HAM langsung berkoordinasi dengan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI dalam menangani insiden ini. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin pun, kata Denny, bertolak ke lokasi kejadian pagi tadi. Selanjutnya, Denny meminta semua pihak untuk menahan diri dan menyerahkan masalah ini kepada penegak hukum.

“Ingat, kita negara hukum, semua harus tunduk pada aturan main,” ucapnya. Denny juga mengatakan, Kementerian Hukum dan HAM menyampaikan ungkapan belasungkawa atas meninggalnya empat tahanan dalam insiden tersebut.

Seperti diketahui, penyerangan di Lapas Sleman menewaskan empat tahanan. Keempat tahanan itu merupakan pelaku penganiayaan terhadap anggota TNI AD Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, Sersan Satu Santoso. Akibat penganiayaan di Hugos Cafe tersebut, Santoso meninggal beberapa waktu lalu.

Penyerangan di Lapas Sleman ini berawal saat sekelompok orang bersenjata dan bertopeng memaksa masuk ke dalam lapas melalui pintu portir dengan menodongkan senjata. Kelompok orang tak dikenal itu mencari kamar empat tahanan tersebut. Setelah menemukan kamar empat tahanan pelaku penganiayaan itu, kelompok bertopeng ini langsung menembak empat tahanan tersebut hingga tewas.

Aksi mereka pun melukai sedikitnya delapan petugas keamanan dan merusak CCTV di lapas. Menurut informasi dari Humas Ditjen Pemasyarakatan, petugas yang luka di antaranya Widiatmana dengan pangkat III/a, mengalami luka di dagu, serta Supratikno pangkat II/c yang luka di mata sebelah kanan. Adapun biaya pengobatan petugas lapas akan ditanggung pihak Kemenhuk dan HAM.

Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/10374466/Ini.Tersangka.Pembunuh.Kopassus.yang.Ditembak.

Pembunuhan
Ini Tersangka Pembunuh Kopassus yang Ditembak
Aloysius Budi Kurniawan | Sabtu, 23 Maret 2013 | 10:37 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Empat korban penembakan di Lapas Cebongan, Sleman, adalah tersangka pembunuhan Sertu Santosa, anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Surakarta di Hugos Cafe, Selasa (19/3/2013) lalu.

Keempat korban tersebut adalah Yohanes Juan Manbait, Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Angel Sahetapi alias Deki.

Korban yang bernama Yohanes Juan Manbait, Gameliel, dan Deki beralamat di Tegal Panggung DN II/920, Yogyakarta. Sementara Adrianus beralamat di Nageko, NTT.

Kuasa hukum keempat tersangka yang tersebut, Wandy Marseli, mengatakan, salah satu korban, yaitu Yohanes Juan Manbait atau Juan, mengaku masih tercatat sebagai anggota Polrestabes Yogyakarta.

Berdasarkan informasi Polrestabes Yogyakarta, tersangka memang merupakan disersi anggota Polrestabes Yogyakarta.

Menurut pengakuan istri Juan, Nona (nama samaran), sebulan lalu suaminya keluar dari perawatan narkoba di Rumah Sakit Ghrasia, Pakem, Sleman.

Sebelumnya, Juan memang sempat tersangkut kasus pemakaian narkoba jenis sabu dan sempat menjalani masa tahanan selama 2 tahun 8 bulan.

“Sebelum kejadian, dia sempat mengirim SMS dan meminta maaf ke saya,” kata Nona.

Editor : Tjahja Gunawan Diredja

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/10480788/Polisi.Masih.Lakukan.Olah.TKP.di.Lapas.Sleman

Polisi Masih Lakukan Olah TKP di Lapas Sleman
Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma | Sabtu, 23 Maret 2013 | 10:48 WIB

Tribun Yogya/Hendy Kurniawan
Mobil Labfor Polda DIY berada Lapas Cebongan Sleman, usai penyerangan kelompok bersenjata yang menewaskan empat orang, Sabtu (23/3/2013) dini hari.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Hingga siang ini, polisi masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) penembakan empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Keempat korban tewas adalah terduga pelaku penganiayaan prajurit TNI di Hugos Cafe beberapa waktu lalu.

Kepala Polres Sleman AKBP Hery Sutrisman mengatakan, sejauh ini polisi belum bisa memberikan kesimpulan dalam penyerangan ini. “Kita masih melakukan olah kejadian, jadi masih dalam proses dan belum bisa dipastikan,” katanya.

Hery menjelaskan, keempat jenazah sudah di bawa ke RS Sarjito, Yogyakarta, untuk divisum. Dari dalam sel, ditemukan banyak darah berceceran. “Kita belum bisa pastikan barang buktinya karena masih dalam olah TKP,” ulangnya lagi.

Sementara itu, menurut informasi yang diperoleh, pukul 11.00 WIB, Menteri Hukum dan HAM RI Amir Syamsudin akan mengunjungi lapas kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Editor : Glori K. Wadrianto

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/10555349/Kapolres.Sleman.Keempat.Korban.Tewas.Ditembak

Penyerangan di Lapas Sleman
Kapolres Sleman: Keempat Korban Tewas Ditembak
Aloysius Budi Kurniawan | Sabtu, 23 Maret 2013 | 10:55 WIB

Tribun Yogya/Hendy Kurniawan
Mobil Labfor Polda DIY berada Lapas Cebongan Sleman, usai penyerangan kelompok bersenjata yang menewaskan empat orang, Sabtu (23/3/2013) dini hari.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Polres Sleman AKBP Hery Sutrisman memastikan, keempat korban dalam penyerangan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Sabtu (23/3/2013) dini hari, tewas akibat luka tembak. Keempatnya kini menjalani otopsi di RS Sarjito, Yogyakarta.

Sebelumnya telah diberitakan, jenazah keempat terduga pelaku penganiayaan yang berujung pada tewasnya seorang prajurit TNI di Hugos Cafe beberapa waktu lalu ini diangkut dengan menggunakan tiga unit ambulans. Keempat korban tersebut adalah Yohanes Juan Manbait, Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Angel Sahetapi alias Deki.

Ketiga korban bernama Yohanes Juan Manbait, Gameliel, dan Deki beralamat di Tegal Panggung DN II/920, Yogyakarta, sedangkan Adrianus beralamat di Nageko, NTT.

Editor : Tjahja Gunawan Diredja

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/11100079/Satu.Korban.Tewas.di.Lapas.Sleman.Anggota.Polisi

Satu Korban Tewas di Lapas Sleman Anggota Polisi
Aloysius Budi Kurniawan | Sabtu, 23 Maret 2013 | 11:10 WIB

Kompas.com/ Yustinus Wijaya Kusuma
Polisi berjaga-jaga di depan pintu masuk LP Sleman, Yogyakarta.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Salah satu dari empat korban penembakan yang dilakukan gerombolan bersenjata di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, adalah anggota Polrestabes Yogyakarta. Dia adalah Yohanes Juan Manbait atau Juan.

Hal itu diterangkan kuasa hukum keempat korban, Wandy Marseli, di Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013).  Juan bersama tiga rekannya diduga melakukan penganiayaan hingga menewaskan Sertu Santosa, anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Surakarta di Hugos Cafe, Selasa (19/3/2013) lalu.

Tiga korban lainnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Angel Sahetapi alias Deki. Menurut pengakuan istri Juan, Nona (nama samaran), sebulan lalu suaminya keluar dari perawatan narkoba di Rumah Sakit Ghrasia, Pakem, Sleman.

Sebelumnya, Juan memang sempat tersangkut kasus pemakaian narkoba jenis sabu dan sempat menjalani masa tahanan selama dua tahun delapan bulan. “Sebelum kejadian, dia sempat mengirim SMS dan meminta maaf ke saya,” kata Nona.

Berdasarkan informasi Polrestabes Yogyakarta, tersangka memang merupakan anggota disersi Polrestabes Yogyakarta.

Editor : Glori K. Wadrianto

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/11260831/Lapas.Sleman.Diserang.Presiden.Jangan.Sibuk.Urus.Isu.Kudeta

Lapas Sleman Diserang, Presiden Jangan Sibuk Urus Isu Kudeta
Sabrina Asril | Sabtu, 23 Maret 2013 | 11:26 WIB

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Eva Kusuma Sundari, anggota DPR RI dari Fraksi PDI-P

JAKARTA, KOMPAS.com – Penembakan atas empat tahanan hingga tewas di Lapas Sleman adalah bentuk persoalan nyata. Presiden dan para menteri diminta tak lagi sibuk mengurus wacana kudeta yang digelontorkan beberapa hari terakhir ini.

“Ini juga alarm untuk para pejabat di Jakarta, Presiden dan menteri-menteri yang sibuk menuduh sipil melakukan kudeta sementara lalai untuk mengontrol aparat keamanan untuk tidak melakukan tindakan-tindakan extra judicial killing,” ujar anggota Komisi III dari Fraksi PDI-P, Eva Kusuma Sundari, di Jakarta, Sabtu (23/3/2013).

Eva menuturkan, tindakan melawan hukum dengan melakukan pembunuhan yang terjadi saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. Para pelaku tidak lagi malu menunjukkan identitasnya yang bisa diduga aparat senjata. “Saya sungguh risau jika peradilan militer tidak segera dituntaskan. Para aparat TNI semakin tidak patuh pada hukum karena diistimewakan ketika melakukan pidana-pidana umum, termasuk pembunuhan,” imbuh Eva.

Lapas Sleman diserbu sekelompok orang pada hari Sabtu (23/3/2013) pukul 01.00 dini hari tadi. Informasi dari Polda Daerah Istimewa Yogyakarta Sabtu pagi ini menyebutkan, Lapas Cebongan didatangi tiga truk bermuatan sekitar 15 orang bersenjata lengkap dan menggunakan tutup kepala serta pelindung tubuh. Mereka memaksa masuk lapas, tetapi dilarang oleh penjaga.

Kelompok bertopeng ini kemudian melempar granat dan melukai penjaga lapas, lalu mencari pelaku pengeroyokan anggota TNI Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, Sersan Satu Santoso di Hugos Cafe, Yogyakarta.

Kelompok bersenjata ini pun menembak mati empat pelaku pengeroyokan terhadap anggota TNI di Hugos Cafe. Setelah melakukan aksinya, kelompok ini langsung kabur meninggalkan lapas. Aksi mereka pun melukai sedikitnya delapan petugas keamanan dan merusak CCTV di lapas.

Menurut informasi dari Humas Ditjen Pemasyarakatan, petugas yang luka di antaranya Widiatmana dengan pangkat III/a yang mengalami luka di dagu, serta Supratikno, pangkat II/c yang mengalami luka di mata kanan.

Secara terpisah, Panglima Kodam IV/ Diponegoro Mayjen TNI Hardiono Saroso membantah prajurit TNI terlibat penyerangan Lapas Sleman.

“Bukan dari prajurit TNI, tidak ada prajurit yang terlibat. Saya bertanggung jawab penuh sebagai Pangdam IV/Diponegoro,” katanya seusai upacara penutupan Dikmaba TNI AD Tahap I TA 2012 di Kodam IV/Diponegoro di Lapangan Rindam, Magelang, Sabtu pagi.

Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/12002528/Kasi.Intel.Tak.Ada.Anggota.Kopassus.yang.Keluar.Semalam.

Penyerangan di Lapas Cebongan
Kasi Intel: Tak Ada Anggota Kopassus yang Keluar Semalam
Kontributor Surakarta, M Wismabrata | Sabtu, 23 Maret 2013 | 12:00 WIB

KOMPAS.COM/M Wismabrata
Pos Penjagaan di Markas Group Dua Kopasis Kandang Menjangan Kartasura, Sabtu (23/3/2013)

SUKOHARJO, KOMPAS.com – Seluruh anggota Kopassus berada di dalam kesatuan saat terjadi penyerangan oleh kelompok bersenjata di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Sabtu (23/3/2013) sini hari. Penegasan ini diungkapkan Kepala Seksi Intel Group Dua Kopassus Kandang Menjangan, Kapten Infanteri Wahyu Juniartoto.

Pernyataan ini sekaligus membantah dugaan bahwa penyerangan yang telah menngakibatkan empat orang tahanan tewas ditembak dilakukan oleh anggota TNI yang bermarkas di Kartasura, Sukoharjo.

“Semua anggota Kopassus semalam berada di pangkalan atau melakukan siaga di dalam kesatuan. Tidak ada satu pun anggota yang melakukan kegiatan di luar kesatuan,” tegas Kapten Wahyu saat ditemui Kompas.com di Markas Group 2 Kopasus Kandang Menjangan Kartasura, siang ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, empat terduga pelaku pengeroyokan anggota TNI dari Kesatuan Kopassus tewas ditembak sekelompok orang bersenjata yang menyerbu lapas tersebut dini hari tadi.

Editor : Glori K. Wadrianto

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/13250769/Diduga.Penyerang.Lapas.Sleman.terkait.TNI

Diduga, Penyerang Lapas Sleman terkait TNI
Icha Rastika | Sabtu, 23 Maret 2013 | 13:25 WIB

KOMPAS/ALIF ICHWAN
Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pelaku penyerangan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dini hari tadi diduga terkait dengan jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI). Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Denny Indrayana mengungkapkan dugaan tersebut.

“Adalah salah satu dugaan ini terkait dengan jajaran di TNI pelakunya,” kata Denny di Jakarta, Sabtu. Dugaan ini muncul setelah melihat empat tahanan korban penyerangan yang ternyata merupakan pelaku penganiayaan terhadap anggota TNI AD Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, Sersan Satu Santoso.

Menurut Denny, insiden penganiayaan terhadap anggota TNI itulah yang mungkin melatarbelakangi penyerangan di Lapas Sleman dini hari tadi. “Karena insiden sebelumnya yang melatarbelakangi, ada anggota Kopassus meninggal sehingga ada yang mengarah ke sana,” ujar Denny.

Untuk itulah, lanjutnya Kemenetrian Hukum dan HAM selaku pengelola Lapas, berkoordinasi dengan TNI agar tidak masalah ini tidak meluas. “Tentu saja langkah antisipasi perlu dilakukan agar eskalasinya tidak melebar ke mana-mana, koordinasi dengan TNI adalah langkah normal,” ucap Denny.

Meskipun demikian, Denny menegaskan, dugaan tersebut belum tentu benar. Masih diperlukan investigasi yang menyeluruh dan cepat untuk menemukan siapa pelaku penyerangan di Lapas tersebut. “Tidak bisa dijastifikasi atau dipastikan ini pelakunya TNI,” ujar Denny.

Sejau ini, Kemenhuk dan HAM bekerja sama dengan TNI dan Kepolisian, masih melakukan pendalaman di lapangan. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin sudah berada di lokasi kejadian sejak pagi tadi.

Secara terpisah, Panglima Kodam IV/ Diponegoro Mayjen TNI Hardiono Saroso membantah prajurit TNI terlibat penyerangan Lapas Sleman.

“Bukan dari prajurit TNI, tidak ada prajurit yang terlibat. Saya bertanggung jawab penuh sebagai Pangdam IV/Diponegoro,” katanya seusai upacara penutupan Dikmaba TNI AD Tahap I TA 2012 di Kodam IV/Diponegoro di Lapangan Rindam, Magelang, Sabtu pagi.

Seperti diketahui, penyerangan di Lapas Sleman menewaskan empat tahanan. Keempat tahanan itu merupakan pelaku penganiayaan terhadap anggota TNI AD Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, Sersan Satu Santoso. Akibat penganiayaan di Hugo Café tersebut, Santoso meninggal beberapa waktu lalu.

Salah satu dari empat tahanan tersebut, yakni Yohanes Juan Manbait atau Juan merupakan anggota Polrestabes Yogyakarta. Ketiga tahanan lainnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Angel Sahetapi alias Deki.

Penyerangan di Lapas Cebongan ini berawal saat sekelompok orang bersenjata dan bertopeng memaksa masuk ke dalam Lapas melalui pintu portir dengan mendongkan senjata. Kelompok orang tak dikenal itu mencari kamar empat tahanan tersebut. Setelah menemukan kamar empat tahanan pelaku penganiayaan itu, kelompok bertopeng ini langsung menembak empat tahanan tersebut hingga tewas.

Aksi mereka pun melukai sedikitnya delapan petugas keamanan dan merusak CCTV di Lapas. Menurut informasi dari Humas Ditjen Pemasyarakatan, petugas yang luka di antaranya, Widiatmana dengan pangkat III/a, mengalami luka di dagu, serta Supratikno pangkat II/c yang luka di mata sebelah kanan. Adapun biaya pengobatan petugas Lapas akan ditanggung pihak Kemenkum HAM.

Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/16324061/Penembakan.di.Lapas.Sleman.Hanya.Berlangsung.15.Menit

Pembunuhan
Penembakan di Lapas Sleman Hanya Berlangsung 15 Menit
Aloysius Budi Kurniawan | Sabtu, 23 Maret 2013 | 16:32 WIB

YOGYAKARTA,KOMPAS.com -Proses penembakan empat tahanan di Lapas Sleman, Sabtu (23/3/2013) dini hari pukul 12.30 hanya berlangsung sekitar 15 menit.

Gerombolan penembak berjumlah antara 15-20 orang dan semuanya menggunakan senjata api laras panjang, pistol, dan granat.

Kepala Lapas Sleman Sukamto Hadi mengungkapkan, saat kejadian pintu masuk lapas diketuk empat orang berpakaian preman.

Kepada petugas sipir, mereka mengaku berasal dari Polda DI Yogyakarta dengan menunjukkan surat berkop Polda DI Yogyakarta.

“Mereka mengaku ingin ketemu dengan empat orang tahanan kasus pembunuhan anggota TNI di Hugo’s Café. Mereka enggak banyak bicara tetapi langsung beraksi,” ujarnya, Sabtu (23/3) di Lapas, Sleman.

Begitu pintu dibuka, empat orang tersebut ternyata diikuti belasan orang dengan penutup muka. Total jumlah mereka sekitar 15-20 orang.

“Mereka membawa senjata semuanya dan langsung menyeret petugas sipir untuk menunjukkan empat tahanan yang mereka cari. Mereka juga mengancam akan meledakkan lapas dengan granat,” tambahnya.

Di blok A, komplotan bersenjata tersebut langsung menyisir empat tersangka yang mereka cari dan menembak di tempat, tepat di hadapan 31 tahanan lainnya. Seluruh peristiwa ini hanya berlangsung 15 menit.

Editor : Tjahja Gunawan Diredja

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/16444657/Pangdam.IV.Pelaku.Penyerangan.LP.Cebongan.Bukan.TNI

Pangdam IV: Pelaku Penyerangan LP Cebongan Bukan TNI
Kontributor Magelang, Ika Fitriana | Sabtu, 23 Maret 2013 | 16:44 WIB

Kompas.com/Yustinus Wijaya Kusuma
Aparat kepolisian bersenjata lengkap menjaga gedung Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, setelah empat orang yang ditahan di lapas tersebut ditembak oleh sekelompok orang tak dikenal, , Sabtu (23/3/2013) dini hari.

MAGELANG, KOMPAS.com – Para pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dini hari, dipastikan bukan prajurit atau anggota TNI. Pelaku merupakan sekelompok orang yang tidak dikenal.

Demikian ditegaskan Pangdam IV Diponegoro Mayor Jenderal TNI Hardiono Saroso seusai menghadiri upacara penutupan Dikcaba PK di Rindam IV Diponegoro, Magelang, Sabtu (23/3/2013). “Sebagai panglima, saya bertanggung jawab penuh dengan semua yang ada di wilayah Kodam IV Diponegoro. Tidak ada prajurit yang terlibat karena hasil jaminan dari komandan satuan mereka bisa mengendalikan semua,” jelas Hardiono.

Ia mengatakan, saat ini TNI tengah menyelidiki keterlibatan prajurit dalam penyerangan terhadap empat tersangka pelaku penganiayaan yang menewaskan anggota Komando Pasukan Khusus Kandang Menjangan, Kartasura, Sersan Satu Santoso. “Yang jelas dan perlu digaris bawahi adalah orang tidak dikenal,” ujar Hardiono.

Hardiono juga memastikan bahwa senjata yang digunakan untuk menyerang empat tahanan itu belum tentu milik TNI. Hal itu diketahui karena para pelaku menggunakan senjata laras panjang dan pendek. “Jenis senjata itu juga beredar di masyarakat. Tidak hanya tentara atau aparat saja yang memiliki,” katanya.

Pasca-kejadian dini hari tadi, Hardiono langsung mengadakan apel dengan semua komandan satuan, baik semua komandan satuan yang ada di organ maupun organik. Ia memastikan bahwa dirinya terlibat dalam upaya pencarian pelaku. Setelah peristiwa tersebut, ia berharap tidak ada lagi bentuk kekerasan yang melawan TNI/Polri yang tengah bertugas.

Empat terduga pelaku pengeroyokan anggota TNI dari Kesatuan Kopassus tewas ditembak sekelompok orang bersenjata yang menyerbu lapas tersebut dini hari tadi. Keempat tahanan itu masih dalam pengamanan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta dan dititipkan di Lapas Cebongan, Sleman.

Editor : Laksono Hari W

http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/21105810/Kuasa.Hukum.Korban.Penyerang.LP.Cebongan.Terlatih

Kuasa Hukum Korban: Penyerang LP Cebongan Terlatih
Sabtu, 23 Maret 2013 | 21:10 WIB

Kompas.com/ Yustinus Wijaya Kusuma
Polisi berjaga-jaga di depan pintu masuk LP Sleman, Yogyakarta.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Kuasa hukum keempat korban tewas dalam penyerangan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-B Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Rio Rama Baskara, menduga pelaku penyerangan dan penembakan empat tahanan itu merupakan orang-orang terlatih.

Para pelaku yang menggunakan penutup wajah dan senjata api itu menyerang Lapas Cebongan pada Sabtu (23/3/2013) pukul 02.00 WIB. Mereka mengincar empat terduga pelaku pengeroyokan dan penusukan terhadap anggota Komando Pasukan Khusus Grup II Surakarta, Sertu Santoso, di Hugo’s Cafe, Selasa (19/3/2013) lalu.
Keempat tahanan dalam sel 2B LP Cebongan itu ditembaki sekelompok orang tersebut di dalam sel penjara.

“Dilihat dari runtutan kejadiannya, mulai dari masuk, kemudian memukuli sipir lapas, hingga penembakan terhadap tahanan, jelas bukan dilakukan orang biasa, namun orang-orang terlatih,” kata Baskara di RS dr. Sardjito, Yogyakarta, Sabtu.

“Insiden penembakan ini mirip aksi suatu operasi, pelaku masuk ke penjara, mensterilkan lokasi, kemudian yang terjadi keempat tahanan itu tewas di dalam LP Cebongan,” katanya.

Penyerangan itu dilakukan selama kurang lebih 15 menit. Para pelaku juga memaksa sipir menunjukkan ruangan Kepala Lapas dan mengambil kamera CCTV lapas.

Kuasa hukum korban belum dapat memastikan apakah pelaku penyerangan dan penembakan itu berasal dari kalangan militer. Rio juga belum dapat memastikan apakah peristiwa itu merupakan buntut dari penganiayaan terhadap Sertu Santoso.

Sumber : Antara
Editor : Laksono Hari W

http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/07502075/Pembunuhan.di.Lapas.Sulit.Diterima.Akal.Sehat

Pembunuhan di Lapas Sulit Diterima Akal Sehat
Sandro Gatra | Minggu, 24 Maret 2013 | 07:50 WIB

Kompas.com/Yustinus Wijaya Kusuma Aparat kepolisian bersenjata lengkap menjaga gedung Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, setelah empat orang yang ditahan di lapas tersebut ditembak oleh sekelompok orang tak dikenal, , Sabtu (23/3/2013) dini hari.

JAKARTA, KOMPAS.com – Penyerangan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, lalu membunuh empat tahanan sulit diterima akal sehat lantaran Indonesia adalah bangsa yang beradab. Hukum telah dicampakkan begitu saja dengan mengeksekusi para tersangka tanpa proses pengadilan.

“Bagaimanapun, ini cara yang sulit sekali diterima akal sehat bangsa yang beradab,” kata Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hajriyanto Y Thohari ketika dihubungi, Minggu (24/3/2013).

Hajriyanto mengatakan, yang berwenang menjatuhkan hukuman pidana tidak ada lagi selain majelis hakim di pengadilan. Tindakan main hakim sendiri, apalagi dilakukan terhadap tersangka yang sudah ditahan di Lapas, kata dia, jelas melanggar hukum. Pihak Kepolisian harus bisa mengungkap siapa para pelaku.

Hajriyanto berpendapat pihak Kepolisian kurang antisipatif dalam menempatkan ke empat tersangka. Semestinya Kepolisian lebih cermat jika melihat kasus yang melibatkan mereka. Sebab, kata dia, keluarga, kelompok, atau korps korban tidak akan terima.

“Mereka pasti sangat marah, dendam, dan menuntut pembalasan. Tahu akan kemungkinan pembalasan seperti ini, Polri dan Lapas mestinya hati-hati dan cermat menempatkan tahanan. Peristiwa yang sangat tragis dan dramatis itu terjadilah,” kata Hajriyanto.

Sebelumnya, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, Selasa lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Mereka tercatat sebagai desertir anggota kesatuan Kepolisian Resor Kota Besar Yogyakarta. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit.

Kasus itu masih dalam penyelidikan. Namun Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

Editor : Kistyarini

http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/09045732/Penyerangan.Lapas.Indonesia.Dikuasai.Mafia

Penyerangan Lapas, Indonesia Dikuasai Mafia
Sandro Gatra | Minggu, 24 Maret 2013 | 09:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, lalu membunuh empat tahanan oleh sekelompok orang bersenjata lengkap, dinilai sangat mengkhawatirkan publik dan memalukan pemerintahan. Peristiwa itu seperti terjadi di negara yang gagal atau dikuasai mafia.

Tak pernah kita mendengar adegan semacam itu kecuali di film-film action. Negara tak berdaya dan lemah menghadapi kelompok bersenjata.
— Fadli Zon

“Tak pernah kita mendengar adegan semacam itu kecuali di film-film action. Negara tak berdaya dan lemah menghadapi kelompok bersenjata. Hukum tak berjalan dan kurang wibawa,” kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon dalam siaran persnya, Minggu (24/3/2013).
Fadli mengatakan, pemerintah tak bisa menganggap sepele peristiwa itu. Kejadian itu, kata dia, merupakan teror kepada negara. Harus ada tindakan nyata dan cepat dari pemerintah untuk menangkap para pelaku dan menjamin kejadian serupa tidak terulang.
“Jika tidak ditangani serius, masyarakat akan makin tak percaya kepada aparat penegak hukum dan bebas main hakim sendiri. Kejadian brutal itu tak sepantasnya terjadi di negara hukum seperti Indonesia,” kata Fadli.
Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Martin Hutabarat, secara terpisah mengatakan, tindakan main hakim yang kerap terjadi lantaran kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum. Proses hukum yang dilakukan aparat penegak hukum dinilai kurang bisa memberi keadilan kepada orang-orang yang menjadi korban.
“Apabila rasa kepercayaan itu ada, pasti kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi,” kata anggota Komisi III DPR itu.
Sebelumnya, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas <http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/07443432/Kronologi.Penyerangan.LP.Sleman.yang.Tewaskan.4.Orang&gt;. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta, sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, Selasa lalu.
Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas untuk menunjukkan empat tahanan yang dicari.
Empat tahanan tersebut ditembak mati <http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/12424658&gt;. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Mereka tercatat sebagai desertir anggota kesatuan Kepolisian Resor Kota Besar Yogyakarta. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit.
Kasus itu masih dalam penyelidikan. Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus <http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/16444657&gt;. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga membantah.

