Populasi ulat bulu yang berlebihan dinilai mengganggu kehidupan manusia

Bagaimana kalau dinilai sebaliknya, populasi manusia yang berlebihan, dinilai … ;p

My comment:

ulat bulu, tikus, dan segala macam makhluk yang berlebihan ada di muka bumi dianggap manusia sebagai hama.

coba kalau dibalik, manusia yang jumlahnya milyaran dinilai berlebihan ada di muka bumi, maka manusia dianggap … ;p

kalau kulit kita kena bulu dari ulat bulu, kulit badan kita jadi memerah kegatelan, pengen digaruk aja bawaannya.

kalau mata kita ngeliat tikus di rumah, atau diselokan, mata kita jadi memerah, pengen ngebunuh si tikus aja maunya. kalau tikus kantor…., kalau tikus negara….

coba kita nilai media apa menyajikan apa. yang menang: mediaindonesia. kenapa? karena dia menyajikan solusi. kompas hanya menceritakan sensasi yang dirasa penulis dan editornya. okezone hanya memberitakan ‘fakta’ yang sumir, tidak melihat kausalitas. republika hanya menampilkan berita basi, politisasi anggaran pembasmian tikus. apa hubungan stringer dengan tikus berdasi di pest control efforts di new york?

the next epitome is setiap saat dunia ini berada dalam kesetimbangan dan keseimbangan. seperti ban pada roda yang berjalan, kadang di bawah, kadang di atas, kadang kena panas, kadang kena hujan.

singkatnya, bumi beserta isinya itu merupakan makhluk hidup yang spesifik. dia akan membalikkan sesuatu yang sudah terbalik, kembali ke kondisi asalnya, tetapi tidak ke titik asal.

the earth is moving, just like us. we have to move our lives to the next step. we had said goodbye to the dead, to the undead, to the loved ones once, and promised, till we meet again, in the afterlife. rest in peace, pa. i miss you.

Sumber: mediaindonesia.com, Rabu, 06 April 2011 07:53 WIB, http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/06/215741/289/101/Wabah-Ulat-Bulu-akibat-Predator-Berkurang

Wabah Ulat Bulu akibat Predator Berkurang

Penulis : Bagus Suryo

MALANG–MICOM: Wabah ulat bulu yang menyerang perkebunan mangga di Probolinggo dan kini meluas ke daerah sekitarnya sebagai akibat dari semakin berkurang populasi predator burung liar pemakan ulat.

Chairman ProFauna Indonesia Rosek Nursahid, menyatakan, populasi predator pemakan ulat seperti Burung Prenjak, Jalak dan Cinenen berkurang cukup signifikan hingga mencapai 80 persen dari populasi sebelumnya.

“Perburuan liar yang dilakukan secara besar-besaran sebagai komoditas perdagangan menjadikan populasi burung liar pemakan ulat ini menurun drastis, sehingga ulat-ulat tersebut bisa berkembangbiak dengan leluasa karena musuh utamanya sudah tidak ada,” tegasnya, Rabu (6/4).

Di wilayah Malang sendiri terutama di Kecamatan Pujon dan kawasan Malang selatan, katanya, populasi predator berupa burung liar pemakan ulat (serangga) tersebut juga sudah hampir hampir punah.

Menurut dia, jika proses perburuan burung pemakan serangga ini dilakukan secara besar-besaran dan terus menerus akan memicu terjadinya bencana ekologi. Akibatnya, akan terjadi ledakan populasi kupu-kupu dan ulat di luar kendali.

Oleh karena itu, tegasnya, kalau warga di wilayah Malang Raya ini tidak ingin terjadi wabah ulat di daerahnya, maka masyarakat harus menghentikan berburu burung pemakan serangga tersebut. Biarkan burung-burung tersebut hidup di alam bebas agar rantai ekosistem tetap berjalan normal.

Sebelumnya Kepala Laboratorium Hama, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Dr Ir Totok Himawan mengimbau agar masyarakat khususnya petani di wilayah Malang Raya dan sekitarnya tidak perlu khawatir akan serangan ulat bulu yang kini mewabah di Probolinggo.

Sampai sejauh ini ulat bulu hanya menyerang tanaman mangga saja dan tidak akan menyerang tanaman lain, seperti padi, sayur, bunga serta berbagai jenis buah lainnya.

Apalagi, lanjutnya, sekarang juga sudah dilakukan penyemprotan insektisida atau sejenis cairan “Lamda Sihalotrim” sampai beberapa kali, sehingga kondisinya sudah jauh berkurang.”Petani tidak perlu khawatir, karena kemungkinan meluas hingga ke wilayah Malang dan sekitarnya itu sangat kecil,” tegasnya.

