Updates from April, 2010 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Virtual Chitchatting 10:28 PM on 2010/04/30 Permalink  

    Layanan Pembuatan Karya Ilmiah 

    Untuk layanan PEMBUATAN KARYA ILMIAH
    Hubungi 0852.103.56.516

    digital degree

    Ghostwriting on Scientific Papers, (Bachelor, Master, Doctoral) Theses in Jakarta, Indonesia

    PEMBUATAN KARYA ILMIAH

    KAMI AKAN MEMBANTU ANDA UNTUK PEMBUATAN
    SKRIPSI, TESIS, DISERTASI, MAKALAH, KARYA TULIS ILMIAH & EMPIRIS,
    DAN ANALISA KINERJA. KARYA ANDA AKAN BERKUALITAS
    DENGAN JASA YANG KAMI BERIKAN.
    Kami akan memberikan jasa terbaik kami untuk anda
    selain itu kami juga akan selesai mengerjakannya sesuai
    dengan tenggat waktu yang anda berikan


    Indonesian Tags: membantu menyelesaikan karya tulis ilmiah, makalah, tugas akhir, skripsi, jasa pembuatan tesis, disertasi, jasa untuk menganalisa kinerja,
    English Tags: indonesia science, monograph service, final paper, final assignment, script service, thesis service, dissertation service


    aswanda 12 Oct 10
    tolong bikin karya ilmia tentang peternakan

    roffi 20 Jan 10
    ass,, pak tlong buatin karya ilmiah / karya tulis tentang pendidikan.. klo bisa secepat mungkin (waktunya udah mepet), klo ga` keberatan kirimin ke email saya : roffie_sky@yahoo.com ditunggu ya pak…. terima kasih sebelumnya

    christian 01 Dec 09
    Pak,tolong buatin atau kirimin contoh karya ilmiah tentang kenakalan remajakirimin ke email saya chr15t14n_cun@yahoo.comditunggu cepat ya Pakmakasih….

    eji 30 Sep 09
    buatkan karya ilmiah tentang kacang merah!

    hafidz 18 Sep 09
    bisa di kirim via email di holly_vied@yahoo.co.iddi bulan Puasa moga di murahkan rezekinya ya pak…Amien….. “

    hafidz 18 Sep 09
    Pak yang terhormat.. tolong saya di kasih rambu – rambu penulisan KTI di bidang Sastra Indonesia ya.. krn mau ikut lomba. Terimakasih sebelumnya….

    Vania 26 Aug 09
    Pak , tolong kirimin contoh karya tulis tentang narkoba dunkk ….email saya muffin.vanhz@rocketmail.combtw,, nanti bayarnya gimana pak ? makasih .

    echa 09 Aug 09
    asss….pax tlong bnr buatin krya ilmiah permasalahan biologi dlm khdpn shr2 tlng ya pax,,krmkan k echa.anggie@yahoo.com trmksh

    echa 09 Aug 09
    ass…pak tlong buatin atau krmin cntoh karya ilmiah pemsalahan biologi dalam khdpn shr2

    Dionstrano 03 Aug 09
    Pak Tolong kirim cth Karya ilmiah tentag biologi utk tingkat sma yang pernah diperlombakan. kalau tak ada yang tak diperlombakan juga tidak apa-apa, tolong kirim ke Razor47@rocketmail.com. terima kasih banyak…

    Fathur Rachman 02 Aug 09
    pak tolong kirim contoh karya ilmiah biologi sma kls. X, ke gs.namapo@gmail.comterima kasih pak…

    Fathur Rachman 02 Aug 09
    pak, kalau ada karya ilmiah tentang biologi, tolong dikirim ke gs.namapo@gmail.com

    uly 05 Jul 09
    Pak tolong kirim karya ilmiah mengenai Lapangan Kerja dengan topik HUbungan Antara Kurikulum Pendidikan dan Lapangan Kerja. alamt emailsy ini pak (uly_shg@yahoo.co.id) makasih pak sebelumnya.

    uly 05 Jul 09
    Pak tolong kirim karya ilmiah tentang Lapangan Kerja, dengan topik Hubungan antara Kurikulum pendidikan dan Lapngan Kerja

    nando 30 Jun 09
    pak,tolong dkirimin ya karya ilmiah mengenai global warming sama teknologi ya n alamat emailnya (nando_ lz11@yahoo.com)…,mkc y pak

    Ria 14 Jun 09
    Mas tlong donk kirimin karya ilmiah tentang pendidikan olahraga…krim k email aq Riani_yk@yahoo.com…thanks sbelumx…..

    rizal 14 Jun 09
    mas, tolong cariin karya ilmiah tentang masalah pendidikan, kalau bisa yang kirim sekarang y di………… rizal_peace83@yahoo.com… terima kasih

    aqzah 11 Jun 09
    tlg donk bknkan aq karya ilmiah yg bertemakan pendidikan n’ klau bs krmkan aza ke e-mail quflyaqzah@yahoo.co.id

    indah 09 Jun 09
    mas, tolong buatin karya ilmiah tentang global warming atau narkoba donk….tolong di kirim ke alamat email aku di via_djail92@yahoo.com yah……. mas, kalau boleh sekarang yah mas yah???? terima kasih sebelumnya…………….

    stevina rintjap 09 Jun 09
    mas, tlng buatin karya ilmiah, tentang pentingya kesehatan bagi masyarakat donk……….kalau bolech skarang yah,,,,,,,,,,,,,,,,qrim ajah ke email aku di,,,,, nda_pinqymoetz@yahoo.com aku tunggu yah???? makasih………..

    resti 01 Jun 09
    mas tlong bwtn karya ilmah tntng pngaruh musik bgi remaja donk…krm k’email aq ajja ty_frog@ymail.comklo bsa bsok udh ada…


    ivon 27 May 09
    pak…..saya dapat tugas untuk pembuatan karya ilmiah,bebas saya sih skanya tentang cinta,atau pemanasan global,kalau cinta kan untuk metode wawancara sih gampang siapa saja pasti pernah mengalaminya…..apalagi karya imliah terdii dari 5 bab susah tolong pak.Makasih,nanti kirimnya ke email jesus_ivon@yahoo.com,kalu bisa secepatnya ,waktunya dah mepet ne

    wahyudi 25 May 09
    mas tolong buatin tugas karya ilmiah tentang pengaruh musik bagi pendidikan. kalau disa sekarang ya mas kirimnya ke foldseven63@yahoo.co.id.terima kasih

    Nisa 11 May 09
    mas, bisa tolong buatin pendahuluannya karya ilmiah tema pendidikan. kalau bisa sekarang ya mas. Kirimnya Ke Neezhya_jr@yahoo.com. makasih ya mas

    Nisa 11 May 09
    Mas, bisa minta tolong buatin pendahuluannya karya ilmiah temanya pendidikan. kalau bisa sekarang ya mas. kirim ke Neezhya_jr@yahoo.com. makasih ya mas….

    danica 09 May 09
    tolong buatin karya ilmiah mengenai masyarakat atau sosiologi. kalau bisa sekarang ya mas, kirim nya ke danii_sibarani@yahoo.co.id. terimakasih

    Innda 07 May 09
    mas,tolong buatin tugas karya ilmiah tentang pengaruh musik bagi pendidikan, tolong banget mas, kalau bisa sekarang. kirimin aja di smile_rocky2992@yahoo.comthx be4

    chika23 01 May 09
    mas, saya butuh banget tugas karya ilmiah yang membahas tentang virus HIV AIDS mas. bisa tolong kirimin contoh tugas_a ke alamat chutex_chimut@yahoo.co.id ya mas???? ditunggu segera mas. karna sebagai persyaratan kelulusan SMA saya.. thanx…

    adliasysyidqi 30 Apr 09
    tolong kirim karya ilmiah bidang teknologi informasi

    eva 28 Apr 09
    Pak, tolongin saya donk kirim contoh karya ilmiah tentang dunia pendidikan, sekarang ya.. Kalau bisa kirim ke evacute_angel21@yahoo.comthx so much

    hamami 25 Apr 09
    assalamualaikum wr. wb. pak saya minta tolong kalauada karya ilmiah bertema global warming atau narkoba mohon di kirim ke ohayou_minnasan@yahoo.com . kalau bisa hari minggu besok atau selambat lambatnya hari senin tgl 27 april 2009. terima kasih

    dwi haryanto 21 Apr 09
    asalamualaikum, pak minta tolong ya, klo ad karya ilmiah tentang Perkembangan Musik Tradisional dan Modern, tolong d kirim skarngnya pak wasalamualaikum

    rio 20 Apr 09
    pak.,,,. apa da contoh karya ilmiah?karya ilmiah yang tingkat sma.yang menyangkut tentang biologi.jika ada.kirimkan sekarang ke…. edho_cap93@yahoo.com. terima kasih

    Donny 20 Apr 09
    pak, kalau ada contoh karya ilmiah yang menyangkut tentang dunia pendidikan, kirimkan skrg…donny_wahyudi@yahoo.com

    yoyo 16 Apr 09
    pak, minta tolong kalau ada contoh karya ilmiah yang menyangkut tentang dunia pendidikan.thanks, arjuna_yoyo@yahoo.co.id

    dica 07 Apr 09
    pak tolong buatkan karya ilmiah tentang dampak narkoba bagi perkembangan mental……….krmkan skrg tach soalnya ya pak…… krm aja ke alamat yow_hunz@rocketmail.com

    ajaniagus 07 Apr 09
    pak tolong buatkan karangan ilmiah tentang pendidikan remaja tolong kirimkan sekarang tach soalnya penting sekali kirimka aja kealamat ajaniagus.@yahoo.com

    rendranansah 24 Mar 09
    tolong dibuatkan PTK apa bisa?

    cvjnvmhjgjg 22 Mar 09
    eh gila siah. masa karya ilmiah dbuatin am orang laen sih ? itumah mau enaknya doang.. dmana” ge krya ilmiah tuh bkin sndiri. enak bgt dbkinin orang laen..

    nila dan cicik 21 Mar 09
    aduuuuuuuh…..,kami pusing bgt! tolong bkinin karya ilmiah tentang global warming dunk!!!!!!!!!!!!!!

    achy 19 Mar 09
    mabh bgtz..bntu.int aqhu bkint.int karya ilmiah iptek dunk.!! plise.. krm k chiew_chiewet@yahoo.com iia.. thx before


    sullish 11 Mar 09
    tolong bntuiint q duntt buatt karya ilmiah tentang sosial politik/kewarganegaraan/hukum… lngsng kirm adja (cha_sadjaah@yahoo.co.id)thank before…

    andi 06 Mar 09
    tlong bikinin karya ilmiah tentang global warming

    cherly 05 Mar 09
    tlong buanget buatin karya ilmiah tntang komputer

    ferry 05 Mar 09
    tolong buatkan saya karya ilmiah dengan tema global warming!!!

    nyume 01 Mar 09
    tlog buatn krya ilmiah tntag pendidikan tp buatn jg daftar pistaka n cattn kakix jg

    cyntia 24 Feb 09
    aduh w pusing banget nich disuruh buat karya tilis ilmiah mana w g ngerti lagi n rumit buaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnngggggggggggget……….!!!!!!!! Tolong bantuin w dong.hub;085641544462

    sufiah 22 Feb 09
    saya ingin tahu cara pembuatan karya tulis ilmiah yang benar untuk lomba karya tulis ilmiah (sufiah.indrawati@gmai.com)

    sufiah 22 Feb 09
    tolong buatin karya tulis yang merupakan penelitian tindakan kelas

    siti 14 Feb 09
    tolong bikinin karya tulis tentang global warming donk!!!! yang lengkap yach. please…..secepatnya

    Rika 12 Feb 09
    tolong buatin karya ilmiah tentang belajar

    Rika 12 Feb 09
    tolong donk, buatin karya ilmiah tentang belajar

    dany 10 Feb 09
    bisa bantu saya buat karya ilmiah tentang dampak peraturan baru UN pda siswa smk

    rini suryani 08 Feb 09
    tolong buatin karya ilmiah pendidikan

    irwan az 07 Feb 09
    tolong buatkan karya ilmiah yang bertema global warming

    rio 01 Feb 09
    kk tolong buatin karya ilmiah bertema linkungan plissss!!!!!!

    vitha 31 Jan 09
    bagaimana cara pembuatan karya ilmiah yang bagus?????????????????????

    indra 28 Jan 09
    tolong buatin karya ilmiah tentang komputer/internet yaaaaaaah..!?

    madi 23 Jan 09
    bisa minta tolong buatin karya ilmiah tentang peternakan ga’?…………

    wahyu 20 Jan 09
    tolong buatin karya ilmiah dong ….. mengenai “Peran Orang Tua Terhadap Perkembangan Psikologis Anak” …. tlong buatin yg pas bwt anak SMP ya pak .. makasih …

    ivan 19 Jan 09
    buatin karya ilmiah bertema ipa


    Classifieds
    Pendidikan & Pelatihan
    Pendidikan Lanjutan


    Education & Counselling
    Higher Education


    Subject: PEMBUATAN KARYA ILMIAH, Program Doktor, Program Pasca Sarjana, Program S1, Program Diploma III

    PEMBUATAN KARYA ILMIAH, Program Doktor, Program Pasca Sarjana, Program S1, Program Diploma III


    Pendidikan & Pelatihan, Online Service Portal di Indonesia, Menawarkan Kursus Mengemudi, Pendidikan Seni, Panduan Kegiatan & Petunjuk Kegiatan, Kursus Anak & Les Anak, Guru Privat & Les Private, Belajar Bisnis, Pusat Guru, Pendidikan Olahraga, Kursus Bahasa & Belajar Bahasa, Pengembangan Kepribadian, Belajar Musik & Les Musik, Promosi Pendidikan, Pendidikan Lanjutan & Sekolah Lanjutan, Belajar Desain, Pendidikan Komputer, Pelatihan Kecantikan, Ujian Terbuka, Kursus Perhotelan, Belajar Video & Les Foto, Instruktur Golf, Belajar Properti, Belajar Masak, Persatuan Guru, Kursus Tari & Les Dansa, Pendidikan Kesehatan, Pameran Pendidikan serta daftar service lainnya.

    Lesson & Instruction, Online Service Portal in Indonesia, Offers Driving School & Driving Course, School Art, Learning Activities & Class Activities, Children Learning & Pre School, Private Lessons & Private Teacher, Learning Center, Language Learning & Language Schools, Business School, Human Development, School Sports, Education Discount, Continuing Education, Health University, Music School, Photography Courses & Video Tutorials, Computer Training, Design School, Cooking School, Beauty Course, School Fair, Exam Test, Dance Class & Dance Schools, Property Course, Tourism School & Hotel School, Education Center and many more.


    Penelitian Strategis Nasional

    Pendahuluan

    Kegiatan Penelitian Strategis Nasional merupakan tanggapan atas pencanangan 6 bidang strategis nasional oleh Presiden RI pada tahun 2008, yang memerlukan penelitian intensif untuk mengatasi berbagai masalah bangsa Indonesia. Keenam bidang strategis tersebut dikembangkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Ditjen Dikti menjadi 12 tema isu strategis untuk diteliti dengan mengakomodasi semua cabang keilmuan di perguruan tinggi.