Editor : Heru Margianto

http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/14052676/Hendardi.Bentuk.Tim.Investigasi.Eksternal.yang.Kredibel.

Penyerangan di LP Sleman
Hendardi: Bentuk Tim Investigasi Eksternal yang Kredibel!
R. Adhi Kusumaputra | Minggu, 24 Maret 2013 | 14:05 WIB

TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
Sejumlah anggota kepolisian berjaga di depan pintu masuk Lapas Cebongan di Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013). Pada Sabtu dini hari terjadi penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata yang menewaskan empat orang tersangka pelaku pembunuhan di Hugos Cafe yang dititipkan oleh Polda DI Yogyakarta di Lapas tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com –  Ketua BP Setara Institute Hendardi berpendapat, sulit disangkal bahwa pelaku penyerangan LP Sleman diduga memang berasal dari kelompok terlatih. Melihat motif dan sasaran korban yang diserang, patut diduga kuat bahwa penyerangan itu dilakukan oleh anggota atau oknum Kopassus.

Berkaca pada kasus-kasus serupa, brutalitas anggota TNI tidak cukup hanya diserahkan penyidikannya pada internal TNI, apalagi kepolisian jelas tidak punya akses dan mentalitas untuk menyidik anggota TNI. Perlu tim investigasi eksternal yang kredibel.

“Berkaca pada kasus-kasus serupa, brutalitas anggota TNI tidak cukup hanya diserahkan penyidikannya pada internal TNI, apalagi kepolisian jelas tidak punya akses dan mentalitas untuk menyidik anggota TNI. Suatu Tim Investigasi eksternal yang kredibel bisa menjawab kebuntuan ini,” kata Hendardi dalam siaran persnya, hari Minggu (24/3/2013) petang.

Hendardi mengingatkan, “Jangan sampai impunitas terus melekat pada anggota TNI. Penyelidikan ini harus menjadi momentum bagi reformasi peradilan militer yang sampai saat ini masih meletakkan TNI sebagai yang tidak tersentuh hukum pidana umum, meski jelas tindakannya dilakukan bukan dalam menjalankan tugas ketentaraan.”

Editor : Robert Adhi Ksp

http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/16452542/Ada.Timekeeper.Saat.Penyerangan.di.Lapas.Sleman

Ada “Timekeeper” Saat Penyerangan di Lapas Sleman
Dian Maharani | Minggu, 24 Maret 2013 | 16:45 WIB

TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
Sejumlah anggota kepolisian berjaga di depan pintu masuk Lapas Cebongan di Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013). Pada Sabtu dini hari terjadi penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata yang menewaskan empat orang tersangka pelaku pembunuhan di Hugos Cafe yang dititipkan oleh Polda DI Yogyakarta di Lapas tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) melakukan investigasi langsung atas penyerangan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Koordinator KontraS Hariz Azhar mengatakan, berdasarkan keterangan saksi, ada seorang pelaku yang diduga menjadi timekeeper atau pengatur waktu dalam melakukan aksi tersebut.

“Penyerangan dilakukan secara keseluruhan hanya dalam 15 menit dan ada salah satunya yang bertugas sebagai timekeeper. Ada saksi mengatakan, satu orang penyerang melihat jam tangan terus,” ujar Haris di kantor Imparsial, Jakarta Pusat, Minggu (24/33/2013).

Penyerangan pun diduga kuat telah direncanakan dengan matang. Pelaku yang diperkirakan sebanyak 17 orang telah diberi pembagian tugas. Estimasi waktu dari awal hingga akhir penyerangan pun telah diperhitungkan. “Jadi ada kontrol waktu dalam penyerangan itu,” lanjut Haris.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (233/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, 19 Maret 2013 lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari. Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu pun hanya berlangsung 15 menit. Kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian.

Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

Editor : Erlangga Djumena

http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/17210355/Kontras.Lapas.Bukan.Target.Operasi.Teroris

Kontras: Lapas Bukan Target Operasi Teroris
Imanuel More | Minggu, 24 Maret 2013 | 17:21 WIB

TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI Sejumlah anggota kepolisian berjaga di depan pintu masuk Lapas Cebongan di Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013). Pada Sabtu dini hari terjadi penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata yang menewaskan empat orang tersangka pelaku pembunuhan di Hugos Cafe yang dititipkan oleh Polda DI Yogyakarta di Lapas tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com – Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar menilai kecil kemungkinan penyerangan terhadap Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta, dilakukan kelompok teroris. Salah satu alasan Haris, lapas atau penjara bukan menjadi target operasi teroris.

“Dari sisi target operasi, selama ini yang menjadi target operasi teroris adalah polisi, pos-pos polisi, dan simbol-simbol Barat. Sulit dipercaya teroris yang melakukan serangan ke lapas,” kata Haris dalam konferensi pers di Kantor Imparsial, Jakarta, Minggu (24/3/2014).

Lebih dari itu, menurut Haris, tidak ada korelasi yang jelas antara para teroris dengan Lapas Cebongan maupun empat korban penyerangan. Karena itu, dia menilai mengarahkan dugaan pelaku penyerangan pada kelompok teroris terlalu mengada-ada.

“Teroris-teroris itu tidak punya model operasi seperti itu, dalam bentuk rangkai yang rapi dan teratur dengan operasi model buntut kuda,” katanya.

Dijelaskan Haris, penyerang dilakukan oleh 17 orang dengan satu orang bertugas sebagai penjaga waktu (time keeper). Menurut keterangan para saksi, penyerangan berlangsung selama 15 menit. Ada anggota tim penyerang yang bertugas menyandera, ada yang bertugas mengamankan daerah, dan ada yang terus masuk hingga ke sel tahanan.

“Yang mengeksekusi cuma satu orang. Itu model operasi ekor kuda, yang dilakukan orang-orang terlatih secara rapi,” kata Haris.

Dia menduga jumlah kelompok penyerang lebih dari satu orang. Pasalnya, angka 17 orang itu didapatkan dari keterangan para saksi yang berada di balik pagar kedua Lapas. Tidak tertutup kemungkinan, menurut Haris, ada juga orang-orang yang ditempatkan untuk berjaga di luar gerbang dan beberapa titik lain dalam rangka pengamanan operasi.

Empat orang tewas dalam peristiwa penyerangan di Lapas Cebongan pada Sabtu (23/3) dini hari. Empat orang tahanan polisi tewas dalam peristiwa tersebut. Mereka adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Mereka diketahui sebagai tahanan Polda DIY dalam kasus pembunuhan anggota TNI di Hugo’s Cafe Maguwoharjo, Sleman, pada Selasa (19/3/2013) malam.

Editor : Hertanto Soebijoto

http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/18133129/Kontras.Eksekutor.di.Lapas.Sleman.Hanya.1.Orang

Kontras: Eksekutor di Lapas Sleman Hanya 1 Orang
Dian Maharani | Minggu, 24 Maret 2013 | 18:13 WIB

Tribun Yogya/Hendy Kurniawan
Mobil Labfor Polda DIY berada Lapas Cebongan Sleman, usai penyerangan kelompok bersenjata yang menewaskan empat orang, Sabtu (23/3/2013) dini hari.

JAKARTA, KOMPAS.com – Penembak empat tersangka pengeroyok anggota Kopassus yang ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, diketahui hanya satu orang. Seorang pelaku tersebut menembak hingga menewaskan empat tersangka dengan cepat dan tepat sasaran.

Hal itu berdasarkan hasil investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), yang mendatangi lokasi kejadian. “Jadi pelaku eksekusi hanya satu orang. Dia menembak di depan 31 tahanan sel 5a,” terang Koordinator Kontras Haris Azhar di kantor Imparsial, Jakarta Pusat, Minggu (24/3/2013).

Haris mengatakan, berdasarkan keterangan saksi, sempat terjadi kepanikan dan kegaduhan dalam sel tahanan tersebut. Sebanyak empat orang tersangka kemudian terpisah dari tahanan lainnya dan ditembak hingga tewas.

Pelaku penyerangan lainnya, lanjut Haris telah bertugas untuk berjaga di sekitar lokasi, menjadi timekeeper, hingga mengamankan CCTV. Penyerangan ini pun telah dipersiapkan dengan matang dengan waktu keseluuruhan selama 15 menit.

Sementara Direktur Program Imparsial Al- Araf meyakini aksi penyerangan tersebut teroganisir. Hal itu terlihat dari cara penyerangan yang dilakukan secara sistematis, cepat, dan taktis, serta penggunaan persenjataan yang memadai, yaitu AK 47, senjata api jenis FN, dan granat.

“Penyerangan ini tentunya dilakukan secara terorganisir, terencana, terlatih, dan memiliki kapasitas penggunaan senjata secara profresional,” terangnya.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (233/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda.

Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, 19 Maret 2013 lalu. Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas.

Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu pun hanya berlangsung 15 menit.

Editor : Erlangga Djumena

http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/19444144/Polisi.Harus.Berani.Ungkap.Dalang.Penyerangan.Lapas.Sleman

Polisi Harus Berani Ungkap Dalang Penyerangan Lapas Sleman
Dian Maharani | Minggu, 24 Maret 2013 | 19:44 WIB

KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN Pasca penembakan empat tersangka pembunuhan anggota TNI AD grup 2 Kopassus kandang Menjangan, petugas tim identifikasi Polda DI Yogyakarta memeriksa portir pintu masuk Lapas Kelas II B Sleman, Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, Sabtu (23/3/2013). Gerombolan orang bersenjata lengkap menyerang lapas dan membunuh empat tahanan dan melukai delapan sipir lapas.

JAKARTA, KOMPAS.com – Koalisi masyarakat sipil reformasi sektor keamanan meminta aparat kepolisian untuk berani mengungkap dalang penyerangan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Kepolisian diharapkan dapat menangani kasus tersebut secara transparan.

“Kepolisian harus secara terang benderang dan tidak boleh menutup-nutupi peristiwa penyerangan. Aparat kepolisian harus berani menemukan siapa dalang dan pelakunya,” ujar Direktur Program Imparsial Al Araf, di kantornya, Jakarta Pusat, Minggu (24/3/2013).

Ia mengatakan, kepolisian harusnya dapat menarik benang merah dari rangkaian peristiwa yang terjadi. Mulai dari peristiwa penganiayaan anggota Kopassus di Hugo’s cafe, hingga penyerangan ke lapas. Peristiwa itu menurutnya menjadi preseden buruk penegakan hukum di Indonesia.

“Kami juga mendesak aparat penegak hukum bekerja secara lebih profesional di dalam melindungi warga negara,” katanya.

Sebelumnya, empat tahanan lapas ditembak mati oleh kelompok bersenjata tak dikenal, Sabtu (23/3/2013). Mereka merupakan tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, 19 Maret 2013 lalu. Keempatnya, yaitu Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Banyak pihak yang menduga pelaku merupakan anggota Kopassus yang ingin membalas dendam atas kematian temannya. Hingga saat ini kepolisian masih melakukan penyelidikan. Kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian. Namun Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

Menurut kepolisian, segerombolan orang tak dinelak itu membawa senjata api laras panjang, jenis FN, dan granat. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Kopassus.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu pun hanya berlangsung 15 menit.

Editor : Erlangga Djumena

http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/20350119/Kasus.Lapas.Lebih.Penting.dari.Isu.Kudeta

Kasus Lapas Lebih Penting dari Isu Kudeta
Imanuel More | Minggu, 24 Maret 2013 | 20:35 WIB

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Forum Pemuda NTT menggelar aksi Seribu Lilin Solidaritas Kemanusiaan Korban Pembantaian di Lapas Cebongan Jogja di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (24/3/2013). Mereka mendesak pemerintah mengungkap dan menangkap pelaku penembakan empat orang tersangka pembunuh anggota Kopassus di Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta yang mengakibatkan keempatnya tewas.

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Program Imparsial, Al Araf, menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seharusnya memberikan perhatian serius pada kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Karena, perhatian tersebut hingga kini belum terlihat.

“Ini kasus kejahatan luar biasa. Bayangkan, orang yang di dalam penjara yang terlindungi saja bisa dibunuh, bagaimana masyarakat umum yang tanpa perlindungan bisa merasa aman,” kata Al Araf dalam konferensi pers di Kantor Imparsial, Jakarta, Minggu (24/3/2013).

Al Araf mengatakan, rasa aman merupakan unsur fundamental yang harus dijamin oleh negara bagi warganya. Karena itu, presiden seharusnya sudah memberikan perhatian lebih pada kasus penyerangan lapas dibandingkan urusan internal partai dan isu kudeta.

“Kami berharap presiden tidak sibuk dengan urusan isu kudeta dan internal partai (Demokrat),” kata Al Araf.

Menurut Al Araf, rasa aman adalah unsur yang membentuk dan menyatukan negara. Ketika warga tidak lagi merasa aman dalam kehidupan bermasyarakat, maka sudah seharusnya negara yang diwakili presiden bisa menunjukkan perhatian serius. Alih-alih memerhatikan perhatian pada kepentingan masyarakat umum, dalam pandangan Al Araf, presiden justru lebih mengedepankan isu kudeta dan masalah Partai Demokrat yang sifatnya lebih personal dan kelompok.

“Karena itu kami sangat mengecam sikap saat ini. Seharusnya presiden segera menyatakan sikap,” kecam Al Araf.

Ia juga menilai dalih bahwa serangan dilakukan kelompok teroris atau kelompok preman khusus dinilainya terlalu mengada-ada. Sangat kecil korelasi antara lapas, empat korban penyerangan dengan terorisme atau preman dalam penilaian Al Araf. Ia justru menilai korelasi yang lebih dekat adalah kasus yang mengantar keempat korban ke lapas, yakni pembunuhan seorang anggota TNI di Hugo’s Cafe, Yogyakarta.

“Harus ada motivasi yang terkait dengan peristiwa teroris, kecil sekali kemungkinan itu, hampir tidak ada korelasi antara korban dengan teroris atau preman,” kata Al Araf.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, empat orang tewas dalam peristiwa penyerangan di Lapas Cebongan pada Sabtu (23/3/2013) dini hari. Mereka adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Mereka diketahui sebagai tahanan Polda DIY dalam kasus pembunuhan anggota TNI di Hugo’s Cafe Maguwoharjo, Sleman, pada Selasa (19/3/2013) malam.

Editor : Hertanto Soebijoto

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/01110115/Pemerintah.Jangan.kalah.dengan.Preman

Pemerintah Jangan kalah dengan Preman
Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma | Senin, 25 Maret 2013 | 01:11 WIB

KOMPAS.com/Yustinus wijaya kusuma
aktivis Koalisi Rakyat Anti Kekerasan mengelar aksi keprihatinan di Tugu Yogya menolak segala bentuk kekerasan dan menuntut pemerintah segera mengusut tuntas

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Prihatin dengan maraknya tindak kekerasan yang terjadi, seperti penyerangan lapas kelas IIB Cebongan, yang menewaskan empat tersangka, yang dititipkan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), aktivis Koalisi Rakyat Anti Kekerasan mengelar aksi damai di Tugu Yogyakarta, Minggu.

Aksi damai yang diberitema “Jogja Istimewa Tanpa Kekerasan” ini di ikuti oleh Forum Bhineka Indonesia, Independent Legal Aid Institut (ILAI), Ayodya Tulada dan Kreasi Study Club Yogyakarta.

Dalam aksinya para aktivis anti kekerasan Yogyakarta menyalakan lilin sebagai bentuk keprihatinan atas terjadinya penyerangan bersenjata di Lapas kelas IIB, Cebongan, Sleman, yang terjadi pada, Sabtu (23/3/2013).

Salah satu aktivis Kreasi Study Club Yogyakarta, Cris Cahya mengatakan, aksi ini selain sebagai bentuk keprihatinan warga atas maraknya tindak kekerasan yang terjadi juga menuntut agar pihak penegak hukum segera menuntaskan kasus yang terjadi.

“Pemerintah dan penegak hukum harus bisa mengungkap siapa pun pelaku tindak kekerasan. Penyerangan di Lapas Cebongan salah satunya,” terang Cris Cahya, di Yogyakarta, Minggu (24/3/2013).

Menurutnya, kasus Rezza dan terakhir penyerangan Lapas Cebongan menjadi sangat ironi pasalnya Yogyakarta yang dikenal kondusif, santun, berbudaya dan berpendidikan dinodai dengan aksi kekerasan.

Sementara itu Winarto salah satu aktivis Independent Legal Aid Institut (ILAI) berharap agar kasus kekerasan yang terjadi di Yogya tidak akan terjadi lagi. Pemerintah harus menunjukan fungsinya sebagai pengayom masyarakat dengan menjamin keselamatan, ketentraman dan kenyamanan warganya.

“Kewibawaan negara di pertaruhkan. Panjangnya daftar tindak kekerasan semakin menegaskan bahwa pemerintah gagal melindungi masyarakatnya,” papar Winarto.

Ia melihat sampai saat ini keseriusan pemerintah dalam mengusut setiap kasus kekerasan masih sangat kurang. Terbukti dengan beberapa kasus tindak kekerasan yang sampai saat ini belum terungkap.

“Kasus wartawan Bernas Udin, kasus Rezza, di Gunungkidul dan terakhir kasus penyerangan lapas Cebongan, harus di ungkap sampai selesai, sehingga tidak menjadi misteri. Pemerintah jangan sampai menyerah dengan preman,” ujarnya.

Editor : Benny N Joewono

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/01595234/Pertaruhan.Wibawa.Hukum

Pertaruhan Wibawa Hukum
Senin, 25 Maret 2013 | 01:59 WIB

Jakarta, Kompas – Penyerbuan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, dan menewaskan empat penghuninya, merupakan masalah yang sangat gawat. Ini membutuhkan penanganan serius. Wibawa penegakan hukum di negeri ini pun dipertaruhkan.

Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana berharap kepolisian bisa mengungkap gerombolan orang bersenjata yang menyerbu LP Cebongan tersebut. Kementerian Hukum dan HAM akan memberikan dukungan sepenuhnya. ”Kementerian Hukum akan full power dan full support agar pelakunya segera terungkap dan dihukum setimpal atas perbuatan keji mereka. Jangan lupa, dalam kasus ini sipir-sipir kami juga jadi korban. Jadi, kami pun punya tanggung jawab mengungkap pelakunya. Siapa pun mereka,” ujar Denny, Minggu (24/3).

Sabtu dini hari lalu, sekitar 17 orang bersenjata memaksa masuk LP Cebongan. Mereka melukai dua petugas LP dan menembak mati empat tahanan titipan Polda DI Yogyakarta dalam kasus pembunuhan Sersan Satu Santoso di Hugo’s Café, Yogyakarta.

Lebih lanjut Denny mengungkapkan, pihaknya akan membawa persoalan tersebut dalam rapat antara Mahkamah Agung, Kementerian Hukum, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian yang akan dilaksanakan hari ini pukul 10.00. ”Masalah ini akan saya diskusikan, khususnya dengan Polri,” katanya.

Penyerangan tersebut memperlihatkan kelemahan mencolok penjagaan oleh aparat negara terhadap tahanan. Bukan langkah yang bisa ditolerir jika semua aparat negara mengelak karena merasa sudah menjalankan tindakan sesuai dengan prosedur. ”Buktinya, faktor lemahnya perlindungan atau penjagaan telah dimanfaatkan oleh pelaku,” ujar pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Topo Santoso.

Menurut Topo, dari perspektif kriminologi, khususnya teori routine activity, insiden itu bisa terjadi karena ada pihak yang memiliki motif tertentu, ada sasaran yang dianggap lemah, dan juga kurangnya perlindungan atau penjagaan. ”Dalam perspektif teori tadi, kalau tiga hal tersebut ketemu, maka terjadi kejahatan,” kata Topo. ”Dalam konteks penyerbuan di LP Cebongan, ketiganya terpenuhi,” katanya.

Peristiwa itu, ujar Wakil Ketua Komisi III DPR Tjatur Sapto Edy, menunjukkan komunikasi antaraparat tidak mulus. ”Jika komunikasi antaraparat penegak hukum baik, semestinya segala tindakan anarkistis seperti penyerangan ini dapat dicegah atau diminimalisasi dampak atau korbannya,” ujar Tjatur di Temanggung.

Kemarin, Direktur Keamanan dan Ketertiban Direktorat Jenderal Permasyarakatan Wibowo Joko mengungkapkan, kondisi LP Cebongan mulai normal. Pihak LP sudah membuka (menerima) kunjungan keluarga (narapidana dan tahanan) meskipun tidak sebanyak kunjungan pada hari-hari biasa.

Wibowo mengungkapkan, peristiwa Sabtu dini hari lalu menimbulkan trauma bagi pegawai LP Cebongan. ”Nyali mereka memang sempat drop. Namanya juga kejadian seperti itu. Mereka, kan, tidak pernah dilatih untuk berperang, menghadapi kelompok bersenjata,” ujar Wibowo.

Kuasa hukum empat korban tewas, Rio Rama Baskara, mencium ada indikasi pembiaran. ”Setelah penyerangan, polisi tidak menutup jalur-jalur keluar Yogyakarta. Padahal, begitu diketahui ada penembakan, seharusnya seluruh pintu keluar Yogyakarta dijaga ketat,” katanya.

Apalagi, keempat korban, yaitu Yohanes Yuan Manbait, Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Angel Sahetapy alias Deki, menjadi tanggung jawab penuh Polda DI Yogyakarta yang dititipkan di LP Cebongan.

Namun, Kapolda DI Yogyakarta Brigadir Jenderal (Pol) Sabar Rahardjo mengatakan, pemindahan keempat tahanan ke LP Cebongan itu karena ruang tahanan di Markas Polda DI Yogyakarta rusak. Mereka dipindahkan pada Jumat (22/3) siang atau sehari sebelum penembakan.

Menurut informasi Kepala Bidang Humas Polda DI Yogyakarta Ajun Komisaris Besar Anny Pudjiastuti, di ruang tahanan tempat penembakan ditemukan 31 selongsong peluru kaliber 7,62 milimeter. Akan tetapi, pihaknya belum bersedia menyebutkan jenis senjata apa yang digunakan oleh para penembak.

Kepala Penerangan Kodam IV/Diponegoro Kolonel (Inf) Widodo Raharjo mengatakan, hingga Minggu belum ada perkembangan soal kasus penembakan itu. ”Masih dalam penyelidikan. Pangdam sudah memberi penjelasan bahwa tidak ada anggota TNI terlibat. Penembak bukan anggota Kopassus,” ujar Widodo.

Saat ini, menurut Tjatur, kasus penyerangan itu dalam penyelidikan tim koneksitas TNI-Polri. Dari penyelidikan dapat segera diketahui siapa pelaku dan motif perbuatannya. ”Kami berharap, dalam jangka waktu sebulan dari sekarang, kasus ini sudah terungkap dengan jelas,” ujarnya.

Prihatin terhadap kekerasan dan pelanggaran hukum itu, masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Yogyakarta menggelar doa dan aksi damai di perempatan Tugu, Minggu malam. Pada waktu yang sama, aksi serupa digelar di Bundaran Hotel Indonesia.

Sebelum peristiwa penembakan, Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X sebenarnya merencanakan pertemuan antara perwakilan masyarakat NTT, kepolisian, dan TNI untuk melakukan dialog perdamaian pada Rabu (27/3) mendatang. Akan tetapi, sebelum pertemuan terlaksana justru terjadi aksi penembakan itu. (ANA/DIK/K04/ABK/EGI/SON)

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/04283966/Ini.Rekomendasi.untuk.Kasus.Penyerangan.Lapas.Cebongan

Ini Rekomendasi untuk Kasus Penyerangan Lapas Cebongan
Imanuel More | Senin, 25 Maret 2013 | 04:28 WIB

TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
Sejumlah anggota kepolisian berjaga di depan pintu masuk Lapas Cebongan di Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013). Pada Sabtu dini hari terjadi penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata yang menewaskan empat orang tersangka pelaku pembunuhan di Hugos Cafe yang dititipkan oleh Polda DI Yogyakarta di Lapas tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) telah mengumpulkan data lapangan terkait peristiwa penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Dari data-data tersebut, Kontras bersama Imparsial dan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menelurkan beberapa rekomendasi bagi pemerintah dan kepolisian.

“Harus ada proses hukum terhadap tindakan kejam ini secara transparan,” kata Haris Azhar, Koordinator Kontras di Kantor Imparsial, Jakarta, Minggu (24/3/2013).

Haris menjelaskan, kasus-kasus yang melibatkan anggota TNI sejauh ini jarang mendapatkan sanksi yang jelas. Kondisi ini menyebabkan anggota TNI merasa kebal terhadap hukum, termasuk bila tindak kriminal yang dilakukan menjadikan warga sipil sebagai korban. “Kedua, penggunaan alat-alat tempur, senjata api laras panjang perlu diselidiki lebih jauh,” kata Haris.

Haris yang baru kembali dari Yogyakarta menerangkan Polda DIY telah memiliki alat bukti berupa 30 selongsong peluru yang diperoleh dari lokasi penyerangan. Dia berharap penyidik segera melakukan uji balistik untuk untuk mengidentifikasi jenis dan pengguna senjata api.

“Ketiga, perlu diuji tentang mobilisasi pasukan. Adakah komandan-komandan kecil yang memobilisasi pasukan? Adakah kelompok yang memanfaatkan persenjataan kesatuan?” kata Haris.

Walaupun sudah ada bantahan resmi dari Panglima Kodam IV Diponegoro Mayjen TNI Hardiono Saroso terkait keterlibatan prajurit TNI dalam penyerangan, Haris menilai penyidik masih perlu mendalami dugaan kuat tersebut.

Menurut Haris, pemeriksaan kepala-kepala satuan oleh Pangdam belum tentu telah mampu mengungkap fakta sebenarnya. Dengan teknik penyerangan yang terkesan rapi dan dilakukan orang-orang terlatih.

