Kekerasan sebagai Prilaku, Budaya, dan Politik

Kekerasan sebagai Prilaku, Budaya, dan Politik

Oleh: Sando Sasako
Lead Consultant di Advanced Advocacy Plus

Jakarta, 4 Juni 2010

Fenomena aksi kekerasan fisik dan bersenjata yang dilakukan oleh bangsa Yahudi terhadap penduduk Palestina ditengarai sebagai aksi balas dendam sejarah penzaliman mereka di masa lalu. Beberapa masa diantaranya meliputi era kekuasaan Firaun, Nebukadnezar dari bangsa Babilonia, Romawi, dan Nazi Jerman.

Yahudi di masa lalu pernah jaya ketika Daud berhasil membangun kerajaannya sendiri dan gemilang di tangan anaknya Sulaiman. Benteng kaum Yabus di bukit Zion yang berhasil ditaklukan Daud menjadi tempat suci dan daerah yang dikeramatkan. Yerusalem kemudian dibangun di puncak bukit Zion. Talmut yang menjadi kitab suci mereka ditengarai bertolakbelakang dengan inti ajaran Taurat yang dibawa Musa.

Zionisme mengagung-agungkan sentimen rasialisme Yahudi sebagai bangsa pilihan Tuhan. Fanatisme kebangsaan dan keagamaan Yahudi menghalalkan kekerasan demi tercapainya tujuan mereka. Fasisme Yahudi ditunjukkan dengan meyakini pandangan bahwa ras Yahudi seharusnya tidak hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain.

Ekstremitas Yahudi juga ditunjukkan dengan mengutamakan memberi makan kepada anjing ketimbang memberikan makanan kepada goyim, joyeem, atau umami (bangsa non-Yahudi). Dalam sejarahnya pula, bangsa Yahudi hanya mengakui anak-cucu Sarah sebagai keturunan Ibrahim. Mereka menolak keras anak-cucu Siti Hajar sebagai keturunan Ibrahim.

Sebagai bentuk nasionalisme sekuler yang berasal dari filsafat sekuler, dan bukan dari agama, Zionisme memanfaatkan agama untuk tujuannya sendiri. Paham ini dipropagandakan secara besar-besaran dan mendunia di Basle, Swiss, di tahun 1897 oleh Theodor Herzl (1860-1904), seorang wartawan Yahudi asal Austria.

Zionisme menjadi kendaraan politik Herzl dalam merebut Palestina. Kemampuannya dalam melobi para penguasa dunia tidak diragukan lagi. Sederetan orang-orang terkenal di dunia seperti Paus Roma, Kaisar Wilhelm Jerman, Ratu Victoria Inggris, dan Sultan Turki di Istambul telah ditaklukkannya

Inggris menawarkan Argentina, Uganda, atau Palestina sebagai wilayah untuk ditempati ras Yahudi. Palestina kemudian ditetapkan sebagai wilayah yang harus diduduki dan direbut ras Yahudi melalui berbagai macam cara seperti kemiskinan, teror, pertumpahan darah, dan kematian. Dalil-dalil yang diinterpretasikan adalah penyebutan pembenaran kekejaman, pembunuhan, dan perang dalam sejarah

Beberapa penegasan yang disebutkan dalam Protokol Zionisme meliputi:

  1. Bangsa Yahudi merupakan anak-anak Tuhan yang suci dan murni.
  2. Bangsa-bangsa non-Yahudi merupakan keturunan setan, dan diciptakan Tuhan sebagai budak untuk mengabdi kepada kaum Yahudi.
  3. Kaum Yahudi boleh mencuri dan merampas harta benda bangsa lain. Termasuk didalamnya menipu, berbohong, menganiaya, membunuh, dan memperkosa bangsa lain.
  4. Penyebaran faham-faham yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, seperti sekularisme kapitalisme, atheisme komunisme, agnostik sosialisme.
  5. Penyebaran pengaruh dan kekuasaan internasional kerajaan Yahudi Internasional di bidang valuta, pinjaman, dan bursa keuangan serta media massa.
  6. Penundukkan bangsa-bangsa non-Yahudi melalui penanggulangan bencana kemiskinan.
  7. Palestina dianggap sebagai “tanah air kaum Yahudi” dan “tanah yang dijanjikan Tuhan”.
  8. Palestina, sebelum berdirinya negara Israel, merupakan wilayah tanpa bangsa untuk bangsa yang tidak mempunyai tanah air. Kedua, bangsa Palestina yang menjadi korban dikesankan sebagai bangsa biadab yang jadi penjahat. Ketiga, tanah Palestina hanya bisa makmur setelah kaum Zionis beremigrasi ke sana.

Berbagai tujuan politik (atau kepentingan) yang tertera dalam Protokol Zionisme mengarah pada aplikasi prinsip fasisme yang rasialis dan mendiskriminasi. Prinsip yang dipegang teguh tersebut pada intinya membenarkan adagium, all is fair in (love and) war. Suatu prinsip yang menghalalkan segala cara ala Machiavell demi melanggengkan kekuasaan.

Sebab Konflik

Pada dasarnya setiap manusia memiliki kesamaan yang sifatnya umum dan perbedaan yang sifatnya sangat khusus dan lebih spesifik atau unik. Kesamaan yang umum tidak terbatas secara fisik, fungsi, prilaku, sikap, sifat, dan lainnya. Perbedaan yang khusus terlihat pada setiap ciri manusia A tidak bisa sama dengan ciri manusia B, dan seterusnya.

Perbedaan di setiap diri manusia mewujud karena adanya perbedaan fisik yang melekat dan sifatnya internal di diri setiap orang seperti pada struktur kimia (darah), genetik, kejiwaan, atau lainnya. Faktor eksternal yang utama adalah lingkungan fisik dan lingkungan sosial, baik yang tampak maupun tidak tampak.

Idealnya, pluralisme yang ada seharusnya tidak menciptakan polarisasi perbedaan. Polarisasi perbedaan seharusnya dijadikan acuan yang bisa menyatukan segala perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada hendaknya tidak dipertajam yang bisa memperuncing dan menimbulkan friksi yang tidak perlu.

Berbagai gesekan yang ada, baik di tingkat individu maupun di tingkat masyarakat, biasanya terjadi karena adanya benturan (konflik) kepentingan, khususnya dalam upaya individu dan/ atau kelompok dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Kepentingan setiap individu bisa bersifat fisik (biologis) atau non-fisik (sosial, psikologis). Perbedaan fisik dan non-fisik dalam perkembangan setiap individu bermuara pada perbedaan persepsi dan ekspektasi serta upaya pemenuhan kebutuhannya.

Maslow mengklasifikasikan kebutuhan manusia atas kebutuhan dasar dan kebutuhan kognitif (ekspresi, rasa, dan estetika). Lima kebutuhan dasar manusia meliputi:

  1. Kebutuhan fisiologis dasar:  gaji, makanan, pakaian, perumahan.
  2. Kebutuhan akan rasa aman: lingkungan kerja yang bebas dari segala bentuk ancaman.
  3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi: kesempatan yang diberikan untuk menjalin hubungan yang akrab dengan orang lain.
  4. Kebutuhan untuk dihargai: pemberian penghargaan, mengakui hasil karya individu.
  5. Kebutuhan aktualisasi diri: kesempatan dan kebebasan untuk merealisasikan cita-cita atau harapan individu.

Keyakinan individu sebagai bentuk lain dari persepsi dan ekspektasi merupakan resultante daripada perkembangan sosio-kultural dan situasional serta pengalaman hidupnya. Keyakinan individu bisa berbentuk prasangka pada mulanya yang kemudian melahirkan praktek-praktek diskriminasi. Sisi lain daripada keyakinan individu berupa etnosentrisme, yakni chauvinisme terhadap satu suku tertentu.