Hujan yang terus menerus mengakibatkan musuh alami ulat bulu, yakni sejenis predator bernama “Braconid” dan “Apanteles” tidak mampu bertahan hidup. Sehingga, musuh alami itu tidak bisa mengontrol populasi ulat bulu yang semakin banyak, dan berkembangbiak dengan cepat, bahkan menyebar ke lingkungan penduduk.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Kota Malang Ninik Suryantini mengimbau agar masyarakat terutama petani lebih waspada.

“Untuk wilayah Kota Malang yang rentan terhadap perkembangbiakan ulat bulu adalah Kecamatan Lowokwaru, Kedungkandang, dan Sukun,” katanya menambahkan. (Ant/OL-12)

Sumber: kompas.com, 8 April 2011, http://cetak.kompas.com/read/2011/04/08/03254453/ulat.bulu.bikin.ngeri.dan.gatal

HAMA

Ulat Bulu Bikin Ngeri dan Gatal

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI
Inilah ulat bulu yang menyerang lima kecamatan di Kabupaten Probolinggo sejak Kamis (31/3). Ulat tersebut menjadi hama pengganggu baik untuk pohon mangga atau kesehatan kulit masyarakat setempat.

Ny Imam Hudoyo (68) merasa ngeri. Seumur hidupnya, ibu empat anak dan nenek delapan cucu, baru kali ini melihat ribuan ulat bulu berwarna coklat kehitaman yang bergerombol dan berjatuhan dari atas pohon asam yang berada di pinggiran jalan di Kompleks Perumahan Kaplingan, Jalan Hayam Wuruk, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Lebih ngeri lagi ulat bulu itu lalu bergerak merangsak masuk rumahnya, tempat penjemuran pakaian dan warung makan Dinar Kartika, miliknya. ”Baru kali ini saya melihat ribuan ulat bulu yang berjatuhan dan beterbangan dari pohon sampai menempel di dinding rumah dan jemuran pakaian, ”kata Ny Imam Hudoyo, Kamis (7/4).

Ribuan ulat bulu berwarna coklat kehitaman yang bersarang di pohon-pohon asam itu, awal mula diketahui setelah petugas PLN Jombang menebang pohon tersebut karena mengganggu jaringan kabel listrik, Senin (4/4). Beberapa warga mengaku, kalau tersenggol ulat bulu bisa menimbulkan gatal, panas, kulit memerah, dan bentol-bentol.

Jika ulat menempel di pakaian yang dijemur mau tidak mau harus dicuci ulang. Ini untuk mencegah gatal di sekujur tubuh. Bahkan, sampai sekarang pun bulu-bulu ulat yang terbawa angin dan menempel di kulit tubuh masih terasa gatal. ”Walaupun ulatnya sudah mati, tapi bulu-bulunya bisa terbang terbawa angin yang menyebabkan gatal,” kata Rika (41).

Ribuan ulat bulu berwarna coklat kehitaman yang hanya bersarang di pohon asam. Adapun pepohonan lain tidak ditempati.

Awalnya jutaan ulat bulu menyerbu wilayah Kabupaten Probolinggo yang berjarak sekitar 150 kilometer arah timur Jombang, akhir Maret lalu. Ulat berwarna warni menyerang 49 desa di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Tegalsiwalan, Bantaran, Leces, Sumberasih, Tongas, Dringu, dan Wonomerto.

Makhluk melata itu menyerang pohon mangga hingga dedaunnya meranggas. Dari sana, ulat itu masuk rumah, merambat sampai tempat tidur, piring makan, pakaian yang digantung.

Beberapa sekolah dasar sampai diliburkan untuk menghindari siswanya dari ulat bulu. Ada pula warga yang mengungsikan bayinya. Tak sedikit pula yang menderita mual karena tak tahan melihat jutaan ulat bulu saat jatuh dari pohon karena tertiup angin.

Yang paling diserang memang pohon mangga. Ratusan ribu pohon mangga menjadi meranggas sehingga musim panen mangga akan mundur dan produktivitas jadi turun karena kesuburan pohon membutuhkan asupan fotosintesis. Probolinggo merupakan sentra mangga terbesar di Jatim. Mangga dan produk olahan berbasis mangga seperti sirup, dan keripik diekspor.