Karena itu, Haris berharap penyidik kepolisian bekerja profesional dalam mengungkap identitas kelompok penyerang. Kontras juga memiliki rekomendasi terkait Polda DIY. Haris beranggapan, peran polda perlu dipertanyakan, terutama terkait pemindahan tahanan dari ruang tahanan polda ke LP Cebongan.

Hal itu dinilai sebagai pilihan yang tidak lazim. Selain itu, polisi diduga khawatir akan terulangnya kejadian penyerangan Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Karena itu, ke-11 tahanan terkait penusukan anggota TNI dipindahkan ke LP.

“Atau, apa polisi sudah tahu lebih dulu akan ada eksekusi terhadap ke-4 korban? Yang berikut, kenapa pelimpahan tahanan tidak diikuti backup pengamanan?” kata Haris.

Empat orang tewas dalam peristiwa penyerangan di Lapas Cebongan pada Sabtu (23/3/2013) dini hari, adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Keempat orang itu diketahui sebagai tahanan Polda DIY dalam kasus pembunuhan anggota TNI di Hugo’s Cafe Maguwoharjo, Sleman, pada Selasa (19/3/2013) malam.

Editor : Benny N Joewono

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/07542141/Ini.Kronologi.Penyerangan.Lapas.Sleman.Versi.Kontras

Ini Kronologi Penyerangan Lapas Sleman Versi Kontras
Dian Maharani | Senin, 25 Maret 2013 | 07:54 WIB

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Koordinator Kontras Haris Ashar

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) mendatangi Lembaga Pemasyarakatan Cebongan (LP Cebongan), Sleman, Yogyakarta, untuk melakukan investigasi insiden penyerangan LP oleh kelompok bersenjata tak dikenal. Wawancara langsung dilakukan dengan Kepala Lapas Sukamto dan para saksi lainnya. Berikut runtutan peristiwa dimulai dari tewasnya seorang anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Selasa (19/3/2013)
Terjadi pengeroyokan yang menewaskan anggota Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo, yakni Sersan Satu (Sertu) Santoso (31). Pengeroyokan yang menewaskan Santoso terjadi di Hugo’s Cafe, Sleman, Yogyakarta, Selasa pukul 02.45 dini hari. Berdasarkan hasil penyelidikan, pengeroyokan itu awalnya dipicu senggolan korban dan tersangka, lalu terjadi adu mulut. Santoso pun tewas karena ditusuk.

Kemudian, kurang dari 24 jam, Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menangkap empat tersangka di tiga lokasi berbeda, pukul 14.00. Keempatnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Rabu (20/3/2013)
Keempat tersangka yang semula ditahan di Polres Sleman dipindahkan ke tahanan Polda DI Yogyakarta.

Jumat (22/3/2013)
Hanya sehari di Polres Sleman dan beberapa hari di Polda DI Yogyakarta, keempat tahanan bersama beberapa tahanan lainnya dipindahkan ke LP Cebongan, Sleman, pukul 11.00. Kuasa hukum tersangka mengaku tidak mengetahui pemindahan tersebut. Kepolisian beralasan, ruang tahanan Polda DIY sedang dalam renovasi.

Koordinator Kontras, Haris Azhar, yang melakukan investigasi menuturkan, berdasarkan keterangan saksi, pihak LP sempat mempertanyakan alasan pemindahan tersangka. Pihak LP, menurut Haris, telah memiliki firasat buruk karena 4 dari 11 tersangka yang dipindahkan adalah tersangka pembunuh Kopassus.

“Ada firasat atau dugaan buruk, takut peristiwa penyerangan di Mapolsek OKU terulang,” kata Haris.

Saat pihak LP mempertanyakan alasan pemindahan, jawaban hanya datang dari seorang kepala unit (kanit) yang menyatakan Polda DIY akan memberikan pengamanan di LP. Sukamto kemudian menduga Polda DIY telah memberikan back-up dengan mengirim tim intelijen. Hingga malam hari, LP tersebut hanya dijaga sekitar 8 orang. Pemindahan tahanan secara cepat itu pun dinilai janggal. Pihak Polda DIY diduga kuat sebelumnya telah mengetahui akan ada penyerangan terhadap empat pelaku.

Sabtu (23/3/2013)
Sekitar pukul 00.30, dua petugas di meja piket LP didatangi seseorang yang menunjukkan surat dan mengaku dari Polda DIY. Orang tersebut mengatakan ingin berkoordinasi tentang tahanan yang baru dilimpahkan ke LP Cebongan. Petugas piket kemudian langsung memanggil kepala keamanan. Kepala keamanan itu langsung bergegas ke pintu depan untuk menanyakan maksud kedatangan.

Namun, saat pintu dibuka, sudah ada sekitar 17 orang dengan wajah ditutup dan menenteng senjata laras panjang. Mereka yang mengenakan pakaian bebas itu memaksa untuk masuk ke LP. “Mereka menodongkan senjata dan beberapa di antaranya menjaga atau menyandera penjaga LP. Kelompok itu juga mengancam akan mengebom LP,” ungkap Haris.

Mereka langsung menanyakan di mana letak tahanan yang baru saja dilimpahkan oleh Polda DIY. Penjaga LP yang mengaku tidak tahu langsung dianiaya dan dipaksa memberi tahu. Petugas LP diseret secara paksa untuk menujukkannya. Akhirnya, seorang petugas memberi tahu para tahanan berada di sel 5a. Kelompok bersenjata mengambil paksa kunci sel dan meminta petugas LP untuk mengantar ke sel.

Setelah sampai di sel 5a, terdapat 35 tahanan, termasuk empat tersangka pembunuhan anggota Kopassus. Sesorang itu langsung menanyakan siapa empat orang yang menjadi tersangka pembunuhan anggota Kopassus. “Terjadi kepanikan dan kegaduhan di dalam sel tersebut hingga empat orang itu terpisah,” kata Haris.

Seseorang berbadan tegap itu pun langsung menembak empat tersangka hingga tewas di hadapan tahanan lainnya. Menurut Haris, berdasarkan keterangan saksi, pelaku penembakan empat tersangka hanya satu orang. “Eksekutor empat orang itu hanya satu orang,” katanya.

Selain itu, pelaku lainnya juga meminta paksa petugas LP untuk menunjukkan tempat kontrol CCTV. Petugas LP mengatakan hal itu hanya diketahui Kepala LP. Ruang Kepala LP berada di lantai dua. Pelaku kemudian mendobrak pintu yang bertuliskan “Kepala Lapas” dan merusak sekaligus mengambil kelengkapan CCTV. Penyerangan secara keseluruhan diperkirakan hanya berlangsung selama 15 menit. Ada seorang pelaku yang diduga berperan sebagai time keeper.

“Ada saksi yang mengaku melihat seorang penyerang terus melihat jam di tangannya,” terangnya.

Keterangan lain, penyerang diduga memasuki LP dengan melompat pagar sebab LP dikunci. Sementara itu, warga sekitar berdasarkan keterangannya mengaku mendengar suara tembakan dan melihat ada tiga truk parkir dekat LP. LP berada pada daerah yang sepi dari lingkungan permukiman penduduk. Sisi jalan juga tidak dilengkapi dengan lampu penerangan.

Penyerangan terencana

Dari hasil investigasi, penyerangan terlihat sangat terencana. Penyerangan juga diduga dilakukan kelompok bersenjata yang profesional. Pembagian tugas pelaku penyerangan telah diatur dengan estimasi waktu penyerangan hanya 15 menit. “Ini seperti operasi buntut kuda. Yang masuk LP ada sekitar 17 orang, tapi yang mengeksekusi hanya satu,” kata Haris.

Direktur Program Imparsial Al-Araf meyakini pelaku berasal dari kelompok terlatih dengan penggunaan senjata. Menurut keterangan kepolisian, pelaku membawa senjata AK 47, jenis FN, dan granat. “Penyerangan ini tentunya dilakukan secara terorganisasi, terencana, terlatih, dan memiliki kapasitas penggunaan senjata secara profesional,” terangnya.

Dari rangkaian peristiwa itu diduga kuat, penyerangan dilakukan dengan motif balas dendam. Banyak pihak kemudian menduga pelaku penyerangan adalah anggota TNI sendiri. Meski masih dalam tahap penyelidikan, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso langsung membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus.

Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/1230470/Kapolri.Evaluasi.Penyerangan.Lapas.Sleman

Kapolri Evaluasi Penyerangan Lapas Sleman
Dian Maharani | Senin, 25 Maret 2013 | 12:30 WIB

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Timur Pradopo mengaku terus melakukan evaluasi terhadap peristiwa penyerangan kelompok bersenjata di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Saat ini kepolisian masih melakukan penyelidikan atas kasus yang menewaskan empat tahanan tersebut.

“Tentunya kita kerja sama dengan semua stakeholder, terutama dengan pihak Lembaga Pemasyarakatan. Terus kita evaluasi dari kejadian-kejadian kemarin,” kata Timur di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (25/3/2013).

Menurut Timur, anggotanya tengah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara mendalam. Dia meminta berbagai pihak untuk sabar menunggu hasil penyelidikan secara menyeluruh. “Olah TKP perlu kecermatan, kemudian perlu dukungan laboratorium sehingga kita belum bisa menyampaikan secara lengkap, utuh. Yang jelas kita konsentrasi olah TKP dengan dukungan laboratorium forensik,” terangnya.

Proses pemindahan tahanan dari Polres Sleman, Polda DIY, hingga akhirnya ke lapas Cebongan, Sleman juga masih dievaluasi. “Sampai proses ini dititipkan di lapas, ini juga bagian daripada pemeriksaan,” katanya.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (233/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, 19 Maret 2013 lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari. Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV.

Aksi itu pun hanya berlangsung 15 menit. Kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian. Namun Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.?

Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/12370110/TNI.di.Balik.Lapas.Sleman.Apa.Kata.Panglima.TNI.

TNI di Balik Lapas Sleman, Apa Kata Panglima TNI?
Sandro Gatra | Senin, 25 Maret 2013 | 12:37 WIB

KOMPAS/AGUS SUSANTO Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono

JAKARTA, KOMPAS.com – Berbagai pihak menduga ada keterlibatan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, yang lalu membunuh empat tahanan. Bagaimana tanggapan pihak TNI?

“Kalau masyarakat berpandangan seperti itu, menganalisis sendiri, itu hak mereka, boleh-boleh saja,” kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (25/3/2013).

Meski demikian, Panglima meminta kepada semua pihak untuk menyerahkan proses penyelidikan kepada Kepolisian. Pihaknya tidak terlibat dalam penyelidikan lantaran kewenangan Kepolisian. Tidak ada pula penyelidikan internal TNI.

“Nanti kalau Kepolisian mengarah kepada ada anggota saya yang terlibat, kalau ada yah, itu pasti kita akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kita tunggu hasilnya dari Kepolisian,” kata Agus.

Sebelumnya, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lembaga pemasyarakatan tersebut. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, Selasa lalu.

Mereka mengancam meledakkan lembaga pemasyarakatan (LP) ketika permintaan ditolak pihak LP. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas LP menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit.

Kasus itu masih dalam penyelidikan Kepolisian. Hanya, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga membantah.

Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/14313861/BIN.Penembakan.di.Sleman.Tak.Bisa.Ditoleransi.

BIN: Penembakan di Sleman Tak Bisa Ditoleransi
Sandro Gatra | Senin, 25 Maret 2013 | 14:31 WIB

RODERICK ADRIAN MOZES
Kepala Badan Intelijen Letjen Negara Marciano Norman

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman mengatakan, penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, tidak bisa ditoleransi. Penegakan hukum terhadap perkara itu, kata Marciano, harus dikedepankan.

“Mari kita memberi dukungan kepada kepolisian untuk melakukan proses penyelidikan supaya nanti kita mendapatkan informasi yang terbaik,” kata Marciano di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (25/3/2013).

Marciano mengatakan, siapa saja bisa menduga bahwa para pelaku anggota TNI. Hanya, kata dia, dugaan itu harus dibuktikan melalui suatu proses hukum. Marciano meminta agar semua pihak menunggu hasil penyelidikan hingga para pelaku tertangkap.

Ketika ditanya apakah sudah ada informasi terkait senjata api yang digunakan para pelaku, Marciano menjawab, “Kan kemarin sudah dikatakan itu adalah kaliber 7,62. Setahu saya, itu sudah bukan standar TNI lagi.”

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, Selasa (19/3/2013) lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit.

Kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian. Hanya, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniarto juga membantah.

Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/16444427/Wakapolri.Pelaku.Penyerangan.Tunggu.Penyidikan.Polisi.

Wakapolri: Pelaku Penyerangan? Tunggu Penyidikan Polisi!
Dian Maharani | Senin, 25 Maret 2013 | 16:44 WIB

cha
Wakapolri Komisaris Jenderal (Pol) Nanan Soekarna.

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Nanan Sukarna meminta semua pihak tidak menuding siapapun sebagai pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Penyelidikan polisi masih berjalan.

“Jadi jangan suudzon dulu. Siapa pelakunya kita lihat dari hasil di TKP, hasil penyelidikan seperti apa dan siapa pelakunya,” kata Nanan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (25/3/2013). Menurutnya, opini tidak dapat digunakan dalam proses penegakan hukum.

Hasil penyelidikan, tegas Nanan, harus didapatkan dari olah tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan para saksi. “Jangan beropini, tapi dasar hukumnya yang harus ditegakkan. Prosedur justice system-nya harus jelas sesuai prosedur olah TKP,” terangnya.

Saat ini polisi masih meminta keterangan para saksi dan melakukan uji balistik pada proyektil yang ada di TKP. Nanan menegaskan, kepolisian akan menindak tegas siapapun pelakunya, termasuk bila berasal dari militer. “Setiap pelaku kejahatan, siapapun, harus ditindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Nanan.

Seperti diberitakan, sekelompok orang bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DIY, sambil menunjukkan surat berkop polda.

Semula, mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, 19 Maret 2013 lalu. Namun, ketika petugas lapas menolak permintaan itu, mereka mengancam meledakkan lapas.

Akhirnya, petugas membukakan pintu, dan belasan orang berpenutup wajah masuk. Mereka menyeret petugas lapas untuk menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Sebelum kabur, kelompok penyerang ini juga membawa rekaman CCTV. Aksi tersebut hanya berlangsung 15 menit.

Polisi masih menyidiki aksi penyerangan dan pembunuhan ini. Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

Berita terkait dapat dibaca dalam topik: Penyerangan Lapas di Sleman

Editor : Palupi Annisa Auliani

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/16573227/Instruksi.SBY.Cari.Pelaku.Penyerangan.Sampai.Ketemu.

Instruksi SBY: Cari Pelaku Penyerangan Sampai Ketemu!
Sandro Gatra | Senin, 25 Maret 2013 | 16:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan kepada Kepolisian untuk menangkap seluruh pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta. Proses hukum harus sampai ke pengadilan.

“Siapapun pelakunya harus dicari sampai ketemu dan dibawa ke pengadilan. Instruksinya (Presiden) seperti itu,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/3/2013).

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin meminta kepada semua pihak untuk menyerahkan penanganan perkara itu kepada Kepolisian. Ia berharap agar jangan ada spekulasi terkait siapa para pelaku tersebut.

Amir mengaku, tak tahu alasan keempat tersangka dititipkan Kepolisian ke Lapas Cebongan. Pihaknya hanya memberikan fasilitas yang dibutuhkan Kepolisian. “Penyidik menitipkan tersangka di rutan kami sudah biasa. Kami hanya melayani apa yang dibutuhkan,” kata Amir.

Sebelumnya, sekelompok orang bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DIY, sambil menunjukkan surat berkop polda.

Semula, mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), di Hugo’s Cafe, 19 Maret 2013. Namun, ketika petugas lapas menolak permintaan itu, mereka mengancam meledakkan lapas.

Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang berpenutup wajah masuk. Mereka menyeret petugas lapas untuk menunjukkan empat tahanan yang dicari.
Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Awalnya, keempat tersangka tersebut ditahan di Polres Sleman, lalu dipindahkan ke Polda DI Yogyakarta pada 20 Maret 2013. Pada Jumat 22 Maret 2013, mereka dipindahkan ke Lapas Cebongan.

Sebelum kabur, kelompok penyerang ini juga membawa rekaman CCTV. Aksi tersebut hanya berlangsung 15 menit.

Polisi masih menyidik aksi penyerangan dan pembunuhan ini. Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

Berita terkait dapat dibaca dalam topik: Penyerangan Lapas di Sleman

Editor : Palupi Annisa Auliani

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/17065437/Bantah.Pangdam.Diponegoro.Terkesan.Menutupi

Bantah, Pangdam Diponegoro Terkesan Menutupi
Sandro Gatra | Senin, 25 Maret 2013 | 17:06 WIB

Achmadbasarah.com
Wakil Sekjen PDI Perjuangan Achmad Basarah

JAKARTA, KOMPAS.com – Bantahan keterlibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, lalu membunuh empat tahanan disesalkan. TNI seharusnya tidak boleh membantah sampai penyelidikan selesai dan para pelakunya tertangkap.

“Pangdam Diponegoro terburu-buru menyatakan para pelaku bukan anggota TNI. Padahal, penyelidikan belum selesai dilakukan. Sikap Pangdam Diponegoro terkesan menutup-nutupi dan ingin melindungi anak buahnya. Seharusnya Pangdam lebih memikirkan keselamatan rakyat dan bangsanya daripada melindungi anak buahnya yang salah,” kata Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Ahmad Basarah, ketika dihubungi, Minggu (24/3/2013 ). Pernyataan ini dia sampaikan menyikapi sanggahan Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso, yang mengatakan tidak ada prajurit TNI yang terlibat penyerangan itu.

Seperti diberitakan, sekelompok orang bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DIY, sambil menunjukkan surat berkop polda.

Semula, mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), di Hugo’s Cafe, 19 Maret 2013 lalu. Namun, ketika petugas lapas menolak permintaan itu, mereka mengancam meledakkan lapas.

Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup wajah masuk. Mereka menyeret petugas lapas untuk menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Sebelum kabur, kelompok penyerang ini juga membawa rekaman CCTV. Aksi tersebut hanya berlangsung 15 menit.

Melihat aksi penyerangan itu, Basarah menduga aksi dilakukan oleh oknum anggota TNI. Peristiwa tersebut, kata politisi PDI Perjuangan tersebut sangat mengerikan dan mencemaskan masyarakat umum. Untuk itu, Polri harus dapat mengusut tuntas dan menyerahkan para pelaku ke pengadilan.

“Jika benar dan terbukti para pelaku penyerbuan adalah oknum-oknum TNI, ini merupakan gejala yang membahayakan keselamatan bangsa dan negara,” pungkas Basarah.

Polisi masih menyidik aksi penyerangan dan pembunuhan ini. Selain Hardiono, bantahan keterlibatan anggota TNI pun belum-belum telah dinyatakan Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto.

Basarah menambahkan, Kepolisian juga harus menindak dan menuntaskan berbagai aksi premanisme yang semakin brutal di berbagai daerah. Ia mempertanyakan keselamatan warga sipil jika para preman berani melawan, bahkan membunuh anggota TNI.

“Jika Kepolisian tidak mampu menghadapi aksi brutalisme dan premanisme, silahkan meminta bantuan TNI karena diperbolehkan oleh undang-undang. TNI dan Polri harus menjaga kekompakan dan kerjasama yang baik terutama menghadapi Pemilu 2014 . Jika TNI dan Polri tidak solid akan mudah dimanfaatkan,” pungkas dia.

Berita terkait dapat dibaca dalam topik: Penyerangan Lapas di Sleman

Editor : Palupi Annisa Auliani

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/18474459/Istri.Korban.Hugo.s.Sedang.Hamil.8.5.Bulan

Istri Korban Hugo’s Sedang Hamil 8,5 Bulan
Edna C Pattisina | Senin, 25 Maret 2013 | 18:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Istri Sertu Santoso, anggota Kodim yang tewas ditikam di Hugo’s, Sleman, Yogyakarta, tidak ingin mengomentari insiden yang menimpa suaminya yang juga anggota Kopassus itu. Ia ingin menjaga kehamilannya yang pada 19 April mendatang berusia sembilan bulan.

“Awal bulan Maret, waktu Abang pulang, cuma pesan, namanya jadi nama belakang bayi ini,” kata Iin, yang saat dihubungi lewat telepon sedang menunggu dokter. Ia mengatakan, tidak tahu kejadian apa yang telah menimpa suaminya.

“Bujangan-bujangan teman Abang bilang, Abang tidak pernah ke diskotek. Nyanyi saja tidak bisa,” ujar Iin.

Teman-teman Santoso juga bercerita, Santoso tidak punya musuh. Minum minuman keras pun ia hampir tidak pernah karena memang tidak kuat.

Bagi Iin yang menikah awal tahun 2012, Santoso adalah sosok suami yang sabar. Ia tidak pernah memukul atau mengucapkan kata-kata kasar. Kalau marah, biasanya dilakukan dengan gaya menasihati.

Ia tidak ingin mengomentari insiden penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan yang menewaskan empat penikam suaminya. “Saya tidak tahan. Saya tidak tahu. Siapa sih yang ingin musibah ini terjadi?” katanya dengan nada getir.

Editor : Nasru Alam Aziz

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/19583542/Sebelum.Tahanan.Dipindah.Kapolda.Minta.Jaminan.Keamanan.dari.Pangdam

Sebelum Tahanan Dipindah, Kapolda Minta Jaminan Keamanan dari Pangdam
Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma | Senin, 25 Maret 2013 | 19:58 WIB

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman di Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, Senin (25/3/2013).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Olah tempat kejadian perkara (TKP) kasus penyerangan Lapas Kelas IIB Cebongan Sleman oleh gerombolan bersenjata dan menewaskan empat tersangka penganiayaan di Hugos Cafe, telah selesai. Hal ini diungkapkan Kapolda DIY, Brigjen Pol Sabar Raharjo saat ditemui di Mapolda DIY, Senin (25/03).

“Olah TKP sudah selesai, namun untuk mengaitkan hasil olah TKP ke proses penyelidikan masih sulit. Sampai saat ini kami dalam proses menganalisa,” terang Kapolda DIY Brigjen Pol Sabar Raharjo.

Ia menjelaskan bahwa ini masih hasil penyelidikan sementara. Untuk pengungkapan secara cepat masih sulit dan membutuhkan waktu yang lama.

Kapolda DIY mengaku setelah kejadian penganiayaan di Hugos Cafe Selasa (19/03) yang menyebabkan Sertu Santoso meninggal dunia, ia dihubungi Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso agar segera menangkap pelaku penganiayaan. Pihaknya akhirnya bisa menangkap empat tersangka.

Ketika dikonfirmasi mengenai pemindahan keempat tersangka dari Tahanan Polda ke Lapas kelas IIB Cebongan, Sleman, Sabar menyatakan hal itu sudah tepat karena kondisi ruang tahanan di Polda sedang direnovasi. Sebelum pemindahan, Kapolda DIY juga sudah berkoordinasi dengan Danrem dan Pangdam.

“Saya pindahkan, tolong dijamin keamanannya. Tidak masalah, silakan dipindahkan,” ucap Sabar mengulangi komunikasinya dengan Pangdam pada Jumat (22/3/2013) malam sebelum penyerangan di LP Cebongan.

Kapolda lewat wakapolda telah minta bantuan ke Danrem dan Pangdam untuk melakukan pengamanan. Menurutnya Pangdam juga sudah memerintahkan anggotanya untuk patroli ke LP Cebongan.

Sebelumnya Kepala Lapas Cebongan dan Kepala Kanwil Kemenkumham menyatakan telah menghubungi Kapolda untuk meminta bantuan keamanan, namun Kapolda mengaku bahwa ia tidak mendapat permintaan apapun.

“Ajudan yang berpikir saya tidur. Ia tidak berani mengetuk dan memberitahu,” katanya.

Editor : Farid Assifa

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/20343781/Senjata.Pelaku.Tunggu.Hasil.Uji.Balistik.Pekan.Depan

Senjata Pelaku Tunggu Hasil Uji Balistik Pekan Depan
Dian Maharani | Senin, 25 Maret 2013 | 20:34 WIB

TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
Sejumlah anggota kepolisian berjaga di depan pintu masuk Lapas Cebongan di Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013). Pada Sabtu dini hari terjadi penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata yang menewaskan empat orang tersangka pelaku pembunuhan di Hugos Cafe yang dititipkan oleh Polda DI Yogyakarta di Lapas tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepolisian melakukan uji balistik atas selongsong peluru maupun proyektil yang ditemukan dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Hasil uji balistik akan diketahui pekan depan.

“Hasil uji akan diserahkan rumah sakit seminggu lagi,” kata Kepala Bidang Humas Polda DI Yogyakarta AKPB Anny Pujiastuti, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (25/3/2013). Dari hasil olah TKP kepolisian menemukan 31 selongsong peluru, termasuk 19 proyektil ukuran 7,62 mm.

Hasil uji balistik yang dilakukan Pusat Laboratorium Forensik Polri diharapkan dapat mengungkap senjata yang digunakan pelaku untuk menembak korban. “Jenis (senjata) apa masih dalam identifikasi,” kata Anny.

Berdasarkan keterangan saksi sebelumnya, pelaku menggunakan senapan AK-47 dan pistol FN. Salah satu korban bernama Diki diketahui ditembak sebanyak 12 kali. Menurut keterangan saksi, pelaku penembakan hanya satu orang.

Seperti diberitakan, sekelompok orang bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Semula, mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), di Hugo’s Cafe, 19 Maret 2013 lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak petugas lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang berpenutup wajah masuk. Mereka menyeret petugas lapas untuk menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu pun hanya berlangsung 15 menit.

Kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian. Namun, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

Berita terkait dapat dibaca dalam topik: Penyerangan Lapas di Sleman

Editor : Palupi Annisa Auliani

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/21045211/Seribu.Lilin.Tuntut.Penangkapan.Pelaku.Penembakan.Lapas.Sleman.

Seribu Lilin Tuntut Penangkapan Pelaku Penembakan Lapas Sleman
Kontributor Timor Barat, Sigiranus Marutho Bere | Senin, 25 Maret 2013 | 21:04 WIB

KOMPAS.COM/SIGIRANUS MARUTHO BERE
Puluhan Alumnus IKTTU Yogyakarta Sementara Menyalakan 1000 Lilin di Tugu Biinmaffo Kilometer 9 Kefamenanu, Kabupaten TTU, NTT

KEFAMENANU, KOMPAS.com – Menuntut polisi segera menangkap pelaku penembakan empat warga Provinsi Nusa Tenggara Timur di sel 5A blok Anggrek Lembaga Pemasyarakataan (Lapas), Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dinihari, puluhan alumni Ikatan keluarga Besar Timor Tengah Utara (IKTTU) menggelar aksi menyalakan 1.000 lilin di tugu Biinmaffo kilometer 9 Kefamenanu, TTU, Senin (25/3/2013).

