Tentang Skandal Busuk Bank CIC, Bank Century, Boediono, George Soros, dan Ricky Putra Globalindo

Tentang Skandal Busuk Bank CIC, Bank Century, Boediono, George Soros, dan Ricky Putra Globalindo

oleh Sando Sasako
Lead Consultant
Advanced Advocacy Plus

Jakarta, 29 February 2012

Kisruh Bank Century sebenarnya telah lama berlangsung. Permasalahan telah dimulai saat Indonesia mengalami krisis finansil di tahun 1997. Secara teknis, ketika hutang lebih besar dari aset, perusahaan dinyatakan bangkrut. Dari 30 bank publik yang memiliki hutang valas, 17 bank bisa selamat dari rupiah yang terdepresiasi sampai 75%. Dua diantara 17 bank tersebut adalah Bank CIC dan Bank Pikko. Di tahun 1999, Bank CIC merupakan satu dari 13 bank publik yang bisa merekapitalisasi dirinya.

Per 11 Agustus 1999, George Soros dikabarkan sudah memiliki 19% saham Bank CIC dan berencana akan menaikkan sampai 30%. Di saat yang hampir bersamaan, selaku pengendali Bhakti Investama, Hary Tanoesoedibyo mengkonfirmasi kebenaran penguasaan 11% saham oleh Quantum Fund milik George Soros.

Selain itu Soros dikabarkan telah membeli convertible bonds milik Ricky Putra Globalindo. RPG menjadi perusahaan publik pada penghujung tahun 1997. RPG hanya menggandeng 1 lead underwriter yang bertanggungjawab atas 59,35 juta saham (98,92%) bernilai Rp35,61 milyar dengan biaya underwriting sebesar Rp1,42 milyar.


Bank CIC tercatat sebagai bank publik sejak 3 Juni 1997, dengan menawarkan 70 juta lembar saham baru pada harga Rp900 per saham. Dengan nilai par Rp500 per lembar, total capital gain yang diraup Bank CIC saat IPO berjumlah Rp28 milyar. IPO membuat saham Bank CIC yang tercatat di BEJ berjumlah 230 juta dengan nilai pasar sebesar Rp11,78 milyar.

Saat IPO, Bank CIC menggandeng 2 lead underwriter yang bertanggungjawab menjual 60,4 juta saham (86,29%) senilai Rp54,36 milyar. Biaya underwriting yang dibayar Bank CIC untuk IPO berjumlah Rp2,04 milyar. Pacific Duaribu Investindo merupakan salah satu lead underwriter atas 10,1 juta saham Bank CIC. Agresifnya Pacific Duaribu Investindo pada bisnis underwriting nampak pada total perolehan underwriting fee terkecil di tahun 1997.

Per September 1999, Bank CIC (Century Intervest Corp.) beralamat di Sentral Senayan I menyandang status bank swasta nasional tipe-A. Saham Bank CIC dimiliki oleh Morgan Stanley & Co. Inc (18,89%), Century Mega Investindo (18,67%), Century Super Investindo (17,12%), dan publik (45,32%).

Dewan Komisaris dipimpin oleh Drs HR Deddi Anggadiredja, MBA, dan beranggotakan Poerwanto Kamsjadi, SE serta Drs Andi Bakry Pangoriseng. Dewan Direksi dipimpin oleh Robert Tantular, B.Eng, MBA, dan beranggotakan ML Leleury, SE, Anthony Chandra Kartawiria, Bcomm, dan Rudy Trisantoso.