    Tema penelitian yang dinyatakan strategis adalah penelitian yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat dan bangsa, sebagai berikut:

    • Pengentasan kemiskinan (Poverty alleviation);
    • Perubahan Iklim dan keragaman hayati (Climate change & biodiversity);
    • Energi baru dan terbarukan (New and renewable energy);
    • Ketahanan dan keamanan pangan (Food safety & security);
    • Kesehatan, penyakit tropis, gizi dan obat-obatan (Health, tropical diseases, nutrition dan medicine);
    • Pengelolaan bencana (Disaster management);
    • Integrasi nasional dan harmoni sosial (Nation integration & social harmony);
    • Otonomi daerah dan desentralisasi (Regional autonomy & decentralization);
    • Seni dan budaya/industri kreatif (Arts & culture/creative industry);
    • Infrastruktur, transportasi dan teknologi pertahanan (Infrastructure, transportation & defense technology);
    • Teknologi informasi dan komunikasi (Information & communication technology); dan
    • Pembangunan manusia dan daya saing bangsa (Human development & competitiveness).

    Penjelasan terperinci isu strategis dapat dilihat pada bagian Isu Strategis

    Program penelitian Strategis Nasional memiliki penekanan pada lima aspek, sebagai berikut:

    • program penelitian yang dapat diusulkan harus bersifat strategis dan berskala nasional;
      tema harus sesuai dengan yang telah ditentukan;
    • penelitian harus bersifat pengembangan yang berorientasi pada penelitian terapan, bukan penelitian awal;
    • penelitian harus memiliki peta jalan yang jelas; dan
    • Tim peneliti harus memiliki rekam jejak (track record) yang memadai dalam 5 tahun terakhir pada topik penelitian yang diusulkan.

    Tujuan

    Program Penelitian Strategis Nasional ini bertujuan untuk:

    • memfasilitasi dukungan dana riset bagi pengusul di lingkungan perguruan tinggi untuk melakukan penelitian yang dapat menyelesaikan masalah yang relevan dengan berbagai masalah bangsa Indonesia;
    • mengorientasikan kemampuan pengusul yang telah memiliki peta jalan penelitian untuk membangun dan membentuk peta jalan teknologi untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan yang berorientasi kepada kebutuhan pengguna (user oriented); dan
    • menjawab permasalahan bangsa yang strategis untuk jangka pendek, menengah dan panjang yang terkait dengan keduabelas tema strategis.

    Luaran Penelitian

    Program Penelitian Strategis Nasional diharapkan dapat menghasilkan luaran wajib berupa:
    publikasi pada jurnal ilmiah nasional terakreditasi atau jurnal bereputasi internasional; dan
    proses produk IPTEKS-SOSBUD berupa metode, blue print, prototip, sistem, kebijakan atau model yang bersifat strategis dan berskala nasional; atau
    teknologi tepat guna yang langsung dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (disertai pedoman penerapannya)

    Selanjutnya penelitian ini dapat menghasilkan luaran tambahan berupa:

    • HKI;
    • Buku ajar

    Kriteria dan Pengusulan

    Kriteria dan persyaratan umum pengusulan Penelitian Strategis Nasional adalah:

    • tim pengusul adalah dosen tetap perguruan tinggi yang memiliki NIDN;
    • tim pengusul maksimum berjumlah empat orang (satu ketua dan maksimum tiga anggota) diutamakan multi disiplin, dimana ketua dan minimum satu orang anggota harus berpendidikan doktor (S-3);
    • ketua tim pengusul harus memiliki rekam jejak (track record) memadai dan relevan dengan topik yang diusulkan, serta pernah mendapat program hibah penelitian kompetitif multi tahun berskala nasional;
    • tugas dan peran setiap peneliti diuraikan dengan jelas dan disetujui oleh yang bersangkutan. Susunan anggota peneliti setiap tahun dapat berubah, sesuai dengan kebutuhan kegiatan penelitian dan kompetensi yang dimiliki;
    • setiap pengusul hanya diperbolehkan mendapatkan program penelitian ini maksimum dua periode sebagai ketua dan/atau anggota; kecuali bagi peneliti yang berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal bereputasi internasional, memperoleh HKI, atau menciptakan teknologi tepat guna yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dapat mengajukan usulan untuk periode berikutnya;
    • setiap pengusul hanya boleh mengusulkan 1 usulan pada tahun yang sama, baik sebagai ketua maupun sebagai anggota;
    • penelitian Strategis Nasional bersifat multi tahun dengan lama penelitian 2-3 tahun dan kisaran dana sebesar Rp75.000.000,- – Rp100.000.000,-/judul/tahun;
    • pelaksanaan penelitian (termasuk penggunaan dana) harus terdokumentasi dalam bentuk logbook, meliputi tanggal, kegiatan, dan hasil yang diperoleh;
    • penelitian yang dihentikan sebelum waktunya yang diakibatkan karena kelalaian, dikenakan sanksi tidak diperkenankan mengajukan usulan penelitian yang didanai oleh Dit. Litabmas dalam kurun waktu dua tahun berturut-turut, atau bentuk sanksi lain sesuai dengan kelalaiannya;
    • setelah penelitian selesai, para peneliti harus menyajikan hasil penelitiannya dalam forum nasional dan mempublikasikannya dalam jurnal internasional atau sekurang-kurangnya dalam jurnal nasional terakreditasi. Hasil penelitian harus dipublikasikan selambat-lambatnya pada tahun kedua sejak penelitian dimulai; dan;
    • usulan penelitian disimpan menjadi satu file dalam format pdf dengan ukuran maksimum 5 MB dan diberi nama NamaKetuaPeneliti_NamaPT_STRANAS.pdf, kemudian diunggah ke SIM-LITABMAS dan hardcopy dikumpulkan di perguruan tinggi masing-masing

    Sistematika Usulan Penelitian

    Proposal lengkap diajukan setelah dinyatakan lolos seleksi pra-proposal yang dibuat maksimum berjumlah 25 halaman ( di luar halaman sampul, halaman pengesahan, daftar isi dan lampiran), ditulis menggunakan font Times New Roman ukuran 12 dengan jarak baris 1,5 spasi kecuali ringkasan satu spasi dan ukuran kertas A-4, serta mengikuti sistematika sebagai berikut.

    HALAMAN SAMPUL

    HALAMAN PENGESAHAN

    DAFTAR ISI

    RINGKASAN (Maksimum satu halaman)
    Kemukakan tujuan jangka panjang dan target khusus yang ingin dicapai serta metode yang akan dipakai dalam pencapaian tujuan tersebut. Ringkasan harus mampu menguraikan secara cermat dan singkat tentang rencana kegiatan yang diusulkan untuk 2—3 tahun (sesuai usulan) dan manfaat penelitian bagi pemangku kepentingan/stakeholders, diketik dengan jarak baris satu spasi.

    BAB 1. PENDAHULUAN
    Jelaskan latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat khusus serta urgensi (keutamaan) penelitian dalam mengatasi masalah strategis berskala nasional. Uraikan secara ringkas luaran yang akan dicapai setiap tahunnya dan gambaran produk yang dapat langsung dimanfaatkan dari hasil penelitian ini dan cara penerapannya.

    BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
    Kajian pustaka harus memuat state of the art dalam bidang yang diteliti, gunakan sumber pustaka acuan primer yang relevan dan terkini dengan mengutamakan hasil penelitian pada jurnal ilmiah. Jelaskan juga studi pendahuluan yang telah dilaksanakan dan hasil yang sudah dicapai serta bagaimana kaitannya dengan proposal yang diajukan. Tuliskan juga peta jalan penelitian secara utuh

    BAB 3. METODE PENELITIAN
    Metode penelitian diperinci dan diuraikan sesuai dengan keperluan. Metode penelitian dilengkapi dengan bagan penelitian yang dibuat secara utuh dengan penahapan yang jelas, lokasi pelaksanaan penelitian, teknik-teknik pengumpulan data yang tidak umum perlu dijelaskan, demikian pula analisis yang dilakukan, luaran per tahun, dan indikator capaian yang terukur.

    BAB 4. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
    4.1 Anggaran Biaya
    Justifikasi anggaran disusun secara rinci dan dilampirkan sesuai dengan format pada Lampiran 2. Sedangkan ringkasan anggaran biaya disajikan seperti Tabel berikut.

    No Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan (Rp) Biaya yang diusulkan (Rp) Biaya yang diusulkan (Rp)
    Tahun I Tahun II Tahun III
    1. Gaji dan upah (Maks. 30%)
    2. Bahan perangkat / penunjang (30-40%)
    3. Perjalanan (Maks. 15-25%)
    4. Lain-lain (administrasi, publikasi, lokakarya/ seminar, laporan dan lain-lain (Maks. 15%)
    Jumlah

    4.2 Jadwal Penelitian
    Jadwal pelaksanaan penelitian dibuat untuk 2 – 3 tahun (sesuai proposal) dalam bentuk bar chart sesuai dengan format pada Lampiran 5.

    DAFTAR PUSTAKA
    Daftar Pustaka disusun berdasarkan sistem nama dan tahun, dengan urutan abjad nama pengarang, tahun, judul tulisan, dan sumber. Hanya pustaka yang dikutip dalam usulan penelitian yang dicantumkan dalam Daftar Pustaka.

    LAMPIRAN-LAMPIRAN
    Lampiran 1. Biodata ketua dan anggota (Lampiran 5).
    Lampiran 2. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas (Lampiran 4).
    Lampiran 3. Justifikasi Anggaran Penelitian (Lampiran 2).
    Lampiran 4. Surat pernyataan ketua peneliti dan anggota (Lampiran 6).



    Untuk layanan PEMBUATAN KARYA ILMIAH
    Hubungi 0852.103.56.516


     
  • Virtual Chitchatting 11:31 PM on 2010/04/23 Permalink
    Tags: dumb buffalo, fatty pig, narrow-minded of indonesia's precedent, narrow-sighted of indonesia's precedent, politics of runaway waters, ruthless political disruptions, short-minded of indonesia's precedent, short-sighted of indonesia's precedent   

    Ruthless political disruptions of SBY and his cronies 

    My comment:

    Instead of making strategic, visionary, and comprehensive solutions to the ongoing moral crisis of SBY’s helpers in the second cabinet, the ambiguous President Yudh_ono_ngoyo set up a non-structural task-force, Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum. A very short-sighted tactical solution. Not only intellectual communities, the grass-root societies acclaim SBY’s disgrace.

    His cronies have been alleged of making numerous political disruptions, unnecessary public distractions. Dony Kleden used to call it as politics of runaway waters.

    SBY’s indecisive acts appear in any living aspects, mostly political and legal enforcement, and economy. He has been letting KPK operating without definitive leader for … consecutive months. He has been letting the central bank of Indonesia leaderlesss since he appointed the former Bank Indonesia Boediono to be his closest crony, the vice precedent of the Republic of Indonesia.

    As a consequence, we shall count the social unrests in the most and nearest cumming time.

    Count number one: the Koja incident on 14 April 2010.

    Count number two: Batam incident as of 22 April 2010.

    Sunday, 18 April 2010

    Meta Komunikasi Politik Satgas Mafia Hukum

    Banyak yang percaya bahwa sejak awal pembentukannya, Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum diciptakan demi menandingi pelaksanaan hak angket Bank Century.

    Satgas ini sengaja dirancang untuk memecah perhatian dan pendapat umum atas bergulirnya penyelidikan kasus Bank Century. Kenyataannya, semakin lincah gerakan Satgas, semakin sepi penanganan hasil hak angket.Untuk sementara, kiprah Satgas mengungkap beberapa praktik mafia peradilan mampu mengalihkan perhatian publik dari kasus bailout Bank Century. Mereka yang pesimistis juga berargumen bahwa pembentukan Satgas hanyalah proyek pencitraan, bukan untuk penegakan hukum. Menyadari citra yang luluh lantak akibat penanganan kasus Bibit-Chandra yang berlarut-larut, dibentuklah Satgas guna mencegah terulangnya hal serupa pada pelaksanaan hak angket Bank Century.

    Bagi yang percaya dengan konspirasi politik, mereka tidak yakin pembentukan Satgas itu merupakan bagian program Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, melainkan sebagai usaha untuk menenggelamkan proses pelaksanaan hak angket Bank Century beserta hasilnya. Mereka semakin yakin dengan asumsinya bahwa pengungkapan makelar kasus (markus) peradilan dan pajak akhir-akhir ini merupakan bukti adanya upaya sistematis Satgas untuk mengakhiri dominasi isu hak angket Bank Century.

    Bukti Diakronik dan Fakta Sinkronik

    Betulkah tugas pokok Satgas hanyalah demi mengalihkan isu sekaligus demi pencitraan belaka? Teori dinamika sistem (dynamic of system theory) menjelaskan bahwa aksi politik seperti yang diperlihatkan Satgas merupakan hal lazim dilakukan jika terjadi perebutan pengaruh di tengah masyarakat.

    Di tingkat dunia,manakala masih berlangsung Perang Dingin,Amerika Serikat (AS) mengembangkan NATO untuk menandingi Pakta Warsawa. Contoh lainnya, Uni Soviet mensponsori pengembangan ideologi komunis di sejumlah negara guna mengimbangi pengaruh Barat yang dikawal AS. Untuk mengimbangi dominasi dolar di dunia,Uni Eropa membuat euro. Bilamana ada AFTA, di sana ada ACFTA. Di tingkat regional,untuk mengimbangi pertumbuhan ekonomi Singapura, Pemerintah Indonesia mengembangkan Batam.Pemimpinpemimpin politik yang memiliki kekuatan ideosinkretik pada level personal membuat proyek politik sendiri untuk mengimbangi pemimpin lain.

    Pak Harto mengembangkan Orde Baru untuk menandingi karisma Bung Karno. Dengan demikian, dari perspektif teori dinamika sistem (dynamic of system theory),jelas kehadiran Satgas merupakan kreasi para aktornya untuk “menantang” Panitia Hak Angket. Hal ini juga didukung oleh bukti diakronik dan fakta sinkronik. Secara diakronik, kita mendapati waktu yang berdekatan antara pembentukan Satgas dan pelaksanaan hak angket Bank Century. Melalui rapat paripurna pada Selasa, 1 Desember 2009, DPR RI menyetujui usul menggunakan hak angket (penyelidikan) kasus dana talangan Bank Century senilai Rp6,7 triliun.

    Adapun pembentukan Satgas diresmikan pada Rabu,30 Desember 2009, melalui sebuah keppres. Satgas diberi tenggat waktu selama 2 tahun untuk menuntaskan mafia hukum. Secara sinkronik, kehadiran Yunus Husein (Ketua PPATK) dalam Satgas merupakan salah satu fakta yang menyinkronkan kepentingan pembentukan Satgas dengan pelaksanaan hak angket Bank Century. Sepertinya pemerintah sudah memiliki asumsi awal bahwa kasus-kasus yang mesti ditangani adalah yang menyangkut penyalahgunaan dalam bidang keuangan, terutama yang dilakukan oleh orang atau pihak yang mendukung hak angket Bank Century.