“Kami minta pengusutan kasus ini sampai tuntas, dan dapat dipublikasikan,” kata Koordinator aksi Ricky Thaal, saat ditemui Kompas.com di tempat aksi berlangsung, Senin (25/3/2013) malam. Dia mengatakan aksi itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas karena empat orang korban itu adalah para senior mereka di Yogyakarta, yang tergabung dalam ikatan Fobamora.

Ricky pun berharap para pelaku penembakan tersebut dapat segera tertangkap. “Sehingga kasus ini bisa diketahui siapa sebenarnya pelakunya,” ujar dia.

Aksi penembakan itu disesalkan, karena tejadi di lingkungan lembaga pemasyarakaratan dengan pengamanan ketat. “Besok utusan kami sekitar lima orang alumnus IKTTU berencana akan ke Kupang menghadiri pemakaman para korban yang direncanakan berlangsung besok,” kata Ricky.

Diberitakan sebelumnya empat korban yang tewas yakni Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, Adrianus Candra Galaga, Yohanes Juan Manbait, Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu. Mereka merupakan tersangka pelaku penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya anggota Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sersan Satu Santoso.

Empat tahanan itu tewas di ruang tahanan dengan luka tembak setelah sekelompok orang berpenutup muka dan bersenjata memaksa memasuki lapas, kemudian mencari penjaga dan memaksa untuk masuk ke dalam sel. Setelah masuk, mereka memaksa penjaga menunjukkan ruang tahanan keempat tahanan titipan polisi ini.

Editor : Palupi Annisa Auliani

http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/22214226/Polisi.Belum.Ungkap.Jenis.Senjata

Penembakan Lapas Sleman
Polisi Belum Ungkap Jenis Senjata
Aloysius Budi Kurniawan | Senin, 25 Maret 2013 | 22:21 WIB

Kompas/Raditya Mahendra Yasa
Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman di Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, Senin (25/3/2013).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Polisi menemukan 31 butir proyektil serta selongsong peluru di tubuh empat korban dan sekitar ruang tahanan Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman, dari hasil olah tempat kejadian perkara. Akan tetapi, polisi belum bersedia mengungkapkan jenis senjata apa yang digunakan para pelaku.

“Itu masih kami rahasiakan, tidak kami buka dahulu, masih dianalisis oleh laboratorium forensik Mabes Polri,” kata Kapolda DIY Brigadir Jenderal (Pol) Sabar Rahardjo, Senin (25/3/2013) di Mapolda DI Yogyakarta.

Sebanyak 31 butir proyektil dan selongsong peluru yang ditemukan di tubuh empat korban penembakan serta ruang tahanan tempat penembakan merupakan jenis peluru kaliber 7,62 milimeter.

Berdasarkan kesaksian para sipir Lapas Cebongan, pada penembakan Sabtu (23/3/2013) lalu, para pelaku menggunakan senapan laras panjang.

Editor : Agus Mulyadi

http://budisansblog.blogspot.com/2013/03/pesan-dari-cebongan.html

Pesan dari Cebongan
M Ali Zaidan  ;  Pengamat Hukum
KOMPAS, 26 Maret 2013

Sungguh ironis. Nyawa empat orang yang tengah tertidur pulas saat menjalani proses hukumnya hilang kena muntahan peluru segerombolan orang yang datang menyerbu.

Proses hukum suatu peristiwa kekerasan didahului pula dengan kekerasan. Kekejian dilawan dengan kekejian. Maka, kekerasan pun dilanggengkan ketika sekelompok orang mempertontonkan kekuatan di arena publik. Aksi mereka disaksikan para sipir dan puluhan penghuni lembaga pemasyarakatan, yang bisa menimbulkan trauma panjang.

Serangan pada pagi buta dan menelan korban jiwa itu jelas dilakukan secara terukur karena para korban belum berapa lama dipindah dari tahanan polda. Pelaku jelas telah mempelajari seluk-beluk rumah penjara itu sehingga mereka mudah melumpuhkan penjagaan dengan sistem pengamanan cukup canggih.

Pelaku berada dalam spiral kekerasan yang begitu rapi sehingga pengusutan pasti tak mudah. Johann Galtung pernah menyebut bahwa kekerasan seperti ini merupakan bentuk kekerasan struktural, artinya kekerasan itu berlapis-lapis, berbentuk spiral sedemikian rupa sehingga tidak mudah menguraikannya, bahkan mungkin larut kembali dalam kekerasan. Pelaku dapat dipastikan menganut ideologi kekerasan ini sehingga kekerasan dibalas dengan kekerasan pula.

Pesan Simbolis

Di balik peristiwa itu dapat ditarik beberapa pesan. Pertama, semakin menguatnya budaya kekerasan di tengah masyarakat. Perdebatan mengkristal jadi tindakan. Apa yang diucapkan seseorang atau kelompok ditransformasikan menjadi tindakan.

Akar kekerasan yang telah tertanam kuat di ranah kognitif akan menjelma di wilayah faktual. Jadilah tindakan main hakim sendiri, sikap yang tidak mau mengalah, bahkan menonjolkan kelompoknya dengan menyubordinasikan kelompok lain. Kekerasan yang terjadi di Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, beberapa waktu lalu adalah manifestasi dari ideologi ini.

Kedua, lemahnya fundamental hukum. Hukum hanya dipandang sebagai subordinasi kekuasaan. Tellyrand beberapa waktu lalu pernah mengibaratkan kekuasaan laksana bayonet. Menurut dia, banyak yang dapat dilakukan dengan sebilah bayonet kecuali duduk di atasnya. Artinya, kekuasaan cenderung digunakan untuk melukai pihak lain, tetapi tumpul ketika berhadapan dengan kekuasaan itu sendiri. Putusan-putusan hukum terkadang gagal, khususnya untuk memberikan keadilan (bringing justice to the people) dan bahkan gagal memberikan pendidikan hukum kepada masyarakat luas.

Sarana Berkuasa

Hukum hanya dipandang sebagai sarana di tangan kelompok berkuasa untuk menggulung kelompok lain yang tidak berdaya. Kita telah menyaksikan bagaimana lembaga hukum dengan susah payah menggiring pelaku korupsi, tetapi ujungnya hanya hukuman beberapa tahun. Sebaliknya, kelompok marjinal dihukum berat untuk tindak pidana ringan.

Badan dunia seperti PBB telah berulang kali menyerukan kepada negara-negara anggotanya untuk berpihak kepada kelompok rentan ini. United Nations Congress on Prevention of Crime and Criminal Justice pada 2010 telah merekomendasikan upaya keberpihakan ini. Hukum tidak jarang melakukan kriminalisasi terhadap kelompok yang papa dan justru dengan memberikan perlindungan kepada kelompok yang kuat.

Peristiwa yang tengah kita saksikan di LP Cebongan adalah tindakan yang bersifat extrajudicial. Itu artinya merupakan tindakan main hakim sendiri yang berlangsung secara biadab. Siapa pun pelakunya harus ditangkap dan diusut secara hukum. Ironis bahwa kejadian tersebut justru berlangsung di dalam lembaga hukum.

Peristiwa Cebongan mengisyaratkan ada ketidakadilan yang harus dituntaskan. ●

http://budisansblog.blogspot.com/2013/03/hukum-rimba.html

http://doa-bagirajatega.blogspot.com/2013/03/hukum-rimba-azyumardi-azra.html

Hukum Rimba
Azyumardi Azra;
Guru Besar Sejarah;
Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta dan Anggota Dewan Penasihat International Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA), Stockholm

KOMPAS, 26 Maret 2013

Serbuan sekitar 17 orang yang disebut petinggi TNI AD di Jateng sebagai ”gerombolan” bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat ke Lapas Cebongan, Sleman, DIY, Sabtu (23/3) dini hari, agaknya adalah indikasi ”paling sempurna” tentang kian merajalelanya hukum rimba di negeri ini.

Mengambil hukum ke tangan mereka (taking into their hands), ”gerombolan” tersebut menewaskan empat orang asal Nusa Tenggara Timur, tahanan titipan Polri yang merupakan tersangka pengeroyokan yang menewaskan anggota Kopassus TNI AD, Sertu Santoso, Selasa (19/3), di sebuah kafe di Sleman.

Sebelumnya, Kamis (7/3), masih segar dalam ingatan, sejumlah oknum TNI AD Armed 76/15 Martapura menyerbu kompleks Markas Polres Ogan Komering Ulu (OKU). Serbuan ini meluluhlantakkan sebagian bangunan beserta peralatan kantor dan arsip, puluhan motor dan mobil, serta menewaskan satu orang sipil. Aksi ini adalah buntut dari tewasnya anggota TNI AD dari satuan tersebut, Pratu Heru, oleh Brigadir Wijaya, anggota Satlantas Polri, Minggu (27/1). Tak sabar menunggu proses hukum yang sedang dilakukan polda di Palembang, kumpulan anggota TNI AD tersebut menjalankan hukum rimba.

Lampu Merah

Hukum rimba jelas kian merajalela di berbagai pelosok negeri ini sehingga dapat dikatakan sudah mencapai tingkat ”lampu merah”. Meruyaknya hukum rimba telah menjangkiti berbagai lapisan masyarakat, mulai dari perkampungan hingga pusat keramaian, seperti terminal bus atau pasar. Celakanya, hukum rimba juga mewabahi kalangan penegak hukum dan pemelihara keamanan yang memiliki senjata api yang dapat digunakan kapan saja.

Wabah main hakim sendiri terlihat jelas seiring dengan merosotnya kewibawaan negara dan penegak hukum pasca-pemerintahan Soeharto, khususnya beberapa tahun terakhir. Sangat banyak kasus hukum rimba yang dipertontonkan oleh ”massa tidak dikenal” (anonymous mass) terhadap orang yang dicurigai sebagai pencopet di terminal atau pencuri di perkampungan dan kompleks perumahan. Massa mengamuk, menggebuki atau membakar orang-orang yang tercurigai sampai mati. Hukum rimba juga terlihat di jalan raya ketika bus kota dan kendaraan pribadi melindas pengguna jalan lain. Massa anonim dengan segera merusak dan membakar kendaraan tersebut di bawah tatapan petugas Polri yang seolah tidak berdaya apa-apa.

Hukum tak ada daya menghadapi massa yang main hakim sendiri. Hampir tidak ada penegakan hukum terhadap massa pelaku yang membunuh mereka yang tercurigai bakal atau telah melakukan aksi kriminalitas. Massa pelaku kekerasan dan hukum rimba pada praktiknya memiliki impunitas-kebal terhadap ketentuan dan sanksi hukum.

Berbeda dengan massa anonim yang menewaskan orang-orang tercurigai dengan pentungan, golok, atau bensin, mereka yang menjalankan hukum rimba di Mapolres OKU dan Lapas Sleman memegang senjata api (lethal weapons) dalam berbagai bentuk dan ukuran. Dengan menggunakan senjata api, hampir tidak ada orang atau petugas yang berani menghentikan aksi main hakim sendiri semacam itu, kecuali jika mereka mau menjadi sasaran tambahan atau siap ”perang” dalam skala yang sulit diduga.

Karena itu, bisa dibayangkan dampak dan akibat lebih jauh-selain kematian-dari aksi hukum rimba yang dimainkan kelompok bersenjata api. Secara psikologis, kian terlihat semacam kecanggungan lembaga dan aparat hukum lain berhadapan langsung dengan kelompok-kelompok bersenjata api. Sementara di kalangan masyarakat luas, tindakan main hakim sendiri oleh kelompok pemegang senjata api menimbulkan semacam ”psikologi ketakutan” (psychology of fear). Psikologi semacam ini memunculkan rasa tidak aman dan ketakutan yang kian mencekam dalam masyarakat luas.

Negara Gagal

Kian mewabahnya hukum rimba dan meluasnya keberantakan hukum (lawlessness) tidak ragu lagi merupakan salah satu indikator pokok negara gagal (failed state). Para pejabat tinggi Indonesia boleh saja amat gusar ketika Indonesia dikatakan secara moderat sebagai berada ”di tubir negara gagal” karena-mereka mengklaim-ekonomi Indonesia terus tumbuh lebih dari 6 persen per tahun, menjadi keajaiban yang hanya bisa dikalahkan oleh China dan India.

Akan tetapi, meminjam kesimpulan When States Fail: Causes and Consequences (ed Robert I Rotberg, 2003), negara gagal adalah negara yang tidak mampu memberi kebajikan umum (public good) kepada warga, khususnya keamanan atas harta benda dan jiwa. Pemerintah Indonesia beserta aparat hukum dan keamanan sejak dari pusat sampai daerah terlihat kian tidak mampu memenuhi tugas dan kewajiban delivering public good ini.

Jika Indonesia diproyeksikan lebih jauh ke dalam parameter ”negara gagal” ini, terlihat dari tidak adanya kemampuan dan kesungguhan menegakkan hukum; kegagalan mencegah kekerasan di antara kelompok masyarakat; ketidakmampuan menghentikan keresahan sosial ekonomi (socio-economic discontents) di antara kelompok warga berbeda atau di antara warga dan aparat negara atau bahkan sesama aparat negara.

Jika dilihat dalam parameter lebih lanjut, negara gagal adalah negara yang tidak mampu mencegah meningkatnya gerombolan kriminal terorganisasi (organized crime) atau premanisme, meluasnya penjualan narkoba, dan perdagangan manusia. Ketika aparat penegak hukum terlihat tidak mampu memberantas kriminalitas semacam itu, mereka kian kehilangan kredibilitasnya di mata warga. Akhirnya, kian sering mereka menjadi sasaran amuk massa yang menyerbu ke kantor kepolisian.

Mengapa sebuah negara yang secara ekonomi bisa bertumbuh dengan baik dapat terjerumus ke dalam labirin negara gagal? Hal ini terkait banyak dengan kegagalan kepemimpinan negara-yang kemudian menular ke daerah-dan menunjukkan komitmen yang tidak bisa ditawar pada penegakan hukum. Sekali para pejabat publik-baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif-terlihat oleh masyarakat luas dan anggota aparat keamanan/penegak hukum tidak sungguh-sungguh, tidak memiliki komitmen penuh, tidak berintegritas, tidak menyelaraskan perkataan dengan perbuatan, terciptalah keadaan anomie. Jika keadaan anomie yang disertai disorientasi dan dislokasi kian meluas dalam masyarakat, bisa dipastikan hukum rimba menjadi order of the day.  ●

http://budisansblog.blogspot.com/2013/03/titik-api-revolusi_1477.html

Titik Api Revolusi
Yudi Latif;
Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

KOMPAS, 26 Maret 2013

Apakah ini suatu déjàvu? Empat belas tahun setelah percobaan demokrasi liberal yang tak kunjung memenuhi kebutuhan rakyatnya, pada 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang menyatakan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Empat belas tahun setelah percobaan demokrasi liberal Era Reformasi yang tak kunjung memenuhi kebutuhan rakyatnya, pada 25 Maret 2013 gerakan perubahan menyerukan ganti rezim-ganti sistem, kembali ke Pancasila dan UUD 1945.
Suatu perubahan radikal memerlukan ”nabi” dan ”pemimpinnya”. Pada masa lalu, Soekarno sebagai pemimpin besar revolusi menjadi towering moral stature yang menggerakkan perubahan dari atas. Kini, ketika kita hidup dalam suatu era kemerosotan pusat teladan, gerakan perubahan tak lagi dipimpin oleh ”tokoh agung”, tetapi suatu jaringan kesadaran kolektif dari bawah.
Ini memang baru fajar kesadaran revolusioner. Perlu keteguhan keyakinan untuk menangkal keraguan. Suara kemapanan cenderung meyakini, aktivisme radikal sudah kasip. Begitu latah percaya bahwa tatkala kebanyakan orang lebih suka duduk berleha, mengisi pandangan hidupnya dengan suguhan televisi dan media sosial, aktivisme politik tidak perlu lagi berteriak dan berkeringat, cukup didelegasikan kepada mekanisme elektoral. Namun, jenis keyakinan yang juga pernah bergema pada akhir 1930-an, ketika gairah radikalisme-sosialisme menepi begitu dunia memasuki Perang Dunia II, nyatanya kembali bergelora begitu perang usai.
Ketika Indonesia memasuki era Reformasi, suara radikal melenggang terhipnotis euforia pesta demokrasi, percaya bahwa mekanisme elektoral merupakan andalan utama memenangkan daulat rakyat. Setelah 14 tahun demokrasi berjalan dengan meninggalkan demos, suara rakyat bisa dibajak suara uang, timbul kesadaran baru bahwa legitimasi demokrasi tak bisa hanya ditentukan jumlah, tetapi harus didasarkan pada imperatif moral pandangan hidup bangsa ini.
Inilah titik api revolusi. Langkah pertama perubahan radikal adalah menyadari adanya kesalahan besar dalam pengelolaan politik. Sumbu revolusi bisa dinyalakan ketika suara publik dalam media massa dan media sosial ramai menggunjingkan perilaku kepala negara yang lebih produktif sebagai pesinden ketimbang presiden, lebih berpihak kepada kepentingan korporatokrasi ketimbang kepada rakyatnya; ketika lembaga-lembaga survei menunjukkan ketidakpercayaan publik terhadap lembaga perwakilan yang lebih mewakili kepentingan yang bayar ketimbang aspirasi rakyat; ketika sumpah-serapah dimuntahkan kepada aparatur penegak hukum yang menjadi jaringan pelanggaran hukum; ketika tingkat partisipasi pemilih terus merosot di serangkaian pemilihan kepada daerah; dan ketika surplus kebebasan justru melahirkan ketidaksetaraan yang lebih lebar.
Ketika suara aliran mulai mereda dalam politik Indonesia, dan ketika pemerintahan di bawah corak aliran apa pun sama korup dan sama zalimnya, gerakan radikal masa kini tampil dengan definisi musuhnya yang baru. ”Musuh kita bukan suku, agama, dan aliran yang berbeda, melainkan kekuasaan yang menindas.” Dengan definisi itu, agenda pergerakan menemukan momentum kebersamaan untuk menuntaskan revolusi sosial yang diimpikan Bung Karno, yakni revolusi memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan seluruh rakyat.
Ketidakbersambungan antara suara publik dan pilihan kebijakan negara membuat gerakan radikal meninggalkan saluran tradisional kelas menengah untuk menyelesaikan masalah melalui lobi. Gerakan ini lebih memilih menyatu dengan akar rumput, melakukan tindakan nyata lewat aksi-aksi jalanan.
Apa yang tertinggal dari gerakan ini adalah kekuatan intelektual organik yang dapat mengartikulasikan kesadaran dan keresahan kolektif. Banyak aktivis jemu dengan sampah perdebatan di ruang publik, lantas tidak lagi memandang wacana sebagai sesuatu yang penting. Diskusi dihentikan, lantas melompat ke aksi. Padahal, usaha mendelegitimasi rezim demokratis lebih sulit ketimbang rezim otoritarian sehingga kekuatan argumentatif dan artikulatif justru sangat vital. Tanpa kemampuan merumuskan masalah dan menawarkan visi, sebuah aksi bukan saja tidak mampu menawarkan jalan keluar dari kegelapan, melainkan juga tidak bisa menginspirasi beragam gugus sosial untuk bergabung ke dalam suatu blok-historis (historical bloc).
Antonio Gramsci percaya: ”Subyek-subyek politik tidaklah terbatas pada kelas, tetapi juga kompleks ’kehendak kolektif’ (collective wills) yang merupakan hasil pengartikulasian ideologi-politik dari kekuatan-kekuatan historis yang bertebaran dan terfragmentasi.”
Untuk mempertautkan kehendak kolektif dari beragam posisi subyek itu diperlukan intelektual organik yang dapat menyediakan kekuatan artikulasi dan kepemimpinan moral dalam rangka mentransformasikan kepemimpinan sektoral menuju kepemimpinan integral. Sebuah aksi penjebolan tanpa visi pemulihan bisa mengulangi kesalahan masa lalu. Setelah rezim tumbang, kekuasaan dengan mudah dibelokkan kemapanan ke jalan kesesatan, sedangkan para reformis segera menjadi konservatif begitu revolusi berakhir. Seperti kata Isiah Berlin, revolusi sejati tidak dikobarkan sekadar untuk memerangi keburukan, tetapi juga dengan tujuan positif, yakni untuk menghadirkan kebaikan.  ●

Kompas, 26.03.2013, hal.6
Pojok
Penyerbuan LP Cebongan pertaruhkan wibawa hukum
Lha, itu terjadi karena hukum tak berwibawa.

http://regional.kompas.com/read/2013/03/26/08524995/Kata.Presiden.Negara.Tidak.Boleh.Kalah

Penyerangan di Lapas Sleman
Kata Presiden, Negara Tidak Boleh Kalah
Ferry Santoso | Selasa, 26 Maret 2013 | 08:52 WIB

TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
Sejumlah anggota kepolisian berjaga di depan pintu masuk Lapas Cebongan di Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013). Pada Sabtu dini hari terjadi penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata yang menewaskan empat orang tersangka pelaku pembunuhan di Hugos Cafe yang dititipkan oleh Polda DI Yogyakarta di Lapas tersebut.

KOMPAS.com – Sabtu (23/3) tengah malam, gerombolan pasukan siluman bersenjata otomatis menyandera petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB, Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah memaksa dengan kekerasan petugas lapas, gerombolan itu menembak empat tahanan di dalam sel lapas tersebut sampai mati.

Empat tahanan itu ada dalam ”kekuasaan” negara, yaitu tahanan penyidik Kepolisian Daerah DIY. Para tersangka itu juga berada pada ”kekuasaan” aparat negara karena dititip penyidik Polda DIY di lapas tersebut. Empat tahanan sedang menjalani proses hukum terkait dugaan kasus pembunuhan terhadap seorang anggota TNI.

Dalam kasus ini, perlindungan terhadap tersangka sebagai warga negara yang memiliki hak perlindungan hukum dan hak asasi manusia sangat lemah. Serangan bersenjata itu juga menunjukkan negara kalah dengan gerombolan bersenjata. Negara nyata-nyata tidak mampu melindungi warga negara, bahkan saat berada dalam pengawasan penyidik Polri dan petugas rumah tahanan negara.

Serangan gerombolan bersenjata, baik senjata api maupun senjata tajam, sebenarnya tidak hanya terjadi di Cebongan. Sebelumnya juga terjadi penyerangan gerombolan ”pasukan” siluman. Misalnya, penyerangan gerombolan siluman ”geng motor pita kuning” di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat.

Kini, Polri memiliki tugas berat dan tanggung jawab moral mengungkap pembunuhan keji itu. Tanggung jawab moral muncul kuat karena empat tersangka itu merupakan tahanan aparat Polda DIY.

Jika ada kemauan dan dukungan politis, polisi tidak akan sulit mencari pelaku pembunuhan itu. Kita bisa berkaca pada peristiwa besar yang lebih rumit lainnya yang mampu diungkap polisi, seperti peledakan bom Bali atau bom lainnya.

Tanpa pengungkapan pembunuhan empat tahanan di lapas itu, Indonesia tidak layak lagi disebut negara yang menjunjung tinggi penegakan hukum. Sebaliknya, di Indonesia berlaku hukum rimba. Karena hal ini, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara gagal.

Dalam Indeks Negara Gagal (Failed States Index/FSI) 2012, Indonesia menduduki peringkat ke-63 dari 178 negara yang disurvei. Dalam posisi itu, Indonesia masuk kategori negara-negara yang dalam bahaya (in danger) menuju negara gagal.

Beberapa indikator dalam FSI 2012 itu antara lain ketegangan dan kekerasan antarkelompok. Kemampuan negara memberi keamanan dirusak atau dikurangi. Lalu, ada pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan aturan hukum.

Kasus tragis di Cebongan jelas menunjukkan ketidakmampuan negara memberikan perlindungan hukum dan hak asasi kepada tersangka. Negara gagal melindungi tersangka sebagai warga negara menghadapi gerombolan siluman bersenjata.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane mengungkapkan, Indonesia dalam bahaya teror pasukan siluman bersenjata api. Siluman itu bisa mencabut nyawa kapan pun dan di mana pun.

Jika dibiarkan, kata Neta, pasukan siluman ini tidak mustahil akan menyerang sendi-sendi kenegaraan, termasuk kepentingan negara. Ia menilai, pembunuhan oleh pasukan siluman bersenjata di Cebongan merupakan sejarah terburuk dalam penegakan hukum dan sistem keamanan di Indonesia.

Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana mengatakan, petugas lapas telah berupaya mencegah pembunuhan itu. Namun, petugas berada pada todongan senjata api, bahkan menjadi korban kekerasan dari para pelaku.

Denny menambahkan, banyak pertanyaan mengenai siapa gerombolan bersenjata itu. Ada yang menyatakan penyerangan itu terkait insiden sebelumnya. Karena itu, investigasi menyeluruh dan cepat perlu dilakukan. ”Siapa pun yang bertanggung jawab harus diproses secara hukum,” katanya.

Menurut Denny, ada dugaan gerombolan ini terkait jajaran di TNI. ”Ada salah satu dugaan, ini (pelakunya) terkait dengan jajaran di TNI karena insiden sebelumnya yang melatarbelakangi. Ada anggota TNI yang meninggal sehingga ada yang mengarah ke sana,” katanya.

Pertanyaan kemudian ditujukan kepada polisi, apakah mampu mengusut kasus pembunuhan oleh gerombolan bersenjata itu?

Soal pembunuhan keji ini, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar berujar, aparat kepolisian akan mengolah tempat kejadian perkara dan menyelidiki insiden tersebut. Normatif, seperti tidak ada kegentingan.

Di tengah situasi ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perlu membuat terobosan. Pengusutan kasus itu tak dapat dilakukan dengan cara-cara biasa. Kita masih ingat pernyataan Presiden yang kerap diulang dan kini ditagih pembuktiannya, ”Negara tidak boleh kalah.”

Sumber : Kompas Cetak
Editor : Hindra

http://regional.kompas.com/read/2013/03/26/09065699/Indonesia.dalam.Keadaan.Bahaya

Penyerangan Lapas Sleman
Indonesia dalam Keadaan Bahaya
Selasa, 26 Maret 2013 | 09:06 WIB

FERGANATA INDRA RIATMOKO
Petugas membukakan pintu akses utama LP Cebongan di Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013). Berbagai aktivitas di lapas tersebut telah berangsur normal pasca-penyerbuan gerombolan bersenjata api tiga hari sebelumnya yang mengakibatkan empat tahanan tewas. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

JAKARTA, KOMPAS.com – Penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, merupakan teror terhadap publik, hukum, dan negara. Pemerintah harus membentuk tim investigasi untuk mengusut kasus itu. Apalagi, hal itu sudah menjadi sorotan publik internasional. Jika kasus itu tak diungkap, Indonesia terancam bahaya karena negara dikuasai gerombolan bersenjata.