20011127 Rapat Dewan Gubernur BI menyetujui prinsip akuisisi Bank Pikko, Bank Danpac, dan Bank CIC.
20020705 proses akuisisi diizinkan BI, dengan catatan BI telah mengetahui perbuatan melawan hukum yang dilakukan Chinkara terhadap Bank CIC.
2001-2003 Bank CIC melakukan transaksi surat-surat berharga (SSB) fiktif senilai US$25 juta yang melibatkan Chinkara. Di tahun 2003, Bank CIC tercatat memiliki surat berharga dalam valuta asing sekitar Rp2 triliun (US$210 juta), US Treasury Strips senilai US$185,36 juta, berbunga rendah, berjangka panjang, sulit dijual, dan tidak memiliki peringkat. BI menyarankan merger dengan bank sejenis.
SSB berisiko tinggi membuat Bank CIC diwajibkan membentuk penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP). Hal ini berdampak pada CAR yang menjadi negatif. Bank run tidak terelakkan. Bank CIC mengalami kesulitan likuiditas dan telah melanggar ketentuan posisi devisa netto (PDN).
Sementara Bank Pikko memiliki kredit macet Texmaco yang ditukarkan dengan medium term note (MTN) Dresdner Bank yang tidak punya rating. Walaupun demikian, BI tetap menyetujui proses merger. Likuidasi ketiga bank bukan pilihan yang baik menimbang kemungkinan terburuk terhadap 23 bank umum dan BPD.
20041206 BI menyetujui proses merger Bank Pikko dan Bank Danpac kedalam Bank Century dengan Bank CIC sebagai the surviving bank. SSB berisiko tinggi masih tercatat di neraca bank hasil merger. Ketimbang menuruti saran BI, pemegang saham membuat perjanjian untuk menukar surat-surat berharga ini dengan deposito di Bank Dresdner, Swiss, yang belakangan ternyata sulit ditagih.
Robert Tantular menjadi pemegang saham Bank Century melalui (kepemilikan 7% saham) Century Mega Investindo yang menguasai 9% saham Bank Century. Dua pemegang saham pengendali lainnya adalah Alwarraq Hesyam Talaat M dan Rafat Ali Rizvi. Mereka menjadi pemegang saham tanpa kelulusan fit and proper test sebagai bankir.
20050722 BI memuluskan proses merger dengan menaikkan status SSB dari macet menjadi lancar. Hal ini berdampak pada CAR yang membaik dan memenuhi persyaratan merger. Selain itu, dua pemegang saham pengendali yang tidak lulus fit and proper test, dikecualikan penilaiannya.
20051031 dua bulan setelah merger, yakni 28 Februari 2005, hasil audit memperlihatkan CAR Bank Century yang negatif 132,5%. Dalam kondisi ini, seharusnya BI memasukkan Bank Century sebagai bank dalam pengawasan khusus, melainkan bank dalam pengawasan intensif.
2005-2007 BI menemukan pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK), ketiadaan Penyediaan Pencadangan Aktiva Produktif (PPAP), tetapi tidak mengambil tindakan tegas sesuai ketentuan PBI nomor VI/9/PBI tentang tindak lanjut pengawasan dan penetapan status bank sebagaimana diubah dengan PBI No 7/38/PBI/2005. Toleransi lainnya adalah penurunan denda pelanggaran PDN sejak 2004 dari Rp22 milyar menjadi Rp11 milyar.
20080930 Kepemilikan Bank Century terdiri dari Chinkara Capital Limited (27,70%), Claas Consultant (12,93%), Outlook Invesment (5,42%), UOB Kay Hian (5,41%), CFGL FCC (4,28%), dan masyarakat (45,26%).
20081030 dan 20081103, sebanyak US$56 juta surat-surat berharga valas jatuh tempo dan gagal bayar. Bank Century kesulitan likuiditas dan mengajukan permohonan FPJP senilai Rp1 trilyun.
20081106 Bank Century dimasukkan ke dalam pengawasan khusus.
20081113 Boediono selaku Gubernur BI mengklarifikasi bahwa Bank Century kalah kliring atau tidak bisa membayar dana permintaan dari nasabah.
20081113 16.59 WIB, email tercatat keluar dari  ID PT Bahana Securities, staff penjualan (sales), atas nama Erick Jazier Ardiansyah, dan diterima Wiranto, pegawai Bank Panin, per 14 November 2008, yang berisikan:
“Market news stated that several lndo bank is having a liquidty problem and fail to complete interbank transaction. These lndo banks include: Bank Panin (PNBN): Bank Bukopin (BBKP); Bank Arta Graha (INPC): Bank ClC (BCIC) dan Bank Victoria (BVIC). We wil keep you updated.
Berita pasar mengabarkan bahwa beberapa bank di lndonesia mendapat masalah likuiditas dan kegagalan dalam menyelesaikan transaksi antar bank. Bank tersebut diantaranya: Bank Panin, Bank Bukopin, Bank Arta Graha, Bank CIC, dan Bank Victoria.”
20081114 Bank Century mengajukan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) ke BI senilai Rp1 triliun sebagai pendanaan darurat dengan alasan sulit mendapat pendanaan dan disetujui BI sebesar Rp600 miliar.
20081114 disclaimer Boediono, BI, dan Bank Artha Graha dengan melaporkan hal ini sebagai perbuatan tak menyenangkan dan informasi bohong ke Mabes Polri. Penyidik pun langsung memeriksa para saksi yaitu Wirianto (Bank Panin), Andy Kasih (Bank Arta Graha), Tamunan (Bank Victoria) dan Arif Wiryawan (Bank Bukopin).
20081116 disclaimer Direktur Utama Bahana Securities Heri Sunaryadi: “Terkait dengan tindakan yang diduga dilakukan oleh salah satu pegawai Bahana Securities, kami tegaskan bahwa tindakan tersebut jika benar dilakukan; merupakan tindakan pribadi yang melanggar peraturan perusahaan karena telah menyebarkan informasi yang tidak berdasarkan data dan fakta dan oleh karenanya tidak bersangkut paut dengan Bahana Securities.”
Ia juga menegaskan Bahana Securities tidak pernah menerbitkan pernyataan ataupun laporan riset tentang masalah likuiditas beberapa bank di Indonesia. Segala pernyataan resmi ataupun laporan riset harian selalu berdasarkan data dan fakta yang sudah diolah.

