Politik Perang Kekaisaran Romawi

Politik Perang Kekaisaran Romawi Mengharamkan Perang Gerilya

dengan menyebut lawannya bangsa barbar

oleh: Sando Sasako
Lead Consultant
Advanced Advocacy Plus

Jakarta, 5 September 2010, 11.05

Tulisan ini bertujuan memberikan makna susahnya membuat dan menjaga kebesaran, kejayaan, kekuasaan seseorang, suatu bangsa, atau suatu negara. Puncak kejayaan mereka merupakan awal kehancuran mereka. Kegagalan merealisasi satu ambisi besar, meraih satu angan yang tinggi, membuat mereka hancur dari dalam, secara fisik, psikis, maupun secara sosial. Kegagalan memberdayakan dan membina regenerasi kepemimpinan yang berdedikasi dan segala atributnya yang ‘benar’ pun, dipastikan bisa menghancurkan seseorang tersebut, secara pribadi berupa kematian secara fisik atau secara sosial. Hal ini juga berlaku untuk tingkat masyarakat, bangsa, dan negara.

Individualisasi yang semakin tinggi dan sangat memuja ajaran neo-liberalisme membuat ‘perang terbuka’ menjadi suatu hal yang tabu. Hukum melarangnya. Cara yang lazim dilakukan adalah dengan berpolitik, menempuh jalan hukum, melakukan spionase, sabotase, dan lainnya. Intrik politik dan intrik bisnis menjadi keniscayaan lawan sesungguhnya dalam hidup keseharian masing-masing orang, masyarakat, bangsa, dan negara. Banyak pihak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. The ends justifies the means. Chivalry is dead. Then, there is no justice, but mercy, with some ‘price’ to have been paid off. You can keep up with some minimum requirements, otherwise, you go solo and keep one thing in mind, ablsolute termination of your sole competitor, rival, enemy.

Setiap upaya penaklukan wilayah secara fisik akan berhadapan dengan kekuatan fisik. Perang terbuka yang bersifat frontal akan berlaku ketika setiap pihak yang bersengketa (the belligerents) memiliki beberapa kesamaan umum, seperti kekuatan militer, visi, misi, dan segala macam tujuan perang yang menjadi kebiasaan dan di’legal’kan secara internasional menurut apa yang mereka ketahui dan pahami. Bila tidak, mereka akan beranggapan bahwa pihak lawan barbar, biadab, tidak beradab, tidak jantan, dan lainnya.

Hal ini berbeda di pihak lawan. Lawan beranggapan kami tidak punya sumber daya yang memadai untuk melakukan perang secara terbuka, kecuali perang secara tertutup alias gerilya. Dengan kata lain, mereka berpendapat kami berperang dengan upaya seefisien mungkin dan se’ekonomis’ mungkin, demi hasil (berupa) korban dan pampasan perang sebanyak mungkin. Kekaisaran Romawi dengan Legiun IX-nya yang sangat terkenal digjaya dan segala atribut kehebatan lainnya harus punah dari muka bumi ketika disergap bangsa Skotlandia. Amerika harus kalah memalukan di Vietnam. Soviet harus kalah memalukan di Afghanistan (Vietnamnya Soviet). Amerika dan Sekutunya harus kalah di Irak dan Afghanistan.

Attila harus mundur dari rencana menyerang Roma, pusat Kekaisan Romawi Barat, karena ketiadaan ransum perang dan bencana kelaparan dan lainnya di Italia. Tidak lama kemudian, Attila mati pada usia 47, setelah berpesta minuman merayakan perkawinan terakhirnya. Marcian, Kaisar Romawi Timur (450-457) ditengarai berada di belakang kematian Attila. Sebelumnya, Kekaisaran Romawi Timur harus berdamai dengan bangsa Han yang dipimpin Attila. Kekuasaan Attila (434-453) terbentang dari Jerman sampai sungai Ural, dan dari sungai Danube sampai Laut Baltik.

Sungai Ural terpanjang ketiga ini di Eropa (2.428 km) merupakan pembatas Asia dan Eropa dan mengalir dari selatan Pegunungan Ural di Rusia ke Kazakhstan dan berakhir di Laut Kaspia. Sungai Danube merupakan sungai terpanjang kedua di Eropa (2.850 km) dan mengalir dari Black Forest di Jerman ke Laut Hitam melalui Delta Danube di Romania dan Ukraina. Sungai Danube merupakan pembatas tradisional Kekaisaran Romawi.

Kematian Attila setelah berpesta minuman tidak berbeda jauh dengan kematian Alexander the Great. Alexander mati pada usia 32 tahun akibat ‘racun’ (calicheamicin) saat berpesta minuman dengan Laksamana Nearchus dan pemilik rumah, Medius of Larissa di bulan Juni 323 SM. Sebelumnya, Alexander banyak mengeksekusi tentaranya yang desersi dan memberontak saat ingin menginvasi India. Coenus, jenderal terbaik di bidang infantri, taktik, intelijen perang, dan pemberani, bahkan meminta Alexander untuk menarik rencananya. Nearchus mengantar Alexander pulang melalui Teluk Persia.