Desakan dibentuknya tim investigasi atau pencari fakta disuarakan sejumlah kalangan, antara lain Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat; Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Franz Magnis-Suseno dan Mudji Sutrisno; Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra; Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Haris Azhar; dan Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti, secara terpisah, Senin (25/3/2013), di Jakarta.

Menurut Komaruddin, penyerangan LP Cebongan tersebut mencerminkan terjadinya demoralisasi angkatan bersenjata, baik Polri maupun TNI. Hal itu pukulan bagi pemerintah karena hukum dan pemerintah kehilangan wibawa, dan orang cenderung mencari keadilan dengan caranya sendiri.

”Yang bahaya, kalau pencarian keadilan itu kemudian dengan menggunakan senjata. Dampak negatifnya sangat besar karena masyarakat seakan mendapat pembenaran untuk melakukan kekerasan. Ini juga menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia (HAM), pembunuhan, dan penculikan, tetapi aktornya tidak ditemukan,” katanya.

”Sangat perlu Presiden membentuk tim pencari fakta. Kalau (fakta) tidak dibuka dan pelaku tidak dihukum, negara dalam keadaan bahaya karena negara dikuasai kelompok preman dan penegakan hukum tidak berjalan,” kata Magnis.

Tercatat sejumlah media asing melaporkan peristiwa itu, antara lain kantor berita Malaysia Bernama, Bangkok Post (Thailand), The Straits Times (Singapura), Asahi Shimbun (Jepang), Xinhua (China), Voice of America (Amerika Serikat), The Herald (Skotlandia), The Vancouver Sun (Kanada), serta beberapa kantor berita asing.

Menurut Komaruddin, tim investigasi independepen mesti melibatkan tokoh-tokoh kredibel dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus mendukung penuh dengan segala risikonya, terutama jika nanti ada orang kuat yang terlibat.

Menurut Mudji, kasus tersebut menunjukkan suatu kebiadaban. Di negara hukum, yang terjadi justru hukum rimba. Karena itu, Presiden SBY harus serius menangani kasus itu. Kalau tidak, akan tercipta benih-benih yang menunjukkan Indonesia jauh dari negara yang beradab.

Haris Azhar menilai, secara politis kasus itu merupakan teror terhadap publik dan negara. Warga yang diamankan malah tambah tidak aman. ”Presiden harus memberikan dukungan penuh. DPR jangan cuma berkomentar, tetapi tunjukkan kawalannya atas kasus ini,” katanya. Poengky Indarti berharap polisi bekerja sama dengan polisi militer untuk menangkap pelakunya.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Febi Yonesta menegaskan, penyerangan tersebut memperlihatkan kegagalan pemerintah. ”Khususnya, kegagalan Kementerian Hukum dan HAM dalam melindungi para tahanan,” ujarnya.

Saldi Isra mengingatkan pentingnya mengungkap kasus tersebut secara tuntas. Dalam konteks bernegara, kegagalan pengungkapan penyerangan itu sama saja dengan kegagalan Presiden melindungi rakyatnya. ”Ini kan kantor pemerintah. Milik pemerintah saja diserang dan tidak bisa melindungi, apalagi melindungi rakyatnya,” kata Saldi.

Kemarin, pemimpin sejumlah lembaga yang tergabung dalam forum Mahkamah Agung, Kementerian Hukum dan HAM, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian sepakat agar kasus tersebut diungkap tuntas. ”Jangan khawatir, seluruh pimpinan lembaga tadi meyakinkan bahwa siapa pun pelakunya harus diungkap,” ujar Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana.

Di Sleman, Kepala LP Cebongan Sukamto Harto mengatakan ada potensi kerawanan. ”Dari berkas yang ada, keempat tahanan itu terlibat dalam pembunuhan anggota TNI AD. Untuk menghindari adanya aksi pembalasan seperti kasus di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, dibutuhkan pengamanan tambahan,” ujarnya.

Menyadari hal itu, Sukamto meminta bantuan pengamanan ke Polda DI Yogyakarta. Ia juga menghubungi Polsek Mlati untuk melakukan patroli di sekitar LP.

Pemindahan tahanan, menurut Kapolda DI Yogyakarta Brigadir Jenderal (Pol) Sabar Rahardjo, disebabkan plafon tahanan Mapolda DI Yogyakarta jebol. Namun, berdasarkan pengamatan, ruang tahanan di Lantai 2 Direktorat Reserse Umum dan Khusus tersebut hanya terlihat bocor di bagian plafon.

Sebelum kejadian, Sabar mengatakan telah meminta bantuan pengamanan LP ke Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta. ”Wakapolda telah meminta bantuan ke Kepala Staf Korem agar ditugaskan patroli ke sana (LP). Menurut informasi, Kepala Staf Korem sudah memerintahkan ke Detasemen Polisi Militer,” ujarnya. Namun, saat penyerangan tidak terlihat satu pun petugas polisi dan TNI berjaga-jaga di sekitar LP.

Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso mengatakan, pihaknya siap membantu Polda DI Yogyakarta untuk mengungkap pelaku penyerangan. ”Jangan berspekulasi siapa pelakunya. Semua menjadi tanggung jawab penuh saya,” katanya. (IAM/FER/ANA/DWA/RYO/ABK/ANS/SEM/PRA/EDN)

Sumber : Kompas Cetak
Editor : Hindra

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/09250583/Rumah.Pertobatan.Dinodai.Lumuran.Darah.

Rumah Pertobatan Dinodai Lumuran Darah …
Selasa, 26 Maret 2013 | 09:25 WIB

FERGANATA INDRA RIATMOKO
Salah seorang kerabat Yohanes Yuan Manbait menempelkan wajahnya ke foto Yuan di dalam mobil ambulans yang akan membawa peti jenazah salah satu tahanan Lembaga LP Cebongan tersebut dari kamar mayat Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013) dini hari. Keempat jenazah tahanan yang tewas saat terjadi penyerbuan di LP Cebongan tersebut selanjutnya diterbangkan ke Nusa Tenggara Timur untuk dimakamkan di daerah asal mereka. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

”Griya winaya janma miwarga laksa dharmmesti, rumah untuk pendidikan manusia yang salah agar patuh pada hukum dan berbuat baik…”.

KOMPAS.com – Semboyan dalam bahasa Sanskerta ini tertera di salah satu ruang Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II B Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Peristiwa pada Sabtu (23/3/2013) dini hari mengoyak semboyan itu!

Di LP seluas 10.640 meter persegi ini, narapidana dan tahanan diajak untuk kembali bertobat dengan menata hidup, mematuhi hukum, dan berbuat kebaikan.

Namun, pada Sabtu dini hari lalu, harapan penghuni LP Cebongan untuk bisa menata hidup, mematuhi hukum, dan berbuat baik seketika buyar. Mereka tersentak ketika segerombolan orang bersenjata tiba-tiba masuk dan menembak mati keempat tahanan di sel 5A Blok Anggrek. Dengan keji, gerombolan memberondongkan peluru ke tubuh empat tahanan itu, di depan 31 tahanan seruangan mereka.

Para korban adalah Yohanes Yuan Manbait, Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, dan Hendrik Angel Sahetapy. Semuanya adalah tahanan kasus pembunuhan anggota TNI AD Sersan Satu Santoso. Salah satu di antaranya, Juan, sebelumnya dipecat dari Polrestabes Yogyakarta karena kasus narkoba.

Gerombolan tersebut juga melukai delapan sipir LP. Sejumlah petugas ditendang, diinjak, dan dihantam popor senapan.

Supratikno, sipir di pintu utama, saat penyerangan ditodong senjata laras panjang dan dihantam popor senapan di bagian mata kanannya hingga lebam. ”Mata saya dipukul menggunakan popor senapan. Mereka juga sempat melemparkan granat ke arah kami saat kami tak mau membuka pintu lapas,” ujarnya.

Kepala LP Kelas II B Cebongan, Sleman, Sukamto Harto, Senin (25/3/2013), mengatakan, saat kejadian, jumlah petugas LP hanya delapan orang ditambah dua petugas tambahan. Mereka tak berkutik saat gerombolan bersenjata laras panjang berjumlah 15-20 orang datang.

Meski hanya berlangsung sekitar 15 menit, penembakan keji ini menyisakan trauma luar biasa bagi para tahanan serta petugas sipir. Mereka tak mengira gedung LP berpengamanan ketat dengan lima lapis pintu ini dibobol sekelompok orang.

Pasca-kejadian, 31 tahanan yang berada dalam satu ruangan bersama keempat tahanan yang tewas langsung dipindahkan ke ruang tahanan lain. Jadwal besuk pada Sabtu dan Minggu (24/3/2013) ditiadakan.

Petugas sipir yang terluka diliburkan sampai Rabu (27/3/2013). Mereka perlu istirahat dan memenangkan diri karena kerja di LP membutuhkan konsentrasi tinggi.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta Rusdianto mengatakan, pasca-penembakan, para tahanan, narapidana, dan sipir mengalami trauma. Guna memulihkan trauma, mereka mendapat pendampingan dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

Selama ini tenang

Dalam kurun 10 tahun terakhir sejak diresmikan 16 April 2003, suasana Lembaga Pemasyarakatan Cebongan tenang-tenang saja. Bahkan, belum pernah ada kasus tahanan atau narapidana yang kabur.

Sukamto mengungkapkan, satu peristiwa khusus yang pernah terjadi hanyalah pengungsian 400 narapidana dan tahanan pada saat Gunung Merapi erupsi tahun 2010. Demi keselamatan penghuni LP, mereka kemudian dipindahkan ke LP lain di Kota Yogyakarta, Bantul, Gunung Kidul, dan Kulon Progo.

”Selain peristiwa ini, tak ada lagi kasus serius. Karena itu, kami sangat kaget dengan peristiwa penembakan kemarin,” ujar Sukamto.

Sebelum penembakan, Sukamto sempat khawatir setelah membaca surat dan dokumen keempat tahanan titipan Polda DI Yogyakarta. Dikhawatirkan, keberadaan empat tahanan kasus pembunuhan seorang anggota TNI AD ini bisa menyulut aksi balas dendam, seperti kasus di Sumatera Selatan saat puluhan anggota TNI menyerang markas polres.

”Ada perasaan yang beda ketika kami menerima empat tahanan tersebut. Pertama karena kasus ini agak sensitif dan kedua menarik perhatian masyarakat banyak. Pihak Polda DI Yogyakarta sendiri tidak memberikan perhatian-perhatian khusus atau catatan khusus terhadap empat tahanan ini. Mereka hanya mengatakan bahwa rumah tahanan Polda DI Yogyakarta sedang direhab,” ungkapnya.

Meski diselimuti kekhawatiran, empat tahanan titipan itu akhirnya diterima, Jumat (22/3) pukul 11.00. Namun, selang 13,5 jam kemudian, sekelompok orang menyerang LP Cebongan dan menewaskan empat tahanan tersebut.

Dari sisi kapasitas, jumlah tahanan dan narapidana di LP ini sebenarnya sudah tak seimbang. Idealnya, LP ini hanya dihuni 162 orang. Namun, saat kejadian penembakan, jumlahnya mencapai 361 orang.

Koordinator Masyarakat Yogyakarta Anti Kekerasan (Makaryo) Tri Wahyu Kus Hardiyatmo mengatakan, peristiwa penembakan di dalam ruang tahanan LP Cebongan ini sebagai preseden buruk di Indonesia-negara yang diklaim sebagai negara hukum. Orang-orang yang siap menjalani proses hukum justru dihabisi di rumah pertobatan. (AB KURNIAWAN)

Sumber : Kompas Cetak
Editor : Hindra

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/10173186/Kompolnas.Polri.Jangan.Takut.Ungkap.Pelaku.Penyerangan.Lapas

Kompolnas: Polri Jangan Takut Ungkap Pelaku Penyerangan Lapas
Dian Maharani | Selasa, 26 Maret 2013 | 10:17 WIB

FERGANATA INDRA RIATMOKO
Sejumlah narapidana menggunakan fasilitas telepon di dalam LP Cebongan di Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013). Berbagai aktivitas di lapas tersebut telah berangsur normal pasca-penyerbuan gerombolan bersenjata api tiga hari sebelumnya yang mengakibatkan empat tahanan tewas. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepolisian Republik Indonesia diminta tidak takut mengungkapkan pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Kepolisian juga harus transparan menyampaikan hasil penyidikan nantinya.

“Polri tidak usah takut untuk ungkapkan si pelaku kalau itu memang sebuah kebenaran. Jangan ditutup-tutupi hasil penyidikan,” ujar anggota Kompolnas, Hamidah Abdurahman, di Jakarta, Selasa (26/3/2013).

Penanganan kasus itu kini dipimpin Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Sutarman. Kompolnas berharap pengusutan kasus ini cepat selesai setelah ditemukan beberapa bukti petunjuk awal. Menurut Hamidah, Sutarman juga harus mengevaluasi pemindahan tahanan ke Lapas Cebongan yang dinilai janggal.

“Kabareskrim juga harus menjernihkan persoalan pemindahan tahanan dari Polda ke lapas. Disinyalir pemindahan tahanan ini yang kemudian terjadi penyerangan di lapas,” terangnya.

Di samping itu, anggota Kompolnas Edi Saputra Hasibuan yakin Polri dapat segera mengungkap kasus penyerangan yang menewaskan empat orang itu. Untuk itu, kepolisian harus profesional dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Sebab, penyerangan diduga kuat dilakukan kelompok bersenjata yang terlatih.

“Walau pelaku sudah berupaya menghilangkan semua bukti di lapangan seperti CCTV dan pelaku menutup wajahnya, Kompolnas yakin sesuai teori bahwa kejahatan itu tidak ada yang sempurna,” kata Edi.

Sejauh ini, kepolisian telah melakukan uji balistik untuk selongsong peluru maupun proyektil yang ditemukan dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP). Hasil uji balistik diharapkan dapat mengungkap senjata yang digunakan pelaku untuk menembak korban. Berdasarkan keterangan saksi sebelumnya, pelaku menggunakan AK-47 dan senjata api jenis FN.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop Polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugos Cafe, 19 Maret 2013 lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup wajah masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari. Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu pun hanya berlangsung 15 menit. Kasus itu kini masih dalam penyelidikan kepolisian. Namun, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

Editor : Hindra

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/14460456/IPW.Polisi.Harus.Cepat.Ungkap.Kasus.Lapas.Sleman

IPW : Polisi Harus Cepat Ungkap Kasus Lapas Sleman
Robertus Belarminus | Selasa, 26 Maret 2013 | 14:46 WIB

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Sejumlah warga Nusa Tenggara Timur mengangkat peti jenazah tahanan Lembaga LP Cebongan di kamar mayat Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013) dini hari. Keempat jenazah tahanan yang tewas saat terjadi penyerbuan di LP Cebongan tersebut selanjutnya diterbangkan ke Nusa Tenggara Timur untuk dimakamkan di daerah asal mereka.

JAKARTA, KOMPAS.com – Jajaran Kepolisian diminta segera mengungkap dan menangkap pelaku penyerbuan di Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, yang menewaskan empat tahanan titipan Polda DIY pada Sabtu (23/3/2013). Polisi diminta segera menangkap “pasukan siluman” yang menyebar teror bersenjata terhadap publik, hukum, dan sebuah institusi negara.

“Kecepatan untuk memburu, menangkap, dan mengungkapkan kasus ini sangat diperlukan agar masyarakat merasa nyaman dan tidak berada di bawah bayang-bayang ketakutan akibat teror penyerbuan tersebut,” tulis Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane, dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Selasa (26/3/2013).

Menurut Neta, pengungkapan kasus tersebut sudah menjadi wewenang kepolisian. Pasalnya, Neta mengatakan, TNI sudah menyatakan bahwa oknumnya tidak terlibat sehingga Polri tidak perlu melibatkan TNI dalam mengungkapkan kasus tersebut. Dengan mengungkap cepat kasus penyerbuan itu, lanjut Neta, sehingga ada kepastian hukum di negeri ini bahwa tidak ada pihak-pihak yang bisa sewenang-wenang menghabisi orang yang tidak disukai dengan menyerang sebuah institusi negara.

“Jangan sampai kasus penyerbuan lapas ini akan menjadi seperti kasus geng motor pita kuning yang sampai sekarang tidak terungkap,” ujar Neta.

Dia mengatakan Polri juga bisa menugaskan Densus 88 untuk memburu 17 pasukan siluman yang menembak mati empat tahanan kasus pembunuhan anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, pada Selasa (19/3/2013) silam.

“Selama ini Densus 88 sangat piawai dalam memburu, menangkap dan mengungkap kasus-kasus terorisme. Untuk itu Polri perlu segera menugaskan Densus 88 dalam menangani kasus LP Sleman,” ujar Neta.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, Selasa lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas agar menunjukkan empat tahanan yang dicari. Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Mereka tercatat sebagai desertir anggota kesatuan Kepolisian Resor Kota Besar Yogyakarta.

Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit. Kasus itu masih dalam penyelidikan. Namun Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama.

Editor : Hertanto Soebijoto

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/15300562/Propam.Polri.Selidiki.Pemindahan.Tahanan.Lapas.Sleman

Propam Polri Selidiki Pemindahan Tahanan Lapas Sleman
Dian Maharani | Selasa, 26 Maret 2013 | 15:30 WIB

FERGANATA INDRA RIATMOKO
Petugas membukakan pintu akses utama LP Cebongan di Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013). Berbagai aktivitas di lapas tersebut telah berangsur normal pasca-penyerbuan gerombolan bersenjata api tiga hari sebelumnya yang mengakibatkan empat tahanan tewas. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

JAKARTA, KOMPAS.com – Polri telah menurunkan Satuan Profesi dan Pengamanan (Propam) ke Yogyakarta untuk menyelidiki pemindahan tahanan kasus penganiayaan anggota Kopassus. Keempat tahanan itu ditembak mati setelah dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

“Tim Propam juga ada di Yogyakarta. Jangan khawatir, dari Propam kita sudah mencari tahu. Seandainya ada kejanggalan dalam proses pemindahan dinilai bentuk pelanggaran tentu bisa menjadi permasalahan lain,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar di sela-sela Rakernas Humas Polri di Hotel Maharadja, Jakarta, Selasa (26/3/2013).

Sebelumnya, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus ditangkap pada Selasa (19/3/2013).Keempatnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Mereka langsung ditahan di Polres Sleman. Kemudian, pada Rabu (20/3/2013), keempat tahanan dipindahkan ke Polda DI Yogyakarta. Namun, keempatnya bersama tahanan lainnya dipindahkan ke LP Cebongan, Sleman, Jumat (22/3/2013).

Pada Sabtu (23/3/2013) dini hari, empat tersangka pembunuhan anggota Kopassus itu ditembak mati oleh kelompok bersenjata. Polda DIY diduga mengetahui rencana penyerangan sehingga memindahkan tahanan dalam waktu singkat itu. Namun, pihak Polda membantah dan beralasan ruang tahanan di Polda sedang dalam proses renovasi.

“Selagi pemindahan didasarkan keterbatasan sarana dan kebutuhan mendesak, seperti perbaikan, itu sah dilakukan dengan memanfaatkan lapas,” terang Boy. Boy mengatakan, jika tim Propam menemukan pelanggaran dari pemindahan tersebut, anggota Polda DIY yang terkait dapat ditindak di internal Polri.

Editor : Hindra

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/1537142/Densus.88.Dapat.Dilibatkan.Usut.Penyerangan.Lapas

Densus 88 Dapat Dilibatkan Usut Penyerangan Lapas
Dian Maharani | Selasa, 26 Maret 2013 | 15:37 WIB

VITALIS YOGI TRISNA
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar mengatakan, semua unsur terkait di Polri dapat dilibatkan untuk mengusut kasus penyerangan lembaga pemasyarakatan di Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Hal ini termasuk Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri yang biasa bergerak untuk mengungkap kasus terorisme.

“Pada prinsipnya, semua sumber daya di Polri dimafaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan pengungkapan. Jadi, sumber daya Polri, termausk unsur-unsur yang diperbantukan Mabes Polri, harus dimanfaatkan untuk mendukung,” terang Boy di sela-sela Rakernis Humas Polri di Hotel Maharadja, Selasa (26/3/2013).

Selain itu, kepolisian juga berharap adanya informasi dari masyarakat yang dapat membantu penyelidikan. Masyarakat dapat menjadi saksi pada saat peristiwa maupun memberi keterangan tambahan mengenai identitas anggota Kopassus yang tewas dan empat pelaku penganiayaan yang akhirnya juga tewas ditembak kelompok bersenjata.

“Bantuan informasi dari masyarakat yang menyimpan info, jangan sampai ada info tidak digunakan. Jadi, kalau ada info bagus, penting, sangat baik dijadikan bahan,” kata Boy.

Kendala yang dihadapi penyidik ialah pelaku menggunakan penutup wajah saat melakukan aksinya. Mereka juga membawa serta seluruh CCTV lapas. Saat ini, kepolisian juga menunggu hasil uji balistik dari selongsong maupun proyektil yang ditemukan di lokasi. Boy menegaskan, saat ini bukan masalah berani atau tidak dalam mengungkap kasus itu. Namun, kepolisian harus mengumpulkan alat bukti untuk menemukan pelaku.

“Persoalan bukan takut, tidak takut, tapi harus ukur keberhasilan memperoleh petunjuk, informasi, alat bukti, yang kita perlukan mengungkap tindak pidana,” terangnya.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam peristiwa itu, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa, ditembak mati.

Keempatnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.

Editor : Hindra

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/16343774/Presiden.Penembakan.di.Sleman.Serangan.Wibawa.Negara?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Penyerangan%20Di%20Lapas%20Sleman

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/16343774/Presiden.Penembakan.di.Sleman.Serangan.Wibawa.Negara.

Presiden: Penembakan di Sleman, Serangan Wibawa Negara
Sandro Gatra | Selasa, 26 Maret 2013 | 16:34 WIB

FERGANATA INDRA RIATMOKO
Sejumlah warga Nusa Tenggara Timur mengangkat peti jenazah tahanan Lembaga LP Cebongan di kamar mayat Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013) dini hari. Keempat jenazah tahanan yang tewas saat terjadi penyerbuan di LP Cebongan tersebut selanjutnya diterbangkan ke Nusa Tenggara Timur untuk dimakamkan di daerah asal mereka. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, pembunuhan brutal terhadap empat tersangka yang ditahan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, adalah serangan langsung terhadap kewibawaan negara.

Selain telah menghasilkan ancaman serius terhadap rasa aman publik, Presiden SBY menyatakan serangan itu juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap supremasi hukum.

Hal itu dikatakan Staf Khusus Presiden bidang Politik, Daniel Sparringa, melalui pesan singkat, Selasa (26/3/2013).

Daniel mengatakan, Presiden telah memerintahkan Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan untuk mengungkap para pelaku dan memastikan semua yang terlibat diadili di pengadilan.

Presiden, kata Daniel, juga telah menginstruksikan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono agar seluruh jajaran TNI berkerja sama dengan Polri dalam pengungkapan identitas para pelaku.

“Presiden menegaskan bahwa kewibawaan negara harus dipulihkan dan kepercayaan rakyat terhadap hukum tidak boleh berkurang karena peristiwa ini. Presiden SBY menyeru agar masyarakat ikut memberi dukungan dan mengawal proses penyelidikan ini,” kata Daniel.

Daniel menambahkan, Presiden telah menerima laporan bahwa Mabes Polri telah memimpin penyelidikan. Presiden juga menerima perkembangan penyelidikan setiap saat dan memastikan ada kemajuan penanganan perkara.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop Polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, Selasa lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, pelaku juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit.

Awalnya, keempat tersangka ditahan di Polres Sleman, lalu dipindahkan ke Polda DI Yogyakarta tanggal 20 Maret. Pada Jumat 22 Maret, mereka dipindahkan ke Lapas Cebongan. Sabtu dini hari eksekusi terjadi.

Kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian. Hanya, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga membantah.

Editor : Hindra

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/17574181/Polri.Pelaku.Penyerangan.Lapas.Masih.Gelap

Polri: Pelaku Penyerangan Lapas Masih Gelap
Dian Maharani | Selasa, 26 Maret 2013 | 17:57 WIB

VITALIS YOGI TRISNA
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepolisian belum menemukan titik terang dari penyelidikan kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Saat ini, kepolisian masih memeriksa saksi-saksi di lapangan.

“Pelakunya masih gelap. Jadi, pelakunya masih belum diketahui,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di sela Rakernis Humas Polri, di Hotel Maharadja, Jakarta, Selasa (26/3/2013). Namun, janji Boy, polisi akan bekerja profesional mengungkap pelaku kasus ini.

Bukti yang ditemukan akan dijadikan petunjuk membongkar kasus itu. “Kami belum menduga-duga siapa pelaku. Tapi, bagaimana menemukan bukti di TKP dan menggunakan informasi dari bukti itu untuk penyelidikan lanjutan dan tahu siapa pelakunya,” kata Boy.

Selain terus mengumpulkan keterangan dari para saksi, polisi juga masih menunggu hasil uji balistik dari proyektil dan selongsong peluru yang ditemukan di lokasi. Menurut keterangan saksi, pelaku mengunakan senjata laras panjang AK-47 dan pistol FN. “Ini tidak mudah, diperlukan pengumpulan fakta-fakta yang lebih akurat lagi dan bisa saja informasi akurat ini tidak di tempat perkara, tapi bisa juga di tempat lain,” terang Boy.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang Lapas Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam peristiwa itu, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa, ditembak mati.

Keempat korban itu adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.

Editor : Palupi Annisa Auliani

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/18502797/PDI-P.Pemindahan.Tahanan.Tidak.Lazim

PDI-P: Pemindahan Tahanan Tidak Lazim
Sabrina Asril | Selasa, 26 Maret 2013 | 18:50 WIB

KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Tjahjo Kumolo Sekjen PDI Perjuangan

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemindahan empat tersangka pengeroyokan anggota Kopassus dari tahanan Polda DIY ke Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, dinilai tidak lazim. Polisi diminta mendalami juga alasan pemindahan tersebut. Rapat gabungan Komisi I dan Komisi III pun dinilai perlu dibentuk untuk mengawasi penanganan kasus ini.

“Tidak lazim dalam 18 jam seseorang yang tertangkap dipindah dari kepolisian. Proses pemindahan ini harus clear apakah sudah sesuai protapnya atau belum, apa memang tahanan di Polda penuh dan tidak layak,” ujar Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Tjahjo Kumolo, di Kompleks Parlemen, Selasa (26/3/2013). Tjahjo pun mendukung dibentuknya rapat gabungan antara Komisi I yang bermitra dengan TNI dengan Komisi III yang bermitra dengan Polri.