Bahana Securities masih merupakan ‘cucu’ dari BI. Sebesar 100% saham Bahana Securities dimiliki Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero). BPUI sendiri merupakan BUMN yang 82,2% sahamnya dimiliki oleh BI dan 17,8% dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Keuangan.

20081117 Antaboga Delta Sekuritas milik Robert Tantutar yang dikelola Sri Gayatri mulai gagal membayar kewajiban atas produk discretionary fund yang dijual Bank Century sejak akhir 2007.
Bank Century menjual produk investasi Discretionary Fund, dengan nilai outstanding terakhir sekitar Rp1,4 triliun. Discretionary Fund, terbitan PT Antaboga Delta Sekuritas, tidak terdaftar di Bapepam-LK. ADS merupakan perusahan sekuritas milik Robert Tantular. Oleh karena itu, Bank Century tidak dalam posisi dapat mencairkan dana nasabah yang membeli produk ilegal tersebut. Pembeli DF adalah nasabah yang mencairkan simpanannya di Bank Century.
Pada awalnya ada migrasi dana nasabah sebesar Rp1,4 triliun ke portofolio investasi yang ditawarkan Antaboga. Tapi belakangan diketahui dana itu telah melambung menjadi Rp2,6 triliun. Sejumlah itulah unsur kriminal yang terkandung dalam diri Bank Century.
20081120 BI mengirim surat kepada Menteri Keuangan yang menetapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik dan mengusulkan langkah penyelamatan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Bank Century menghadapi persoalan karena ada transaksi antar bank yang mencapai 24,2% dari total asetnya.
Di hari yang sama, Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) yang beranggotakan BI, Menteri Keuangan, dan LPS, melakukan rapat. Dalam rapat tersebut, BI, per 31.10.2008, mengumumkan bahwa CAR Bank Century adalah negatif 3,52%.
Sebagai jalan keluarnya, diputuskanlah penambahan kebutuhan modal untuk menaikkan CAR menjadi 8% adalah sebesar Rp632 miliar (Surat BI No.10/232/ GB/rahasia kepada Menkeu). BI tidak memberikan informasi mengenai beberapa risiko penurunan CAR, informasi penurunan kualitas aset, rekayasa akuntansi Bank Century, dan penyimpangan oleh pemiliknya.
20081121 Bank Century diambil alih oleh LPS berdasarkan keputusan KKSK dengan surat Nomor 04.KKSK.03/2008. Robert Tantular, salah satu pemegang saham Bank Century, bersama tujuh pengurus lainnya dicekal. Pemilik lain, Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al-Warraq menghilang.
20081123 LPS memutuskan memberikan dana talangan senilai Rp2,78 triliun untuk mendongkrak CAR menjadi 10%. Saat itu BI menilai untuk mencapai CAR sebesar 8% dibutuhkan dana sebesar Rp2,655 triliun. Peraturan LPS membolehkan lembaga memberikan PMS sebesar Rp2,776 triliun dalam rangka menaikkan CAR menjadi 10%.
20081201 Adanya mutasi terhadap 50 pegawai BI, atau 10 hari sejak Bank Century dinyatakan gagal. Upaya ini dinilai sebagai hukuman terhadap para pihak yang menolak untuk menyelamatkan Bank Century.
20081205 Hingga Desember 2008, dana pihak ketiga yang ditarik nasabah dari Bank Century sebesar Rp5,67 triliun. Penarikan itu berdampak pada tingkat kesehatan bank. Karena itu LPS mengucurkan dana lagi sebesar Rp2.201 triliun.
20081209 Bank Century mulai menghadapi tuntutan ribuan investor ADS atas penggelapan dana investasi senilai Rp1,38 triliun.
20081231 Bank Century mencatat kerugian Rp7,8 triliun pada 2008. Asetnya tergerus menjadi Rp5,58 triliun dari Rp14,26 triliun pada 2007.
20090203 LPS menyuntikkan dana Rp1,5 triliun.
20090511 Bank Century keluar dari pengawasan khusus BI.
20090721 LPS menyuntikkan dana Rp630 miliar.
20091123 BPK memaparkan hasil pemeriksaan investigatif atas kasus Bank Century kepada DPR.

