SBY minta sungkem dari Prabowo untuk menangkap Hercules

SBY minta sungkem dari Prabowo untuk menangkap Hercules

masalah kecil dibesar-besarkan. masalah besar dianggap remeh. itulah akal bulus para politisi busuk. memang lidah tak bertulang….

setelah para petinggi PKS (Partai Koruptor Sejahtera) satu per satu mulai dibekuk dan disantronin oleh KPK, para kader PKS mulai menghembuskan isu kudeta dan menggalang kekuatan untuk menjatuhkan SBY. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan para punggawa koruptor mereka yang sedang tersudut untuk bisa diselamatkan dari hukuman gantung di monas. dasar partai kambing sejahtera. hidup manusia berjenggot. jual nama islam dan segala atribut keislaman.

http://www.aktual.co/politik/200243fadli-pertemuan-prabowo-dan-sby-atas-inisiatif-istana

Fadli: Pertemuan Prabowo dan SBY Atas Inisiatif Istana
Khozin Mubarok, 15 Mar 2013 20:15:20

“Sangat disayangkan untuk hal kecil dan teknis saja Heru Lelono bisa salah dan memutar fakta. Bagaimana untuk masalah yang lebih besar?” ujar Fadli Zon
Jakarta, Aktual.co – Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon membantah pernyataan staff khusus Presiden, Heru Lelono yang menyatakan pertemuan antara Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Presiden SBY di Istana pada senin (11/03) merupakan inisiatif dari Prabowo.

“Pernyataan itu tidak benar. Untuk pertemuan tersebut, undangan datang dari Presiden SBY melalui Mensesneg Sudi Silalahi. Pak Sudi menelepon saya Sabtu malam, 9 Maret. Ia mengundang Pak Prabowo untuk bertemu Presiden,” ujarnya melalui rilis kepada Aktual.co, Jum’at, (15/03).

Fadli justru  mempertanyakan maksud dari pernyataan Heru Lelono tersebut yang mengatakan pertemuan antara Prabowo dan Persiden SBY merupakan inisiatif dari pihak Prabowo.

“Jadi tak benar sama sekali jika Pak Prabowo berinisiatif untuk meminta pertemuan tersebut, seperti kata Heru Lelono. Saya tak tahu motif Heru Lelono mengatakan itu di berbagai media,” tuturnya.

Menurut Fadli, kesalahan informasi yang diucapkan Heru Lelono itu menujukkan bahwa kinerja staff khusus presiden sangat buruk.

“Sangat disayangkan untuk hal kecil dan teknis saja Heru Lelono bisa salah dan memutar fakta. Bagaimana untuk masalah yang lebih besar?” pungkasnya.
Tri Wibowo -

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/15/20103596/Istana.yang.Minta.Bertemu.Prabowo

Fadli Zon Bantah Heru Lelono
Istana yang Minta Bertemu Prabowo
Edna C Pattisina | Jumat, 15 Maret 2013 | 20:10 WIB

DANY PERMANA
Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri), di Kantor Presiden, Istana Negara, Jakarta, Senin (11/3/2013). Prabowo hadir ke Istana Negara atas undangan dari Presiden. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membantah pernyataan Staf Khusus Presiden, Heru Lelono, yang mengatakan pertemuan antara Prabowo Subianto dan Presiden SBY sebagai inisiatif Prabowo.

“Pernyataan itu tidak benar,” kata Fadli, Jumat (15/3/2013). Ia mengatakan, undangan datang dari Presiden SBY melalui Mensesneg Sudi Silalahi. “Pak Sudi menelepon saya Sabtu malam, 9 Maret. Ia mengundang Pak Prabowo untuk bertemu Presiden,” kata Fadli.

“Saya telpon Pak Prabowo dan menanyakan kapan waktunya. Prabowo waktu itu sudah terjadwal kampanye di NTT pada Senin dan Selasa, 11-12 Maret. Namun, Prabowo menyampaikan jika Presiden menentukan waktunya, maka akan menyesuaikan,” jelas Fadli lagi.

