Akal-akalan pedagang: Permintaan tetap, pasokan dikurangi, harga terbang ke bulan

Akal-akalan pedagang: Permintaan tetap, pasokan dikurangi, harga terbang ke bulan

http://www.antaranews.com/berita/354222/appsi–harga-sayuran-melonjak-akibat-banjir

APPSI : harga sayuran melonjak akibat banjir

Senin, 21 Januari 2013 15:27 WIB

Jakarta (ANTARA News) – Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menyatakan sejumlah sayuran dan kebutuhan rumah tangga di Jabodetabek mengalami kenaikan harga sekitar 15-40 persen akibat banjir yang melanda.

“Kenaikannya hampir 15-40 persen karena pasokannya berkurang akibat hasil panen yang rusak serta distribusi yang terhambat,” kata Sekretaris Jenderal APPSI Ngadiran saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Menurut dia, kurangnya pasokan sayur dan bahan lain ke Jakarta disebabkan oleh hasil panen yang kurang memadai dari sejumlah daerah. Hasil panen seperti bawang, kentang, tomat atau wortel, misalnya, banyak dikirim dari daerah Cianjur, Brebes dan Lampung yang juga dilanda banjir.

Distribusi barang menuju Jakarta yang sempat terhambat oleh banjir beberapa waktu lalu, tambahnya, juga menyebabkan kenaikan biaya pengiriman.

“Kalau biasanya bisa sampai dalam satu hari, kalau terhambat seperti ini kan jadi dua hari, itu artinya biaya pengiriman juga bertambah,” jelasnya.

Beberapa kebutuhan yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan diantaranya adalah bawang merah, yakni dari sekitar Rp9.000 menjadi Rp16.000 per kilogram, tomat naik dari Rp3.500 menjadi Rp6.000 per kilogram, tahu naik dari Rp1.800 menjadi Rp3.000 per bungkus dan wortel yang naik dari Rp3.000 menjadi Rp5.000 per kilogram.

Sementara bahan makanan lainnya yang juga mengalami kenaikan diantaranya adalah daging ayam yang naik dari Rp22.000 menjadi Rp28.000, telur naik dari Rp13.000 menjadi Rp20.000, cabe keriting naik dari Rp15.000 menjadi Rp26.000 per kilogram serta kentang yang naik dari Rp8.000 menjadi Rp12.500 per kilogram.

“Rata-rata yang naik memang bahan yang mudah busuk. Bahan kering tidak banyak kenaikan karena lebih awet, terkecuali jika pabriknya yang mungkin kena banjir,” tuturnya.

Ngadiran dan pedagang pasar lainnya berharap kondisi ini bisa segera pulih. Akibat kenaikan harga sejumlah bahan makanan itu, pengusaha pasar mengaku penjualan mereka menurun. Harga bahan makanan yang naik serta kondisi konsumen yang kena banjir juga menyebabkan turunnya penjualan.(A062)

Editor: Ella Syafputri

http://www.radar-bekasi.com/?p=83032

Harga Cabai dan Sayuran Melonjak, Pemerintah Tidak Berdaya

BEKASI – Harga sejumlah bahan pokok di Pasar Tradisional Kranji, Bekasi Barat, seperti Cabai, Tomat dan sayur-mayur, serta daging Sapi mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.

Kenaikan harga tersebut sudah berlangsung awal 2013, tepatnya sejak dua bulan lalu, dampak dari musim hujan yang melanda beberapa kota dan derah di wilayah Indonesia.

’’Kami tidak menaikkan harga secara sepihak. Dan ini disebabkan pada saat belanja juga belinya memang sudah mahal. Kalau pun ada barang, stoknya sedikit, sehingga harga di pasar induk ikut melambung,” kata Herman salah seorang pedagang sayuran di Pasar Kranji, Kota Bekasi.

Ia menuturkan, sejumlah kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan, antara lain, Cabai yang awalnya dijual Rp25 ribu, kini menjadi Rp30 ribu per kilogram, bawang merah Rp15 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram, bahkan tomat yang biasa dijual Rp8 ribu per kilogram, naik menjadi Rp15 ribu per kilogramnya.

’’Memang kenaikan harga sayur-mayur ini tidak diatur dan dipantau oleh pemerintah. Sehingga, ada juga pedagang yang menaikkan harga tidak sesuai di pasaran,” terang Herman.

Dia mengakui, di tengah naiknya harga-harga di pasar tradisional ini, belum ada dinas terkait yang turun langsung atau datang untuk melakukan pengecekan.