Perbaikan keyakinan ke arah sikap terbuka dan berlapang dada bisa berjalan dengan baik ketika setiap individu bisa membuka cakrawala berpikir melalui pendidikan, adanya perbaikan kondisi sosial-ekonomi di tingkat masyarakat bawah, serta pengajaran untuk bisa bersikap terbuka dan berlapang-dada ketika ada konflik.

Tahapan awal konflik berbentuk disorganisasi, yang bila tidak diselesaikan dengan baik akan menimbulkan disintegrasi. Tahapan disintegrasi dinyatakan dalam bentuk emosi massa yang meluap dan meluas serta menimbulkan konflik sosial yang meruncing dalam bentuk aksi protes, aksi mogok, pemberontakan, dan lainnya.

Solusi Konflik

Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengan adanya pertentangan, misalnya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi pada lingkungan yang paling kecil, yakni individu, berkembang ke taraf kelompok, dan sampai pada lingkup yang luas, yakni masyarakat.

  1. Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk kepada adanya pertentangan, ketidakpastian, atau berbagai emosi dan dorongan yang antagonistik di dalam diri seseorang.
  2. Pada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari berbagai konflik yang terjadi di dalam diri individu, dari perbedaan pada para anggota kelompok dalam berbagai tujuan, nilai, norma, minat, dan motivasi menjadi anggota kelompok.
  3. Pada taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan di antara berbagai nilai dan norma kelompok dengan berbagai nilai dan norma kelompok yang bersangkutan. Berbagai perbedaan dalam tujuan, nilai, norma, dan minat disebabkan adanya perbedaan pengalaman hidup dan sumber-sumber sosio-ekonomis di dalam suatu kebudayaan tertentu dengan yang ada di dalam kebudayaan-kebudayaan lain.

Berbagai ahli berpendapat bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dicegah timbulnya. Konflik berpotensi mempunyai kegunaan positif yang fungsional dan konstruktif. Di sisi lain, konflik juga berpotensi mempunyai kegunaan negatif yang disfungsional dan destruktif.

Upaya untuk memecahkan konflik selalu timbul selama adanya kehidupan suatu kelompok. Sifat dan intensitas konflik berbeda menurut tahap perkembangan kelompok. Pemecahan konflik bisa terjadi ketika kelompok telah berkembang mencapai suatu titik di mana terdapat kesepakatan yang mendasar dalam kelompok terjadi dengan pasti.

Enam cara generik dalam upaya mengatasi konflik, antara lain:

  1. Elimination, pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik, yang diungkapkan dengan:
    1. Kami mengalah.
    2. Kami mendongkol.
    3. Kami ke luar.
    4. Kami membentuk kelompok kami sendiri.
  2. Subjugation atau domination, pihak yang memiliki kekuatan terbesar dapat memaksa pihak lain untuk mentaatinya. Cara ini bukanlah solusi yang memuaskan bagi pihak-pihak yang terlibat.
  3. Majority rule, suara terbanyak ditentukan melalui voting, guna menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi. Pada hakikatnya, majority merupakan salah satu bentuk dari subjugation.
  4. Minority consent, kelompok mayoritas yang menang, tetapi kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan bisa menerima keputusan serta sepakat untuk melakukan kegiatan bersama.
  5. Compromise, kedua atau semua sub-kelompok yang terlibat di dalam konflik, berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah (half way).
  6. Integration, berbagai pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan, dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak. Integrasi merupakan cara pemecahan konflik yang paling matang.

Kegagalan menyelesaikan konflik

Kekerasan merupakan perwujudan kegagalan pihak-pihak yang bersengketa dalam upaya damai menyelesaikan konflik. Kekerasan yang ada di masyarakat bisa berbentuk verbal atau fisik.