Dari Probolinggo ulat bulu diduga juga terus bermigrasi ke wilayah tetangganya, Kabupaten Pasuruan, seperti yang terjadi di Desa Nguling, Kecamatan Nguling, dan beberapa desa di Kecamatan Winongan. Di Pasuruan penyebaran ulat bulu bisa dilokalisasi karena petugas Dinas Pertanian melakukan penyemprotan pestisida. Muhammad Ihwan, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan, mengatakan, tidak ada lagi perluasan serangan ulat bulu di Pasuruan. ”Bahkan ulat bulu yang ada sudah tertangani dan mulai banyak yang mati,” katanya.

”Ulat yang tersisa tinggal sedikit, mungkin hanya terlihat satu hingga lima ekor saja di batang pohon bagian bawah itu,” ujar Margono (65), warga RT 3 RW 12 Dusun Pandean, Desa Nguling.

Pohon mangga milik Margono itu sudah disemprot pestisida dan insektisida. ”Rupanya penyemprotan itu efektif, sehingga paling hanya tersisa sedikit ulat bulu,” katanya.

Kepala Laboratorium Hama Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, Totok Himawan, mengatakan, cuaca jadi faktor pendukung merebaknya ulat bulu hingga menjadi semacam hama.

”Yang utama menurut saya adalah karena pemangsa alami ulat bulu ini, seperti sejenis tawon, populasinya berkurang akibat terkena hujan hampir sepanjang tahun. Akibat berkurangnya populasi pemangsa alaminya, maka ulat bulu berkembang tanpa kontrol dan menjadi hama. Padahal sebelum-sebelumnya ulat bulu ini bukanlah hama pengganggu,” kata Toto.

Hama pengganggu

Sementara itu, pakar Entomologi (ilmu tentang serangga) Universitas Gadjah Mada, Suputa, menilai ledakan populasi ulat bulu di Probolinggo terjadi karena makin berkurangnya faktor pembatas dan naiknya temperatur udara. Meski demikian, kejadian ini bukanlah fenomena baru. ”Kasus serupa pernah terjadi di Thailand tahun 2003 lalu dengan sasaran yang sama, yaitu pohon mangga,” ujarnya.

Saat ini, banyak musuh alami ulat bulu yang hilang seperti burung dan lalat. Perburuan burung yang tak terkendali mengakibatkan berkurangnya populasi burung-burung pemangsa ulat. Faktor pembatas lain yaitu parasitoid berupa larva lalat yang tumbuh di dalam larva ulat bulu mati kerena pemanfaatan insektisida kimia yang berlebihan.

Dua spesies

Dari hasil penelitian diperkirakan, menetasnya telur ulat bulu di Probolinggo pada 17 Januari 2011. Larva ulat bulu mulai menyerang 1 Februari 2011 hingga pertengahan Maret 2011. Lalu, mulai 16 Maret 2011, larva memasuki fase kepompong. Setelah itu ulat bulu ini tidak berubah menjadi kupu-kupu, tapi ngengat yang merupakan jenis hewan nokturnal (beraktivitas pada malam hari). Kasus ini perlu dibasmi. (DIA/TIF/ABK)

Sumber: okezone.com, Kamis, 7 April 2011 10:00 wib, http://news.okezone.com/read/2011/04/07/338/443372/ratusan-ulat-bulu-di-jatiasih-disemprot-insektisida

Ratusan Ulat Bulu di Jatiasih Disemprot Insektisida

Foto: Tedi Suteja/Global TV

BEKASI – Petugas dari Dinas Ekonomi Rakyat terpaksa melakukan penyemprotan insektisida terhadap ratusan ulat bulu yang ada di TK Quantum yang terletak di Jatiasih, Kota Bekasi. Penyemprotan untuk mengantisipasi penyebaran ulat bulu ke rumah penduduk.

Berdasarkan pantauan penyemprotan dilakukan di ruang bermain dan ruang baca TK Quantum disamping semak belukar. Tidak hanya itu saja, sejumlah pohon juga ditebang dan kemudian dibakar oleh warga.

Salah satu petugas Dinas Ekonomi Rakyat Kota Bekasi, Toyib mengatakan penyemprotan untuk menghindari penyebaran ulat bulu yang meluas.

“Ulat bulu ini jenis grayak yaitu jenis ulat bulu yang suka makan tanaman kacang dan jika terkena akan menyebabkan gatal,”katanya, Kamis (7/4/2011).

Keberadaan ulat bulu ini lanjut Toyib disebebakan karena adanya penetasan kupu-kupu yang kemudian didukung adanya semak belukar dekat sekolah.