    Itu sebabnya kita mudah maklum, menjelang pengumuman hasil akhir hak angket beberapa waktu lalu, orang atau pihak yang menyuarakan penyelewengan bailout Bank Century dan diduga bermasalah dengan keuangan diungkap ke permukaan. Tak urung, keseimbangan opini publik pun relatif tercapai antara yang pro dan kontra hak angket Bank Century.

    Meta Komunikasi Politik

    Membaca aksi politik Satgas melalui teori dinamika sistem (dynamic of system theory) memang menarik, penting, sekaligus menggelitik. Menarik karena kehadiran Satgas tidak ubahnya sebagai permainan politik. Sebagai permainan, para pemainnya dapat mengatur apakah permainannya ingin menarik ditonton ataukah membosankan; dilakukan secara fairplayataukah tidak? Penting karena setiap permainan selalu ada akhirnya.Bagaimanakah nanti akhir permainan politik Satgas setelah dua tahun bekerja? Untuk tugas aslinya: seberapa banyak output (dari jumlah kasus yang ditangani) yang akan dihasilkan?

    Sekuat apakah out-come(dari efek jera yang ditimbulkan serta pemulihan kepercayaan pada lembaga peradilan) yang bisa dicapai? Untuk “tugas asalnya”––sesuai sudut pandang yang telah dijabarkan di atas; apakah Satgas akan mampu menghapus ingatan publik atas hasil hak angket Bank Century? Seberapa kontribusinya pada pencitraan pemerintahan SBY? Menggelitik karena dalam setiap permainan politik seperti diperankan Satgas selalu ada suara-suara yang tidak diucapkan,tetapi dapat didengar bahkan dirasakan.Mengacu pada bukti diakronik dan fakta sinkronik, inilah tampaknya yang menjadi meta komunikasi politik Satgas. Bahwasanya Satgas akan setia “mengawal” rekomendasi hak angket Bank Century dengan cara mengungkap “kasus hukum” orang atau pihak yang mendukung hak angket. Masa kerja dua tahun kiranya waktu yang dianggap cukup jika proses kasus Bank Century harus masuk ke ranah hukum.

    Seperti halnya dengan fenomena lain, kehadiran dan kiprah Satgas bisa dibaca dari berbagai sudut pandang.Andaikan pembacaan dengan teori dinamika sistem (dynamic of system theory) ini benar adanya, tentu saja sangat disayangkan karena hal itu tidak menjanjikan apa-apa kecuali kekuasaan belaka.Yang dinginkan oleh kita semua adalah tegaknya keadilan bagi semua sebagaimana terkandung dalam makna keadilan itu sendiri: menempatkan sesuatu pada tempatnya, menempatkan Satgas untuk pemberantasan mafia hukum, bukan untuk pengalihan isu dan pencitraan. Semoga.(*)

    Prof Dr Ibnu Hamad, MSi
    Guru Besar di Departemen Komunikasi FISIP UI

    Sumber resmi yang diblok: Seputar Indonesia, http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/318545/

    Sumber resmi yang dicached sama Google: Seputar Indonesia, http://74.125.153.132/search?q=cache:f6GueshRaHkJ:www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/318545/+%22ibnu+hamad%22,%22meta+komunikasi+politik%22&cd=3&hl=en&ct=clnk&client=opera

    Sumber resmi yang dipublikasi-ulang: Uni Sosial Demokrat, http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=11833&coid=3&caid=31

     
  • Virtual Chitchatting 11:59 AM on 2010/04/15 Permalink
    Tags: blind men and an elephant, non-structural solutions, partial solutions, patchy solutions,   

    The subjects of corruption: Lack of political good will or competence or just dumb leaderships? 

    My comment:

    Like always and usual, the incompetent president reveals his dumb leadership in setting just score, but blind-folded like the horse eyeglasses looking at the intended pathways set by his surrounding allies whispering the road to absurd silliness, stupidity. He is just one of many blind men defining an elephant.

    Each blind man touches a different part, but only one part, such as the side or the tusk. They then compare notes on what they felt, and learn they are in complete disagreement. The story is used to indicate that reality may be viewed differently depending upon one’s perspective, suggesting that what seems an absolute truth may be relative due to the deceptive nature of half-truths. Each was partly in the right. And all were in the wrong.

    Rabu, 14 April 2010 00:00 WIB

    Arah Skandal-Skandal Koruptif

    SKANDAL korupsi mulai terbuka semakin membahana. Bukan cuma satu-dua, melainkan langsung sangat banyak secara berbarengan dan bersamaan. Boleh jadi, tidak dapat dimungkiri, kasus Century merupakan berkah besar bagi terbukanya skandal-skandal korupsi lainnya ini. Bergulirnya kasus Century ke pansus ternyata diiringi dengan terbukanya berbagai kasus, semisal pengemplang pajak, kasus L/C fiktif, dan kasus-kasus lainnya.

    Boleh jadi, berkah Century juga hadir sehingga ada percepatan penanganan perkara suap Deputi Gubernur Bank Indonesia. Kasus Century juga merupakan skandal yang banyak ditengarai sebagai pangkal kejadian cecak versus buaya yang akhirnya melahirkan tokoh Susno Duaji serta dibuatnya Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia Hukum. Belakangan, Susno Duaji dan satgas banyak terlibat di kasus mafia pajak ala Gayus. Tidak hanya sampai di situ. Terjadi pertarungan antarjenderal, semacam ‘perang bintang’ di kepolisian. Bahkan terungkap makelar-makelar kasus lainnya yang katanya biasanya hingga berkantor di kepolisian. Ada beberapa jaksa yang dihentikan sementara dari jabatan mereka. Di Ditjen Pajak juga demikian. Beberapa mantan petingginya juga mulai di kejar. Bahkan, dari tajuk makelar kasus ini juga lahir persengketaan makelar kasus palsu antara kepolisian dan salah satu TV swasta nasional.

    Hampir semua sektor telah mulai menjadi sasaran. Hampir semua pihak yang terlibat juga telah mulai memberikan catatan. Pada saat yang sama, pihak-pihak yang terlibat telah melakukan langkah-langkah tertentu dengan tujuan tertentu. Namun, suara kencang itu terkesan riuh, bahkan boleh jadi terlalu bising. Di titik tertentu, mulai ada banyak yang terungkap, tetapi pada saat yang sama ada yang tidak terungkap dan semakin gelap.

    Catatan kemampuan

    Menarik untuk melihat kesemua keriuhan tersebut dalam skema kemampuan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di negeri ini untuk menyelesaikan berbagai skandal tersebut. Semua perkara tersebut tentunya wajib bermuara ke penegakan hukum. Sayangnya, lembaga-lembaga ini sulit untuk dikatakan sehat.

    Kejaksaan terlihat sangat gagap dalam melihat kelindan persoalan skandal-skandal ini. Meski telah memberhentikan beberapa jaksa dari jabatannya dalam kasus Gayus, bukan berarti telah melaksanakan penegakan hukum yang pas. Mereka diduga melanggar dalam kapasitas menangani perkara dan bukan karena memegang jabatan struktural di kejaksaan. Tentunya, seharusnya jaksa-jaksa tersebut tidak diberhentikan sementara secara keseluruhan dan bukan sekadar dari jabatan struktural. Mereka ditengarai melakukan sesuatu dalam menangani perkara dan karenanya selayaknya diberhentikan sementara untuk memegang perkara.

    Ini merupakan potret kegagapan yang selalu berulang. Hampir di setiap kejadian yang melibatkan kejaksaan, momen pembenahan selalu terlewat dan hanya mempertontonkan kegagapan.

    Kepolisian juga terasa sulit untuk diandalkan. Nyanyian Susno secara jelas menunjukkan betapa kepolisian terlihat lebih banyak melakukan pembelaan dan menutup diri. Nyanyian Susno dilawan dengan pencemaran nama baik. Bahkan, semakin nyaring nyanyian Susno, beberapa hal semakin tidak jelas. Tuduhan Susno tidak saja menunjuk hidung pemain bersama Gayus, tetapi juga makelar kasus semipermanen di kepolisian. Tersebutlah nama yang kemudian dianggap sebagai ‘don’ mafia perkara. Sebutan terhadap beberapa nama petinggi semakin meninggikan suhu pertentangan di kepolisian dan semakin merendahkan tingkat kepercayaan publik atas institusi ini.

    Pengindependenan penanganan perkara mafia pajak tidak menjamin penuntasan secara keseluruhan. Nyanyian Susno telah lebih lepas dan luas jika dibandingkan dengan daya jelajah keterbukaan melalui pengindependenan penanganannya. Sering kali, perkara macam ini hanya dijadikan model defensif kelembagaan dan selalu gagal dijadikan batu pijakan perbaikan.

    Mahkamah Agung juga belum kunjung memperlihatkan pemihakan yang berarti untuk mengawal penegakan hukum atas skandal-skandal koruptif. MA masih lebih nampak sebagai Mahkamah Ajaib, dalam istilah Saldi Isra. Di tengah hiruk pikuk ini, putusan MA untuk mengurangi masa tahanan Artalyta tentunya menjadi warning system sulitnya memberikan kepercayaan besar penegakan hukum di lembaga ini. Alasan mengurangi hukuman terlalu dibuat-buat dan terasa debatable.

    Pola ad hoc macam satgas juga tentunya punya peran, tetapi masih sangat terbatas. Memang sulit untuk memaksa satgas menyelesaikan semua persoalan mafia hukum di negeri ini. Namun, bukan berarti hanya berpikir pada yang big fish. Apalagi ketika derajat big fish itu hanya ditentukan secara sepihak dan tanpa kriteria yang jelas. Padahal, yang kecil-kecil juga tetaplah mafia hukum yang butuh penanganan dan perbaikan.

    Artinya, satgas dengan kewenangan terbatas, daya jelajah terbatas, serta waktu yang terbatas semakin menunjukkan gaya pemberantasan mafia hukum bermodel quick wins. Kemenangan cepat selalu diharapkan sehingga cenderung tanpa cetak biru yang jelas perihal bagaimana menyelesaikan para mafia secara baik hingga mampu menyentuh akar-akarnya. Satgas telah berada pada satu jalur yang cukup pas, tetapi bukan berarti tidak perlu ada tagihan pada pemerintah untuk menjelaskan road map pemberantasan mafia hukum secara keseluruhan. Ketiadaan road map yang jelas hanya menggambarkan tingkat keseriusan yang pragmatis dalam model penegakan hukum dan pemberantasan korupsi terkhusus perihal mafia hukum.

    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menyimpan misteri tersendiri. Meski terbaik di antara lembaga penegakan hukum yang ada, tetap saja belum menunjukkan peran optimal. Dalam banyak perkara, kehadiran KPK masih terasa mubazir. Hadir, tetapi belum dapat digunakan secara baik.

    Sokongan dan keterbukaan

    Di tengah keriuhan tersebut, menebak arah penyelesaian skandal-skandal pajak terlihat masih terlalu sulit. Masih banyak petunjuk arah yang tidak jelas. Sering kali terasa suram berlatar buram. Sokongan yang diharapkan juga masih dalam porsi yang terlalu kecil.

    Berharap dukungan DPR dan pemerintah dalam menyelesaikan ini tentunya juga merupakan harapan walau masih harus dinantikan. Inisiatif DPR untuk membuat pansus pajak tentunya punya kemungkinan fifty-fifty, antara solusi atau distorsi. Sekadar mengingatkan, jika pansus kembali dibentuk untuk kasus pajak, pertarungan yang tercipta sangat mungkin mengulang lagi pertarungan besar di kasus Century. Meski dengan peta yang boleh jadi berubah, termasuk pergeseran aktor ‘antagonis’ dan ‘protagonis’, tetapi akan melibatkan aktor-aktor yang itu-itu juga. Yang paling ditakutkan tentunya adalah terciptanya pertarungan politik di pansus pajak akhirnya meluas menjadi ajang damai untuk kasus Century. Kotak Pandora yang telah terbuka lebar akibat kasus Century mungkin akan sulit terjaga.

    Jalan yang paling aman boleh jadi adalah membuka akses seluas-luasnya bagi lembaga-lembaga lain yang berperan dalam penegakan hukum. Lembaga inilah yang harus diberdayakan dan didorong untuk penanganan kuat. Komisi kepolisian untuk kepolisian, Komisi Kejaksaan untuk kejaksaan, Komisi Yudisial untuk Mahkamah Agung, dan KPK untuk pelumas penyelesaian perkara penting untuk mengambil peran.

    Pemerintah dan DPR harus memaksa lembaga-lembaga penegakan hukum ini untuk membuka diri. Tidak boleh ada kendala psikologis lembaga-lembaga ini untuk membuka diri dikerjakan oleh lembaga-lembaga lainnya. Semua aturan dan keputusan harus dibuat ke arah tersebut. DPR dan pemerintah harus menjadi pelindung untuk sokongan ke arah tersebut.

    Dukungan DPR dan pemerintah ke arah ini sangat penting karena itulah arah yang diharapkan. Arah yang berpotensi untuk menyelesaikan skandal-skandal koruptif tersebut. Karena itu, mari mencoba menuju arah tersebut.

    Oleh Zainal Arifin Mochtar

    Pengajar Ilmu Hukum dan Direktur Pukat Korupsi FH UGM Yogyakarta

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/14/135851/68/11/Arah-Skandal-Skandal-Koruptif

    Selasa, 13 April 2010 00:01 WIB

    Fenomena Gayus dan Pemberantasan Korupsi

    Sebetulnya bagi saya aneh sekali kalau modus operandi korupsi yang dilakukan Gayus Tambunan disebut modus baru dalam praktik perkorupsian di Indonesia. Sebagaimana diketahui, pemberantasan korupsi di Indonesia sudah lama dilakukan.

    Dari awal periode zaman Soekarno sampai saat ini pemberantasan korupsi dapat dikatakan tidak berhasil tuntas kendatipun dalam berbagai pidato person yang bertanggung jawab untuk memberantasnya, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, beliau terkesan sangat serius. Bahkan ada yang menyatakan, “Saya yang terdepan dalam pemberantasan korupsi.”

    Namun, apa yang dulu terjadi pada era Soekarno dan yang terjadi saat ini, seperti yang dilakukan Gayus Tambunan, tidak pernah berhenti dan terus terjadi dalam intensitas serta kompleksitas yang semakin rumit.

    Kita belum pernah mendapatkan studi komprehensif tentang praktik korupsi di Indonesia, kecuali hanya tentang indeks korupsi yang merupakan persepsi masyarakat tentang praktik korupsi di Indonesia dari beberapa sektor yang diteliti. Survei ini pun tidak dilakukan pemerintah, tetapi swasta asing. Kalau memang pemerintah atau DPR serius, sudah selayaknya ada upaya melakukan penelitian korupsi yang komprehensif, jangan hanya teori dan pendapat orang asing saja, atau dalam pidato-pidato politik, khususnya era kampanye, yang sedikit pun tidak memengaruhi pemberantasan korupsi.