Ketika akal dan budaya serta hari nurani terpinggirkan dalam penyelesaian konflik secara damai, dalam sudut pandang keilmuan psikoanalisis, pihak-pihak yang bersengketa kembali ke kiprah dan kodrat alaminya serta instingnya sebagai binatang. Binatang tidak memiliki akal, budaya, dan hati nurani. Binatang hanya peduli pada pemuasan hasrat dan kebutuhan fisiknya belaka.

Penentuan sikap kekerasan fisik (dan verbal) yang agresif dan berdasarkan insting, menurut Freud, merefleksikan naluri untuk mengurangi ketegangan, rangsangan, dan gairah demi terciptanya keadaan damai dan ketenangan serta hilangnya semua keinginan. Ekspresi prilaku demikian dinilai Lorenz bersifat destruktif bagi pihak-pihak yang menjadi lawan.

Kekerasan fisik bisa berlangsung atau frontal, bisa pula tidak langsung atau struktural yang bersifat laten. Menurut Galtung, kekerasan langsung bisa diakhiri dengan mengubah prilaku. Kekerasan struktural bisa diakhiri dengan menghilangkan kontradiksi. Kekerasan verbal atau budaya bisa diakhiri dengan mengubah sikap.

Pemicu Prilaku Manusia

Menurut Myers, prilaku manusia merupakan ekspresi sikap sang manusianya. Ekspresi sikap manusia bisa bersifat rasional dan juga emosional. Manusia menjadi bersifat rasional ketika sang manusia berfikir. Manusia menjadi bersifat emosional ketika sang manusia merasa. Manusia berfikir berdasarkan persepsi. Manusia merasa berdasarkan sensasi. Persepsi dan sensasi merupakan pemicu eksternal manusia berprilaku. Motivasi merupakan pemicu internal bagi manusia dalam berprilaku.

Trigger (pemicu) banyak diasosiasikan dengan alat, sebab, atau aksi yang menimbulkan reaksi atau akibat seperti menjadi aktifnya suatu mekanisme. Serangkaian sebab atau faktor tersebut berpotensi menjadi pemicu suatu peristiwa. Dalam bahasa pemrograman komputer, serangkaian sebab tersebut didefinisikan sebagai database trigger yang penuh dengan procedural code.

Dalam konteks kemanusiaan, reaksi mewujud dalam prilaku manusianya. Menurut Senjaya, prilaku manusia dalam kesehariannya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika.

Berbagai faktor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung merefleksikan berbagai pendekatan dan/atau perspektif keilmuan dalam membahas prilaku manusia. Beberapa disiplin ilmu yang mempelajari prilaku manusia meliputi ilmu psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, dan kedokteran.

Dalam konteks manusia yang bersifat sebagai makhluk sosial, prilaku seseorang dalam masyarakat dikelompokkan ke dalam prilaku wajar, prilaku dapat diterima, prilaku aneh, dan prilaku menyimpang. Prilaku demikian merupakan prilaku yang tampak dan bisa diobservasi oleh orang lain.

Di tingkat individu, prilaku yang tidak tampak merupakan kejadian atau hal pribadi yang hanya bisa dirasakan oleh individu itu sendiri atau individu lain yang terlibat dalam perilaku tersebut.

Sebagai hal yang bisa diobservasi, dapat dijelaskan, dan direkam oleh orang lain atau orang yang terlibat, prilaku tersebut memiliki dimensi yang bisa diukur seperti frekuensi, durasi, dan intensitas. Sebagai suatu variabel yang bisa diukur, Lewin kemudian mendefinisikan prilaku sebagai fungsi dari karakteristik individu dan lingkungannya.

Berbagai indikator Lewin dari ketiga variabel tersebut saling terkait satu sama lain. Termasuk kedalam karakteristik individu adalah yang bersifat genetik yang mengejawantah dalam sikap dan kontrol individu terhadap indikator lingkungan seperti berbagai norma sosial yang ada dan berlaku.