Beberapa kejahatan (manajemen) Bank Century:

  1. Robert Tantular bersama Dewi Tantular mencairkan deposito US$18 juta tanpa seizin pemiliknya, Boedi Sampurna.
  2. Robert Tantular bersama Hermanus Hasan Muslim, direktur Bank Century, mencairkan kredit tanpa prosedur kepada Wibowo Wadah Rejeki dan Accent Investment Indonesia.
  3. pemberian kredit LC fiktif Rp397,97 miliar pada pihak terkait dan pemberian LC fiktif sebesar US$75,5 juta.
  4. hasil penjualan surat-surat berharga Rp30,28 miliar dijadikan jaminan kredit pihak terkait.
  5. penggelapan hasil surat berharga senilai US$7 juta.
  6. banyak surat berharga masih dikuasai salah satu pemegang saham.
  7. membuat pengeluaran fiktif senilai Rp209,8 miliar dan US$4,72 juta selama 2004-2008.
  8. kepemilikan surat-surat berhaga (SSB) berkualitas rendah.
  9. pelanggaran ketentuan Batas Maksimal Pemberitaan Kredit (BMPK).
  10. pelanggaran ketentuan Posisi Devisa Neto (PDN).

Beberapa dugaan penyimpangan pelaksanaan kebijakan oleh otoritas moneter dan fiskal:

  1. operasional Bank CIC.
  2. proses akuisisi Bank Danpac dan Bank Pikko oleh Chinkara Capital.
  3. merger Bank CIC, Bank Danpac, dan Bank Pikko menjadi Bank Century
  4. operasional Bank Century.
  5. keterlambatan 15 menit penyetoran dana kliring sebesar Rp5 milyar berdampak pada penyelesaian beban kliring melalui dana penyelamatan hingga Rp6,76 trilyun.
  6. penyalahgunaan dana Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) dari BI dan Penyertaan Modal Sementara (PMS) dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
  7. pemberian FPJP khusus kepada Bank Century dengan menurunkan persyaratan dari CAR minimal 8% menjadi CAR positif melalui PBI No.10/26/PBI/2008 tertanggal 30 Oktober 2008. Saat itu CAR Bank Century hanya 2,35% per 30.09.2008 yang dijadikan patokan, padahal per 31.10.2008, CAR-nya sudah negatif 3,53%.
  8. pemberian FPJP dipengaruhi oleh kepentingan BI terkait penempatan dana Yayasan Kesejahteraan Pekerja BI (YKKBI) di Bank Century.
  9. pemberian FPJP sebenarnya dilakukan untuk menutupi gagal kliring Bank Century per 13 November 2008 sebesar Rp654 miliar. Dalam prakteknya, kucuran dana dilakukan tiga kali, yakni Rp356,8 milyar per 14.11.2008; Rp145,26 miliar per 17.11.2008; dan Rp187,3 miliar per 18.11.2008. BI seakan tidak mengawasi bagaimana penggunaan dana tersebut di Bank Century.
  10. jaminan FPJP sebesar Rp467,99 milyar ternyata tidak secure.
  11. peningkatan nilai jaminan nasabah secara drastis dari Rp100 juta menjadi Rp2 milyar ketika Bank Century dinyatakan sebagai bank gagal.
  12. penarikan DPK sebesar Rp936,7 milyar selama periode 6 November 2008 sampai 11 Agustus 2009 melanggar ketentuan BI, dalam hal beberapa nasabah besar bisa leluasa menarik dananya lebih dari yang dijaminkan LPS, seperti kasus pemilik bengkel di Makassar.
  13. dari total PMS LPS sebesar Rp6,76 triliun, sebanyak Rp4,02 triliun (60%) digunakan untuk membayar DPK yang berjumlah 8.577 nasabah; dan Rp2,25 triliun (33%) ditempatkan dalam bentuk aset (SBI/FASBI/SUN/GWM); dan sisanya (7%) untuk melunasi FPJP dan pinjaman antara bank. Dari 8.577 nasabah yang menarik dananya tersebut, 8.249 (96%) adalah penyimpan dengan nilai dibawah Rp 2 Milyar. Sebanyak 326 nasabah menyimpan dana lebih dari Rp2 milyar.
  14. kegigihan Boediono selaku Gubernur BI menetapkan Bank Century sebagai “Bank Gagal Berdampak Sistemik”. Penyelamatan perlu dilakukan guna mengurangi kemungkinan terburuk dampak psikologis kegagalan sistemik (perbankan, keuangan,  pembayaran) melalui kucuran dana segar Rp632 miliar dalam rangka menaikkan CAR menjadi positif 8%.
  15. proses Pengambilan Keputusan KSSK.
  16. adanya mutasi terhadap 50 pegawai BI per 1 Desember 2008, atau 10 hari sejak Bank Century dinyatakan gagal. Hal ini dinilai sebagai hukuman terhadap para pihak yang menolak untuk menyelamatkan Bank Century.

Menyusul berbagai temuan adanya praktek-praktek dugaan penyimpangan tersebut, berikut beberapa kemungkinan pelanggaran atau kejahatan yang bisa dibuatkan pertanggungjawaban pidananya:

  1. perbuatan melawan hukum.
  2. tindak pidana korupsi.
  3. tindak pidana perbankan.
  4. tindak pidana pencucian uang.
  5. tindak pidana umum.
  6. kecurangan (fraud).
  7. ketidakteraturan (irregularities).
  8. pengeluaran fiktif (illegal expenditures).
  9. penyalahgunaan kewenangan (abuse of power) di bidang pengelolaan keuangan negara.

http://secangkirteh.com/index.php?topic=1669.0

http://www.detikfinance.com/read/2008/11/16/145235/1037705/5/nama-lima-bank-dicatut-kesulitan-likuiditas

http://www.detikfinance.com/read/2008/11/16/151443/1037710/5/bahana-penyebaran-rumor-perbankan-tindakan-pribadi

http://www.detikfinance.com/read/2008/11/16/154949/1037725/5/penyebar-rumor-likuiditas-perbankan-terancam-6-tahun-penjara

http://www.detikfinance.com/read/2008/11/16/170020/1037748/5/satu-lagi-penyebar-rumor-perbankan-diincar-polisi

http://www.detikfinance.com/read/2008/11/17/090725/1037940/6/kisah-si-penyebar-rumor-perbankan


George Soros buys 11% stake in Indonesian securities firm

August 11, 1999
JAKARTA – Leading US stockbroker George Soros, who has recently been aggressively buying Indonesian company shares, has acquired the shares of the securities company PT Bhakti Investama, a report says. Bhakti Investama president Hary Tanoesoedibyo acknowledged that the Quantum Fund, owned by Soros, had acquired 11 percent of his company shares. Soros is also reported to have bought convertible bonds of PT Ricky Putra Globalindo. Soros is known to have acquired 19 percent of Bank CIC and he was reportedly planning to raise his stake in the bank to 30 percent.

http://www.atimes.com/bizasia/AH11Aa01.html


Soros tercatat sebagai pemegang saham mayoritas PT. Ricky Putra Globalindo

George Soros tercatat memiliki saham PT. Ricky Putra Globalindo melalui :
1. Spanola Holding Ltd. sebesar 125.000.000 (19.48%)
2. Denzin International Ltd. sebesar 84.095.500 (13.10%)
Total : 32.58%
Sementara pemegang saham pendiri PT. Ricky Utama Raya terdilusi menjadi 99.192.100 (15.46%) akibat pelaksanaan Right Issue juli 2004 di harga 500 /lembar.