Kebesaran Romawi

Romawi. Ketika kata itu tersebut, pikiran kita sebagai orang Indonesia akan terasosiasi pada tentara, kerajaan, nama desa di semenanjung Italia yang berubah menjadi imperium, pemerintahan atau ketatanegaraan, angka, huruf dan bahasa (Latin), hukum, seni, budaya, filosofi, agama, mitologi, kalender, arsitektur, teknologi, lentera badai. Bahasa latin masih digunakan sebagai bahasa obat, hukum, diplomasi (traktat), intelektual, dan pendidikan tinggi. Misa dalam bahasa Latin masih digunakan sampai tahun 1969. Semasa kejayaan Kekaisaran Romawi Kuno, latinisasi membuatnya sebagai lingua franca di banyak negara, khususnya di barat Eropa. Pada masa kejayaan Kekaisaran Romawi Timur, hellenisasi membuat bahasa Yunani menjadi lingua franca di timur Eropa. Pada masa kejayaan Islam, angka Romawi digantikan angka Arab.

Kerajaan Romawi sendiri terbagi atas 3 periode, yakni Kerajaan Romawi Kuno (Ancient Rome, Kerajaan Romawi Barat, 21 April 753 SM sampai tahun 476 Masehi), Kerajaan Bizantium (Byzantine, Kerajaan Romawi Timur, 395-1453), dan Kerajaan Roma Suci (Holy Roman Empire, 900-1806).

Pada mulanya Kerajaan Romawi merupakan negara kerajaan yang mendaulatkan raja (teokrasi) selama periode 753-509 SM. Bentuk pemerintahan berubah menjadi republik selama periode 509-44 SM. Transformasi bentuk negara Romawi menjadi negara otokrasi dimulai ketika Julius Caesar ditunjuk menjadi diktator seumur hidup di tahun 44 SM. Kekaisaran (imperium) Romawi dimulai ketika Octavianus diberi gelar Horrific Augustus per 4 Januari 27 SM.

Kekaisaran Romawi mulai mengalami perpecahan ketika Diolectian membagi wilayah kekuasaannya menjadi 4, Tetrarchy, rule of four, rulership by four. Desentralisasi kekuasaan terbagi atas Nicomedia, Mediolanum, Antioch, dan Trier. Birokratisasi, penguatan militer, perluasan wilayah kekuasaan, dan proyek-proyek konstruksi bersumber dari reformasi perpajakan yang berstandar kekaisaran, adil (equitable), dan retribusi yang tinggi. Diolectian merupakan Kaisar Romawi yang berkuasa semasa 284-305 dengan nama panjang Gaius Aurelius Valerius Diocletianus (c. 22 Des. 244 – 3 Des. 311). Diolectian juga dinobatkan sebagai kaisar pertama yang mau turun tahta dengan sukarela dan mangkat secara alami.

Tetrarki hanya berjalan semasa Diolectian berkuasa. Begitu Diolectian lengser, Kekaisaran Romawi mengalami perang saudara. Perang saudara berakhir ketika Christian Constantine berhasil mengalahkan Licinius di tahun 324. Warisan Diolectian yang lain adalah transformasi ritual atau seremonial di pengadilan yang menjadi lebih mewah. Koin perak yang stabil dinyatakan tidak berlaku, kecuali emas solidus. Di masa Constantine, agama kristen mulai ditoleransi, disukai, dan akhirnya menjadi agama resmi. Reformasi administrasi dan sistem perpajakan Diolectian juga berakhir dengan modifikasi. Reformasi ini kembali dilakukan seiring kebangkitan Kaum Muslim di tahun 630-an.

Perpecahan terakhir Kekaisaran Romawi terjadi tidak lama setelah kematian Theodosius I di tahun 395, yakni berupa terbelahnya kekuasaan Kekaisaran Romawi atas wilayah barat dan timur. Arcadius berkuasa di timur dan Honorius berkuasa di barat. Di Afrika, Romawi berkuasa di pantai utara Afrika, mulai dari Maroko sampai Mesir. Di Asia, Romawi berkuasa di wilayah yang sekarang bernama Yordania, Syiria, dan Turki. Di Eropa, Romawi berkuasa dari Romania di Timur ke Italia, sampai Spanyol dan Portugis; di Utara, dari Perancis ke Belanda, sampai Inggris selatan, tidak termasuk wilayah Skotlandia.