“Ulat bulu ini akibat penetasan kupu-kupu dan juga semak belukar yang tidak dirawat,”ungkapnya.

Sementara itu Wulan salah satu guru TK Quantum mengatakan sampai saat ini muridnya masih diliburkan untuk menghindari gatal-gatal.

“Agar tidak gatal, tadi juga karena ada penyemprotan jadi diliburkan dulu,”ujarnya.

(Tedi Suteja/Global/crl)

Sumber: okezone.com, Rabu, 6 April 2011 12:07 wib, http://news.okezone.com/read/2011/04/06/340/443006/waduh-ulat-bulu-di-kendal-menyebar-ke-3-kecamatan

Waduh… Ulat Bulu di Kendal Menyebar ke 3 Kecamatan

Nugroho Setyabudi – Okezone

Ulat yang menyerang Kecamatan Leces, Probolinggo, Jatim. (Dok: Sun TV)

KENDAL- Wabah ulat bulu seakan tidak terkontrol di sejumlah wilayah. Setelah di Probolinggo, Pasuruan, dan Jombang, kini ulat bulu yang menyerang warga Kendal meluas hingga ke tiga kecamatan.

Staf Dinas Kabupaten Kendal Sudoyo mengatakan jika sebelumnya hanya satu desa, kini ada sekira tiga desa di kecamatan yang berbeda.

“Desa Bugangin Kecamatan Kendal Kota, Desa Dempel Rejo Kecamatan Ngampel, dan Desa Blorok Kecamatan Brangsong,” kata Sudoyo di sela penyemprotan hama ulat bulu, Rabu (6/4/2011).

Di Desa Bugangin, ulat bulu yang menyerang Kantor Pemadam Kebakaran Kabupaten Kendal berjumlah ribuan.

“Ulat tersebut menyerang pohon angsana kali pertama ditemukan, lalu kepala dinas memerintahkan kami menebang pohon itu. Setelah ditebang ulat bulu kemudian seperti pindah ke pohon mangga dan sejumlah bangunan milik Dinas Pemadam Kebakaran,” ungkap Muhamad Hafid, anggota Pemadam Kebakaran saat ditemui terpisah.

Selain menebang pohon, petugas juga membakar pohon agar ulat mati. Namun hal ini kemudian dihentikan karena membahayakan.

Staf Dinas Pertanian Bagian Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman dan Pengamat Hama Penyakit, Jumhono membenarkan tentang keberadaan ulat bulu itu.

“Masa atau kondisi cuaca seperti ini sangat menguntungkan bagi serangga, karena mereka akan menghasilkan telur yang jumlahnya semakin banyak. Pada kasus ini kupu-kupu adalah penyebab banyaknya ulat bulu ini,” jelas Jumhono saat ditanya mengapa serangan ulat bulu begitu banyak terjadi belakangan ini.

Selain dibakar atau disemprot dengan pestisida dan insektisida, perkembang biakan ulat sebetulnya dapat diminalisir dengan cara alami.

“Kami serahkan saja kepada predator ulat yang akan dengan otomatis memakan ulat. Sayangnya kini banyak burung yang diburu oleh warga, jika ini diteruskan maka akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Burung pipit atau gereja merupakan burung predator pemakan ulat,” tambah Jumhono.

Diharap dengan penanggulangan secara dini ini, maka penyebaran akan dapat diminimalisir.
(kem)

Sumber: okezone.com, Selasa, 5 April 2011 21:02 wib, http://news.okezone.com/read/2011/04/05/340/442712/peneliti-ipb-ulat-bulu-di-probolinggo-jenis-baru

Ulat Bulu Serang Probolinggo

Peneliti IPB: Ulat Bulu di Probolinggo Jenis Baru

Ulat bulu memenuhi rumah di Desa Sumber Kedawung 4, Leces. (Dok: Sun TV)

PROBOLINGGO- Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) meneliti fenomena serangan ulat bulu di Probolinggo, Jawa Timur. Dari hasil analisa sementara, ulat bulu di Probolinggo merupakan jenis terbaru dan belum pernah ada sebelumnya di kabupaten itu.

Tim yang terdiri dari dua orang, Selasa siang tadi mengambil sampel kepompong dan kupu-kupu untuk diteliti di laboratorium IPB.

Sampel tersebut diambil di tiga lokasi yakni di Kecamatan Wonoasih, Bantaran, dan Leces.