    Kendatipun sebenarnya tidak ada penelitian secara teoretis tentang itu yang sudah terbukti dilaksanakan di beberapa negara, pemberantasan korupsi dapat dikatakan gampang jika ada kemauan yang sangat sungguh-sungguh, bukan setengah-setengah dari ‘penghulu’ sarang korupsi, yaitu ‘pemegang kekuasaan eksekutif’, persisnya Presiden.

    Jika Presiden tidak sungguh-sungguh dan hanya berdiri di depan, tidak langsung masuk ke sarang korupsi, tetapi melalui lembaga-lembaga yang belum tentu ampuh untuk menyerang kekuatan besar itu, dapat dikatakan perang melawan korupsi tidak akan berhasil.

    Kita sudah mengalami selama 65 tahun merdeka, persepsi dan pengamatan kita tentang korupsi semakin merajalela. Korupsi adalah kanker dan belum ada obat ampuh untuk mematikannya 100%. Dia adalah penyakit yang sangat ganas, yang bila saja kita lengah mengintai dan memberantasnya, dia akan menjalar dan menular dengan cepat, dengan eskalasi yang sukar ditandingi seperti yang terjadi di negara ini.

    Pada era SBY saat ini pendekatan yang dipakai ialah pendekatan ‘seolah-olah’, verbal, kelembagaan, regulasi, dan UU. Dengan eksistensi ini semua, dapat diklaim seolah-olah pemberantasan korupsi sudah dilakukan tanpa melakukan evaluasi langsung terhadap hasilnya.

    Bahkan aneh sekali jika Presiden, dalam satu pidatonya sewaktu kunjungan kerja di Tanjung Priok beberapa tahun lalu, menyatakan, Kebangetan kalau praktik korupsi masih ada di Indonesia. Ini bermakna bahwa memberantas korupsi, menurut penanggung jawab pemberantasan korupsi sesuai Tap MPR 1998, sudah seolah-olah selesai dengan kelengkapan institusional seperti Tap MPR, UU, BPKP, BPK, KPK, Tipikor, Komisi Judisial, Satgas Pemberantasan Mafia, Ombudsmen, irjen, pidato, dan imbauan.

    Kenyataannya, sikap ini dijawab tanpa tedeng aling-aling dengan kasus Gayus Tambunan, seorang pegawai golong III A yang memiliki omzet korupsi sekitar Rp25 miliar. Ini pun baru yang diketahui. Saya yakin lebih banyak yang belum diketahui dan masih banyak oknum lainnya yang tidak diketahui tetapi benar-benar melakukannya, baik di Ditjen Pajak, Bea Cukai, Perbendaharaan, DPR, BI, kepolisian, kejaksaan, kehakiman, maupun kementerian, sebagaimana telah terbongkar di beberapa kasus di pengadilan ataupun penyidikan KPK.

    Sekali lagi, aneh sekali kalau seorang Presiden menganggap bahwa masalah korupsi sudah selesai di Indonesia dengan keberadaan institusi itu (KPK), dan ini sudah jelas terbantahkan dengan kasus Gayus Tambunan.

    Pertanyaan yang mendasar, kenapa Presiden begitu yakin seolah-olah korupsi tidak ada lagi di Indonesia? Apakah beliau tidak mendapatkan informasi yang benar dan baik dari staf, berita, atau informasi informal lainnya?

    Dengan meminjam istilah Eep Saefulloh Fatah, ini karena ‘kaca rabun’. Beliau tinggal di tempat yang dikelilingi kaca rabun sehingga tidak bisa melihat keadaan yang sebenarnya karena staf dan sistem yang dibangunnya, termasuk UU protokol, tidak memungkinkan beliau melihat fakta yang sebenarnya.

    Saya yakin beliau berpendapat bahwa tidak ada kemacetan di Jakarta karena beliau bisa melewati jalan di Jakarta dengan kecepatan 120 km per jam tanpa macet. Berbeda dengan yang dialami rakyat, hanya 5 km yang bisa ditempuh dalam 2 jam.

    Namun, kenapa kasus korupsi yang begitu masif dan dialami semua orang, baik dalam skala kecil maupun besar, entah berupa joke entah informasi, termasuk saya yakin keluarga dan staf dekat beliau juga mengetahuinya, tidak diyakini ada? Mengapa?

    Jawabannya aneh sekali jika beliau tidak tahu, bahkan bukankah beliau juga pernah menyatakan bahwa dalam berbagai pertemuan internasional tingkat tinggi hal itu selalu bisa jadi lelucon pemimpin negara lain? Masa pemimpin negara lain tahu Presiden kita tidak tahu?

    Dari dua fenomena ini, pertama, sikap ‘seolah-olah’ Presiden, dan kedua, terbongkarnya kasus Gayus Tambunan, dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya kita tidak serius dalam pemberantasan korupsi. Yang serius hanya institusi dan UU yang sebenarnya pasif dan mati, bukan orang yang bergerak aktif dan bukan pula penanggung jawab tertinggi dan paling efektif dalam pemberantasan korupsi, yaitu kepala eksekutif.

    Pemberantasan penyakit akut korupsi seperti kanker ganas, tidak cukup dengan pendekatan lepas tangan, seolah-olah, atau berdiri di garis terdepan. Pada saat yang sama orang yang di belakang bermain tanpa dilihat orang yang berdiri di garda depan.

    Pengalaman mantan Kapolri Hoegeng Iman Santoso sebenarnya bisa menjadi pelajaran bagi kita, baik sikap kesederhanaan, tanpa ambisi politik, kejujuran, kekuatan moral, konsistensi, sikap di rumah tangga, maupun sikap kepada keluarga. Beliau tidak hanya terjun ke lapangan, menyamar dan menangkap basah praktik korupsi. Tidak hanya dengan pidato, bahkan dengan ancaman pistolnya beliau menyuruh oknum yang menyogoknya menarik barang sogokan yang dikirimkan kepadanya.

    Artinya, perlu upaya yang tidak biasa untuk menolak praktik korupsi, bahkan dengan ancaman nyawa sekalipun. Kehidupan yang sederhana, bersih, dan keteladanan kepada bawahan membuat beliau menjadi salah satu yang bisa kita teladani di era saat ini.

    Pelajaran yang dapat kita ambil dalam perjalanan pemberantasan korupsi di Indonesia ialah bahwa apa pun yang sudah dilaksanakan selama ini ternyata tidak berhasil sepenuhnya. Memang ada yang tertangkap, tetapi lebih banyak yang belum tertangkap.

    Memang praktik korupsi masa lalu banyak yang diangkat, tetapi praktik korupsi sekarang dan akan datang masih terus berjalan dengan intensitas dan kecanggihan yang lebih rapi. Institusi sudah banyak, bahkan terlalu banyak, tapi kadang justru yang diharapkan untuk memberantasnya justru pelaku institusi, bukan institusinya.

    Yang belum kita lihat ialah kesungguhan yang serius, bukan hanya pendekatan ‘seolah-olah’ dari Presiden melalui keterlibatannya secara langsung, tidak hanya melalui pencitraan dan pidato sesaat yang tidak berpengaruh sedikit pun serta tidak menimbulkan ketakutan pada pelakunya, yang umumnya berada dalam lingkup kekuasaan yang sangat bisa ia jangkau.

    Oleh Sofyan S Harahap

    Guru Besar FE Universitas Trisakti

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/13/135513/68/11/Fenomena-Gayus-dan-Pemberantasan-Korupsi

    Seputar Indonesia, Wednesday, 14 April 2010

    Membaca (Kembali) Susno Duadji

    Dramatis dan menegangkan. Demikianlah bila kita melihat seorang jenderal polisi berbintang tiga “ditangkap” oleh beberapa perwira menengah berpangkat komisaris besar (kombes), di sebuah sore di sudut Bandara Soekarno-Hatta.

    Adegan ini bertambah dramatis ketika seorang jurnalis yang secara “kebetulan” mendapati momen ganjil tersebut coba dihalanghalangi oleh pihak kepolisian maupun keamanan bandara. Setelah melalui perdebatan sengit dan saling dorong,Komjen Susno Duadji akhirnya memilih surut langkah dari rencananya bepergian ke Singapura untuk melakukan medical check-up.

    Mantan kepala Badan Reserse Kriminal Polri ini akhirnya “menyerah” di tangan para juniornya yang menangkapnya tanpa surat perintah penangkapan. Alasannya sungguh sangat sederhana.“Panglima tinggi nonjobini dianggap tertangkap tangan melanggar disiplin karena bepergian ke luar negeri tanpa mengantongi surat izin dari atasannya, Kapolri.”

    Pelanggaran izin terakumulasi bersama sederet tuduhan pelanggaran kode etik kepolisian yang dialamatkan kepadanya. Meski pada akhirnya Susno Duadji dilepaskan menjelang tengah malam, kasus ini telanjur telah terekam dengan baik dalam ruang batin segenap rakyat Indonesia yang bisa menyaksikannya dengan mata telanjang.

    Tersisa sejuta tanya mengapa seorang jenderal diperlakukan dengan cara berlebihan, sekadar untuk sebuah pelanggaran disiplin? Tidakkah ada cara-cara lain yang lebih “layak dan cerdas”untuk menegakkan kode etik tersebut tanpa harus membuat rakyat menghela nafas keprihatinan? Tidakkah pula ada skenario lain yang tengah dimainkan dalam hiruk-pikuk ini?

    Sosok Kontroversial

    Tampaknya sulit untuk memisahkan ditangkapnya mantan ”Truno 3” ini dari keberaniannya menjadi “whistle blower”kasus makelar kasus (markus).Kesaksiannya bahwa di Markas Besar Polri terdapat markus kelas kakap yang melibatkan petinggi Polri dalam kasus perpajakan memang berbuntut panjang. Meski risikonya tidak sederhana, karier dan nyawa sebagai taruhannya, tampaknya jenderal kelahiran Pagaralam, 1 Juli 1954, ini bergeming.

    Dia bahkan berjanji akan membongkar kasus yang lebih besar di institusinya.Tentu dengan aktor yang juga lebih besar pula. Beragam spekulasi lantas mengemuka. Mulai soal sakit hati, dendam, konflik internal para bintang di Polri, hingga soal post power syndrome karena dipaksa berhenti dari posisi sebagai kepala Badan Reserse Kriminal. Etiologi mengapa Susno melakukan semua ini memang menarik dicermati. Secara pasti, hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang tahu.

    Kita, publik, paling hanya bisa melihatnya dari perilaku yang tampak (overt behavior). Untuk mengkaji motivasi dan dinamika psikologis yang melatari keberanian seorang Susno, kita perlu menelusurinya melalui profil psikologis (psychological profile), yang meliputi karakter dan kepribadian subjek.Analisis terhadap rekam jejak (track reccord), sejarah kehidupan, latar belakang keluarga, masa kecil, pemikiran, perkataan dan perbuatan juga bisa membantu menguak selubung misteri ini.

    Secara fisik,apabila kita menggunakan pendekatan tipologi Kretschmer (Suryabrata, 1983) dengan mudah kita mencandra Susno Duadji sebagai individu berkonstitusi piknis,dengan sifat fisik badan agak pendek, dada membulat, perut besar,leher pendek dan kuat, banyak lemak sehingga urat dan tulang tak terlihat nyata.

    Individu yang berkonstitusi piknis ini biasanya diasosiasikan denganpribadiyangbertipe cyclothym. Biasanya mereka mudah bergaul, mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, mudah untuk turut merasa suka dan duka,dan jiwanya terbuka.Dia biasanya adalah individu yang “easy going”dan pemberani dalam setiap langkahnya.

    Publik Membaca

    “Jalmo tan keno kiniro.” Kearifan lokal (local wisdom) dari Tanah Jawa yang berarti bahwa manusia memang tidak pernah bisa diduga, agaknya tepat untuk mengkaji dinamika kasus Susno Duadji. Usai menjadi tokoh antagonis dalam lakon Cicak vs Buaya karena disangka melakukan rekayasa kasus Bibit-Chandra dan diduga menerima fee Rp10 miliar dari deposan kakap Bank Century,kini Susno justru mendulang simpati besar.

    Keberaniannya membuka markus yang melibatkan segi tiga emas— Polri, Direktorat Pajak, dan pengadilan— membuat publik banyak berharap padanya. Sekian lama publik mengalami apa yang disebut oleh Leon Festinger (Walgito, 2010) sebagai disonansi kognitif (cognitive dissonance). Elemen kognitif yang mencakup pengetahuan, opini, kepercayaan terhadap institusi Polri,ternyata berbenturan antara idealita dengan realita.

    Secara ekstrem nyanyian sumbang Susno di depan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum dan di Komisi III DPR memperbesar disonansi tersebut.Polri yang semestinya menjadi institusi penegak keadilan ternyata justru mengkhianati amanat rakyat yang agung itu. Ketidakpercayaan (distrust) yang diidap sekian lama oleh publik terhadap lembaga penegak hukum seakan tersuarakan oleh mantan kepala Polda Jawa Barat ini.

    Sesungguhnya, apabila Polri serius hendak berbenah,pengakuan Susno ini adalah modal untuk mereduksi (mengurangi) disonansi kognitif publik tersebut.Ketika informasi yang dibawa Susno adalah serangkaian fakta, Polri hendaknya menindaklanjuti itu dengan serius dalam konteks penegakan keadilan sesuai dengan ekspektasi publik. Namun ceritanya tentu saja akan lain apabila Polri tetap “keukeuh” menutup diri dan sengaja melakukan pembiaran untuk membesarnya distrustdalam ruang batin masyarakat.

    Kita tidak boleh lupa bahwa apa yang disuarakan Susno adalah apa yang selama ini menjadi “gerundelan”masyarakat. Susno kini menjadi aset publik yang kepadanya publik banyak berharap. Menilik psikologi masyarakat kita yang cenderung melankolis, simpati publik justru akan membesar terhadap sosok yang dipersepsikan “dizalimi” oleh sebuah kekuatan besar. Terlebih ketika apa yang dinyatakannya, ternyata terbukti sebagai fakta. Publik pun mencari ruangruang untuk mengekspresikan dukungan tersebut.

    Selain dengan unjuk rasa, jejaring sosial di dunia maya semacam Facebook adalah pilihan ruang publik yang sangat efektif. Meski bukan parameter utama sebuah kebenaran,hendaknya kita belajar dari kekuatannya sebagai penggerak dukungan masyarakat. Usai penangkapan, dukungan terhadapnya di grup “Dukung Susno Duadji untuk Kebenaran”, misalnya, semakin melonjak dengan penambahan penggemar hingga mencapai puluhan ribu hanya dalam waktu beberapa jam.

    Penangkapan Susno dengan dalih penegakan disiplin dan kode etik, menurut hemat penulis, justru akan menjadi blunder bagi institusi Polri ketika kita melihatnya dari perspektif psikologi sosial. Kredibilitas lembaga kepolisian di mata rakyat benar-benar dipertaruhkan. Perlakuan yang dianggap “berlebihan” justru menambah luka dan kekecewaan dalam ruang batin rakyat yang kadung membangun rasa tidak percaya (distrust) terhadap institusi penegak hukum bernama kepolisian.