Prefecture (provinsi) Gaul dan Italy ada di Kekaisaran Romawi Barat; dan prefektur Timur dan Illyricum ada di Kekaisaran Romawi Timur. Provinsi Gaul terbagi atas 3 diocese (administrasi, setingkat kabupaten), yakni kabupaten Gaul, Spanyol, dan Inggris. Kabupaten Gaul mencakup Perancis di selatan sampai ke Belanda di utara. Provinsi Italy terbagi atas 3 kabupaten, yakni kabupaten Italy, kota Roma, dan Afrika (dari Maroko di barat sampai Libya bagian barat di timur). Illyricum, yang terdiri dari kabupaten Macedonia dan Dacia, merupakan nama lain dari semenanjung Balkan, mulai dari Yunani di selatan sampai Yugoslavia bagian timur di utara. Provinsi Timur terdiri dari kabupaten Timur (bagian utara jazirah Arab), Mesir (termasuk sebagian Libya bagian timur), Terace (Bulgaria), Asia dan Pontus (Turki).

Kekaisaran Romawi Barat, 395-476

Kekaisaran Romawi Barat tidak berlangsung lama dan runtuh menyusul dilengserkannya Romulus Augustus oleh Odoacer per 4 September 476. Odoacer adalah Jenderal keturunan Jerman yang menjadi Raja Italy. Keberadaannya menandakan sebagai akhir Kekaisaran Romawi klasik di Eropa Barat dan sebagai awal Abad Pertengahan. Penduduk yang jarang serta kurangnya pembangunan ekonomi (less urbanised) merupakan salah satu faktor penyebabnya. Secara militer, kekuasaan Kekaisaran Romawi terpecah dan dipercayakan kepada unit-unit foederati. Foederati diartikan sebagai orang, sekutu, tentara cadangan yang siap bertempur ketika diperlukan. Suku-suku Jerman merupakan lawan tangguh Romawi di barat. Parthia merupakan lawan tangguh Romawi di timur.

Kekaisaran Romawi Timur mencoba menyatukan kembali wilayah Kekaisaran Romawi Barat sampai awal abad pertengahan (mulai dari Late Antiquity, selama abad ke-2 dan ke-8, antara Classical Antiquity sampai Abad Pertengahan, krisis abad ke-3 Kekaisaran Romawi sampai reorganisasi Kekaisaran Romawi Timur dipimpin Heraclius dan keyayaan Islam pada pertengahan abad ke-7). Upaya tersukses dilakukan Belisarius dan Narses dibawah Justinian I, Kaisar Romawi Timur 533-554. Wilayah yang dimaksud meliputi Carthage di Afrika Utara, semenanjung Iberia, dan Italia. Suku Lombard, Jerman, berhasil merebut Italia tahun 568, 3 tahun setelah kematian Justinian.

Kekaisaran Romawi Timur, 395-1453

Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium (Byzantine) bertahan cukup lama dan berakhir dengan kematian Constantine XI dan jatuhnya Konstantinopel (Istanbul) di tahun 1453 ke tangan Kerajaan Turki Ottoman dibawah kepemimpinan Mahmud II. Ekonomi dan budaya yang sudah maju ditengarai sebagai faktor utamanya. Hal ini membuat Konstantinopel merupakan kota terbesar dan terkaya di Eropa sepanjang Abad Pertengahan. Secara militer dan pertahanan, ada semacam pemberian upeti kepada penjajah dan tentara bayaran dari luar seperti bangsa Avar, Arab, Rus, Bulgar, dan lainnya. Khusus untuk bangsa Han suruhan Attila, subsidi yang diberikan Theodosius II berjumlah 300 kg emas. Kebijakan lainnya berupa favoritisme kepada pedagang yang berhubungan dengan bangsa Han dan bangsa asing lainnya.

Secara fisik, kebijakan Theodosius II yang lain adalah membentengi tembok Konstantinopel (the walls of Constantinople) dan memanjangkannya 1,5 km ke barat, yang akhirnya berhasil dijebol pada tahun 1204. Per 29 Mei 1453, Kerajaan Ottoman Turki berhasil merobohkan benteng dua tembok dengan bantuan meriam. Walau tetap dipertahankan semasa Ottoman berkuasa, keberadaannya mulai dihilangkan di abad ke-19 menyusul perkembangan kota yang semakin pesat. Tembok Konstantinopel sepanjang 2,8 km dibangun tidak lama setelah Constantine the Great (r. 306-337) memindahkan ibukota Kekaisaran Romawi ke Bizantium dengan nama Constantinopolis (Kota Constantine). Constantinopolis diresmikan per 11 Mei 330 setelah dibangun selama 6 tahun dengan kesan yang jauh berbeda dengan Roma lama.