Pada hari Minggu, Pak Sudi menelepon Fadli kembali, menyampaikan bahwa Presiden mengagendakan Senin, 11 Maret jam 15.30. Hal ini disampaikan kepada Prabowo dan akhirnya membatalkan acara Senin ke Kupang.

“Saya tak tahu motif Heru Lelono mengatakan itu di berbagai media,” kata Fadli. Ia mengatakan, sangat disayangkan untuk hal kecil dan teknis saja Heru Lelono bisa salah dan memutar fakta. Bagaimana untuk masalah yang lebih besar.

Ia menegaskan, wajar kalau Presiden membuka diri kepada semua kelompok masyarakat, termasuk dari kalangan ormas Islam, purnawirawan, atau kelompok politik lain. “Jangan hanya dapat masukan dari staf yang ABS (asal bapak senang),” kata Fadli.
Editor : Robert Adhi Ksp

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/15/02081424/Inisiatif.dari.Prabowo.dan.Para.Jenderal

PERTEMUAN SBY
Inisiatif dari Prabowo dan Para Jenderal
Jumat, 15 Maret 2013 | 02:08 WIB

Jakarta, Kompas – Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto ataupun dengan tujuh purnawirawan jenderal TNI Angkatan Darat bukan inisiatif Presiden. Pertemuan tersebut masing-masing merupakan inisiatif Prabowo dan para jenderal purnawirawan TNI itu.

Hal tersebut dikatakan Staf Khusus Presiden Bidang Informasi Heru Lelono, Kamis (14/3), di Kantor Presiden. Keinginan para jenderal minta bertemu Presiden lebih untuk memberikan masukan tentang bagaimana menjaga stabilitas politik, demokrasi, dan mengamankan Pemilihan Umum 2014. Mereka menginginkan agar proses pergantian kepemimpinan nasional tak sampai merugikan masyarakat.

”Mereka khawatir kalau proses demokrasi ini tidak sehat, kemudian ada pihak yang memanasi keadaan. Mereka tidak mau Presiden dijatuhkan di tengah jalan. Mereka juga mengingatkan Presiden kalau membuat kebijakan jangan sampai hal (pemakzulan) itu terjadi,” katanya.

Heru menyatakan, dalam dua pertemuan tersebut sama sekali tidak disinggung soal dukungan terhadap calon presiden tertentu. ”Saya kecewa dengan pemberitaan seolah-oleh SBY meminta proteksi,” kata Heru.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, yang mendampingi pertemuan Prabowo dengan Presiden, mengatakan, pertemuan lebih dari 1,5 jam itu didahului undangan dari Presiden Yudhoyono. ”Undangan via Pak Sudi Silalahi ke saya,” katanya (Kompas, 13/3).

Wakil Ketua DPR yang juga politisi PDI-P Pramono Anung dan Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR Nurhayati Ali Assegaf melihat pertemuan tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Pramono tidak melihat pertemuan itu terkait dengan politik jangka pendek, seperti adanya rumor tentang penggulingan pemerintahan.

Sebaliknya, pengamat politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, justru menilai pertemuan tersebut sangat politis. Tujuh purnawirawan jenderal yang bertemu Presiden meliputi beberapa mantan anggota Dewan Kehormatan Perwira yang menyidik kasus dugaan pelanggaran HAM pada masa lalu yang dilakukan oknum petinggi TNI. Chaniago meminta Presiden fokus kerja pada sisa masa kerjanya.

Kemarin, 13 organisasi massa Islam yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam bertemu Presiden di Kantor Presiden. Mereka menyatakan berada di belakang Presiden Yudhoyono. ”Sikap kami adalah nonpolitik karena bergerak di bidang dakwah, bidang pendidikan,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj mewakili 13 ormas Islam. (nwo/osa/ong/why/ato)

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/09/0625543/Fadli.Zon.Masalah.yang.Dihadapi.Hercules.Sepele

Fadli Zon: Masalah yang Dihadapi Hercules Sepele
Sabtu, 9 Maret 2013 | 06:25 WIB

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon.