Lanjut Herman, walaupun ada sejumlah bahan pokok yang mengalami kenaikan, namun ada beberapa jenis sayuran dan bumbu dapur yang harganya masih relatif stabil, antara lain kacang panjang, sawi putih yang dijualnya Rp6 ribu per kilogramnya.

Sementara salah seorang ibu rumah tangga, Christ mengaku kaget dan terbebani atas naiknya berbagai kebutuhan pokok tersebut. ’’Dengan adanya kenaikan harga Cabai dan sayur-mayur akan menambah biaya belanja, sehingga merepotkan bagi ibu rumah tangga,” sesalnya. Ia hanya bisa berharap, bahwa harga-harga itu bisa kembali normal seperti semula. (put)

Tabel:

No Jenis Sayuran Harga sebelumnya Harga terbaru
1 Cabai Rp 25.000 Kg Rp 30.000 Kg
2 Bawang merah Rp 15.000 Kg Rp 20.000 Kg
3 Tomat Rp 7.000 Kg Rp 15.000 Kg
4 Buncis Rp 8.000 Kg Rp 15.000 Kg
5 Jengkol Rp 8.000 Kg Rp 20.000 Kg
6 Wortel Rp 6.000 Kg Stabil
7 Jagung Rp 6.000 Kg Stabil
8 Kol Rp 6.000 Kg Stabil
9 Kentang Rp 8.000Kg Stabil

http://www.ciputranews.com/riil/jalan-utama-putus-harga-sayur-di-manado-melonjak

Jalan Utama Putus, Harga Sayur di Manado Melonjak

Posted on 28 Jan 2013.

Harga beberapa jenis sayur mayur mengalami kenaikan tajam hingga 300 persen menyusul bencana longsor yang memutus dua jalan utama ke Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) yakni ke arah Kota Tomohon dan Minahasa Selatan.

Johny, seorang pedagang sayur mayur di pasar Karombasan Manado, Senin mengatakan, harga sayur yang mengalami kenaikan tajam di antaranya jenis petsai, kol dan jenis lainnya.

Untuk sayur petsai yang biasanya dijual hanya Rp1000 per ikat, naik menjadi Rp4.000, begitu juga sayur kol ukuran kecil dari Rp5.000 menjadi Rp12 ribu, buncis Rp1.000 menjadi Rp5.000 per ikat.

Para pedagang mengatakan, penyebab kenaikan terjadi karena kendaraan pengangkut harus memutar melewati jalur jalan lebih jauh dari yang biasanya dilalui tranportasi darat.

Sayur yang dijual pedagang di Kota Manado sebagian besar dipasok dari Kota Tomohon dan Modoinding Tompasobaru, sementara akses jalan ke dua daerah sentra sayur tersebut, terganggu akibat longsor menyusul turunnya hujan sepanjang hari Minggu (27/1).

Akibat hujan turun cukup deras sepanjang sehari mengakibatkan longsor berat terjadi di jalan Provinsi menghubungkan Kota Manado dan Tomohon, akibatnya semua kendaraan tidak bisa melintas sejak Minggu malam hingga sekarang (Senin).

Demikian juga arah Manado menuju Modoinding, terganggu karena kondisi jalan yang mengalami kerusakan tepatnya di Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa.

Kenaikan harga sayuran tersebut membuat para ibu rumah tangga harus memutar otak, sebab harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dari sebelumnya.

Masyarakat meminta pemerintah daerah segera memperbaiki jalan yang mengalami kerusakan akibat longsor, dengan demikian kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat dapat kembali ke posisi normal. (ant/as)

http://ekbis.sindonews.com/read/2013/02/25/34/721389/petani-keluhkan-fluktuasi-harga-sayuran

Petani keluhkan fluktuasi harga sayuran

Arif Budianto, Senin, 25 Februari 2013 − 15:22 WIB

Sindonews.com – Fluktuasi harga sayuran menyebabkan petani merugi dan menghentikan menanam komoditas. Sebaliknya, di saat pasokan menipis harga komoditas sayur melonjak tinggi.

Menurut Ketua Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) Madani, Cece Rohman, tingginya harga sejumlah komoditas sayur di pasaran, akibat minimnya pasokan. Dia mencontohkan, harga tomat saat ini berkisar Rp15 ribu per kilogra (kg). Tingginya harga tomat disebabkan minimnya suplai tomat dari petani sayur di Jawa Barat.