Secara individual, menurut Rivai, prilaku seseorang tergantung kebutuhan, kemampuannya, pengharapan, dan lingkungannya. Sementara menurut Senjaya, prilaku seseorang tergantung kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk menentukan pilihan prilaku, pengalaman, dan reaksi afektifnya.

Termasuk kedalam reaksi afektif meliputi berbagai aspek emosional seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral, dan sebagainya. Tahapan reaksi afektif meliputi penerimaan, respon, penilaian, pengorganisasian menjadi suatu sistem nilai atau keyakinan, dan karakterisasi terhadap nilai-nilai yang diyakininya.

Guna memahami berbagai prilaku manusia, beberapa pendekatan yang sering digunakan adalah pendekatan kognitif, reinforcement, dan psikoanalitis. Beberapa aspek dalam ketiga pendekatan tersebut meliputi penekanannya, penyebab timbulnya prilaku (kausalitas), prosesnya, kepentingan masa lalu yang menentukan prilaku, tingkat kesadaran, dan data yang dipergunakan.

Intervensi Memodifikasi Prilaku

Studi prilaku manusia dikelompokkan menurut kerangka berfikir tertentu (taksonomi). Taksonomi prilaku manusia menjadi penting dalam rangka terciptanya perubahan (modifikasi) pada prilaku manusia yang menjalani proses ‘pendidikan’. Bidang yang menjadi acuan pendidikan yang diharapkan bisa merubah sikap dan prilaku manusia, menurut Bloom, terbagi atas komponen sosio-psikologis yang meliputi kognitif, afektif, dan konatif.

Sifatnya yang terukur membuat modifikasi prilaku manusia menjadi suatu keniscayaan. Para penganut ajaran (behaviouralism) ini meyakini bahwa prilaku manusia juga dapat dilukiskan dan diramalkan. Sebagai produk dari lingkungannya, manusia menjadi makhluk mesin (homo mechanicus) yang bisa diprediksi.

Serangkaian prinsip, prosedur, tahapan, kondisi prasyarat dan persyaratan kemudian ditentukan. Termasuk didalamnya identifikasi kejadian saat ini dan berbagai perubahan yang spesifik pada kejadian terhadap dan di lingkungan serta kejadian di masa lalu yang menjadi faktor penyebab prilaku.

Dalam proses memodifikasi prilaku, dua hal yang perlu dikondisikan adalah respondennya (Pavlovian conditioning) dan operant-nya (Skinner conditioning). Operant conditioning yang berisi stimulus bagi adanya perubahan prilaku, dinilai lebih interaktif dan manusiawi ketimbang prinsip stick and carrot yang bersifat menghukum dan tidak manusiawi.

Subjek dan objek modifikasi prilaku biasanya dalam setting kelembagaan seperti individu yang mengalami sakit mental atau cacat fisik akibat kecelakaan, trauma, atau perang. Prilaku yang diharapkan berubah bisa meliputi ketrampilan kerja dan kebiasaan rutinitas harian, kontrol diri, prilaku sosial, pemenuhan treatment, prilaku agresif, dan/atau prilaku psychotic. Setting kelembagaan lainnya meliputi proses belajar-mengajar di dalam kelas.

Di tingkat komunitas sosial, modifikasi prilaku dilakukan melalui mekanisme suasi moral. Di tingkat komunitas layanan bisnis dan sosial, modifikasi prilaku dilakukan dengan harapan dan tujuan terciptanya proses kerja dengan efisiensi, efektivitas, produktivitas, dan kepuasan kerja yang lebih baik.