Marcus Antonius, Penguasa Provinsi Timur, 43-33 SM

Wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur sebelumnya berada di bawah kekuasaan Marcus Antonius. Provinsi Timur mencakup wilayah Achaea, Macedonia, dan Epirus (Yunani dan Macedonia), Bithynia, Pontus, dan Asia (Turki), Syria, Cyprus, dan Cyrenaica. Antonius merupakan jenderal, administrator, pendukung utama, teman setia, dan memiliki ikatan darah dengan Julius Caesar (Gaius Julius Caesar). Pembunuhan Caesar oleh persekutuan Marcus Junius Brutus dan Gaius Cassius memaksa Antonius membentuk aliansi politik resmi dengan Octavian (Augustus) dan Marcus Aemilius Lepidus dengan nama the Second Triumvirate per 26 November 43 SM. Setelah berhasil mengalahkan Brutus dan Cassius yang didukung Kekaisaran Parthian di Perang Philippi di bulan Oktober 42 SM, Triumvirat II diubah: Octavian ke Roma, Antonius di timur, dan Lepidus di Hispania dan Afrika.

Pemberlakuan Triumvirat II dalam bentuk Lex Titia menandakan akhir periode Republik Romawi. Triumvirat II bertahan untuk 2 periode 5 tahun, yakni selama 43-33 SM. Sebagai institusi yang disahkan hukum, Triumvirat II berkuasa atas negara Romawi, memberikan sanksi hukum, kekaisaran yang lebih tinggi (imperium maius) dari seluruh magistrates, termasuk konsul. Seperti halnya Triumvirat I, Triumvirat II hancur karena intrik politik dari dalam. Lepidus menggantikan Caaesar sebagai Pontifex Maximus di tahun 43 SM. Walau Lepidus pro-Antonius, keberadaannya lebih dekat dengan Octavian, Lepidus malah dikebiri Octavian dengan melarangnya mengendalikan legiun Octavian yang menang saat melawan Pompeius (anak Gnaeus Pompeius Magnus) dan mengeluarkannya dari Triumvirat II, dan membolehkannya menguasai Pontificate. Lepidus malah dilengserkan dari Triumvirat II dengan alasan politis yang dibuat-buat.

Antonius sendiri lebih suka menetap di timur bersama Cleopatra (Cleopatra II of Egypt), ketimbang di Roma bersama Octavia, istrinya yang merupakan adik Octavian. Alasan utamanya adalah karena Cleopatra mau mendanai Antonius untuk membalas invasi Parthian. Alasan kedua adalah karena Octavian wanprestasi terhadap persetujuannya mengirim bantuan memerangi invasi Kekaisaran Parthian di Syiria dan Asia kecil. Alasan Octavian adalah pemberontakan Sextus Pompeius di Sisilia membuat bala bantuan tertahan di Italia. Skeptisme Antonius tidak hilang walau telah dibuat kesepakatan baru antara Octavian dan Antonius yang dibantu Octavia di Tarentum di tahun 38 SM.

Dengan bantuan uang Mesir, Antonius akhirnya berhasil menaklukan Armenia, wilayah barat Kekaisaran Parthian. Saat perayaan, Antonius menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri aliansinya dengan Octavian. Sebelumnya, Antonius pernah gagal menginvasi wilayah Parthian dengan kekuatan 100.000 tentara Romawi dan pasukan aliansi. Kemenangan Antonius dimanfaatkan Cleopatra dengan mendeklarasi Caesarion sebagai anak dan keturunan yang sah dari Caesar. Proklamasi yang dikenal sebagai Donasi Alexandria (Donations of Alexandria) berakibat fatal pada hubungan Antonius dengan Roma.

Perang propaganda dimulai. Antonius yang ada di Mesir menceraikan Octavia yang ada di Roma. Antonius berpendapat bahwa Octavian memalsukan surat adopsi Octavian sebagai anak angkat Caesar; Octavian sebagai biang kerok kerusuhan sosial, dan timbulnya pemberontakan. Di sisi lain, pengadopsiannya oleh Caesar merupakan senjata kesetiaan dan popularitas yang sangat dibutuhkan Octavian dari legiunnya. Proklamasi Cleopatra sebagai wanita terkaya di dunia membuatnya mendesak Senat Roma melucuti kekuasaan Antonius dan mendeklarasikan perang terhadap Cleopatra, ketimbang terhadap Antonius yang keturunan Romawi. Dakwaan Octavian lainnya meliputi peperangan terhadap Armenia dan Parthia tanpa persetujuan Senat dan menguasai wilayah peruntukkan bagi bangsa lain.

Perang Octavian-Antonius dimulai di tahun 31 SM. Dengan bantuan Marcus Vipsanius Agrippa, jenderal yang sangat berbakat dan memahami cara berperang Antonius, Octavian berhasil menghancurkan angkatan laut Antonius di perang Actium, Yunani, per 2 September 31 SM. Antonius dan Cleopatra berhasil kabur dengan 60 kapal. Dalam waktu kurang setahun, Agustus 30 SM, Octavian menginvasi Mesir. Informasi Cleopatra bunuh diri yang sumir membuat Antonius menikam diri sendiri dan akhirnya tewas di pangkuan Cleopatra di tempat persembunyiannya. Cleopatra sendiri akhirnya berhasil bunuh diri di bulan yang sama.