Alasan George Soros menguasai industri tekstil di indonesia di antaranya :
1. Pertumbuhan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) tercatat naik 21,2 persen atau sebesar USD11,32 miliar pada tahun 2010.
(Sekitar 102 Trilyun)
2. China Tertarik Bangun Pabrik Mesin Jahit di Karawang
Sekjen API Ernovian G Ismy menjelaskan, China telah meminta lahan seluas 200 hektare (ha). Pembangunan pabrik tersebut, kata dia, akan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 100 ribu orang.

Ricky Putra Globalindo adalah produsen celana dalam pria merk Gt-Man, di mana GT-man merupakan Market Leader Celana Dalam Pria di Indonesia.
Pada tahun 2010, GT-Man mendapatkan penghargaan “Indonesia Best Brand Award” jenis platinum (3 star) untuk kategori Celana Dalam Pria, di mana ada 3 jenis penghargaan yaitu Silver (1 Star), Gold (2 Star), Platinum (3 Star).

Menurut sumber kami George Soros sengaja menekan harga saham RICY di bawah 500 sehingga bisa memperoleh saham dari investor ritel lebih murah daripada harga Right Issue di tahun 2004.
Last edited by goodvamp; 15th January 2011 at 16:22..

http://forum.detik.com/showthread.php?p=12344135


Alasan Pertama George Soros memiliki RPG:

2010, Ekspor TPT Capai USD11 Miliar

Kamis, 6 Januari 2011 17:28 wib

JAKARTA – Pertumbuhan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) tercatat naik 21,2 persen atau sebesar USD11,32 miliar pada tahun 2010.

Pertumbuhan ini didorong oleh nilai ekspor serat buatan terutama serat rayon yang naik 46,7 persen, benang dan kain 29,3 persen, serta pakaian jadi dengan kontribusi nilai tersebesar yang mencapai USD6,7 miliar atau naik 15,3 persen.

Kinerja ekspor TPT ini dipengaruhi oleh membaiknya situasi ekonomi dunia yang cukup mendorong kenaikan konsumsi TPT dunia hingga tumbuh sekira empat atau lima persen.

Direktur Eksekutif Indotextiles Redma Gita Wirawasta mengatakan, Amerikat Serikat (AS) yang menjadi salah satu pasar utama TPT dunia, pada 2010 menunjukkan pertumbuhan impor hingga 15 persen atau sebesar USD94,2 miliar.

Indonesia diketahui menduduki posisi keempat sebagai negara suplier dengan pertumbuhan 14,6 persen di bawah China yang tumbuh 21,7 persen, Vietnam 16,7 persen, dan India 16,7 persen.

Sementara itu, untuk impor TPT 2010, menurut Redma, didominasi oleh impor benang dan kain yang naik hingga 70,1 persen, impor pakaian jadi 45,8 persen, dan impor serat terutama kapas naik 35 persen sehingga total pertumbuhan nilai impor TPT di 2010 mencapai 57,2 persen atau sebesar USD5,92 miliar.

“Tingginya pertumbuhan impor kain disebabkan tingginya permintaan industri garmen yang berorientasi ekspor menyusul lemahnya daya saing industri pertenunan nasional. Sedangkan tingginya impor serat lebih dikarenakan lonjakan harga kapas yang tahun lalu bisa mencapai USD2,8 per kg,” jelas Redma di Jakarta, Kamis (6/1/2011).

Sedangkan di pasar domestik, Redma mengungkapkan, pemulihan kinerja ekonomi mendorong konsumsi TPT nasional. Meskipun share konsumsi TPT masih berada pada level dua persen dari total pengeluaran masyarakat, namun pertumbuhan konsumsi total masyarakat tahun 2010 sangat cukup untuk mendorong konsumsi TPT hingga tumbuh 28 persen menjadi 1,35 juta ton dari 1,05 juta ton di 2009.