Minimnya pasokan tomat dan sejumlah komoditas sayur lainnya dikarenakan petani berhenti menanam komoditas tersebut. “Fluktuasi harga yang tidak menentu, menyebabkan mereka menghentikan menanam beberapa komoditas sayuran. Pada akhir 2012, harga tomat di tingkat petani Rp200 per kg. Harga tersebut menyebabkan petani rugi dan tidak mau menanam tomat lagi,” kata Cece kepada wartawan di Bandung, Senin (25/2/2013).

Menurut dia, harga tomat pada musim panen akhir tahun lalu tidak cukup untuk menutup ongkos produksi serta transportasi. Ketika itu, banyak petani memilih tidak memanen dan membiarkan tomatnya membusuk. Sementara, ketika petani tidak menanam tomat, harga tomat di tingkat petani mencapai Rp7 ribu sampai Rp9 ribu per kg.

Kondisi tersebut, lanjut dia, tidak hanya terjadi pada komoditas tomat. Komoditas lainnya seperti kubis, sawi, seledri, bawang daun, buncis, daun kol, dan lainnya juga mengalami hal serupa. Harga komoditas tersebut sering kali naik turun sesuai pasar. Pada musim panen, harga sawi pernah dibeli Rp100 per kg. Saat ini, harga jual sawi ditingkat petani bisa mencapai Rp1.400 per kg.

Saat ini, harga sejumlah komoditas sayuran ditingkat petani cukup bagus. Kubis dibeli pada kisaran Rp1.600 per kg, sawi Rp1400 per kg, seledri Rp3.500 per kg, bawang daun Rp4.500 per kg, buncis Rp3.500 per kg, dan daun kol Rp3.000 per kg.

(izz)

http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=74878#.UTbyx-GW7Pg

http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=74878#.UTb1K-GW7Ph

Harga Sayuran di Lereng Gunung Slamet Naik

Rabu, 27 Peb 2013 18:42:24 WIB

Purbalingga, Antara Jateng – Harga sayuran di tingkat petani lereng timur Gunung Slamet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, naik akibat tingginya permintaan dari sejumlah pasar besar.

“Saat ini, permintaan sayuran dari pasar besar memang mengalami kenaikan karena sejumlah wilayah penghasil sayuran belum memasuki musim panen,” kata petani sayuran, Slamet, di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Rabu.

Menurut dia, harga sayuran mulai mengalami kenaikan sejak akhir Januari silam dan hingga saat ini, harganya cenderung stabil.

Kendati demikian, dia mengakui, harga sayuran di tingkat petani lebih rendah dibanding harga di pasaran yang telah ditambah ongkos angkut.

“Namun, kami tetap senang dengan kondisi harga sayuran sekarang ini,” katanya.

Lebih lanjut, dia mencontohkan harga kentang yang sebelumnya Rp3.000 per kilogram, saat ini mencapai Rp4.500/kg.

Sementara harga daun bawang saat ini mencapai Rp5.000/kg, tomat Rp10 ribu/kg, wortel Rp4.000/kg, dan kol atau kubis mencapai Rp4.500/kg.

“Jika dibanding harga sebelumnya, rata-rata mengalami kenaikan antara Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram,” katanya.

Pengepul sayuran di Desa Kutabawa, Edy Suratno mengatakan, petani sayuran di lereng timur Gunung Slamet yang masuk wilayah Purbalingga tersebar di Desa Kutabawa dan Serang, Kecamatan Karangreja.

Menurut dia, sebagian besar komoditas sayuran yang ditanam petani di wilayah ini berupa kentang, daun bawang, tomat, dan kubis.

“Kalau memasuki musim panen, harga sayuran justru anjlok. Bahkan, petani sering membiarkan tanamannya tidak dipanen hingga membusuk karena kalau tetap dipanen, mereka justru akan merugi,” katanya.

Kepala Desa Serang Sugito mengatakan, harga sayuran saat ini mengalami kenaikan meskipun sedang musim hujan, sehingga petani pun menjadi untung.

“Bahkan, harga tomat yang biasanya anjlok saat musim hujan, hingga sekarang masih tetap bagus. Harga stroberi saat ini juga sedang bagus karena mencapai kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram,” katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan, saat ini belum banyak petani yang memanen stroberi karena masih musim hujan.

Sementara itu, salah seorang pedagang sayuran di Sub-Terminal Agribisnis (STA) Kutabawa, Riyadi mengaku hanya mendapat keuntungan sedikit ketika harga sayuran yang dibelinya sudah tinggi tinggi.

“Jika harga di tingkat petani anjlok, keuntungan malah berlebih,” kata dia yang biasa memasok sayuran ke sejumlah pasar besar di Cirebon, Semarang, dan Yogyakarta.

Pewarta : Sumarwoto/Nur Istibsaroh

About these ads