Alexander The Great, Peletak Dasar Helenisasi di Timur, 356-323 SM

Provinsi Timur merupakan wilayah bekas taklukan Alexander the Great (Alexander III of Macedon, 356-323 SM). Kebesaran nama Alexander diabadikan sebagai pahlawan klasik dalam bentuk relif atau cetakan patung Achilles. Taktik perangnya tetap menjadi tolok ukur di akademi-akademi militer sampai saat ini. Aristokrasi bernuansa Yunani di wilayah Romawi Timur dengan nama budaya baru Hellenistis. Bahasa Yunani sering menjadi lingua franca. Tradisi Kekaisaran Byzantine bertahan sampai pertengahan abad ke-15.

Sejarah dan mitos Alexander tetap dipertahankan dalam budaya Yunani dan di luar Yunani. Orang Persia menyebutnya Iskandar Yang Agung. Teologis Al-Quran mengidentikkannya sebagai Zulkarnain yang hanya tersurat dalam 17 ayat di dalam Surat Al-Kahfi (QS-18:83-99). Sebagai keturunan Yunani-Mesir (Greco-Egyptian) dengan nama Mesir Marzuban bin Mardhaba yang artinya Orang Yunani, Alexander terkenal sebagai Raja Persia dan Yunani, raja timur dan barat. Beberapa penulis muslim lainnya mengidentikkan Zulkarnain sebagai Cyrus the Great (600-530 SM) atau Raja Yaman Kuno (ancient Yemenite king). Keyakinan terhadap satu Tuhan (monoteis) membuat penulis Yaman kuno menyebut Zulkarnain sebagai seorang muslim.

Kejayaan Alexander sangat dipengaruhi ajaran 3 tahun dari gurunya, Aristoteles. Aristoteles mendidik Alexander, 13 tahun, dan companion-nya ajaran-ajaran tentang obat, filosofi, moral, agama, logika, dan seni. Taktik perangnya membuatnya tidak pernah kalah selama berperang. Wilayah kekuasaannya mencakup Syria, Mesir, Mesopotamia, Bactria, dan seluruh Kekaisaran Persia. Alexander gagal menginvasi India karena digoyang isu politik dalam pasukannya. Kematiannya pada usia 32 tahun ditengarai setelah diracuni dengan bermabuk-mabuk ria bersama Medius of Larissa. Sebagai politisi yang tidak pernah berperang atas nama raja, Medius diyakini berjiwa pengecut, penjilat, dan pengkhianat.

Pelepasan Britannia (Romawi Inggris, Britain Roman), 43 SM-410

Invasi Romawi ke Inggris telah dimulai pada periode 55-54 SM, tepatnya semasa pemerintahan Julius Caesar. Penaklukan pertama dimulai pada tahun 43 Masehi, dibawah kepemimpinan Claudius. Caledonia, nama latin untuk Skotlandia, di utara provinsi Britannia, tidak pernah bisa ditaklukan Romawi. Tembok Hadrian selesai dibuat tahun 128 sebagai pembatas dengan wilayah Skotlandia. Romawi sempat berkuasa lebih ke utara selama 20 tahun sejak 142 sampai garis Forth-Clyde dan mendirikan Tembok Antonine.Tiga kota terbesar di Skotlandia menyandang peringkat satu di Eropa di bidang finansil (Edinburgh), kota industri dunia terkemuka di dunia (Glasgow), dan pusat minyak Uni Eropa (Aberdeen).

Di tahun 197, Britannia dibagi menjadi Britannia Superior berpusat di Londinium (London) dan Britannia Inferior berpusat di Eboracum (York). Di tahun 293, Britania Superior dipecah menjadi imperial diocese (provinsi) Maxima Caesariensis dengan pusat di Londinium dan Britannia Prima dengan pusat Corinium (Cirencester, Gloucestershire). Britania Inferior menjadi provinsi Flavia Caesariensis dengan pusat di Lindum (Lincoln) dan Britannia Secunda dengan pusat di Eboracum.

Legiun II Augusta ditengarai berperan besar dalam penaklukan Inggris di tahun 43 SM. Beberapa legiun lainnya ditengarai tetap ada sejak invasi pertama, termasuk Legiun IX Hispana. Tiga legiun ditengarai berperan besar dalam meredam Revolusi Boudican di tahun 60/61, yakni Legiun IX Hispana, Legiun XIV Gemina (Martia Victrix), dan Legiun XX (Valeria Victrix). Legiun IX ditengarai menetap di Eboracum di tahun 71 dan menurut prasasti tahun 108. Bersama 11 legiun lainnya, Legiun IX ditengarai berperan dalam penumpasan Revolusi Bar Kochba (132-136) oleh di Israel. Revolusi tersebut merupakan revolusi ketiga Yahudi Judea dan perang terakhir antara Yahudi-Romawi. Romawi mengusir seluruh Yahudi dari Yerusalem, termasuk Yahudi Kristen yang tidak mendukung Yahudi Judea.