Kendati demikian, lanjut Redma, gemilangnya kinerja ekspor dan konsumsi di pasar domestik tidak serta merta memperbaiki kinerja industri TPT nasional yang diperkirakan masih berada di bawah level empat persen.

Kecuali untuk garmen yang mungkin bisa di atas lima persen menyusul peningkatan output yang cukup besar baik dilakukan oleh produsen garmen berskala besar yang berorientasi ekspor maupun UKM atau konveksi yang berorientasi pasar domestik.

Redma menuturkan, stagnasi industri TPT lebih disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam menyerap potensi investasi baru yang merelokasikan pabriknya dari China, Korea Selatan dan Taiwan. Investasi yang terjadi beberapa tahun terakhir ini lebih pada modernisasi permesinan dan sedikit perluasan kapasitas usaha.

“Tiga tahun terakhir banyak investor luar yang akan membangun pabrik disini, namun karena ketidaktersediaan energi listrik mereka beralih ke Vietnam dan Bangladesh, padahal kalau mereka jadi berinvestasi disini, ekspor kita tahun ini bisa mencapai lebih dari 30 persen,” ujar Redma.

Untuk pasar domestik, Redma menambahkan, meskipun terjadi lonjakan konsumsi yang diikuti oleh lonjakan penjualan produk pakaian jadi lokal sekira 60 persen atau menjadi 734 ribu ton, namun permasalahan produk ilegal masih cukup dominan.

Di mana dari total konsumsi masyarakat 2010 yang sebesar 1,35 juta ton, penjualan produk lokal hanya 734 ribu ton atau sebesar 54 persen, produk impor sebesar 54 ribu ton atau empat persen dan produk ilegal diperkirakan mencapai 573 ribu ton atau sekira 42 persen. (Sandra Karina/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com/read/2011/01/06/320/411197/2010-ekspor-tpt-capai-usd11-miliar


Alasan Kedua George Soros memiliki RPG:

China Tertarik Bangun Pabrik Mesin Jahit di Karawang

Selasa, 11 Januari 2011 19:54 wib

JAKARTA – China tertarik untuk membangun pabrik mesin jahit dan garmen di Karawang, Jawa Barat pada tahun ini dan 2012.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman menyatakan bahwa China tertarik membangun pabrik di dalam satu kawasan karena ketidakstabilan hukum di Indonesia.

Namun sayangnya, Ade belum bisa menjelaskan secara detail mengenai besaran dari investasi tersebut. “Dengan satu kawasan akan lebih mudah mengontrolnya,” ucap Ade di Jakarta, Selasa (11/1/2011).

Sekjen API Ernovian G Ismy menjelaskan, China telah meminta lahan seluas 200 hektare (ha). Pembangunan pabrik tersebut, kata dia, akan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 100 ribu orang.

Kendati demikian, ujar dia, para pelaku sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional akan semakin sulit bersaing karena para produsen TPT asal China akan hijrah ke Indonesia.

“Kita sangat mendukung karena dengan adanya relokasi tersebut tentu saja akan menciptakan lapangan kerja baru yang cukup besar. Tapi dari segi persaingan tentu saja keberadaan mereka akan semakin menyulitkan para produsen TPT di dalam negeri,” ujar Ernovian.

Sehingga, Ernovian berharap para produsen TPT asal China itu tidak mengambil porsi pangsa pasar domestik dari para produsen TPT, dan bersinergi dengan para pemain lokal. Ernovian mengusulkan agar hasil produksi dari pabrik tersebut adalah untuk diekspor.

Pembangunan pabrik tersebut, menurut Ernovian, disebabkan karena pada investor asal China tersebut melihat peluang yang cukup besar dengan adanya implementasi kawasan perdagangan bebas China-ASEAN (China-ASEAN Free Trade Area/CAFTA) yang mulai diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 2010 lalu. Sebelum membangun pabriknya di Indonesia, China sudah lebih dulu membangun diVietnam dan Laos.

Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dedi Mulyadi membenarkan rencana China untuk membangun pabrik di Indonesia. “Sebelum membuat pabrik garmen mereka akan membangun pabrik permesinannya terlebih dahulu,” terang Dedi. (adn) (Sandra Karina/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com/read/2011/01/11/320/412895/china-tertarik-bangun-pabrik-mesin-jahit-di-karawang

About these ads