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon angkat suara terkait penangkapan Hercules Rozario Marcal dan 50 anak buahnya.

Hercules merupakan Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB), organisasi masyarakat (ormas) pendukung Partai Gerindra.

Fadli Zon mengaku sudah berkomunikasi dengan Hercules. Berdasarkan keterangan yang diperoleh Fadli Zon dari Hercules, persoalan yang terjadi sebenarnya adalah sepele, yakni urusan warga dengan pemilik ruko.

“Hal ini terkait pembangunan ruko di jalur hijau, menurut Hercules, sehingga, warga terkena dampaknya, yaitu terkena banjir beberapa waktu lalu. Hercules dan warga ingin ruko itu dibongkar,” ujar Fadli Zon menirukan keterangan Hercules kepadanya, Sabtu (9/3/2013).

Masih dari Hercules, lanjut Fadli Zon, insiden dengan polisi tadi sore sebenarnya agak dibesar-besarkan.
Sumber : Tribunnews
Editor : A. Wisnubrata

http://nasional.kompas.com/read/2013/03/09/06380063/Fadli.Zon.Yakin.Hercules.Sudah.Berubah

Fadli Zon Yakin Hercules Sudah Berubah
Sabtu, 9 Maret 2013 | 06:38 WIB

LASTI KURNIA
Hercules (baju kuning) ditangkap bersama 45 anak buahnya di kawasan apartemen dan ruko di Jalan Lapangan Bola, Srengseng, Jakarta, Jumat (8/3/2013). Selain 45 orang tersebut dan Hercules, juga ditangkap 5 orang anak buahnya di lokasi yang lain. Penangkapan dilakukan setelah terjadi bentrok dan penyerangan dari kelompok Herkules kepada polisi di kawasan tersebut. KOMPAS/LASTI KURNIA

TERKAIT:
Penasihat Hukum: Masalah Hercules Sebenarnya Masalah Pemkot, http://nasional.kompas.com/read/2013/03/09/02561036/Penasihat.Hukum.Masalah.Hercules.Sebenarnya.Masalah.Pemkot
Hercules: Cuma Salah Paham, Tak Ada Pemerasan, http://nasional.kompas.com/read/2013/03/08/23102465/Hercules.Cuma.Salah.Paham.Tak.Ada.Pemerasan
Kronologi Penangkapan Hercules dan 50 Anak Buahnya, http://nasional.kompas.com/read/2013/03/08/21453132/Kronologi.Penangkapan.Hercules.dan.50.Anak.Buahnya
Ini Awal Keributan Versi Anak Buah Hercules, http://nasional.kompas.com/read/2013/03/08/21355463/Ini.Awal.Keributan.Versi.Anak.Buah.Hercules
Pengacara Hercules: Kenapa Polisi Apel di Halaman Ruko?, http://nasional.kompas.com/read/2013/03/09/00531062/Pengacara.Hercules.Kenapa.Polisi.Apel.di.Halaman.Ruko.
Hercules Merasa Diprovokasi Pengembang Ruko, http://nasional.kompas.com/read/2013/03/08/22580713/Hercules.Merasa.Diprovokasi.Pengembang.Ruko

JAKARTA, KOMPAS.com – Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon berharap hukum ditegakkan terkait kasus yang menimpa Hercules Rozario Marcal dan 50 anak buahnya.

“Polisi memang harus menegakkan hukum, tapi jangan sampai ada kriminalisasi. Kita lihat saja perkembangannya. Kami ingin hukum ditegakkan,” ujar Fadli Zon, Sabtu (9/3/2013).