Pengiriman (sisa) Legiun IX ke Israel ditengarai atas permintaan Kaisar Hadrian kepada Sextus Julius Severus, jenderal terbaiknya pada periode ‘sulit’, yang menjadi Gubernur Britannia di tahun 131. Causa Prima revolusi terakhir adalah larangan menyunat yang dianggap Hadrian dan menurut budaya Yunani sebagai mutilasi. Revolusi terakhir ini direncanakan selama 60 tahun, menyusul kegagalan Revolusi Raya Yahudi. Duabelas legiun Romawi berjumlah sekitar 60.000-120.000 pasukan. Korban fatal di pihak Romawi adalah musnahnya Legiun XXII Deiotariana.

Legiun XXII tidak terdaftar saat rekapitulasi seluruh legiun di tahun 145. Legiun XXII merupakan legiun tambahan Caesar Augustus dan ditempatkan di Nicropolis (dekat Alexandria) bersama Legiun III Cyrenaica. Legiun XXII dipimpin Deiotarus, Raja suku Celtic-Tolistobogii (Galatia, Turki, Asia kecil), yang menjadi sekutu Republik Romawi di bawah kepemimpinan Jenderal Pompey di tahun 63 SM. Di tahun 48 SM, tentara Deiotarus yang berjumlah 12.000 infantri dan 2.000 pasukan berkuda, terbagi atas 30 kohor (cohortes) atau setara 3 legiun Romawi pada masa itu.

Legiun IX juga tidak tercatat lagi saat rekapitulasi seluruh legiun pada masa Marcus Aurelius (161-180)

Legiun IX

Legiun IX dikenal dengan nama Ninth Hispanic Legion atau Legio nona Hispana. Bersama Legiun VI, VII, dan VIII, Legiun IX dibentuk Pompey di Spanyol pada tahun 65 SM. Julius Caesar yang menjadi Gubernur Spanyol merupakan komandan pertama Legiun IX di tahun 61 SM. Legiun IX setia menemani Caesar memenangi Perang Gallic (58-51 SM). Kemenangan ini menaikkan karier politik Caesar dan membuka jalan sebagai Kaisar Romawi serta melunasi hutangnya yang banyak begitu lengser dari Councilship di Roma. Propaganda politik dan kampanye perang Gallic ditulis Caesar dalam bukunya yang berjudul Commentarii de Bello Gallico.

Sebagai anggota Triumvirat I, Caesar berkuasa meminta legiun dan unit-unit tambahan lainnya. Aliansi politik bersama Marcus Licinius Crassus dan Pompey, membuat Caesar berkuasa atas 2 provinsi, yakni Cisalpine Gaul dan Illyricum. Transalpine Gaul menjadi provinsi tambahan menyusul kematian mendadak gubernurnya, Metellus Celer. Kekuasaan Caesar sebagai gubernur diperpanjang selama 5 tahun. Sebagai Gubernur Hispania Ulterior (Portugis), Caesar mengenal dan berkuasa atas 4 legiun veteran, yakni VII, VIII, IX, dan X.

Legiun IX ditarik ke Spanyol di tahun 49 SM dan mendapat anugerah Hispaniensis (Perang Gallic Caesar) dan terakhir ditempatkan Caesar di Picenum (sekarang Marche, Italia), tempat kelahiran Pompey the Great dan ayahnya, Pompeius Strabo. Legiun IX tidak tercatat lagi di Eboracum (York) sekitar tahun 120, kecuali Legiun VI Victrix yang dibawa Aulus Platorius Nepos dari Jerman pada tahun 122.

Keterlibatan Legiun IX tercatat di perang-perang:
1. Dyrrhachium dan Pharsalus (48 SM).
2. Afrika (46 SM).
3. Sextus Pompeius di Sisilia, atas perintah Octavian.
4. Macedonia, atas perintah Octavian.
5. Actium (31 SM), atas perintah Octavian melawan Marcus Antonius.
6. Cantabrians (25-13 SM). Nama Hispana diberikan setelah perang ini berakhir.
7. Perbatasan Rhine.
8. Pannonia (9 Masehi), barat Hungaria, Austria, Croatia, Serbia, Slovenia, Slovakia, dan Bosnia and Herzegovina.
9. Invasi Britannia (43).
10. Revolusi Boudica, Britannia (61), kalah telak. Kavaleri hampir disapu bersih Boudica.
11. Mendapat cadangan dari Jerman (60-61).
12. Membantu Vespasian di Cremona (69).
13. Berpartisipasi dengan Agricola menyerang Skotlandia (77/78-83/84).
14. Satu detasemen dikirimkan ke Jerman.
15. Pembuatan Benteng Eboracum, Britannia (71 dan 108).
16. Kontroversi: Revolusi Bar Kochba, Israel (132-136).
17. Kontroversi: Armenia (161), Capadocian (161) dan Revolusi Chatti, Danube (162); dibawah Marcus Aurelius berkonflik dengan Kekaisaran Parthia.
18. Kontroversi: Dievakuasi oleh Legiun X Gemina di Nijmegen (Noviomagus), Belanda.
19. Kontroversi: Bermukim di Ewijk, kecamatan yang bergabung dengan Beuningen, Belanda.
20. Kontroversi: Bermukim di Rhine bawah, kuartal pertama abad ke-2.