Rapat gabungan itu, lanjut Tjahjo, diperlukan untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap Polri dan TNI yang dikait-kaitkan dengan peristiwa pembantaian empat tahanan di LP Cebongan. “Saya kira perlu tim terpadu antara Komisi I dan Komisi III karena opini yang berkembang di luar terlihat operasi ini terkait operasi militer. Perlu diteliti juga senjata AK47 apakah memang standar militer atau tidak,” kata anggota Komisi I DPR tersebut.

Selain itu, Tjahjo juga mengimbau agar TNI tidak ikut campur dalam penyelidikan yang dilakukan kepolisian. “Serahkan sepenuhnya ke kepolisian. TNI tidak boleh terilibat penuh, sementara Polri harus lakukan dengan cepat,” tegas dia.

Lembaga Pemasyarakatan Cebongan di Sleman, DI Yogyakarta, diserbu sekelompok orang pada hari Sabtu (23/3/2013) pukul 01.00 dini hari. Empat orang tewas adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Keempat orang itu diketahui sebagai tahanan Polda DIY dalam kasus pembunuhan anggota TNI di Hugo’s Cafe Maguwoharjo, Sleman, pada Selasa (19/3/2013) malam.

Setelah melakukan aksinya, kelompok bersenjata tersebut langsung kabur meninggalkan LP. Seluruh rangkaian serangan hanya berlangsung selama 15 menit. Saat berlalu, mereka pun sempat membawa kabur rekaman CCTV lapas. Menurut informasi dari Humas Ditjen Pemasyarakatan, petugas yang luka di antaranya adalah Widiatmana dengan luka di dagu serta Supratikno yang mengalami luka di mata kanan.

Editor : Palupi Annisa Auliani

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/22052261/Polisi.Kumpulkan.Keterangan.45.Saksi.Penyerangan.Lapas

Polisi Kumpulkan Keterangan 45 Saksi Penyerangan Lapas
Dian Maharani | Selasa, 26 Maret 2013 | 22:05 WIB

FERGANATA INDRA RIATMOKO
Petugas membukakan pintu akses utama LP Cebongan di Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013). Berbagai aktivitas di lapas tersebut telah berangsur normal pasca-penyerbuan gerombolan bersenjata api tiga hari sebelumnya yang mengakibatkan empat tahanan tewas. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

JAKARTA, KOMPAS.com – Polisi masih terus meminta keterangan saksi untuk mengungkap pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013). Keterangan para saksi membantu polisi mengidentifikasi ciri-ciri para penyerang.

“Pemeriksaan saksi-saksi masih berjalan. Total sudah 45 saksi (yang telah diminta keterangan),” ujar Kepala Bidang Humas Polda DI Yogyakarta AKBP Anny Pujiastuti pada acara Rakernis Humas Polri, di Hotel Maharadja, Jakarta Selatan, Selasa (26/3/2013). Dari 45 saksi yang telah diminta keterangan, 13 di antaranya petugas lapas serta 32 yang lain adalah para narapidana dan tahanan di lapas itu.

Pemeriksaan saksi diharapkan mampu membuka titik terang kasus penyerangan yang menewaskan empat tahanan lapas. Berdasarkan keterangan saksi, pelaku berjumlah 17 orang berbadan tegap. Mereka mengenakan penutup wajah, pakaian bebas, rompi hitam, dan sepatu PDL. “Semua keterangan saksi jadi salah satu harapan yang bisa membantu mengungkap. Kami maraton kerjanya agar cepat terungkap,” kata Anny.

Polisi sejauh ini menolak menduga siapa pelaku penyerangan karena penyelidikan masih berlangsung. Penyidik juga masih menunggu hasil uji balistik proyektil dan selongsong peluru yang ditemukan di lokasi kejadian. Para saksi menyebutkan bahwa para penyerang berbekal senapan AK-47 dan pistol FN.

Kelompok bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam peristiwa itu, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa, ditembak mati.

Keempat tahanan tersebut adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.

Editor : Palupi Annisa Auliani

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/22233256/Komnas.HAM.Investigasi.ke.Lapas.Cebongan

Komnas HAM Investigasi ke Lapas Cebongan
Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma | Selasa, 26 Maret 2013 | 22:23 WIB

YOGYAKARTA,KOMPAS.com –  Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Selasa (26/3/2013), mendatangi Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta, mengumpulkan data lapangan terkait peristiwa penyerangan ke lembaga itu oleh gerombolan bersenjata Sabtu (23/3/2013) pekan kemarin.

Dugaan sementara, berdasarkan durasi kejadian yang cepat, senjata yang digunakan serta keterangan para saksi, pelaku penyerangan adalah orang-orang terlatih.

“Selain senjata laras panjang para pelaku juga membawa granat yang di letakkan di samping pinggang kanan dan kiri. Pelaku semuanya membawa HT (handy talkie), rompi dan penutup muka,” kata Komisioner Komnas HAM Siti Nurlela saat ditemui di Lapas Cebongan, Selasa.

Sejumlah fakta yang dikumpulkan Komnas HAM antara lain gerombolan tersebut mengambil barang-barang inventaris lapas seperti monitor komputer, CCTV dan server. Gerombolan itu juga merampas telepon seluler petugas lapas.

Selain itu, Komnas juga menemukan tindak kekerasan yang dialami petugas lapas.  “Ada delapan petugas lapas yang dianiaya pelaku dari mulai ditendang, dipopor, dipukul, bahkan diseret,” terang dia.

Selanjutnya, Komnas HAM juga menemukan adanya trauma yang dialami 31 tahanan lapas penghuni sel 5A Blok Anggrek. Trauma pertama, mereka melihat langsung eksekusi. Kedua, mereka ketakutan setelah dimintai keterangan oleh polisi sebagai saksi.

“Mereka takut akan keselamatannya dan keluarga karena telah memberi keterangan tanpa mendapat kepastian pengamanan,” ujar dia.

Editor : Heru Margianto

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/22273388/Polri.Yakin.Ungkap.Pelaku.Penyerangan.Lapas

Polri Yakin Ungkap Pelaku Penyerangan Lapas
Dian Maharani | Selasa, 26 Maret 2013 | 22:27 WIB

KOMPAS/ALIF ICHWAN
Ratusan warga yang tergabung dalam Solidaritas Kemanusiaan untuk Korban Pembantaian di Yogyakarta menggelar aksi demo Kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (24/3/2013). Mereka dengan berpakaian hitam dan membawa lilin di tangan menuntut dan mendesak pemerintah serta aparat berwenang untuk mengusut tuntas dan menyeret pelaku penembakan empat napi di dalam Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta beberapa waktu yang lalu.

JAKARTA, KOMPAS.com – Polisi yakin dapat mengungkap kasus penyerangan ke Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, polisi menyatakan, keyakinan ini tetap membutuhkan dukungan dari beragam pihak.

“Kami yakin bisa, memang perlu dukungan juga,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar pada acara Rakernis Humas Polri, di Hotel Maharadja, Jakarta Selatan, Selasa (26/3/2013). Dia mengatakan, saat ini penyidik bekerja keras mengumpulkan bukti dan keterangan saksi.

Selain beragam alat bukti yang ditemukan di lokasi kejadian, polisi meminta keterangan dari 45 saksi. Mereka adalah 13 petugas lapas serta 32 narapidana dan tahanan lapas. Kendati belum menemukan titik terang pelaku penyerangan, Boy meminta masyarakat bersabar menunggu hasil penyidikan.

“Jadi, hasilnya ini masih dilakukan analisis dan tentu diharapkan dari hasil penjelasan mereka (saksi) ditemukan petunjuk yang bisa membantu proses penyidikan,” kata Boy. Dia menegaskan, pengungkapan kasus ini bukan soal polisi berani atau takut melakukannya.

“Pengungkapan perkara bukan (soal) takut atau tidak takut, tapi dikaitkan dengan proses penemuan alat bukti,” tegas Boy. Bila ditemukan alat bukti yang dapat menunjang identifikasi pelaku, menurut dia, peluang pengungkapan kasus akan membesar dan dapat muncul titik terang.

Seperti diberitakan, kelompok bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam peristiwa itu, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa, ditembak mati.

Keempat tahanan itu adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.

Editor : Palupi Annisa Auliani

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/22441385/31.Tahanan.Lapas.Cebongan.Akan.Dapat.Pengamanan.Khusus

31 Tahanan Lapas Cebongan Akan Dapat Pengamanan Khusus
Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma | Selasa, 26 Maret 2013 | 22:44 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan segera mengajukan permohonan perlindungan khusus kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) terhadap 31 tahanan Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta, yang berada di sel 5A Blok Anggrek.

Komnas HAM mendapati 31 tahanan tersebut mengalami trauma. “Trauma karena melihat peristiwa eksekusi dan ketakutan akan keselamatannya dan keluarga karena telah memberi keterangan tanpa mendapat kepastian pengamanan,” terang Komisioner Komnas HAM Siti Noor Laila saat ditemui seusai melakukan investigasi di Lapas Cebongan, Selasa (26/3/2013).

Ia mengatakan, karena ke-31 tahanan tersebut berada di lapas, maka pengamanan khusus akan dilakukan di lapas. “Durasinya kita tidak tahu sampai kapan karena itu wewenang dari LPSK. Namun, yang pasti mereka akan mendapat penjagaan khusus,” ujarnya.

Komnas HAM hari ini mendatangi Lapas Cebongan untuk mengumpulkan data lapangan terkait peristiwa penyerangan ke lembaga itu oleh gerombolan bersenjata pada Sabtu (23/3/2013) pekan lalu.

Sebelumnya, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang Lapas Cebongan. Mereka menembak mati empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), di Hugo’s Cafe.

Keempat tersangka itu adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, gerombolan tersebut juga membawa rekaman CCTV. Adapun aksi itu hanya berlangsung 15 menit.

Editor : Heru Margianto

http://budisansblog.blogspot.com/2013/03/melacak-siluman-cebongan.html

Melacak Siluman Cebongan
Ridlwan Dewoningrat  ;  Wartawan Jawa Pos,
Belajar di Pascasarjana Strategi Intelijen Universitas Indonesia

JAWA POS, 27 Maret 2013

SUDAH lebih dari 3 x 24 jam sejak penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, (23/3) terjadi, belum ada gelagat titik terang. Memburu pasukan pembunuh itu ibarat mengejar kelompok ”siluman” yang beraksi cepat, akurat, serta membuat gentar pemburunya juga.

Memang, operasi tersebut tergolong rapi dan khas sebuah misi klandestin. Para penyerang ala ”ninja” yang pakai cadar sebo itu amat minim meninggalkan jejak.

Diduga, Polda DIJ sudah mencium gelagat adanya penyerangan. Minimal dari indikasi pemindahan yang serba tergesa-gesa. Awalnya, para korban yang tersangka pembunuh anggota TNI itu ditahan di Polres Sleman, lalu dipindah ke polda, lantas ke Cebongan, lapas di tengah sawah dan jauh dari permukiman.

Jika polisi sudah membaca gelagat, mengapa tidak dititipkan ke Brimob? Bisa jadi, mereka menghindari bentrokan yang mirip di Ogan Komerin Ulu (OKU), Sumatera Selatan.

Secara teoretis, para korban itu berada dalam kondisi yang amat mudah diserang. Situasinya mendukung karena sepi, minim saksi, dan peralatan pengamanan amat terbatas. Keempatnya dikumpulkan dalam satu sel pula.

Lazimnya sebuah operasi klandestin, tentu ada titik 0 atau safe house sebelum ninja-ninja itu bergerak. Safe house tersebut pasti tak jauh-jauh dari lapas, akses ke jalan utama, dan aman dari kecurigaan warga.

Juga, patut dicermati, senjata yang digunakan adalah AK-47 kaliber 7,62 mm nonorganik (tidak digunakan TNI-Polri) dan bisa diidentikkan (atau ditudingkan) dengan senjata gelap kelompok ”teroris”.

Kawanan ninja tersebut bahkan menyiapkan surat bon seolah-olah dari Polda DIJ. Satu orang yang tak bercadar bilang ”dari polda” kepada sipir. Asumsi awal adalah tidak ada sipir yang harus terluka. Ada unsur strategic suprise  yang diharapkan: pintu buka, tahanan diambil, eksekusi .Tapi, plan A gagal karena sipir melawan. Akibatnya, ada lima yang terluka dihantam popor (tidak semua saksi tewas kan? Mereka saksi yang bisa ditanyai).

Seusai eksekusi, ke mana mereka lari? Logika standar operasi klandestin adalah ke safe house kedua. Di sana, senjata dikumpulkan dan ”dihilangkan” oleh tim sweeper logistik. Lalu, personel menghilang.

Yang selanjutnya bertugas adalah tim distorsi info atau tim noise. Caranya, membuat informasi yang bias, tumpuk-tumpuk, dan rancu. Istilah Jawa-nya mbingungi. Target mereka terutama wartawan dan tim penyidik. Bisa via gadget (social media) atau mouth to mouth. Informasi palsu itu bahkan hingga kemarin masih menyebar di Jogja. Misalnya, isu akan adanya pembakaran kafe dan sweeping warga NTT. Itu khas operasi klandestin intelijen hitam yang disebut strategi mufas atau multiple false scenario.

Bagaimana mengungkap operasi tersebut? Kita urut dari disiplin reserse dulu, yakni olah tempat kejadian perkara (TKP). Olah TKP itu dibagi dua, secara fisik dan pemeriksaan saksi-saksi. CCTV memang rusak dan hilang. Tapi, data sekecil apa pun, bahkan yang kita anggap sepele, bisa sangat menentukan penyidikan.

Misalnya, bekas ban mobil, jenisnya apa. Jarak parkir dengan gerbang, bekas sepatu, bekas peluru, bekas popor, dan semacamnya. Belakangan, polda merilis bahwa pelaku menggunakan sepatu PDL atau khas pakaian dinas lapangan layaknya aparat keamanan.

Juga, periksa ponsel Kalapas Sukamto, siapa yang menelepon dia suruh siap-siap sekitar 15 menit sebelum diserang. Sipir-sipir yang dipopor juga harus diperiksa detail. Misalnya, dari mana mereka bisa menghitung jumlah penyerang 17 orang? Dalam kondisi gelap, cepat , dan tertekan mentalnya, jumlah itu harus diverifikasi.

Lalu, apa bahasa dan logat penyerang, siapa yang nadanya mengomando. Suara komando orang terlatih jelas khas. Ciri fisik bisa juga berguna. Tinggi badan kira-kira, tegap, gemuk, kurus, atau apakah tingginya ”seragam”?

Bagaimana mereka bergerak? Sigap, tangkas, ragu-ragu, atau malah terpola layaknya sudah disimulasikan? Kelompok pro selalu bersimulasi serangan berkali-kali.

Analisis motif juga mahapenting. Mengapa empat preman tersebut dibunuh? Yang paling mungkin, soal balas dendam primitif. Atau sebab lain? Mungkinkah empat orang itu dikhawatirkan membuka ”sesuatu” dan ada yang dirugikan jika disidang?

Lihat juga side motif seperti asumsi adanya pihak ketiga yang ingin memfitnah sebuah kesatuan, misalnya Kopassus yang jadi sasaran gunjingan. Tapi, kenapa? Ingat, almarhum Heru Santoso, selain anggota Kopassus, juga pernah menjadi anggota Denintel Kodam IV Diponegoro. Ada juga info, satuan lain punya masalah dengan geng NTT itu. Atau, gegeran antarpreman. Tapi, siapa yang melatih?

Olah TKP dan olah motif dibantu hal ketiga, yakni database intelijen. Namun, semua proses penyidikan itu harus diikat dengan satu hal. Yakni, kemauan atau good will aparat, baik polisi maupun penyidik militer, untuk mengusut kasus tersebut.  ●

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/27/04310110/Priyo.Jangan.Buru-buru.Tuding.TNI.Terlibat

Priyo: Jangan Buru-buru Tuding TNI Terlibat
Sandro Gatra | Rabu, 27 Maret 2013 | 04:31 WIB

KOMPAS/HENDRA A SETYAWANWakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Priyo Budi Santoso

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Priyo Budi Santoso meminta kepada semua pihak untuk tidak terburu-buru menuduh adanya keterlibatan oknum Tentara Nasional Indonesia dalam penyerangan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta. Priyo meminta semua pihak menunggu hasil kerja kepolisian.

“Saya menyerukan kepada semua pihak untuk tidak terburu-buru menuding TNI, khususnya Koppasus. Kita hentikan untuk menuduh seolah-olah mereka yang melakukan. Lebih baik kita percayakan pada mekanisme yang ada,” kata Priyo di Jakarta, Selasa (26/3/2013).

Priyo tak setuju dibentuknya tim independen untuk memantau penyelidikan di kepolisian. Priyo berpendapat, selama kepolisian masih mampu menangani, sebaiknya dipercayakan sepenuhnya kepada kepolisian.

“Kalau mereka masih mampu, kenapa enggak kita beri kesempatan dulu? Sehingga tidak semua kita bentuk tim independen. Kalau mereka sudah lempar handuk, baru (dibentuk),” ucap Priyo.

Priyo menambahkan, peristiwa di Sleman harus menjadi pembelajaran bagi pemerintah untuk tidak membiarkan aksi anarkistis atau premanisme. Hukum harus ditegakkan kepada siapa pun yang melanggar.

“Saya berharap ini adalah persoalan yang terakhir. Ini akan merontokkan sendi-sendi hukum dan demokrasi yang kita bangun. Enggak boleh hukum rimba jadi alasan,” pungkas politisi Partai Golkar itu.

Seperti diberitakan, kelompok bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda.

Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), di Hugo’s Cafe. Mereka juga mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas.

Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup wajah masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari. Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit.

Awalnya, keempat tersangka ditahan di Polres Sleman, lalu dipindahkan ke Polda DI Yogyakarta tanggal 20 Maret. Pada Jumat 22 Maret, mereka dipindahkan ke Lapas Cebongan. Kemudian, Sabtu dini hari eksekusi terjadi.

Kasus itu masih dalam penyelidikan Kepolisian. Hanya saja, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal TNI Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga membantah.

Editor : Ana Shofiana Syatiri

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/27/11304094/Polisi.Didesak.Buat.Sketsa.Wajah.Penyerang.Lapas.Sleman

Polisi Didesak Buat Sketsa Wajah Penyerang Lapas Sleman
Robertus Belarminus | Rabu, 27 Maret 2013 | 11:30 WIB

FERGANATA INDRA RIATMOKO
Warga berbincang dengan anggota keluarga mereka yang menjadi penghuni LP Cebongan di Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013). Berbagai aktivitas di lapas tersebut telah berangsur normal pasca-penyerbuan gerombolan bersenjata api tiga hari sebelumnya yang mengakibatkan empat tahanan tewas. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

JAKARTA, KOMPAS.com – Pihak kepolisian didesak untuk segera membuat sketsa wajah pelaku penyerangan di Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, pada Sabtu (23/3/2013) dini hari silam.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan, petugas sipir lapas sempat melihat ada dua pelaku penyerangan yang tidak mengenakan penutup wajah saat kejadian berlangsung.

“Polri harus segera membuat sketsa wajah salah satu dari 17 anggota pasukan siluman yang menyerbu dan mengeksekusi mati empat tahanan di Lapas Cebongan, Sleman. Sebab, sebelum pasukan bertopeng menyerbu ke dalam lapas, petugas portir sempat melihat ada dua orang yang meminta diizinkan masuk sambil memperlihatkan selembar surat dengan kop Polda Jogja,” tulis Neta dalam keterangan persnya kepada Kompas.com, Rabu (27/3/2013).

Neta mengatakan, selain membuat sketsa wajah pelaku penyerangan, polisi juga diminta untuk membuat sketsa rupa para pelaku penyerbuan tersebut. Hal tersebut untuk mengetahui ciri-ciri atau aksesori apa yang dikenakan kelompok penyerang yang menembak mati empat tahanan pembunuh Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, Selasa (19/3/2013) silam tersebut.

Dari sketsa itu, kata Neta, akan bisa diketahui pasukan penyerbu itu berasal dari mana. Kebiasaan menggunakan peralatan dan menempatkan aksesori seperti granat di bagian tubuhnya bisa menjadi indikasi siapa sesungguhnya mereka.

Selanjutnya, kata Neta, sketsa-sketsa tersebut bisa kemudian dipublikasikan dengan cara disebar kepada publik agar dapat membantu mengungkap kelompok penyerang yang hingga kini masih “gelap” identitasnya itu.

Neta mengatakan, IPW mengapresiasi kinerja Polri, bukti dan saksi terus dikumpulkan. Hanya, publik berharap agar kasus ini segera terungkap.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang Lapas Cebongan, Sleman, Yogyakarta, Jawa Tengah. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop Polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus. Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas.

Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas agar menunjukkan empat tahanan yang dicari. Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Mereka tercatat sebagai desertir anggota kesatuan Kepolisian Resor Kota Besar Yogyakarta.

Sebelum kabur, gerombolan bersenjata api itu juga membawa rekaman kamera CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit. Kasus itu masih dalam penyelidikan. Namun, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus.

Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga menyatakan bantahan yang sama. Sementara Polri mengatakan pelaku penyerangan lapas masih gelap.

Editor : Hertanto Soebijoto

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/27/11482367/Tuduh.TNI.Terlibat.di.Lapas.Sleman.Perkeruh.Situasi

Tuduh TNI Terlibat di Lapas Sleman, Perkeruh Situasi
Sandro Gatra | Rabu, 27 Maret 2013 | 11:48 WIB

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Petugas membukakan pintu akses utama LP Cebongan di Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013). Berbagai aktivitas di lapas tersebut telah berangsur normal pascapenyerbuan gerombolan bersenjata api tiga hari sebelumnya yang mengakibatkan empat tahanan tewas.

JAKARTA, KOMPAS.com – Semua pihak diminta menahan diri sampai rampungnya investigasi kepolisian terhadap penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta. Diharapkan publik tidak langsung menuduh ada keterlibatan oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam peristiwa tersebut.

“Jangan terlalu pagi menuduh institusi tertentu di balik peristiwa itu. Tuduhan itu akan memperkeruh situasi dan menambah keresahan,” kata anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Didi Irawadi Syamsuddin, melalui pesan singkat, Selasa (27/3/2013).

Didi mengatakan, kepolisian harus secepatnya mengungkap dan menangkap seluruh pelaku. Siapa pun pelakunya, kata dia, harus diproses secara hukum dan dihukum berat.

“Aksi ala mafia yang menyerbu lapas baru pertama kali terjadi. Aksi gaya hukum rimba itu jelas sangat serius dan amat meresahkan. Biarlah proses hukum yang menyelesaikan persoalan ini,” kata politisi Partai Demokrat itu.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop Polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, Selasa lalu.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit.

Awalnya, keempat tersangka ditahan di Polres Sleman, lalu dipindahkan ke Polda DI Yogyakarta tanggal 20 Maret. Pada Jumat 22 Maret, mereka dipindahkan ke Lapas Cebongan. Sabtu dini hari eksekusi terjadi.

Kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian. Hanya, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga membantah.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menginstruksikan kepolisian harus dapat menangkap seluruh pelaku. Presiden menilai peristiwa itu sebagai serangan langsung terhadap kewibawaan negara. Selain telah menghasilkan ancaman serius terhadap rasa aman publik, Presiden menyatakan serangan itu juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap supremasi hukum.

Editor : Hindra

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/27/13411098/Polisi.Sudah.Kantongi.Ciri-ciri.Pelaku.Penyerangan.Sleman

Polisi Sudah Kantongi Ciri-ciri Pelaku Penyerangan Sleman
Dian Maharani | Rabu, 27 Maret 2013 | 13:41 WIB

VITALIS YOGI TRISNA
Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepolisian telah mengantongi ciri-ciri pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Ciri-ciri pelaku didapat dari keterangan saksi dan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP).

“Artinya apakah dialek, perawakan, ciri-ciri, alat-alat apa yang dipakai, pasti digali di situ. Itu namanya proses olah TKP. Proses pemeriksaan bisa terbangun seperti apa profil pelaku,” terang Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di sela-sela Rakernis Humas Polri, Hotel Maharadja, Jakarta Selatan, Rabu (27/3/2013).

Namun, untuk kepentingan penyidikan, Boy mengatakan, pihaknya belum dapat mengungkapkan hal tersebut. Boy mengaku, penyidik juga belum mengerucut pada sebuah nama atau kelompok penyerangan. “Penyelidikannya konvensional dan nonkonvensional. Konvensional itu dilakukan secara manual, sementara nonkonvensional (Polri) memanfaatkan teknologi. Kita belum sampai dari kelompok mana-mana,” katanya.

Hingga kini, kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap 45 saksi pada kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan di Sleman, Yogyakarta. Total saksi tersebut terdiri dari 13 petugas lapas dan 32 narapidana dan tahanan. Berdasarkan keterangan saksi, pelaku sekitar 17 orang berbadan tegap. Mereka mengenakan penutup wajah, pakaian bebas, rompi hitam, dan sepatu PDL. Tim penyidik juga menunggu hasil uji balistik dari proyektil maupun selongsong peluru yang ditemukan di lokasi. Saksi menduga pelaku mengunakan senjata AK-47 dan jenis FN.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam peristiwa itu, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa, ditembak mati. Keempatnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.

Editor : Hindra

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/27/1355332/Wiranto.Tak.Sulit.Selesaikan.Kasus.LP.Sleman

Wiranto: Tak Sulit Selesaikan Kasus LP Sleman
Dani Prabowo | Rabu, 27 Maret 2013 | 13:55 WIB

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Wiranto mengatakan, tak sulit untuk menyelesaikan kasus penyerangan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, oleh sekelompok bersenjata.

“Ini bukan persoalan bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak. Ini sebenarnya merupakan persoalan yang mudah, tetapi dipersulit,” kata Wiranto saat dijumpai seusai menggelar kuliah umum di Hotel Four Season, Jakarta, Rabu (27/3/2013).

Persoalan penyelesaian kasus penyerangan terhadap Lapas Cebongan ini, menurut Wiranto, terletak pada kejujuran dari seorang pimpinan dan juga keberanian dari aparat berwenang untuk mengungkapnya.

“Seharusnya pemimpin itu jujur. Yang salah, ya dihukum, jangan malah dilindungi,” ujarnya seraya berjanji. Wiranto mengatakan, ia mampu mengusut kasus ini hanya dalam kurun waktu satu hari saja.

Seperti diberitakan, kelompok bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam peristiwa itu, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa, ditembak mati.

Keempat tahanan itu adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.