Partai Gerindra, lanjutnya, menyerahkan masalah ini kepada Hercules, termasuk mengenai tim pengacara yang akan dipilih untuk mendampingi. Namun, Gerindra bersedia menyiapkan pengacara bila Hercules meminta.

“Kami serahkan kepada yang bersangkutan,” kata Fadli Zon.

Meski persoalan yang dihadapi Hercules sama sekali tidak terkait Partai Gerindra, Fadli Zon mengatakan pihaknya bakal terus memantau proses hukum yang berjalan.

“GRIB bukan sayap partai, tapi ormas. Namun, mendukung partai. Kami terbuka pada dukungan dari mana pun datangnya,” tuturnya.

Fadli Zon meyakini, Hercules sekarang sudah banyak berubah. Menurutnya, Hercules kini menjadi sosok yang jauh lebih baik.

“Saya yakin Hercules sudah berubah, banyak melakukan kegiatan sosial. Setiap orang bisa berubah dan menjadi baik,” paparnya
Sumber : Tribunnews.com
Editor : A. Wisnubrata

http://www.tempo.co/read/news/2013/03/15/064467274/Hercules-dari-Dili-ke-Tanah-Abang

Hercules, dari Dili ke Tanah Abang  
Ketua umum organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB), Hercules Rozario Marcal berusaha menenangkan perangkat desa yang tergabung dalam Persatuan Perangkat Desa Indonesia dan Aliansi Perangkat Desa yang berusaha menembus barikade kawat berduri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat 14 Desember 2012. TEMPO/Subekti

Hercules, dari Dili ke Tanah Abang
Jum’at, 15 Maret 2013 | 16:33 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Hercules Rosario Marshal lahir dan besar di Dili, Timor Timur. Sekitar tahun 1975, dia bertemu dengan Kolonel Gatot Purwanto. Ketika itu ia adalah anggota pasukan khusus yang pertama kali terjun di Timor Timur.

Keberadaan Hercules begitu dipercaya oleh tentara. Diangkat menjadi Tenaga Bantuan Operasi Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Hercules bertugas menjaga gudang amunisi. “Dia itu anak buah saya,” kata Gatot dalam artikel Jatuh-Bangun Jawara Tenabang, majalah Tempo, 21 November 2010.

Waktu mengirimkan logistik, kata Gatot, Hercules mengalami kecelakaan helikopter. Tangan kanannya putus dan harus menjalani operasi. Gatot lalu memboyong Hercules ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Itulah awal Hercules merambah Ibu Kota.

Di Jakarta, Hercules tak langsung menjadi preman. Awalnya, ia bergabung dengan Yayasan Tiara, pimpinan Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut, putri mantan Presiden Soeharto. Di daerah Cijantung, Jakarta timur, Yayasan Tiara memberi Hercules keterampilan elektronik dan bengkel.

Pada 1987, Hercules masuk ke daerah Bongkaran di Tanah Abang. Ayah empat anak ini bisa dikatakan menciptakan kelompok preman baru, yang terdiri atas para pemuda asal Timor Timur. Sebelumnya, preman di sana berasal dari Ambon, Flores, Betawi, Bugis, dan Jawa. Di Tanah Abang, kelompok Hercules berkuasa selama sekitar 10 tahun.

Pada 1996, Hercules terusir dari Tanah Abang. Ia tak mampu mempertahankan kekuasaannya di pasar terbesar se-Asia Tenggara itu. Kelompoknya dikalahkan dalam pertikaian dengan kelompok Betawi pimpinan Bang Ucu Kambing, yang waktu itu berumur 64 tahun. (Baca: Hercules Dapat Gelar Kebangsawanan dari Keraton Solo)

http://www.tempo.co/read/news/2013/03/15/064467293/Inilah-Asal-usul-Julukan-Hercules

Ketua umum Gerakan Rakyat Indonesia Baru (Grib) sayap dari partai Gerindra Hercules Rosario. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

Inilah Asal-usul Julukan Hercules  
Jum’at, 15 Maret 2013 | 17:47 WIB

TEMPO.CO, Jakarta – Hercules lahir dengan nama Rozario Marshal. Julukan Hercules muncul setelah ia bertemu dengan Kolonel (Purnawirawan) Gatot Purwanto, sekitar tahun 1975 di Dili, Timor Timur. Ketika itu, Gatot merupakan anggota pasukan khusus yang pertama terjun untuk mengintegrasikan Timor Timur ke wilayah Indonesia.