Beratnya perang di Britania terlihat pada dua makam:
1. di benteng Vindolanda, Chesterholm, Northumberland, di timur taut Inggris. Makam tersebut sebagai tugu penghormatan terhadap Titus Annius, centurion dari Kohor I dari suku Tungri (suku Gaul dan Germania), sebagai korban perang (in bello … interfectus).
2. di kota Ferentinum, provinsi Frosinone, Lazio, tenggara Roma. Makam tersebut sebagai penghormatan terhadap Titus Pontius Sabinus, yang telah memimpin detasemen-detasemen dari Legiun VII Gemina, Legiun VIII Augusta, dan Legiun XXII Primigenia pada ekspedisi Inggris (British expedition), pengiriman tentara bantuan setelah (atau selama) konflik besar, mungkin pada awal masa kekuasaan Kaisar Hadrian (117-138).

Centurion, 2010: History is written in blood

Menurut Tacitus, menantu Gubernur Gnaeus Julius Agricola, Quintus Petillius Cerialis (Quintus Petilius Cerialis Caesius Rufus) merupakan jenderal yang sembrono (bold), dan cenderung mempertaruhkan semuanya dalam satu pertempuran. Walau demikian, prestasinya cukup membanggakan di mata Vespasian. Cerialis pandai bergaul dengan prajuritnya dan sangat setia kepada atasan. Cerialis memimpin Legiun IX di Britania saat dipimpin Gaius Suetonius Paulinus; turut serta berperan dalam mengalahkan Ratu Boudica dari Iceni; dan kalah telak ketika akan membebaskan Camulodunum (Colchester), yang dihancurkan Britons. Kembali ke Britania bersama Legiun II Adiutrix, Cerialis menjadi gubernur di tahun 71. Agricola yang menjadi Komandan Legiun XX Valeria Victrix, mendukung Cerialis.

Di film Centurion, Virilus menjadi Komandan Legiun IX. Dia diminta datang membantu benteng Agricola yang sedang digempur habis-habisan suku Pict. Profil Virilus seperti identik dengan karakter Ceralis yang digambarkan Tacitus, termasuk berkonvoi seluruh pasukan dalam satu barisan. Di film tersebut, kavalerinya dengan kekuatan sekitar 3.000 pasukan bisa dikatakan hampir musnah. Kejadian ini mirip dengan sejarah penyergapan konvoi Legiun IX oleh Boudica di tahun 61.

The clip of Legion IX got ambushed to nill can be downloaded through this link: http://www.4shared.com/video/xFHPXfXw/Centurion_2010_Legion_IX_got_a.html

The clip of Friendly Vilirus of Legion IX can be downloaded through this link: http://www.4shared.com/video/ptCREGbc/Centurion_2010_friendly_viliru.html

HIGH QUALITY CLIP of Friendly Vilirus of Legion IX can be downloaded through this link: http://www.4shared.com/video/cBwnwckG/Centurion_2010_friendly_viliru.html

Bukti makam Titus Flavius Virilis yang ditemukan di Lambaesis, Afrika Utara, menyebutkan perannya sebagai centurionate di 6 legiun dan terakhir menempati posisi sebagai Century ke-6 (Hastatus Posterior) di Legiun IX. Virilis wafat pada usia 65 saat melatih kadet di Afrika.

The clip of The Roman Politics in War dealing with the losing Legion IX can be downloaded throuh this link: http://www.4shared.com/video/AuV7pLvo/Centurion_2010_the_roman_polit.html

HIGH QUALITY CLIP of The Roman Politics in War dealing with the losing Legion IX can be downloaded throuh this link: http://www.4shared.com/video/m0ICD19r/Centurion_2010_the_roman_polit.html

Centurion, 2010: Sinopsis

Film Centurion: Bertarung Atau Mati!
Jakarta, Warta Kota, Sabtu, 4 September 2010 | 11:12 WIB

Satu lagi film yang berlatar belakang kisah kekaisaran Romawi. Film berjudul Centurion ini berkisah tentang sepasukan tentara Romawi yang akan memberantas kaum pemberontak namun akhirnya malah diobrak-abrik lawan.

Film ini berlatar belakang tahun 117 Masehi. Kekaisaran Romawi membentang dari Mesir ke Spanyol, dan di bagian Timur hingga ke Laut Hitam. Namun di bagian utara Britania, sebuah suku enggan tunduk pada Romawi.