Editor : Hindra

http://id.berita.yahoo.com/komunikasi-kapolda-pangdam-terkait-cebongan-diusut-060430575.html

Komunikasi Kapolda-Pangdam Terkait Cebongan Diusut  
TEMPO.COTEMPO.CO – Sel, 9 Apr 2013

TEMPO.CO, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) berjanji terus mengusut latar belakang penyerangan ke Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Lembaga ini sedang mencari tahu motif komunikasi antara mantan Kepala Polda Yogyakarta, Brigadir Jenderal Sabar Rahardjo, dengan mantan Panglima Daerah Militer IV Diponegoro Mayor Jenderal TNI Hardiono Saroso sebelum penyerangan.

“Memang itu bagian yang diselidiki dan kami sudah bertemu dengan mantan Kepala Polda,” ujar Ketua Komnas HAM, Siti Noor Laila, saat dihubungi melalui telepon selulernya, Selasa, 9 April 2013.

Video: Sabar Rahardjo Membantah
Video: Pergantian Pangdam IV Diponegoro

Laila menuturkan, bila benar kedua pejabat teras tersebut mengetahui akan ada penyerangan ke lembaga pemasyarakatan, unsur pembiaran dari pihak aparatur negara bisa terpenuhi. “Tapi, kami belum menganalisis informasi-informasi yang diterima karena sedang melakukan pengembangan penelusuran,” ujar dia.

Komunikasi antara Fajar dan Hardiono terjadi sebelum penyerangan terhadap LP Cebongan yang menewaskan empat tersangka pembunuh anggota Komando Pasukan Khusus, Sersan Kepala Santoso.  Ini memunculkan spekulasi bahwa keduanya sudah tahu akan ada penyerangan terhadap LP Cebongan. Sejumlah pihak mendesak agar keduanya  diperiksa untuk mengetahui mengapa tidak ada antisipasi terhadap penyerangan tersebut.

“Kalau sudah dianalisis, kami akan keluarkan rekomendasi.  Yang jelas pengakuan pelaku itu adalah temuan awal dan itu tidak cukup untuk menguatkan bukti,” ucap Siti.

TRI SUHARMAN

http://m.merdeka.com/peristiwa/keluarga-korban-cebongan-tepis-sebutan-korban-adalah-preman.html

Keluarga korban Cebongan tepis sebutan korban adalah preman
Muhammad Mirza Harera, Rabu, 10 April 2013 13:08:21

Empat keluarga korban penembakan di lapas Cebongan, Jawa Tengah, mendatangi kantor Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan diterima langsung oleh Albert Hasibuan. Keempat keluarga tersebut adalah Jorhans kaja kaka dari Hendrik Sahetapy Engel alias Deki, Victor kakak dari Johanes Manbait alias Juan, Yani rohi kakak dari Adi Gamelia, dan Yohanes Lado kakak Adrianus Galaja alias Dedi.

Dalam kesempatan itu, para keluarga menegaskan bahwa keempat keluarga mereka bukanlah kawanan preman seperti yang diberitakan dan juga berdasarkan keterangan para penyidik.

“Adik saya Juan bukanlah seorang preman, dia adalah seorang polisi berpangkat Bripka. Dia pernah bertugas di Aceh tahun 2001 dan sampai saat penangkapan dia juga masih tercatat sebagai polisi,” kata Victor saat jumpa pers di Wantimpres, Rabu (10/4).

Keluarga korban yang lain Jorhans Kaja juga menjelaskan adiknya Deki adalah security Hugo’s Caffe dimana Heru Santoso terbunuh. Yani Rohi menjelaskan adiknya juga seorang Security di Graha Spa sekitar Hugo’s Caffe, dan Yohaes Lado menjelaskan adiknya Dedi adalah mahasiswa di salah satu Universitas di Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, Albert Hasibuan juga menilai para korban bukanlah kawanan preman karena melihat dari profesi korban bisa dilihat mereka bukanlah preman.

“Saya pikir penyebutan preman tidak tepat, saya khawatir justifikasi seperti ini akan membuat para keluarga korban sedih,” ujar Albert.
(mdk/hhw)

http://polhukam.rmol.co/read/2013/04/10/105941/Permohonan-Keluarga-Korban-Cebongan-Ditolak-Denny-Indrayana-

Permohonan Keluarga Korban Cebongan Ditolak Denny Indrayana
Samrut Lellolsima, Rabu, 10 April 2013 , 19:05:00 WIB

RMOL. Empat perwakilan keluarga korban pembunuhan di Lapas Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta, mendatangi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), kawasan Kuningan, Jakarta. Mereka diterima langsung oleh Wakil Menkumham, Denny Indrayana.

Dalam pertemuan itu, para perwakilan keluarga meminta Denny Indrayana mengupayakan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta guna mengusut kasus yang menyeret 11 anggota tim elite Kopassus TNI AD ke peradilan militer.

Victor Manbait, kakak kandung almarhum Johanes Juan Manbait, menerangkan bahwa permintaan para keluarga korban dikarenakan kekhawatiran pengusutan kasus itu bakal sarat kepentingan korps jika hanya ditangani oleh TNI AD.

“Kita menghargai kerja yang dilakukan. Tetapi, secara internal, ada berbagai kepentingan yang akan mengurangi kemandirian. Kami berpendapat akan lebih baik dibentuk Tim Gabungan dan pelakunya diadili di pengadilan sipil,” kata dia usai bertemu Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana, Rabu (10/4).

Diharapkannya, tragedi berdarah itu bisa diselesaikan secara transparan dan menyeluruh. Dia juga berharap agar pihak keluarga tidak diintimidasi. Selama ini banyak pernyataan sepihak yang menyudutkan para korban tewas sebagai preman.

Sayangnya, usulan para keluarga korban ditolak Denny Indrayana. Mantan staf khusus presiden itu mengatakan, pembentukan tim gabungan dirasa belum perlu oleh pemerintah. Denny mengimbau keluarga sabar melihat perkembangan kinerja dari tim yang sudah ada.

“Kami lihat kerja tim masih bisa dikawal,” kata Denny.

Dia bahkan yakin, proses penegakan hukum terhadap pelaku penyerangan di Cebongan itu akan memenuhi rasa keadilan warga negara.

“Menkumham sudah lihat penanganan kasusnya. Kami lihat baik, karena sudah mengindikasikan pelakunya. Saya masih optimis proses ini masih bisa berjalan,” jelas Denny. [ald]

http://id.berita.yahoo.com/keluarga-korban-lapas-cebongan-sedih-kerabatnya-disebut-preman-114426849.html

Keluarga korban Lapas Cebongan sedih kerabatnya disebut preman
Merdeka.comMerdeka.com – 15 jam yang lalu

MERDEKA.COM. Para perwakilan keluarga korban pembunuhan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengaku kecewa lantaran para korban tewas disebut-sebut sebagai preman. Mereka tidak terima dengan sebutan itu dan merasa disudutkan.

“Kemudian berkembang stigma yang dikatakan para korban adalah preman. Itu sudah sangat mengganggu psikologi keluarga,” kata kata Victor Mandai, kakak kandung salah satu korban, Johannes Sijuan Mandai, kepada wartawan usai bertemu Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana, di Jakarta, Rabu (10/4).

Selain melukai perasaan keluarga, menurut Victor, penyebutan para korban sebagai preman berdampak pada warga Nusa Tenggara Timur yang menetap di Yogyakarta. Mereka mengaku seolah dijauhi dan dicap sebagai biang onar. Padahal, lanjut Victor, setiap warga negara berhak mendapat perlindungan.

Victor pun menyayangkan sampai saat ini pihak keluarga mendiang Johannes Mandai tidak pernah mendapatkan ucapan belasungkawa dari Kepolisian, atas kepergian korban. Dia pun mengaku sampai saat ini keluarga masih menunggu itikad baik Kepolisian.

“Apakah memberikan ucapan duka tidak ada? Sampai saat ini tidak ada sama sekali dari institusi besar itu (Polri),” ujar Victor.

http://id.berita.yahoo.com/salahkan-preman-di-cebongan-bisa-kaburkan-masalah-111447532.html

Salahkan Preman di Cebongan Bisa Kaburkan Masalah
TEMPO.COTEMPO.CO – 15 jam yang lalu

TEMPO.CO, Yogyakarta –  Pengamat media mengkhawatirkan perkembangan wacana yang belakangan ini muncul di masyarakat pasca peristiwa penembakan di lembaga pemasyarakatan Cebongan, Sleman. Pergeseran isu dari pelanggaran HAM atas penembakan empat tahanan menjadi wacana pemberantasan preman dan dukungan terhadap Kopassus, telah mengaburkan masalah utama.

“Pergeseran isu itu tampak dari beberapa aksi dukungan pemberantasan preman, pemasangan spanduk, hingga mobilisasi dukungan dan pujian terhadap Kopassus melalui jejaring sosial,” kata pengamat media dari Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta Lukas Ispandriyarno.

Lukas menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bertema ‘Penyerangan Lapas Cebongan: antara Fakta, Hidden Agenda dan Framing Media’ di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Selasa (9/4) malam.

Berdasarkan pengamatan Tempo, sejumlah spanduk ramai menghiasi sudut-sudut persimpangan jalan di kawasan kota Yogyakarta. Seperti di pojok perempatan kantor Pos Besar Yogyakarta yang berdampingan dengan pos polisi ada spanduk bertuliskan I Love Kopassus, I Love Polri, Rakyat-TNI Bersatu Berantas Preman Termasuk yang Berkedok Agama, Terimakasih Kopassus Yogyakarta Aman Preman Minggat, Premanisme Bukan Sifat Asli Orang Yogya Pergi atau Kita Usir, juga Basmi Preman Termasuk yang Berkedok Agama Sampai Seakarnya.

Menurut Lukas wacana yang berkembang terutama di Yogyakarta ini berbahaya. “Jangan-jangan Yogyakarta dikuasai militer karena terstruktur. Publik juga enggak berani bersikap, rata-rata setuju pemberantasan preman,” kata Lukas.

Selain soal pemberantasan preman, dia menyoroti pemuatan jargon-jargon TNI untuk mengangkat citra Kopassus melalui media. Jargon yang ditampilkan media seperti ksatria, bawahan, korsa, spontan. “Itu diucapkan tim dalam pengumuman yang sangat cepat. Kelihatan sekali kalau di-framing,” kata Lukas.

Sementara itu, peneliti konflik dari Pusat Studi Konflik dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Najib Azka menilai ada upaya sistematis untuk mengembangkan opini tentang pemberantasan premanisme di Yogyakarta. “Media diarahkan ke sana (isu premanisme) ketimbang upaya pengungkapan dan proses peradilan yang adil,” kata Najib.

Pengaruh ini, katanya masyarakat menjadi saling tuding. Wacana yang berkembang di antaranya mempertanyakan apakah penembakan empat tahanan yang  mengeroyok anggota Kopassus Sersan Kepala Heru Santosa hingga tewas itu layak disebut pelanggaran HAM berat atau sebaliknya. Najib menjelaskan, bahwa pelaku pelanggaran HAM adalah negara. “Empat tahanan itu ditembak mati di dalam penjara karena tak ada perlindungan keamanan dari negara sebagai pemegang otoritas,” katanya.

Sedangkan pengeroyokan yang dilakukan empat tahanan terhadap Heru adalah pelanggaran hukum atau tindakan kriminal antar publik. “HAM masih jadi isu yang asing bagi khalayak. Jadi jangan hanya melawan preman jalanan, tapi juga berantas preman berseragam,” kata Najib.

Lukas juga mengingatkan media untuk mengawal hasil penyidikan polisi atas kasus penembakan itu. “Penyidikan adalah tugas polisi. Media harus menagih hasil kerja polisi,” kata Lukas.

Menurut Lukas, hal-hal yang perlu dikejar jurnalis di lapangan misalnya: apa yang telah dilakukan dan harus dilakukan polisi, apa hasil sketsa wajah pelaku cocok atau tidak dengan pelaku versi TNI AD, apa hasil uji balistik peluru. Khalayak, katanya tidak perlu menunggu persidangan terhadap para pelaku, melainkan publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi itu merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.

“Jangan sampai hasil kerja media (mengumpulkan data dan fakta) hilang gara-gara pengumuman tim TNI itu. Publik menunggu media mengungkapnya,” kata Lukas.

PITO AGUSTIN RUDIANA

http://id.berita.yahoo.com/spanduk-pro-kopassus-bertebaran-di-yogyakarta-135038121.html

Spanduk Pro-Kopassus Bertebaran di Yogyakarta
TEMPO.COTEMPO.CO – 13 jam yang lalu

TEMPO.CO, Yogyakarta -Ratusan spanduk berisi dukungan terhadap Kopassus muncul di Yogyakarta. Pemasang spanduk membantah TNI terlibat memobilisasi dukungan.

Spanduk itu muncul melalui pemasangan spanduk di pinggir-pinggir jalan sejak Senin, 8 April. Spanduk itu bertuliskan Basmi Preman, I Love Kopassus, Terimakasih Kopassus, dan I Love Polri. Spanduk berukuran 3 X 0,6 meter beberapa diantaranya dipasang di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta, perempatan Ngampilan, perempatan Wirobrajan, Jalan Wates, peremptan Tugu, Pingit, Demak Ijo. Semua spanduk dipasang tanpa izin dari pemerintah kota maupun kabupaten.

Pemasang spanduk dari Face of Yogya, Irwan Cahya Nugraha Gosong, mengatakan pihaknya memasang 200 spanduk dukungan terhadap Kopassus dan tolak premanisme di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul sejak Senin, 8 April 2013. Irwan adalah koordinator lapangan Pemuda Yogya Anti-Premanisme, yang melakukan aksi mendukung Kopassus di kawasan Tugu, Minggu, 7 April 2013. Dia mengklaim mendapat dukungan dari masyarakat Yogyakarta.

“Di Yogyakarta ada 100 spanduk. Dengan spanduk itu orang bisa melihat Yogyakarta aman dari preman,” kata dia saat dihubungi Tempo, Rabu, 10 April 2013.

Menurutnya, komunitas membutuhkan biaya sebesar Rp10 juta. Dana spanduk beberapa diantaranya berasal dari iuran anggota Jogja Otomotif Community, Paguyuban Motor Yogya. “Ini murni iuran pemuda. Tidak ditunggangi TNI dan Polri. Saya yang bertanggungjawab,” kata dia.

Aksi pemasangan spanduk merupakan kelanjutan dari aksi 200 massa pendukung Kopassus dari Pemuda Yogya Anti-Pemanisme di kawasan Tugu menuju DPRD DIY. Massa terdiri dari berbagai kelompok, seperti Jogja Otomotif Community, Paguyuban Motor Yogya, Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) , Forum Jogja Rembug dan komunitas seniman Yogya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Kelompok ini juga menyebarkan pesan berantai mendukung Kopassus melalui jejaring sosial facebook, twitter, dan Blackberry Message. Mereka menganggap Kopassus sebagai kesatria yang berjiwa heroik. Kopassus secara langsung dan tidak langsung dianggap membuat Yogyakarta aman dan bersih dari preman.

Kepala Seksi Intelijen Grup II Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo, Kapten Infanteri Wahyu Yuniartoto tidak menjawab saat dihubungi Tempo melalui pesan singkat di ponselnya.

SHINTA MAHARANI

http://id.berita.yahoo.com/ada-upaya-alihkan-isu-penembakan-cebongan-124942516.html

Ada Upaya Alihkan Isu Penembakan Cebongan
TEMPO.COTEMPO.CO – 14 jam yang lalu

TEMPO.CO, Yogyakarta – Pengamat menilai ada upaya sistematis mengalihkan isu penembakan yang menewaskan empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta menjadi isu menolak premanisme.

»Belakangan ini muncul upaya sistematis mengembangkan opini tentang isu premanisme ketimbang menyelesaikan kasus penyerangan LP Cebongan,” ujar peneliti Pusat Studi Kebijakan dan Perdamaian, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Najib Azca. (Baca: Nggak Usah ke Jogja Kalau Buat Rusuh)

Najib yang dikenal sebagai sosiolog ini mengatakan hal itu dalam diskusi tentang penyerangan LP Cebongan di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, Selasa malam 9 April 2013. Sinyalemen Najib ini dibenarkan pengamat media dari Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY), Lukas Ispandriarno. »Terjadi pergeseran isu dari pelanggaran HAM atas penembakan empat tahanan itu menjadi pemberantasan preman dan dukungan terhadap langkah Kopassus di Yogyakarta,” katanya.

Pergeseran isu itu tampak dari beberapa aksi dukungan pemberantasan preman, pemasangan spanduk, hingga mobilisasi dukungan dan pujian terhadap Kopassus melalui jejaring sosial. Dukungan terhadap Kopassus muncul lewat ratusan spanduk di tepi jalan sejak Senin lalu. Spanduk itu bertuliskan: Basmi Preman, I Love Kopassus, Terimakasih Kopassus, dan I Love Polri.

Spanduk berukuran 3 X 0,6 meter beberapa di antaranya dipasang di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta, perempatan Ngampilan, Wirobrajan, Jalan Wates, Tugu, Pingit, Demak Ijo. Semua spanduk dipasang tanpa izin pemerintah kota maupun kabupaten. »Itu dimuat media. Ini bahaya, jangan-jangan Yogyakarta dikuasai militer karena terstruktur,” kata Lukas.

Pemasang spanduk itu dilakukan oleh kelompok Face of  Yogya, komunitas peduli seni. Menurut, Irwan Cahya Nugraha Gosong, aktivis komunitas ini, komunitasnya memasang 200 spanduk itu di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul sejak Senin lalu. Dia mengklaim didukung masyarakat Yogyakarta. »Dengan spanduk itu orang bisa melihat Yogyakarta aman dari preman,” kata dia Rabu 10 April 2013.

Menurut Irwan, komunitas membuat spanduk itu dengan dana Rp 10 juta yang berasal dari iuran anggota Jogja Otomotif Community, Paguyuban Motor Yogya. »Ini murni iuran pemuda. Tidak ditunggangi TNI dan Polri. Saya yang bertanggungjawab,” kata dia.

Pemasangan spanduk merupakan kelanjutan aksi 200 orang pendukung Kopassus yang menyebut diri Pemuda Yogya AntiPremanisme di kawasan Tugu, Ahad pekan lalu. Menurut Irwan, kelompok ini juga menyebarkan pesan berantai mendukung Kopassus melalui jejaring sosial. »Kami menganggap Kopassus secara langsung dan tidak langsung membuat Yogyakarta aman dan bersih dari preman,” katanya.

SHINTA MAHARANI | PITO AGUSTIN RUDIANA

http://id.berita.yahoo.com/alasan-kasus-cebongan-tak-perlu-tim-pencari-fakta-124828424.html

Alasan Kasus Cebongan Tak Perlu Tim Pencari Fakta
TEMPO.COTEMPO.CO – 14 jam yang lalu

TEMPO.CO, Jakarta – Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana menganggap belum dibutuhkan tim gabungan pencari fakta untuk kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Menurutnya, penanganan kasus ini sudah cukup baik. “Kan sudah mengungkapkan inidikasi awal siapa pelakunya,” kata Denny di kantornya, Rabu, 10 April 2013.

Walaupun pihak keluarga menginginkan adanya tim pencari fakta, Denny berpandangan memberi kesempatan kepada tim investigasi yang saat ini bekerja. “Mari beri kesempatan,” kata dia. Tim itu adalah bentukan TNI Agkatan Darat.

Denny mengungkapkan, permintaan keluarga merupakan bagian kritik yang baik. Sangat wajar bila keluarga khawatir akan ada benturan kepentingan jika kasus pembunuhan terhadap empat tahanan ini ditangani TNI sepenuhnya.  Mengingat pelakunya adalah anggota Komando Pasukan Khusus. “Itu satu argumen yang bisa saja dipaparkan,” kata Denny.

Dia optimistis pengungkapan kasus penyerangan penjara Cebongan akan transparan. Pasalnya, sejumlah kalangan turut mengawasi termasuk pers dan lembaga swadaya masyarakat. Tragedi Cebongan berlangsung pada 23 Maret lalu. Sebanyak 11 anggota Kopassus dari Grup 2 Kandang Menjangan, Kartasura, dilaporkan oleh Tim Investigasi TNI AD sebagai pelaku pembantaian empat tahanan.

Mereka dihabisi dalam keadaan tak berdaya. Motif pembunuhan adalah balas dendam. Empat tahanan tak lain adalah tersangka  kasus cekcok di Hugo’s Cafe Sleman pada 19 Maret lalu. Peristiwa ini menewaskan anggota Kopassus Sersan Kepala Heru Santoso. Kasus ini memicu solidaritas anggota Kopassus untuk membalas kematian Santoso.

Keluarga dari salah satu korban penyerangan, Victor J. Mambaik, meminta tragedi Cebongan dibentuk tim gabungan pencari fakta. Tim ini diharapkan bekerja  lebih terbuka dan profesional.

Victor menganggap penanganan kasus oleh internal TNI AD sulit menghasilkan temuan yang komprehensif. “Kasus ini luar biasa yang harus ditangani secara luar biasa juga.”

TRI ARTINING PUTRI

http://nasional.kompas.com/read/2013/04/11/09213585/Keluarga.Jelaskan.Profesi.Korban.Cebongan

Penyerbuan Lapas
Keluarga Jelaskan Profesi Korban Cebongan
Iwan Santosa | Kamis, 11 April 2013 | 09:21 WIB

KOMPAS.com/Sandro Gatra
Keluarga korban pembunuhan empat tahanan Lapas Cebongan didampingi anggota Wantimpres Albert Hasibuan (tengah)

JAKARTA, KOMPAS.com – Para keluarga korban penyerbuan Lapas Cebongan, Sleman, membuka suara menjelaskan profesi yang digeluti para korban. Victor Manbait, kakak dari Brigadir Kepala (Bripka) Johanis Juan Manbait, di Jakarta, Kamis (11/4/2013), menyatakan, adiknya yang tewas dibunuh adalah anggota aktif kepolisian dari satuan Brigade Mobil (Brimob).

Para keluarga korban berada di Jakarta untuk menuntut keadilan dan juga mengajak keluarga Sersan Kepala Heru Santoso yang tewas dalam keributan di Hugo’s Café untuk bersama-sama memperjuangkan penegakan hukum dari rangkaian kekerasan di Hugo’s Café hingga penyerbuan Lapas Cebongan.

“Bripka Johanis Juan Manbait lulus Sekolah Calon Bintara (Secaba) Polri 1996-1997 dan mendapat bintang jasa penugasan di Timor-Timur dan Aceh berupa Bintang Seroja, Bintang Rencong, dan Bintang Nusa Bakti tahun 2003. Dia dan Decky atau Hendrik Sahetapy dipanggil ke Hugo’s Café karena mendengar ada keributan. Kalau memang mereka pembunuh, kenapa mau membawa almarhum Heru Santoso ke rumah sakit. Lalu mereka dengan patuh datang untuk dimintai keterangan,” kata Victor Manbait.

Dia berharap rekaman CCTV di Hugo’s Café dibuka agar awal kasus bisa terungkap dan tidak ada lagi prasangka. Namun, rekaman tersebut tidak boleh diedit atau dipotong-potong gambarnya. Turut hadir pula Yanny Rohiriwu, kakak dari Gamaliel Y Rohiriwu; Johanis Lado alias Hans, kakak dari Adrianus Candra Galaja; dan Johanis Kadja, kakak dari Hendrik B Engel Sahetapy.

Johanis Kadja menjelaskan, Hendrik Sahetapy adalah staf seorang bangsawan Pura Pakualam. Selanjutnya, Johanis Lado menjelaskan, adiknya Adrianus Galaja adalah mahasiswa semester VI di Sekolah Teknologi Adisucipto. Adapun Yanny Rohiriwu menjelaskan, saudaranya Gamaliel Y Rohiriwu pernah bekerja sebagai kondektur bus transjogja dan terakhir diketahui menjadi tenaga keamanan di Graha Spa.

Mereka menolak tudingan bahwa keempat korban adalah preman yang mengganggu keamanan masyarakat. Mereka berharap kasus di Hugo’s Café bisa dibuka dan menjadi titik awal pengungkapan kasus yang juga merugikan keluarga Serka Santoso dan para sipir serta tahanan lain.