Aunu Rauf, Guru Besar Ilmu Hama Tanaman IPB, menjelaskan berdasarkan pemeriksaan sampel sementara, diketahui jenis ulat bulu ini lymantria marginanta, bukan jenis desgiria inclusa.

Untuk kasus Probolinggo, kata Rauf, lymantria marginanta tidak pernah dijumpai sebelumnya.

Secara fisik, jenis lymantria marginanta lebih besar dan bulu di kepala menjorok ke atas sebanyak dua buah. Bulu dari ulat ini bagi yang alergi bisa menyebabkan gatal-gatal.

Ulat jenis ini menyerang pohon mangga dan mengakibatkan mangga tidak berbuah atau tertunda. Daun mangga gundul dan tidak bisa melakukan fotosintesis.

Penyebaran ulat karena kupu kupu yang terbang ke lokasi lain kemudian bertelur hingga mencapai ribuan jumlahnya. Karena satu induk kupu-kupu betina bisa bertelur hingga 300 butir, tergantung musim dan cuaca.

Diakuinya untuk saat ini sudah jarang ditemui ulat karena sudah memasuki fase kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu lagi.

Sehingga hama ulat di Probolinggo masih kemungkinan dijumpai hingga 3-4 bulan ke depan.

Cara pembasmian ulat ini dengan cara melakukan penyemprotan insekisida, namun bila penyemprotan berlebihan bisa mengakibatkan hewan pengendali ulat atau hymenoptera akan mati juga. Sehingga populasi ulat semakin tidak terkendali.

(Hana Purwadi/RCTI/ton)

Sumber: Republika – Kam, 7 Apr 2011 08.08 WIB, http://id.berita.yahoo.com/tikus-serbu-york-butuh-1-5-juta-dolar-20110406-180801-146.html

Tikus Serbu New York, Butuh 1,5 Juta Dolar Biaya Mengusirnya Deh..

REPUBLIKA.CO.ID,NEW YORK–Tentu saja tak seorang pun suka tikus, kata seorang pejabat kota pada Selasa (5/4), saat ia meminta 1,5 juta dolar AS disediakan pada anggaran untuk membantu menangani apa yang ia sebut masalah tikus yang mengerikan di Manhattan, Amerika Serikat.

Melihat hewan kecil perusak mengobrak-abrik jalan-jalan dan saluran terowongan bawah tanah adalah pemandangan yang tak menyenangkan buat wisatawan, kata Presiden Manhattan Borough Scott Stringer. “Mereka tak mau datang ke sini dan menikmati liburan bersama tikus New York City,” kata Stringer kepada Reuters.

Stringer, yang menuntut disediakannya uang untuk menangani tikus di dalam anggaran Departemen Kesehatan kota tersebut, mengatakan pengurangan dana memaksa pemutusan hubungan kerja dengan 57 pekerja Pest Control. Hasilnya adalah peningkatan 1,5 persen keluhan selama satu tahun belakangan dan kerugian terhadap daya tarik pariwisata New York City, katanya.

Itu juga jadi masalah keselamatan masyarakat. “Buat saya, ini tak bisa diterima baik sebab hewan pengerat sangat berbahaya bagi anak-anak dan kualitas hidup kota ini,” kata Stringer. Ia menyatakan pemotongan “tak masuk akal” sebab program pengendalian hama di kota itu mengumpulkan sebanyak 6 juta dolar AS dari denda setiap tahun dari para pemilik gedung karena pelanggaran kesehatan yang berkaitan dengan hama.

“Mengapa kalian membuat pemotongan dana buat program yang sesungguhnya menghasilkan uang buat kota ini?” kata Stringer. Jika pemotongan tak diubah dan kekuatan pengendali hama dibendung, maka masalah pengendalian tikus akan bertambah parah, katanya.

Namun wanita jurubicara Departemen Kesehatan kota tersebut Susan Craig mengatakan pemutusan hubungan kerja “tak memiliki dampak pada kestabilan lembaga itu untuk menanggapi keluhan mengenai tikus”.

Kota tersebut telah menyesuaikan diri dengan pemotongan anggaran dengan melakukan pengendalian hama secara lebih menyeluruh, yaitu pembersihan lingkungan hidup –yang berbeda dengan tanggapan keluhan perorangan, katanya.

“Pendekatan baru kami telah memungkinkan kami untuk jadi lebih baik dalam menemukan masalah tikus, lebih baik dalam memberi tahu pemilik gedung mengenai perkembangan biakan hama dan lebih baik dalam memperoleh properti yang saling berdekatan untuk menangani masalah tikus secara serentak,” katanya.

About these ads