“Hercules itu nama sandi di radio komunikasi,” kata Gatot dalam artikel Jatuh-Bangun Jawara Tenabang, majalah Tempo, 21 November 2010. “Dia itu anak buah saya.”

Selama pertempuran dengan gerilyawan pro-kemerdekaan Timor Timur, Fretilin, Hercules dipercaya menjaga gudang amunisi oleh Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Akibat konflik bersenjata itu, anak kelima dari tujuh bersaudara itu mengalami kebutaan pada mata kanan dan tangan kanannya buntung. “Ia menjalani operasi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta Pusat,” kata Gatot. “Tangan kanannya menggunakan tangan palsu.”

Hercules masuk ke Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 1987. Jejak itu diikuti teman-teman Hercules dari Timor Timur, seperti Alfredo Monteiro Pires, Logo Vallenberg, Germano, Luis, Jimmy, dan Anis. Di Tanah Abang, kelompok Hercules mengelola perjudian, pelacuran, dan pedagang kaki lima.

Penguasaan Hercules di pusat perdagangan itu hanya bertahan selama 10 tahun. Di November 1997, era Hercules di Tanah Abang berakhir. Dua anak buahnya tewas dalam keributan antara kelompok Hercules dan Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing. Didukung warga sekitar Tanah Abang, Ucu kambing menyerang Hercules selama dua hari. Hingga akhirnya ia menggantikan Hercules di Tanah Abang.

Hercules tak lagi memiliki kuasa. Tapi, namanya telanjur menjadi ikon preman. Seorang perwira polisi mengatakan pada setiap pergantian kepala kepolisian, Hercules selalu dijadikan “sasaran utama pemberantasan preman”. (Baca: Hercules: Kami Bukan Gangster tapi Gesper)

PDAT | EVAN | CORNILA DESYANA

http://id.berita.yahoo.com/preman-pun-berkembang-sesuai-zaman-054852673.html

Preman pun Berkembang Sesuai Zaman
TEMPO.CO – Sab, 16 Mar 2013

TEMPO.CO, Jakarta – Kepolisian Daerah Metro Jaya menemukan adanya pola yang berkembang di dalam dunia preman. “Para preman ini berkembang mengikuti zaman,” kata juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto pada Kamis, 14 Maret 2013.

Sebagai contoh, menurut Rikwanto, ada preman yang tadinya kecil-kecil kemudian bergabung dan membentuk organisasi kemasyarakatan. Dari organisasi ini kemudian mereka membangun jaringan bisnis hitam sendiri.

Kemudian, ada juga preman yang bisa memanfaatkan media masa untuk menunjukan eksistensi mereka. Tipe ini biasanya mengandalkan kedekatan dengan orang-orang tertentu agar bisa tampil.

“Preman yang hobi tampil ini biasanya mengaku sebagai tokoh masyarakat atau semacamnya,” kata Rikwanto. Dan jenis ini lemah dalam kekuatan masa.

Selanjutnya, ada preman yang juga masuk jalur politik. Tujuannya, bermacam-macam, paling sering adalah untuk mengamankan bisnisnya. “Tapi preman yang masuk ke jalur politik biasanya atas nama pribadi mereka tidak membawa nama organisasi,” ujar Rikwanto.