Editor : Rusdi Amral

2013031906    “Tentara Kopassus Tewas Ditusuk di Kafe Hotel
(penusukan Sersan Satu Santosa)”    http://www.tempo.co/read/news/2013/03/19/063467964/Tentara-Kopassus-Tewas-Ditusuk-di-Kafe-Hotel
201303262244    31 Tahanan Lapas Cebongan Akan Dapat Pengamanan Khusus    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/22441385/31.Tahanan.Lapas.Cebongan.Akan.Dapat.Pengamanan.Khusus
4 Orang ini minta hentikan simpati pada Kopassus    http://www.merdeka.com/peristiwa/4-orang-ini-minta-hentikan-simpati-pada-kopassus.html
Abang Pesan, Pakaikan Namaku …    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/27/08303638/Abang.Pesan.Pakaikan.Namaku.
201303241645    Ada “Timekeeper” Saat Penyerangan di Lapas Sleman    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/16452542/Ada.Timekeeper.Saat.Penyerangan.di.Lapas.Sleman
Ada Penyesatan Informasi di Kasus Penyerangan Lapas Cebongan    http://nasional.kompas.com/read/2013/04/11/05173470/.Ada.Penyesatan.Informasi.di.Kasus.Penyerangan.Lapas.Cebongan.
201304102111    Ada Upaya Alihkan Isu Penembakan Cebongan    http://id.berita.yahoo.com/ada-upaya-alihkan-isu-penembakan-cebongan-124942516.html
Aktivitas Lapas Cebongan Berangsur Normal    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/12364159/Aktivitas.Lapas.Cebongan.Berangsur.Normal
Aktivitas Lapas Cebongan Sudah Normal Lagi    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/21531667/Aktivitas.Lapas.Cebongan.Sudah.Normal.Lagi
201304102111    Alasan Kasus Cebongan Tak Perlu Tim Pencari Fakta    http://id.berita.yahoo.com/alasan-kasus-cebongan-tak-perlu-tim-pencari-fakta-124828424.html
Analis Kasus Cebongan Harus Lihat CCTV di Hugo’s Cafe     http://nasional.kompas.com/read/2013/04/10/18040250/Analis.Kasus.Cebongan.Harus.Lihat.CCTV.di.Hugo.s.Cafe.
201303251706    Bantah, Pangdam Diponegoro Terkesan Menutupi    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/17065437/Bantah.Pangdam.Diponegoro.Terkesan.Menutupi
Bertahan Dua Hari, Bayi Dua Tahun Akhirnya Dievakuasi Kopassus    http://regional.kompas.com/read/2013/01/17/17442659/Bertahan.Dua.Hari.Bayi.Dua.Tahun.Akhirnya.Dievakuasi.Kopassus
201303251431    BIN: Penembakan di Sleman Tak Bisa Ditoleransi     http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/14313861/BIN.Penembakan.di.Sleman.Tak.Bisa.Ditoleransi.
201303231011    Denny Indrayana: Penyerang Lapas Sleman Akan Diproses Hukum    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/10113119/Denny.Indrayana.Penyerang.Lapas.Sleman.Akan.Diproses.Hukum
Denny: Pengamanan di Lapas Sudah Seusai Prosedur    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/14394494/Denny.Pengamanan.di.Lapas.Sudah.Seusai.Prosedur
201303261537    Densus 88 Dapat Dilibatkan Usut Penyerangan Lapas    http://terkini2.bbc.web.id/read/nasional/read/2013/03/26/1537142/Densus.88.Dapat.Dilibatkan.Usut.Penyerangan.Lapas?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kpopwp
201303231325    Diduga, Penyerang Lapas Sleman terkait TNI    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/13250769/Diduga.Penyerang.Lapas.Sleman.terkait.TNI
Empat Jenazah Korban Penembakan di LP Sleman Dijaga Polisi     http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/12565253/Empat.Jenazah.Korban.Penembakan.di.LP.Sleman.Dijaga.Polisi.
Gerombolan Penyerang Rampas CCTV Lapas Sleman    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/08530265/Gerombolan.Penyerang.Rampas.CCTV.Lapas.Sleman
Gubernur NTT Minta Gubernur DIY Perhatikan Warga NTT     http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/0209329/Gubernur.NTT.Minta.Gubernur.DIY.Perhatikan.Warga.NTT.
Hari Ini Jenazah Korban Penembakan Diterbangkan ke Kupang    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/08324031/Hari.Ini.Jenazah.Korban.Penembakan.Diterbangkan.ke.Kupang
201303241405    Hendardi: Bentuk Tim Investigasi Eksternal yang Kredibel!    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/14052676/Hendardi.Bentuk.Tim.Investigasi.Eksternal.yang.Kredibel.
20130326    Hukum Rimba    http://budisansblog.blogspot.com/2013/03/hukum-rimba.html
20130326    Hukum Rimba    http://doa-bagirajatega.blogspot.com/2013/03/hukum-rimba-azyumardi-azra.html
201303260906    Indonesia dalam Keadaan Bahaya    http://regional.kompas.com/read/2013/03/26/09065699/Indonesia.dalam.Keadaan.Bahaya
201303260906    Indonesia dalam Keadaan Bahaya    http://terkini2.bbc.web.id/read/nasional/read/2013/03/26/09065699/Indonesia.dalam.Keadaan.Bahaya.utm.source.WP.utm.medium.box.utm.campaign.Kpopwp?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kkomwp
201303230353    Ini Dia Keempat Identitas Korban Penembakan Lapas Cebongan    http://lebihkeren.org/ini-dia-keempat-identitas-korban-penembakan-lapas-cebongan/
201303250754    Ini Kronologi Penyerangan Lapas Sleman Versi Kontras    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/07542141/Ini.Kronologi.Penyerangan.Lapas.Sleman.Versi.Kontras
201303250428    Ini Rekomendasi untuk Kasus Penyerangan Lapas Cebongan    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/04283966/Ini.Rekomendasi.untuk.Kasus.Penyerangan.Lapas.Cebongan
201303231037    Ini Tersangka Pembunuh Kopassus yang Ditembak     http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/10374466/Ini.Tersangka.Pembunuh.Kopassus.yang.Ditembak.
201303251657    Instruksi SBY: Cari Pelaku Penyerangan Sampai Ketemu!    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/16573227/Instruksi.SBY.Cari.Pelaku.Penyerangan.Sampai.Ketemu.
201303261446    IPW : Polisi Harus Cepat Ungkap Kasus Lapas Sleman    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/14460456/IPW.Polisi.Harus.Cepat.Ungkap.Kasus.Lapas.Sleman
201303251847    Istri Korban Hugo’s Sedang Hamil 8,5 Bulan    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/18474459/Istri.Korban.Hugo.s.Sedang.Hamil.8.5.Bulan
Istri Korban Penembakan di Lapas Sleman Syok    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/11200522/Istri.Korban.Penembakan.di.Lapas.Sleman.Syok
Jejak Penyerang ‘Siluman’ Penjara Cebongan Sleman      http://id.berita.yahoo.com/jejak-penyerang-siluman-penjara-cebongan-sleman-040025243.html
Jenazah Para Korban Dibawa ke RS Sarjito    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/09472930/Jenazah.Para.Korban.Dibawa.ke.RS.Sarjito
Jika Penyerang Lapas adalah Preman atau Teroris, Apa Kepentingannya?    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/11321059/Jika.Penyerang.Lapas.adalah.Preman.atau.Teroris.Apa.Kepentingannya.
Juan Manbait Sudah Dipecat dari Polri    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/09552249/Juan.Manbait.Sudah.Dipecat.dari.Polri
Kapolda Jamin Keamanan Warga NTT di Yogyakarta    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/2038426/Kapolda.Jamin.Keamanan.Warga.NTT.di.Yogyakarta
201303231055    Kapolres Sleman: Keempat Korban Tewas Ditembak    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/10555349/Kapolres.Sleman.Keempat.Korban.Tewas.Ditembak
201303251230    Kapolri Evaluasi Penyerangan Lapas Sleman    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/1230470/Kapolri.Evaluasi.Penyerangan.Lapas.Sleman
201303231200    Kasi Intel: Tak Ada Anggota Kopassus yang Keluar Semalam    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/12002528/Kasi.Intel.Tak.Ada.Anggota.Kopassus.yang.Keluar.Semalam.
Kasus Cebongan: Tersisa 12 Saksi yang Belum Diperiksa    http://nasional.kompas.com/read/2013/04/10/21454483/Kasus.Cebongan.Tersisa.12.Saksi.yang.Belum.Diperiksa
201303242035    Kasus Lapas Lebih Penting dari Isu Kudeta    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/20350119/Kasus.Lapas.Lebih.Penting.dari.Isu.Kudeta
201303260852    Kata Presiden, Negara Tidak Boleh Kalah    http://regional.kompas.com/read/2013/03/26/08524995/Kata.Presiden.Negara.Tidak.Boleh.Kalah
201304110921    Keluarga Jelaskan Profesi Korban Cebongan    http://nasional.kompas.com/read/2013/04/11/09213585/Keluarga.Jelaskan.Profesi.Korban.Cebongan
KELUARGA KORBAN CEBONGAN NGADU KE KONTRAS    http://www.rmol.co/read/2013/04/10/105806/KELUARGA-KORBAN-CEBONGAN-NGADU-KE-KONTRAS-
201304101308    Keluarga korban Cebongan tepis sebutan korban adalah preman    http://m.merdeka.com/peristiwa/keluarga-korban-cebongan-tepis-sebutan-korban-adalah-preman.html
Keluarga Korban Cebongan Tuntut Tanggung Jawab Lapas    http://nasional.kompas.com/read/2013/04/10/16085877/Keluarga.Korban.Cebongan.Tuntut.Tanggung.Jawab.Lapas
201304101912    Keluarga korban Lapas Cebongan sedih kerabatnya disebut preman    http://id.berita.yahoo.com/keluarga-korban-lapas-cebongan-sedih-kerabatnya-disebut-preman-114426849.html
Keluarga Korban Penembakan Masih Berembuk    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/19020979/Keluarga.Korban.Penembakan.Masih.Berembuk
Keluarga Korban Serukan Presiden Pimpin Tim Gabungan Pencari Fakta    http://polhukam.rmol.co/read/2013/04/09/105759/Keluarga-Korban-Serukan-Presiden-Pimpin-Tim-Gabungan-Pencari-Fakta-
Keluarga Menunggu Jenazah Juan Manbait    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/08505044/Keluarga.Menunggu.Jenazah.Juan.Manbait
Keranda Hitam Diarak Keliling Bundaran HI    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/19341152/Keranda.Hitam.Diarak.Keliling.Bundaran.HI
Ketika Kedamaian Yogyakarta Terusik    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/02012341/Ketika.Kedamaian.Yogyakarta.Terusik
Komnas HAM Akan Temui Kapolri dan Panglima TNI    http://id.berita.yahoo.com/komnas-ham-akan-temui-kapolri-dan-panglima-tni-234426269.html
201303262223    Komnas HAM Investigasi ke Lapas Cebongan    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/22233256/Komnas.HAM.Investigasi.ke.Lapas.Cebongan
Komnas HAM Rahasiakan Hasil Investigasi Cebongan    http://id.berita.yahoo.com/komnas-ham-rahasiakan-hasil-investigasi-cebongan-231050598.html
Komnas HAM Setuju Pengusut Gabungan Kasus Cebongan    http://id.berita.yahoo.com/komnas-ham-setuju-pengusut-gabungan-kasus-cebongan-001105084.html
Komnas HAM Yakin Kasus Lapas Cebongan Akan Terungkap    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/13371227/Komnas.HAM.Yakin.Kasus.Lapas.Cebongan.Akan.Terungkap
201303261017    Kompolnas: Polri Jangan Takut Ungkap Pelaku Penyerangan Lapas    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/10173186/Kompolnas.Polri.Jangan.Takut.Ungkap.Pelaku.Penyerangan.Lapas
20130409    Komunikasi Kapolda-Pangdam Terkait Cebongan Diusut      http://id.berita.yahoo.com/komunikasi-kapolda-pangdam-terkait-cebongan-diusut-060430575.html
Kontras Pastikan Keluarga Korban Cebongan Dapat Keadilan    http://polhukam.rmol.co/read/2013/04/09/105766/Kontras-Pastikan-Keluarga-Korban-Cebongan-Dapat-Keadilan-
201303241813    Kontras: Eksekutor di Lapas Sleman Hanya 1 Orang    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/18133129/Kontras.Eksekutor.di.Lapas.Sleman.Hanya.1.Orang
201303241721    Kontras: Lapas Bukan Target Operasi Teroris    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/17210355/Kontras.Lapas.Bukan.Target.Operasi.Teroris
Kopassus Bantu Bersihkan Sampah Banjir    http://regional.kompas.com/read/2013/01/21/0821431/Kopassus.Bantu.Bersihkan.Sampah.Banjir
Kopassus dan Marinir Bantu Evakuasi Banjir Jakarta    http://regional.kompas.com/read/2013/01/17/14570386/Kopassus.dan.Marinir.Bantu.Evakuasi.Banjir.Jakarta
Kopassus Evakuasi Korban Banjir     http://regional.kompas.com/read/2013/01/17/22345074/Kopassus.Evakuasi.Korban.Banjir.
Kopassus Gadungan Tipu Anggota Koramil    http://regional.kompas.com/read/2013/01/22/21101695/Kopassus.Gadungan.Tipu.Anggota.Koramil
Kopassus Gelar Ekspedisi NKRI 2013     http://regional.kompas.com/read/2013/02/07/02315349/Kopassus.Gelar.Ekspedisi.NKRI.2013.
Kopassus Salurkan Bantuan Kasur    http://regional.kompas.com/read/2013/01/24/12274143/Kopassus.Salurkan.Bantuan.Kasur
Kopassus Siapkan Personel Bantu Tangani Banjir    http://regional.kompas.com/read/2013/01/15/22125318/Kopassus.Siapkan.Personel.Bantu.Tangani.Banjir
201303230744    Kronologi Penyerangan LP Sleman yang Tewaskan 4 Orang    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/07443432/Kronologi.Penyerangan.LP.Sleman.yang.Tewaskan.4.Orang
201303232110    Kuasa Hukum Korban: Penyerang LP Cebongan Terlatih    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/21105810/Kuasa.Hukum.Korban.Penyerang.LP.Cebongan.Terlatih
201303271033    Kudeta Tak Terbukti, SBY Jangan Telan Mentah Info Intelijen    http://terkini2.bbc.web.id/read/nasional/read/2013/03/27/10333767/Kudeta.Tak.Terbukti.SBY.Jangan.Telan.Mentah.Info.Intelijen.utm.source.WP.utm.medium.box.utm.campaign.Ktswp?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kkomwp
Lapas Sleman Diserang, Menhuk dan HAM Bertolak ke Yogyakarta    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/09151448/Lapas.Sleman.Diserang.Menhuk.dan.HAM.Bertolak.ke.Yogyakarta
201303231126    Lapas Sleman Diserang, Presiden Jangan Sibuk Urus Isu Kudeta    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/11260831/Lapas.Sleman.Diserang.Presiden.Jangan.Sibuk.Urus.Isu.Kudeta
201303230617    LP Cebongan Sleman Diserbu, Empat Tewas    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/06173697/LP.Cebongan.Sleman.Diserbu.Empat.Tewas
Mabes TNI Siapkan 12 Pengacara Dampingi Pelaku Cebongan    http://polhukam.rmol.co/read/2013/04/10/105875/Mabes-TNI-Siapkan-12-Pengacara-Dampingi-Pelaku-Cebongan-
201105281435    Mahfud MD: Indonesia dalam Keadaan Bahaya    http://www.tempo.co/read/news/2011/05/28/063337347/Mahfud-MD-Indonesia-dalam-Keadaan-Bahaya
Mantan Anggota Kopassus Jadi Kurir Narkoba    http://regional.kompas.com/read/2012/12/21/15320054/Mantan.Anggota.Kopassus.Jadi.Kurir.Narkoba
Mantan Pangdam IV: Komnas HAM Jangan Didengar      http://id.berita.yahoo.com/mantan-pangdam-iv-komnas-ham-jangan-didengar-060534327.html
Mantan Pangdam: Saya Bangga 11 Anggota Kopassus     http://id.berita.yahoo.com/mantan-pangdam-saya-bangga-11-anggota-kopassus-092240907.html
20130327    Melacak Siluman Cebongan    http://budisansblog.blogspot.com/2013/03/melacak-siluman-cebongan.html
201303230832    Menko Polhukam: Usut Insiden di Lapas Sleman!    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/08324221/Menko.Polhukam.Usut.Insiden.di.Lapas.Sleman.
Menkumham Meminta Maaf kepada Keluarga Korban    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/17055031/Menkumham.Meminta.Maaf.kepada.Keluarga.Korban
Pangdam Bantah Prajurit TNI Serang Lapas Sleman    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/10414613/Pangdam.Bantah.Prajurit.TNI.Serang.Lapas.Sleman
201303231644    Pangdam IV: Pelaku Penyerangan LP Cebongan Bukan TNI    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/16444657/Pangdam.IV.Pelaku.Penyerangan.LP.Cebongan.Bukan.TNI
Pascapenyerangan, Lapas Sleman Dijaga Ketat    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/09170568/Pascapenyerangan.Lapas.Sleman.Dijaga.Ketat
Pascapenyerangan, Penghuni Lapas Trauma    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/04565448/Pascapenyerangan.Penghuni.Lapas.Trauma
201303261850    PDI-P: Pemindahan Tahanan Tidak Lazim    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/18502797/PDI-P.Pemindahan.Tahanan.Tidak.Lazim
201303240750    Pembunuhan di Lapas Sulit Diterima Akal Sehat    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/07502075/Pembunuhan.di.Lapas.Sulit.Diterima.Akal.Sehat
201303250111    Pemerintah Jangan kalah dengan Preman    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/01110115/Pemerintah.Jangan.kalah.dengan.Preman
Pemindahan Tersangka Pembunuh Kopassus ke LP Cebongan Janggal    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/11321136/Pemindahan.Tersangka.Pembunuh.Kopassus.ke.LP.Cebongan.Janggal
201303230738    Penembak Tersangka Pembunuh Kopassus 17 Orang    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/09431769/Penyerangan.Lapas.Kemenhuk.dan.HAM.Koordinasi.dengan.TNI-Polri
201303231632    Penembakan di Lapas Sleman Hanya Berlangsung 15 Menit    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/16324061/Penembakan.di.Lapas.Sleman.Hanya.Berlangsung.15.Menit
Penembakan di Lapas Sleman Jangan Dikaitkan dengan Isu SARA    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/18434770/Penembakan.di.Lapas.Sleman.Jangan.Dikaitkan.dengan.Isu.SARA
Penembakan Tersangka Pembunuh Kopassus Bisa Dilakukan Siapa Saja    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/11401585/Penembakan.Tersangka.Pembunuh.Kopassus.Bisa.Dilakukan.Siapa.Saja
Penyerang LP Cebongan Diadili di Peradilan Militer      http://id.berita.yahoo.com/penyerang-lp-cebongan-diadili-di-peradilan-militer-070742108.html
201303230730    Penyerang LP Sleman yang Tewaskan 4 Orang Bersenjata Lengkap    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/07302878/Penyerang.LP.Sleman.yang.Tewaskan.4.Orang.Bersenjata.Lengkap
201303230848    Penyerang Lukai 8 Petugas Lapas Sleman    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/0848508/Penyerang.Lukai.8.Petugas.Lapas.Sleman
201303240904    Penyerangan Lapas, Indonesia Dikuasai Mafia    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/09045732/Penyerangan.Lapas.Indonesia.Dikuasai.Mafia
Penyerangan Lapas, Kemenhuk dan HAM Koordinasi dengan TNI-Polri    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/09431769/Penyerangan.Lapas.Kemenhuk.dan.HAM.Koordinasi.dengan.TNI-Polri
Perbaiki Tanggul Jebol, Kopassus Juga Dikerahkan    http://regional.kompas.com/read/2013/01/17/18083865/Perbaiki.Tanggul.Jebol.Kopassus.Juga.Dikerahkan
201304101308    Permohonan Keluarga Korban Cebongan Ditolak Denny Indrayana    http://polhukam.rmol.co/read/2013/04/10/105941/Permohonan-Keluarga-Korban-Cebongan-Ditolak-Denny-Indrayana-
201303250159    Pertaruhan Wibawa Hukum    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/01595234/Pertaruhan.Wibawa.Hukum
20130326    Pesan dari Cebongan    http://budisansblog.blogspot.com/2013/03/pesan-dari-cebongan.html
Petugas Lapas yang Terluka Dimintai Keterangan    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/12143266/Petugas.Lapas.yang.Terluka.Dimintai.Keterangan
201303252221    Polisi Belum Ungkap Jenis Senjata    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/22214226/Polisi.Belum.Ungkap.Jenis.Senjata
201303271130    Polisi Didesak Buat Sketsa Wajah Penyerang Lapas Sleman    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/27/11304094/Polisi.Didesak.Buat.Sketsa.Wajah.Penyerang.Lapas.Sleman
201303241944    Polisi Harus Berani Ungkap Dalang Penyerangan Lapas Sleman    http://regional.kompas.com/read/2013/03/24/19444144/Polisi.Harus.Berani.Ungkap.Dalang.Penyerangan.Lapas.Sleman
Polisi Jamin Keamanan Warga NTT di Yogyakarta.    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/2154168/Polisi.Jamin.Keamanan.Warga.NTT.di.Yogyakarta
201303262205    Polisi Kumpulkan Keterangan 45 Saksi Penyerangan Lapas    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/22052261/Polisi.Kumpulkan.Keterangan.45.Saksi.Penyerangan.Lapas
201303231048    Polisi Masih Lakukan Olah TKP di Lapas Sleman    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/10480788/Polisi.Masih.Lakukan.Olah.TKP.di.Lapas.Sleman
Polisi Ringkus Pelaku Penusuk Anggota TNI AD    http://regional.kompas.com/read/2012/11/25/15333597/Polisi.Ringkus.Pelaku.Penusuk.Anggota.TNI.AD
201303271341    Polisi Sudah Kantongi Ciri-ciri Pelaku Penyerangan Sleman    http://terkini2.bbc.web.id/read/nasional/read/2013/03/27/13411098/Polisi.Sudah.Kantongi.Ciriciri.Pelaku.Penyerangan.Sleman?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kkomwp
201303262227    Polri Yakin Ungkap Pelaku Penyerangan Lapas    http://terkini2.bbc.web.id/read/nasional/read/2013/03/26/22273388/Polri.Yakin.Ungkap.Pelaku.Penyerangan.Lapas?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kkomwp
201303262227    Polri: Pelaku Penyerangan Lapas Masih Gelap    http://terkini2.bbc.web.id/read/nasional/read/2013/03/26/17574181/Polri.Pelaku.Penyerangan.Lapas.Masih.Gelap.utm.source.WP.utm.medium.Ktpidx.utm.campaign.Penyerangan.20Di.20Lapas.20Sleman?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kkomwp
201303261757    Polri: Pelaku Penyerangan Lapas Masih Gelap    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/17574181/Polri.Pelaku.Penyerangan.Lapas.Masih.Gelap.
201303261634    Presiden: Penembakan di Sleman, Serangan Wibawa Negara    http://terkini2.bbc.web.id/read/nasional/read/2013/03/26/16343774/Presiden.Penembakan.di.Sleman.Serangan.Wibawa.Negara.utm.source.WP.utm.medium.Ktpidx.utm.campaign.Penyerangan.20Di.20Lapas.20Sleman?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kkomwp
201303261634    Presiden: Penembakan di Sleman, Serangan Wibawa Negara    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/16343774/Presiden.Penembakan.di.Sleman.Serangan.Wibawa.Negara.
201303270431    Priyo: Jangan Buru-buru Tuding TNI Terlibat    http://terkini2.bbc.web.id/read/nasional/read/2013/03/27/04310110/Priyo.Jangan.Buru-buru.Tuding.TNI.Terlibat?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kkomwp
201303261530    Propam Polri Selidiki Pemindahan Tahanan Lapas Sleman    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/15300562/Propam.Polri.Selidiki.Pemindahan.Tahanan.Lapas.Sleman
Ribuan Warga Kupang Sambut Jenazah Juan dan Dedi    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/17071970/Ribuan.Warga.Kupang.Sambut.Jenazah.Juan.dan.Dedi
201303260925    Rumah Pertobatan Dinodai Lumuran Darah …    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/09250583/Rumah.Pertobatan.Dinodai.Lumuran.Darah.?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Penyerangan%20Di%20Lapas%20Sleman
201304101912    Salahkan Preman di Cebongan Bisa Kaburkan Masalah    http://id.berita.yahoo.com/salahkan-preman-di-cebongan-bisa-kaburkan-masalah-111447532.html
201303231110    Satu Korban Tewas di Lapas Sleman Anggota Polisi    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/11100079/Satu.Korban.Tewas.di.Lapas.Sleman.Anggota.Polisi
201303251958    Sebelum Tahanan Dipindah, Kapolda Minta Jaminan Keamanan dari Pangdam    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/19583542/Sebelum.Tahanan.Dipindah.Kapolda.Minta.Jaminan.Keamanan.dari.Pangdam
Sebutan Preman Belokkan Kasus LP Cebongan    http://nasional.kompas.com/read/2013/04/10/16264913/Sebutan.Preman.Belokkan.Kasus.LP.Cebongan
201303252034    Senjata Pelaku Tunggu Hasil Uji Balistik Pekan Depan    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/20343781/Senjata.Pelaku.Tunggu.Hasil.Uji.Balistik.Pekan.Depan
Seorang Korban Tembak Mati Anggota Kopassus Pernah Dapat Penghargaan dari Presiden    http://www.rmol.co/read/2013/04/10/105799/Seorang-Korban-Tembak-Mati-Anggota-Kopassus-Pernah-Dapat-Penghargaan-dari-Presiden-
201303252104    Seribu Lilin Tuntut Penangkapan Pelaku Penembakan Lapas Sleman     http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/21045211/Seribu.Lilin.Tuntut.Penangkapan.Pelaku.Penembakan.Lapas.Sleman.
Simpati ke Kopassus karena rakyat geram    http://www.merdeka.com/peristiwa/simpati-ke-kopassus-karena-rakyat-geram.html
Simulasi Penyergapan Teroris Kagetkan Warga    http://regional.kompas.com/read/2012/12/03/14583781/Simulasi.Penyergapan.Teroris.Kagetkan.Warga
201304102111    Spanduk Pro-Kopassus Bertebaran di Yogyakarta    http://id.berita.yahoo.com/spanduk-pro-kopassus-bertebaran-di-yogyakarta-135038121.html
Sultan: Jangan Lagi Ada Kekerasan di Yogyakarta    http://regional.kompas.com/read/2013/03/26/16182987/Sultan.Jangan.Lagi.Ada.Kekerasan.di.Yogyakarta?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Penyerangan%20Di%20Lapas%20Sleman
Sultan: Keamanan Warga NTT Terjamin    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/27/03422013/Sultan.Keamanan.Warga.NTT.Terjamin
Tak Ada Anggota Kopassus Kandangmenjangan Terlibat Penembakan    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/12545284/Tak.Ada.Anggota.Kopassus.Kandangmenjangan.Terlibat.Penembakan
201303230730    Tersangka Pembunuh Anggota Kopassus Ditembak     http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/0730129/Tersangka.Pembunuh.Anggota.Kopassus.Ditembak.
201303230917    Tersangka Pembunuh Kopassus Titipan Polda DIY    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/0917153/Tersangka.Pembunuh.Kopassus.Titipan.Polda.DIY
Tim Evakuasi Kopassus Pindah Sasaran    http://regional.kompas.com/read/2013/01/19/15473646/Tim.Evakuasi.Kopassus.Pindah.Sasaran
Tim pengacara muslim siap bela 11 Kopassus penyerbu Cebongan    http://www.merdeka.com/peristiwa/tim-pengacara-muslim-siap-bela-11-kopassus-penyerbu-cebongan.html
Tindak Tegas Pelaku Penyerangan Lapas Sleman    http://regional.kompas.com/read/2013/03/23/14575367/Tindak.Tegas.Pelaku.Penyerangan.Lapas.Sleman
20130326    Titik Api Revolusi    http://budisansblog.blogspot.com/2013/03/titik-api-revolusi_1477.html
201303251237    TNI di Balik Lapas Sleman, Apa Kata Panglima TNI?    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/12370110/TNI.di.Balik.Lapas.Sleman.Apa.Kata.Panglima.TNI.
Trauma, 45 Tahanan di Lapas Sleman Didampingi    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/26/13253791/Trauma.45.Tahanan.di.Lapas.Sleman.Didampingi
201303271148    Tuduh TNI Terlibat di Lapas Sleman, Perkeruh Situasi    http://terkini2.bbc.web.id/read/nasional/read/2013/03/27/11482367/Tuduh.TNI.Terlibat.di.Lapas.Sleman.Perkeruh.Situasi?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kpopwp
201303251644    Wakapolri: Pelaku Penyerangan? Tunggu Penyidikan Polisi!    http://regional.kompas.com/read/2013/03/25/16444427/Wakapolri.Pelaku.Penyerangan.Tunggu.Penyidikan.Polisi.
201303271355    Wiranto: Tak Sulit Selesaikan Kasus LP Sleman    http://nasional.kompas.com/read/2013/03/27/1355332/Wiranto.Tak.Sulit.Selesaikan.Kasus.LP.Sleman

About these ads