    Senyampang belum berubah menjadi amarah, sentilan mesra tanda cinta dari rakyat hendaknya dikelola secara apik dan bijaksana. Dibutuhkan kepekaan, keseriusan, dan langkah empatik-strategis untuk mengelola “Susno Duadji”, guna memperbaiki citra dan kinerja Polri dalam menegakkan hukum dan keadilan,sebagaimana titah rakyat.(*)

    Achmad M Akung
    Dosen Fakultas Psikologi
    Universitas Diponegoro Semarang

    Sumber: Seputar Indonesia, http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/317529/

     
  • Virtual Chitchatting 11:19 AM on 2010/04/15 Permalink
    Tags: , , structural corruption   

    The predicates or conducts or M.O. of corruptions: The persisting groups 

    My comment:

    Like always, the corrupted hearts, minds, and souls justify their hidden evil interests. The intention to corrupt has been set neatly in order to gain legitimate access. Look at the persistent groups revealing the rigid, stiff, and obsolete rules of law. They are who persist that the intention of law can not be broken, unless amended. They are scum bags.

    Rabu, 14 April 2010 12:28 WIB

    Makelar Pemekaran Daerah Terendus

    Penulis : Kennorton Hutasoit

    JAKARTA–MI: Anggota Komisi II DPR RI Basuki T Purnama dari Fraksi Partai Golkar mencium adanya aroma makelar pemekaran daerah di DPR RI. Namun, hal itu sulit diungkap karena praktiknya rapi dan tersembunyi.

    “Praktik makelar ini pun berlanjut hingga daerah pemekaran terbentuk. Pelakunya ada oknum DPD (Dewan Perwakilan Daerah) dan DPR,” kata mantan Bupati Belitung Timur itu di Jakarta, Rabu (14/4).

    Basuki mengatakan setelah daerah pemekaran terbentuk, ada anggota DPD/DPR yang menjadi calo menawarkan pengurusan anggaran dana dekonstrasi. “Jeleknya, kalau tak dilayani, daerah pemekaran itu tak dikasih anggaran. Calo anggaran itu ada oknum DPD dan DPR,” ujarnya.

    Para calo tersebut terutama menawarkan anggaran kesehatan dana dana dekonstrasi untuk kabupaten/kota. “Waktu saya Bupati Belitung Timur, saya tolak praktik calo itu, biar anggaran yang ada saya gunakan untuk pelayanan masyarakat,” ungkapnya. (Ken/OL-04)

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/14/135959/3/1/Makelar-Pemekaran-Daerah-Terendus

    Rabu, 14 April 2010 12:10 WIB

    Komisi II DPR Debat tentang Moratorium Pemekaran Daerah

    Penulis : Kennorton Hutasoit

    JAKARTA–MI: Komisi II DPR RI terbelah menyikapi sikap Pemerintah yang menyatakan moratorium pemekaran daerah. Dua pimpinan Komisi II menolak moratorium itu karena UU membolehkan pemekaran. Sebaliknya, sebagian anggota mendukung moratorium karena pemekaran gagal dan harus grand desaign berdasarkan evaluasi dulu.

    Dua Wakil Ketua Komisi II yakni Ganjar Pranowo (F-PDIP) dan Teguh Juwarno (F-PAN) menolak moratorium karena tak ada dasar hukumnya. Sebaliknya, anggota Komisi II DPR Arif Wibowo mendukung moratorium tersebut.

    “Moratorium dasarnya apa? Kalau dirasa perlu, UU Pemda harus direvisi. Kalau moratorium, tapi aturannya membolehkan, enggak boleh ngomong begitu kalau undang-undangnya menganga,” ujarnya di Jakarta, Rabu (14/4).

    Menurut Ganjar, sebenarnya, moratorium itu harus berdasarkan kesepakatan politik. “Silakan saja moratorium, tapi harus ada payung hukumnya. Boleh perppu atau merevisi Peraturan Pemerintah,” ujarnya.

    Teguh mengatakan moratorium harus mempunyai payung hukum berupa perppu. “Tidak bisa berupa Peraturan Pemerintah karena UU Pemda sendiri membolehkan pemekaran,” ujarnya.

    Arif menilai DPR yang mempersoalkan payung hukum moratorium hanya debat kusir yang tak ada artinya. “BPK dan Bappenas sudah menyatakan daerah pemekaran gagal. DPR dan Pemerintah juga sudah sepakat agar daerah pemekaran dievaluasi. Moratorium ini kan tidak selamanya, tapi menunggu ada hasil evaluasi saja,” tegasnya.

    Hasil evaluasi, ujar Arif, nanti menjadi dasar atau acuan untuk pembentukan daerah pemekaran. “Hasil evaluasi itu nanti yang menjadi acuan untuk menentukan apakah suatu daerah itu perlu dimekarkan atau daerah pemekaran itu digabung,’ ujarnya.

    Arif mengatakan terdapat 50 daerah yang bakal dimekarkan yang terdiri dari 20 daerah pemekaran menunggu ampres, 13 diajukan pembahasan di DPR, dan 17 sudah diajukan ke DPR sedang menunggu untuk dibahas. “Setelah Juli, sudah harus ada kepastian soal pemekaran setelah Pemerintah menyerahkan hasil evaluasi,” ujarnya. (Ken/OL-04)

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/14/135954/3/1/Komisi-II-DPR-Debat-tentang-Moratorium-Pemekaran-Daerah

    Selasa, 13 April 2010 16:45 WIB

    Cuma Dua Daerah Otonomi Baru Penuhi Kewajibannya (original title)

    Temuan BPK, Pemekaran Daerah Gagal (published title)

    Penulis : Marchelo

    JAKARTA–MI: Hasil pemeriksaan kinerja Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas program pemekaran daerah memperlihatkan bahwa sebagian besar daerah otonomi baru (DOB) gagal memenuhi kewajibannya selama masa transisi pemerintahan dari daerah induk ke DOB. Dari delapan daerah pemekaran yang menjadi sampel, hanya dua yang dianggap dapat memenuhi kewajibannya.

    Click more to read further: Small kings policy as a means to gain control throughout the country

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/13/135777/23/2/Cuma-Dua-Daerah-Otonomi-Baru-Penuhi-Kewajibannya-

     
  • Virtual Chitchatting 10:49 AM on 2010/04/15 Permalink
    Tags: , corruptible objects, ,   

    The objects of corruption: Do not allow the assessment to be taken noticed 

    My comment:

    Like always, monitored, evaluated, and assessed reports go the thrash can. There will not be any follow-up measures, and actions as well, to rectify the indicated corruption events. The full-fledged corruption permissivity is perceived as something to share with the surrounding neighbourhood, the esprit de corps, semangat bangkai.

    Selasa, 13 April 2010 21:47 WIB

    Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK belum Maksimal

    Penulis : Marchelo

    JAKARTA–MI: Tindak lanjut hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) masih menunjukkan hasil yang belum maksimal. Dari 128.898 rekomendasi senilai Rp 1.528,40 triliun pada semester II tahun anggaran 2009, hanya 61.711 rekomendasi (47,87%) senilai Rp 465,85 triliun yang telah ditindaklanjuti sesuai saran dan rekomendasi.

    “Hasil pemantauan pelaksanaan tindak lanjut mengungkapkan bahwa sampai dengan akhir semester II tahun anggaran 2009, terdapat 70.375 temuan senilai Rp 2.333,51 triliun dengan jumlah 128.898 rekomendasi senilai Rp 1.528,40 triliun,” kata Ketua BPK Hadi Poernomo dalam penyerahan ikhtisar hasil pemeriksaan dan laporan hasil pemeriksaan semester II tahun anggaran 2009 kepada DPR, Selasa (13/4).

    Sementara itu, 38.167 rekomendasi senilai Rp185,85 triliun belum ditindaklanjuti. Sisanya sebanyak 29.020 rekomendasi senilai Rp876,69 triliun masih dalam proses tindak lanjut.

    “Ada pun temuan pemeriksaan BPK yang berhasil ditindaklanjutin dengan penyetoran ke kas negara dan kas daerah selama proses pemeriksaan pada semester II tahun anggaran 2009 senilai Rp102,73 miliar,” lanjut Hadi.

    Senilai Rp9,15 miliar telah disetorkan ke pemerintah pusat dan Rp93,57 miliar disetor ke pemerintah daerah.

    Selain itu, BPK menemukan indikasi tindak pidana yang telah dilaporkan kepada instansi yang berwenang sebanyak 46 kasus senilai Rp730,45 miliar dan US$2,23 juta. Sebanyak 20 kasus senilai Rp216,54 miliar dan US$315,4 ribu disampaikan kepada kejaksaan. Sedangkan 26 kasus lainnya senilai Rp513,9 miliar dan US$1,91 juta disampaikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (*/OL-7)

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/13/135839/16/1/Tindak-Lanjut-Hasil-Pemeriksaan-BPK-belum-Maksimal

    Rabu, 14 April 2010 00:00 WIB

    BPK Temukan Indikasi Kerugian Negara Rp16,2 Triliun

    Ada 46 kasus senilai Rp730,45 miliar dan US$2,23 juta yang diindikasikan mengandung unsur tindak pidana.

    KETIDAKPATUHAN pada pengelolaan keuangan negara yang mengakibatkan kerugian atau potensi kerugian negara masih terus terjadi. Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap pengelolaan keuangan negara hingga semester II 2009 menunjukkan hal itu.

    Dalam temuan itu BPK mencatat bahwa akibat ketidakpatuhan pada pengelolaan dan tanggung jawab keuangan itu muncul kerugian, potensi kerugian, dan kekurangan penerimaan negara senilai Rp16,26 triliun. Angka itu berasal dari 4.494 kasus.

    Jika dibandingkan dengan temuan serupa pada semester II 2008, angka kerugian dan potensi kerugian negara pada 2009 memang turun. Pada pemeriksaan semester II 2008, BPK menemukan kerugian dan potensi kerugian negara mendekati Rp30 triliun. Itu artinya, pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara masih memerlukan peningkatan.

    “Di antaranya peningkatan kualitas penyusunan laporan keuangan, efektivitas pelaksanaan program dan kegiatan, kepatuhan terhadap perundang-undangan, serta efektivitas sistem pengendalian intern,” kata Ketua BPK Hadi Poernomo dalam penyerahan ikhtisar hasil pemeriksaan dan laporan hasil pemeriksaan semester II tahun anggaran 2009 kepada DPR, di Gedung Parlemen, kemarin.

    Pemeriksaan semester II/2009 difokuskan pada pemeriksaan dengan tujuan tertentu, pemeriksaan kinerja, selain menyelesaikan pemeriksaan keuangan atas 189 laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) 2008 yang belum diperiksa pada semester I/2009 serta satu LKPD pada 2007.

    Indikasi pidana
    Pada semester II 2009, BPK telah memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara pada pemerintah pusat, daerah, Bank Indonesia, lembaga atau badan lain, badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), badan hukum milik negara (BHMN), dan badan layanan umum (BLU) yang seluruhnya berjumlah 769 objek. Total temuan dari 769 objek yang diperiksa BPK sebanyak 10.498 kasus, senilai Rp46,55 triliun.

    Ia merinci objek pemeriksaan terdiri dari 194 objek dengan cakupan neraca aset senilai Rp246,43 triliun, kewajiban Rp3,93 triliun, serta ekuitas Rp342,29 triliun. Jumlah itu termasuk juga laporan realisasi anggaran (LRA) meliputi pendapatan senilai Rp130,59 triliun dan belanja atau biaya senilai Rp128,11 triliun.

    Dari 10.498 kasus tersebut, sebanyak 430 kasus telah ditindaklanjuti dengan penyetoran ke kas negara atau daerah sebesar Rp102,73 miliar. Penyetoran dilakukan selama proses pemeriksaan sampai dengan terbitnya laporan hasil pemeriksaan.

    Dalam pemeriksaannya, BPK juga menemukan adanya dugaan tindak pidana pada laporan keuangan pemerintah pusat dan daerah. Ada 46 kasus senilai Rp730,45 miliar dan US$2,23 juta yang diindikasikan ada tindak pidana.

    Atas temuan itu, BPK sudah melimpahkan kasus tersebut kepada lembaga yang berwenang. Sebanyak 20 kasus senilai Rp216,54 miliar dan US$315,4 ribu dilimpahkan ke Kejaksaan Agung, sedangkan untuk 26 kasus senilai Rp513,9 miliar dan US$1,91 juta disampaikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. (*/X-10)

    chelo@mediaindonesia.com

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/14/135893/265/114/BPK-Temukan-Indikasi-Kerugian-Negara-Rp162-Triliun

    Selasa, 13 April 2010 16:45 WIB

    Cuma Dua Daerah Otonomi Baru Penuhi Kewajibannya (original title)

    Temuan BPK, Pemekaran Daerah Gagal (published title)

    Penulis : Marchelo

    JAKARTA–MI: Hasil pemeriksaan kinerja Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas program pemekaran daerah memperlihatkan bahwa sebagian besar daerah otonomi baru (DOB) gagal memenuhi kewajibannya selama masa transisi pemerintahan dari daerah induk ke DOB. Dari delapan daerah pemekaran yang menjadi sampel, hanya dua yang dianggap dapat memenuhi kewajibannya.

    Click more to read further: Small kings policy as a means to gain control throughout the country

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/13/135777/23/2/Cuma-Dua-Daerah-Otonomi-Baru-Penuhi-Kewajibannya-

     
  • Virtual Chitchatting 10:13 AM on 2010/04/15 Permalink
    Tags: patrons, political power redistribution, small kings, William I   

    Small kings policy as a means to gain control throughout the country 

    My comment:

    The small kings, the patrons, is another public policy to spread the power throughout the country. Remember the policy implemented by William I as he conquered England.

    Selasa, 13 April 2010 16:45 WIB

    Cuma Dua Daerah Otonomi Baru Penuhi Kewajibannya (original title)

    Temuan BPK, Pemekaran Daerah Gagal (published title)

    Penulis : Marchelo

    JAKARTA–MI: Hasil pemeriksaan kinerja Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas program pemekaran daerah memperlihatkan bahwa sebagian besar daerah otonomi baru (DOB) gagal memenuhi kewajibannya selama masa transisi pemerintahan dari daerah induk ke DOB. Dari delapan daerah pemekaran yang menjadi sampel, hanya dua yang dianggap dapat memenuhi kewajibannya.

    Hal tersebut disampaikan Anggota VI BPK Sapto Amal Damandari pada jumpa pers penyerahan ikhtisar hasil pemeriksaan dan laporan hasil pemeriksaan semester II tahun anggaran 2009 kepada DPR, Selasa (13/4). “Dari delapan sampel, hanya dua, yaitu Cimahi dan Banjar, yang dianggap memenuhi kewajibannya selama masa transisi sesuai UU pembentukannya dan PP Nomor 6 Tahun 2008,” ungkapnya.

    Menurut Sapto, pada semester II tahun 2009, BPK memeriksa delapan daerah pemekaran, yaitu Cimahi, Banjar, Kabupaten Lebong, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Tanjung Pinang, dan Kabupaten Bintan.