SYAILENDRA

http://id.berita.yahoo.com/ada-tiga-tingkatan-preman-di-jakarta-054901595.html

Ada Tiga Tingkatan Preman di Jakarta
TEMPO.CO – Sab, 16 Mar 2013

TEMPO.CO, Jakarta- Kepolisian Daerah Metro Jaya menengarai ada tiga tingkatan preman di Jakarta. Juru bicara Kepolisian Daearah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan preman-preman tersebut dibagi sesuai besar kecil operasinya.

“Paling bawah preman kecil yang mangkal di terminal atau pasar,” kata Rikwanto pada Kamis, 14 Maret 2013. Preman jenis ini bisanya berjumlah sedikit dan belum terorganisir.

Sasarannya, hanya pedagang atau masyarakat yang ada di terminal. Mereka berkelompok dalam jumlah kecil.

Kemudian, naik sedikit, menurut Rikwanto, ada preman yang punya daerah kekuasaan. Preman jenis ini biasanya menjadi “penjaga” di tempat hiburan malam atau kantong-kantong parkir dalam sekala menengah.

Preman jenis ini, lanjut Rikwanto, lebih terorganisir dan rapi. “Bahkan mereka bisa membuat sebuah perusahaan tanda kutip untuk menjalankan bisnisnya,” ujar Rikwanto. Mereka menghimpun kekuatan sehingga masanya cenderung besar.

Bisnis preman kelas atas ini berkembang dari menyediakan jasa pengamanan “hitam” hingga mengelola tempat parkir dalam skala besar. Bahkan jenis ini punya kedekatan dengan pengusaha-pengusaha. “Saking terorganisasinya mereka lumayan sulit untuk dilacak.”

SYAILENDRA

http://id.berita.yahoo.com/beda-preman-zaman-kolonial-dan-sekarang-004906528.html

Beda Preman Zaman Kolonial dan Sekarang
TEMPO.CO – Min, 17 Mar 2013

TEMPO.CO, Jakarta – Preman mulai merambah Jakarta pada akhir abad ke-19. Ketika itu Jakarta masih bernama Batavia. Kata pengamat kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, beberapa preman ternama kala itu di antaranya Si Conet, Angkri, Si Pitung, Entong Gendut, dan Kai’in bin Kayah.

“Di masa itu, preman muncul untuk menolong rakyat miskin,” kata Yahya, jumat, 15 Maret 2013. “Mereka merampok harta milik tuan tanah dan belanda, untuk diberikan ke orang kampung.”

Di mata sejarahwan Belanda, Pitung dan teman-temannya adalah pembuat rusuh. Mereka dijuluki perampok, tukang jagal. Namun di mata masyarakat pribumi, mereka merupakan pahlawan. “Ada rasa kebangsaan kala mereka merampok,” ujar Yahya.

Setelah Indonesia merdeka, hingga masa kini, terjadi pergeseran akan arti kata preman. Sejak tahun 1950-an, preman tidak lagi merusuh untuk kepentingan rakyat. Preman masa kini bergerak untuk kepentingan sendiri atau kelompok. Bahkan hampir semua preman hanya memiliki nyali saja. Dan ada pihak-pihak yang memodali mereka untuk terus eksis.

“Tidak ada ideologi kebangsaan dalam pikiran preman sekarang,” kata Yahya. “Bagi mereka, yang penting uang masuk, dapur ngebul.”

Perubahan pergerakan preman ini dimulai oleh Mat Item. Di tahun 1950, Mat item melawan kebijakan Pemerintah RI. Kata Yahya, Mat Item merasa ikut berperan mengusir tentara belanda dengan bergabung sebagai tentara rakyat. Namun pada era kemerdekaan ia tidak mendapatkan peluang bagus di pemerintahan.

Dikenal sebagai raja tega, Mat Item merampok berbagai kalangan masyarakat. Hingga ia tewas ditembak Pasukan Kala Hitam pada 1952. “Waktu meninggal, banyak ditemukan senjata hingga jimat di tubuhnya.”

CORNILA DESYANA

About these ads