Suku bernama Picts tersebut dikenal sebagai suku yang liar dan menakutkan. Mereka melakukan serangan non-stop terhadap Romawi. Bahkan pos-pos Romawi takluk satu persatu oleh Picts yang amat begitu membenci Romawi karena kekaisaran ini dianggap semena-mena terhadap kaum Picts.

Adalah Centurion Quintus Dias (Michael Fassbender), satu-satunya korban selamat dari serangan suku Picts di benteng perbatasan Romawi. Meski sempat ditawan suku Picts, Quintus bisa melarikan diri. Di perjalanan ia berjumpa dengan Legiun ke-9 yang dipimpin Jenderal Titus Flavius Virilus (Dominic West).

Akhirnya Quintus bergabung bersama pasukan tersebut. Dalam pasukan itu terdapat seorang pencari jejak bernama Etain (Olga Kurylenko). Etain akan membawa Legiun ke-9 menuju lokasi persembunyian suku Picts. Ya, suku tersebut akan diserang oleh pasukan Romawi ini.

Namun, pasukan ini tidak tahu bahwa sebenarnya mereka dijebak oleh Etain, yang tak lain adalah anggota suku Picts. Dalam sebuah penyergapan, habislah Legiun ke-9. Sang jenderal ditawan. Quintus dan sejumlah rekannya mampu selamat.

Mereka pun bertekad membebaskan Jenderal Virilus. Meski sudah bisa memasuki perkampungan suku Picts, Quintus dkk tak mampu membebaskan sang jenderal karena pasukan perang Picts tiba di lokasi.

Pasukan kecil yang dipimpin Quintus pun mundur dan melarikan diri untuk kembali ke Romawi. Namun, salah seorang dari mereka membunuh putra mahkota suku Picts. Sang pemimpin, Gorlacon (Ulrich Thomsen) pun murka dan memerintahkan anak buahnya, yang dipimpin Etain, untuk memburu dan membunuh Quintus dkk.

Maka perburuan terhadap Quintus pun dilakukan. Di tengah perburuan, pasukan kecil Quintus tercerai berai lantaran posisi mereka mampu dikejar Etain dkk. Quintus dkk pun harus terus berlari menghindari kekejaman Etain.

Hingga pada akhirnya Quintus dkk memutuskan untuk menghadapi pasukan Etain apapun risiko yang bakal mereka terima. Mereka memilih bertarung menghadapi Etain dkk lantaran lelah terus-terusan diburu. Pilihan yang sulit buat mereka, bertarung atau mati diburu suku Picts.

***
Film ini mengingatkan kita dengan film 300 yang dirilis beberapa waktu lalu. Dengan latar belakang suasana yang kelam, alur cerita dibangun secara runut. Penonton dijamin tak dibuat bingung dengan jalannya cerita.

Film ini juga menyelipkan pesan-pesan moral bahwa janji adalah sesuatu yang harus dijalankan apapun risikonya. Dan harga diri adalah sesuatu yang harus dibela dan dijunjung tinggi.

Pertarungan demi pertarungan terjadi di sepanjang film. Hanya saja adegan pertarungan menampilkan adegan-adegan sadis, semisal adegan menggorok leher musuh atau memenggal kepala, secara jelas dipertunjukkan. Nyaris seperti tak disensor untuk adegan-adegan kekerasan.

Sehingga film ini tak cocok untuk disaksikan anak di bawah umur. Kalau pun telanjur menonton, hendaknya orangtua memberikan pengertian soal adegan kekerasan di film ini.

Di luar adegan kekerasan itu, penonton akan disuguhi indahnya pemandangan yang menjadi setting film Centurion ini. Pegunungan es serta hutan-hutan yang lebat nan indah banyak menghiasi film ini. Teknik pengambilan gambar dengan menggunakan kamera bergerak dari atas, membuat view setting terlihat jelas dan utuh.

Film ini sudah tayang mulai Sabtu (4/9) ini di bioskop-bioskop kesayangan Anda. Film ini juga menjadi film untuk pertunjukan midnight (Sabtu malam) di jaringan bioskop 21. Selamat menonton! (Lucky Oktaviano)

Judul Film: Centurion
Jenis Film : Drama Action
Pemain : Dominic West, Michael Fassbender, Olga Kurylenko, Ryan Atkinson, Riz Ahmed, Noel Clarke, Liam Cunningham
Sutradara : Neil Marshall
Penulis : Neil Marshall
Produser : Christian Colson, Robert Jones
Produksi : Pathé
Homepage : http://www.centurionmovie.com/
Rating LSF : Dewasa (adult)

Sumber: Wartakota, http://www.wartakota.co.id/detil/berita/29748/Film-Centurion-Bertarung-Atau-Mati

Jakarta, 7 September 2010, 09.07

About these ads