    Ketua BPK Hadi Poernomo menyatakan bahwa hasil pemeriksaan kinerja oleh BPK atas program pemekaran daerah menunjukkan program yang dicanangkan sejak tahun 1999 belum memberikan kontribusi positif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kondisi ini diperkuat adanya indikator kinerja seperti aspek kesejahteraan, belanja modal, dan jumlah ketersediaan dokter masih di bawah rata-rata nasional seluruh kabupaten atau kota di Indonesia,” tambahnya.

    Dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II tahun 2009 BPK, kegagalan DOB tersebut disebabkan oleh pembiayaan DOB yang tidak diatur jelas dalam UU Pembentukan DOB dan dokumentasi tidak memadai. Pengalihan fisik aset, pengaturan batas wilayah, dan tidak lengkapnya sarana prasarana masih menjadi masalah.

    Atas permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan kepada Menteri Dalam Negeri agar segera melaksanakan evaluasi penyelenggaraan pemerintah daerah (EPPD) dan memanfaatkan hasilnya sebagai bahan pembinaan dan pengawasan serta berkoordinasi dengan kepala daerah induk dan kepala daerah otonom baru. (*/OL-04)

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/13/135777/23/2/Cuma-Dua-Daerah-Otonomi-Baru-Penuhi-Kewajibannya-

     
  • Virtual Chitchatting 10:03 AM on 2010/04/15 Permalink
    Tags: , ,   

    The subjects, predicates or conducts or M.O., and the objects of corruptions 

    My comment:

    S-P-O, Subject-Predicate-Object, was something we have learnt as we want to form a sentence. It should be clear and concise. The subject in this corruption matter is the people acting on behalf of the state, the state apparatus alias keparat negara. The corrupt behaviour can be indicated through the personal belongings, the personal assets of keparat negara.

    The predicate or the conduct or the modus operandi in this corruption matter is by cornering any corruptible people, instances, so they can make peace with keparat negara with under the table solution. The monkey business or the hanky panky of keparat negara has been perceived normal (and legitimate) as long as the corruptible parties can go on with their own businesses, messing around in the society.

    The object in the corruption matter starts from anything corruptible by keparat negara. The national/federal state budget, the regional/local state budget is an example. They are the annual rites to corrupt. The public policy to create small kings from regency/disctrict/kabupaten is another legitimate action to corrupt.

    Rabu, 14 April 2010 00:00 WIB

    Kejahatan Rekening Penyelenggara Negara

    REKENING bank kini menjadi modus kejahatan di kalangan penyelenggara negara. Dilakukan meluas, sistematis, dan terencana.

    Akan tetapi, secanggih-canggihnya kejahatan direncanakan, bau busuknya akhirnya tercium jua. Bau busuk itulah yang kini diendus Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Tak tanggung-tanggung, terdapat 1.100 rekening atas nama pribadi yang mencurigakan.

    Akan tetapi, baru 25 rekening yang sudah dilaporkan kepada Mabes Polri, Kejaksaan Agung, dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Dari 25 rekening itu, 15 di antaranya milik pegawai pajak dan 10 lainnya milik pegawai Bea dan Cukai.

    Namun, sejauh ini baru dua kasus pegawai pajak yang ditindaklanjuti, yaitu Gayus Tambunan dan Bahasyim Assifie.

    Rekening Gayus yang mencurigakan mencapai Rp28 miliar dan rekening Bahasyim jauh lebih besar lagi, Rp64 miliar.

    Mengapa hanya dua rekening yang ditindaklanjuti? Apakah PPATK hanya tukang monitor dan tukang lapor?

    Agaknya demikian. Agar terdengar lebih gagah, meminjam permainan sepak bola, PPATK hanya berfungsi sebagai gelandang, yang mengumpan bola matang ke mulut gawang.

    Di mulut gawang seharusnya sudah berdiri bebas Mabes Polri, Kejaksaan Agung, dan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk mengeksekusi umpan matang itu.

    Namun sayang, sangat disayangkan, belum ada kemauan institusi penegak hukum itu untuk menjebol gawang para penyelenggara negara yang diduga melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Bahkan, alih-alih menghabisi koruptor, aparat penegak hukum malah menjadikan penyelenggara negara bermasalah itu sebagai ATM berjalan.

    Institusi penegak hukum tidak hanya lambat mengusut rekening bermasalah milik pribadi aparatur negara. Penertiban terhadap rekening liar milik instansi pemerintah pun tidak ada kemajuan berarti. Sejak dibuka Badan Pemeriksa Keuangan pada 2007, penertiban rekening liar di bawah komando Kementerian Keuangan itu diperkirakan baru bisa tuntas pada 2011.

    Hingga Juni 2009, Tim Penertiban Rekening Pemerintah telah menertibkan 40.284 rekening bermasalah di kementerian/lembaga senilai Rp13,94 miliar dan US$774,99 juta.

    Dari rekening liar yang ditertibkan itu, Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan investigasi terhadap 260 rekening senilai Rp314,23 miliar dan US$11,02 juta yang memiliki indikasi penyimpangan atau diduga memenuhi unsur pidana korupsi. Akan tetapi, investigasi yang dilakukan itu hingga kini nyaris tak terdengar kelanjutannya.

    Sangat jelas, praktik penggunaan rekening liar tersebut melanggar hukum. Pejabat tidak dibenarkan mengumpulkan pungutan tanpa menyetorkannya ke kas negara sebagaimana diatur dalam UU 20/1997 tentang Penerimaan Negara bukan Pajak. Apalagi, pembuatan rekening itu tanpa persetujuan bendahara negara, dalam hal ini menteri keuangan, sebagaimana diamanatkan UU 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara.

    Sempurna sudah kejahatan rekening untuk menjarah uang negara yang dilakukan secara masif dan sistematis oleh individu dan institusi. Uang negara yang mestinya dipakai untuk sebesar-besarnya memakmurkan rakyat malah menguap triliunan rupiah setiap tahun tanpa bekas.

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/14/135897/70/13/Kejahatan-Rekening-Penyelenggara-Negara

    Pengadilan Pajak (3)

    Wajib Pajak Dijerat ke Ruang Negosiasi

    Rabu, 14 April 2010 00:00 WIB

    KASUS penyelewengan pajak yang dilakukan pegawai golongan IIIA Direktorat Jenderal Pajak Gayus Tambunan terjadi akibat banyaknya wilayah abu-abu yang tercipta pada sistem perpajakan Indonesia.

    Oknum-oknum itu memanfaatkan UU Perpajakan yang multitafsir untuk menekan wajib pajak kemudian menjerat mereka pada ruang negosiasi sengketa yang telah mereka siapkan.

    Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, jerat negosiasi itu bermula dari adanya perbedaan perhitungan (dispute) yang tercipta melalui penghitungan pajak. Dispute itu tak terelakkan lantaran masih banyak sekali wilayah abu-abu dasar perhitungan yang sangat bergantung pada penafsiran aparat pajak.

    Ruang multitafsir itu tercipta akibat banyak skema perhitungan dalam UU Perpajakan yang tidak saling bersinergi. Artinya, pengaturan mengenai dasar perhitungan pajak belum detail.

    “Dengan kondisi itu, aparat pajak pun bisa seenaknya mengenakan pajak tinggi-tinggi kepada para anggota Apindo melampaui perhitungan yang sebenarnya,” ujarnya ketika dihubungi, kemarin.

    Akibatnya, para pengusaha selama ini telah dianggap sebagai bandit oleh aparat pajak. Surat pemberitahuan pajak tidak dipercaya lalu aparat pajak memberikan tekanan.

    Sofjan mencontohkan masih banyak pengusaha yang hingga kini mengalami paksaan membayar pajak Rp10.000, sedangkan tagihan sebenarnya yang telah melalui proses audit konsultan pajak hanyalah Rp1.000.

    “Kalau kita tidak bisa menunjukkan bukti-bukti kuat alasan penolakan kita, ya kita harus terima atau maju bersengketa ke pengadilan. Dengan begitu, pengusaha digiring untuk bernegosiasi dengan makelar kasus dengan nilai bergantung pada besaran nilai pajak yang dipersengketakan,” ujarnya.

    Untuk mengelak dari jerat itu pun masih sangat sulit. Itu disebabkan hingga kini posisi Ditjen Pajak masih begitu kuat memegang posisi ‘three in one’ dalam kekuasaan hukum atas wajib pajak. “Merekalah pembuat aturan, pengawas, sekaligus menindak wajib pajak yang berani melanggar aturan yang dibuatnya itu,” ujarnya. (*/X-4)

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/14/135899/270/115/Wajib-Pajak-Dijerat-ke-Ruang-Negosiasi

    Selasa, 13 April 2010 16:45 WIB

    Cuma Dua Daerah Otonomi Baru Penuhi Kewajibannya (original title)

    Temuan BPK, Pemekaran Daerah Gagal (published title)

    Penulis : Marchelo

    JAKARTA–MI: Hasil pemeriksaan kinerja Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas program pemekaran daerah memperlihatkan bahwa sebagian besar daerah otonomi baru (DOB) gagal memenuhi kewajibannya selama masa transisi pemerintahan dari daerah induk ke DOB. Dari delapan daerah pemekaran yang menjadi sampel, hanya dua yang dianggap dapat memenuhi kewajibannya.

    Click more to read further: Small kings policy as a means to gain control throughout the country

    Sumber: Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/13/135777/23/2/Cuma-Dua-Daerah-Otonomi-Baru-Penuhi-Kewajibannya-

     
  • Virtual Chitchatting 9:31 AM on 2010/04/15 Permalink
    Tags: aging population, public debts   

    Aging population raises the welfare expenditures 

    My comment:

    The Japan’s public debts is expected to be twice of its GDP in 2011. Japan has been experiencing the decreasing income tax revenues in one hand and increasing welfare expenditures as its population aging on the other hand.

    Seputar Indonesia, Wednesday, 14 April 2010

    Analis Prediksi Jepang Berpotensi Bangkrut

    Masalah utang Yunani saat ini mungkin menjadi sorotan banyak pihak terutama Uni Eropa.Namun, kesulitan keuangan ternyata juga mengancam Jepang, negara dengan perekonomian terbesar di Asia.

    HAL ini terlihat dari defisit keuangan Jepang,menurut sejumlah analis adalah terbesar dibanding utang publik negara industri lainnya. Utang publik Negeri Sakura diperkirakanmencapai200% dariProduk Domestik Bruto (PDB) pada 2011. Tahun depan, Pemerintah Jepang memang menargetkan keluar dari krisis karena menurunnya pendapatan pajak dan melonjaknya biaya kesejahteraan akibat populasi warganya yang menua.

    Berdasarkan laporan tahun fiskal 2010, nominal PDB Jepang mencapai 475 triliun yen. Sedangkan utangnya diperkirakan sekitar 950 triliun yen. Ini artinya setiap penduduk Jepang menanggung beban sekitar 7,5 juta yen utang per orang. Menurut Kepala Ekonom Daiichi Life Research Institute Hideo Kumano, dengan komposisi utang sebesar itu,Jepang tidak bisa membiayai rekor triliun dolar anggaran yang disahkan Maret lalu untuk tahun fiskal mendatang karena stimulus ekonomi masih rapuh.

    ”Pendapatan Jepang kira-kira 37 triliun yen dan utangnya 44 triliun yen dalam tahun fiskal 2010,” ujar Kumano di Tokyo Minggu (11/4). Dia menambahkan rasio utang Jepang lebih dari 50% dari anggaran. Jika tanpa menerbitkan obligasi, Jepang diperkirakan bangkrut pada 2011.

    Kumano menilai,meskipun Pemerintah Jepang berupaya keluar dari resesi parah sepanjang 2009, namun pemulihannya tetap rapuh karena disertai deflasi, utang publik yang tinggi dan lemahnya permintaan domestik. Jepang terjebak dalam spiral deflasi selama bertahun-tahun setelah gelembung harga aset yang meledak di awal 1990-an.Kondisi tersebut dipicu karena pendapatan perusahaan yang rendah sehingga mendorong konsumen menunda pembelian dengan harapan harga turun lebih lanjut.

    Besarnya utang publik Jepang dianggap sebagai warisan pengeluaran stimulus besar-besaran selama dekade 1990-an. Gejala tersebut kembali terulang pada pertengahan 2008 lalu di mana paketpaket keuangan disuntikkan ke pasar untuk mengatasi resesi terburuk sejak Perang Dunia Kedua. Pada Januari lalu, lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s memperingatkan bahwa kemungkinan akan memangkas peringkat obligasi pemerintah Jepang.

    Hal ini tentu saja dapat meningkatkan biaya pinjaman Jepang di tengah upaya pemerintah Perdana Menteri Yukio Hatoyama untuk membatasi utangnya. Kendati demikian, risiko default Jepang saat ini dinilai rendah karena masih karena memiliki account surplus cukup besar dengan dukungan sektor swasta yang melanjutkan pembelian obligasi “Sementara ini risiko Jepang akan seperti krisis utang Yunani sangat kecil kemungkinannya selama tidak ada masalah arus uang di pasar obligasi,” tandas Katsutoshi Inadome,ahli strategi obligasi pada Mitsubishi UFJ Securities.

    Namun, kata dia, yang perlu dipertanyakan adalah sejauh mana pemerintah dapat melanjutkan ketergantungannya pada penerbitan utang publik. Menurut Kumano, memang sulit memprediksi kapan pasar obligasi akan runtuh, tetapi hal itu tidak mustahil tatkala pasar menghakimi bahwa kemampuan Jepang membiayai utang tidak berkelanjutan lagi.

    ”Ketika itu terjadi,yen akan anjlok dan pelarian modal dari obligasi pemerintah Jepang untuk obligasi asing akan terjadi,”paparnya. Analis lainnya menyatakan, meski rasio utang Jepang terhadap PDB mencapai 200%,namun tidak ada preseden yang menunjukkan rasio utang tersebut berbahaya. Ekonom Nomura Securities Takehide Kiuchi menyatakan, pemerintah Inggris pernah mengalami rasio utang sebesar 260%, namun tidak menghadapi krisis utang.

    ”Tidak ada jawaban atas pertanyaan tentang apakah tingkat kritis utang bisa menyebabkan pemerintah bangkrut?” “Namun, yang berbahaya dan paling realistis dari utang Jepang adalah deflasi berkepanjangan sehingga membuat ekonomi menyusut. Intinya pemerintah harus mengembalikan kesehatan fiskal, termasuk penghematan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi,” ungkap Kiuchi.