Di tingkat tabula rasa, anak kecil, modifikasi prilaku dilakukan dalam rangka membantu anak berprilaku sehat secara fisik dan rohani, mengatasi masalah ngompol (buang air waktu tidur), sifat mudah marah, prilaku agresif, tatakrama yang jelek, dan masalah personal lainnya. Termasuk didalamnya pendidikan pencegahan kecelakaan di rumah, kekerasan dan penolakan/pengabaiaan anak, penculikan anak, kekerasan seksual pada anak, dan penyakit seksual yang menular.

Ajaran Modifikasi Alami Prilaku

Pada mulanya, manusia bayi dilahirkan seperti secarik kertas putih kosong (blank slate). Dalam perkembangannya, seluruh sikap, prilaku, kepribadian, dan temperamen ditentukan berdasarkan pengalaman indrawinya (sensory experience). Menurut ajaran empirisme, berbagai macam pikiran dan perasaan yang ada dalam manusia dewasa merupakan hasil atau akibat dari prilaku di masa lalu, tetapi bukan penyebab prilaku saat ini.

Menurut Freud, prilaku manusia merupakan hasil sintesa tiga subsistem dalam kepribadian manusia, yakni identitas, ego, dan super-ego. Secara singkat bisa dikatakan bahwa psikoanalisis prilaku manusia merupakan hasil interaksi antara komponen biologis (identitas), psikologis (ego), dan sosial (super-ego); atau unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).

Identitas manusia merupakan naluri alami yang bisa bersifat konstruktif atau destruktif. Ego manusia menjembatani kebutuhan alami manusia (animal instinct) dengan tuntutan yang rasional dan realistis. Super-ego manusia merupakan hati nurani manusia sebagai hasil perwujudan dan internalisasi berbagai norma sosial dan budaya. Super-ego bisa memaksa ego sampai ke alam bawah sadar.

Naluri binatang di diri manusia merefleksikan hasrat pemenuhan kebutuhan fisik yang paling dasar dari manusia, yakni mencari kesenangan dan menghindari penderitaan (hedonisme). Di tingkat sosial, seluruh prilaku manusia harus tunduk pada aturan sosial yang berlaku dan tunduk pada prinsip dan mekanisme reward dan punishment (ajaran utilitarianisme).

Behaviouralisme merupakan gabungan dari ketiga ajaran hedonisme, empirisme, dan utilitarianisme. Penganut ajaran behaviouralisme ini beranggapan bahwa manusia dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis; prilaku digerakkan oleh upaya pemenuhan kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan; dan prilaku merupakan hasil pengalaman.

Dalam perkembangannya, psikologi humanistik (revolusi ketiga) mementahkan berbagai argumen dalam ajaran psikoanalisis (revolusi pertama) dan behaviouralisme (revolusi kedua). Revolusi ketiga di bidang ilmu psikologi ini berangkat dari konsep fenomenologi dan eksistensialisme.

Fenomenologi memandang manusia hidup dalam ‘dunia kehidupan’ yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Menurut Schutz, pengalaman subyektif dikomunikasikan oleh faktor sosial dalam proses inter-subyektivitas. Inter-subyektivitas diungkapkan pada eksistensialisme dalam hubungan dengan orang lain (I-thou Relationship). I-thou Relationship menunjukkan hubungan pribadi dengan pribadi, bukan pribadi dengan benda; subjek dengan subjek, bukan subjek dengan objek. Sedangkan eksistensialisme menekankan pentingnya kewajiban individu pada sesama manusia.

Beberapa asumsi psikologi humanistik menurut Frankl meliputi pengakuan keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya. Beberapa analogi yang disusun Rogers meliputi hal-hal berikut:

  1. Setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi dimana dia – sang Aku, Ku, atau Diriku (the I, me, or myself) – menjadi pusat.
  2. Manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri.
  3. Individu bereaksi pada situasi sesuai dengan persepsi tentang dirinya dan dunianya.
  4. Anggapan adanya ancaman terhadap diri akan diikuti oleh pertahanan diri.
  5. Kecenderungan batiniah manusia adalah menuju kesehatan dan keutuhan diri.
About these ads