    Berlanjutnya deflasi di Jepang, kata dia, bisa memperburuk struktur fiskal karena penerimaan pajak berkurang sementara pengeluaran stimulus lebih banyak. ”Jika ekonomi tumbuh,pajak meningkatkan pendapatan,”kata Kumano. (AFP/yanto kusdiantono)

    Sumber: Seputar Indonesia, http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/317398/44/

     
  • Virtual Chitchatting 1:28 AM on 2010/04/15 Permalink
    Tags: andi muhammad ghalib, devils' advocates, hotma sitompul, hotman paris hutapea   

    Popularity contests of devils’ advocates in Indonesia 

    My comment:

    It was interesting watching the clash between Hotma Sitompul with Chairul Imam this (wednesday, 14 April 2010) evening live on MetroTV. You should hear the tone of the voice of HS as he first replied to the questions asked by the TV Host. Depressed! He denied the updated news on SJ’s status as the suspect. You should hear how he desperately denied that and mumbling that his client is, like usual, innocent. That the accused is not the legal case broker (markus) but the liasion amongst the disputed parties in court. He, like usual, has been twisting the words.

    The second part the devils’ advocates is their deadly weapons and arsenals. Attacking and destroying the credibility of the witness, namely Chairul Imam. Hammering down the substance of the event. The usual habits in legal enforcement bodies such as offices of (general/district) attorney, police, and courts. Bribe the judges, the witnesses, the scapegoats. You should read this Kompas article below.

    What amazes me is the involvement of Marzuki Darusman. I could never wonder myself why a man like him, whose integrity is inquestionable during the 1998 riot and after, could appoint SJ as an expert staff in AG office? You should know that he replaced the most controversial and notorious AG Andi Muhammad Ghalib as the predecessor. He was substituted by Baharuddin Lopa, whom murdered  through poisonic heart attack symptoms.

    PENANGANAN PERKARA

    Sjahril Djohan Memang Luwes Bergaul

    Rabu, 14 April 2010 | 03:39 WIB

    Sjahril Djohan? Setahu saya, ia orang yang luwes bergaul. Orangnya ramah dan gampang akrab.”

    Kalimat itu dilontarkan Soehandojo dan Chairul Imam, keduanya mantan jaksa, saat Kompas menanyakan kesan mereka tentang Sjahril Djohan. Sjahril disebutkan terlibat makelar kasus di Mabes Polri yang menjadikan mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak, Gayus HP Tambunan, sebagai tersangka.

    Diduga, Sjahril adalah orang yang sama dengan yang pernah menjadi Staf Ahli Jaksa Agung Bidang Intelijen dan Hubungan Luar Negeri. Saat itu, jaksa agung dijabat Marzuki Darusman. Menurut Soehandojo dan Chairul, Sjahril di kejaksaan bersamaan dengan Marzuki.

    Chairul, mantan Direktur Penyidikan pada Bidang Tindak Pidana Khusus Kejagung, mengenang pertemuan pertamanya dengan Sjahril pada 2000. Saat itu, Sjahril datang ke ruang staf ahli di lantai III gedung utama Kejagung memakai baju putih dengan tas kecil yang dijepit di lengan atasnya. ”Sjahril menanyakan di mana ruangannya karena ia baru diangkat menjadi staf ahli,” ujarnya, Selasa (13/4).

    Saat diberi tahu ruangan staf ahli, Sjahril terlihat kecewa. ”Ia mau ruangan yang dekat dengan Jaksa Agung,” kata Chairul.

    Empat staf ahli Jaksa Agung saat itu, menurut Chairul, tak satu pun yang tahu kapan Sjahril diangkat sebagai staf ahli. Tiada pelantikan Sjahril untuk duduk di jabatan struktural itu.

    Chairul mengisahkan, saat ia menjabat Direktur Penyidikan, Sjahril pernah menelepon. ”Saat itu, Sjahril bilang di telepon, gua kirim pengacara ke tempat lu, ya. Kalau ada perkara bagus, lu kasih ke dia,” tuturnya lagi.

    Chairul, yang akhirnya saling sapa lu-gua dengan Sjahril, menolaknya. ”Apabila saat itu terlaksana, itu jadi contoh makelar kasus. Tetapi, itu tak pernah terlaksana. Tak pernah ada hal semacam itu selama saya jadi direktur penyidikan,” ujarnya.

    Satu hal yang pernah membuat Chairul berang, saat seorang petugas keamanan dalam Kejagung melapor, Sjahril bersama seorang pejabat bidang intelijen Kejagung sering masuk ke rumah tahanan Kejagung. Padahal, setiap orang yang mengunjungi tahanan harus atas persetujuan Direktur Penyidikan atau Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Korupsi. ”Saya protes ke Jaksa Agung soal ini,” kata Chairul.

    Selepas Marzuki turun dari kursi Jaksa Agung tahun 2001, Sjahril tak lagi beredar di Kejagung.

    Soehandojo, yang pernah menjadi Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, mengaku kenal Sjahril di Kejagung. Saat Marzuki menjabat jaksa agung, Soehandojo menjabat Kepala Humas Kejagung.

    Soal dugaan peran Sjahril dalam penanganan perkara, Soehandojo mengaku tak tahu. Dia menyebutkan, saat itu kejaksaan sedang berkonsentrasi menangani perkara korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Karena itu, energi kejaksaan terserap ke situ. ”Saya melihat, kiprah Sjahril tidak ada kaitannya dengan perkara,” katanya lagi.

    Sebaliknya, seorang anggota staf kejaksaan yang bertugas di gedung utama mengaku melihat Sjahril datang ke kejaksaan sejak 1998.

    (Dewi Indriastuti)

    Sumber: Kompas, http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/14/03393632/sjahril.djohan.memang.luwes.bergaul

    Catatan:

    1. KoranTempo, Wednesday, 10 December 2003

    Marzuki Darusman dan Adi Andojo Digugat ke Pengadilan

    JAKARTA- Masih ingat perkara pelapor kasus suap hakim agung yang akhirnya diadili sebagai terdakwa atas laporannya? Sosok itu bernama Endin Wahyudin. Kemarin, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Endin melakukan perlawanan hukum terhadap Adi Andojo Soetjipto sebagai mantan Ketua Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman, dan Kejaksaan Agung.

    Endin menggugat ketiganya untuk membayar ganti rugi materil Rp 750 ribu dan immateriil Rp 2,5 miliar.

    2. wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Marzuki_Darusman

    Marzuki Darusman, SH (lahir di Bogor, Jawa Barat, 26 Januari 1945; umur 65 tahun) adalah Jaksa Agung Republik Indonesia untuk periode 1999 sampai 2001. Ia adalah kakak kandung dari komposer Indonesia, Candra Darusman. Ia menamatkan pendidikan di bangku sekolahnya di SMA Kolese Kanisius. Pendidikan akhirnya adalah Fakultas Hukum Kelautan Internasional, Universitas Parahyangan lulusan tahun 1974. Selain itu ialah seorang tokoh Golkar dan pernah menjabat sebagai ketua fraksi karya pembanguna di DPR/MPR di era 1990-an. Dia juga adalah salah satu anggota Komnas HAM. Selain itu ia pernah menjabat sebagai Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998.

    3. Tempo, http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/04/05/brk,20100405-237999,id.html

    Hotma Sitompul Pastikan Ikut dalam Tim Kuasa Hukum Gayus

    Senin, 05 April 2010 | 13:53 WIB
    http://image.tempointeraktif.com/?id=29783&width=490

    TEMPO Interaktif, Jakarta -Pengacara Hotma Sitompul memastikan akan bergabung dalam tim kuasa hukum Gayus Halomoan Tambunan yang tersangkut kasus pajak Rp 25 miliar. Hotma bergabung atas ajakan Adnan Buyung Nasution, yang diminta istri Gayus, Milana Anggraeni, untuk mendampingi suaminya. “Saya sudah menyatakan bersedia,” kata Hotma, saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (5/4).

    Alasannya, ia melanjutkan, semua orang memiliki hak asasi untuk dibela, termasuk Gayus. “Saya bukan mau membela orang yang dianggap bersalah, tapi harus ada azas praduga tak bersalah dong,” ujar dia.

    Ia ingin kasus Gayus dipandang secara hukum. Sehingga, hukuman dijatuhkan jika memang terbukti ada kesalahan, dan dibebaskan jika tidak ada kesalahan. “Kalau memang bersalah, silakan dihukum yang sesuai,” kata Hotma.

    Meski begitu, Hotma mengaku belum pernah bertemu Gayus terkait dengan kepastian dirinya akan bergabung dalam tim kuasa hukum karyawan Direktorat Jenderal Pajak Golongan IIIA itu. “Saya baru bertemu bang Adnan, mungkin dua tiga hari lagi akan bertemu Gayus,” ujarnya.

    Selain Hotma, di dalam tim kuasa hukum Gayus yang dipimpin oleh Adnan Buyung, rencananaya juga akan dianggotai M Assegaf.

    WAHYUDIN FAHMI

    4.  Media Indonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/2010/04/04/133921/16/1/Hotma-Sitompul-Bersedia-Dampingi-Gayus-

    Hotma Sitompul Bersedia Dampingi Gayus

    Senin, 05 April 2010 15:06 WIB
    Penulis : Anata Siregar

    JAKARTA–MI: Pengacara Hotma Sitompul menyatakan kesediaannya untuk menjadi kuasa hukum bagi Gayus Tambunan. Hal tersebut disampaikan Hotma ketika ditemui wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Senin (5/4).

    “Saya merasa sangat sedih melihat semua orang mencemooh Gayus. Coba bayangkan kalau itu keluarga kita sendiri,” ujar Hotma.

    Hotma telah menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan Adnan Buyung Nasution dan M. Assegaf sebagai tim kuasa hukum Gayus. (*/OL-04)

    5. ligagame.com, http://ligagame.com/index.php?option=com_smf&Itemid=45&topic=84723.10;wap2

    Rate Hotma Sitompul konsultasi personal case 750$, kalau corporate 2500$ per 1 jam

    Rate ya hotman paris konsultasi personal 1 jam 500$, kalau corporate 1500$ per 1 jam

    6. liputan6.com, http://showbiz.liputan6.com/berita/200605/223800/undefined/

    KASUS pembunuhan yang melibatkan pesinetron Lidya Pratiwi menyeret dua pengacara kondang yakni Hotma Sitompul dan Hotman Paris Hutapea untuk berhadap-hadapan. Hotman Paris berada di pihak Lidya. Sementara Hotma Sitompul menjadi penasihat hukum keluarga korban Naek Gonggom Hutagalung. Keduanya siap bertempur habis-habisan. Hotman Paris merasa berkewajiban untuk membela Lidya. Jika memang bersalah, ia ingin Lidya mendapat hukuman yang tepat sesuai dengan perbuatannya. “Keterlibatan dia [Lidya] dalam kasus ini apa?” ungkap Hotman Paris, belum lama ini. Namun hal itulah yang membuat Hotma Sitompul gerah. Sebagai pengacara, Hotman Paris mestinya tak merecoki kepolisian dengan menentukan pasal yang tepat bagi tersangka. “Kronologis saja belum tahu sudah bicara begitu,” tegas Hotma. Selain itu, Hotma kecewa lantaran Hotman Paris sebagai sesama orang Batak malah menawarkan diri untuk berseberangan dengan korban yang juga berdarah Batak.

    7. indosiar.com, http://www.indosiar.com/gossip/55247/pertikaian-hotman-paris—hotma-sitompul

    GOSSIP: Pertikaian Hotman Paris – Hotma Sitompul

    indosiar.com, Jakarta – Kalangan pengacara menanggapi perseteruan yang terjadi antara pengacara berdarah Batak, Hotma Sitompul dan Hotman Paris Hutapea. Dikatakan, pertikaian tersebut tidak perlu terjadi, karena masing-masing telah mempunyai nama.

    Menurut penilaian Ferry Firman dan Ruhut Sitompul, perbuatan Hotman Paris sangat melanggar etika kerja pengacara, terlebih bagi Ferry Firman. Dijelaskan Ferry, selain ribut dengan Hotma Sitompul, Hotman Paris juga bermasalah dengan dirinya, dalam kasus Lidya Pratiwi. Seharusnya, Ferry Firman lah yang menangani kasus ini, namun entah kenapa, Hotman Paris malah menawarkan diri pada Lidya, dengan embel-embel tanpa bayaran, alias gratis. “Ini tindakan tidak terpuji,” kata Ferry Firman singkat.

    Hal senada dikatakan Ruhut Sitompul. Menurut Ruhut, jangan menjadi pahlawan kesiangan. Bahkan dengan tegas Ruhut mengatakan, tindakan Hotman Paris tersebut, seharusnya dikenai sanksi hukum, oleh dewan kehormatan Peradi atau Perhimpunan Advokat Indonesia, karena telah melanggar etika pengacara. “Dewan kehormatan Peradi hendaknya mengadili dia, mungkin diskors dulu..karena kita malu sama penampilan dia,” kata Ruhut singkat.(SHR/Indsib)

     
  • Virtual Chitchatting 12:08 AM on 2010/04/11 Permalink
    Tags: Corruption, doom effects, engineered legal conviction, financial meltdown, kyrgystan, lehman brothers, political pressure, ,   

    Corruption as the perfect ultimate crime of heart, mind, soul, and body 

    My Comment:

    Corruption (actions) will begin from the neccessity needs that is justified by the heart, mind, and soul. From required needs it will then shift to greedy acts.  That comes from individual perceived risks.

    From the surrounding communities, corruption (actions) is perceived legal dan legitimate. You may corrupt as long as we, your silent partners, received some appreciation and gratification of yours. This has been absurd and vulgar, but it is a fact.

    In observed manners, the doom effects of corruption in heart, mind,  and soul stems from corruption in time usage of your life. How much of your time is allocated truly in one subject, measured by the degree of seriousness in your heart, mind, and soul. Wal ashri.

    Kompas, Sabtu, 10 April 2010 | 03:15 WIB

    Tajuk Rencana

    Efek Korupsi di Kirgistan

    Wacana tentang dampak bahaya korupsi semakin meningkat oleh peristiwa kekacauan politik dan kejatuhan pemerintahan di Kirgistan, pekan ini.

    Rakyat Kirgistan, yang menderita akibat merebaknya praktik korupsi, melampiaskan kekecewaan melalui demonstrasi dalam beberapa hari terakhir. Gelombang protes pekan ini digambarkan berlangsung keras dan brutal, yang membuat Presiden Kurmanbek Bakiyev merasa terancam dan terpaksa kabur dari istana, sementara Perdana Menteri Daniyar Usenov mau tidak mau meletakkan jabatan.

    Lebih tragis lagi, Menteri Dalam Negeri Moldomusa Kongatiyev tewas dianiaya massa demonstran yang sedang kalap. Kerusuhan pekan ini juga menewaskan paling tidak 100 orang dan lebih banyak lagi yang cedera. Kerugian harta benda juga tidak kecil akibat perusakan.

    Pemerintah dan aparat keamanan benar-benar dibuat tidak berdaya menghadapi keberingasan massa, yang kecewa dan frustrasi atas maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang di Indonesia terkenal dengan akronim KKN. Presiden Bakiyev, yang terguling, dinilai tidak mengutamakan kepentingan rakyat, tetapi mengutamakan sanak keluarga dan kroninya.

    Pemerintahannya dianggap tidak peduli kepada rakyat miskin, yang mencakup sepertiga dari 5,3 juta penduduk. Rakyat menjadi kecewa dan frustrasi karena Bakiyev naik ke tampuk kekuasaan pada 2005, dengan janji menciptakan pemerintahan bersih setelah Askar Akayev, presiden pertama pasca-Uni Soviet, dijatuhkan dalam kerusuhan yang disebut Revolusi Tulip.

    Para pengamat cenderung berpendapat kasus Kirgistan memperlihatkan rakyat bisa kehilangan kesabaran terhadap kejahatan korupsi yang dilakukan kalangan elite. Kesadaran rakyat terhadap pentingnya pemerintahan bersih semakin meningkat oleh arus perubahan global, sementara mental dan perilaku elite tidak juga berubah.

    Tantangan sangatlah berat, bagaimana menghentikan praktik KKN yang merebak luas, mulai dari istana sampai berbagai level kekuasaan di negeri itu. Sulit pula mengembalikan kewibawaan pemerintahan karena tingkat kepercayaan rakyat sudah sangat rendah sebagai dampak maraknya korupsi di lingkungan birokrasi kekuasaan.

    Sungguh konyol pula jika pemerintahan baru Kirgistan mengulangi kesalahan dua mantan pemimpin, Akayev dan Bakiyev, yang dijatuhkan rakyat karena korupsi. Harapan perubahan kini diletakkan kepada pemerintahan transisi pimpinan tokoh oposisi, Roza Otunbayeva, yang menyiapkan pemilihan umum, enam bulan ke depan.

    Sebelum melangkah lebih jauh, pemerintahan transisi harus membereskan situasi ketertiban dan keamanan di tengah frustrasi akibat melambungnya harga-harga kebutuhan pokok dan kemiskinan meluas, sementara godaan korupsi tetap berada di depan mata.

    Sumber: Kompas, http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/10/03150578/tajuk.rencana

    PERBANKAN GLOBAL

    AS Terus Tekan Swiss dan UBS

    Kompas, Sabtu, 10 April 2010 | 03:42 WIB

    Kisah tentang apa saja yang terjadi ketika krisis global melanda masih terus bermunculan. Kali ini kisahnya melibatkan bank terbesar Swiss. AS memaksa UBS mengungkapkan warga AS penghindar pajak. Padahal, kerahasiaan perbankan adalah tradisi kuat Swiss.

    Setelah bangkrutnya Lehman Brothers pada September 2008, UBS bergetar juga. UBS memiliki pegawai dengan jumlah tiga kali lipat lebih besar dari Lehman. Setelah krisis, UBS pun dipaksa menghapusbukukan piutang senilai 50 miliar dollar AS selama periode sulit itu.

    Para investor bernapas lega ketika Pemerintah Swiss akhirnya memutuskan untuk menolong UBS pada 16 Oktober 2008. Akan tetapi, walaupun telah ditolong, UBS berpotensi menuai krisis dari sisi lain.

    Satu hari setelah dana talangan dikucurkan kepada UBS, para eksekutif puncak bank itu dipanggil untuk bertemu dengan para petinggi AS di New York. Mereka tengah melakukan penyelidikan terhadap berbagai macam kecurangan pajak yang dilakukan warga AS, yang menjadi klien UBS.

    Delegasi UBS ketika itu dipimpin Markus Diethelm. Mereka tiba dengan membawa hasil penyelidikan soal kecurangan pajak. Ketika itu, rencana UBS sangat sederhana, mengakui kesalahan, menyelesaikannya, dan kasus pun selesai.

    Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Kevin Downing, seorang jaksa dari Departemen Kehakiman AS Divisi Perpajakan, telah menyelidiki UBS sejak 2008. Jaksa ini menginginkan UBS membeberkan nama-nama para penghindar pajak dari AS sebagai kompensasi atas penyelesaian masalah itu.

    Tentu saja hal itu membuat UBS berada pada posisi sulit. Selama berabad-abad, perbankan Swiss selalu ketat menjaga rahasia nasabahnya. Posisi UBS sudah lemah ketika krisis terjadi. Dalam pertemuan itu sudah jelas benar bahwa tanpa pembeberan nama-nama nasabah, masalah tidak selesai.

    Konfrontasi itu juga mendesak UBS ke tepi jurang. Ketika bank itu sepakat untuk membayar sebesar 780 juta dollar AS dan menyerahkan nama-nama para penghindar pajak, kerusakannya masih saja besar dan memengaruhi operasi divisi wealth management UBS.

    Menurut data Departemen Kehakiman AS, UBS telah membantu 52.000 warga AS menyembunyikan miliaran dollar AS berupa hasil penggelapan pajak yang disembunyikan di perbankan Swiss periode 2000 hingga 2007.

    Para bankir UBS juga gencar menawarkan jasanya kepada para nasabah di AS. Setidaknya tercatat ada 3.800 perjalanan bisnis UBS ke AS untuk mengunjungi nasabah pada tahun 2000 saja.

    Penyerahan data nasabah UBS kepada Pemerintah AS merupakan hal yang mungkin dilakukan. Landasan hukumnya adalah kesepakatan tentang kerja sama soal perpajakan antara AS dan Swiss.

    Investigasi lain juga dilakukan Pengawas Pasar Modal AS (SEC). SEC menuduh unit UBS di AS t melanggar undang-undang pasar modal AS. Ketika Departemen Kehakiman ikut campur, masalahnya meluas menjadi penyelidikan kriminal perbankan.

    Pengawas perbankan Swiss pun sadar. Otoritas AS menahan Martin Liechti, Kepala UBS cabang Zurich, karena melakukan bisnis lintas batas. Selain itu, Brandley Birkenfeld, mantan penasihat keuangan UBS, mengakui telah menyelundupkan berlian di tube pasta gigi untuk kepentingan nasabah.

    Untuk mengatasi masalah penyerahan data nasabah tersebut, sempat timbul wacana untuk menggunakan Notrecht, yaitu hukum darurat Jerman yang memperbolehkan Pemerintah Swiss melakukan campur tangan untuk menghindari penyerahan data serta menolong UBS.

    Tekan terus

    Sebenarnya, apakah Departemen Kehakiman AS benar-benar akan menarik pemicu? Apakah mereka akan mengambil risiko menjatuhkan bank yang pegawainya tiga kali lipat dari Lehman dan sekitar 27.000 pegawai di UBS AS?

    Tidak ada yang mengetahui pasti hal ini. Akan tetapi, Swiss telah memutuskan untuk tidak mengambil risiko. Dalam suatu malam 18 Februari 2009, Pemerintah Swiss memutuskan untuk memberi lagi talangan 780 juta dollar AS.

    Namun, yang lebih sakit lagi, ada keputusan AS agar UBS menyerahkan sekitar 280 nama warga AS yang dipandang sebagai penghindar pajak serius. Keputusan ini diambil dengan restu Pemerintah Swiss.

    Satu hari setelah penyerahan nama-nama itu, Lembaga Penerimaan Internal AS mengejutkan lagi Pemerintah Swiss. Mereka meminta UBS menyerahkan 52.000 nama nasabah!

    Swiss telah gagal menyelesaikan masalah kriminal UBS di luar persidangan. Namun demikian, hingga kini tekanan terhadap tradisi perbankan Swiss terus berlanjut. (reuters/joe)

    Sumber: Kompas, http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/10/03420546/as.terus.tekan.swiss.dan.ubs.

    Opini

    Korupsi Manusia Indonesia

    Kompas, Sabtu, 10 April 2010 | 03:12 WIB

    Oleh Yonky Karman

    Rupa-rupanya sekali telah melangkahkan kaki di gelanggang korupsi, orang tak ada melihat jalan kembali. (Pramoedya Ananta Toer, Korupsi, 108-9).

    Saat bermukim enam bulan di Belanda (1953), Pramoedya menulis roman yang memproyeksikan kenyataan sosial pascakemerdekaan. Jadilah sebuah karangan yang mendahului zaman, sebelum korupsi menggurita dengan makelar kasus dan mafia hukum menjadi sebuah bagian dari sejarah Indonesia. Bakir telah mengabdi 20 tahun sebagai pegawai negeri dengan posisi terakhir kepala bagian. Namun, kehidupan dan penampilannya sederhana. Penghasilannya pas-pasan, tidak mampu memberi nilai tambah bagi kesejahteraan orang lain. Bakir pun kurang dihormati di luar rumah meski di rumah ia menerima cinta tulus dari istri dan anak.

    Sebagai manusia Indonesia yang beragama, awalnya Bakir mengalami pergumulan batin yang berat antara godaan korupsi mengikuti rekan-rekannya dan mempertahankan integritas. Akhirnya, ia menyerah. Ia meninggalkan sikap pasif menunggu kenaikan gaji. Ia menggunakan kemerdekaannya untuk memperkaya diri sendiri dengan cara yang mengkhianati tujuan Indonesia merdeka.

    Ia melakukan penggelembungan proyek dan memanipulasi kuitansi. Demikianlah ia jadi bagian kelompok masyarakat yang memperoleh kebahagiaan dan kekayaan di atas kerugian negara. Hilanglah kesederhanaan hatinya. Persetan sumpah jabatan. Untuk meredam protes batin sendiri, ia aktif memberi kontribusi bagi kegiatan amal. Ia percaya Tuhan memiliki matematika yang adil berapa dikorupsi dan berapa yang diamalkan.

    Dengan dua filter moral, sanksi di dunia ini dan di dunia akhirat, sebenarnya manusia Indonesia lebih sulit korupsi dibandingkan dengan insan sekuler ataupun komunis. Nyatanya, indeks korupsi Indonesia tahun lalu adalah 2,8 dan itu berarti belum beranjak dari skor 2 sejak kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi. Sementara itu skor indeks korupsi negara-negara sekuler di Barat di atas 5 dan China 3,6.

    Mengapa sepintas tidak ada hubungan antara keberagamaan dan korupsi? Saat korupsi, terjadi deaktivasi hukum moral. Dengan rasionalisasi yang bukan lagi bersumber dari kebutuhan (need), korupsi di Indonesia menjadi istana keserakahan (greed). Di lingkungan pegawai negeri, tak sulit mendapati orang yang hidup bukan dari gajinya, bahkan dengan bangga memamerkan kekayaannya.

    Korupsi di Indonesia adalah masalah kegagalan pemerintah membangun karakter bangsa (character and nation building). Mengalihkan persoalan korupsi kepada agama hanya bentuk kambing hitam sebab keberagamaan di Indonesia sendiri bersikap ambigu. Penghayatan agama belum sampai memotivasi orang untuk jihad melawan korupsi. Pemerintah pun lebih serius memerangi terorisme daripada korupsi.

    Sosiologi korupsi

    Masyarakat Indonesia pun sudah terbiasa dengan fenomena korupsi dan cenderung menerimanya sebagai bagian dari realitas keindonesiaan. Apalagi, belum ada kemauan pemerintah untuk melakukan asas pembuktian kekayaan secara terbalik. Secara konstitusional, korupsi diakui sebagai kejahatan luar biasa. Dalam praktiknya, kasus korupsi yang terungkap cenderung direduksi jadi persoalan oknum, bukan persoalan sistem ataupun kultur.

    Maka, penanganan secara internal didahulukan. Penyelesaian secara adat diutamakan. Itu semua untuk memelihara citra. Kalaupun ada sanksi, biasanya pejabat terkait dimutasi agar yang bersangkutan tidak terlalu sakit hati dan bernyanyi tentang kebobrokan instansinya. Rekan sejawat dan atasan saling melindungi. Kultur tahu sama tahu dan pembiaran menyuburkan perilaku koruptif.

    Tidak sulit menemukan kultur koruptif di instansi pemerintah. Salah satu godaan kuat orang berani korupsi adalah koruptor merasa tidak sendirian. Korupsi dilakukan beramai-ramai dan tertib, dalam lingkungan yang saling kenal, dengan pengaplingan jatah, semua kebagian. Kawanan koruptor merasa negara tidak mungkin memproses hukum banyak personel suatu instansi secara bersamaan, dengan risiko layanan publik terganggu.

    Negara disandera kawanan koruptor. Sesat logika membuat korupsi yang dilakukan beramai-ramai menjadi seperti bukan pelanggaran lagi. Sejawat yang membocorkan kebusukan praktik korupsi di instansinya akan dicap pengkhianat. Penanggung jawab instansi merasa lebih penting menjaga citra, bukan penguatan lembaga dengan birokrasi yang bersih dan efektif. Warga yang tak mau melayani kemauan oknum korup dipersulit.

    Benar, sejak ada KPK, tak sedikit pejabat dan penegak hukum dijerumuskan ke dalam bui. Namun, niat korupsi tidak menjadi surut. Malah, risiko tertangkap membuat korupsi berbiaya tinggi melibatkan jumlah uang yang semakin besar. Dalam kultur korup, yang tertangkap tangan dianggap sedang sial. Jauh lebih besar tingkat keberhasilan daripada kegagalan.

    Kegawatan korupsi di Indonesia sejatinya sudah di tingkat sabotase ekonomi. Berhadapan dengan kepentingan swasta, negara sering dikalahkan di pengadilan pajak ataupun perdata. Abdi negeri diam-diam merekayasa perkara sehingga swasta diuntungkan di atas kerugian negara. Begitu seringnya negara dirugikan sehingga kemampuan untuk menyejahterakan pun digerogoti.

    Program remunerasi yang dibangga-banggakan menyedot dana lebih dari Rp 10 triliun dari pinjaman Bank Dunia. Besar pasak daripada tiang. Malu kita untuk urusan gaji pegawai harus berutang, sementara kita memakai uang untuk menyervis pejabat dengan kemewahan yang tidak perlu. Sebaiknya dana remunerasi diambil dari hasil pengetatan anggaran belanja untuk servis pejabat, seperti pembelian mobil mewah. Jika ada teladan dari pejabat yang bergaji puluhan juta untuk sementara ditunda kenaikan gajinya agar negara mampu meningkatkan kesejahteraan pegawai rendahan lebih baik lagi, niscaya Indonesia akan dibangun di atas pengorbanan dan cinta negeri. Orang tidak akan mengorupsi yang dicintainya.

    Gaji rendah penyebab korupsi adalah simplifikasi masalah kultural dan struktural. Saat Indonesia masih dijajah Belanda, Indonesia tidak dikenal sebagai bangsa korup, bahkan jauh lebih berdisiplin daripada sekarang. Remunerasi penting, tetapi harus berbasis prestasi. Dan, lebih penting lagi, internalisasi ”cukupkanlah dirimu dengan gajimu”. Tanpa keutamaan merasa cukup, berapa pun gaji yang diterima akan selalu dirasa kurang, terlebih di era konsumtif.

    Korupsi manusia Indonesia adalah masalah maju mundur sikap eksekutif dan legislatif (political will). Dan, sikap politik itu ditangkap oleh yudikatif. Penegakan hukum pun jadi beraroma politik dan tebang pilih. Indonesia Inc(orporated) dapat tinggal angan-angan jika penegakan hukum tak konsisten, administrasi pemerintahan tak tertib, pemerintah miskin manusia Indonesia yang berkualitas.

    Yonky Karman

    Penulis adalah Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

    Sumber: Kompas, http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/10/03125354/korupsi.manusia.indonesia

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: